MEMAHAMI DAMPAK PENAMBANGAN PASIR


MEMAHAMI DAMPAK PENAMBANGAN PASIR

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

Upaya pelestarian ekosistem lingkungan tidak kurang-kurangnya didengungkan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Berbagai peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah maupun himbauan dari masyarakat melalui poster-poster maupun berupa iklan layanan masyarakat merupakan beberapa usaha untuk mengajak kepada semuanya dalam upaya pelestarian lingkungan. Pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab kita semua sebagai umat manusia, yang mana manfaatnya juga akan kembali kepada kita semuanya yang memerlukan dan menggunakan lingkungan sebagai sarana dalam kehidupan.

Namun, usaha positif apa pun yang telah diupayakan selalu ada yang tidak mengikutinya, bahkan malah melanggarnya. Salah satunya yang terjadi di wilayah Kab Kediri dan Kota Kediri, yakni penambangan pasir mekanis. Meski penambangan pasir sudah dinyatakan dilarang dan bagi pelaku penambangan dijerat dengan pidana, ternyata hingga saat ini masih saja marak. Ironisnya, para penegak hukum sepertinya tidak bertindak adil dalam menangani masalah ini. Ada beberapa penambang yang nampak tenang-tenang saja dan terus melakukan perbuatan melawan hukum dengan melakukan pengerukan pasir. Pagi itu, suara mesin diesel terdengar memecah kesunyian Ds Pethok Kec Mojo Kab Kediri. Suara itu terdengar dari tepian sungai Brantas yang melintasi desa tersebut. Sejumlah orang terlihat berkerumun di sekitar mesin diesel yang diletakkan di atas sebuah perahu. Di sisi lain, terlihat sebuah truk dengan muatan pasir, siap berangkat keluar dari jalan desa.

Itulah aktifitas penambangan pasir mekanis yang sudah berlangsung di desa itu, sejak tahun 2000 lalu. Tidak hanya di Ds Pethok. Aktifitas serupa, juga berlangsung di sedikitnya 4 desa lain di wilayah Kec Mojo, masing-masing Ds Ploso, Maesan, Mlati dan Mondo. Bahkan aktifitas tersebut, juga berlangsung di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas wilayah Kab Kediri, mulai Kec Kras hingga Kec Purwoasri. Selain di Kab Kediri, penambangan pasir mekanis di aliran Sungai Brantas, ternyata juga berlangsung di wilayah Kota Kediri. Setidaknya penambangan serupa berlangsung di Kel Manisrenggo, Banjarmlati, Semampir dan Mrican.

A.      Kronologi Munculnya Penambangan Pasir Mekanis

Awalnya, penambangan pasir berlangsung secara tradisional, dengan menggunakan serok, para penambangan pasir tradisional atau bojong mendulang pasir Sungai Brantas. Dari aktifitas itu, para bojong bisa memperoleh penghasilan Rp 50 ribu per hari. Namun, sejak awal tahun 2000, penambangan pasir tradisional tidak lagi diminati. Perkembangan teknologi membuat cara penambangan pasir bergeser, tidak lagi menggunakan alat-alat tradisional, akan tetapi beralih menggunakan mesin diesel. Pengurus Koperasi Bojong Makmur Kota Kediri yang mewadahi aktifitas penambang pasir tradisional, awalnya ada 30 orang bojong yang tergabung di koperasinya. Tapi, sejak penambangan pasir mekanis booming, jumlah anggotanya tinggal 6 orang. Hal ini terjadi, karena penambangan pasir mekanis menawarkan penghasilan yang jauh lebih besar. Banyak bojong yang beralih menjadi pekerja penambangan dengan diesel karena penghasilannya bisa 5 kali lipat dari penghasilan sebagai bojong. Berlipat gandanya penghasilan dari penambangan pasir mekanis terjadi, salah satunya karena besarnya volume pasir yang dikeruk. Waktu penambangannya cepat, hasilnya juga lebih besar.

Dalam satu hari, dari satu titik penambangan pasir dihasilkan 7 truk pasir dengan harga jualnya berkisar antara Rp 200 ribu – 350 ribu per truk. Nilai ini sangat besar, jika dibandingkan dengan modal yang harus dikeluarkan untuk menjalankan bisnis tersebut. Salah satu pemilik diesel penyedot pasir di Ds Jongbiru Kec Gampengrejo yang enggan disebut namanya mengatakan, untuk menjalankan usaha tersebut, ia hanya mengeluarkan modal sebesar Rp 12 juta untuk menyewa galangan mesin atau konfiyer yang digunakan untuk mengeruk pasir. Satu atau dua bulan modal itu sudah bisa balik.

Dengan kondisi seperti itu, tidaklah mengherankan bila penambangan pasir mekanis di Sungai Brantas dibidik menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan. Banyak pihak berlomba-lomba menjalankan usaha tersebut. Hal ini terlihat dari banyaknya titik penambangan pasir mekanis. Data Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Kediri, misalnya, mencatat hingga 2007 lalu, ada 50 titik penambangan pasir, dengan jumlah diesel penyedot pasir masing-masing berkisar antara 4 – 5 buah per titik penambangan.

B.       Akibat dari Penambangan Pasir Mekanis

Namun siapa sangka, dibalik menggiurkannya bisnis penambangan pasir mekanis, terselip ancaman bencana, terutama gangguan pada kelestarian ekosistem lingkungan dan keberadaan bangunan di sekitarnya. Salah satunya berupa penurunan dasar Sungai Brantas. Pengerukan pasir yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu lama membuat tumpukan pasir sungai Brantas terus berkurang, sehingga dasar sungai pun semakin dalam. Jika secara normal, batas volume pengerukan pasir hanya sekitar 450 ribu meter kubik per tahun, maka dengan adanya penambangan pasir mekanis, volume pengerukan pasir di aliran sungai Brantas mencapai 1,6 juta meter kubik per tahun.

Perum Jasa Tirta Kediri sebagai pengelola Sungai Brantas di wilayah Kediri mencatat, penurunan dasar Sungai Brantas berlangsung sejak tahun 2004 dan semakin parah hingga tahun 2009. Jika tahun 2004 dasar sungai Brantas turun antara 3 – 4 meter, maka tahun 2006 sudah mencapai 8 meter. Bahkan tahun 2009, penurunan dasar sungai Brantas sudah mencapai 12 meter. Penurunan dasar sungai Brantas ini, tentunya berpengaruh pada keberadaan bangunan, baik kawasan pemukiman maupun fasilitas umum. Bangunan-bangunan tersebut pondasinya menjadi menggantung akibat penurunan dasar sungai.

Data Perum Jasa Tirta juga menunjukkan, sedikitnya ada 67 titik fasilitas umum yang kondisinya rusak akibat penurunan dasar sungai Brantas sebagai dampak penambangan pasir mekanis. Fasilitas umum tersebut kebanyakan berupa jembatan, bendungan, tanggul dan sarana pengairan. Beberapa diantaranya bahkan dalam kondisi kritis dan rawan ambruk terutama jika memasuki musim penghujan. Sejumlah fasilitas umum yang rusak misalnya Bendung Gerak Waruturi Kec Gampengrejo. Paku bangunan bendungan tersebut sudah menggantung 4 meter dari lokasi serupa. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat fungsi bendungan ini sangat vital, yaitu menyuplai pengairan untuk wilayah Kediri, Jombang dan Nganjuk.

Tercatat pula kerusakan terjadi pada jembatan Mrican. Jembatan sepanjang 10 meter yang menghubungkan wilayah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri itu pondasinya amblas, hingga tidak lagi bisa dilalui oleh kendaraan bermotor. Tak ayal, lebih dari 1 tahun ini, jembatan Mrican tidak bisa lagi difungsikan. Para pengguna kendaraan bermotor ung ingin melintas, terpaksa menggunakan jasa perahu penyeberangan. Tentunya mereka harus rela mengeluarkan ongkos tambahan untuk membayar jasa penyeberangan tersebut.

Jembatan terbesar di Kota Kediri, jembatan Semampir, tidak luput terkena dampak yang muncul akibat penambang pasir mekanis tersebut. Jembatan yang menjadi akses utama lalu lintas dari wilayah barat menuju timur Sungai Brantas itu konstruksinya bergeser sejauh 14 cm dari posisi semula ketika diukur pada 28 Agustus 2009. Padahal toleransi maksimal pergeseran hanya 15 cm. Kondisi yang mengkhawatirkan ini disikapi dengan pemasangan pelat baja di sisi barat dan timur jembatan oleh Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Timur. Selain itu, dipasang pula bronjong penahan pasir di kaki jembatan, agar arus air tidak terlalu kuat menghantam kaki jembatan. Penambangan pasir mekanis juga membuat tergerusnya badan jalan di desa Tambibendo Kec Mojo hingga 0,5 meter. Kondisi jalan membahayakan, karena ada rongga yang lebar di bawah badan jalan. Di Kec Mojo, ada sedikitnya 14 titik bencana yang muncul akibat penambangan pasir mekanis. Selain jalan desa Tambibendo yang tergerus, ada jembatan Mondo yang kakinya menggantung dan 4 rumah yang ambrol. Paling tidak ada 14 titik bencana akibat penambangan pasir mekanis.

C.      Undang-Undang yang Mengatur Masalah Penambangan pasir Mekanis

Meski dampaknya sangat mengkhawatirkan, namun hal itu tidak menghentikan aksi penambangan pasir mekanis. Bahkan peraturan perundangan yang dibuat pemerintah untuk melindungi kelestarian ekosistem lingkungan dari bahaya penambangan pasir mekanis tidak juga mampu meredam aksi tersebut.

Selama ini, sejumlah peraturan perundangan ditelorkan untuk menghadang laju maraknya penambangan pasir mekanis. Diantaranya Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur nomor 1 tahun 2005 tentang pengendalian usaha pertambangan bahan galian golongan C pada wilayah sungai. Di tingkat nasional, pemerintah juga telah mengeluarkan undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang mineral dan pertambangan. Namun hal itu, tetap saja tidak berdaya, membendung terus bergulirnya aksi penambangan pasir mekanis. Sanksi tegas berupa hukuman penjara hingga 10 tahun dan denda Rp 10 miliar tidak menjadi penghalang bagi pelaku penambangan pasir untuk tetap beroperasi.

D.      Kesimpulan

Berdasarkan uraiain dalam pembahasan di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Penambangan pasir mekanis menjadi marak karena untung yang didapat lebih besar daripada penambangan tradisional. Selain untung yang berlipat ganda dari penghasilan yang diperoleh, juga kemudahan dalam mengerjakannya sehingga tidak terlalu melelahkan dan dapat hasil yang lebih besar dan lebih cepat.
  2. Penambangan pasir mekanis dapat mengakibatkan berbagai kerusakan lingkungan dan bencana seperti erosi dan juga kerusakan fasilitas umum, seperti jembatan, bendungan, dan lain sebagainya.
  3. Sebagai upaya dalam kelestarian ekosistem lingkungan. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur nomor 1 tahun 2005 tentang pengendalian usaha pertambangan bahan galian golongan C pada wilayah sungai. Di tingkat nasional, pemerintah juga telah mengeluarkan undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang mineral dan pertambangan. Peraturan perundangan tersebut adalah sebagai bentuk pencegahan agar para pelaku jera dan tidak melakukannya lagi, meskipun hal itu sangat sulit.

One response

  1. […] memahami dampak penambangan pasir, (online) https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/14/memahami-dampak-penambangan-pasir/ yang di akses pada 5 desember 2013 pukul 19.11 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: