MENGENAL PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN


MENGENAL PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

A.     Konsep Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran adalah melihat pembelajaran sebagai proses belajar siswa yang sedang berkembang untuk mencapai perkembangannya. Pendekatan adalah suatu rangkaian tindakan yang terpola/terorganisir  berdasarkan prinsip tertentu (filosofis, psikhologis, didaktis, ekologis) yang terarah secara sistematis pada tujuan yang hendak dicapai. Pendekatan pembelajaran adalah jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai kompetensi tertentu. Jadi yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran adalah langkah yang ditempuh yang berdasarkan prinsip tertentu yang terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Atau dapat dikatakan pendekatan adalah titik tolak penggunaan model pembelajaran, metode dan strategi pembelajaran.

Pada kesempatan ini penulis akan menguraikan sedikit tentang beberapa pendekatan pembelajaran dan secara tuntas mengenai pendekatan CTL atau Contexstual Teaching Learning.

Pendekatan individual

Perbedaan individual anak didik memberikan wawasan bahwa guru harus memperhatikan perbedaan individual dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dengan memakai pendekatan ini, sebagaimana diuraikan Djamarah dan Zain, “dapat diharapkan kepada anak didik dengan tingkat penguasaan yang optimal”. Pendekatan individual mempunyai arti penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan ini, karena kesulitan belajar anak lebih mudah dicari solusinya dengan menggunakan pendekatan ini.

Pendekatan kelompok

Dalam kegiatan pembelajaran terkadang guru juga menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok diperlukan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Sebagaimana diungkapkan oleh Djamarah dan Zain, “dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri anak didik.” Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois mereka, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di dalam kelas. Dan pada akhirnya mereka sadar bahwa tidak ada makhluk yang hidup sendiri, karena semua makhluk hidup dengan saling ketergantungan.

Pendekatan bervariasi

Dalam pembelajaran, biasanya juga diwarnai berbagai masalah yang ditimbulkan oleh anak didik. Maka hal ini menuntut kreativitas guru untuk mengelola kelas dan menggunakan pendekatan yang tidak hanya satu. Guru yang menggunakan pendekatan bervariasi ini cenderung mampu untuk membuat kelas menjadi kondusif dan pembelajaran menjadi efektif. Pendekatan bervariasi ini sebagaimana diungkapkan Djamarah dan Zain, “bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam.” Maka guru juga harus mampu menggunakan pendekatan dengan berbagai macam masalah yang dihadapinya

Contexstual Teaching Learning atau pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ked alam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri.

Pembelajaran kontekstual marupakan suatu konsepsi yang membantu mengaitkan Konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi membantu hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka. Menurut The Wasington, sebagaimana yang dikutip Yasin, pengajaran kontekstual adalah pengajaran memungkinkan siswa memperkuat, memperluas dan menerapkan pengetahuan  dan ketrampilan akademisnya dalam berbagai latar sekolah dan di luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada di luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata.

Dari beberapa pendapat itu diambil kesimpulan pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep belajar guru untuk memotivasi dan membantu siswa agar mampu mengaitkan antara pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh dengan dunia nyata di mana mereka berada. Dimana guru menghadirkan dunia nyata tersebut ke dalam ruang kelas mereka. Hal itu dapat dilakukan apabila guru tanggap dan mengenal betul dengan lingkungan serta menguasai materi pelajaran.

The Nort West Regional Education Labolatory USA mengemukakan ada enam karakteristik pembelajaran konstektual sebagai berikut:

  1. Pembelajaran Bermakna : pemahaman, relevasi dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasa terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran. Jika mereka merasa berkepentingan umum belajar demi masa yang akan datang.
  2. Penerapan Pengetahuan: kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan fungsi di masa sekarang atau dimasa yang akan datang.
  3. Berfikir Tingkat Tinggi : siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berfikir kreatif dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
  4. Kurikulum yang dilambangkan berdasar standar. Isi pembelajaran harus dikaitkan dengan standar lokal (provinsi), nasional, perkembangan pengetahuan dan teknologi.
  5. Responsife terhadap budaya: guru harus memahami dan menghargai nilai kepercayaan, dan kebiasaan siswa, teman, pendidik dan masyarakat dimana dia mendapat pendidikan. Setidaknya guru juga harus memperhatikan empat hal dalam pembelajaran kontekstual yaitu : individu siswa, kelompok siswa baik tim akan keseluruhan kelas tatanan sekolah, dan besar tatanan komunitas kelas.
  6. Penilaian autentik: penggunaan berbagai  misalnya penilaian tugas terstruktur, kegiatan siswa, penggunaan portofolio dan sebagainya akan merepleksikan hasil besar sesungguhnya

Dalam penerapan pembelajaran kontekstual di dalam kelas terdapat tujuh komponen dasar, diantaranya adalah :

Kontruktivisme

Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong.

Siswa harus membiasakan diri untuk memecahkan masalah dan dapat menemukan ide-idenya yang berguna bagi dirinya sendiri. Sedangkan esensi dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi ke situasi yang lain.

Landasan berpikir kontruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan kontruktivis, “strategi memperoleh” lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.

Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:

  1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
  2. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.

c.Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Pandangan Kontruktivis

Kontruktivis digagas oleh Glanbatita Vico Searan, seorang epistemolog dari Italia pada tahun 1710. Vica dalam De Antuquissima Italorium Saplentia mengungkapkan filsafatnya dengan kata “Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Dia menjelaskan bahwa mengetahui berarti mengetahui bagaimana membuat sesuatu, ini berarti bahwa seseorang itu baru mengetahui sesuatu jika ia mampu menjelaskan unsure-unsur apa yang membangun sesuatu itu.

Model kontruktivis memiliki masa depan yang menjanjikan dalam pendidikan sains dan pendidikan ilmu sosial, metode ini merupakan perkembangan dari teori kognitif peaget, fokus pendekatan kontruktivis adalah pemahaman.

Menurut paham kontruktivis manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi arti pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Dalam pandangan kontruktivis pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman, pemahaman tubuh dan berkembang apabila selalu diuji dengan pengalaman baru.

Kontruktivis merupakan landasan pembelajaran kontekstual dimana siswa mampu mengkontruksikan sendiri pemahamannya dan dengan kontruktivis siswa belajar dengan lebih barmakna karena siswa mengalaminya sendiri.

Menemukan (Inkuiri)

Inkuiri merupakan inti dari pembelajaran kontekstual, seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang merupakan hasil dari penememuannya sendiri. Guru harus mendesain kegiatan yang akan dilakukan siswa. Sehingga siswa mampu menemukan sendiri pengetahuan dan ketampilan apapun materi yang akan diajarkan oleh guru.

Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu :

  1. Merumuskan masalah
  2. Mengajukan hipotesis
  3. Mengumpulkan data
  4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan.
  5. Membuat kesimpulan
  6. Bertanya

Bertanya adalah strategi utama dalam pembelajaran kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran juga dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa, sedang untuk siswa kegiatan bertanya berguna untuk informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perharian pada aspek yang belum diketahui.

Dalam suatu pembelajaran, bertanya berguna untuk :

  1. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran.
  2. Untuk mengecek pemahaman siswa.
  3. Memecahkan persoalan yang dihadapi.
  4. Membangkitkan respon pada siswa.
  5. Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
  6. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Menurut Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak banyak didapat dari komunikasi orang lain. Dengan demikian kerja sama saling memberi dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Sehingga CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam kelompok belajar secara formal maupun nonformal.

Sehingga penerapan asas masyarakat belajar dapat dikelompokkan dengan pembelajaran melalui kelompok belajar yang anggotanya bersifat heterogen, baik dari kemampuan dan kecepatan belajarnya. Dengan begitu guru dapat mengundang orang-orang yang dianggap memiliki keahian khusus untuk pembelajaran siswa.

Pemodelan (Modeling)

Modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, melainkan guru juga dapat memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.

Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, karena melalui proses modeling ini siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.

Refleksi (reflevtion)

Proses dimana siswa dapat menampung, mengingat suatu pengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengurutkan kembali peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses ini pengalaman belajara itu akan menjadi nilai kognitif siswa yang pada akhirnya menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya dan siswa juga dapat memperbaharui pengetahuan yang telah dibentuk serta siswa dapat menambah pengetahuannya.

Dalam proses pembelajaran ini, peran guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenungkan atau mengingat kembali pengetahuan apa yang telah siswa pelajari dan membiarkan siswa menafsirkan gagasannya sendiri serta dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.

Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment)

Penilaian sebenarnya adalah suatu proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan siswa yang melibatkan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki dalam dunia atau kehidupan nyata. Karena assesment menekankan proses pembelajaran. Maka data yang dikumpulkan harus diperolah dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Data yang dapat diambil yaitu dari kegiatan belajar siswa, baik itu kegiatan didalam maupun diluar kelas. Inilah yang disebut dengan data autentik.

Demikianlah keterangan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL). Uraian lebih lanjut dapat dibaca dalam buku penulis baik buku belajar dan pembelajaran maupun psikologi pendidikan Islam.

B.     Konsep Metode Pembelajaran

Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Metode adalah suatu cara kerja yang sistematik dan umum, yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. Makin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaiannya. Tetapi tidak ada satu metode pun yang dikatakan paling baik/dipergunakan bagi semua macam usaha pencapaian tujuan. Baik tidaknya, tepat tidaknya suatu metode dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor utama yang menentukan metode adalah tujuan yang akan dicapai.

Metode mengajar ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Metode, cara atau teknik pengajaran merupakan komponen proses belajar mengajar yang banyak menentukan keberhasilan pengajaran. Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh  guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok.

Secara umum metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu, sedangkan secara khusus, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai “cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri pembelajar.”

Guru harus dapat memilih, mengkombinasikan, serta memprak-tekkan berbagai cara penyampaian bahan sesuai dengan situasi. Keberhasilan dalam melaksanakan suatu pengajaran sebagian besar ditentukan oleh pilihan bahan dan pemakaian metode yang tepat. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru guna kepentingan pembelajaran. Dalam melaksanakan tugas, guru sangat jarang menggunakan satu metode, tetapi selalu memakai lebih dari satu metode. Karena karakteristik metode yang memiliki kelebihan dan kelemahan menuntut guru untuk menggunakan metode yang bervariasi.

Ketepatan (efektifitas) penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode pembelajaran dengan beberapa faktor, yakni:

  1. Kesesuaian metode pembelajaran dengan tujuan pembelajaran;
  2. Kesesuaian metode pembelajaran dengan materi pembelajaran;
  3. Kesesuaian metode pembelajaran dengan kemampuan guru;
  4. Kesesuaian metode pembelajaran dengan kondisi siswa;
  5. Kesesuaian metode pembelajaran dengan sumber dan fasilitas tersedia;
  6. Kesesuaian metode pembelajaran dengan situasi kondisi belajar mengajar;
  7. Kesesuaian metode pembelajaran dengan tempat belajar.

Metode pembelajaran yang digunakan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai bimbingan agar siswa belajar. Metode pembelajaran pada umumnya ditujukan untuk membimbing belajar dan memungkinkan setiap individu siswa dapat belajar sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Metode pembelajaran menekankan pada proses belajar siswa secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar. Guru seharusnya memikirkan bagaimana cara (metode) yang membuat siswa dapat belajar secara optimal. Dalam arti sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Belajar secara optimal dapat dicapai jika siswa aktif di bawah bimbingan guru yang aktif pula.

Secara umum metode pengajaran dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Metode pengajaran individual
  2. Metode pengajaran kelompok.

Dalam  memilih dan menganalisis metode pembelajaran, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Keadaan murid yang mencakup pertimbangan tentang tingkat kecerdasan, kematangan, perbedaan individu lainnya.
  2. Tujuan yang hendak dicapai, jika tujuannya pembinaan daerah kognitif maka metode driil kurang tepat digunakan.
  3. Situasi yang mencakup hal yang umum seperti situasi kelas, situasi lingkungan. Bila jumlah murid begitu besar, maka metode diskusi agak sulit digunakan apalagi bila ruangan yang tersedia kecil. Metode ceramah harus mempertimbangkan antara lain jangkauan suara guru.
  4. Alat-alat yang tersedia akan mempengaruhi pemilihan metode yang akan digunakan. Bila metode eksperimen yang akan dipakai, maka alat-alat untuk eksperimen harus tersedia, dipertimbangkan juga jumlah dan mutu alat itu.
  1. Kemampuan pengajar tentu menentukan, mencakup kemampuan fisik, keahlian. Metode ceramah memerlukan kekuatan guru secara fisik. Guru yang mudah payah, kurang kuat berceramah dalam waktu yang lama. Dalam hal ini ia sebaiknya menggunakan metode yang lain yang tidak memerlukan tenaga yang banyak. Metode diskusi menuntut keahlian guru yang agak tinggi, karena informasi yang diperlukan dalam metode diskusi kadang-kadang lebih banyak daripada sekedar bahan yang diajarkan.
  2. Sifat bahan pengajaran. Ini hampir sama dengan jenis tujuan yang dicapai seperti pada poin 2 di atas. Ada bahan pelajaran yang lebih baik disampaikan lewat metode ceramah, ada yang lebih baik dengan metode driil, dan sebagainya. Demikianlah beberapa pertimbangan dalam menentukan metode yang akan digunakan dalam proses interaksi belajar mengajar.

Di samping itu masih banyak redaksi-redaksi lain yang menawarkan hal yang hampir sama, akan tetapi terdapat sedikit perbedaan yang akan penulis ungkap di sini.

Metode apapun yang digunakan oleh pendidik atau guru dalam proses pembelajaran, yang perlu diperhatikan adalah akomodasi menyeluruh terhadap prinsip-prinsip KBM.

  1. Pertama, berpusat kepada anak didik. Guru harus memandang anak didik sebagai sesuatu yang unik, tidak ada dua orang anak didik yang sama, sekalipun mereka kembar.
  2. Kedua, belajar dengan melakukan. Supaya proses belajar itu menyenangkan, guru harus memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga ia memperoleh pengalaman nyata.
  3. Ketiga, mengembangkan kemampuan sosial. Proses pembelajaran dan pendidikan selain sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan, juga sebagai sarana untuk berinteraksi sosial.
  4. Keempat, mengembangkan keingintahuan dan imajinasi. Proses pembelajaran dan pendidikan harus dapat memancing rasa ingin tahu anak didik.
  5. Kelima, mengembangkan kreatifitas dan ketrampilan memecahkan masalah. Proses pembelajaran dan pendidikan yang dilakukan oleh guru bagaimana merangsang kreativitas dan imanjinasi anak untuk menemukan jawaban setiap masalah yang dihadapi anak didik.

Syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh guru dalam penggunaan metode pembelajaran, sebagaimana dikemukakan oleh Sabri, adalah sebagai berikut:

  1. Metode yang digunakan harus dapat membangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa;
  2. Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut;
  3. Metode yang digunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya;
  4. Metode yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa;
  5. Metode yang digunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi;
  6. Metode yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Macam-macam metode itu sesungguhnya tidak terbatas banyaknya. Banyak para tokoh yang menyebutkan metode pengajaran. Berikut penulis sebutkan dari beberapa tokoh dengan metode-metodenya, antara lain:

  1. Ahmad Rohani, menyebutkan diantaranya: Metode Ceramah / Presentasi / Kuliah Mimbar, Metode Diskusi, Metode Tanya Jawab, ,Metode Resitasi / Penugasan, Metode Drill / Latihan Siap, Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik), Metode Problem Solving, Metode Experiment, Metode Demonstrasi, Metode Karyawisata, Metode Dynamic Group / Kerja Kelompok, Metode Proyek, Metode Simulasi / Role Playing, Metode Insersi, Metode Team Teaching.
  2. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, menyebutkan diantaranya: Metode Proyek, Metode Eksperimen, Metode Tugas dan Resitasi, Metode Diskusi, Metode Sosiodrama, Metode Demonstrasi, Metode Problem Solving, Metode Karyawisata, Metode Tanya Jawab, Metode Latihan, Metode Ceramah.
  3. Suwarna, dkk. membagi menjadi dua, yaitu: Metode mengajar secara individual, yaitu: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode drill, metode demonstrasi / peragaan, metode pemberian tugas, metode simulasi, metode pemecahan masalah, metode bermain peran, metode karyawisata, dan Metode mengajar secara kelompok, yaitu: metode seminar, metode simposium, metode forum, metode panel.
  4. Ahmad Sabri, menyebutkan diantaranya: Metode Ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Tugas Belajar dan Resitasi, Metode Kerja Kelompok, Metode Demonstrasi dan Eksperimen, Metode Sosiodrama dan Bermain Peran, Metode Problem Solving, Metode Sistem Regu (Team Teaching), Metode Latihan (Drill), Metode Karyawisata.
  5. Slameto, menyebutkan diantaranya: Metode Ceramah, Metode Diskusi Kelompok, Metode Panel, Metode Panel – Forum, Metode Kelompok Studi Kecil (Buzz Group), Metode Role Play, Metode Cash – Study, Metode Brainstorming, Metode Team Pengajar, Metode Debat, Metode Diskusi Formal, Metode Simposium, Metode Simposium – Forum, Metode Demonstrasi, Metode Tanya Jawab, Metode Perkunjungan Studi (Studi Lapangan), Metode Pemberian Tugas dan Resitasi, Metode Praktek, Metode Inkuiri.
  6. Nana Sudjana, menyebutkan diantaranya: Metode Ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Tugas Belajar dan Resitasi, Metode Kerja Kelompok, Metode Demonstrasi dan Eksperimen, Metode Sosiodrama (Role – Playing), Metode Problem Solving, Metode Sistem Regu (Team Teaching), Metode Latihan (Drill), Metode Karyawisata (Field – Trip), Metode Resource Person (Manusia Sumber), Metode Survei masyarakat, Metode Simulasi.
  7. Abdorrakhman Gintings, menyebutkan diantaranya: Metode Ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Peragaan atau Demonstrasi, Metode Bermain Peran, Metode Pembelajaran Praktek, Metode Kunjungan Lapangan, Metode Proyek, Metode Tutorial, Metode Andragogi.
  8. R. Ibrahim dan Nana Syaodih S., menyebutkan diantaranya: Metode mengajar yang biasa digunakan dalam pengajaran ekspositori, yaitu: Metode Ceramah, Metode Demonstrasi, dan Mengajar dengan mengaktifkan siswa, yaitu: Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Pengamatan dan Percobaan, Metode Mengajar Kelompok, Metode Latihan, Metode Pemecahan Masalah,  Metode Pemberian Tugas.
  9. Sumiati dan Asra, memberikan gambaran minimal untuk pegangan guru melaksanakan proses pembelajaran, diantaranya: Metode Ceramah, Metode Simulasi, Metode Demonstrasi, Metode Inquiry dan Discovery, Metode Latihan dan Praktek.
  10. Martinis Yamin memberikan gambaran metode pengajaran antara lain: metode ceramah, metode demonstrasi dan eksperimen, metode tanya jawab, metode penampilan, metode diskusi, metode studi mandiri, metode pembelajaran terprogram, metode latihan bersama teman, metode simulasi, metode pemecahan masalah, metode studi kasus, metode insiden, metode praktikum, metode proyek, metode bermain peran, metode seminar, metode simposium, metode tutorial, metode deduktif, metode induktif, dan metode CAL.

Selain para cendekiawan dan ilmuwan modern, ulama klasik juga mengemukakan mengenai metode pembelajaran. Abuddin Nata mengemukakan, bahwa al-Ghazali “mencontohkan sebuah metode keteladanan bagi mental-mental anak, pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat keutamaan pada diri mereka”. Dalam hal ini al-Ghazali menekankan pentingnya bimbingan dan pembiasaan. Maka anak dilatih dengan pembiasaan melakukan sesuatu yang terpuji dan diberi bimbingan agar mereka tidak salah dalam bertindak. Dalam rumusan yang lebih komplit, Armai Arief mengemukakan;

Al-Ghazali mengemukakan beberapa metode alternatif, antara lain:

  1. Mujahadah dan Riyadlah Nafsiyah (kekuatan dan latihan jiwa). Yaitu mendidik anak dengan mengulangi pengalaman. Hal ini akan meninggalkan kesan yang baik dalam jiwa anak didik dan benar-benar akan menekuninya sehingga terbentuk akhlak dan watak dalam dirinya.
  2. Mendidik anak hendaknya menggunakan beberapa metode. Penggunaan metode yang bervariasi akan membangkitkan motivasi belajar dan menghilangkan kebosanan.
  3. Pendidik hendaknya memberikan dorongan dan hukuman. Memberikan dorongan berupa pujian, penghargaan dan hadiah kepada anak yang berprestasi. Sedangkan memberikan hukuman hendaknya bersifat mendidik dengan maksud memperbaiki perbuatan yang salah agar tidak menjadi kebiasaan. Pemberian hukuman jasmani disyaratkan bila anak telah mencapai usia 10 tahun, dan kalaupun harus melakukan hukuman jasmani hendaknya pukulan tidak melebihi dari 3 kali, hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siterdidik.

Dari berbagai metode pendidikan yang dikemukakan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam mendidik anak, al-Ghazali menggunakan metode yang memperhatikan perkembangan anak dan terpusat pada anak, yang dalam bahasa Munardji “metode yang berprinsip pada “Child Centered” yakni mementingkan anak didik dari pendidik sendiri”.

Maka dari itu, setiap pendidik harus menguasai berbagai metode yang digunakan untuk mendidik anak didik baik secara informal maupun formal dan juga mengetahui perkembangan anak didik. Tanpa mengetahui hal itu, maka pendidikan tidak akan dapat dijalankan dengan baik. Hal tersebut dikarenakan seorang pendidik tidak mengetahui apa yang dibutuhkan dan apa yang terjadi pada anak didik saat itu.

Metode pembelajaran menurut al-Zarnuji dimulai dengan metode hafalan sebagaimana yang dikemukakan Noer Farida Laila:

Al-Zarnuji yang menekankan pada pengembangan mental dan peningkatan kemampuan memori belajar, menganjurkan agar aktivitas belajar dimulai dengan menghafalkan materi sebanyak yang bisa dilakukan pelajar, kemudian mengulanginya hingga dua kali. Kuantitas hafalan sedikit demi sedikit mulai ditingkatkan hingga akhirnya sang pelajar terbiasa menghafalkan materi-materi yang panjang. Al-Zarnuji tampaknya menyadari bahwa hafalan yang panjang itu memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu ia sangat menekankan adanya pemahaman dalam proses penghafalan.

Bahkan al-Zarnuji melarang seorang siswa atau pelajar menulis tentang apa yang belum dipahaminya apabila seorang siswa masih berada dalam masa-masa melakukan hafalan. Karena hal itu akan memudarkan daya hafalnya dan akan membuatnya bingung karena sesuatu yang ditulisnya tadi. Ia akan berusaha mencari jawaban atas kebingungannya tersebut, padahal ia sendiri belum mampu untuk menemukan jawaban tersebut. Dari pernyataan di atas tadi dapat disimpulkan bahwa Al-Zarnuji pada mulanya menekankan pada penggunaan metode hafalan untuk anak yang masih permulaan dalam belajar. Hal ini sebenarnya sesuai dengan teori psikologi modern, bahwa anak yang masih kecil dan belum dewasa itu, ingatannya masih kuat.

Sedangkan untuk memperdalam pemahaman pelajar, al-Zarnuji sebagaimana diutarakan oleh Noer Farida Laila, “menganjurkan para pelajar untuk banyak melakukan diskusi dan tanya jawab diantara mereka; suatu aktivitas yang menuntut kemampuan berargumen.” Dari sini tampak bahwa pada mulanya al-Zarnuji menekankan pada proses hafalan yang merupakan aspek terendah dalam ranah kognitif, kemudian dilanjutkan pada pengembangan pemahaman dengan menggunakan metode diskusi dan tanya jawab. Hal itu menyatakan bahwa al-Zarnuji lebih menekankan pada kualitas pembelajaran daripada kuantitas pembelajaran.

Sementara itu, Ibn Khaldun menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang benar.  Disamping metode yang sudah disebut di atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode demonstrasi, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik.

Penggunaan metode pembelajaran yang harus memperhatikan beberapa hal, sebagaimana yang disebutkan di atas, sesuai dengan hadits Nabi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْعَاصِ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعُثْمَانَ حَدَّثَاهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ اسْتَأْذَنَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ عَلَى فِرَاشِهِ لَابِسٌ مِرْطَ عَائِشَةَ فَأَذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ وَهُوَ كَذَلِكَ فَقَضَى إِلَيْهِ حَاجَتَهُ ثُمَّ انْصَرَفَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَقَضَى إِلَيْهِ حَاجَتَهُ ثُمَّ انْصَرَفَ قَالَ عُثْمَانُ ثُمَّ اسْتَأْذَنْتُ عَلَيْهِ فَجَلَسَ وَقَالَ لِعَائِشَةَ اجْمَعِي عَلَيْكِ ثِيَابَكِ فَقَضَيْتُ إِلَيْهِ حَاجَتِي ثُمَّ انْصَرَفْتُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَالِي لَمْ أَرَكَ فَزِعْتَ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَمَا فَزِعْتَ لِعُثْمَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عُثْمَانَ رَجُلٌ حَيِيٌّ وَإِنِّي خَشِيتُ إِنْ أَذِنْتُ لَهُ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ أَنْ لَا يَبْلُغَ إِلَيَّ فِي حَاجَتِهِ وحَدَّثَنَاه عَمْرٌو النَّاقِدُ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ كُلُّهُمْ عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْعَاصِ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ وَعَائِشَةَ حَدَّثَاهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ اسْتَأْذَنَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيثِ عُقَيْلٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ

Artinya: Sesungguhnya Abu Bakar meminta izin kepada Rasulullah ketika dia sedang tidur miring di tempat tidurnya kemudian Nabi memberinya izin sedangkan beliau dalam keadaan begini dan AbuBakar menyampaikan kebutuhannya dan pergi, kemudian Umar minta izin dan Nabi memberinya izin sedangkan beliau dalam keadaan begini dan Umar menyampaikan kebutuhannya dan pergi, kemudian Utsman berkata: saya minta izin kepada Nabi maka Nabi duduk, kemudian berkata kepada Aisyah, sempurnakanlah bajumu, kemudian aku menyampaikan kebutuhanku lalu pergi, Aisyah berkata kepada Nabi: Apa yang terjadi? Aku tidak melihatmu kaget ketika Abu Bakar dan Umar datang seperti ketika datangnya Utsman. Nabi bersabda: sesungguhnya Utsman itu laki-laki yang pemalu dan aku takut kalau aku memberinya izin ketika dalam keadaan begini, ia tidak mau menyampaikan kebutuhannya kepadaku.

Dalam hadits yang penulis sajikan di atas dapat dipahami bahwa Nabi berbeda dalam memberikan tanggapan dan cara atau metode terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman. Hal itu memberikan kepahaman bahwa seorang guru atau pendidik dalam mendidik harus memilih metode yang tepat untuk menyampaikan bahan pembelajaran. Islam sendiri melalui ajaran Nabi tersebut mengajarkan pemilihan strategi, model dan metode yang tepat untuk menyampaikan informasi kepada peserta didik. Metode mempunyai kedudukan yang lebih penting daripada materi atau bahan pembelajaran. Hal ini sebagaimana ungkapan Arab, yang pernah disampaikan A. Malik Fadjar, al-Tharîqah Ahammu min al-Mâddah (Metode lebih penting daripada materi). Maka dari itu, seorang pendidik harus selektif dalam memilih metode supaya pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.

Sekian

Terima Kasih

Semoga Bermanfaat

2 responses

  1. boleh minta daftar pustaka nya gak ? buat referensi skripsi. terimaksih sebelumnya

    1. Bagi yang minta daftar pustaka, bisa dirumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: