MEMAHAMI ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN


MEMAHAMI ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Pengantar

Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting dalam hidup dan kehidupan manusia. Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakat. Dari dahulu sampai nantipun pendidikan itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial budaya dan perkembangan IPTEK. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan. Aliram-aliran ini harus dipahami oleh setiap calon tenaga kependidikan, terutama calon pakar pendidikan agar mereka mampu menangkap makna setiap gerak dinamika pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu.

Pemahaman itu akan membekali tenaga pendidikan dengan wawasan kesejarahan, yakni kemampuan memahami kaitan antara pengalaman-pengalaman masa lampau, tuntutan dan kebutuhan masa kini, serta perkiraan / antisipasi masa datang. Oleh karena itu, dalam artikel ini penulis akan menjelaskan berbagai macam aliran-aliran pendidikan baik aliran-aliran pendidikan klasik maupun modern untuk memudahkan memahami dan membedakan antara aliran dengan yang lainnya.

B.    Aliran-Aliran Klasik

  1. Aliran Empirisme

Empirisme berasal dari bahasa latin. Asal katanya empiricus yang berarti pengalaman. Aliran ini dinamakan aliran “tabula rasa”. Artinya meja berlapis lilin yang belum ada tulisan di atasnya. Atau bisa dikatakan bahwa seseorang yang lahir itu ibarat kertas kosong yang belum ditulisi apa-apa. Pendidikan sepenuhnya diserahkan pada lingkungan. Perkembangan seseorang tergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam kehidupannya. Oleh karena itu, aliran ini dinamakan aliran optimis dalam pendidikan.

Tokoh perintis pandangan ini adalah John Lock (1704-1832) seorang filsuf Inggris yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”. Menurut pandangan empirisme pendidikan memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman yang tentunya sesuai dengan tujuan pendidikan.

Aliran empirisme ini dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Padahal dalam kenyataannya banyak anak yang berhasil karena berbakat meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung.

  1. Aliran Nativisme

Nativisme  berasal dari bahasa latin nativius yang berarti terlahir. Seseorang berkembang berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang.

Pelopornya, Schoupenhauer (1788-1880), filosof berkebangsaan Jerman. Ia berpendapat mendidik ialah membiarkan seorang tumbuh berdasarkan pembawaannya. Jadi bisa dikatakan bahwa hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Atau dengan kata lain, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri.

Pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas adalah bahwa dalam diri individu terdapat suatu “inti” pribadi yang mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemampuan bebas.

  1. Aliran Naturalisme

Naturalisme berasal dari bahasa latin nature yang berarti alam, tabiat dan pembawaan. Ciri utama aliran ini yakni dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain pembawaan yang baik supaya berkembang secara spontan.

Aliran ini dapat dinamakan megativisme, yaitu aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang, karena ia dilahirkan dengan pembawaan yang baik. Pendidikan hendaknya dimulai dengan mempelajari perkembangan anak agar  pembawaannya yang baik tidak dirugikan.

  1. Aliran Konvergensi

Konvergensi berasal dari bahasa Inggris Convergency yang berarti pertemuan pada satu titik. Aliran ini mempertemukan atau mengawinkan dua aliran yang berlawanan diatas; antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung pada pembawaan dan lingkungannya. Pembawaan seseorang baru berkembang karena mendapat pengaruh dari lingkungan. Hendaknya para pendidik dapat menciptakan suatu lingkungan yang tepat, cukup kaya atau beraneka ragam agar pembawaan dapat berkembang semaksimal mungkin.

Jadi pada intinya teori konvergensi:

1)      Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan

2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.

3)      Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

C.   Aliran-Aliran Modern

  1. Aliran Progresifisme

Aliran ini sangat berpengaruh dalam abad ke 20.  Pengaruhnya terasa diseluruh dunia, terlebih-lebih di Amerika Serikat. Usaha pembaharuan didalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progresifisme ini.

Progresifisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Progresifisme kuran menyetujui pendiidikan yang bersifat otoriter dan biasanya dihubungkan pula dengan pandangan hidup bebas atau memiliki sifat-sifat flexibel, corious, tolerant atau open minded.

Adapun, konsep Progresifisme tentang pendidikan adalah:

Pendidikan

Progresifisme menganggap pendidikan sebagai cultural transition. Pendidikan adalah lembaga yang mapu membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman demi survivenya manusia.

Belajar

Dalam hal belajar, aliran Progresifisme mempunyai konsep dan berpegang pada prinsip-prinsip:

  • Ilmu jiwa harus membimbing proses pendidikan dengan prinsip filsafat pragmatis.
  • Belajar sesungguhnya adalah pengalaman yang wajar.
  • Dalam proses belajar seluruh apek kepribadian harus ikut aktif.
  • Lingkungan anak sama fundamentalnya dengan kodrat dirinya sendiri.
  • Fungsi belajar selalu berkembang.
  • Progresifisme menolak kesimpulan ilmu jiwa tradisional anak.

Kurikulum

Progresifisme, menganggap kurikulum yang tepat adalah yang mempunyai nilai edukatif (pendidikan) dan aliran ini menghendaki isi kurikulum itu kaya dan bervariasi. Kurikulum harus bersifat dinamis dan yang dapat mendorong perkembangan. Pribadi yang meliputi perkembangan minat, berpikir serta kemampuan praktis.

Jadi pada intinya aliran ini selain memperhatikan kemajuan atau progres, lingkungan dan pengalaman sangat menentukan dalam proses pendidikan. Pendidikan harus mampu memfungsikan dirinya untuk membina manusia dalam hidupnya yang punya banyak persoalan yang silih berganti sepanjang zaman. Sehingga manusia sebagai subyek alam ini harus mampu menghadapi realita dinamis dan juga harus mampu menguasai semua perubahan sekarang dan yang akan terjadi di masa depan.

  1. Aliran Esensialisme

Aliran Esensialisme, didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan yang menganut aliran idealisme dan realisme.

Tujuan umum aliran ini adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akherat. Pendidikan harus bersendikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan kestabilan.

Adapun isi pendidikan menurut aliran Esensialisme ini mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia.

Kurikulum sekolah bagi Esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.

Jadi bisa dikatakan bahwa aliran ini mendasarkan diri pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia. Esensialisme tetap ingin membina nilai-nilai yang kekal dan permanen dari suatu sosial heritage (kebudayaan warisan) melalui pendidikannya. Atau dengan kata lain Esensialisme menganggap pendidikan sebagai pemelihara kebudayaan warisan.

  1. Aliran Parennialisme

Parennialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu, kebingungan sehingga tidak ada jalan lain selain dengan kembali kepada kebudayaan masa lalu yang dianggap cukup ideal dan yang telah teruji ketangguhannya.

Konsep Parennialisme ini dipengaruhi tiga tokoh utama, yaitu Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato manusia secara kodrati memiliki tiga potensi yaitu, nafsu, kemauan dan pikiran. Maka hendaknya pendidikan berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Menurut Aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan. Untuk mencapai tujuan itu maka pendidikan aspek jasmani, emosi, intelek harus dikembangkan secara seimbang. Sedangkan Thomas Aquinas mengatakan bahwa tujuan pendidikan itu untuk mewujudkan kapasitas yang ada dalam individu manusia agar menjadi aktualistas aktif dan nyata. Dalam hal ini peranan guru adalah mengajar memberi bantuan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya.

Prinsip-prinsip pendidikan Parennialisme telah mempengaruhi sistem pendidikan modern yaitu dengan pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi, sehingga terjadilah perjenjangan tingkat sekolah.

  1. Aliran Rekonstruksialisme

Aliran Rekonstruksialisme dalam satu prinsip sependapat dengan parennialisme bahwa ada kebutuhan amat mendesak untuk kejelasan dan kepastian bagi kebudayaan zaman modern sekarang yang mengalami kebimbangan dan ketakutan. Namun Rekonstruksialisme tidak sependapat dengan jalan pemecahannya yang dipilih parennialisme yaitu kembali pada kebudayaan lama. Tetapi menurutnya jalan yang dilakukan dengan mrombak tata susunan lama dan membangun tata susunan kebudayaan yang baru melalui lembaga dan proses pendidikan.

Rekonstruksialisme mempunyai tujuan mewujudkan dan melaksanakan sintesa : perpaduan antara ajaran agama dan demokrasi modern dengan teknologi modern dan seni modern di dalam satu kebudayaan yang dibina bersama-sama oleh seluruh kedaulatan bangsa sedunia. Untuk itu diwujudkannya melalui usaha pendidikan dan kerja sama semua bangsa-bangsa di dunia.

Dalam pendidikan aliran Rekonstruksialisme mempunyai konsep bahwa harus adanya lembaga pendiidikan yang bersifat internasional dan di dalam lembaga inilah dirumuskan kembali tentang sistem dan tujuan pendidikan dalam rangka mewujudkan peradaban dan perdamaian dunia yang kekal dan abadi.

  1. Aliran Eksistensialisme

Pada hakekatnya eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya. Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman dan situasi sejarah yang dialami dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak serta spekulatif. Baginya segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.

Drs H.A. Ali Saifullah, membedakan eksistensialisme sebagai berikut:

v  Filsafat pendidikan keagamaan

v  Filsafat pendidikan humanisme eksistensialis

v  Filsafat pendidikan humanisme ilmiah.

Pembahasan eksistensialisme membuka pikiran kita bahwa eksistensialisme melandaskan diri pada asas-asas peremajaan pikiran. Kehidupan suatu agama dan pendidikan membangun masyarakat secara kontinue dan asas kreativitas dalam pendidikan menunjang keberhasilan pendidikan. Disamping itu eksistensialisme sebagai filsafat pendidikan keagamaan memberikan tuntunan kepada kita bahwa Tuhan adalah hakim agung Yang Maha Bijaksana. Meskipun demikian manusia lebih memahami persoalan dunia dan kehidupannya termasuk kehidupan pendidikannya. Begitu pula eksistensialisme sebagai  aliran filsafat pendidikan membuka pikiran kita bahwa eksistensi manusia di dunia ini berbeda-beda tetapi tujuan sama dan di hadapan Tuhan sama pula derajatnya.

Sekian

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: