MEMAHAMI SYAR’U MAN QABLANA


MEMAHAMI SYAR’U MAN QABLANA

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.      Pengantar

Dalam lingkup hukum Islam, Al-Qur’an dan Hadits adalah sumber dari hukum Islam, sehingga semua ketentuan hukum yang dibuat oleh manusia harus sejalan dan tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan/atau Hadits. Namun demikian, adakalanya ketentuan-ketentuan dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak serta merta dapat diterapkan secara langsung dalam menetapkan hukum untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Yang dimaksud dengan hukum Islam dalam tulisan ini tidak hanya hukum yang terkait dengan penyelesaian suatu masalah tetapi juga hukum untuk melaksanakan suatu perbuatan, seperti shalat, puasa dan praktek jual beli.

Penggunaan dalil-dalil atau ketentuan-ketentuan yang ada dalam           Al-Qur’an dan Hadits untuk merumuskan hukum atas suatu perbuatan atau permasalahan haruslah mengikuti kaidah-kaidah yang lazim digunakan dikalangan umat Islam. Kaidah-kaidah tersebut terdapat dalam ilmu Ushul Fiqh, yaitu suatu ilmu yang menguraikan tentang metode yang dipakai para imam mujtahid untuk menggali dan menetapkan hukum syar’i dari nash. Artinya ilmu ushul fiqh merupakan kajian metodologis untuk mengambil dan menggeneralisasikan suatu illat dari nash serta cara yang paling tepat untuk penetapannya. Hal ini dimaksudkan agar Al-Qur’an dan Hadis dapat melebar (menjawab problematika umat) maka dibuatlah sebuah metodologi..

Dalam literatur ilmu ushul fiqh, salah satu permasalahan yang dikaji adalah Metode Syar’u man Qablana.Syar’u man Qablanamerupakansyari’at para nabi terdahulu sebelum adanya syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Telah diketahui bahwa syar’u man qablana adalah salah satu dari sekian banyak metode istinbat (penggalian) hukum Islam, walaupun tampak adanya warna-warna yang mengindikasikan syar’u man qablana hanya sebagai penguat teks-teks keagamaan dan bukan dijadikan sebagai petunjuk untuk menggali hukum, namun seringkali ia tetap dijadikan sebagai metode.

Berkaitan dengan hal tersebut, para ahli ushul al-fiqh menggunakan syar’u man qablana untuk membedakan antara syari’at atau hukum sebelum Nabi Muhammad menjadi seorang rasul dan hukum di saat ia diutus sebagai rasul. Namun demikian, tampaknya para ahli ushul al-fiqh memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang syar’u man qablana.Perbedaan tersebut tampak ketika mereka membahas keterikatan Nabi Muhammad setelah menjadi Nabi dan pengikutnya terhadap syari’at-syari’at sebelumnya.

Terlepas dari perbedaan ini, yang jelas ada suatu kesepakatan para ahli ushul al-fiqh bahwa tidak semua syari’at sebelum Islam di-naskh (diganti) oleh Islam, bahkan di antara syari’at-syari’at tersebut ada yang masih diakui dan mengikat umat Islam secara keseluruhan. Sejak adanya kesepakatan tersebut, maka syar’u man qablana dapat dianggap sebagai sebuah solusi terhadap kebimbangan dan kemelut syari’at yang dihadapi dan selanjutnya bernaung dalam sebuah metodologi yang disebut ushul al-fiqh (metodologi hukum Islam).

Namun demikian, meskipun kepopulerannya setingkat lebih bawah dibandingkan dengan metodologi ushul al-fiqh lainnya (seperti qiyas, istihsan, istislah, istishab,dll), namun metode ini tak luput juga dari pembahasan dan perdebatan para ulama ushul. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dipaparkan beberapa uraian penting seputar problem Metode Syar’u man Qablana.

B.       Hakekat Syar’u man Qablana

Berdasarkan beberapa referensi yang berkaitan, ditemukan bahwa istilah syar’u man qablana lebih berorientasi untuk menunjukkan adanya syari’at-syari’at sebelum Islam sebagai agama ketika dilahirkan. Syar’u man qablana berasal dari kata Syara’a dan Qabl.  Kata Syar’u/syir’ah yang berarti harfiahnya syariat merupakan kata jadian dari asal kata Syara’a, pada dasarnya berarti sebuah aliran air, namun dapat berarti pula sebuah agama, hukum syari’at. Sesuai dengan firman Allah yang artinya sebagai berikut:

“… untuk tiap-tiap umat diantara kamu kami berikan aturan dan jalan yang terang …”. (QS. Al-Maaidah/5: 48).

Sedangkan Qablana berarti sebelum Islam, yaitu syariat-syariat yang diturunkan Allah SWT kepada nabi-nabi yang diutus sebelum Muhammad SAW. Syar’u man qablanadalam pandangan para ulama salaf adalahsyari’at-syari’at para nabi terdahulu sebelum adanya syari’at Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Ada beberapa pandangan dalam memahami syar’u man qablana. Ada yang memahaminya sebagai pembatas (takhsis), nasikhdan bahkan sebagai metode, tetapi semua ini berkaitan dengan keberlakuan syari’at umat terdahulu, apakah ia masih berlaku atau sudah dibatalkan berdasarkan dalil normatif dalam Alqur’an yang secara tegas menyebutkan hal tersebut.

Khallaf menyebutkan bahwa Syar’u man Qablana adalah berhubungan dengan “syara‘aha Allah liman sabaqana min al-umam” (syari’at yang telah diturunkan Tuhan kepada orang-orang yang telah mendahului Islam (hukum-hukum para Nabi terdahulu).

Sedangkan Zahrah membatasi bahwa syari’at-syari’at yang diturunkan tersebut adalah syari’at samawiyyah.Hasballah juga mengungkapkan bahwa Syar’u man Qablana adalah “al-syara’i’ al-sabiqah”, (syari’at-syari’at sebelum Islam). Definisi syar’u man qablana tampak jelas dalam ungkapan Zaidan yang mengatakan bahwa ia adalah “al-ahkam allati syara’aha Allah Ta’ala liman sabaqana min al-umam, wa anzalaha ‘ala anbiyaihi wa rusulihi litablighiha litilka al-umam”, (hukum-hukum yang telah disyari’atkan Tuhan kepada umat-umat sebelum kita yang diturunkan melalui para Nabi dan para Rasul untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat pada waktu itu).

Sedangkan menurut Syarifudin, Syar’u man Qablana ( شرع من قبلنا ) ialah hukum-hukum yang telah disyari’atkan untuk umat Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul terdahulu dan menjadi beban hukum untuk diikuti oleh umat sebelum adanya syari’at nabi Muhammad SAW. Jadi pada intinya Syar ‘u man Qablana ialah syari ‘at yang diturunkan Allah kepada umat sebelum kita, yaitu ajaran agama sebelum datangnya ajaran agama Islam, seperti ajaran agama Nabi Musa, Isa, Ibrahim, dan lain-lain.

Pada dasarnya syari’at yang diperuntukkan Allah swt bagi umat-umat dahulu mempunyai azas yang sama dengan syari’at yang diperuntukkan bagi umat nabi Muhammad saw.

Di antara azas yang sama itu ialah yang berhubungan dengan konsepsi ketuhanan, tentang akhirat, tentang qadha dan qadar, tentang janji dan ancaman Allah dan sebagainya. Mengenai perinciannya atau detailnya ada yang sama dan yang berbeda, hal ini disesuaikan dengan keadaan, masa dan tempat.

Oleh karena yang menurunkan syari’at samawi itu satu, yaitu Allah swt. Maka syari’at tersebut pada dasarnya/intinya adalah satu. Selain itu juga bahwa bentuk dan cara-cara ibadah (hubungan manusia dengan Allah) berbeda dalam perinciannya, namun intinya adalah sama yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, terdapat penghapusan terhadap sebagian hukum umat-umat yang sebelum kita (umat Islam) dengan datangnya syari’at Islamiyah dan sebagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku, seperti qishash.

Berkaitan dengan syari’at sebelum Islam, ulama ushul fiqh telah bersepakat bahwa secara umum syari’at yang diturunkan Allah sebelum Islam telah dibatalkan. Namun masih ada syari’at-syari’at sebelum Islam yang masih berlaku diantaranya adalah beriman kepada Allah. Hal ini serupa dengan meyakini adanya kitab suci yang diturunkan kepada nabi-nabi yang terdahulu merupakan salah satu rukun iman. Namun kita meyakini bahwa kitab Taurat dan Injil yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa dalam arti yang sesungguhnya. Kedua kitab suci yang ada sekarang ini sudah mengalami perubahan melalui tangan para pengikutnya. Kedua kitab tersebut sudah disepakati oleh ulama’ untuk menolaknya, kalau demikian halnya, maka yang disebut syari’at Islam sebelum kita adalah hukum-hukum yang berlaku untuk umat sebelum datang risalah Nabi Muhammad saw. sejauh yang dapat dibaca dalam Al-Qur’an atau dinukilkan oleh Nabi Muhammad saw, karena memang Al-Qur’an dan Hadits Nabi banyak berbicara tentang syari’at terdahulu.

Kebanyakan ulama’ Syafi’iyah berpendapat bahwa syari’at-syari’at umat terdahulu yang tidak dinasakhkan, dapat kita pakai hingga sekarang. Kebanyakan ulama’ Hanafiyah, Malikiyah dan jumhur Mutakalimin berpendapat demikian juga. Mereka berkata “Wajib kita amalkan apabila Tuhan menyebutnya dalam Al-Qur’an, atau dikabarkan oleh Rasul dengan tidak diingkari”.

Berkaitan dengan posisi syar’u man qablana, Zuhaili sebagaimana dikutib oleh Ma’shum, menyatakan bahwa dengan diutusnya Muhammad sebagai nabi pada tahun 611 Masehi, maka sejak itu pula bahwa syari’at Nabi Muhammad adalah penutup segala syari’at yang diturunkan Tuhan. Kendati demikian, Zuhaili juga mengatakan bahwa keadaan seperti itu masih menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan para ahli usul al-fiqh, khususnya berkaitan dengan keterikatan Nabi Muhammad secara pribadi dengan syari’at sebelumnya dan sesudah ia menjadi Nabi, termasuk pula di dalamnya pengikut-pengikut Nabi Muhammad sampai sekarang.

C.    Pengelompokan Syar’u man Qablana

Adapun pembagian dari syar’u man qablana sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terbagi menjadi tiga bagian:

  1. Hukum-hukum dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi disyari’atkan untuk umat sebelumnya dan dinyatakan pula untuk selanjutnya. Contohnya ayat yang memerintahkan berpuasa.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa puasa disyari’atkan untuk umat terdahulu dan diwajibkan atas umat nabi Muhammad saw.

Contoh dalam hadits nabi adalah tentang berkorban yang dijelaskan, disyari’atkan  untuk nabi Ibrahim, juga disyari’atkan untuk umat nabi Muhammad. Hal ini ditegaskan dalam sabda nabi:

ضحوا فإنها سنه ابيكم ابراهيم ( الحديث )

“Berkorbanlah karena yang demikian itu adalah sunnah bapakmu, Ibrahim”. (As-Sunnah).

Hukum-hukum dalam bentuk ini berlaku untuk umat nabi Muhammad. Hal ini sudah disepakati oleh semua ulama’. Pemberlakuan hukum untuk umat nabi Muhammad bukan karena ia adalah “syara’ sebelum kita” yang harus berlaku untuk kita, tetapi karena kewajiban tersebut ditetapkan pemberlakuaannya untuk kita dalam Al-Qur’an maupun hadits.

  1. Syari’at terdahulu yang terdapat dalam Al-Qur’an atau penjelasan nabi yang disyari’atkan untuk umat sebelum nabi Muhammad dan dijelaskan pula dalam Al-Qur’an atau hadits nabi bahwa yang demikian telah dinasakh dan tidak berlaku lagi bagi umat nabi Muhammad saw.

Hadits nabi:

احلت لى الغنام ولم تحل لأحد من قبلي ( الحديث )

“Dihalalkan untukku harta rampasan yang tidak pernah dihalalkan untuk orang sebelumku”.

Hadits nabi ini menjelaskan bahwa ghanimah (harta rampasan perang) itu tidak halal untuk umat terdahulu, namun kemudian dihalalkan untuk umat nabi Muhammad.

Ulama’ telah sepakat menyatakan bahwa syari’at terdahulu yang dalam bentuk ini (yang telah dinasakh) tidak berlaku untuk umat nabi Muhammad.

  1. Hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadits nabi, dijelaskan berlaku untuk umat sebelum nabi Muhammad, namun secara jelas tidak dinyatakan berlaku untuk kita, juga tidak ada penjelasan bahwa hukum tersebut telah dinasakh.

Tuhan menceritakan adanya kewajiban kepada Bani Israil hukum yang tercatat dalam Taurat. Namun tidak menjelaskan apakah ketentuan itu berlaku juga terhadap umat Islam atau tidak. Tidak adanya kejelasan pada ayat itu menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan para ahli ushul al-fiqh, apakah hal tersebut diberlakukan juga untuk umat Islam atau tidak mengingat ketentuan itu terdapat di dalam Alqur’an yang nota bene merupakan kitab suci umat Islam.

Berkaitan dengan masalah tersebut, Bazdawi yang dikutib oleh Ma’shum mengatakan bahwa “syari’at terdahulu yang tidak ditemukan ketegasan pengamalannya bagi umat Islam adalah tidak berlaku bagi umat Islam sampai ditemukannya dalil yang mewajibkannya”. Namun yang populer dari pendapat Bazdawi adalah tentang anggapannya yang menyatakan bahwa ketentuan itu merupakan syari’at karena ia dituliskan kembali dalam Al-Qur’an, sehingga ia telah menjadi syari’at Muhammad.

Dari ketiga kelompok syari’at sebelum kita, bentuk pertama sudah jelas kedudukannya, yaitu berlaku lagi untuk umat nabi Muhammad. Demikian juga dengan bentuk kedua yang tidak disepakati oleh para ulama’ untuk menjadi hukum Islam. Bentuk ketiga inilah sebenarnya yang disebut “syari’at sebelum kita” yang menjadi bahan kajian ulama’ ushul fiqih.

Secara ringkas tentang Syari’at umat sebelum kita ini, maka gambaran Syar’u man Qablana ada dua macam, yaitu:

  1. Ada yang telah dihapuskan oleh Syari’at Islam.
  2. Yang tidak dihapuskan oleh Syari’at Islam. Yang tidak dihapuskan ini bisa dibagi dua, yaitu:
    1. Yang ditetapkan oleh Syari’at Islam dengan tegas.
    2. Yang tidak ditetapkan oleh Syari’at Islam dengan tegas. Yang tidak ditetapkan dengan tegas ini dibagi pula menjadi dua bagian, yaitu:

1)        Yang diceritakan kepada kita baik melalui Al-Qur’an atau Hadits.

2)        Yang tidak disebut-sebut sama sekali di dalam Al-Qur’an atau Hadits.

D.    Kehujjahan Syar’u man Qablana dalam Hukum Islam

Seperti yang telah disinggung pada sub bab sebelumnya bahwa yang jadi bahan kajian utama ulama’ ushul fiqh adalah syar’u man qablana yang bentuk ketiga, yakni hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadits nabi, dijelaskan berlaku untuk umat sebelum nabi Muhammad, namun secara jelas tidak dinyatakan berlaku untuk kita, juga tidak ada penjelasan bahwa hukum tersebut telah dinasakh. Tidak adanya kejelasan tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan para ahli ushul al-fiqh, apakah hal tersebut diberlakukan juga untuk umat Islam atau tidak mengingat ketentuan itu terdapat di dalam Alqur’an yang nota bene merupakan kitab suci umat Islam.

Dalam menanggapi berlakunya syari’at umat sebelum kita ini ada beberapa hal yang disepakati para ulama’. Pertama; hukum-hukum syara’ yang ditetapkan bagi umat sebelum kita tidaklah ada tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam, karena di kalangan umat Islam nilai suatu hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam. Kedua; Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syari’ah Islamiyah, otomatis hukum tersebut tidak berlaku bagi kita. Demikian pula hukum-hukum yang tidak dikhususkan untuk suatu umat tertentu, tidak berlaku bagi umat Islam seperti keharaman beberapa makanan/daging bagi bani Israil. Ketiga; Segala yang ditetapkan dengan nash, nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan oleh agama-agama samawi yang telah lalu, tetap berlaku bagi umat Islam, karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu.

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai apakah syari’at sebelum kita ini menjadi dalil dalam menetapkan hukum bagi umat nabi Muhammad. Pendapat mereka adalah sebagai berikut:

  1. Jumhur ulama’ Hanafiyah dan Hanabilah dan sebagian Syafi’iyah dan mahkiyah ulama’ Asy’ariyah dan Mu’tazilah berpendapat bahwa hukum-hukum syara’ sebelum kita dalam bentuk ketiga tersebut tidak berlaku untuk kita (umat nabi Muhammad) selama tidak dijelaskan pemberlakuannya untuk umat nabi Muhammad. Alasannya adalah bahwa syari’at sebelum kita itu berlaku secara khusus untuk umat ketika itu dan tidak berlaku secara umum. Lain halnya dengan syariat yang dibawa oleh nabi Muhammad sebagai rasul terakhir yang berlaku secara umum dan menasakh syari’at sebelumnya.
  2. Sebagian sahabat Abu Hanifah, sebagian ulama’ Malikiyah, sebagian sahabat Iman Syafi’i dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat mengatakan bahwa hukum-hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau Sunnah nabi meskipun tidak diarahkan untuk umat nabi Muhammad, selama tidak ada penjelasannya, maka berlaku pula untuk umat nabi Muhammad. Dari sini, muncul kaidah:

شرع من قبلنا شرع لنا

“Syari’at untuk umat sebelum kita berlaku untuk syari’at kita”.

Alasan yang mereka kemukakan adalah beberapa petunjuk dari ayat          Al-Qur’an yang diantaranya:

Berdasarkan pendapat ini, orang muslim yang membunuh kafir dzimmi (yang dalam perlindungan) dikenai qishash sebagaimana orang kafir dzimmi membunuh orang Islam. Sedangkan kalangan ulama’ Syafi’iyah yang tidak memberlakukan syari’at umat Yahudi itu untuk umat Islam memahami ayat tersebut bahwa tidak perlu ada keseimbangan dalam pelaksanaan qishash antara muslim dan non muslim sebagaimana yang diberlakukan terhadap orang Yahudi. Oleh karena itu, bila orang muslim membunuh kafir dzimmi, maka diberlakukan hukum qishash, tetapi bila kafir dzimmi yang membunuh orang Islam, maka diberlakukan hukum qishash.

Sebenarnya perbedaan pendapat ulama’ dalam soal qishash itu tidak semata disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam hal pemberlakuan syari’at sebelum kita tersebut, tetapi ada beberapa faktor (pertimbangan) lainnya. Meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat, namun yang berpendapat bahwa syari’at sebelum kita itu dapat menjadi syari’at bagi kita (umat nabi Muhammad) adalah bukan karena ia adalah syari’at sebelum kita, tetapi karena ia terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah nabi yang harus dijadikan pedoman. Dengan demikian, kedudukannya sebagai salah satu sumber hukum Islam  tidaklah berdiri sendiri.

E.     Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian dan penjelasan dalam pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah yang telah diajukan sebagai berikut:

  1. Pada intinya Syar ‘u man Qablana ialah syari ‘at yang diturunkan Allah kepada umat sebelum kita, yaitu ajaran agama sebelum datangnya ajaran agama Islam, seperti ajaran agama Nabi Musa, Isa, Ibrahim, dan lain-lain.
  2. Pembagian syar’u man qablana ada tiga bagian, yaitu:
    • Hukum-hukum dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi disyari’atkan untuk umat sebelumnya dan dinyatakan pula untuk selanjutnya.
    • Syari’at terdahulu yang terdapat dalam Al-Qur’an atau penjelasan nabi yang disyari’atkan untuk umat sebelum nabi Muhammad dan dijelaskan pula dalam Al-Qur’an atau hadits nabi bahwa yang demikian telah dinasakh dan tidak berlaku lagi bagi umat nabi Muhammad saw.
    • Hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadits nabi, dijelaskan berlaku untuk umat sebelum nabi Muhammad, namun secara jelas tidak dinyatakan berlaku untuk kita, juga tidak ada penjelasan bahwa hukum tersebut telah dinasakh.
    • Perbedaan pendapat tentang penggunaan syari’at sebelum kita ini menjadi dalil dalam menetapkan hukum bagi umat nabi Muhammad, hal ini kaitannya dengan syar’u man qablana yang bentuk ketiga. Ketentuan syar’u man qablana yang ditulis kembali dalam Al-Qur’an tetapi tidak ditemukan ayat lain yang memberlakukan atau membatalkannya. Terhadap permasalahan ini, terjadi perbedaan pandangan, ada yang memandang hal tersebut sebagai syari’at Islam ada pula yang memandang sebaliknya.

Sekian

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: