PEMBAHASAN SEPUTAR JINAYAH


PEMBAHASAN SEPUTAR JINAYAH

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

Jinayah adalah perbuatan yang diharamkan atau dilarang karena dapat menimbulkan kerugian atau kerusakan agama, jiwa, akal atau harta benda. Kata jinayah berasal dari kata janayajni yang berarti akhaza (mengambil) atau sering pula diartikan kejahatan, pidana atau kriminal.

  1. A.      Macam-Macam Jinayah dan Hukum Bagi Pelakunya
    1. Pembunuhan

Pembunuhan adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang, apa pun bentuknya, apabila suatu tindakan tersebut dapat menghilangkan nyawa, maka ia dikatakan membunuh.
Pembunuhan terbagi tiga: pembunuhan dengan sengaja, pembunuhan yang mirip dengan sengaja, dan ketiga pembunuhan karena keliru.

  1. Pembunuhan yang disengaja

Yang dimaksud pembunuhan dengan sengaja ialah seseorang yang secara sengaja (dan terencana) membunuh orang yang terlindungi darahnya (tak bersalah). Adapun untuk pembunuhan yang disengaja dan terencana, maka pihak wali dari terbunuh diberi dua alternatif, yaitu menuntut hukum qishash, atau memaafkan dengan mendapat imbalan diat.

  1. Pembunuhan yang seperti disengaja

Adapun yang dimaksud syibhul ’amdi (pembunuhan yang mirip dengan sengaja) ialah seseorang bermaksud tidak memukulnya, yang secara kebiasaan tidak dimaksudkan hendak membunuhnya, namun ternyata oknum yang jadi korban meninggal dunia. Kejadiannya bisa juga seperti ini, ketika seseorang memukul orang lain tidak dengan benda yang mematikan dan tidak pula mengenai organ tubuh yang vital dan sensitif seperti otak, jantung, dan lain-lain, dan orang tersebut meninggal dunia. Hal seperti itulah yang dikatakan sebagai pembunuhan yang seperti disengaja.

Dalam hal ini tiada wajib qisas (balas bunuh) bagi si pembunuh, tetapi diwajibkan ke atas keluarga pembunuh untuk membayar diyat mughallazah (denda yang berat) dengan secara beransur-ansur selama tiga tahun kepada keluarga korban.

  1. Pembunuhan yang tidak di sengaja

Sedangkan yang dimaksud pembunuh yang tidak disengaja ialah seseorang yang melakukan perbuatan menghilangkan nyawa seseorang tanpa disengaja. Ketika seseorang melakukan hal yang mubah baginya, seperti memanah binatang buruan atau semisalnya, ternyata anak panahnya nyasar mengenai orang hingga meninggal dunia.

Bagi si pembunuh tidak dikenakan qisas (balas bunuh) tetapi dia dikenakan diyat mukhafafah (denda yang ringan). Diyat itu dibayar oleh adik-beradik pembunuh dan bayarannya boleh ditangguhkan selama tiga tahun.

  1. Pencurian

Pencurian adalah mengambil sesuatu milik orang lain secara diam-diam dan rahasia dari tempat penyimpannya yang terjaga dan rapi dengan maksud untuk dimiliki. Pengambilan harta milik orang lain secara terang-terangan tidak termasuk pencurian tetapi Muharobah (perampokan) yang hukumannya lebih berat dari pencurian. Dan pengambilan harta orang lain tanpa bermaksud memiliki itupun tidak termasuk pencurian tetapi Ghosab (memanfaatkan milik orang lain tanpa izin).

Pelaku pencurian diancam hukuman potong tangan dan akan diazab di akherat apabila mati sebelum bertaubat dengan tujuan agar harta terpelihara dari tangan para penjahat, karena dengan hukuman seperti itu pencuri akan jera dan memberikan pelajaran kepada orang lain yang akan melakukan pencurian karena beratnya sanksi hukum sebagai tindakan defensif (pencegahan).

Hukuman potong tangan dijatuhkan kepada pencuri oleh hakim setelah terbukti bersalah, baik melalui pengakuan, saksi dan alat bukti serta barang yang dicurinya bernilai ekonomis, bisa dikonsumsi dan mencapai nishab, yaitu lebih kurang 93 gram emas.

  1. Perzinahan

Zina adalah melakukan hubungan seksual di luar ikatan perkawinan yang sah, baik dilakukan secara sukarela maupun paksaan. Sanksi hukum bagi yang melakukan perzinahan adalah dirajam (dilempari dengan batu sampai mati) bagi pezina mukhshan; yaitu perzinahan yang dilakukan oleh orang yang telah melakukan hubungan seksual dalam ikatan perkawinan yang sah. Atau dicambuk 100 kali bagi pezina ghoer mukhshan; yaitu perzinahan yang dilakukan oleh orang yang belum pernah melakukan hubungan seksual dalam ikatan perkawinan yang sah.

Sanksi hukum tersebut baru dapat dijatuhkan apabila sudah terbukti melakukan perzinahan baik dengan pengakuan, 4 orang saksi atau alat bukti.
Perzinahan diharamkan oleh Islam karena: 1) Menghancurkan garis keturunan dan putusnya hak waris. 2) Mengakibatkan kehamilan sehingga anak yang terlahir tersia-sia dari pemeliharaan, pengurusan dan pembinaan pendidikannya. 3) Merupakan salah satu bentuk dari perilaku binatang yang akan menghancurkan kemanusiaan. 4) Menimbulkan penyakit yang berbahaya dan menular.

  1. Qadzaf

Qadzaf adalah menuduh orang lain melakukan perzinahan. Sanksi hukumnya adalah dicambuk 80 kali. Sanksi ini bisa dijatuhkan apabila tuduhan itu dialamatkan kepada orang Islam, baligh, berakal, dan orang yang senantiasa menjaga diri dari perbuatan dosa besar terutama dosa yang dituduhkan. Namun ia akan terbebas dari sanksi tersebut apabila dapat mengemukakan 4 orang saksi dan atau bukti yang jelas. Suami yang menuduh isterinya berzina juga dapat terbebas dari sanksi tersebut apabila dapat mengemukakan saksi dan bukti atau meli’an isterinya yang berakibat putusnya hubungan perkawinan sampai hari kiamat.

  1. Muharobah

Muharobah adalah aksi bersenjata dari seseorang atau sekelompok orang untuk menciptakan kekacauan, menumpahkan darah, merampas harta, merusak harta benda, ladang pertanian dan peternakan serta menentang aturan perundang-undangan. Latar belakang aksi ini bisa bermotif ekonomi yang berbentuk perampokan, penodongan baik di dalam maupun diluar rumah atau bermotif politik yang berbentuk perlawanan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan melakukan gerakan yang mengacaukan ketentraman dan ketertiban umum.

Sanksi hukum pelaku muharobah adalah :

  1. Dipotong tangan dan kakinya secara bersilang apabila ia atau mereka hanya mengambil atau merusak harta benda.
  2. Dibunuh atau disalib apabila dalam aksinya itu ia membunuh orang.
  3. Dipenjara atau dibuang dari tempat tinggalnya apabila dalam aksinya hanya melakukan kekacauan saja tanpa mengambil atau merusak harta-benda dan tanpa membunuh.
  4. B.       Hukum Qisas

Sebagai mana telah dijelaskan bahwa kemakmuran dunia ini erat kaitannya dengan keberadaan manusia. Dunia semakin terasa sunyi, sepi apabila hanya sedikit manusia yang menempati, dunia akan terhenti kegiatannya bila tiada menusia. Oleh karena itu, Allah mensyari’atkan hukuman bagi yang mencoba berbuat sesuatu yang membahayakan kehidupan manusia dan jiwanya. Hukuman itu bisa berupa hukuman qisas, yaitu kesamaan akibat yang ditimpahkan kepada pelaku tindak pidana yang melakukan pembunuhan atau penganiayaan terhadap korban. Dia dibunuh kalau membunuh, dipukul kalau memukul. Hukuman ini dimaksudkan untuk menegakkan keadilan di tengah-tengah mnusia dengan menerapkan hukuman setimpal dengan perbuatannya.

Sebab menurut syar’i seorang pembunuh apabila tidak dikenai hukuman setimpal, akan menyebabkan tersulutnya api dendam dalam jiwa keluarga yang terbunuh. Selanjutnya akan terjadi balas dendam beruntun yang dapat menambah banyak permusuhan lagi. Hal ini harus dihentikan dengan penerapan hukum qisas, inilah hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan hukum qisas yang telah ditegaskan dalam nash Al-Qur’an.

Syarat-syarat wajib qisas (hukum bunuh)

  1. Orang yang membunuh itu sudah baligh dan berakal.
  2. Yang membunuh bukan bapak dari yang dibunuh.
  3. Orang yang dibunuh tidak kurang derajatnya dari yang membunuh. Yang dimaksud dengan derajat di sini adalah agama dan merdeka atau tidaknya, begitu juga anak dengan bapak. Oleh karenanya, bagi orang Islam yang membunuh orang kafir tidak berlaku qisas; begitu juga orang merdeka, tidak dibunuh sebab membunuh hamba, dan bapak tidak dibunuh sebab membunuh anaknya.
  4. Yang terbunuh itu adalah orang yang terpelihara darahnya, dengan Islam atau perjanjian.
  5. C.      Hudud

Hudud adalah bentuk jama’ dari kata had yang asal artinya sesuatu yang membatasi di antara dua benda. Menurut bahasa, kata had berarti al-man’u (cegahan). Adapun menurut syar’i, hudud adalah hukuman-hukuman kejahatan yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk mencegah dari terjerumusnya seseorang kepada kejahatan yang sama.

Sebenarnya Allah SWT telah menetapkan hukuman di akhirat bagi pelaku dosa dan kejahatan, namun hal itu tidak membuat jera mansia untuk berbuat sesuatu yang membahayakan masyarakat secara umum (Public Interest) dalam kehidupan dunia ini. Di samping itu ada sebagian orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang membuat arang lain teraniaya (mazlum), kemudian tidak berani menuntut haknya. Ini berarti menyia-nyiakan banyak hak akibatnya akan merusak kehidupan ini.

Untuk inilah Allah SWT. menetapkan hukuman had yang tujuannya untuk melindungi keselamatan dan kesejahteraan umat manusia ditiap waktu, tempat, sehingga kejahatan bisa terhenti. Dan perbuatan yang merusak tidak mungkin memperbaikinya kecuali harus dengan menerapkan sanksi hukuman, baik qisas maupun had.

Perlu diketahui bahwa yang berhak menetapkan dan melaksanakan hukuman adalah pihak penguasa (Imam) atau orang yang ditunjuk diberi wewenang untuk itu. Hal ini dimaksudkan agar tidak banyak menimbulkan fitnah yang panjang akibatnya.

  1. D.      Ta’zir

Ta’zir yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “mendera dengan pukulan” diartikan oleh para pakar hukum pidana Islam dengan “bentuk hukuman yang tidak disebutkan kadar ketentuan hukumnya oleh syara’ dan menjadi kekuasaan waliyal amri atau hakim”. Maksud dari hukuman ta’zir sebagai pemberi aib dan celaan yang menjadi bagian dari sanksi hukum yang bersifat mendidik. Bentuk dan ukurannya bisa bermacam-macam seperti penjara, deraan dengan pukulan cemeti dan sejenisnya, yang tidak tercantum dalam hukum qisas maupun had.

Ta’zir ini pada zaman dulu digunakan para majikan untuk menghukum hamba sahayanya, dengan maksud mendidik dan memperbaiki kelakuannya, sedang penyebabnya bisa bermacam-macam dan bisa terjadi setiap saat dalam kehidupan sehari-hari.

Sekian tulisan mengenai pembahasan jinayah, lain kali akan penulis bahas satu persatu mengenai babnya jinayah.

Sekian

Terima Kasih

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: