TINGKAH LAKU YANG MENYIMPANG


TINGKAH LAKU YANG MENYIMPANG

(Sebuah Kajian Psikologi Agama)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

ِA.     Pengantar

Dalam kehidupan manusia telah lama terdapat aturan-aturan yang mengatur kehidupan manusia. Aturan-aturan tersebut biasa disebut dengan norma-norma. Norma-norma itulah yang mengatur dan mengendalikan perbuatan-perbuatan manusia agar sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Jadi manusia supaya bisa hidup bermasyarakat dengan baik harus mengikuti norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat tersebut. Akan tetapi masih saja ada sebagian manusia yang berbuat tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku, hal inilah yang dimaksud dengan perilaku menyimpang.

Tingkah laku yang menyimpang ini banyak sekali terjadi dalam masyarakat. Dalam kehidupan beragama, penyimpangan-penyimpangan itu sering terlihat dalam bentuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Kami mengambil contoh penyimpangan keagamaan karena dalam agama terdapat aturan-aturan yang termasuk salah satu norma yang diakui dalam masyarakat. Dalam masyarakat beragama norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat tidak mungkin lepas dari nilai-nilai luhur agama yang mereka anut. Dari sinilah perilaku menyimpang dapat diketahui dengan jelas didasarkan pada tingkah laku yang menyalahi aturan atau tidak sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama.

Melihat kenyataan yang terjadi di sekitar masyarakat kita bahwa tidak jarang perilaku menyimpang telah terjadi dan itu dilakukan baik oleh individu maupun kelompok. Dan lebih parahnya, masyarakat yang lain tenang-tenang saja melihat hal tersebut seolah-olah itu hal biasa. Dari sini kami akan mencoba memberikan beberapa uraian-uraian mengenai suatu hal yang berhubungan dengan tingkah laku keagamaan yang menyimpang berdasarkan literatur-literatur yang kami miliki.

Dalam kehidupan sosial dikenal bentuk tata aturan yang disebut norma. Norma dalam kehidupan sosial merupakan nilai-nilai luhur yang menjadi tolok ukur tingkah laku sosial. Jika tingkah laku yang diperlihatkan sesuai dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai baik dan diterima. Sebaliknya, jika tingkah laku tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai buruk dan ditolak.

Tingkah laku yang menyalahi norma yang berlaku ini disebut dengan tingkah laku yang menyimpang. Penyimpangan tingkah laku ini dalam kehidupan banyak terjadi, sehingga sering menimbulkan keresahan masyarakat. Kasus-kasus penyimpangan tingkah laku seperti itu tak jarang pula berlaku pada kehidupan manusia sebagai individu ataupun kehidupan sebagai kelompok masyarakat. Dan dalam kehidupan masyarakat beragama penyimpangan yang demikian itu sering terlihat dalam bentuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang.

B.      Aliran Klenik

Klenik dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan akan hal-hal yang mengandung rahasia dan tidak masuk akal. Dalam kehidupan masyarakat, umumnya klenik erat kaitannya dengan praktik perdukunan, hingga sering dikatakan dukun klenik. Dalam kegiatannya dukun ini melakukan pengobatan dengan bantuan guna-guna atau kekuatan gaib lainnya.

Salah satu aspek dari ajaran agama adalah percaya terhadap kekuatan gaib. Bagi penganut agama masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang gaib ini umumnya diterima sebagai suatu bentuk keyakinan yang lebih bersifat emosional, ketimbang rasional. Sisi-sisi yang menyangkut kepercayaan terhadap hal-hal gaib ini tentunya tidak memiliki batas dan indikator yang jelas, karena semuanya bersifat emosional dan cenderung berada di luar jangkauan nalar. Karena itu tak jarang dimanipulasi dalam bentuk kemasan yang dihubungkan dengan kepentingan tertentu. Manipulasi melalui kepercayaan agama lebih diterima oleh masyarakat, sebab agama erat kaitannya dengan sesuatu yang sakral.

Hal inilah yang menjadikan perilaku dari seseorang menyimpang dari aturan-aturan yang telah berlaku khususnya norma keagamaan. Agama dijadikan alat untuk memanipulasi manusia supaya percaya dengan apa yang dilakukannya. Penyimpangan tingkah laku keagamaan yang dilakukan aliran klenik ini  menurut Robert H. Thouless dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologi sugesti. Dalam analisisnya mencontohkan bagaimana tukang hipnotis menyakinkan seseorang melalui persepsi yang diciptakannya.

Dalam kenyataan di masyarakat praktik yang bersifat klenik memiliki karakteristik yang hampir sama, yaitu:

  1. Pelakunya menokohkan diri selalu orang suci dan umumnya tidak memiliki latar belakang yang jelas (asing).
  2. Mendakwahkan diri memiliki kemampuan luar biasa dalam masalah yang berhubungan dengan hal-hal gaib.
  3. Menggunakan ajaran agama sebagai alat untuk menarik kepercayaan masyarakat.
  4. Kebenaran ajarannya tidak dapat dibuktikan secara rasional.
  5. Memiliki tujuan tertentu yang cenderung merugikan masyarakat.

Suburnya praktik ini antara lain ditopang oleh kondisi masyarakat yang umumnya awam terhadap agama namun memiliki rasa fanatisme keagamaan yang tinggi. Kondisi ini menjadikan masyarakat memiliki tingkat sugestibel yang tinggi, sehingga lebih reseptif gagasan baru yang dikaitkan dengan ajaran agama. Sebaliknya, tokoh klenik umumnya memiliki kemampuan untuk memberi sugesti.

Sugesti sebagai proses komunikasi yang menyebabkan diterima dan disadarinya suatu gagasan yang dikomunikasikan tanpa alasan-alasan yang rasional, tampaknya memang sering disalahgunakan dalam kasus-kasus keagamaan, terutama oleh mereka yang memiliki tujuan-tujuan tertentu. Fanatisme keagamaan yang tidak dilatarbelakangi oleh pengetahuan keagamaan yang cukup tampaknya masih merupakan lahan subur bagi muncul dan berkembangnya aliran klenik ini.

Faktor-faktor lain yang juga mendukung timbul dan berkembangnya aliran seperti ini adalah kekosongan spiritual dan penderitaan. Mereka yang memiliki kesadaran beragama yang rendah atau tidak sama sekali, umumnya, jika mengalami penderitaan, cenderung akan kehilangan pegangan hidup. Di saat-saat seperti itu pula, mereka menjadi sangat sugestibel. Oleh karena umumnya dalam kondisi yang putus asa seperti itu, praktik kebatinan seperti aliran klenik dianggap dapat menjanjikan dan merupakan tempat pelarian dalam mengatasi kemelut batin mereka.

Melihat kondisi seperti itu sudah seharusnya kita sadar dan berlomba-lomba untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Supaya kita bisa menjauhi hal-hal seperti itu dan juga tidak terpengaruh olehnya. Sebagai orang yang beragama mempercayai hal seperti itu merupakan perbuatan syirik, dan itu sangat dilarang oleh agama.

C.      Konversi Agama

Pengertian Konversi Agama

Secara etimologi konversi berasal dari kata lain “Conversio” yang berarti: tobat, pindah, dan berubah (agama). Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang mengandung pengertian: berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religion, to another). Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.

Sedangkan menurut terminologi pengertian konversi agama seperti yang dikemukakan oleh Max Heirich. Ia mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.

Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada. Selain itu, konversi agama yang dimaksudkan uraian diatas memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:

  1. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
  2. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
  3. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
  4. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itu pun disebabkab faktor petunjuk dari Yang Mahakuasa.

Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama

Para ahli agama menyatakan, bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk Ilahi. Pengaruh supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.

Sedangkan para ahli sosiologi berpendapat, bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:

  1. Pengaruh hubungan antar pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun nonagama.
  2. Pengaruh kebiasaan yang rutin.
  3. Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat.
  4. Pengaruh pemimpin keagamaan.
  5. Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi.
  6. Pengaruh kekuasaan pemimpin.

Lain halnya dengan para ahli psikologi, mereka berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern (kepribadian, pembawaan) maupun ekstern (keluarga, lingkungan tempat tinggal, perubahan status, kemiskinan). Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan ke luar yaitu ketenangan batin.

Satu lagi pendapat dari para ahli ilmu pendidikan yang menyatakan bahwa konversi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan argumentasi, bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama.

Berdasarkan pendapat-pendapat tentang faktor pendorong yang menyebabkan konversi agama terlihat jelas bahwa setiap para ahli melihat dari sudut kajiannya masing-masing. Ahli psikologi pasti memandang faktor tersebut dari sudut pandang psikologi sedangkan ahli sosiologi maka akan melihat dari sudut pandang sosiologi. Dari semua pendapat itu memungkinkan untuk mempengaruhi konversi agama.

Proses Konversi Agama

Proses konversi agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah gedung, bangunan lama dibongkar dan pada tempat yang sama didirikan bangunan baru yang lain yang sama dengan bangunan sebelumnya. Jadi bila pada seseorang atau kelompok, konversi agama seperti perubahan dari segala bentuk perasaan batin terhadap kepercayaan lama, seperti harapan, rasa bahagia, keselamatan, dan kemantapan berubah menjadi berlawanan arah.

Perasaan yang berlawanan itu menimbulkan pertentangan dalam batin, sehingga untuk mengatasi kesulitan tersebut harus dicari jalan penyalurannya. Umumnya apabila gejala tersebut sudah dialami oleh seseorang atau kelompok maka dirinya menjadi lemah dan pasrah atau pun timbul semacam peledakan perasaan untuk menghindarkan diri dari pertentangan batin itu. Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya bila yang bersangkutan telah mampu memilih pandangan hidup yang baru. Pandangan hidup yang dipilih tersebut merupakan petaruh bagi masa depannya, sehingga ia merupakan pegangan baru dalam kehidupan selanjutnya.

M.T.L. Penido berpendapat, bahwa konversi agama mengandung dua unsur, yaitu:

1.   Unsur dari dalam diri, yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok.

2.   Unsur dari luar, yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri seseorang atau kelompok, sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan.

Perubahan yang terjadi tetap melalui proses pentahapan dalam bentuk kerangka proses secara umum. Kerangka prose situ dikemukakan antara lain oleh:

  1. H. Carrier, membagi proses tersebut dalam pentahapan sebagai berikut:
    1. Terjadi disintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.
    2. Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru.
    3. Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.
    4. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
  2. Dr. Zakiah Daradjat memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui 5 tahap, yaitu: masa tenang, masa ketidaktenangan, masa konversi, masa tenang dan tenteram dan terakhir masa ekspresi konversi.

Jadi pada dasarnya proses konversi agama berlangsung secara bertahap. Dan secara umum bisa digambarkan dari seseorang atau kelompok yang semula tenang dalam artian acuh tak acuh terhadap agama yang dianutnya hingga kemudian muncul masalah baru yang menyebabkan adanya goncangan batin. Ia merasa tidak yakin dengan keyakinan yang ia anut hingga ia menemukan keyakinan baru dan dengan keyakinan yang baru itulah ia mulai menemukan ketenangan. Dengan ketenangan yang diperolehnya dari keyakinan baru tersebut ia akan mengungkapkan sikap menerima dan mengikuti keyakinannya itu. Segala perbuatannya didasarkan pada keyakinan baru yang ia yakini.

D.     Konflik Agama

Konflik agama sebagai bentuk perilaku keagamaan yang menyimpang, dapat terjadi karena adanya “pemasungan” nilai-nilai ajaran agama itu sendiri. Maksudnya, para penganut agama seakan “memaksakan” nilai-nilai ajaran agama sebagai “label” untuk membenarkan tindakan yang dilakukannya. Padahal, apa yang ia atau mereka lakukan sesungguhnya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama itu sendiri. Penyimpangan seperti itu antara lain oleh adanya sebab dan pengaruh yang melatarbelakanginya.

Pengetahuan Agama yang Dangkal

Ajaran agama berisi nilai-nilai ajaran moral yang berkaitan dengan pembentukan sifat-sifat yang luhur. Namun demikian, tidak semua penganut agama dapat menyerap secara utuh ajaran agamanya. Kelompok ini biasa dikenal sebagai masyarakat awam.

Secara psikologis, masyarakat awam cenderung mendahulukan emosi ketimbang nalar. Kondisi yang demikian itu, memberi peluang bagi masuknya pengaruh-pengaruh negative dari luar yang mengatasnamakan agama. Apabila pengaruh tersebut dapat menimbulkan respons emosional, maka konflik dapat dimunculkan. Tegasnya, mereka yang awam akan berpeluang untuk diadu-domba.

Fanatisme

Agama sebagai keyakinan pada hakikatnya merupakan pilihan pribadi dari pemeluknya. Pilihan itu tentunya didasarkan pada penilaian bahwa agama yang dianutnya adalah yang terbaik. Sebagai pilihan terbaik maka akan timbul rasa cinta dan sayang terhadap anutannya itu. Rasa sayang dan cinta yang berlebihan akan membawa seseorang tersebut kepada sikap fanatisme. Sikap ini akan menganggap apa yang dianutnya adalah yang paling benar dan agama yang lain adalah salah. Hal inilah yang bias menimbulkan konflik agama.

Agama sebagai Doktrin

Ada kecenderungan di masyarakat, bahwa agama dipahami sebagai doktrin yang bersifat normative. Pemahaman demikian menjadikan ajaran agama sebagai ajaran yang kaku. Muatan ajaran agama menjadi sempit hanya berkisar pada masalah iman-kafir, pahala-dosa, halal-haram dan surga-neraka.

Pemahaman ajaran agama yang dipersempit ini cenderung menjadikan pemeluknya menggunakan penilai hitam-putih, yang menjurus pada munculnya kelompok- kelompok ekstrim dalam bentuk gerakan sempalan yang eksklusif. Kondisi seperti itu bagaimanapun akan mengurangi sikap toleran yang dapat mengganggu hubungan antarsesama umat beragama.

E.      Terorisme dan Agama

Terorisme berasal dari. Kata teror, yang secara etimologis mencakup arti: 1. Perbuatan yang sewenang-wenang; 2. Usaha menciptakan ketakutan, kengerian,dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sedangkan terorisme berarti penggunaan kekerasan atau menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan, terutama tujuan politik. Jadi terorisme mungkin dilakukan oleh siapa saja, baik pemerintah, golongan atau perorangan.

Merujuk tujuan yang menjadi targetnya adalah politik, sebenarnya terorisme sama sekali tidak terkait dengan agama. Namun, akhir-akhir ini mulai berkembang suara bernada “miring” untuk mengaitkan terorisme dengan gerakan keagamaan.

Adapun sasaran media massa Barat mula-mula dilekatkan pada Lybia sebagai negara “sarang teroris” yang diperintah oleh seorang “megalomaniak” dan yang benar atau salah, selalu dihubung-hubungkan dengan gerakan pembantu teroris di berbagai pelosok dunia, mulai dari Irlandia Utara hingga Filipina Selatan. Akhir-akhir ini sorotan terorisme beralih dari Lybia ke Afghanistan dan Irak. Afghanistan diserang karena dinilai sebagai tempat “penampungan” pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden. Tokoh “terorisme” internasional ini dituduh terlibat dalam tragedi 11 September 2001, yang menghancurkan gedung WTC dan merusak gedung Pentagon.

Silang pendapat mengenai terorisme tampaknya memang sulit untuk dihindarkan, karena berbagai tuduhan yang dialamatkan seakan sudah terbakukan dalam persepsi masing-masing. Titik awal terorisme sering dikaitkan dengan fundamentalisme, khususnya Islam. Ketika tragedi peledakan bom di Legian Bali, 12 Oktober 2002 terungkap, meskipun para pelakunya belum menjalani sidang di pengadilan, tetapi berbagai media massa sudah mulai “membuka pintu” untuk menghubungkannya dengan gerakan fundamentalisme Islam, yang dikait-kaitkan pula sebagai bagian dari jaringan terorisme internasional Al-Qaeda. Namun, apakah terorisme terkait langsung dengan agama, memang sulit untuk dijawab secara singkat. Apalagi dikaitkan dengan agama tertentu.

Melihat uraian-urain di atas kita melihat berbagai penyimpangan keagamaan. Kasus-kasus seperti aliran klenik, konversi agama, fanatisme dan terorisme dinilai sebagai realita dan proses yang tidak lazim. Kasus-kasus ini selain tidak sejalan dengan kemapanan graduasi perkembangan jiwa keagamaan, juga terselip tujuan-tujuan tertentu yang menjadikan agama sebagai “pengayom” dan “penjamin”. Sikap yang mengacu kepada perubahan atau arah baru dari nilai-nilai ajaran agama yang dianut, hingga dikategorikan sebagai sikap dan tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Munculnya tindakan dan aktivitas yang dinilai radikal ini, sama sekali tak lepas dari gejala kejiwaan.

Sekian

Semoga Bermanfaat

One response

  1. hati2 plagiat.. jalaluddin rahmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: