MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG STRATEGI DAN TAHAPAN PEMBELAJARAN


MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG STRATEGI

DAN TAHAPAN PEMBELAJARAN

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Konsep Strategi Pembelajaran

Strategi hampir sama dengan kata taktik, siasat atau politik. Strategi sebagai istilah banyak digunakan orang. Dalam artian umum, strategi adalah suatu penataan potensi dan sumber daya agar dapat efisien memperoleh hasil suatu rancangan. Siasat merupakan pemanfaatan optimal situasi dan kondisi untuk menjangkau sasaran. Dalam militer strategi digunakan untuk memenangkan suatu peperangan, sedangkan taktik digunakan untuk memenangkan pertempuran.

Dalam konteks pengajaran, menurut Sabri, strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar, agar tujuan pembelajaran yang dirumuskan dapat tercapai dan berhasil guna. Strategi belajar mengajar berarti bagaimana menata potensi (subyek didik, pendidik) dan sumber daya (sarana, biaya, prasarana) agar suatu program dapat dimanfaatkan secara optimal, atau suatu mata pelajaran/mata kuliah dapat mencapai tujuannya. Sedangkan menurut Djamarah dan Zain, strategi pengajaran adalah pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi bukanlah langkah sembarangan, melainkan langkah yang telah dipilih dan dipertimbangkan dampak positif dan negatifnya secara cermat dan matang. Dalam bahasa Abuddin Nata, strategi adalah langkah cerdas. Jadi yang dinamakan strategi pengajaran adalah langkah-langkah yang terencana dan bermakna luas dan mendalam serta berdampak jauh ke depan dalam menggerakkan seseorang dengan kemampuan dan kemauan sendiri dapat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan belajar.

Komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam menetapkan strategi pengajaran antara lain:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku dan kepribadian peserta didik sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
  2. Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
  3. Memilih prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan dalam kegiatan pembelajaran.
  4. Penetapan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan pembelajaran.

Dalam implementasinya tiga komponen tersebut meliputi perencanaan pengajaran, pelaksanaan pengajaran dan evaluasi pengajaran. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai kriteria yang sesuai dengan paradigma baru pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and learning to life together. Dalam kajian ini, penulis akan berusaha membahasnya satu per satu walaupun tidak begitu mendetail.

  1. Perencanaan Pembelajaran

Agar kegiatan belajar dan pembelajaran terarah dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, guru harus merencanakan kegiatan belajar dan pembelajaran yang akan diselenggarakan dengan seksama. Perencanaan pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka.

Secara administratif rencana ini dituangkan ke dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Secara sederhana RPP ini dapat diumpamakan sebagai sebuah skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru dalam interval waktu yang telah ditentukan. RPP ini akan dijadikan pegangan guru dalam menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakannya bagi siswa.

Dalam pengembangan KTSP, rencana pelaksanaan pembelajaran harus disusun secara sistemik dan sistematis, utuh dan menyeluruh. RPP atau rencana pelaksanaan pembelajaran secara praktis dapat disebut sebagai skenario pembelajaran. Dengan demikian RPP merupakan pegangan bagi guru untuk menyiapkan, menyelenggarakan dan mengevaluasi hasil kegiatan belajar dan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali  pertemuan atau lebih.

  1. Pelaksanaan Pembelajaran

Setelah segala sesuatunya disiapkan, dengan berpegang kepada RPP guru akan menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran. Dalam kegiatan ini pertanyaan yang harus diajukan oleh guru kepada dirinya sendiri adalah bukan hanya apa materi yang harus dipelajari oleh siswa, tetapi juga bagaimana cara yang terbaik siswa mempelajari materi tersebut. Terkait dengan pertanyaan terakhirlah guru diharapkan kehadirannya dalam kelas. Sangat tepat jika prinsip kepemimpinan  seperti dikutip oleh Ginting dari Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan nasional Indonesia, diterapkan oleh guru dalam mengelola kelasnya dengan memainkan tiga peranan utama, yaitu:

  1. Tutwuri Handayani, memberikan dorongan kepada siswa untuk terus berupaya memahami materi yang diajarkan.
  2. Ing Madyo Mangun Karso, menjadi mitra atau teman diskusi bagi siswa untuk memperkaya.
  3. Ing Ngarso Sung Tuludo, memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa ketika menghadapi kesulitan.

Dengan berpegang kepada prinsip ini maka akan tercipta suasana belajar dan pembelajaran yang kondusif bagi terciptanya hasil belajar yang yang sesuai dengan pola dan cita-cita siswa serta kurikulum. Dengan demikian upaya pendidikan untuk menjadikan siswa sebagai manusia seutuhnya akan tercapai melalui kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru.

Pelaksanaan pembelajaran ini meliputi penggunaan bahan, metode, media/alat, dan sumber pembelajaran sebagai implementasi dari pelaksanaan pembelajaran. Adapun perinciannya sebagai berikut:

Pertama, bahan pembelajaran. Bahan adalah “substansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif. Tanpa bahan pelajaran proses interaksi edukatif tidak akan berjalan.” Karena itu, guru yang akan mengajar pasti mempelajari dan mempersiapkan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada anak didik.

Bahan atau materi merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajaran yang “dikonsumsi” oleh peserta didik. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Maka hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Fathurrahman dan Sutikno, bahwa “bahan ajar yang diterima anak didik harus mampu merespon setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan.”

Bahan pelajaran adalah “isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Melalui bahan pelajaran ini siswa diantarkan kepada tujuan pengajaran.” Dengan perkataan lain tujuan yang akan dicapai siswa diwarnai dan dibentuk oleh bahan pelajaran atau bidang studi yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakannya.

Kedua; metode pengajaran.

Ketiga, media pengajaran (alat bantu). Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan, media tidak hanya sebagai pelengkap tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan. Media pembelajaran adalah segala alat yang dapat menunjang efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah sarana belajar atau sarana pembelajaran. Fungsi media pembelajaran adalah untuk mempermudah penyampaian pesan dari sumber belajar kepada anak didik.

Syaiful Bahri Djamarah mengutip pendapat Sudirman N, mengenai prinsip-prinsip pemilihan media (alat bantu) pengajaran ke dalam tiga kategori, yakni:

  1. Tujuan Pemilihan; memilih media (alat bantu) yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas.
  2. Karakteristik Media Pembelajaran; setiap media (alat bantu) pengajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya.
  3. Alternatif Pilihan; bisa menentukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang diperbandingkan. Tapi apabila hanya ada satu media pengajaran maka gunakanlah apa adanya.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih alat bantu, diantaranya: objektifitas, program pengajaran, sasaran program, situasi dan kondisi, kualitas teknik, keefektifan dan efisiensi penggunaan.

Keempat, sumber pembelajaran. Sumber belajar adalah bahan-bahan apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk membantu guru maupun siswa dalam upaya mencapai tujuan. Dengan kata lain, sumber belajar adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa buku teks, media cetak, media pembelajaran elektronik, nara sumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagainya.

Sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran bisa didapatkan. Sumber belajar dipilih berdasarkan pada kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi dasar. Sumber-sumber belajar dalam satu silabus sebaiknya bervariasi agar memberikan pengalaman yang luas kepada siswa.

Keaktifan belajar tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sumber belajar yang digunakan. Setiap bentuk bahan belajar menuntut digunakannya sumber belajar tertentu yang cocok untuk menunjang keefektifan belajar. Sumber belajar ini termasuk ke dalam lingkungan belajar, yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses belajar.

Sumber belajar itu dapat berfungsi teoritis dan praktis. Secara teoritis sumber belajar dapat dimanfaatkan untuk:

  1. Perencanaan, sehingga dapat diperoleh bahan sajian yang berdaya guna dan tepat guna yang dapat dipakai sebagai sumber belajar;
  2. Penelitian, dengan maksud untuk menguji pengetahuan yang berhubungan dengan sumber belajar siswa kegiatan belajar mengajar yang kegiatannya meliputi juga pembahasan sumber pustaka, pemilihan informasi yang dapat diterapkan.

Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat  membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru. Dengan demikian, sumber belajar diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.

  1. Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Evaluasi pengajaran adalah penilaian/penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum. Evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran belajar dan pembelajaran.

Keberhasilan proses pembelajaran dapat dilihat dari prestasi belajar yang dicapai siswa. Kriteria keberhasilan guru dan siswa dalam melaksanakan program pembelajaran dilihat dari kompetensi dasar yang dimiliki oleh siswa. Evaluasi akan memberikan informasi tingkat pencapaian belajar siswa.

Berdasarkan pengertian di atas, tujuan evaluasi pembelajaran antara lain adalah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler/pembelajaran. Jadi tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk melihat hasil belajar peserta didik.

Secara garis besar dalam proses belajar, evaluasi memiliki fungsi pokok sebagai berikut:

  1. Untuk mengukur kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar mengajar selama jangka waktu tertentu.
  2. Untuk mengukur sampai di mana keberhasilan sistem pengajaran yang digunakan.
  3. Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka melakukan perbaikan proses belajar mengajar.
  4. Untuk keperluan bimbingan dan konseling.

Fungsi kegiatan evaluasi hasil belajar adalah:

  1. Untuk diagnostik dan pengembangan.
  2. Untuk seleksi.
  3. Untuk kenaikan kelas.
  4. Untuk penempatan, agar siswa dapat berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang mereka miliki.

Pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat instrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis, dan tes lisan. Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi dalam mengadakan kegiatan evaluasi dalam proses pendidikan adalah: 1) Kesahihan (validitas), 2) Keterandalan, 3) Kepraktisan.

Pelaksanaan evaluasi mempunyai manfaat sangat besar. Manfaat ini dapat ditinjau dari pelaksanaannya. Adapun jenis evaluasi serta manfaatnya adalah sebagai berikut:

  1. Evaluasi Formatif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan setiap kali selesai dipelajari suatu unit pelajaran tertentu. Manfaatnya sebagai alat penilai proses pembelajaran suatu unit materi pembelajaran tertentu.
  2. Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir pembelajaran suatu program atau sejumlah unit pelajaran tertentu. Evaluasi ini mempunyai manfaat untuk menilai hasil pencapaian siswa terhadap tujuan suatu program pelajaran dalam suatu periode tertentu, seperti semester atau akhir tahun pelajaran.
  3. Evaluasi Diagnostik, yaitu evaluasi yang dilaksanakan sebagai sarana diagnosis. Evaluasi ini bermanfaat untuk meneliti atau mencari sebab kegagalan pembelajaran atau di mana letak kelemahan siswa dalam mempelajari suatu atau sejumlah unit pelajaran tertentu.
  4. Evaluasi Penempatan, yaitu evaluasi yang dilaksanakan untuk menempatkan siswa dalam suatu program pendidikan atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan (baik potensial maupun lokal) dan minatnya. Evaluasi ini bermanfaat dalam rangka proses penentuan jurusan sekolah.

Evaluasi sebagai alat penilai hasil pencapaian tujuan dalam pembelajaran, evaluasi harus dilakukan secara terus-menerus. Evaluasi itu lebih dari hanya sekedar untuk menentukan angka keberhasilan belajar, yang paling penting adalah sebagai dasar untuk umpan balik (feedback) dari proses pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena itu, kemampuan guru menyusun alat dan melaksanakan evaluasi merupakan bagian dari kemampuan menyelenggarakan proses pembelajaran secara keseluruhan.

Menurut Hamzah Uno, strategi pembelajaran itu ada tiga variabel, yaitu: strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran dan strategi pengelolaan pembelajaran.

  1. Strategi pengorganisasian pembelajaran; strategi ini lebih lanjut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu strategi mikro dan strategi makro. Strategi mikro mengacu kepada metode untuk pengorganisasian isi pembelajaran yang berkisar satu konsep atau prosedur atau prinsip. Strategi makro mengacu kepada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur atau prinsip.
  2. Strategi penyampaian pembelajaran; merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Sekurang-kurangnya ada 2 fungsi dari strategi ini, yaitu (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada si belajar, dan (2) menyediakan informasi atau bahan-bahan yang diperlukan siswa untuk menampilkan unjuk kerja.
  3. Strategi pengelolaan pembelajaran; merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara si belajar dengan variabel metode lainnya.

Aqib, sebagaimana dikutip Riyanto, mengelompokkan jenis strategi pembelajaran berdasarkan pertimbangan tertentu, yaitu:

  1. Atas dasar pertimbangan proses pengelolaan pesan.
    1. Strategi deduktif. Materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang umum ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian. Bagian-bagian itu dapat berupa sifat, atribut atau ciri-ciri.
    2. Strategi induktif. Dengan strategi induktif, materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari khusus ke yang umum, generalisasi atau umum.
  2. Atas dasar pertimbangan pihak pengelola pesan.
    1. Strategi ekspositorik. Dengan strategi ekspositorik, guru yang mencari dan mengolah bahan pelajaran yang kemudian menyampaikannya kepada peserta didik. Strategi ekspositorik dapat digunakan dalam mengajarkan berbagai materi pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah.
    2. Strategi heuristis. Dengan strategi heuristis, bahan atau materi pelajaran diolah oleh peserta didik. Peserta didik yang aktif mencari dan mengolah bahan atau materi pelajaran. Guru sebagai fasilitator untuk memberikan dorongan, arahann dan bimbingan.
  3. Atas dasar pertimbangan pengaturan guru.
    1. Strategi seorang guru. Seorang guru mengajar kepada sejumlah peserta didik.
    2. Strategi pengajaran beregu (team teaching). Dengan pengajaran beregu dua orang atau lebih guru mengajar sejumlah siswa.

Pengajaran beregu dapat digunakan dalam mengajarkan salah satu mata pelajaran atau sejumlah mata pelajaran yang terpusat kepada suatu topik tertentu.

  1. Atas dasar pertimbangan jumlah siswa.
    1. Strategi klasikal
    2. Strategi kelompok kecil
    3. Strategi individu
  2. Atas dasar pertimbangan interaksi guru dengan siswa.
    1. Strategi tatap muka
    2. Strategi pengajaran melalui media. Guru tidak langsung kontak dengan siswa, tetapi melalui media. Siswa berinteraksi dengan media.

Pada dasarnya setiap buku mengemukakan strategi dengan bahasa yang berbeda-beda, namun hakekatnya tetap satu, yaitu langkah yang direncanakan secara sistematis dalam melakukan pengajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.

B.     Konsep Tahapan Pembelajaran

Tahapan adalah berasal dari kata tahap yang mendapat akhiran an, berarti tingkatan, jenjang. Jadi yang dimaksud dengan tahapan pembelajaran yaitu jenjang dalam melakukan pembelajaran yang harus dilalui oleh seorang guru, yang meliputi tahapan pemula (pra instruksional), tahapan pembelajaran (instruksional), dan tahapan penilaian dan tindak lanjut.

  1. Tahapan pra instruksional

Tahap pra instruksional adalah tahapan yang ditempuh guru pada saat ia memulai proses pembelajaran. Beberapa kegiatan yang dilakukan guru pada tahapan ini adalah:

  1. Guru menanyakan kehadiran siswa dan mencatat siapa yang tidak hadir, tidak perlu diabsensi satu per satu, cukup ditanyakan yang tidak hadir saja, dengan alasannya.
  2. Bertanya kepada siswa, sampai dimana pembahasan pelajaran sebelumnya.
  3. Mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya.
  4. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya dari pengajaran yang telah dilaksanakan sebelumnya.
  5. Mengulang kembali bahan yang lalu secara singkat tapi mencakup semua aspek bahan yang telah dibahas sebelumnya.

Tujuan tahapan ini, pada hakekatnya adalah mengungkapkan kembali tanggapan siswa terhadap bahan yang telah diterimanya dan menumbuhkan kondisi belajar dalam hubungannya dengan pelajaran hari ini.

  1. Tahapan instruksional

Tahap ini merupakan tahapan yang inti. Secara umum tahapan ini dapat diidentifikasi dengan beberapa kegiatan sebagai berikut:

  1. Menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa.
  2. Menuliskan pokok materi yang akan dibahas hari itu.
  3. Membahas pokok materi yang telah dituliskan tadi.
  4. Pada setiap pokok materi yang dibahas hendaknya diberikan contoh-contoh konkret.
  5. Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasa setiap pokok materi sangat diperlukan.
  6. Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi.

Hal yang harus diperhatikan dalam tahapan instruksional adalah sebaiknya titik tekan kegiatan adalah siswa, sehingga metode dan lain sebagainya dipilih yang menekankan pada keaktifan siswa.

  1. Tahapan evaluasi dan tindak lanjut

Tahapan ketiga dari tahapan pengajaran yaitu tahapan evaluasi dan tindak lanjut. Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan kedua. Kegiatan yang dilakukan antara lain:

  1. Mengajukan pertanyaan kepada kelas, atau kepada beberapa siswa mengenai semua pokok materi yang telah dibahas pada tahapan kedua.
  2. Apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa kurang dari 70%, maka guru harus mengulang kembali materi yang belum dikuasai oleh siswa.
  3. Untuk memperkaya pengetahuan siswa, materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas atau pekerjaan rumah yang ada hubungannya dengan topik atau pokok materi yang telah dibahas.
  4. Akhiri pelajaran dengan menjelaskan atau memberitahukan pokok materi yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.

Demikian tahapan pembelajaran yang penulis kemukakan. Pada prinsipnya tahapan pembelajaran tersebut merupakan langkah konkrit penerapan strategi pembelajaran atau dalam bahasa RPP dinyatakan dengan kegiatan pembelajaran.

Sekian

Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: