MEMAHAMI NUZUL AL-QUR’AN


MEMAHAMI NUZUL AL-QUR’AN

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.     Pengantar

Al-Qur’an turun mengalami beberapa periode baik secara ghaib maupun secara dhahiriyah. Al-Qur’an bukan merupakan kalam Muhammad, namun merupakan kalam Allah, Tuhan pencipta alam semesta. Maka dari itu, banyak yang samar yang belum terungkap dalam al-Qur’an. Salah satunya adalah tentang masalah turunnya, lalu mengenai surah yang pertama kali turun.

Banyak yang harus diketahui dalam proses penurunan al-Qur’an, antara lain yaitu mengapa al-Qur’an diturunkan secara munajjam. Hal itu menjadi pertanyaan yang selalu melekat dalam dada setiap orang Islam yang berusaha untuk memahami al-Qur’an secara menyeluruh.

Maka dari itu, agar pembahasan tentang nuzul al-Qur’an menjadi lebih jelas sehingga kita sebagai masyarakat muslim mengetahui dan mengenal dengan lebih rinci tentang kitab suci kita, penulis menyusun tulisan ini.

B.     Pengertian Nuzul al-Qur’an

Kata nuzul secara bahasa bisa berarti turun. Dalam firman Allah di bawah ini, dijelaskan:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (3) وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ (4)

Artinya: Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.

Kata Qur’an dapat dita’wili sebagai kalam Allah, maka kata inzal dapat dipahami sesuai dengan konteksnya, yaitu I’lam (memberitahu). Jadi yang dimaksud nuzul al-Qur’an adalah memberitahu al-Qur’an atau lebih mudah dikemukakan dengan penurunan al-Qur’an.

Kata: Nuzul menurut bahasa mempunyai beberapa arti. Para ulama berbeda pendapat mengenai arti kata Nuzul, antara lain sebagai berikut:

­          Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitabnya Al-Mufradaat, kata Nuzul mempunyai arti: Al-Inhidar min ‘Uluwwin Ila Safalin (meluncur dari atas ke bawah, atau berarti turun). Contohnya, antara lainfirman Allah SWT:

وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً… (البقرة : 22)

Artinya:

“Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit”. (Q.S. Al-Baqarah: 22)

­          Imam Al-Fairuz Zabadi dalam kamusnya Al-Muhith Al-Hulul Fil Makan, kata Nuzul itu mempunyai arti “Bertempat di suatu tempat”. Contohnya, antara lain firman Allah SWT:

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ (المؤمنون :29)

Artinya:

“Dan berdoa’lah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat”. (Q.S. Al-Mukminun: 29)

­          Imam Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf, kata Nuzul itu berarti Al-Ijtima’ (kumpul). Contohnya, seperti dalam ungkapan : نزل الرجال فى المكان (orang-orang telah berkumpul di tempat itu).

­          Sebagian para ulama mengatakan, kata Nuzul itu berarti turun secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit. Contohnya, seperti dalam ayat Al-Qur’an, antara lain:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ…(ال عمران: 7)

Artinya:

“Dialah yang menurunkan Al-Qur’an kepada kamu, diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain ayat-ayat mutasyabih”. (QS. Ali Imran: 7)

Dari beberapa definisi di atas bahwa kata nuzul secara bahasa menurut penulis adalah turun sebagaimana didefinisikan oleh imam Ar- Roghib.

Para ulama mempunyai beberapa arti dalam mengartikan kata Nuzul menurut istilah, antara lain sebagai berikut:

­          Jumhur ulama, arti kata Nuzul dalam konteksnya dengan Al-Qur’an atau arti dari kalimat Nuzulul Qur’an tidak perlu menggunakan arti yang hakiki, yaitu yang berarti turun atau bertempat maupun berkumpul, melainkan perlu memakai arti yang majazi, atau arti pinjaman atau tidak asli. Sebab, lafal Al-Qur’an adalah Kalam atai Firman Allah SWT yang tidak relevan jika dikatakan meluncur dari atas, atau turun. Hal ini dikarenakan Allah SWT itu tidak bertempat di langit atau nun jauh di atas sana, sehingga wahyunya harus turun dari atas ke bawah. Menurut keterangan ayat 186 surah Al-Baqarah, Allah SWT itu adalah dekat dengan hamba-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ …. (البقرة : 186)

Artinya:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat”.

Bahkan menurut ayat 16 surah Qaaf, Allah SWT itu lebih dekat kepada hamba-hamba-Nya daripada urat lehernya.

….. وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (ق : 16)

Artinya:

“Dan Kami adalah lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.

Allah menyampaikan wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW itu tidak tepat, jika kata Nuzul tersebut dikaitkan dengan “menurunkan” yang merupakan arti hakiki. Sebab, Allah SWT tidak di atas, karena memang Allah SWT itu tidak mengambil tempat.

Karena itu, kata Nuzul dalam kalimat Nuzulul Qur’an itu harus diartikan dengan makna majazi, yaitu Al-Idhhar (menampakkan/ menjelaskan) atau Al-I’lam (memberitahukan/menerangkan) atau pun Al-Ifham (memahamkan/menerangkan).

­          Menurut sebagian ulama, yakni tokoh golongan Jahamiyah dan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa dalam mengartikan kata Nuzul itu tidak perlu harus meninggalkan arti hakiki, yang berarti turun dan tidak harus menggunakan arti majazi. Alasannya, kata Nuzul dengan arti turun dari tempat yang tinggi itu sudah menjadi bahasa kebiasaan orang Arab.

يَابَنِي ءَادَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا …..

Artinya:

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan”. (QS. Al-A’raf: 26).

Jadi, kalau pakaian yang terbuat dari bulu binatang yang dekat itu pun sudah biasa diungkapkan dengan “menurunkan”, maka tidak ada salahnya kalau Al-Qur’an dari Allah SWT yang dekat itu pun dikatakan dengan ungkapan diturunkan.

Menurut penulis, sebenarnya arti tersebut sudah berupa arti majazi. Seperti dalam bahasa Indonesia pun biasa dipakai ucapan “Surat Keputusan Menterinya Sudah Turun”. Kadang-kadang menteri juga dekat saja dengan orang yang diberi SK itu, tetapi digunakan ungkapan turun. Hal ini pun sudah memakai arti majazi. Sebab, meski menteri itu dekat tempatnya, tetapi kedudukannya lebih tinggi dari yang diberi SK, sehingga tepat kalau dipakai ungkapan “turun”, karena dari yang berkedudukan tingi kepada yang berkedudukan lebih rendah. Tetapi karena tempat keduanya adalah sama, yaitu sama-sama di atas bumi ini, maka arti itu pun hanya berupa kiasan atau majazi saja.

C.     Kaifiyah Nuzul al-Qur’an

Al-Qur’an turun dari Allah dan berhenti di terminal yang berbeda sebanyak 3 kali.

  1. Al-Qur’an dari Allah ke lauh al-Mahfudz, satu paket. Sebagaimana firman Allah:

بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22)

Artinya: Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh

Tetapi mengenai sejak kapan Al-Qur’an ditempatkan di Lauh Mahfudh itu, dan bagaimana caranya adalah merupakan hal-hal ghaib tidak ada yang mampu mengetahuinya, selain dari Allah SWT, Dzat yang Maha Mengetahui segala hal yang tersembunyi. Namun, mengenai bagaimana cara turunnya Al-Qur’an itu ke Lauh Mahfudh dapat disistematisasikan secara sekaligus ke seluruh Al-Qur’an itu.

Hal itu didasarkan atas dua argumentasi sebagai berikut: Pertama, karena dhahirnya lafal nash ayat 21-22 surah Al-Buruj itu tidak menunjukkan arti berangsur-angsur seluruh isi Al-Qur’an. Kedua, karena rahasia/hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, seperti yang akan diterangkan di belakang, tidak cocok untuk tanazul tahap pertama ini. Dengan demikian, tentu diturunkan secara sekaligus, karena tidak berangsur-angsur.

Adapun hikmah dari tanazul tahap pertama ini adalah seperti hikmah dari eksistensi Lauh Mahfudh itu sendiri dan fungsinya sebagai tempat catatan umum (arsip) dari segala hal yang ditentukan dan diputuskan Allah SWT dari segala makhluk, alam dan semua kejadian. Sebab, Lauh Mahfudh itulah yang menunjukkan berbagai data dan fakta serta argumentasi yang membuktikan kebesaran kekuasaan Allah SWT dan keluasan ilmu-Nya serta kekuatan kehendak dan kebijaksanaan-Nya.

  1. Dari lauh al-Mahfudz ke bait al-Izzah di langit dunia, satu paket, yaitu pada malam 17 ramadhan ketika lailah al-Qadar. Sebagaimana firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ…

Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran..

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Artinya: sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

Artinya: dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan..

Dan juga hadits:

وأخبرنا محمد بن عبد الله الحافظ قال : حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب قال : حدثنا محمد بن إسحاق الصغاني قال : حدثنا يزيد بن هارون قال : أخبرنا داود بن أبي هند ، عن عكرمة ، عن ابن عباس قال : أنزل القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا ليلة القدر ، ثم أنزل بعد ذلك بعشرين سنة.

Artinya: Dari Ibn Abbas, Ia berkata: Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada Lailatul Qadar (malam yang telah dipastikan) dalam satu paket, kemudian diturunkan setelah itu (secara berangsur-angsur) selama 20 tahun lebih.

أخبرنا أبو عبد الله محمد بن عبد الله الصفار ، ثنا أبو طاهر الزبيري ، ثنا محمد بن عبد الله الأصبهاني ، ثنا الحسن بن حفص ، ثنا سفيان ، عن الأعمش ، عن حسان بن حريث ، عن سعيد بن جبير ، عن ابن عباس رضي الله عنهما ، قال : « فصل القرآن من الذكر ، فوضع في بيت العزة في السماء الدنيا ، فجعل جبريل عليه السلام ينزله على النبي صلى الله عليه وسلم ، ويرتله ترتيلا » « هذا حديث صحيح الإسناد ، ولم يخرجاه »

  1. Dari bait al-Izzah ke Muhammad, munajjaman dalam waktu 23 tahun.

Berkaitan dengan ini Allah berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)

Artinya: Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.

Tahapan ketiga, Al-Qur’an turun dari Baitul Izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Artinya, setelah wahyu kitab Al-Qur’an itu pertama kalinya ditempatkan di Lauh Mahfudh, lalu keduanya diturunkannya ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian ketiganya disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad SAW, baik melalui perantaraan Malaikat Jibril, atau pun secara langsung ke dalam hati sanubari Nabi Muhammad SAW, maupun dari balik tabir.

Dalilnya, ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, antara lain:

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas;  (Q.S. Al-Baqarah: 99)

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.  (Q.S. Ali-Imran: 7)

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا(106)

Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (Q.S. Al-Isra’: 106)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا(32)

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (Q.S. Al-Furqan: 32)

D.     Surah yang Pertama Kali Turun  dan Surah yang Terakhir Turun

Semua ulama sepakat, bahwa surah yang turun pertama adalah surah al-Alaq 1-5, berdasarkan hadits berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الخ} فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ

Artinya: Aisyah r.a. berkata, “[Adalah 6/871] yang pertama (dari wahyu) kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh. Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi di Gua Hira. Beliau beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah. Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya (dalam riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya) kebenaran. Ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat (dalam nomor 8/67) seraya berkata, ‘Bacalah!’ Beliau berkata, ‘Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, ‘Bacalah!’ Maka, saya berkata, ‘Sungguh saya tidak dapat membaca:’ Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, ‘Bacalah!’ Maka, saya berkata, ‘Sungguh saya tidak bisa membaca’ Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. Lalu ia membacakan, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min’alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam. ‘Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu Rasulullah saw. pulang dengan membawa ayat itu dengan perasaan hati yang goncang (dalam satu riwayat: dengan tubuh gemetar). Lalu, beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid, lantas beliau bersabda, ‘Selimutilah saya, selimutilah saya!’ Maka, mereka menyelimuti beliau sehingga keterkejutan beliau hilang. Beliau bersabda dan menceritakan kisah itu kepada Khadijah, ‘Sungguh saya takut atas diriku.’ Lalu Khadijah berkata kepada beliau, ‘Jangan takut (bergembiralah, maka) demi Allah, Allah tidak akan menyusahkan engkau selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya engkau suka menyambung persaudaraan (dan berkata benar), menanggung beban dan berusaha membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong penegak kebenaran.’ Kemudian Khadijah membawa beliau pergi kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza (bin Qushai, dan dia adalah) anak paman Khadijah. Ia (Waraqah) adalah seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliah. Ia dapat menulis tulisan Ibrani, dan ia menulis Injil dengan bahasa Ibrani (dalam satu riwayat: kitab berbahasa Arab. dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab) akan apa yang dikehendaki Allah untuk ditulisnya. Ia seorang yang sudah sangat tua dan tunanetra. Khadijah berkata, Wahai putra pamanku, dengarkanlah putra saudaramu!’ Lalu Waraqah berkata kepada beliau, Wahai putra saudaraku, apakah yang engkau lihat?’ Lantas Rasulullah saw: menceritakan kepadanya tentang apa yang beliau lihat. Lalu Waraqah berkata kepada beliau, ‘Ini adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Musa! Wahai sekiranya saya masih muda, sekiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu….’ Lalu Rasulullah saw. bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusir saya?’ Waraqah menjawab, ‘Ya, belum pernah datang seorang laki-laki yang (membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali ia ditolak (dalam satu riwayat: disakiti / diganggu). Jika saya masih menjumpai masamu, maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang tangguh.’ Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dan wahyu pun bersela.

Sedang ayat yang terakhir turun adalah surah al-Maidah ayat 3, yaitu ayat tersebut diturunkan ketika Nabi sedang melangsungkan haji wada’. Walaupun banyak sekali pendapat ulama tentang hal tersebut. Kira-kira ada 9 pendapat selain yang mengatakan hal ini.

Permulaan turunnya Al-Qur’an adalah pada malam Qadar, tanggal 17 Ramadhan tahun keempat puluh dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bertepatan tanggal 16 Agustus 610 M, sewaktu beliau sedang berkhalwat (meditasi) di dalam Goa Hira di atas Jabal Nur, sebelah utara kota Mekkah.

Ayat yang kali pertama turun adalah ayat 1 – 5 surat Al-Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5).

Al-Qur’an selesai diturunkan menjelas kewafatan Nabi Muhammad SAW pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau tahun 10 H yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 632 M, dengan turunnya ayat yang terakhir, yaitu 3 surah Al-Maidah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepadamu, serta Ku-ridhai bagimu Islam sebagai agamamu”. (Q.S. Al-Maidah: 3)

Menurut Imam As-Suyuthi yang mengikuti pendapat Abdullah Ibnu Abbas, bahwa ayat yang terakhir turun adalah ayat 281 surah Al-Baqarah:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ(281)

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. Al-Baqarah: 281).

Karena itu, menurut Jumhur Ulama, masa turunnya Al-Qur’an dari permulaan hingga akhirnya itu adalah selama 22 tahun 2 bulan lebih 22 hari. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama, sesuai dengan perselisihan mereka mengenai lama waktu Nabi tinggal di Mekkah setelah diangkat menjadi Rasul, apakah selama 10 tahun atau 13 tahun atau 15 tahun. Menurut hasil penelitian sebagian ahli sejarah Islam telah menyebutkan, bahwa lama waktu Nabi tinggal di Mekkah itu ada 12 tahun 5 bulan dan 13 hari, mulai dari tanggal 17 Ramadhan tahun 40 kelahiran Nabi sampai awal bulan Rabi’ul Awal 54. sedang mengenai lama waktu Nabi tinggal di Madinah, menurut Imam As-Suyuthi adalah selama 10 tahun atau 9 tahun 9 lebih 9 hari, dari awal Rabi’ul Awal tahun 45 sampai tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 atau 10 H.

E.     Hikmah al-Qur’an Diturunkan Munajjam

Terdapat berbagai hikmah al-Qur’an secara munajjam, antara lain:

  1. Pengukuhan hati Nabi Muhammad.
  2. Mukjizat
  3. Memudahkan menghafalkan dan memahami
  4. Pembaharuan wahyu
  5. Pendidikan tasyri’ bagi sahabat.

Sedangkan hikmah turunnya Al-Qur’an pada tahap ketiga/ langsung kepada Nabi Muhammad SAW yang secara berangsur-angsur ini, antara lain sebagai berikut:

  1. Mempermudah pembicaraan dan penyampaiannya kepada umat manusia dengan keterangan ayat 106 surat Al-Isra yang telah ditulis dan diterjemahkan di atas. Sebab, jika sekiranya seluruh Al-Qur’an itu diturunkan secara sekaligus, tentu akan sukar untuk mempelajari pembacaannya, apalagi penyampaiannya kepada masyarakat.
  2. Mempermudah untuk menghafalkannya, sesuai dengan keterangan ayat 32 surah al-Furqan tersebut di atas. Sebab, seandainya semua ayat-ayat Al-Qur’an itu disampaikan secara sekaligus, tentu akan sukar sekali menghafalkannya.
  3. Mempermudah pemahaman seluruh isi ajarannya, sesuai pula dengan keterangan ayat 32 surah Al-Furqan tersebut. Sebab, jika seluruh ayat Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara sekaligus, padahal beliau  atau kebanyakan sahabat adalah ummi (tidak pandai membaca dan menulis), maka jelas akan ada kesulitan untuk bisa memahami keseluruhan isi kandungannya.
  4. Lebih meresapkan inti ajaran Al-Qur’an ke dalam hati sanubari Nabi dan umatnya. Hal ini sesuai dengan keterangan ayat 32 surah 32 Al-Furqon tersebut. Sebab, seandainya Nabi menerima wahyu Al-Qur’an itu secara sekaligus, maka sudah pasti akan menyulitkan beliau beserta umatnya dalam meresapi semua peraturannya.
  5. Lebih mempermudah praktik pelaksanaan hukum-hukum peraturan Al-Qur’an yang bermacam-macam itu. Karena itu, para sahabat dahulu jika mempelajari kitab Al-Qur’an hanya sekitar sepuluh ayat saja. Mereka tidak beralih kepada ayat-ayat lain sebelum mengetahui isi ajaran Al-Qur’an, dan bisa mempraktikkan pelaksanaan hukum-hukum peraturan ajaran Al-Qur’an itu.

Memberi kesempatan kepada umat Islam guna menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan hukum ajaran Al-Qur’an yang diturunkan ayat-ayatnya secara berangsur-angsur dan penetapan hukumnya secara bertahap-tahap. Dengan demikian, mereka mampuberadaptasi dengan cara sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang terlarang. Misalnya, seperti proses pengharaman minuman keras, praktik riba, dan sebagainya secara bertahap, sehingga mereka sempat berlatih meninggalkannya sedikit demi sedikit. Sebab, seandainya penetapan pengharaman itu secara radikal atau drastis, mereka akan berat sekali untuk mematuhi larangan-larangan tersebut, karena hal-hal itu sudah menjadi kebiasaan yang telah mendarah daging bagi mereka.

Wallahu A’lam bil al-showab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: