SEKILAS INFO MENGENAI JENAZAH DALAM PERSPEKTIF FIQIH


SEKILAS INFO MENGENAI JENAZAH DALAM PERSPEKTIF FIQIH

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

A.      Latar Belakang

Agama Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi martabat manusia. Pada waktu lahir di dunia disambut dengan Adzan pada telinga kanannya dan Iqamah pada telinga kirinya. Apabila ia telah dewasa hubungan kelaminnya tidak boleh begitu saja melainkan harus melalui peraturan yang sudah diatur oleh agama Islam secara rapi (nikah). Dan bila mati (wafat) maka jenazahnya harus diurus dengan sebaik-baiknya, tidak boleh dikuburkan begitu saja.

Manusia yang dilahirkan pada akhirnya pasti juga akan mengalami apa yang dinamakan dengan kematian, dan kita harus siap menghadapinya. Kematian datang sewaktu-waktu, kapanpun dan dimanapun kita berada. Bagi umat Islam, ada kewajiban yang harus dilakukan terhadap orang yang sudah mati (wafat), kewajiban mengurus jenazah sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan.

B.      Menjenguk Orang Sakit

Sebagai manusia kita semua pasti pernah mengalami sakit. Sebagai orang yang beriman kita harus bisa menerimanya dan menganggap bahwa itu datang dari Allah sebagai ujian bagi kita. Sebenarnya kalau kita sakit itu tersimpan suatu hikmah yang bisa kita ambil, diantaranya: memberi kesadaran dan keinsyafan kepada kita bahwa kita ini lemah dan tidak mempunyai kuasa dan kekuatan untuk menyembuhkannya melainkan Allah. Allah ingin menguji sejauh mana kesabaran kita menghadapi ujian/cobaan. Allah ingin mengampunkan dosa kita yang kita telah lakukan secara sadar ataupun tidak. Oleh karena itu, kita hendaklah sabar atas ujian/cobaan yang telah diberikan kepada Allah berupa sakit tadi.

Dan bagi yang sehat diwajibkan untuk menjenguknya. Rasulullah SAW. pernah bersabda: “Hak seorang Islam atas orang Islam lain ada lima: 1. Menjawab salam, 2. Menjenguk orang sakit, 3. Mengantar jenazah,4. Memenuhi Undangan, dan 5. Mendo’akan orang bersin.”

Menjenguk orang sakit pada permulaan masa sakitnya itu adalah Fardlu dan kemudian sunat, tidak lebih dari 3 hari. Kita menjenguk orang sakit bertujuan antara lain, menghibur dan mendo’akan lekas sembuh dan sehat kembali. Juga memberikan nasehat yang menguatkan iman apabila si sakit keberatan atas cobaan tersebut.

Kepada orang yang sakit parah atau dalam arti sudah mendekati ajal, penjenguk berkewajiban:

  1. Menghadapkan ke kiblat. Sabda Rasulullah SAW.: Dari Abu Qatadah, bahwa Nabi SAW. ketika sampai di Madinah menanyakan seseorang yang bernama Albara bin Ma’run. Jawab yang hadir, “Ia sudah meninggal dan mewasiatkan sepertiga hartanya kepada engkau dan mewasiatkan pula supaya dihadapkan ke kiblat apabila ia sakit parah.” Jawab Rasulullah, “Betul pendapatnya.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi)
  2. Mengajarkan membaca kalimat tauhid: Laa ilaaha illallah “Tiada Tuhan selain Allah.” Sabda Rasulullah: Dari Abu Hurairah, berkata Rasulullah SAW., “Kepada orang yang sakit parah, ajarlah olehmu membaca kalimat Laa ilaha illallah.” (HR. Muslim)
  3. Bacalah surat Yasin. Sabda Rasulullah SAW.: Dari Ma’qal bin Yasar, berkata Rasulullah SAW. “Bacakanlah olehmu kepada orang yang sakit parah surat Yasin.” (HR. Abu Dawud dan Nasai)

C.      Mengurus Jenazah

Apabila si sakit telah menghembuskan nafas terakhir atau meninggal dunia:

  1. Pejamkan matanya dan mintakan ampun atas segala dosanya. Sabda Rasulullah SAW.: Dari Sadda bin Aus, berkata Rasulullah SAW., “Apabila kamu menghadapi orang mati, maka tutupkanlah matanya, karena sesungguhnya mata itu mengikuti roh. Dan ucapkanlah yang baik (mendo’akan), maka sesungguhnya ia (si mayat) dipercayai menurut apa yang diucapkan oleh ahlinya,” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
  2. Tutuplah seluruh badannya dengan kain sebagai penghormatan kepadanya dan agar tidak kelihatan auratnya. Diriwayatkan: Dari Aisyah, “Sesungguhnya Rasulullah SAW. Ketika beliau wafat ditutup dengan kain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  3. Bagi keluarga, sahabat-sahabatnya yang sangat menyayangi dan sangat berduka cita atas kematiannya tidak dilarang mencium (si mayit). Sabda Rasulullah SAW.: Dari Aisyah: “Rasulullah SAW. telah mencium Usman bin Mazh’un ketika ia telah mati, sehingga air mata tampak mengalir di muka beliau,” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  4. Ahli mayat segeralah melunasi hutang si mayat jika ada, baik dibayar dari harta yang ditinggalkan atau dari pertolongan keluarga. Sabda Rasulullah: Dari Abu Hurairah, telah berkata Rasulullah SAW., “Diri orang mukmin itu, tergantung (tak sampai kehadirat Tuhan) karena utangnya, hingga dibayar dahulu utangnya itu (oleh keluarganya).” (HR. Ahmad dan Turmudzi)

D.      Kewajiban Atas Jenazah

Mengurus jenazah orang Islam hukumnya fardhu kifayah, artinya apabila ada sebagian orang yang telah melaksanakannya, yang lain berarti telah gugur dari kewajiban. Tetapi bila semua orang meninggalkannya, maka semuanya bertanggung jawab dan mendapat dosa. Kewajiban umat Islam terhadap jenazah Islam lainnya ialah:

a.       Memandikan jenazahnya.

b.       Mengkafankan jenazahnya.

c.       Menshalatkan/menyembahyangkan jenazahnya.

d.      Mengebumikan/menguburkan jenazahnya.

Memandikan Jenazah

Syarat wajib mandi ini jika si mayat Islam, didapati tubuhnya dan bukan mati syahid. Jika mati syahid, yaitu mati karena berperang membela agama Allah SWT. tidak wajib dimandikan kecuali dalam keadaan berhadas besar. Semua ulama mazhab sepakat bahwa keguguran yang tidak sampai empat bulan dalam kandungan ibunya, tidak wajib dimandikan.

Sedangkan untuk anak yang keguguran (miskram) yang sampai umur enam bulan dalam kandungan banyak perbedaan pendapat dikalangan ulama. Hambalidan Imamiyah: Wajib dimandikan. Hanafi: Kalau ketika keguguran itu anggota tubuhnya sempurna, maka ia wajib dimandikan. Maliki: Bayi yang keguguran itu tidak wajib dimandikan kecuali kalau hidup, yakni jika menurut para ahli bahwa sebenarnya dapat hidup terus.

Syafi’i: Kalau bayi yang gugur itu lahir setelah berumur enam bulan dalam kandungan, ia wajib dimandikan, dan kalau belum sampai enam bulan tapi anggota tubuhnya sudah sempurna, ia juga wajib dimandikan, begitu juga kalau anggota badannya tidak sempurna dan diketahui hidup, lalu meninggal, maka ia wajib dimandikan, sedangkan kalau tidak sempurna dan dan tidak hidup, maka tidak wajib dimandikan.

Memandikan jenazah seharusnya dilakukan oleh keluarga terdekat. Yang dimaksud keluarga terdekat ialah muhrim dan termasuk suami istri sendiri. Seandainya keluarga terdekat tidak ada yang bisa memandikannya, bisa diserahkan kepada seseorang yang dipercaya, sehingga dapat merahasiakan aib yang mungkin ada pada mayat.

Jika mayat itu laki-laki yang memandikan laki-laki, jika mayat itu perempuan yang memandikan juga perempuan.

Tata cara memandikan mayat sebagai berikut:

  1. Di tempat yang tertutup, agar hanya orang-orang yang memandikan dan mengurusnya saja yang melihat.
  2. Mayat diletakkan di tempat yang lebih tinggi seperti dipan.
  3. Dipakaikan kain basahan seperti sarung agar auratnya tidak terbuka.
  4. Mayat didudukkan dan disandarkan pada sesuatu, lantas disapu perutnya sambil ditekan pelan agar keluar semua kotorannya, lantas dicebokkan dengan tangan kiri memakai sarung tangan. Dalam hal ini boleh memakai wangi-wangian agar tidak terganggu bau kotoran.
  5. Setelah itu hendaklah mengganti sarung tangan untuk membersihkan mulut dan gigi-giginya.
  6. Membersihkan semua kotoran dan najis.
  7. Mewudhukan, setelah itu membasuh seluruh badannya.
  8. Disunatkan membasuh tiga sampai lima kali.

Dari sebagian ulama (Imamiyah) ada yang berpendapat bahwa mayat itu wajib dimandikan tiga kali. Pertama, airnya sedikit dan dicampur dengan daun bidara. Kedua, airnya dicampur dengan kapur. Dan ketiga, dimandikan dengan air bersih. Dan orang yang memandikan wajib memulainya dalam memandikannya dari kepala, kemudian tubuh bagian kenan, lalu ke tubuh bagian kiri. Sedangkan air yang digunakan sebaiknya dingin (Syafi’i, Hambali dan Maliki), Kalau Hanafi lebih utama air panas.

Kalau tidak dapat dapat dimandikan karena ada udzur maka boleh ditayammumkan sebagai pengganti mandi. Caranya sama dengan tayammum sebagai pengganti wudhu.

Mengkafankan Jenazah

Waktu mayat dimandikan sebagian yang lain hendaklah menyiapkan kafannya. Kain kafan dibeli dengan uang mayit sendiri, apabila tidak ada, maka orang yang selama ini menghidupinya yang membelikan kain kafan. Bila tidak mampu, maka bisa mengambil dari Baitul Maal (kas Negara) untuk membeli kain kafannya, jika tidak ada maka semua orang Islam yang mampu, bertanggung jawab untuk biaya kafannya.

Kain kafan paling tidak satu lapis. Sebaiknya tiga lapis bagi jenazah laki-laki dan lima lapis bagi jenazah perempuan. Masing-masing, satu diantaranya merupakan kain basahan. Kafan itu kita siapkan terbuka dan diberi minyak harum dan lain-lain haruman yang disediakan. Setelah jenazah di tempat kafan tadi, maka ditelentangkan di atas kain kafannya kemudian dipasangkan baju, sarung dan mukenanya (jenazah perempuan).

Setelah ditelentangkan maka kain penutupnya dari tempat mandi tadi diangkat kemudian kita pasang kapas pada tiap-tiap rongga atau ruas jarinya. Tangan kita rapatkan seperti sedang shalat, badannya kita bujurkan dengan sebaik-baiknya. Setelah selesai pemasangan kapas, maka kita mulai menggulung kain kafan bagian dalam sekali, digulung dari kepala sampai kaki, itu baru satu lapis. Setelah itu lapis yang kedua seperti itu pula, dan begitu seterusnya sampai lapis terakhir. Setelah selesai maka kita ikat pada bagian kaki, pinggang, siku dan puncak kepalanya, kemudian diselimuti dengan kain lain yang suci.

 Menshalatkan Jenazah

1).   Shalat Jenazah.

Syarat-syarat shalat jenazah:

a.  Jenazah sudah dimandikan dan dikafani.

b.  Letak jenazah sebelah kiblat (di depan) yang menshalati. Kecuali bila shalat dila dilakukan di atas kuburan atau shalat ghaib.

c.  Seperti halnya shalat yang lain, yaitu harus suci dari hadas dan najis (baik badan, pakaian, tempat), menutup aurat dan menghadap kiblat.

Shalat jenazah tidak dengan ruku’ dan sujud, tidak dengan adzan dan iqamah dan terdiri dari empat takbir. Sedangkan tempatnya bisa di masjid, rumah atau yang lain yang memungkinkan untuk shalat berjamaah. Bagi jenazah laki-laki, Imam yang akan mendirikan shalat hendaklah berdiri searah dengan kepala jenazah, sedangkan jenazah perempuan, Imam hendaklah berdiri searah dengan lambung/pusar/bagian tengah jenazah itu.

Rukun dan cara shalat jenazah:

1.  Niat, sengaja mengerjakan shalat atas jenazah dengan empat takbir, menghadap kiblat , karena Allah.

2.  Setelah niat lalu takbiratul ikhram (takbir pertama), lantas membaca surat Al fatihah, setelah selesai lalu takbir yang kedua.

3.  Selesai takbir kedua lantas membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW.

4.  Kemudian takbir ketiga, lantas membaca do’a memohonkan ampun untuk jenazah.

5.  Kemudian takbir keempat, lantas membaca do’a lagi.

6.  Selanjutnya salam ke kanan dan ke kiri.

2).   Shalat Ghaib

Shalat ghaib ialah shalat jenazah yang dilakukan tanpa mayat di depannya, misalnya karena telah dikubur atau jauh tempat tinggalnya. Caranya sama dengan shalat jenazah.

Menguburkan Jenazah

Setelah jenazah selesai disembahyangkan, maka dibawa kekubur untuk dimakamkan. Pada waktu mengiringkan jenazah ke kuburnya, maka cara yang terbaik ialah:

  1. Jenazah di depan.
  2. Semua pengiringnya dibelakangnya tidak terlalu jauh.
  3. Boleh dibawa dengan kendaraan.
  4. Merasa insyaf atas kematian jenazahnya.

Setelah sampai kuburan hindarilah menginjak tanah badan kuburan manapun. Berjalanlah dicelah-celah kuburan kecuali jika terpaksa. Waktu yang terbaik untuk menguburkan jenazah ialah tidak pada waktu ketika matahari sedang terbit hingga telah naik, sedang tengah hari tepat dan ketika matahari akan terbenam.

Pada saat mau mengubur jenazah, jenazah diletakkan pada sebelah kiblat dari galian, kakinya lebih dulu diturunkan. Setelah dimasukkan semua ikatan pada jenazah dilepas/dibuka. Kemudian timbun dengan hati-hati. Kuburan itu sebaiknya di tanah. Tanah itu digali sekiranya tidak membahayakan orang hidup atau tidak dapat digali binatang buas. Orang Islam harus dikuburkan dipekuburan orang Islam dan tidak boleh orang non-Islam satu kuburan dengan orang Islam.

Larangan yang bersangkutan dengan kubur: Menembok kubur, duduk di atasnya, membuat rumah di atasnya, membikin tulisan-tulisan di atasnya, menjadikan pekuburan jadi masjid, dan lain-lain.

E.      Ta’ziyah (Melawat)

Ta’ziyah ialah mengunjungi dan menghibur orang yang sedang tertimpa musibah kematian salah seorang atau lebih dari sanak familinya. Ta’ziyah hukumnya sunat, waktunya sejak orang tersebut meninggal berlangsung sampai tiga hari setelah mayat dikubur. Tujuan ta’ziyah adalah untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan agar diringankan beban kesedihannya.

Adab (etika) orang berta’ziyah antara lain:

  1. Menyampaikan do’a semoga Allah mengagungkan pahalamu, membaguskan kesabaranmu dan memberi ampunan kepada mayatmu (orang yang meninggal).
  2. Hindarilah pembicaraan yang menambah sedih keluarga yang ditimpa musibah.
  3. Hindarilah canda tawa apalagi sampai terbahak-bahak.
  4. Usahakan turut menyalati mayat dan turut mengantarkan ke pemakaman sampai selesai penguburan.
  5. Membuatkan makanan bagi keluarga yang ditimpa musibah.

F.      Ziarah Kubur

Maksud utama berziarah kubur adalah mendo’akan mayat dalam kubur yang diziarahi. Pengertiannya, penziarah membaca do’a-do’a yang pahalanya dihadiahkan kepada si mayat penghuni kubur tersebut. Hal itu disunatkan bagi laki-laki dan dimakruhkan bagi perempuan, karena ditakutkan akan menjadi-kannya keluh kesah yang dapat membuat lupa akan kekuasan Allah SWT.

Manfaat ziarah kubur ini agar kita ingat pada kehidupan sesudah mati. Sabda Rasulullah SAW.: Dari Abu Hurairah, Rasulullah berkata, “Dulu saya melarang kamu berziarah ke kubur, sekarang Muhammad telah mendapat izin berziarah ke kubur ibunya, maka ziarahlah kamu, karena sesungguhnya ziarah itu mengingatkan pada akhirat.” (HR. Musliam, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Selain hadits di atas juga ada hadits dari riwayat Muslim, yang artinya: “Tadinya aku melarang kamu sekalian untuk ziarah kubur, tapi kini berziarahlah kamu sekalian.” (HR. Muslim). Seperti hadits sebelumnya, bahwa dulu Rasulullah melarang umatnya untuk ziarah kubur. Hal itu disebabkan pada zaman dulu, orang-orang yang berziarah banyak yang melakukan kemusyrikan (meminta sesuatu kepada mayat atau menyembahnya), meskipun sekarang juga masih ada yang melakukan hal tersebut.

Adab (etika) berziarah kubur, antara lain:

  1. Sesampai di pintu makam mengucapkan salam: ”Assalamu’alaikum yaa ahlalqubu-rifa inna insya Allahu bikum lahiquun.” (Keselamatan semoga tetap bagimu wahai ahli kubur dan Insya Allah kami akan bertemu dengan kamu semua).
  2. Sesampai di makam yang dituju hendaklah memberi salam khusus: “Assalamu’alaika… (sebut namanya).”
  3. Jangan berjalan melangkahi kuburan.
  4. Jangan duduk pada nisan makam.
  5. Bacalah surat Yasin atau tahlil atau do’a-do’a lainnya. Untuk itu sebelum berziarah hendaknya bersuci dulu.

G.      Kesimpulan

Kewajiban ummat Islam atas ummat Islam lainnya yang sudah meninggal dunia hukumnya fardhu kifayah, ada empat perkara, yaitu: (1). Memandikan jenazah, (2). Mengkafankan jenazah, (3). Menshalatkan jenazah, dan (4). Menguburkan jenazah.

Memandikan jenazah wajib jika si mayat Islam, didapati tubuhnya dan bukan mati syahid. Sebagian ulama ada yang berhujjah bahwa memandikan jenazah wajib tiga kali dan urutannya dimulai dari kepala, bagian kanan tubuh terus bagian kiri. Sebagian yang lain berhujjah tidak wajib tiga kali, tetapi sunat tiga kali, dan tidak ada urutan.

Setelah selesai memandikan lalu mengkafani jenazah, untuk jenazah laki-laki tiga lapis dan untuk jenazah perempuan lima lapis beserta mukenanya. Masing-masing dari kain tersebut, satu lapis merupakan kain basahan.

Setelah selesai mengkafani jenazah diteruskan menshalati jenazah. Shalat jenazah berbeda dengan shalat-shalat yang lain, shalat jenazah tanpa ruku’ dan sujud, dan terdiri dari empat takbir. Bagi jenazah laki-laki, Imam searah dengan kepala jenazah, sedangkan bagi jenazah perempuan posisi Imam searah pusar/ bagian tengah si mayat. Jika si mayit tidak ada didepannya, artinya telah dikubur ditempat yang jauh, namanya shalat ghaib.

Setelah selesai menshalati jenazah, lalu yang terakhir adalah menguburkan jenazah. Jenazah yang telah selesai dimandikan, dikafani dan dishalati lalu dibawa kekubur untuk dimakamkan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: