KURIKULUM PEREKAT BANGSA


KURIKULUM PEREKAT BANGSA

(Empat Mata Pelajaran yang terstandarisasi Nasional Untuk merekatkan Bangsa)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara tanah air yang sudah merdeka sejak tahun 1945 pada tanggal 17 bulan agustus. Sampai sekarang kemerdekaannya sudah lebih dari 67 tahun. Maka dari itu, hendaklah kemerdekaan yang sudah cukup lama ini diisi oleh ronde-ronde kemerdekaan. Hendaklah para penerus generasi bangsa khususnya para pemuda dari kalangan terdidik mempunyai jiwa nasionalisme yang cukup kuat, seiring dengan adanya sistem komunikasi dan informasi yang semakin canggih. Diharapkan sistem komunikasi dan informasi yang semakin canggih tersebut menambah rasa dan jiwa nasionalisme para generasi penerus bangsa ini semakin kuat.

Namun, kondisinya malah tidak demikian. Paham anti nasionalisme telah tumbuh dan menjadi jamur parasit yang membuat semuanya bertambah rusak. Kalangan pemuda dan penerus bangsa menganggap bahwa setelah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga semakin majunya komunikasi dan informasi, maka nasionalisme dan jiwa nasionalisme tidak lagi diperlukan. Tidak lagi ada keinginan untuk bersatu, dan menghormati terhadap sesama, atau rasa kebhineka tunggal ika-an. Anak muda dan penerus bangsa lebih cenderung memilih bersikap sekulerisme, individualisme dan pragmatisme. Mereka sudah tidak begitu mempedulikan urusan-urusan bangsa atau urusan umum.

Maka dari itu, muncullah kurikulum perekat bangsa. Kurikulum yang diharapkan bisa menambah kokoh jiwa nasionalisme penerus bangsa. Karena apa jadinya bangsa ini jika generasi penerusnya tidak mempunyai jiwa nasionalisme. Diharapkan dengan adanya kurikulum ini para peserta didik mendapat pembinaan nasionalisme sejak dini, sehingga jiwa nasionalismenya tumbuh dengan baik, dan tidak muncul paham anti nasionalisme lagi. Ada beberapa hal yang ditanamkan dalam kurikulum tersebut, antara lain yaitu: NKRI, Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan Indonesia Raya. Di samping itu, diharapkan simbol-simbol nasionalisme dan kebangsaan Indonesia selalu diingat oleh generus bangsa. Tak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Nampaknya anak muda lebih suka menyanyi lagunya Ayu Ting-Ting atau lagunya Grup Band yang lain daripada menyanyi lagu perjuangan dan lagu Nasional. Padahal nilai-nilai karakter bangsa yang ditanamkan dalam lagu-lagu perjuangan dan Nasional tersebut sangatlah besar, namun anak muda zaman sekarang sudah tidak mau lagi menyanyikan lagu tersebut, katanya “nggak gaul”, “norak” “kurang maco” “ketinggalan zaman”. Itulah hal-hal yang sudah merasuk ke dalam jiwa penerus bangsa. Kalau tidak mulai ditanamkan dari sekarang, kapan lagi. Kalau generasi mudanya sudah seperti itu, mau dibawa kemana bangsa ini?

Maka dari itu, Menteri Pendidikan mengemukakan perlunya kurikulum perekat bangsa, yaitu adanya mapel sebagai perekat bangsa. Mapel tersebut akan dijadikan sebagai kurikulum nasional dengan substansi yang terstandar secara nasional dan diajarkan di sekolah-sekolah (dan madrasah) sehingga menimbulkan jiwa dan semangat kebangsaan di masyarakat. Bahkan Pak Nuh menyatakan terdapat 4 mapel yang akan dijadikan sebagai kurikulum nasional perekat bangsa, yaitu mapel Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia dan Matematika. Sekarang ini Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemdikbud sedang mempersiapkan segala sesuatu agar keempat mapel perekat bangsa tersebut dapat dinasionalkan untuk diajarkan di sekolah. Sebagai catatan, sekarang pun keempat mapel tersebut sudah diajarkan di sekolah tetapi subtansinya belum dinasionalkan

Melalui mapel perekat bangsa yang diajarkan di sekolah diharapkan jiwa dan semangat kebangsaan generasi muda akan muncul, dan kalau jiwa dan semangat kebangsaan para intelektual muda Indonesia sudah terbentuk maka munculnya ego-sektoral, ego-primordial dan ego-religional akan bisa kita hindari, bahkan dikikis sejak dini. Dijadikannya mapel PKn sebagai kurikulum nasional karena pembelajarannya akan dimasukkan ideologi Pancasila yang mampu merekatkan bangsa. Pendidikan Agama diperlukan untuk membangun moral supaya generasi muda tidak radikal dan tidak fundamentalis. Bahasa Indonesia merupakan aset nasional yang terbukti telah mempersatukan bangsa, dan untuk mapel Matematika perlu adanya persamaan hingga harus distandarkan secara nasional dengan kurikulum nasional. Walaupun, masih banyak pendapat yang akan memasukkan mata pelajaran tertentu untuk menjadi mata pelajaran perekat bangsa atau mata pelajaran yang terstandarisasi nasional.

Sekian

Semoga Bermanfaat

One response

  1. bagus kalau pemerintah sudah mulai peduli dengan pendidikan tentang kurikulum perekat bangsa, ada lagi yang jangan sampai lupa mengenai nilai-nilai sejarah bangsa kita jangan sampai dihilangkan. nilai-nilai pancasila juga sangat penting untuk masa depan bangsa kita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: