Diskursus Islam dan Sosiologi


DISKURSUS ISLAM DAN SOSIOLOGI

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Pendahuluan

Setiap jenis pemikiran yang mencoba bergulat dengan persoalan sosial akan menghadapi suatu kesulitan tetap, yakni pilihan untuk menjadi pemikiran yang secara intelektual cukup berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan, dengan terlambat memenuhi kebutuhan sosial, atau pilihan untuk menjadi relevan secara sosial pada waktu yang tepat, dengan resiko pemikiran tersebut akan compang camping secara intelektual. Ada pemikiran sosial yang tidak begitu signifikan secara intelektual tetapi ternyata sangat signifikan secara sosial

Islam bukan sesuatu yang tunggal, belakangan ini wajah Islam sangat banyak dan variatif Islam sejak lahir bukanlah entitas yang tunggal, namun telah menjadi sunnatullah yang beragam. Hal ini disebabkan Islam yang hadir ditengah peradaban Quraisy memiliki cita-cita besar untuk membebaskan manusia di seluruh dunia, tidak hanya di Jazirah Arab. Jadi, Islam memiliki variabel yang berlimpah karena ia berproses dengan realitas zaman dan lokalitas budaya yang dihadapinya.

Agama Islam adalah sebuah agama yang membawa misi “rahmatan lil alamin” yakni agama yang membawa rahmat bagi alam semesta dengan segala isinya. Artinya ajaran-ajaran Islam sebagai rahmat bagi manusia, bagi binatang, dan juga bagi lingkungan fisik dan lingkungan alam. Ajaran Islam mencakup pranata-pranata yang mengatur kehidupan manusia baik dalam berhubungan dengan Tuhannya (ubudiyah) maupun dalam berhubungan dengan lingkungan sekitarnya (muamalah).

Islam adalah suatu sistem, ada tiga pendapat yang tarik menarik mengenai agama: pertama, orang yang berpendirian bahwa Islam adalah agama lengkap dan doktrinnya  mencakup semua masalah kehidupan manusia, termasuk bernegara dan berbangsa, kedua, orang yang berpendirian bahwa Islam tidak mengajarkan masalah-masalah kehidupan duniawi,  tetapi Islam mengajarkan dasar-dasar kehidupan, mereka berpendapat bahwa perpaduan antara akal dan wahyu disebut Islam, ketiga, orang yang berpendirian bahwa islam tidak membawakan konsep   bernegara dan kebangsaan.

Islam memposisikan manusia sebagai makhluk yang istimewa dibanding makhluk lainnya, karena manusia memiliki kemampuan akal dan perasaan yang dilengkapi dengan Agama dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia sebagai sarana untuk menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidup baik sebagai individu, kelompok, maupun sebagai hamba Allah. Karena itulah allah menyerahkan semua urusan dunia kepada manusia sendiri, karena manusialah yang lebih tahu terhadap urusan dunia dan dirinya.

B. Konsep  Sosiologi  tentang Manusia dan Masyarakat

Dialog dan seruan Al-Qur’an ditujukan kepada seluruh lapisan manusia agar manusia mau mnerima ajaran yang benar sesuai dengan kebenaran logikanya. Sifat universal yang dikandung Al-qur’an merupakan salah satu karaktr kemukjizatannya. Hal itu nampak dalam berbagai dimensi yang ditampilkan, diantaanya:

  1. Audien yang diseru oleh Al-Qur’an mencakup seluruh manusia.
  2. nilai yang dikandung dalam Al-Qur’an adalah nilai yang universal yang tidak terlepas dan dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu.
  3. bahasa yang digunakan Al-Qur’anmampu mententuh seluruh stratifikasi psikologis manusia baik yang awam, intelek, maupun yang super intelek.

Menurut Selo Sumarjan sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari tentang struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah atau norma-norma sosial,  lembaga sosial, kelompok serta lapisan sosial. Proses  sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. Tujuan sosiologi adalah untuk mendapatkan pengetahuan tentang fakta-fakta masyarakat sehingga menghasilkan pengertian dan pola-pola umum yang mungkin bisa digunakan  untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat.

Menurut  sosiologi  bahwa manusia mempunyai potensi sosialitas, yakni ada kemampuan untuk bergaul dan berkomunikasi dan dalam bergaul tersebut terkandung unsur saling menerima dan memberi. Karena dorongan itu setiap manusia ingin bertemu dengan sesamanya, tidak ada orang yang bisa hidup tanpa orang lain. Menurut Immanuel Kant bahwa manusia bisa menjadi manusia jika berada di antara manusia. Hal itu bisa diterima karena sebenarnya orang hanya dapat mengembangkan potensi keindividualannya dalam pergaulan sosial. Karena di situlah manusia bisa belajar dari orang lain, mengembangkan bakat dan minatnya, mengidentikkan diri dengan hal-hal yang di sekelilingnya, serta menolak hal-hal yang tidak disenanginya.

Sosiologi berasal dari bahasa latin socius yang berarti kawan atau masyarakat dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang kawan atau masyarakat. Pengertian sosiologi secara terminologi, menurut Soemantri dan temannya, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial.

Jadi yang dimaksud dengan sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang masyarakat dengan segala seluk beluknya. Sehingga hakekatnya sosiologi tersebut adalah ilmu kemasyarakatan dan yang dipelajari adalah manusia dalam hubungannya dengan masyarakat.

Sosiologi merupakan salah satu dari cabang ilmu sosial. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. sosiologi bersifat empiris
  2. sosiologi bersifat teoritis
  3. sosiologi bersifat kumulatif
  4. sosiologi bersifat non etis.

Sementara itu, Soemantri mengemukakan sifat ilmu sosiologi, sebagai berikut:

  1. sosiologi adalah ilmu sosial
  2. sosiologi bukan merupakan disiplin yang normative akan tetapi suatu disiplin yang kategoris
  3. sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni bukan terapan.
  4. sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak bukan konkrit.
  5. sosiologi bertujuan menghasilkan pola-pola dan pengertian-pengertian umum.
  6. sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasionil
  7. sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum bukan khusus.

Menurut Islam manusia mempunyai posisi yang sangat tinggi karena manusia mempunyai tiga kemuliaan yaitu;

  1. Karamah fardiyyah (kemuliaan individual), yang berarti bahwa Islam melindungi aspek-aspek kehidupan manusia baik aspek spiritual maupun aspek material.
  2. Karamah Ijtimaiyyah (kemuliaan kolektif) yang berarti bahwa Islam menjamin sepenuhnya persamaan di antara individu-individu.
  3. Karamah Siyasiyyah (kemuliaan secara politis) yang berarti bahwa Islam memberi hak politik pada individu-individu untuk memilih atau dipilih pada posisi politik, karena mereka adalah wakil Allah.

Dengan tiga kemuliaan tersebut bisa menjadi sarana yang memudahkan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di manapun dan kapanpun juga. Dengan  kemuliaan sebagai individu manusia dapat memenuhi kebutuhannya di dunua dan dapat menjalankan kewajibannya beribadah kepada Allah. Dengan kemuliaan kolektif manusia dapat memperoleh kesempatan dan hak yang sama dengan manusia lainnya. Dan dengan kemuliaan secara politis manusia dapat berpartisipasi dalam beraktualisasi diri di kancah kehidupan politik.

Masyarakat adalah sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung, dan terikat oleh nilai-nilai dan norma yang dipatuhi bersama adakalanya mereka ada hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri-ciri:

  1. ada interaksi antara warga-warganya.
  2. pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat , norma-norma hukum, danaturan-aturan yang khas
  3. ada rasa identitas yang kuat yang mengikat pada warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai nasionalisme, jiwa korps, kesetiakawanan sosial, dan lain-lain.

Artinya kalau seorang individu sudah masuk menjadi anggota suatu kelompok atau masyarakat maka dia akan berinteraksi dengan individu lainnya dan akan mengikuti pola perilaku kelompok. Dan masyarakat Islam tterbentuk dari tiga unsur:

  1. unsur manusia yang terdiri dari kumpulan individu dan satu masyarakat primer, yakni keluarga. Dari unsur ini muncul berbagai satuan masyarakat, yakni masyarakat lokal,masyarakat nasional, dan masyarakat global. Dalam satu masyarakat itu terjadi interaksi yang terus menerus untuk mewujudkan tujuan hidup besama dan untuk kepentingan itu tumbuh dan berkembang berbagai institusi sosial yang mengacu pada aspek normatif.
  2. unsur ajaran Islam yang diyakini kebenarannya yang menjadi pengikat antara individu mauslim dan satuan primer. Ajaran ini dirumuskan oleh para pemikir dengan mengacu pada sumbernya, yakni Al-Qur’an dan sunnah Rosul. Berdasarkan ajaran itu masyarakat Islam berdiri dengan ikatan kesamaan keyakinan (benar dan salah), nilai (baik dan buruk), dan kaidah bertindak (yang diperintahkan dan yang dilarang).
  3. unsur lingkungan alam sebagai kesatuan pemukiman hidup manusia. Antara lingkungan dan pemukiman terjadi interaksi yang saling mempengaruhi yang berlanjut dengan adanya ciri-ciri spesifik pada suatu masyarakat di lengkungan pemukiman tertentu.

Jadi sebuah masyarakat Islami akan terwujud tidak hanya didasarkan pada adanya sekelompok manusia beragama Islam yang hidup di suatu tempat pemukiman, tetapi harus disertai unsur ajaran Islam yang diyakini kebenarannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan hidup bermasyarakat.

C. Etika dan Nilai–Nilai Sosial

            Al-Qur’an secara substansial mengemban misi transformatif untuk kehidupan manusia. Dimulai dari surat-surat Makiyah membawa doktrin tauhid yang membawa semangat keesaan Allah dan menegaskan semangat egalitarian sebagai simbol perlawanan terhadap perbudakan dan kejahatan manusia, sedangkan ayat-ayat Madaniyah mengindikasikan semangat revolusi sosiologis terhadap tatanan dan struktur sosial kehidupan masyarakat dengan tetap bersandar pada kebenaran, keadilan, dan kemakmuran. Nilai-nilai Al-qur’an terus bergerak seirama dengan pergerakan kehidupan manusia, sehingga Al-Qur’an selalu hidup, dan berbicara, serta menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia di setiap kurun waktu.  Al-Qu’an merupakan petunjuk bagi manusia “Hudan li al nas” (2;185), sebagai petunjuk bagi manusia di segala zaman,  Al-Qur’an mampu merespon terhadap segala situasi serta menjawab berbagai permasalahan. Al-Qur’an berisi berbagai doktrin utama dan peraturan untuk kehidupan pribadi dan kolektif umat Islam.

Belum pernah ada figur selain Muhammad yang lebih mengetahui kebutuhan-kebutuhan dunia Islam, yang menuntut kemajauan baik kemajuan dalam bidang sosial dan etika sebagai dua hal yang selalu berubah. Muhammad telah mengabarkan (berdasarkan penglihatan beliau yang tajam dan futuristik) bahwa suatu saat akan datang suatu zaman yang mengharuskan adanya pemisahan antara nilai-nilai ajaran yang bersifat temporal (dengan tujuan agar dikerjakan secara proporsional) dengan nilai ajaran yang universal dan berlaku selamanya.

Islam itu praktikal dan  lebih menekankan pengamalan dimensi-dimensi sosialnya. Landasan filsafat Islam peradaban adalah bahwa;

    1. ajaran Islam adalah ajaran yang otentik dan benar yang tidak perlu banyak untuk dibuktikan kebenarannya secara teoretis tetapi dengan mengamalkannya dalam kehidupan dan memperlihatkan kedinamikannya dalam kehidupan praktis;
    2. keimanan harus berdimensi sosial, karena ketika ia hanya sebagai fenomena peribadi risalahnya akan putus ditelan bumi dan menjadi keimanan para rahib, yang memutuskan hubungan dengan masyarakat dan melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban sosial.

Agama Islam, dapat menciptakan kedinamisan kebudayaan ketika berperanan sebagai prinsip moral dan sebagai katalisator unsur-unsur penting kebudayaan. Sebagai prinsip moral, Islam menggariskan baik dan buruk, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, ia membantu menciptakan sistem-sistem nilai sosial yang padu dan utuh. Ganjaran-ganjaran dan sanksi-sanksi sosial yang terdapat dalam kerangka acuan yang bersifat suci mempunyai kekuatan memaksa yang istimewa, kerana ia tidak hanya menyangkut ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat duniawi dan manusiawi, tetapi juga ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat supra-manusiawi dan ukhrawi.

Dalam kenyataan hidup nilai berkaitan dengan kesadaran dan pemahaman terhadap nilai serta kesanggupan melaksanakan nilai. Artinya untuk dapat melakukan nilai apa yang harus dilakukan, terlebih dahulu orang harus mengetahui, memahami, dan menyadari nilai-nilai. Namun dalam praktek kehidupan, banyak orang sudah memahami sebuah nilai tetapi tidak otomatis pasti melaksanakan, bahkan ada yang sudah berniat melaksanakan tetapi tidak dilaksanakan.

Dimensi kesosialan harus dikembangkan dengan membuka  peluang terhadap ditingkatkannya hubungan sosial diantara sesama manusia dan antara manusia dengan ligkungan fisik. Dimensi sosial merupakan sarana penting bagi pengembangan individu untuk beraktualisasi diri dan mencapai derajat/status sosial yang tinggi, sebagai sarana untuk pengembengan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sebagai sarana pembuktian terhadap kebenaran nilai-nilai ajaran Islam yang membawa rahmat bagi semua makhluk.

D. Perilaku Sosial

Kelompok adalah individu yang terdiri dari dua atau lebih berinteraksi dan saling ketergantungan yang bersama-sama mencapai tujuan khusus. Kelompok bisa berbentuk formal maupun informal. Bentuk formal yakni struktur organisasi dengan melaksanakan tugas terancang dan kerja kelompok. Sedangkan bentuk informal dimana perilaku yang diarahkan oleh seseorang  terhadap tujuan organisasi.

Sistem personal menunjukkan bahwa karakteristik personal individu mempengaruhi perilaku yang timbul dari sistim yang diperoleh. Perilaku yang diperoleh dan muncul menunjukkan bahwa suatu analisis yang cermat dari sistem yang diperoleh dan personal dapat membantu pengamat mencoba memprediksi perilaku yang muncul, misalnya interaksi yang muncul lebih mungkin di antara anggota yang ditemukan berinteraksi atau di antara yang punya pekerjaan ditempatkan saling berdekatan. Perilaku  kelompok tidak hanya asumsi perilaku individu dari anggotanya tetapi kelompok itu sendiri merupakan dimensi tambahan pada perilaku anggotanya. Hal  tersebut dapat membantu untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku yang muncul melalui faktor penting tentang sentimen, aktivitas, dan interaksi ke dalam kelompok.

Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar : (a) pembiasaan klasik; (b) pembiasaan operan; (c) peniruan.

Perilaku manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.

  1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.
  2. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
  3. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
  4. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.

Dari kutipan tersebut dapat damaknai bahwa manusia harus berperilaku yang sesuai dengan lingkungannya hal itu bisa dilakukan dengan cara belajar yang serius dan sungguh-sungguh terhadap norma-norma dan aturan-aturan kelompok, dan lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang akibatnya baik buruknya perilaku seseorang juga tergantung pada lingkungan apa yang dijadikan sebagai sumber belajar.

E. Agama sebagai Katalisator Peradaban

Menurut syahrur, Islam adalah agama wahyu terahir. Shahrur yakin bahwa at-Tanzil al-Hakim adalah kitab suci yang tidak hanya sesuai untuk masa Nabi dan Arab, tetapi juga sesuai untuk  segala tempat dan untuk masa-masa selanjutnya hingga hari akhir (salih li kulli zaman wa makan). Universalisme hukum  at-Tanzil al-Hakim tidak berarti bahwa seseorang harus menerapkan hukum-hukum yang tertera dalam at-Tanzil al-Hakim secara apa adanya di semua tempat dan segala waktu. kesesuaian at-Tanzil al-Hakim itu hanya mungkin jika aturan hukum at-Tanzil al-Hakim merupakan hududiyah hanifiyah (terdiri dari batas-batas hukum-hukum yang fleksibel/elastis) yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan waktu dan tempat. Hal ini berarti at-Tanzil al-Hakim adalah ladang untuk melakukan Ijtihad dan disesuaikan dengan kondisi-kondisi obyektif yang terdapat dalam komunitas manusia.

Malik Bennabi merumuskan tiga faktor utama yang menentukan pembentukan sesuatu peradaban, yaitu; manusia, tanah, dan masa. Manusia adalah faktor yang paling penting; sebagai pencipta dan penggerak sejarah. Manusia memiliki dua jenis identitas; pertama, identitas yang tetap dan tidak dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kriteria-kriteria anatomi dan fisiologi yang membentuk wujud luaran manusia, dan; kedua, yang dapat berubah dan dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kewujudan manusia secara sosial yang merupakan keadaan mental dan psikologi manusia yang ditangkap oleh struktur sejarah dan warisan sosial.

Manusia sepanjang perjalanan sejarah berinteraksi dengan masa dan ruang tidak dalam kedudukannya sebagai ciptaan alami, melainkan sebagai kepribadian-kepribadian sosial. Tanah (turab), sebagai faktor kedua, adalah sumber alam yang lebih berkaitan dengan konsep-konsep sosial. Istilah tanah (turab) digunakan untuk menjauhi istilah materi (madah), karena perkataan ‘materi’ dalam akhlak berarti suatu konsep yang berlawanan dengan perkataan ‘roh’, dalam sains ia bermaksud lawan dari perkataan ‘energi’ dan dalam filsafat perkataan ‘materi’ memberi maksud yang berlainan dengan ‘ide’. Masa adalah faktor ketiga dalam proses pembentukan peradaban. Yang dimaksudkan dengan masa adalah nilainya dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan sejarah, kebangkitan ilmu, produktivitas, dan pencapaian peradaban.

Akan tetapi menurut Malik Bennabi, wujudnya ketiga-tiga faktor tersebut tidak dapat secara pasti dan secara otomatis dapat melahirkan suatu peradaban. Sebuah teka-teki yang dapat dijawab oleh ilmu kimia. Air pada dasarnya adalah hasil dari hidrogen dan oksigen. Meskipun demikian kewujudan kedua-dua unsur ini tidak menjamin secara langsung terciptanya air. Menurut para ahli kimia, proses pembentukan air turut dipengaruhi oleh faktor lain yang berupa katalisator yang dapat mempercepat proses penyusunan dua unsur hidrogen dan oksigen yang seterusnya menyebabkan terciptanya air. Demikian juga, menurut Malik Bennabi, dengan proses pembentukan peradaban, walaupun sudah tersedia tiga faktor utama; manusia, tanah, dan masa, masih diperlukan faktor lain sebagai katalisator yang dapat mengolah dan menyusun ketiga-tiga unsur tersebut dan menjadikannya suatu peradaban. Katalisator yang dimaksud dalam konteks ini menurut Malik Bennabi adalah agama. Agama atau “pemikiran agama inilah yang selalu wujud di balik kelahiran suatu peradaban dalam sejarah.

Agama menurut Malik Bennabi adalah katalisator (catalyseur) yang menjadikan manusia, tanah, dan masa sebagai suatu kekuatan dalam sejarah dan yang menyebabkan kelahiran suatu peradaban. Dalam pandangan Malik Bennabi tidak hanya peradaban-peradaban besar dunia seperti peradaban Islam, peradaban Kristen Eropa dan peradaban Buddha Cina, tetapi bahkan “peradaban komunis” yang anti-agama adalah juga lahir dari pemikiran agama. Malik Bennabi memandang komunisme dari dua aspek; aspek sejarah dan aspek psikologi yang berhubungan dengan keyakinan. Dilihat dari aspek sejarah, komunisme atau marxisme adalah ‘krisis’ internal peradaban Kristen, yaitu ketika agama itu tidak lagi memiliki nilai-nilai gaib, seperti kata Gonzague de Reynol bahwa peradaban Rusia adalah peradaban Kristen Ortodok yang ‘tersalah tembak’, atau seperti ungkapan Toynbee bahwa komunisme adalah satu halaman buku Kristen yang terkoyak dan tersalah baca. Dari aspek psikologi, komunisme atau marxisme adalah sebagai pemikiran keagamaan yang berhubungan dengan keyakinan para penyokong dan pengikutnya terahadap ide-ide dan doktrin-doktrin yang dicipta oleh Karl Marx, sebagai ajaran yang memiliki tulisan-tulisan yang disucikan, memiliki surga dan neraka, keselamatan dan kecelakaan, dan sebagai sebuah agama tanpa Tuhan.

Selain sebagai prinsip moral, Islam juga berperanan sebagai katalisator unsur-unsur kebudayaan; estetika, logika kerja, dan teknologi. Estetika atau cita rasa keindahan memainkan peranan penting di dalam kebudayaan dengan segala isinya, bahkan ia adalah kerangka di mana suatu peradaban terbentuk. Ia memberikan ciri-ciri khas terhadap jaringan-jaringan dalam masyarakat dan yang menambahkan gambaran yang sesuai dengan perasaan dan cita rasa umum daripada aspek warna danbentuk.

 F. Pembaruan Peradaban

Semua persoalan fundamental yang dihadapi oleh masyarakat modern yang digambarkan di atas, “menjadi pemicu munculnya kesadaran epistemologis baru bahwa persoalan kemanusian tidak cukup diselesaikan dengan cara empirik rasional, tetapi perlu jawaban yang bersifat transendental”  Melihat persoalan ini, maka ada peluang bagi pendidikan Islam yang memiliki kandungan spiritual keagamaan untuk menjawab tantangan perubahan tersebut. Fritjop Capra dalam buku The Turning Point, yang dikutip A.Malik Padjar “mengajak untuk meninggalkan paradigma keilmuan yang terlalu materialistik dengan mengenyampingkan aspek spritual keagamaan. Demikianlah, agama pada akhirnya dipandang sebagai alternatif paradigma yang dapat memberikan solusi secara mendasar terhadap persoalan kemanusian yang sedang dihadapi oleh masyarakat modern”.

Mencermati fenomena peradaban modern yang dikemukakan di atas, harus bersikap arif dalam merespons fenomena-fenomena tersebut. Dalam arti, jangan melihat peradaban modern dari sisi unsur negatifnya saja, tetapi perlu juga merespons unsurunsur posetifnya yang banyak memberikan manfaat dan mempengaruhi kehidupan manusia. Maka, yang perlu diatur adalah produk peradaban modern jangan sampai memperbudak manusia atau manusia menghambakan produk tersebut, tetapi manusia harus menjadi tuan, mengatur, dan memanfaatkan produk perabadaban modern tersebut secara maksimal.

Pada masa-masa ini, gagasan romantisme kejayaan Islam muncul sebagai motivasi melawan penjajahan. Inilah dorongan paling besar yang merefleksikan kembali arti peradaban Islam di dunia modern, di tengah-tengah hegemoni Barat waktu itu. Dorongan ini terus menjadi momentum pemikiran Islam paska kolonialisme. Dari sini, mulailah  dilakukan refleksi atas munculnya peradaban Barat, dan hegemoninya atas dunia Islam. Nantinya, sebagai “puncak” pemikiran modernis ini, sangat relevan memberi perhatian atas kajian-kajian ekonomi-politik atas apa yang menjadi pendorong imperialisme Barat terhadap dunia Islam. Pemikir-pemikir Muslim kontemporer seperti Hasan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Ali Syari’ati, Zia-ul Haq, dan kalangan-kalangan transformis lainnya yang menaruh perhatian pada gagasan pembebasan, layak juga diperhatikan.

Sampai di sini, menarik sekali untuk memperhatikan pokok-pokok gagasan kalangan modernis-liberalis ini, yang nantinya akan dikritik secara keras oleh kaum fundamentalis Islam, khususnya seperti ditulis oleh Nader Saiedi dalam pandangan-pandangan mereka perihal: Pertama, keyakinan akan perlunya sebuah filsafat dialektis; kedua, keyakinan akan adanya aspek historisisme dalam kehidupan sosial keagamaan; ketiga, pentingnya secara kontinu untuk membuka kembali pintu ijtihad yang dulu sempat tertutup atau justru ditutup oleh fatwa ulama; keempat, penggunaan argumen-argumen rasional untuk iman; kelima, perlunya pembaruan pendidikan; dan keenam, menaruh simpati dan hormat terhadap hak-hak perempuan, dan non-Muslim.

Barat atau kebudayaan asing lainnya dengan secara terbuka seharusnya mengakui bahwa Islam memiliki pandangan hidup, filsafat dan kebudayaannya sendiri yang harus diterima apa adanya dan tidak ada jalan rekonsiliasi, meskipun tetap membangun sikap toleransi. Bagi mereka yang gagal memahami hal ini secara akademis, baik Orientalis maupun intelektual Muslim, akan menganggap bahwa penolakan konsep Barat dalam bentuk apapun akan selalu dihubungkan dengan kecemburuan kultural dan religius (cultural and religious prejudice), yang sebenarnya tidak perlu. Sementara bagi mereka yang benar-benar dapat memahami esensi pandangan hidup Islam dan juga Barat akan dapat mengidentifikasi lebih akurat perbedaan dan bahkan pertentangan pada keduanya dan dapat dengan secara kritis menentukan apakah suatu konsep asing diterima (diadapsi) atau ditolak sama sekali.

Sesungguhnya, dalam suatu pandangan hidup dan peradaban proses ‘meminjam’ atau adapsi adalah hal yang alami dan ini telah terjadi dalam sejarah pemikiran Islam, tapi mengadopsi suatu konsep tanpa proses tranformasi yang utamanya melibatkan pengetahuan dan kesadaran akan pandangan hidup, tidak akan memajukan peradaban yang bersangkutan tapi justru menghancurkan.

Dengan pendekatan integral melalui konsep pandangan hidup Islam yang merujuk kepada tradisi intelektual Islam secara kritis dan kreatif akan menunjukkan bahwa pemikiran dalam Islam itu bersifat konseptual, integral dan memproyeksikan pandangan hidup Islam (worldview) yang dinamis, teratur dan rasional yang dipancarkan oleh konsep Islam sebagai Din.

Secara teoritis, pandangan hidup Islam tercipta dari adanya konsep ilmu pengetahuan dan pengembangannya yang dibentuk dari kerangka kerja sistem metafisika Islam yang utamanya meliputi pengertian tentang kebenaran dan realitas yang Mutlak. Dalam perspektif pandangan hidup inilah kita dapat mengetahui apakah suatu pemahaman atau penafsiran tentang Islam yang berupa ilmu pengetahuan, filsafat, sains dan lainnya itu benar-benar sesuai dengan Islam dan sejalan dengan pernyataan dan kesimpulan umum Kebenaran yang Diwahyukan (Revealed Truth). Jika terdapat penafsiran atau pemahaman yang tidak sejalan maka perlu dikoreksi ulang dengan apa yang disebut dengan Perubahan Paradigma (paradigm shift), yang berarti perubahan pandangan hidup dan sistem metafisikanya.

Dalam tradisi pemikiran Islam aktivitas koreksi ulang atau konseptualisasi ulang ini dapat berarti tajdid yang hakekatnya selalu berorientasi pada pemurnian (refinement) yang sifatnya kembali kepada ajaran asal dan bukan adopsi pemikiran asing. Kembali kepada ajaran asal tidak selalu bisa difahami sebagai kembali kepada corak kehidupan dizaman Nabi, tapi harus dimaknai secara konseptual dan kreatif. Maka, sesuai dengan makna Islam itu sendiri, tajdid atau islah seperti yang didefinisikan al-Attas mempunyai implikasi membebaskan, artinya membebaskan manusia dari belenggu tradisi magis, mitologis, animistis dan kultur kebangsaan yang bertentangan dengan Islam; pembebasan manusia dari pengaruh pemikiran sekuler terhadap pikiran dan bahasanya, atau pembebasan manusia dari dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil kepada fitrah atau hakekat kemanusiaannya yang benar. Proses pembebasan ini sekarang dikenal dengan sebutan Islamisasi.

Dalam konteks zaman sekarang, proses ini memerlukan pengetahuan tentang paradigma dan pandangan hidup Islam yang tercermin di dalam al-Qur’an dan Sunnah serta pendapat-pendapat para ulama terdahulu yang secara ijma’ dianggap Qoth’iy. Selain itu diperlukan juga pemahaman terhadap kebudayaan asing dan pemikiran yang menjadi asasnya, namun ‘memahami’ tidak selalu berarti ‘mengambil konsep’. Kita, misalnya tidak perlu mengambil konsep pembebasan dari pandangan hidup asing, sebab ia telah inheren dalam pemikiran Islam dan pembaharuan Islam. Proses pembaharuan atau Islamisasi yang merujuk kepada sumber asal ajaran Islam dan ulama yang memiliki otoritas dibidangnya menunjukkan pembaharuan dalam Islam tidak bersifat evolusioner tapi lebih bermakna devolusioner, dalam artian bahwa ia bukan merupakan proses perkembangan bertahap dimana yang terakhir lebih baik dari yang pertama, tapi suatu proses pemurnian dimana konsep pertama atau konsep asalnya difahami dan ditafsirkan sehingga menjadi lebih jelas bagi masyarakat pada masanya dan penjelasan itu tidak bertentangan dengan aslinya.

Sesungguhnya proses pembaharuan atau Islamisasi yang berulang-ulang dalam tradisi pemikiran Islam ini telah di ramalkan oleh Nabi sendiri dalam hadithnya tentang tajdid. (Sunan Abu Dawud). Namun proses Islamisasi tidak melulu berarti menyesuaikan unsur-unsur asing dengan Islam dan tidak pula bermakna bahwa ajaran asasi agama Islam itu usang dan perlu diperbaharui agar sesuai dengan keadaan zaman yang terus menerus berubah. Proses tajdid diperlukan karena pemahaman ummat Islam terhadap ajaran Islam, dan bukan karena ajaran Islamnya, telah semakin jauh dari bentuk dan sifat aslinya.

Perlu ditekankan disini bahwa dalam tradisi Islam (sunnah) setiap usaha pembaharuan (tajdid) pamahaman dan penafsiran Islam selalu merujuk kepada kebenaran yang mutlak yang termaktub dalam al-Qur’an. Ini sangat berbeda secara diametris dengan pemikiran dalam kebudayaan Barat yang sifatnya terus menerus mencari dan tidak memiliki rujukan yang mutlak dan pasti, sehingga pendapat atau pemahaman yang baru mesti menolak pendapat yang lama dan seterusnya. Pembaharuan dalam Islam bukan menolak atau menghapuskan pendapat lama atau konsep asalnya tapi merupakan rekonseptualisasi yang kreatif berdasarkan akumulasi pemikiran lama yang dijalin dalam ikatan tradisi dan otoritas.

G. Sosiologi .Islam dan Perilaku Islami

Dalam al-Qur’an SuratAli Imran ayat 110 dijelaskan kita diperintahkan untuk menjadi golongan masyarakat yang baik, yaitu yang memerintahkan kepada hal-hal yang baik (amar ma’ruf), dan mencegah hal-hal yang munkar (nahi munkar, serta beriman kepada Allah. Kuntowijoyo  menginterpretasikan ayat tersebut menyuruh kepada yang makruf adalah humanisasi atau emansipasi, sedangkan mencegah dari yang mungkar adalah liberasi, sedangkan beriman kepada Allah adalah transendensi. Tujuan humanisasi adalah memanusiakan manusia. Tujuan liberasi adalah pembebasan bangsa dari kebodohan, kekejaman, dan kemiskinan. Sedangkan tujuan transendensi adalah menambah dimensi transendental dalam kebudayaan.

Oleh karena itu perubahan atau transformasi sosial haruslah didasarkan pada cita-cita humanisasi atau emansipasi, liberasi, dan transendensi. Karena dengan itulah perubahan dan perkembangan kehidupan masyarakat adalah dilakukan oleh masyarakat sendiri ke arah yang lebih partisipatif, terbuka, dan emansipatoris. Berikut akan digambarkan tentang konsep-konsep pemikiran Islam terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan realitas sosial di masyarakat.

 1.      Kebutuhan  Beragama

Plutarch (46-120 AD), seorang ahli filsafat dan etika Yunani, ketika mengatakan: “Kita dapat menjumpai kota-kota tanpa dinding, tanpa raja, tanpa peradaban, tanpa literatur, atau tanpa gedung theatre, tapi seseorang tidak pernah menjumpai sebuah kota tanpa tempat-tempat peribadatan atau penganut-penganut agama. Atau seperti juga apa yang dikatakan ahli filsafat Henri Bergson (1859-1941) bahwa: “kita jumpai di masa lampau dan sekarang masyarakat tanpa sains, tanpa seni, dan tanpa filsafat. Tapi kita tidak pernah menjumpai sebuah masyarakat tanpa agama.”

Fenomena beragama adalah fenomena universal yang selalu wujud, ia sudah wujud lama, sebagai karakteristik kehidupan manusia, dari manusia yang sangat primitif hingga manusia yang sudah memiliki peradaban yang tinggi. Menurut
Imam Banadib setiap kali seseorang menyusup jauh ke dalam sejarah purbakala dan sejarah manusia, baik pada zaman kejayaan kebudayaannya, maupun pada tingkat-tingkat yang masih primitif evolusi sosialnya, dia akan mendapati peninggalan di dalamnya yang menunjuk kepada adanya ide mengenai keagamaan.”

Menurut Malik Bennabi, totemisme, mitos, dan kepercayaan pada dewa-dewa tidak lain hanya merupakan pemecahan yang diilhami oleh problem, yang selalu sama, yang menghinggapi hati nurani manusia; setiap kali dia mendapati dirinya ditarik oleh teka-teki tentang segala sesuatu, serta tujuan terakhirnya.

Dengan mengakui ekspresi-ekspresi keagamaan yang berbeda-beda tersebut (seperti totemisme, politheisme, dan monotheisme), Malik Bennabi ingin membangun fenomena agama yang bersifat perenial sebagai karakteristik alami manusia, yang oleh karenanya manusia digambarkan sebagai homo religiosus (hewan beragama). Yang oleh karena itu, agama tidak hanya sebagai aktivitas spiritual dan mental psikik manusia. Tetapi merupakan sebagai satu kecenderungan fundamental manusia dan fakta kosmik yang jauh berakar pada struktur alam. Ia tidak dapat direduksi kepada hanya sebagai satu kategori budaya yang didapati manusia sepanjang sejarah atau hanya sebagai keperluan manusia dalam fase primitif perkembangan sosiobudaya manusia seperti yang dikonsepsikan oleh Auguste Comte. Tetapi sebagai fitrah universal yang tidak pernah luput dalam sejarah suatu bangsa baik dahulu maupun hari ini dan yang akan datang sekaligus merupakan “katalisator” setiap peradaban manusia.

Islam memandang hak-hak manusia sangat longgar termasuk dalam memilih agama sekalipun  “la ikroha fiddin”(al baqoroh; 256). Dalam permulaan surat ini manusia digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu orang mukmin dan sifat-sifatnya (ayat 1-5), orang kafir dan sifat-sifatnya (ayat 6-7), dan orang munafik (ayat 8-20). Dari uraian ayat-ayat tersebut tidak ada yang menekankan agar manusia memilih mukmin dan menolak kafir atau munafik. Memang dalam ayat 21-22 Allah menganjurkan agar menyembah Tuhanmu tetapi tidak dijelaskan bagaimana cara menyembah bisa dikaji juga dalam surat Al Kafirun 1-6.

Begitu juga dengan perpindahan agama dari Islam ke agama lain (murtad) sebagaimana dalam surat Al Baqoroh (217) secara harfiyah Allah tidak melarang manusia menjadi murtad karena itu adalah hak manusia, Allah hanya memberitahukan dampak dari perbuatan murtad yang wujudnya tidak berupa ancaman duniawi misalnya dibunuh atau dipenjara. Karena perbuatan murtad adalah urusan manusia dengan allah dan tidak ada kaitannya dengan manusia lain ataupun penguasa.

2. Gender

Masalah sosial yang sekarang juga lagi diperjuangkan adalah gender. Menurut Women’s Studies Encyclopedia bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.  Gender adalah perbedaa sosial antara laki-laki dan perempuan yang dititik beratkan pada perilaku, fungsi, dan peranan masing-masing yang ditentukan oleh kebiasaan masyarakat.

Tetapi pada dasarnya gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Dalam artian gender di sini hanyalah rekayasa bangunan  masyarakat (social construction), bukan sesuatu yang bersifat qodrati.

Meskipun gender adalah masalah sosial, tetapi tidak bisa dilepaskan dari masalah teologis dan Agama dianggap punya andil besar dalam melestarikan bias gender. Pandangan di sekitar teologi gender berkisar pada tiga hal pokok:

  1. asal usul kejadian laki-laki dan perempuan
  2. fungsi keberadaan laki-laki dan perempuan
  3. persoalan perempuan dan dosa warisan.

Al Qur’an tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan untuk berkarya sebagaimana dalam surat Annahl 97. Manusia diciptakan laki-laki dan perempuan adalah dari aspek biologis misalnya perempuan hamil, melahirkan, haid, dan menyusui. Menurut Muh Abduh sebagaimana dikutip oleh KH. Husen Muhammad, bahwa ketinggian derajat laki-laki tidak dapat dilepaskan dari tugas dan tanggung jawabnya memberikan perlindungan pada keluarga, berarti jika laki-laki tidak mampu memenuhi kewajiban itu  maka kelebihan itu bukan menjadi milik laki-laki. Begitu juga mengenai kepemimpinan perempuan, menurut Qurais Shihab bahwa sebenarnya wanita memiliki hak yang yang sama dengan pria dalam hal kepemimpinan.

3. Demokrasi

Secara literal demokrasi berarti kekuasaan oleh rakyat. Pada saat ini istilah demokrasi telah diterima oleh hampir seluruh pemerintahan di dunia.. menurut Robert A. Dahl seperti yang dikutip oleh Aden Widjan bahwa demokrasi memiliki tujuh kriteria yaitu:

  1. kontrol terhadap keputusan pemerintah mengenai kebijakannya.
  2. Para pejabat dipilih melalui pemilihan yang teliti dan jujur.
  3. Secara praktis semua orang dewasa punya hak untuk memilih pejabat.
  4. Secara praksis semua orang dewasa punya hak untuk dipilih menjadi pejabat.
  5. Rakyat mempunyai hak untuk menyuarakan pendapatnya.
  6. Rakyat mempunyai hak untuk memperoleh sumber-sumber informasi alternatif.
  7. Rakyat berhak membentuk lembaga atau organisasi independen.

Secara teologis, penerimaan intelektual muslim terhadap demokrasi didasarkan pada ajaran-ajaran Al-Qur’an (3: 159) “wa shawirhum fi al-amri”  dan praksis historis Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Dan Jalaludin Rahmat memandang demokrasi sebagai konsep bagi sistem politik dan hak asasi manusia. Prinsip-prinsip ini menyebabkan rakyat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan publik dan melindungi hak asasi manusia. Konsep ini tidak hanya sesuai dengan Islam tetapi juga merupakan perwujudan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa.

Sebagaimana dikutip oleh aden Widjan, Abdur Rahman wahid mendukung  demokrasi sepenuhnya dan mengakui kedaulatan rakyat dalam konteks kehidupan berbangsa. Menurutnya kehendak rakyat harus dikontrol oleh konstitusi negara, sementara Islam (syariah) harus difungsikan sebagai faktor komplementer terhadap komponene-komponen lain dalam kehidupan berbangsa.implementasi perintah Islam adalah urusan pribadi, yang dapat secara optimal berfungsi sebagai etika sosial dan kekuatan moral.

Pemikiran sosial politik tokoh-tokoh umat Islam di Indonesia dapat dikatagorikan sebagai berikut

  1. Neo Modernisme

Teori ini berasumsi bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernisme, bahkan kalau mungkin Islam akan menjadi ajaran yang memimpin di masa depan tetapi hal itu akan menghilangkan tradisi keislaman yang telah mapan, dengan menggunakan dalil memelihara yang lama yan baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik.

  1. Sosialisme-Demokrasi

Dampak dari semua kemajuan masyarakat modern, kini dirasakan demikian fundamental sifatnya. Ini dapat ditemui dari beberapa konsep yang diajukan oleh kalangan agamawan, ahli filsafat dan ilmuan sosial untuk menjelaskan persoalan yang dialami oleh masyarakat. Misalnya, konsep keterasingan (alienation) dari Marx dan Erich Fromm, dan konsep anomie dari Durkheim. Baik alienation maupun anomie mengacu kepada suatu keadaan dimana manusia secara personal sudah kehilangan keseimbangan diri dan ketidakberdayaan eksistensial akibat dari benturan structural yang diciptakan sendiri. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak lagi merasakan dirinya sebagai pembawa aktif dari kekuatan dan kekayaannya, tetapi sebagai benda yang dimiskinkan, tergantung kepada kekuatan di luar dirinya, kepada siapa ia telah memproyeksikan substansi hayati dirinya

Konsep demokrasi bisa diterima oleh kalangan pemikir Islam adalah karena beberapa prinsip dalam demokrasi selaras dengan prinsip Islam antara lain prinsip musyawarah. Karena bahwa demokrasi adalah teknis yang terakhir dan terbaik yang telah dicapai oleh manusia dalam pelaksaaan musyawaroh hingga saat ini. Namun demikian ia bukanlah capaian yang paling terahir dan paling terbaik secara mutlak, akan teapi secara nisbi, yaitu sampai saat ini demokrasi masih yang terbaik diantara tehnik-tehnik yang telah dicapai oleh manusia untuk melaksanakan prinsip musyawarah.

 H. Penutup

  1. Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari tentang struktur sosial dan proses-proses sosial, dan perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah atau norma sosial, lembaga sosial, kelompok serta lapisan sosial. Proses  sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama.
  2.  Menurut Islam manusia mempunyai tiga kemuliaan yaitu; Karamah fardiyyah (kemuliaan individual), artinya Islam melindungi aspek-aspek kehidupan manusia baik aspek spiritual maupun aspek material. Karamah Ijtimaiyyah (kemuliaan kolektif)  bahwa Islam menjamin sepenuhnya persamaan di antara individu-individu. Karamah Siyasiyyah (kemuliaan secara politis) yang berarti  Islam memberi hak politik pada individu-individu untuk memilih atau dipilih pada posisi politik, karena mereka adalah wakil Allah.
  3.  Masyarakat Islam terbentuk dari tiga unsur yaitu: pertam unsur manusia yang terdiri dari kumpulan individu dan satu masyarakat primer, yakni keluarga. Kedua unsur ajaran Islam yang diyakini kebenarannya yang menjadi pengikat antara individu mauslim dan satuan primer. Ketiga unsur lingkungan alam sebagai kesatuan pemukiman hidup manusia.
  4. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk menjadi golongan masyarakat yang baik, yaitu menyuruh kepada yang makruf (humanisasi atau emansipasi), dan mencegah dari yang mungkar (liberasi), sedangkan beriman kepada Allah (transendensi). Tujuan humanisasi adalah memanusiakan manusia. Tujuan liberasi adalah pembebasan bangsa dari kebodohan, kekejaman, dan kemiskinan.  Sedangkan tujuan transendensi adalah menambah dimensi transendental dalam kebudayaan.
  5. Makna Islam adalah tajdid atau islah yang berarti membebaskan. Proses pembebasan ini sekarang dikenal dengan sebutan Islamisasi. artinya membebaskan manusia dari belenggu  dan kultur kebangsaan yang bertentangan dengan Islam; dan juga pembebasan manusia dari pengaruh pemikiran sekuler serta pembebasan manusia dari dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil kepada fitrah atau hakekat kemanusiaannya yang benar. Gerakan Islamisasi sudah banyak dilakukan oleh para pemikir Islam terutama terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang memang terus berkembang seirama dengan perkembangan kultur, sosial, dan budaya masyarakat. Dengan gerakan Islamisasi tersebut diharapkan nilai-nilai ajaran Islam terus mewarnai dalam perilaku manusia sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Reference:

Abdur Rahman.Wahid. Masa Islam dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Dalam Prisma. Nomor Ekstra.

Aden Widjan SZ. Pemikiran dan Peradaban Islam. Safiria Insani Press. Jogjakarta. 2007.

Ahmad Munir, MA. Tafsir Tarbawi. Sukses Offset : jogjakarta. 2008.

Ahmad  Syafii Maarif . Islam Politik dan demokrasi di Indonesia dalam Aspirasi Umat Islam Indonesia. Lappenas: Jakarta. 1983.

Ignaz Goldziher. Madzahib al-Tafsir al-Islami. Terj. M. Alaika Salamullah. Mazhab Tafsir.eLSAQ Press. Jogjakarta: 2006.

Kuntowijoyo.Identitas Politik Umat Islam.Bandung: Mizan. 1997

Muhammad Syahrur. Metodologi Fiqh Islam Kontemporer. elSAQ Press; Jogjakarta. 2008.

Sarjono Soekanto pengantar sosiologi  PT.Raja Grafindo Persada: Jakarta. 1996.

Umar Tirta Raharja dan La Sula. Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta: 2000.

Waryono Abdul Ghafur. Tafsir Sosial. elSAQ Press: Jogjakarta. 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: