KONSEP ISLAM TENTANG MANUSIA, METAFISIKA PENDIDIKAN DAN MODERNISASI MASYARAKAT


KONSEP ISLAM TENTANG MANUSIA, METAFISIKA PENDIDIKAN  DAN MODERNISASI MASYARAKAT

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Modernisasi sekarang lagi marak dan terjadi dalam berbagai bidang, baik itu menyangkut bidang pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Pada  umumnya modernisasi dipelopori oleh ahli saints barat atau Eropa. Mereka memakai sistem sekularisme dan semacamnya dalam merumuskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka dari itu banyak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam. Disamping itu juga umat islam juga mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagaimana terjadi di Eropa.

Di belahan dunia Islam lainnya, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar “kedudukan kaum Muslim di Eropa” dan “dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim.” Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim.

Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi.

Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul “Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa” membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu saja.

Namun dibalik hal itu terdapat bermacam-macam cobaan ataupun tantangan baik yang disebabkan karena perkembangan islam itu sendiri maupun dari orang non islam. Karena perkembangan yang demikian pesatnya maka akan menimbulkan masalah-masalah di bidang pendidikan dan metafisika pendidikan juga cara untuk menghadapi perkembangan zaman atau modernisasi yang terjadi sekarang ini yang sangat komplek dan membutuhkan pemecahan dengan cepat. Maka dari itu kita membutuhkan konsep yang matang mengenai pandangan islam tentang manusia dan metafisika pendidikan islam dan juga tentang strategi untuk menanggulangi dampak negatif dari modernisasi.

Maka dari itu kami akan menulis mengenai konsep-konsep manusia menurut islam dan juga metafisika. Kami juga akan berusaha mengungkap tentang misteri strategi dalam menanggapi modernisasi, yang kami ambil dari berbagai referensi dan pengetahuan yang saya miliki.

B.     Konsep Islam Tentang Manusia Dan Metafisika Pendidikan

Manusia adalah makhluk Allah swt. dan bagian dari alam bukan ada dengan sendirinya, tetapi dijadikan oleh Allah swt. Hal ini sesuai dengan firmanNya dalam QS. Ar-Ruum ayat 40. Tuhan, Allah swt. menciptakan dan menghidupkan manusia di muka bumi ini agar manusia itu mengabdi kepadanya artinya sebagai pengabdi Allah swt. Hal ini sesuai dengan firmanNya dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Dalam hubungannya dengan pendidikan, maka pandangan Islam terhadap manusia dapat dilihat dari empat titik saja, yaitu:

  1. Manusia sebagai makhluk yang mulia.
  2. Manusia sebagai makhluk Allah swt. di muka bumi.
  3. Manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab.
  4. Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik.

Dalam Islam, manusia dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi dan seluruh ciptaan lainnya tunduk kepada manusia. Menurut al-Qur’an setelah menciptakan manusia pertama Adam, Tuhan mengajarkan kepadanya nama-nama segala benda. Dengan kebesarannya Tuhan menciptakan segalanya dari tiada menjadi ada, dan menurut al-Qur’an Tuhan adalah awal dan akhir. Satu-satunya yang maha kuasa pada awalnya yang hingga akhirnya tetap satu juga. Kehendaknya adalah sumber ciptaan, dan setiap unsur ciptaan memanifestasikan kekuasaan Allah. Karena itu setiap obyek dalam ciptaan menunjukkan kualitas atau sifat-sifat Tuhan.

Agar anak-anak Adam mungkin mencoba untuk menjadi wakil Tuhan di bumi dan menguasai semua ciptaaan di bawah perintah Tuhan, Tuhan memberikan pengetahuan kepada umat manusia melalui orang-orang yang dipilihnya yang dikenal sebagai Nabi-nabi. Tuhan mengajarkan kepada nabi-nabi prinsip-prinsip dan metode-metode untuk menerapkan norma-norma obyektif dan universal yang berasal dari sifat-sifat Tuhan dan dapat diterapkan terhadap situasi yang berubah. Prinsip-prinsip dan metode-metode itu diberikan kepada Nabi Muhammad dalam bentuknya yang lengkap dan final melalui peran-peran firman yang diturunkan dan diabadikan dalam al Qur’an disamping melalui watak, sabda dan perbuatan Nabi sendiri. Firman-firman itu memberikan kepada manusia sebuah hukum yang lengkap tentang kehidupan.

Menurut ajaran agama islam, kalau seorang mematuhi hukum itu dengan jujur dan ikhlas, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang seimbang dan diatas kehendak Tuhan, ia mungkin akan dapat mencapai tujuannya dan menjadi khalifatullah (wakil Tuhan di bumi). Adapun tujuan akhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya.

Dari uraian diatas maka timbullah pemikiran-pemikiran dasar, yaitu pertama, konsep islam tentang manusia mempunyai keluasan dan jarak yang d tidak dimiliki oleh konsep tentang manusia yang manapun. Karena manusia dapat menjadi Khalifatullah  dengan menanamkan atau mewujudkan dalam dirinya sifat-sifat Tuhan dan karena sifat-sifat ini mempunyai dimensi yang tidak terbatas, kemajuan moral, spiritual da intelektual manusia juga tidak terbatas.

Kedua, karena pengetahuan adalah sumber kemajuan dan pengembangan, Islam tidak meletakkan rintangan apapun terhadap kemajuan pencapaian pengetahuan ini.

Ketiga, jangkauan penguasaan ini harus seutuhnya dengan memiliki keahlian intelektual karena dalam isolasi seseorang tidak dapat mempertahankan pertumbuhan yang seimbang.

Keempat, aspek-aspek spiritual, moral, intelektual, imajinatif, emosional, dan fiskal dari kepribadian seseorang tetap diamati  dalam membentuk interelasi diantara disiplin-disiplin itu.

Kelima, perkembangan pribadi dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dan alam. Karena itu, pengorganisasian disiplin dan pengaturan subyek yang direncanakan dengan acuan pada manusia sebagai individu, manusia sebagai makhluk sosial, dan manusia sebagai makhluk yang harus hidup dalam harmoni dengan alam. Kepribadiannya, eksistensinya secara kolektif dan eksistensinya sebagai kesatuan yang alamiah diatur atau dipersiapkan oleh hubungannya dengan Tuhan.

Dengan demikian hierarki pengetahuan harus dimantapkan. Semua cabang ilmu pengetahuan tidak memiliki status yang sama: pengetahuan spiritual mendapat prioritas tertinggi. Moralitas didasarkan pada pengetahuan itu dan karena moralitas mengatur perilaku manusia baik secara individual maupun secara kolektif, maka berdasarkan nila-nilai universal pulalah tergantungnya kemajuan material.

C.     Modernisasi dan Masyarakat Muslim

Pendidikan adalah sebuah aktifitas manusia yang memiliki maksud tertentu, yang diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Konsep pendidikan islam tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpoa lebih dulu memahami penafsiran islam tentang pengembangan individu sepenuhnya. Hanya melalui perbandingan konsep manusia dan pengembangannya dengan berbagai konsep yang timbul dalam masyarakat modern, barulah kita dapat memahami sifat berbagai problem yang kita hadapi dan cara menjawabnya. Adapun tujuan akhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya.

Sejauh mana definisi ini dapat diterima oleh sebuah masyarakat modern tergantung pada penilaian kita terhadap masyarakat itu, bagaimana masyarakat itu menilai manusia dan takdirnya dan karena itu bagaimana masyarakat menghendaki kepribadiannya berkembang. Persetujuan masyarakat tersebut juga tergantung pada pertimbangan-pertimbangan praktis dan historis dan pada dasar-dasar kebenaran yang diberikan metafisika Islam.

Dalam sebuah masyarakat modern, merencanakan pendidikan atas dasar metafisika ini tidaklah mudah, karena masyarakat meragukan, menantang bahkan meragukan asumsi lama tentang masyarakat. Sebuah masyarakat tetap adaa sebagai sebuah lembaga yang menaytu hanya selama semua anggota masyarakat itu menyetujui secara mutlak asumsi-asumsi itu dan menganggapnya sebagai basis hukum kehidupan mereka termasuk hukum tentang keyakinan dan etika.

Dengan merenungkan masalah-masalah besar yang dihadapi oleh umat manusia pada masa sekarang ini, dengan melakukan refleksi terhadap kenyataan – kenyataan empiris yang sangat mempengaruhi kesadaran manusia di dunia modern dewasa ini, kita akan dapat lebih memahami bagaimana masa depan kemanusiaan kita. Apakah kita masih dapat mempertahankan martabat kemanusiaan kita ataukah kita akan larut dalam gelombang besar kecanggihan peradaban manusia di bumi ini.

Secara etimologis modern berasal dari bahasa latin modo yang berarti masa kini atau mutakhir. Mutakhir disini punya kedekatan makna dengan cara zaman sekarang ini atau sesuai dengan masa yang paling baru. Istilah lain yang diperkenalkan oleh Bahtiar Rifa’i bahwa modern berasal dari bahasa latin Modernus, modo berarti akhir-akhir ini atau tadi, sedangkan ernus merupakan akhiran katerangan waktu. Dalam istilah konsep Darwin (1809-1882) istilah modern punya arti yang sama dengan Up to date , progresif dan maju.

Istilah modern ini dianggap sebagai lawan dari istilah ancient atau tradisional. Dengan demikian, kedua istilah itu merupakan tipe idela dari dua tatanan masyarakat yang berbeda. Pada umumnya, dalam pengertian modern, tercakup ciri-ciri masyarakat tertentu yang ditemui sekarang ini. Istilah modern kemudia berkembang menjadi istilah teknis akademis. Modernisasi yaitu proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Seperti pandangan A. Scalapino yang memahaminya sebagai suatu proses dimana suatu masyarakat atau kawasan (region) tertentu menselaraskan diri dengan tuntutan dan kesempatan waktu, dengan tujuan-tujuan untuk memajukan ekonomi, harmoni sosial dan stabilitas politik. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam modernisasi suatu masyarakat adalah pergantian tehnik produksi dari carea tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri. Dalam hal ini terdapat indikator bagaimana modern diartikan sebagai kekinian. Artinya terdapat dinamika perkembangan yang memberikan ruang artikulatif bagi manusia untuk secara lebih lanjut terlibat dalam proses pergeseran nilai dan perspektif yang melahirkan berbagai ragam tehnik yang secara sfesifik dikhususkan untuk bidang tertentu saja.

Banyak diantara tokoh yang mengemukakan konsep tentang modernisasi termasuk para pemikir Indonesia. Light dan Keller mengartikan modernisasi sebagai perubahan nilai-nilai, lembaga-lembaga dan pandangan yang memindahkan masyarakat ke arah industrialisasi dan urbanisasi. Sedangkan dalam pandangan Mukti Ali, modernisasi adalah proses dimana rakyat dalam kulturnya sendiri menyesuaikan dirinya terhadap kebutuhan-kebutuhan waktu dimana mereka hidup. Kemudian Koentjaraningrat mengartikan modernisasi sebagai usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang.

Dari diskripsi di  atas sesungguhnya era modern memerlukan kesiapan bagi manusia untuk secara proaktif menghadapi realitas zaman yang senantiasa terus bergumul dengan situasi kemanusiaan. Tema tentang situasi kemanusiaan di zaman modern menjadi penting dibicarakan, mengingat dewasa ini manusia menghadapi bermacam-macam persoalan yang benar-benar membutuhkan pemecahan segera. Kadang-kadang kita merasa bahwa situasi yang penuh problematik di dunia modern justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia itu sendiri. Di balik kemajuan IPTEK, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik , serta membangun peradaban maju untuk dirinya sendiri. Sejak manusia memasuki zaman modern, yaitu manusia sudah mampu mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka memang telah membebaskan diri dari belenggu mistis yang irrasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang sangat mengikat kebebasan manusia. Tapi ternyata di dunia modern manusia tidak dapat melepaskan dari jenis belenggu yang lain, yaitu penyembahan kepada dirinya sendiri.

Tuhan diabaikan dari pertimbangan, karena itu kekekalan sifat-sifat Tuhan dianggap sebagai teori metafisika yang dirumuskan oleh manusia pada suatu ketika dalam sejarah manusia. Ahli sosiologi modern mengistilahkan perubahan dalam masyarakat ini sebagai sekulerisasi yang menurut keyakinannya merupakan sumbangan terbesar sains moden terhadap sejarah manusia. Sekulerisasi menurut mereka adalah pembebasan manusia pertama dari sikap religius dan kemudian dari kontrol metafisika atas nalar dan bahasanya.

Dengan demikian sekulerisasi telah menimbulkan kekecewaan alam, desakralisasi politik dan dekonsentrasi nilai-nilai. Hanya karena alam dipisahkan dari kehendak Tuhan, maka manusia dibebaskan dari larangan hukum agama. Manusia di barat mempunyai kekuasaan untuk membuat dan memperbaiki undang-undang sesuai dengan perubahan kondisi masyarakat.

Dengan memisahkan nilai-nilai dari sumber religiusnya (Tuhan dan sifat-sifatNya), proses sekulerisasi telah menghancurkan konsep keagungan dan kemuliaan manusia, cita-citanya untuk menjadi Khalifatullah serta norma obyektif dan universal dengan apa manusia dapat dinilai. Dalam konteks demikian maka kedudukan manusia mengalami degradasi. Manusia yang tadinya dianggap sebagai pusat alams semesta, kini telah berubah menjadi sekedar unsur suatu sistem ekonomi atau sistem politik.

Modernitas selain membawa implikasi positif juga membawa dampak negatif bagi dunia islam. Problem yang ditimbulkan oleh modernitas dilingkungan kaum muslim semakin terasa berat karena sejumlah faktor berikut, yaitu adanya tekanan demografis yang menimpa masyarakat islam sejak tahun 50-an yang bandingannya dalam dunia; despotisme lembaga politik dan ekses idiologi luar seperti liberalisme, sekulerisme, komunisme, dan lainnya yang tidak sesuai dengan kebutuhan kaum muslimin.

Ada tiga hal yang mendasari munculnya modernitas:

  1. Ilmu pengetahuan yang berujung pada rasionalisme.
  2. Negara bangsa yang bermuara pada nasionalisme.
  3. Peminggiran peran agama yang berujung pada sekulerisme.

Katiga hal tesebut menjadi problem sekaligus tantangan bagi kaum muslimin dengan datangnya modernitas ke dunia islam sejak abad ke 19.

Adanya keterputusan antara modernitas budaya dan intelektual dikalangan umat islam telah menyebabkan timbulnya problem intelektual, maka problem pertama yang menjadi tantangan kaum muslim terkait erat dengan problem rasionalitas. Problem intelektual lainnya adalah masalah penerimaan ilmu pengetahuan barat. Dalam hal ini jika sejarah klasik islam dianalisis, maka akan dijumpai fakta bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani telah diserap secara gencar mulai abad 8/9 oleh islam. Namun sejak abad ke 9, nampak usaha-usaha menentang penyebaran pengetahuan rasional yang bertolak belakang dari ilmu-ilmu keagamaan tradisional.

Rasionalisme, nasionalisme dan sekularisme secara bersamaan menjadi problem sekaligus tantangan bagi dunia islam terletak pada penempatan absolutifitas ajaran Tuhan. Ketiganya menempatkan nilai absolutifitas tersebut tidak pada posisi yang fundamental memperngaruhi berbagai bidang kehidupan manusia. Terlebih dalam bidang-bidang yang membutuhkan institusi yang secara fungsional meletakkan sistem tertentu dalam aplikasinya semacam poilitik dan ekonomi. Keduanya sama sekali tidak berkaitan dengan legitimasi nilai-nilai ilahi melainkan berjalan sendiri secara sekuler. Hal ini disebabkan landasan sistem yang berlaku merupakan produk rasionalisme dengan moralitas baru yang didasarkan pada artikulasi kekuatan rasio manusia secara mutlak.

Jelas tidak mungkin mengkompromikan islam dengan sekularisme, dimana sekulerisme berarti pendekatan ilmiah modern terhadap pengetahuan dan pola hidup, maka tidak ada penyesuaian yang dapat diterima. Apa yang dikatakan Qur’an dalam konteks serupa juga benar. Orang-orang muslim tidak dapat menjadi modern dalam pengertian diatas kopromi tidak mungkin dilakukan antara kafir dengan iman, ketidakpercayaan dengan kepercayaan, sekulerisme dan islam. Orang-orang muslim tidak dapat mempercayai asumsi dasar bahwa kebudayaan dan peradaban islam sama dengan peradaban barat modern.

Kalaupun sarjana muslim melakukan penelitian dan mampu merumuskan konsep-konsep islam sejati untuk dapat mengahdapi tantangan konsep-konsep sekuleris, maka pendidikan formal saja tidak dapat memecahkan masalah tersebut kecuali langkah-langkah juga diambil guna menciptakan perlawanan terhadap sikap ilmiah modern serta lingkungan yang telah dimodernisasikan dan dimekanisasikan. Karena itu, problem orang-orang muslim jauh lebih kompeks daripada masalah hanya menggantikan konsep sekularis dengan konsep islam yang bertolak dari Qur’an dan sunnah.  Modernisasi secara besar-besaran kini sedang berlangsung di semua negara muslim.

Sains modern mendukung konfrontasi antara manusia dan alam, sedangkan Islam senantiasa menganjurkan dengan tegas adanya keselarasan antara manusia dengan alam. Baru belakangan ini saja para ahli sains menyadari bahwa eksploitasi alam harus dihentikan, bahwa pemecahan secara teknis terhadap problem ekologi hanya memperbesar masalah dan menciptakan bahaya baru. Namun, mereka belum juga dapat merubah kebiasaan teknologi mereka.

D.     Strategi Menghadapi Perkembangan IPTEK.

Dengan demikian tidaklah berarti tidak ada lagi harapan bagi masyarakat modern. Dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya dari penghancuran diri adalah meninggalkan sains dan teknologi secara serta merta. Masalahnya bukanlah mengontrol soal sains dan teknologi saja, tetapi juga orang yang membuat dirinya teratur oleh teknologi.

Manusia begitu tergila-gila pada prestasi material, sukses duniawi, efisiensi dan kesenangan dengan mengijinkan pembaharuan teknologis yang tidak terkontrol dan mengabaikan penyakit ekologi dan sosial mereka. Sikap ini harus diubah, dari sikap yang secara total teknologis menjadi sikap yang mengekang sains dan teknologi dan mengaturnya kembali menjadi sebuah instrument untuk kepentingan moral.

Humanisasi teknologi dapat dilakukan hanya kalau manusia menyetujui prinsip bahwa ia harus menyembah penciptanya dan bukan pencapaiannya, bahwa ia harus hidup selaras dengan alam dan belajar mengendalikan nafsunya dan hidup tanpa konflik atau perang dan terombang-ambing oleh kebijaksanaan yang mengagungkan diri sendiri atau cinta kekuasaan.

Kekuasaan luara biasa yang diberikan teknologi kepada manusia, telah membuat semakin pentingnya manusia mengendalikan dirinya secara ketat. Ia dapat melakukan ini hanya kalau ia mencintai Tuhan dan nabi melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, keluarganya atau negaranya, karena dengan hanya begitu ia akan dibimbing oleh undang-undang yang lebih penting pada hukum kepentingan diri sendiri dalam masyarakat modern.

Masyarakat muslim masih tetap memegang asumsi dasarnya, walaupun asumsi itu mendapat kecaman sengit; pihak berwenang harus menerima supremasi al-Qur’an dan Sunnah walaupun mereka mungkin tidak mematuhinya secara ketat; masyarakat juga masih tetap membutuhkan Tuhan dan nabinya dan tetap menghormati semua nabi. Kalau para sarjana Muslim dapat merumuskan sesuatu yang religius sebagai pengganti konsep sekularis bagi semua cabang ilmu pengetahuan dan dapat melaksanakan sebuah sistem pendidikan yang layak, semua itu akan menjadi pembuka mata bagi masyarakat modern di Barat.

Karena itu, konsep pendidikan Islam seperti yang diungkapkan dalam bagian terdahulu bab ini, perlu ditafsirkan dan dilaksanakan dalam konteks kehidupan modern. Untuk mengatur kembali teknologi dan menggunakannya bagi manfaat manusia dan kehidupan secara luas untuk menyelamatkan manusia dari dehumanisasi dan, yang lebih penting lagi untuk menyegarkan kembali tujuan dan sasaran kehidupan dan menciptakan idaman dalam diri manusia untuk tumbuh sebagau kepribadian yang seimbang dan maju terus dengan keyakinan, kepercayaan dan kesenangan menuju perwakilan yang dijanjikan Tuhan, marilah kita menegaskan kembali hierarki nilai-nilai, marilah kita merumuskan kembali konsep ilmu-ilmu sosial dan alam serta kemanusiaan, marilah kita melakukan re-organisasi dan mengatur kembali, marilah kita melatih guru-guru kita agar mereka dapat mananamkan nilai-nilai itu dalam diri anaka didik melalui watak dan cara mereka mengajar. Hanya dengan begitu pendidikan benar-benar akan menjadi Islam. Dan kita dapat berharap mendapatkan keadaan yang lebih baik, keselamatan dan keamanan umat manusia.

Pada intinya strategi untuk menghadapi perkembangan IPTEK ialah dengan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan ibadah dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pengadaan pendidikan islam yang sejati. Disamping itu juga kita harus memfilter IPTEK yang masuk ke dalam kehidupan kita, apakah sudah sesuai dengan FirmanNya atau belum, karena jika IPTEK tersebut tidak dilandasi sekularisme pasti sesuai dengan FirmanNya. Kita juga memperbaharui epistemologi IPTEK yang berkembang dan menyesuaikan dengan doktrin yang kita miliki.

E.     Kesimpulan

  1. Manusia menurut islam mempunyai 3 tugas, dan juga merupakan makhluk yang paling mulia. Sementara itu metafisika pendidikan mengatakan bahwa ilmu tersebut semua berasal dari Tuhan dan manusia tersebut diberi potensi dasar untuk mengembangkan ilmu dari Tuhan.
  2. Modernisasi sebagai usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang. Sementara itu mengenai tanggapan masyarakat muslim terhadap modernisasi adalah menerima perkembangan yang sudah ada dengan berbagai filter yang sudah dimiliki masyarakat muslim.
  3. Strategi untuk menghadapi perkembangan IPTEK ialah dengan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan ibadah dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pengadaan pendidikan islam yang sejati. Disamping itu juga kita harus memfilter IPTEK yang masuk ke dalam kehidupan kita, apakah sudah sesuai dengan FirmanNya atau belum, karena jika IPTEK tersebut tidak dilandasi sekularisme pasti sesuai dengan FirmanNya. Kita juga memperbaharui epistemologi IPTEK yang berkembang dan menyesuaikan dengan doktrin yang kita miliki.

F.      Saran

Sebagai bagian dari masyarakat muslim kita harus senantiasa mengembangkan dan berusaha memajukan ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dalam masyarakat muslim dapat bersaing dengan non muslim. Selain itu juga sudah merupakan tugas kita untuk mencari ilmu dan mengembangkan ilmu dan tradisi keilmuan dalam masyarakat muslim, karena hal tersebut wajib bagi semua orang islam. Dan hendaklah kita mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan tersebut dengan ketaqwaan dan keimanan kepada Allah.

Disamping itu hendaklah kita mengembangkan metafisika islam dan menanamkan konsep-konsep pendidikan islam ke dalam pendidikan islam untuk ditransfer kepada peserta didik, dan juga hendaklah membentengi diri dengan Imtaq dari dampak negatif modernisasi.

Sekian

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: