TEORI-TEORI TENTANG KEDATANGAN ISLAM


TEORI-TEORI TENTANG KEDATANGAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

 

Terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai 3 masalah pokok menyangkut kedatangan Islam di Nusantara, yaitu: tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya dan waktu kedatangannya. Hal ini terjadi tidak hanya karena kurangnya data, tetapi juga karena sifat sepihak dari berbagai teori yang ada. Adapun teori-teori tersebut sebagai berikut:

Teori India (Islam di Nusantara yang berasal dari Anak Benua India)

  • Pijnappel :   Islam di Nusantara berasal dari Gujarat dan Malabar, dengan alasan bahwa orang-orang Arab bermadzhab Syafi’i bermigrasi dan menetap di India kemudian membawa Islam ke Nusantara.
  • Snouck Hurgronje:   Islam di Nusantara berasal dari India selatan, ia tidak menyebutkan secara eksplisit dari wilayah mana. Para penduduknya (Muslim Deccan) sebagai pedagang perantara dalam perdagangan timur tengah dengan Nusantara. Mereka datang sebagai penyebar Islam pertama, baru disusul orang-orang Arab. Ia juga mengatakan bahwa abad ke-12 adalah permulaan penyebaran Islam di Nusantara.
  • Moquette:   Islam di Nusantara berasal dari Gujarat, dengan alasan bahwa batu nisan di Pasai, kawasan utara Sumatera, khususnya yang bertanggal 17 Dzulhijjah 831 H/27 September 1428 mirip dengan batu nisan lain yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur ternyata sama bentuknya dengan batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat.
  • Fatimi:   Ia menentang kesimpulan Moquette, Islam di Nusantara berasal dari Bengal, karena batu nisan yang ada di Pasai berbeda dengan yang ada di Gujarat, tetapi justru mirip dengan yang ada di Bengal. Tetapi teori ini mempunyai kelemahan yaitu berkenaan dengan madzhab yang dianut, di Bengal adalah Hanafi sedangkan di Indonesia adalah Syafi’i.
  • Winstedt:   Mendukung Moquette dengan alasan batu nisan yang ditemukan di Bruas, Pasai dan Gresik didatangkan dari Gujarat, maka Islam juga pastilah diimpor dari sana.
  • Schrieke:   Ia juga mendukung teori Moquette (teori Gujarat), bahwa signifikansi peran penting yang di-mainkan para pedagang Muslim Gujarat mempunyai andil besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara terbukti mempunyai kelemahan seperti yang dikatakan oleh Marrison, ia berpendapat bahwa meski batu nisan di tempat-tempat tertentu di Nusantara berasal dari Gujarat atau Bengal (teori Fatimi) bukan berarti Islam juga berasal dari sana. Ia mematahkan teori ini dengan menunjuk pada kenyataan bahwa pada masa Islamisasi Samudra-Pasai Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Marrison berpendapat bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujarat melainkan dibawa para penyebar Muslim dari Pantai Coromandel pada akhir abad ke-13.

Hal ini sama seperti yang telah dikemukakan oleh Arnold. Menurutnya Islam di Nusantara dibawa dari Coromandel dan Malabar, buktinya yaitu adanya persamaan madzhab Fiqih (Syafi’i), tetapi ia juga mengatakan bahwa Islam juga dibawa dari Arabia.

Teori Arabia

 Arnold, pada abad ke-7 seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatra. Sebagian orang-orang Arab juga dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita lokal.

    • Bukti lainnya yaitu pada kitab ‘Aja’ib Al-Hind yang menceritakan tentang “bersila”.
    • Crawfurd, Islam langsung dibawa langsung dari Arabia.
    • Keijzer, Islam berasal dari Mesir, buktinya yaitu persamaan Madzhab (Syafi’i).
    • Niemann dan de Hollander, Islam di Nusantara berasal dari Hadhramawt.
    • Sebagian ahli dari Indonesia setuju dengan teori Arab ini, bahwa Islam ke Indonesia berasal langsung dari Arab, tidak dari India; tidak pada abad ke-12 atau ke-13 tetapi abad pertama Hijri atau abad ke-7 Masehi.
    • Naguib Al-Attas, ia mengatakan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Arabia, dengan alasan bahwa nama-nama dan gelar-gelar para pembawa pertama Islam ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang Arab, disamping itu ia juga menyodorkan bukti historiografi klasik seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Merong Mahawangsa dan Tarsilah (silsilah).

Historiografi klasik di atas dapat ditarik empat tema pokok:

  • Islam dibawa langsung dari Arabia.
  • Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar “profesional”.
  • Yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa.
  • Kebanyakan para penyebar Islam “profesional” datang abad ke-12 dan ke-13.

Penyiar dan Cara Masuknya Islam

  • Para Sarjana banyak yang berpendapat penyiar Islam adalah para pedagang Muslim dan caranya yaitu berdakwah sambil berdagang dan melakukan perkawinan.
  • Van Leur, motif ekonomi dan politik sangat penting dalam masuknya Islam ke Nusantara.
  • Schrieke, bukan perkawinan para pedagang yang mengahasilkan konversi kepada Islam, tetapi ekspansi luar biasa Islam merupakan hasil semacam pertarungan antara Islam dan Kristen untuk mendapatkan penganut-penganut baru di kawasan Nusantara.
  • A. H. Johns, yang melakukan penyebaran Islam di Nusantara ini adalah kaum sufi.

Teori yang akhir ini adalah teori yang lebih besar diterima. Para sufi berhasil meng-Islamkan jumlah besar penduduk Nusantara sejak abad ke-13. Keberhasilannya karena kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan atraktif, yang memberi warna Islam terhadap praktek-praktek keagaman lokal. Teori ini juga disokong oleh Fatimi dengan memberikan argumen tambahan yaitu menunjuk pada sukses yang sama dalam meng-Islamkan sejumlah besar penduduk anak benua India.

Gelombang sufi pengembara ini baru aktif pada abad ke-13 karena tarekat sufi menjadi dominan dalam pengembangan dunia Islam sejak jatuhnya Baghdad oleh Mongol, pada masa ini Sufi menjadi institusi yang stabil dan disiplin dan mengembangkan afiliasi dengan kelompok-kelompok dagang. Afiliasi ini yang digunakan sebagai pendukung perjalanan ke wilayah-wilayah Periferi.

Menurut riwayat Bulliet, pada abad ke-11 Abbasiyah merosot yang menyebabkan munculnya lembaga dan struktur non-politik yang menyebabkan konflik yang memecah belah golongan Sunni. Situasi ini yang mendorong ulama dan sufi untuk pindah ke wilayah-wilayah yang baru di-Islamkan. Migrasi besar inilah yang mempercepat masuknya Islam penduduk anak benua, Eropa Timur dan Tenggara dan Nusantara pada periode antara paruh kedua abad ke-10 dan akhir abad ke-13 M. Seluruh proses inilah yang oleh Hodgson disebut sebagai “internasionalisasi”Islam Sunni. Memandang hal ini, orang akan lebih memahami proses konversi dan Islamisasi Nusantara.

Sekian

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: