HUKUM ISLAM PADA MASA SAHABAT KECIL


HUKUM ISLAM PADA MASA SAHABAT KECIL

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru SMP Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) dan Akademisi UIN Maliki Malang)

ِA.     Pengantar

Sejarah pembinaan hukum Islam dimulai sejak Rasulullah saw. masih hidup, yaitu oleh beliau sendiri. Pada waktu itu penetapan hukum Islam masih mudah, karena semua permasalahan langsung dikembalikan kepada Rasulullah dengan sumber Al-Qur’an dan As-Sunnah. Setelah Rasulullah wafat, penetapan hukum Islam dilakukan oleh para shahabat. Di sini sumbernya menjadi berkembang, selain Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka menggunakan Ijtihad karena dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak ditemukan dasarnya.

Periode kedua ini pembinaan hukum Islam pada masa shahabat besar yang dimulai pada tahun 11 Hijrah hingga akhir masa pemerintahan Ali bin Abu Thalib r.a. Selanjutnya masa pemerintahan digantikan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang dikenal dengan masa shahabat kecil. Pembinaan hukum Islam pada masa ini masuk pada periode ketiga. Pada periode ini ummat Islam terpecah menjadi tiga golongan, pertama, Jumhur (sebagian besar) kaum muslimin, merekalah yang ridla terhadap Mu’awiyah dan pemerintahannya. Kedua, Syi’ah yaitu orang-orang yang tetap mencintai Ali dan keluargannya. Ketiga, Khawarij yaitu orang-orang yang dendam atas Utsman, Ali dan Mu’awiyah seluruhnya.

Dari ketiga golongan ini membawa pengaruh khusus dalam pembinaan hukum Islam, dan akan nyata dalam periode berikutnya. Periode inilah pembinaan hukum Islam mulai terjadi perbedaan-perbedaan yang sebenarnya hal ini sudah dimulai sejak pada masa shahabat besar. Akan tetapi terlihat nyata pada masa ini karena ummat Islam terpecah menjadi tiga golongan. Dalam makalah ini akan dibahas pembinaan hukum Islam pada periode ini hingga pengaruhnya pada periode berikutnya.

B.      Sejarah Lahirnya Masa Shahabat Kecil

Sejak terbunuhnya Utsman bin ‘Affan, ummat Islam terpecah menjadi dua golongan, yaitu satu golongan yang dendam atas Utsman dan mereka adalah orang-orang yang membai’at Ali bin Abu Thalib r.a, dan satu golongan lagi yang dendam atas terbunuhnya Utsman dan mereka adalah orang-orang yang mengikuti Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a. Dua golongan ini saling membenci yang akhirnya timbul perang besar antara dua golongan ini (perang shiffin). Dari perang ini Ali terbunuh dan pemerintahan Islam diambil alih oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a.

Dari pergolakan-pergolakan tersebut, pada periode ini ummat Islam terpecah menjadi tiga golongan. pertama, Jumhur (sebagian besar) kaum muslimin, merekalah yang ridla terhadap Mu’awiyah dan pemerintahannya. Kedua, Syi’ah yaitu orang-orang yang tetap mencintai Ali dan keluargannya. Ketiga, Khawarij yaitu orang-orang yang dendam atas Utsman, Ali dan Mu’awiyah seluruhnya. Dari ketiga golongan ini membawa pengaruh khusus dalam pembinaan hukum Islam, dan akan nyata dalam periode berikutnya.

Shahabat kecil hanyalah sebuah istilah, seperti halnya dengan shahabat besar, yakni masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Masa shahabat besar dimulai pada tahun 11 Hijrah hingga akhir masa pemerintahan Ali bin Abu Thalib r.a. Selanjutnya masa pemerintahan digantikan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang dikenal dengan masa shahabat kecil.

Masa Shahabat kecil dimulai dari pemerintahan Mu’awiyah hingga awal abad kedua Hijrah. Masa ini dimulai dari tahun jama’ah, yakni tahun 41 Hijrah yang pada tahun ini ummat Islam bersatu (kecuali Khawarij dan Syi’ah) untuk mengakui Khalifah Mu’awiyah, setelah Hasan dengan ikhlas turun dari tahta kekhalifahan, yang dengan demikian tegaklah daulah Amawiyah, Bani Umayah.

C.      Pembinaan Hukum Islam pada Masa Shahabat Kecil

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pada periode ini ummat Islam terpecah menjadi tiga golongan, yaitu penentang Ali dan Mu’awiyah (Khawarij), pengikut setia Ali (Syi’ah) dan Jumhur. Dari ketiga golongan ini membawa pengaruh khusus dalam pembinaan hukum Islam.

Dengan pecahnya ummat Islam menjadi tiga golongan tersebut membawa pengaruh dalam pembinaan hukum Islam, hal ini karena ketiga golongan tersebut masing-masing mempunyai hukum sendiri.

Seperti Syi’ah mempunyai kecenderungan kepada Ali dan keluarganya, jadi mereka hanya menerima dalil dari orang separtainya saja. Begitupun dengan Khawarij selalu cenderung kepada Abu Bakar, Umar dan orang yang mengikutinya, dan mereka melepaskan diri dari Utsman, Ali dan Mu’awiyah. Oleh karena itu, mereka tidak berdalil dengan pendapat seseorang yang bukan dari golongannya. Sedangakan pendukung Mu’awiyah atau Jumhur Islam lari dari dua golongan itu dan tidak menempatkan timbangan untuk mereka. Penggolongan ini mempunyai pengaruh yang besar dalam istimbath.

Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa penetapan hukum yang dilakukan oleh masing-masing golongan-golongan:

  1. Khawarij (penentang Ali dan Mu’awiyah)

–          Pemimpin ummat Islam tidak mesti keturunan Quraisy, setiap orang yang beragama Islam berhak menjadi pemimpin baik dari kalangan budak maupun merdeka.

–          Sanksi bagi pelaku zina adalah seratus kali pukulan tidak ditambah dengan rajam.

–          Menikahi cucu perempuan adalah boleh/halal sebab yang diharamkan dalam Al-Qur’an adalah anak.

–          Menikah dengan perempuan yang tidak masuk sekte Khawarij tidaklah sah karena dianggap kafir.

–          Ketika terjadi perang antara kelompok Khawarij dan ummat Islam bukan Khawarij yang boleh dijadikan ghanimah adalah senjata dan kuda.

  1. Syi’ah (pengikut setia Ali bin Abu Thalib)

–          Al-Qur’an dan As-Sunnah memiliki makna lahir dan batin.

–          Menolak riwayat selain Syi’ah.

–          Menolak ijma’ umum.

–          Nikah mut’ah sah dilakukan tanpa saksi dan tanpa i’lan.

  1. Jumhur  ulama’

–          Nikah mut’ah haram dilakukan.

–          Jumhur menggunakan konsep ‘aul dalam pembagian harta pusaka.

–          Nabi Muhammad saw. tidak dapat mewariskan harta.

–          Jumlah perempuan yang boleh dipoligami adalah empat orang.

D.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hukum Islam pada Masa Shahabat Kecil

1.      Penggunaan Rasio

Ada kecenderungan baru dari beberapa fuqaha, khususnya yang berada di Irak untuk memandang hukum sebagai timbangan rasionalitas. Mereka tidak saja menggunakan rasio dalam memahami hukum dan menyikapi peristiwa dan persoalan yang muncul tetapi juga memprediksikan suatu peristiwa yang belum terjadi dan memberi hukumnya.

Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Ibrahim bin Yazid an-Nakh’ie, aliran ini tidak berjalan mulus tetapi banyak mendapat tanggapan dan tantangan, bahkan ulama-ulama Madinah menganggap bahwa aliran ini menyeleweng dari shahabat dan berpaling dari ajaran Rasulullah.

Namun tidak berarti fragmentasi fiqhiyah pada periode ini memasung perkembangan fiqih sebab rasionalisasi hukum Ibrahim cukup intelektual, kritis, tenang dan konstruktif.

2.      Meluasnya Ruang Ikhtilaf

Ikhtilaf semakin luas dengan menyebarnya shahabat ke beberapa daerah dan perpecahan kesatuan agama dan negara akibat pergolakan-pergolakan politik selama pemerintahan daulah Umayah.

Dr. Thaha Jabir dalam bukunya Adabul Ikhtilaf fil Islam menyebutkan bahwa benih-benih meluasnya ikhtilaf sudah ada sejak zaman Utsman bin ‘Affan. Utsman bin ‘Affan adalah khalifah pertama yang mengizinkan para shahabat untuk meninggalkan Madinah dan menyebar ke berbagai daerah. Lebih dari 300 shahabat pergi ke Bashrah dan Kuffah sebagian lagi ke Mesir dan Syam.

Penyebaran shahabat ke berbagai tempat itu punya pengaruh tersendiri terhadap perkembangan fiqih. Paling tidak meluasnya ruang ikhtilaf di kalangan tabi’in. Hal ini dapat dipahami karena masing-masing daerah punya perbedaan situasi, kebiasaan dan kebudayaan. Sehingga sering berbeda dalam satu masalah yang sama.

Faktor meluasnya ikhtilaf juga dikarenakan pergolakan-pergolakan politik sejak terbunuhnya Utsman, pindahnya markas kekhalifahan ke Kuffah kemudian ke Syam dan berbagai konfrontasi yang banyak memakan korban jiwa. Ikhtilaf ini semakin melebar dan sekaligus meruncing ketika konfrontasi politik antara Ali dan Mu’awiyah dan penyelewengan Daulah Ummayah menimbulkan berbagai aliran dan sekte-sekte. Pada saat itu muncullah aliran Syi’ah, Khawarij, jumhur ulama yang sudah saya tulis di atas.

3.      Periwayatan Hadits

Shahabat-shahabat yang masih ada setelah Khulafaur Rasyidin menjadi tempat pemberhentian dalam bepergian dari negara-negara besar untuk minta fatwa dan belajar. Manusia punya kebutuhan baru yang mana mereka terpaksa untuk membahas hukum-hukum karena luasnya kota dan tempat perlindungan mereka hanyalah shahabat dan tabi’in besar yang dipenuhi mereka untuk berfatwa. Mereka berfatwa dengan hadits-hadits yang mereka hafal. Sebagiannya hadits-hadits yang dengar dari Rasulullah saw. dengan langsung dan sebagiannya hadits yang mereka dengar dari shahabat-shahabat besar.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa seorang shahabat, Jabir bin Abdullah al-Anshari pernah menceritakan perjalanannya selama satu bulan hanya untuk mendengarkan hadits tentang Qiyas. Dari cerita itu dapat menunjukkan kesungguhan dan kerja keras shahabat dan tabi’in dalam pencarian hadits dan pengumpulannya dari para shahabat dan tradisi periwayatan hadits inipun menjadi amat penting dalam sejarah perkembangan fiqih dan hadits.

Seiring dengan banyaknya periwayatan hadits, pergolakan-pergolakan yang terjadi ditengah-tengah ummat Islam membuat kerja pengumpulan dan penulisan hadits sangat sulit, sehingga pengumpulan dan penulisan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Para ulama yang berkompetensi dalam bidang ini mulai meletakkan syarat-syarat khusus bagi penerimaan periwayatan hadits, kesinambungan sanad, mereka juga harus mempelajari sejarah hidup para perawi, tingkah laku dan kejujurannya sebagai syarat diterimanya riwayat yang disampaikan.

E.      Sumber-Sumber Hukum Islam yang Dipakai pada Masa Shahabat Kecil

Secara umum langkah-langkah penetapan hukum Islam pada masa atau periode ini sama halnya dengan penetapan hukum Islam pada masa shahabat besar (Khulafaur Rasyidin), yaitu:

  1. Mencari ketentuan dalam dalam Al-Qur’an
  2. Apabila dalam Al-Qur’an tidak ada mereka mencari dalam As-Sunnah.
  3. Apabila dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak ada, maka mereka kembali kepada ijtihad shahabat (shahabat besar).
  4. Baru setelah itu mereka sendiri melakukan ijtihad sesuai dengan kaidah-kaidah ijtihad para shahabat.

Dengan demikian sumber hukum Islam pada periode ini adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ dan pendapat shahabat serta ijtihad.

F.      Mufti-Mufti yang Terkenal pada Masa Shahabat Kecil

Dari penduduk Madinah:

  1. Ummul Mu’minin ‘Aisyah Ash Shiddiqah.
  2. Abdullah bin Umar.
  3. Abu Hurairah.
  4. Sa’id Al Musayab Al Makhzumi.
  5. Urwah bin Zubair bin Awam Al Asadi.
  6. Abu Bakar bin Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam Al Mahzumi.
  7. Ali bin Husain bin Ali bin Abu Tahlib al Hasyimi, dan lain-lain.

Dari penduduk Mekkah:

  1. Abdullah bin Abbas bin Abdul bin Abdul Muthalib.
  2. Mujahid bin Jabr maula Bani Mahzum.
  3. Ikrimah maula Ibnu Abbas.
  4. Atha’ bin Abu Rabah maula Duraisy.
  5. Abu Zubir Muhammad bin Muslim bin Tadarus maula Hakim bin Hazm, dan lain-lain.

Dari penduduk Kuffah:

  1. Al Qamah bin Qais An Nakha’i.
  2. Masruq bin Asda’ Al Hamdani.
  3. Ubaidah bin Amr As Silmani Al muradi.
  4. Al Aswad bin Yazid An Nakha’i.
  5. Ibrahim bin Yazid An Nakha’i, dan lain-lain.

Dari penduduk Bashrah:

  1. Anas bin Malik Al Anshari, pelayan Rasulullah.
  2. Abu ‘Aliyah Rafi’ bin Mahran Ar Rayani maula Rauyah, puak kecil dari bani Tamim.
  3. Hasan bin Hasan Yasar maula Zaid bin Tsabit, dan lain-lain.

Dari penduduk Syam:

  1. Abdur Rahman bin Ghunmin Al-Asy’ari.
  2. Abu Idris Al Khulani ‘Aidzullah bin Abdullah.
  3. Qabishah bin Dzuaib, dan lain-lain.

Dari penduduk Mesir:

  1. Abdullah bin Amr bin Ash.
  2. Abul Khair Martsad bin Abdullah Al Yazini.
  3. Yazid bin Abu Habib maula Al Azdi, dan lain-lain.

G.      Pengaruh Penetapan Hukum pada Periode ini pada Periode Selanjutnya

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa pada periode ini ummat Islam terpecah menjadi tiga golongan, Jumhur, Syi’ah, dan Khawarij. Dari ketiga golongan ini membawa pengaruh khusus dalam pembinaan hukum Islam, dan akan nyata dalam periode berikutnya.

Dengan terpecahnya ummat Islam menjadi tiga golongan menyebabkan hukum Islam pada periode ini berbeda-beda, dan hal ini juga disebabkan oleh faktor-faktor yang telah kami sebutkan di atas. Dengan perbedaan-perbedaan penetapan hukum pada periode ini tentunya juga akan mempengaruhi penetapan hukum pada periode berikutnya.

Diantara pengaruhnya adalah sebagai berikut:

  1. Dengan perbedaan-perbedaan hukum yang terjadi pada periode ini tetap membawa perbedaan-perbedaan pada periode berikutnya. Karena ulama yang berfatwa tentang hukum tersebut mempunyai dasar-dasar sendiri yang kuat yang diikuti oleh pengikutnya masing-masing.
  2. Hukum yang dipengaruhi oleh faktor penggunaan rasio pada periode ini pada perkembangan berikutnya akan terjadi pembauran, pluralisme dan heteroginitas pemikiran yang sangat membantu memperkaya tsarwah fiqhiyah.
  3. Dengan meluasnya ruang ikhtilaf pada periode ini mengakibatkan semakin luasnya ruang ikhtilaf pada periode berikutnya. Karena semakin banyak pula persoalan-persoalan baru yang membutuhkan hukum baru sementara para pencetus hukum berada di wilayah yang berbeda-beda yang mengakibatkan perbedaan pula dalam pemberian hukum.
  4. Dengan tersebarnya para ulama ke berbagai daerah semakin banyak pula periwayatan hadits. Sehingga dalam periwayatan hadits tersebut antara hadits yang shahih, hasan maupun dhaif jadi tercampur. Para ulama ada yang menjadikan hadits dhaif sebagai dasar memberikan hukum. Hal ini mengakibatkan hukum pada periode berikutnya ada yang bertolak belakang, yang pada akhirnya pada periode berikutnya melakukan usaha pengumpulan hadits dan penulisan hadits mana yang shahih, hasan maupun dhaif.
  5. pada periode ini banyak muncul dusta dalam hadits Rasulullah yang mana dusta tersebut untuk memberikan keuntungan bagi individu maupun golongan tersendiri. Pada periode berikutnya hal ini menyebabkan cita-cita ahli hadits menjadi jernih sekali, dan mereka akan membersihkan As-Sunnah dari sesuatu yang mencampurinya.

H.     Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, kami membuat beberapa kesimpulan berdasarkan rumusan masalah yang telah diajukan. Adapun kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:

1.   Masa Shahabat kecil dimulai dari pemerintahan Mu’awiyah hingga awal abad kedua Hijrah. Masa ini dimulai dari tahun jama’ah, yakni tahun 41 Hijrah yang pada tahun ini ummat Islam bersatu (kecuali Khawarij dan Syi’ah) untuk mengakui Khalifah Mu’awiyah, setelah Hasan dengan ikhlas turun dari tahta kekhalifahan, yang dengan demikian tegaklah daulah Amawiyah, Bani Umayah..

2.   Pada periode ini ummat Islam terpecah menjadi tiga golongan, yaitu penentang Ali dan Mu’awiyah (Khawarij), pengikut setia Ali (Syi’ah) dan Jumhur. Dari ketiga golongan ini membawa pengaruh khusus dalam pembinaan hukum Islam. Dengan pecahnya ummat Islam menjadi tiga golongan tersebut membawa pengaruh dalam pembinaan hukum Islam, hal ini karena ketiga golongan tersebut masing-masing mempunyai hukum sendiri.

3.   Faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan hukum Islam pada periode ini diantaranya adalah:

1.   Penggunaan rasio sebagi penetapan hukum

  1. 2.      Meluasnya ruang  ikhitlaf
  2. 3.      Periwayatan hadits

4.   Pengaruh penetapan hukum periode ini pada periode selanjutnya diantaranya adalah:

  1. Perbedaan-perbedaan hukum yang terjadi pada periode ini tetap membawa perbedaan-perbedaan pada periode berikutnya.
  2. Faktor penggunaan rasio pada periode ini pada perkembangan berikutnya akan terjadi pembauran, pluralisme dan heteroginitas pemikiran yang sangat membantu memperkaya tsarwah fiqhiyah.
  3. Dengan meluasnya ruang ikhtilaf mengakibatkan semakin luasnya ruang ikhtilaf pada periode berikutnya.
  4. Dengan tersebarnya para ulama ke berbagai daerah semakin banyak pula periwayatan hadits. Sehingga dalam periwayatan hadits tersebut antara hadits yang shahih, hasan maupun dhaif jadi tercampur yang berimbas pada periode berikutnya.
  5. Pada periode ini banyak muncul dusta dalam hadits Rasulullah. Pada periode berikutnya hal ini menyebabkan cita-cita ahli hadits menjadi jernih sekali, dan mereka akan membersihkan As-Sunnah dari sesuatu yang mencampurinya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 1999. Pengantar Ilmu Fiqih. Ed.2, Cet.2.Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.

Hasan, Sirajuddin. 2002. Diktat Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami.Tulungagung: STAIN Tulungagung.

Mubarok, Jaih. 2000. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung:      PT. Remaja Rosdakarya.

Sirry, Mun’im A. Juli 1995. Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar. cet. 1. Surabaya: Risalah Gusti.

Bik, Hudhari. alih bahasa Drs. Muhammad Zuhri. 1980. Tarjamah Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami (Sejarah Pembinaan Hukum Islam). Semarang: Darul Ikhya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: