ZAKAT


ZAKAT

Oleh: Muhammad Fathurrohman

 A.      Latar Belakang

Setiap umat Muslim berkewajiban untuk memberikan sedekah dari rezeki yang dikaruniakan Allah.Kewajiban ini tertulis di dalam Al-Qur’an.Pada awalnya, Al-Qur’an hanya memerintahkan untuk memberikan sedekah (pemberian yang sifatnya bebas, tidak wajib).Namun, pada kemudian hari, umat Islam diperintahkan untuk membayar zakat.Zakat menjadi wajib hukumnya sejak tahun 662 M. Nabi Muhammad melembagakan perintah zakat ini dengan menetapkan pajak bertingkat bagi mereka yang kaya untuk meringankan beban kehidupan mereka yang miskin.Sejak saat ini, zakat diterapkan dalam negara-negara Islam.Hal ini menunjukan bahwa pada kemudian hari ada pengaturan pemberian zakat, khususnya mengenai jumlah zakat tersebut.

Pada zaman khalifah, zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil dan didistribusikan kepada kelompok tertentu dari masyarakat.Kelompok itu adalah orang miskin, janda, budak yang ingin membeli kebebasan mereka, orang yang terlilit hutang dan tidak mampu membayar.Syari’ah mengatur dengan lebih detail mengenai zakat dan bagaimana zakat itu harus dibayarkan. Kejatuhan para kalifah dan negara-negara Islam menyebabkan zakattidak dapat diselenggarakan dengan berdasarkan hukum lagi.

Zakat adalah ibadah yang memiliki dua dimensi yaitu vertikal dan horisontal, yaitu merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah  (vertikal)  dan  sebagai kewajiban kepada sesama manusia (horizontal). Zakat juga sering disebut sebagai ibadah maaliyah ijtihadiyah.Tingkat pentingnya zakat terlihat dari banyaknya ayat (sekitar 82 ayat) yang menyandingkan perintah zakat dengan perintah shalat.

Zakat adalah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Islam, ia adalah salah satu dari rukun-rukunnya, dan termasuk rukun yang terpenting setelah syahadat dan shalat, Kitab dan sunnah serta ijma’ telah menunjukan kewajibanya, barang siapa mengingkari kewajibanya maka ia akan mendapatkan sanksi dari Allah SWT,

Allah SWT berfirman yang artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali-Imron: 180).

B.       Pengertian Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah, seperti:shalat,haji,dan puasa yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah,sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.

Arti Zakat menurut bahasa ialah suci atau bersih dan bertambah.Sedangkan zakat menurut istilah Syara’ ialah memberikan atau menyerahkan sebagian harta tertentu kepada orang yang berhak dengan syarat-syarat tertentu.Zakat diwajibkan dalam Islam pada tahun kedua hijriah. Dan kewajiban itu adalah mutlak.dalil yang menunjukkannya adalah Firman Allah SWT dalam surat al- Baqarah: 43 yang artinya:

“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat …” (QS. Al-Baqarah: 43).

Dalam buku yang lain juga dijelaskan bahwa ­Az-Zakaatu, menurut istilah bahasa artinya “berkembang”, sedangkan menurut istilah syariat ialah “kewajiban yang terdapat pada harta khusus untuk diberikan kepada golongan yang khusus pula”. Sedangkan Sulaiman Rasjid mengemukakan dalam bukunya zakat menurut istilah agama Islam artinya “kadar harta yang tertentu, yang diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan beberapa syarat.”

C.      Hukum dan Dalil-Dalil Zakat

Sebagaimana yang sudah disinggung sedikit di atas bahwa zakat itu termasuk salah satu rukun Islam yang lima, jadi hukumnya wajib, fardlu ‘ain atas tiap-tiap orang yang cukup syarat-syaratnya. Zakat mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriah.

Firman Allah SWT yang artinya:

“… Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat …”. (QS. An-Nisaa’: 77).

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka …” (QS. At-Taubah: 103).

Firman-Nya pula;

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 277).

Sabda Rasulullah SAW;

بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ اَنْ لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَاِقَامِ الصَّلوةِ وَاِيْتَائِ الزَّكَوةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ. متفق عليه

“Islam itu ditegakkan di atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali Allah, dan bahwasanya Nabi Muhammad itu utusan Allah, (2) mendirikan shalat lima waktu, (3) membayar zakat, (4) mengerjakan ibadah haji ke Baitullah, (5) berpuasa dalam bulan Ramadlan.” (Mutafaqun ‘Alaih).

D.      Syarat-Syarat dan Macam-Macam Zakat

Syarat-syarat wajib zakat ada lima, yaitu :

  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Hak milik yang sempurna
  4. Ada satu nishob ( batas yang tertentu )
  5. Haul, atau sudah sampai satu tahun.

Zakat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : Zakat fitrah dan zakat maal (harta kekayaan).

  1. Zakat fitrah

Makna zakat fitrah, yaitu zakat yang sebab diwajibkannya adalah futur (berbuka puasa) pada bulan ramadhan disebut pula dengan sedekah. Lafadh sedekah menurut syara’ dipergunakan untuk zakat yang diwajibkan, sebagaimana terdapat pada berbagai tempat dalam qur’an dan sunnah. Dipergunakan pula sedekah itu untuk zakat fitrah, seolah-olah sedekah dari fitrah atau asal kejadian, sehingga wajibnya zakat fitrah untuk mensucikan diri dan membersihkan perbuatannya.

Zakat fitrah diwajibkan Rasulullah saw saat idul fitri selepas ramadhan, Abdullah bin Amr r.a. berkata: “Rosulullah saw mewajibkan zakat fitrah selepas ramadhan atas hamba sahaya, merdeka, laki-laki, perempuan, kecil dan besar dari kaum muslimin” (HR: Bukhori, Muslim).

Yang dikeluarkan adalah satu sho’ makanan pokok, Maka tidak boleh zakat fitrah dengan dirham, ternak potong, pakaian atau makanan ternak dan barang-barang lainya, karena menyelisihi perintah Rasulullah saw:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

” Barang siapa melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak”

 Dan ukuran satu sho’ adalah sama dengan dua kilo dan empat puluh gram gandum yang bagus (2,40 kg), itu adalah ukuran gram Nabi saw yang ia tetapkan atas zakat fitrah. Wajib mengeluarkan zakat fitrah sebelum sholat ‘id, dan yang utama adalah mengeluarkanya pada hari ‘id sebelum pelaksanaan shalat.

  1. Zakat Maal (harta)

Zakat maal adalah zakat kekayaan. Dewasa ini sering diabaikan. Padahal hukumnya sama wajib dengan zakat Fitrah. Setiap kekayaan kaum Muslimin ada zakatnya . Yang termasuk Zakat maal adalah : harta kekayaan, perdagangan, binatang ternak, pertanian dan barang temuan.

Semua ulama sepakat bahwa zakat merupakan salah satu rukum Islam, benda-benda yang wajib dizakati ada empat macam, sebagai berikut:

  1. Binatang Ternak;
  2. Dua mata uang (emas dan perak);
  3. Barang dagangan;
  4. Barang yang dapat disimpan dan ditakar, seperti buah-buahan dan tanaman dengan sifat tertentu.
  5. E.       Penerima dan Yang Tidak Berhak Menerima Zakat

Mustahiq zakat (orang-orang yang berhak menerima zakat harta) ada delapan ashnaf (golongan), yaitu:

  1. Orang fakir, yaitu orang yang tidak ada harta untuk keperluan hidup sehari-hari dan tidak mampu bekerja atau berusaha.
  2. Orang miskin, yaitu orang yang berpenghasilan sehari-harinya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya.
  3. Amil, yaitu orang yang bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan zakat kepada orang yang berhak menerimanya.
  4. Muallaf, yaitu orang-orang yang baru masuk Islam dan imannya masih lemah.
  5. Hamba sahaya (budak), yaitu orang yang belum merdeka.
  6. Gharim, yaitu orang yang mempunyai banyak hutang sedangkan ia tidak mampu membayarnya.
  7. Sabilillah, yaitu orang-orang yang berjuang di jalan Allah.
  8. Ibnu Sabil, yaitu orang-orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) seperti orang-orang yang pergi menuntut ilmu, berdakwah dan sebagainya.

Sedangkan orang yang tidak berhak menerima zakat adalah sebagai berikut:

  1. Orang kaya. Rasulullah bersabda, yang artinya “Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga.” (HR Bukhari).
  2. Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
  3. Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, yang artinya “Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat).” (HR Muslim).
  4. Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
  5. Orang kafir.
  6. F.       Hikmah dan Faedah Zakat

Zakat memiliki beberapa hikmah keagamaan, akhlak dan sosial, kita sebutkan diantaranya di bawah ini:

  1. Menegakan satu rukun dari rukun-rukun islam yang menjadi sentral kebahagiaan hamba di dunia dan di akhirat.
  2. Zakat dapat mendekatknan hamba kepada Tuhanya dan menambah keimananya, seperti ketaatan-ketaatan yang lain.
  3. Pahala yang besar yang diperoleh dari menunaikan zakat, Allah SWT berfirman:

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS: Ar-Ruum: 39).

  1. Allah SWT menghapus dosa-dosa dengan zakat, sebagaimana sabda Rosul saw:

والصدقةتطفىءالخطيئةكمايطفىءالماءالنار

“Dan sodaqoh itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api”

  1. Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan mereka yang miskin.
  2. Pilar amal jama’i antara mereka yang berada dengan para mujahid dan da’i yang berjuang dan berda’wah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.
  3. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk
  4. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
  5. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan
  6. Untuk pengembangan potensi ummat
  7. Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam
  8. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi ummat.

Adapun faedah dari mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:

  1. FaedahDiniyah (segi agama)
    1. Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu dari Rukun Islam yang mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
    2. Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabb-nya, akan menambah keimanan karena keberadaannya yang memuat beberapa macam ketaatan.
    3. Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, sebagaimana firman Allah“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”(QS: Al Baqarah: 276).

Dalam sebuah hadits yang muttafaqalaih Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam” juga menjelaskan bahwa sedekah dari harta yang baik akan ditumbuhkan kembangkan oleh Allah berlipat ganda.

  1. Zakat merupakan sarana penghapus dosa, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah Muhammad SAW.
  2. FaedahKhuluqiyah (Segi Akhlak)
    Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada kepada pribadi pembayar zakat.
    Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat rahmah (belas kasih) dan lembut kepada saudaranya yang tidak punya.
    Merupakan realita bahwa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat baik berupa harta maupun raga bagi kaum Muslimin akan melapangkan dada dan meluaskan jiwa. Sebab sudah pasti ia akan menjadi orang yang dicintai dan dihormati sesuai tingkat pengorbanannya.
    Di dalam zakat terdapat penyucian terhadap akhlak.

    1. FaedahIjtimaiyyah (Segi Sosial Kemasyarakatan)
      1. Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia.
      2. Memberikan dukungan kekuatan bagi kaum Muslimin dan mengangkat eksistensi mereka. Ini bisa dilihat dalam kelompok penerima zakat, salah satunya adalah mujahidin fi sabilillah.
      3. Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosial, dendam dan rasa dongkol yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah biasanya jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.
      4. Zakat akan memacu pertumbuhan ekonomi pelakunya dan yang jelas berkahnya akan melimpah.
      5. Membayar zakat berarti memperluas peredaran harta benda atau uang, karena ketika harta dibelanjakan maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang mengambil manfaat.

Berdasarkan uraian dalam pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Zakat adalah memberikan atau menyerahkan sebagian harta tertentu kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.
  2. Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
    a. Syarat-syarat wajib zakat ada lima, yaitu : Islam, merdeka, hak milik yang sempurna, ada satu nishob (batas yang tertentu), dan Haul, atau sudah sampai satu tahun.
    Zakat ada dua macam, yaitu zakat fitrah dan zakat maal.

c. Semua ulama sepakat bahwa zakat merupakan salah satu rukum Islam, benda-benda yang wajib dizakati ada empat macam, sebagai berikut:binatang ternak;dua mata uang (emas dan perak);barang dagangan;barang yang dapat disimpan dan ditakar, seperti buah-buahan dan tanaman dengan sifat tertentu.

  1. a.  Mustahiq zakat (orang-orang yang berhak menerima zakat harta) ada delapan ashnaf (golongan), yaitu:orang fakir, miskin, ‘amil, mu’allaf, hamba sahaya (budak), gharim, sabilillah dan ibnu sabil.
  2. Orang yang tidak berhak menerima zakat adalah:orang kaya, hamba sahaya, keturunan Rasulullah, orang yang dalam tanggungan yang berzakat, dan orang kafir.
  3. a. Zakat memiliki beberapa hikmah keagamaan, akhlak dan sosial, di antaranya: (1) Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan mereka yang miskin, (2) Pilar amal jama’i antara mereka yang berada dengan para mujahid dan da’i yang berjuang dan berda’wah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT., (3) Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan, dan lain-lain.
  4. Faedah dari mengeluarkan zakat, ada faedah diniyah (segi agama), seperti: Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu dari Rukun Islam yang mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat; faedah khuluqiyah (segi akhlak), seperti: Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada kepada pribadi pembayar zakat; dan faedah ijtimaiyyah (segi sosial kemasyarakatan), seperti: Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maliki, ‘Alawi Abbas dan Hasan Sulaiman An-Nuri, Penjelasan Hukum-Hukum Syariat Islam Ibaanatul Ahkaam, terj. Bahrun Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994.

Muhammad, Syaikh al-‘Allamah bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab, terj. ‘Abdullah Zaki Alkaf, Bandung: Hasyimi Press, 2004.

Rasjid,Sulaiman,Fiqh Islam Hukum Fiqh Lengkap, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994.

Ubaidillah,Luthfi, Ahmad Baihaqi, Buku Pelajaran Fiqih, Arya Duta, 1998.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: