Monthly Archives: September, 2012

PROBLEM PENDIDIKAN ISLAM DI MILENIUM KETIGA


PROBLEM PENDIDIKAN ISLAM DI MILENIUM KETIGA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Selain problem keilmuan yang berasal dari masuknya konsep-konsep, ide-ide dan paham-paham asing, secara internal ummat Islam juga memiliki problem yang tidak kalah seriusnya. Problem yang pertama adalah lemahnya tradisi pengkajian ilmu-ilmu pengetahuan doktrinal maupun pengetahuan spekulatif. Kelemahan ini mengakibatkan miskinnya konsep-konsep baru yang rasional sehingga isu-isu yang dibawa oleh kelompok modernis ataupun rasionalis yang sebenarnya tidak berasal dari tradisi intelektual Islam dianggap sebagai sesuatu yang baru dan dianggap menyegarkan. Padahal ia lebih merupakan adopsi dari pandangan Barat ataupun Orientalis yang masih perlu dikritisi. Tapi lagi-lagi tradisi kritik (naqd) belum menjadi mekanisme intelektual yang mapan.

Masalah ini menjadi lebih serius lagi jika dikaitkan dengan pembentukan disiplin ilmu baru dalam Islam. Tradisi mengadakan kajian dalam satu bidang pemikiran Islam belum bisa tumbuh sebagaimana kajian dalam bidang ilmu-ilmu sekuler, karena kekurangan sumber daya manusia ataupun belum wujudnya komunitas untuk itu. Ini berarti keahlian cendekiawan kita masih belum terklassifikasikan dalam disiplin ilmu tersendiri. Satu konsep dalam satu bidang kajian masih bercampur campur dengan konsep-konsep dalam bidang lain dan bahkan konsep-konsep yang diambil dari konsep asing masih belum sempurna diasimilasikan kedalam pandangan hidup Islam. Nampaknya semua cendekiawan dapat berbicara tentang semua masalah karena dianggap mengerti semua masalah, sehingga kita sulit menemukan seorang cendekiawan yang menekuni satu bidang khusus dan menghasilkan konsep-konsep Baru. Dalam perkembangan selanjutnya ketika masyarakat ilmiah semakin dewasa dalam memahami Islam spesialisasi dalam suatu bidang ilmu agama menjadi tuntutan masyarakat yang tidak dapat dihindarkan dan dari situ akan muncul disiplin ilmu Baru dalam Islam yang lahir dari pandangan hidup Islam.

Oleh sebab itu, klassifikasi ilmu yang dicanangkan al-Ghazzali yang berupa farÌu ‘ayn dan farÌu kifaiyah dapat dikembangkan dalam konteks kekinian. Ilmu farÌu ‘ain dapat diartikan sebagai compulsory subject bagi mahasiswa atau pelajar Muslim yang berupa ilmu-ilmu agama yang asasi tergantung tingkat pendidikannya. Tingkat universitas misalnya Tafsir, hadith, syari’ah, teologi (ilmu Kalam), metafisika dapat dimasukkan kedalam ilmu farÌu ‘ain. Ilmu FarÌu KifÉyah adalah ilmu yang tidak mesti dituntut oleh semua Muslim, termasuk di dalamnya ilmu manusia, ilmu alam, ilmu terapan, perbandingan agama, kebudayaan Islam dan Barat, ilmu bahasa dan sastra, sejarah Islam dsb. Pembagian ilmu faÌu ‘ayn dan farÌu kifayah ini tidak perlu difahami secara dikhotomis, karena ia hanyalah pembagian hirarki ilmu pengetahuan berdasarkan kepada tingkat kebenarannya. Ia harus dilihat dalam perspektif kesatuan integral atau tawhidi, di mana yang pertama merupakan asas dan rujukan bagi yang kedua.

Tapi masalahnya dalam kurikulum pendidikan Islam, pengajaran ilmu-ilmu farÌu ‘ayn yang berhubungan dengan keimanan dan kewajiban-kewajiban individu berhenti pada jenjang pendidikan rendah atau menengah dan tidak dilanjutkan pada tingkat universitas. Konsep hirarki ilmu pengetahuan ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah itu belum banyak dikenal di kalangan lembaga pendidikan Islam, jikapun dikenal ia masih banyak disalahpahami atau masih belum dikonseptualisasikan serta dipraktekkan secara akademis. Pembagian ini perlu ditekankan pada jenjang perguruan tinggi. Sebab masalahnya berkaitan dengan konsep ilmu (epistemologi).

Untuk mengidentifikasi problem ilmu pengetahuan pada lembaga pendidikan Islam, khususnya di Indonesia, ada baiknya dibahas situasi pada 3 institusi pendidikan Islam, yaitu pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam.

Sistem pendidikan pesantren
Pesantren di Indonesia terdiri dari dua sistem yaitu tradisional dan modern. Keduanya mempunyai missi tafaqquh fi al-din, artinya lembaga pendidikan yang bertujuan khusus mempelajari agama. Pada pesantren tradisional missi ini dijabarkan secara kurikuler dalam bentuk kajian kitab kuning yang terbatas pada Fiqih, Aqidah, Tata Bahasa Arab, Hadith, Tasawwuf dan Tarekat, Akhlak, dan Sirah. Sementara itu bagi pesantren modern missi ini diwujudkan dalam bentuk kurikulum yang diorganisir dengan menyederhanakan kandungan kitab kuning sehingga bersifat madrasi dan melengkapinya dengan mata pelajaran ilmu-ilmu yang biasa disebut “ilmu pengetahuan umum”. Pesantren tradisional yang mengkhususkan diri pada kajian ilmu farÌu ‘ayn terpaksan mengorbankan ilmu farÌu kifayah dalam pengertian ‘ulum al-naqliyyah. Bahkan kajian ilmu fardhu ‘ayn dengan kekayaan kitabnya itu belum dapat memainkan perannya yang berarti terhadap kajian disiplin ilmu fardhu kifayah di lembaga pendidikan Islam lainnya atau pendidikan sekuler. Selain itu karena kelemahan metodologis pesantren tradisional takhashush pada satu bidang ilmu tertentu terlalu kaku, sehingga menyulitkan kerja-kerja integrasi ilmu fardu ayn dan farÌu kifayah. Di pesantren ini sangat sedikit sekali, atau bahkan mungkin tidak ada, kajian ‘ulum al-’aqliyyah seperti logika, filsafat, metafisika, kalam, kedokteran dan lain-lain. Ringkasnya, secara umum pembagian hirarki ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah tidak nampak jelas, bahkan ilmu farÌu kifayah yang melibatkan kajian tentang alam dan hakekat manusia hampir tidak mendapat tempat dalam kurikulum pesantren tradisional itu sendiri.

Pesantren modern yang memahami tafaqquh fi al-din dalam bentuk gabungan ilmu farÌu ‘ayn dan farÌu kifayah memang berhasil memberikan wawasan yang lebih luas dibanding pesantren tradisional, namun sesungguhnya gabungan itu bukan merupakan hasil integrasi ‘ulum al-naqliyyah dan ‘ulum al-’aqilyyah yang didesain secara konseptual. Mata pelajaran Fisika misalnya masih belum dikaitkan dengan mata pelajaran Usuluddin, mata pelajaran Sejarah Dunia tidak mengandung Sejarah Islam atau peranan ummat Islam dalam sejarah dunia dan sebagainya. Jadi kurikulum pesantren modern bukan merupakan hasil dari konsep ilmu yang integral, tapi lebih merupakan kajian serempak ilmu fardhu ‘ayn dan fardhu kifayah. Jadi, masih terbuka kemungkinan akan adanya pandangan dikhotomis para santrinya. Meskipun begitu sebenarnya dengan sistem madrasi-nya yang mengharuskan pengajaran banyak materi mabadi’ al-’ulum (ilmu-ilmu kunci) pesantren modern berpotensi untuk memproduk generalis dan lebih kondusif untuk menanamkan pandangan hidup Islam dibanding pesantren tradisional. Kedua sistem pendidikan pesantren ini sebenarnya sama-sama memiliki potensi untuk diarahkan mengkaji ilmu pengetahuan Islam secara integral. Namun hal itu tergantung kepada kapasitas kyai, ulama dan asatidzah-nya.

Sistem Pendidikan Madrasah

Sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan pemerintah sebenarnya diharapkan mampu menciptakan pelajar-pelajar yang mengetahui dan menguasai ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sekaligus. Sistem pendidikan madrasah mulanya didesain sebagai konvergensi kurikulum pendidikan pondok dan sekolah umum yang sedikit banyak serupa dengan kurikulum pesantren modern. Namun pengembangan program-program khusus atau jurusan tertentu yang memisahkan ilmu farÌu ‘ayn dan ilmu farÌu kifayah dengan tanpa konsep yang jelas, peran madrasah dalam mengeliminir dikhotomi ilmu dalam pendidikan Islam semakin tidak nampak. Di sisi lain kegagalan sistem madrasah juga dapat dilihat dari fakta dimana prestasi kebanyakan murid-murid madrasah dalam bidang “ilmu-ilmu agama” masih tertinggal jauh dari prestasi santri-santri pondok pesantren dan dalam bidang “ilmu-ilmu umum” pula mereka tidak bisa mengimbangi prestasi murid-murid sekolah umum. Selain itu, sejauh ini nampaknya ilmu pengetahuan umum (sekuler) tidak diajarkan dalam perspektif ilmu agama.

Sistem Perguruan tinggi Islam

Terlepas dari peran kemasyarakat yang dimainkan oleh sistem pesantren, kekurangan yang paling menonjol adalah ketidakmampuan keduanya dalam mengembangkan tingkat tingginya atau perguruan tingginya. Yakni perguruan tinggi yang khas dibangun sebagai kelanjutan tradisi intelektual Islam atau sekurang-kurangnya dibangun berdasarkan pada tradisi keilmuan di pesantren. Padahal dulu hampir semua pesantren memiliki program tingkat tingginya, yang di pesantren tradisional disebut khawash dan di pesantren modern disebut pesantren tinggi, meskipun tidak dilembagakan secara formal. Program itu kini sudah sangat jarang, kalaupun tidak boleh dikatakan tidak ada. Kini di beberapa pesantren program itu telah diganti dengan sekolah tinggi atau institut yang mengikuti kurikulum Departemen Agama yang sebenarnya bukan sepenuhnya merupakan kelanjutan dari kurikulum pesantren. Ada pula pesantren yang mendirikan universitas dengan fakultas yang mengikuti kurikulum Departmen Pendidikan dan Kebudayaan. Isi dan produknya tentu yang tidak jauh beda dengan universitas umum. Gagasan dan usaha untuk menghidupkan program Ma’had ‘aly sebagai lanjutan pendidikan pesantren ternyata terhalang oleh kemiskinan konsep dan sumber daya manusia.

Jenjang pendidikan tinggi dalam bentuk institut atau universitas yang merupakan lanjutan bagi kajian ilmu-ilmu keislaman di pesantren nampaknya belum terwujud. Akibatnya khazanah ilmu pengetahuan Islam tidak dikaji secara intensif, apalagi dikaji dan difahami dalam konteks kekinian. Di Universitas-universitas Islam fakultas-fakultas agama (fardhu ‘ayn) tidak berperan menjadi rujukan atau menjadi asas bagi fakultas-fakultas umum (fardhu kifayah), ia justru dimarjinalkan.

Sekian

Semoga Bermanfaat

PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM


PERAN PENDIDIKANDALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 A. Keberadaan Pendidikan Islam

Sejarah keberadaan pendidikan dalam Islam sangat berkaitan erat dengan perkembangan dan kemunduran peradaban kaum muslimin, sejarah pendidikan Islam diawali dengan munculnya pendidikan formal Islam pertama yang kontradiktif yaitu antara madrasah Nizhamiyyah yang didirikan oleh Wazir Nizhamiyyah pada tahun 1064 M, Madrasah al-Bayhaqiyyah yang didirikan Abu Hasan Ali al-Baiyhaqi pada tahun 1009 M, madrasah Miyan Dahiya yang didirikan oleh Abu Ishaq Ibrahm ibn Mahmud di Nishapur dan madrasah Sa’idiyyah yang didirikan pada masa Sultan Mahmud al-Ghaznawi (998-1030).

Dari beberapa lembaga pendidikan tersebut memiliki kesamaan tentang kecenderungan materi pengajarannya, yaitu khusus dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan pada bidang fiqih, tafsir dan hadits dan bahkan mengharamkan beberapa bidang ilmu diantaranya filsafat dan ilmu pasti yang sejak awal perkembangan pendidikan ini sudah berada dalam posisi yang marjinal. Legalisme materi ini disebabkan karena ketinggianya syari’ah dan ilmu-ilmu agama dibanding ilmu lain, dan adanya sikap keagamaan dan kesalehan yang memandang ilmu-ilmu agama sebagai jalan tol menuju Tuhan, disamping penguasaan lembaga pendidikan adalah dari kelompok orang ahli dalam bidang agama dan hampir semua madrasah didirikan dengan dana wakaf dari para dermawan dan penguasan politik pemerintahan yang dalam perkembangannya muncullah paradigma formisme, yaitu paradikma pendidikan yang membatasi secara tegas antara ilmu agama dan umum.

Munculnya paradigma formisme ini dalam pendidikan Islam antara lain terdiri dari; orientasi pendidikan pada akherat dengan menekankan pada pendalaman ilmu-ilmu keagamaan, pendekatan pendidikannya bersifat keagamaan yang normative, doktriner dan absolute, peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku yang loyal, memiliki sikap keberpihakan, dan memiliki pengabdian yang tinggi terhadap agama yang dipelajari.

Hal seperti ini bertentangan dengan konsep Islam, dimana bahwa Islam tidak membedakan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum dan atau tidak berpandangan dikotomis mengenai ilmu pengetahuan, namun realitas sejarahnya justru malah memberikan supremasi kepada ilmu-ilmu agama dalam rangka untuk menuju kepada Tuhan. Kondisi ini pernah terjadi dalam dunia Islam, yakni dengan memakruhkan dan bahkan mengharamkan mempelajari ilmu-ilmu umum yang menggunakan penalaran, akibatnya penyelidikan ilmiah yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran ayat-ayat kauniyah harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena dipandang sebagai ilmu subversive yang dapat menggugat kemapanan kalam dan fiqh.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa legalisme fiqh ini terjadi dalam lembaga pendidikan Islam, menurut Azyumardi Azra hal ini dikarenakan; Pertama Adanya pandangan yang tinggi terhadap ilmu-ilmu keagamaan sebagai jalan untuk menuju Tuhan. Kedua lembaga-lembaga pendidikan Islam dikuasai oleh mereka yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan (fuqaha) sehingga kelompok saintis tidak mendapatkan dukungan secara institusional, dan justru saintis merupakan tantangan bagi fuqaha. Ketiga hampir seluruh lembaga pendidikan Islam didirikan dan dikembangkan oleh para penyandang dana, dermawan dan penguasa politik dari kelompok ahli ilmu agama yang termotivasi akan mendatangkan banyak pahala karena mempelajari ilmu-ilmu agama. Disamping itu adanya penekanan dari penguasa politik untuk menegakkan ortodoksi Sunni karena alasan yang murni atau alasan politik yang lain.

Berdasarkan dari fenomena tersebut, dapat diketahui bahwa kemunduran Islam dalam bidang saintis dan teknologi disamping dipengaruhi oleh factor dari luar, juga banyak dipengaruhi oleh factor dari dalam umat Islam itu sendiri, yakni dari para penentu kebijakan lembaga pendidikan Islam yang sudah melakukan dikotomi terhadap pendidikan diluar ilmu-ilmu agama.

B. Perkembangan Pendidikan Islam

Perjalanan agama Islam yang lahir di Mekkah dengan pengikut yang tidak lebih dari kalangan keluarganya sendiri sebagai peletak dasar keimanan dan kemudian hijrah ke Madinah yang kemudian menjadi berkambang yang akhirnya menaklukkan kota Mekkah kembali, merupakan perkembangan yang luar biasa. Kemudian pada masa kholifah dimana pengembangan agama Islam terus meluas dan kekuatannya menyebar jauh di Asia dan Eropa, kemudian diteruskan pada masa Umaiyah dan Abbasiyah pengembangan perluasan Islam dan jalur perdagangan terus dilakukan. Dengan penyebaran Islam yang sangat luas inilah kemudian dibutuhkan perluanya penanaman nilai-nilai ajaran agama Islam kepada pemeluknya yang sudah semakin meluas.

Dengan perkembangan perdagangan, maka muncullah kelas menengah yang kemudian tidak hanyak sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi, namun sudah mulai menekuni kegiatan-kegiatan cultural, pendidikan dan kemasyarakatan. Kesamaan bahasa dan pedoman dasar yakni Al Qur’an merupakan pengikat berbagai tradisi dari berbagai kelompok etnis. Hal ini menjadikan status bahasa Arab sebagai bahasa puisi dan prosa yang mampu mengungkapkan abstraksi-abstraksi filosofis, teologis dan saintifik, untuk memahami dan menafsirkan al-Qur’an. Dan pada masa kejayaan Jundi Shapur sebagai pusat pendidikan tinggi kerajaan Persia pada abad ke-6, kemudian bahasa Arab dijadikan sebagai landasan untuk perkembangan ilmu pengetahuan,

Pada masa al-Mansur perkembangan pendidikan Islam mengalami perkembangan yang pesat yakni dengan mendatangkan ilmuwan dari Yahudi, Kristen, Syria, Zoroaster, Hindu dan Persia di Jundi Shapur melalui kuttab dan masjid yang dipandu oleh seorang syekh yang dalam pembelajarannya menggunakan system halaqah.

Pada perkembangannya, pendidikan Islam mengalami transformasi yang cukup berarti. Selain dilaksanakan di rumah-rumah, pendidikan Islam juga dilaksanakan di kuttab dan masjid. Kuttab adalah tempat belajar yang terletak di rumah guru. Kuttab dipandang sebagai lembaga pendidikan dasar tertua yang pernah ada, dan dalam perkembangannya mengalami perluasan fungsi, tidak hanya untuk belajar tulis baca, melainkan juga untuk belajar al Qur’an.

Penentuan antara lembaga pendidikan tinggi dan pendidikan dasar pada awal perkembangan Islam sudah ada batasan-batasan yang jelas. Pendidikan dasar dari segi kurikulumnya adalah tentang baca tulis al Qur’an dan diikuti oleh anak-anak dengan bertempat di kuttab, sedangkan pendidikan tinggi materinya adalah pembahasan mendalam tentang al Qur’an, pesertanya adalah orang-orang dewasa dan bertempat di masjid.

Kemudian dalam perkembangannya, pembatasan pendidikan ini menurut Charles Michael Stanton diklasifikasi dari tempat pelaksanaan dan materi (ilmu) yang dikaji, yakni; pendidikan formal dimulai dari masjid jami’ (selain tempat ibadah juga pusat informasi dan penyambung hubungan antara pemerintah dan masyarakat), dan masjid non jami’ (pusat halaqah agama, yang hanya menyampaikan disiplin ilmu hadits, fiqh, tafsir, ushul fiqh, nahwu, sharaf dan sastra Arab). Berawal dari pengklasifikasian disiplin ilmu inilah, maka disiplin ilmu yang lain seperti filsafat Yunani, sains dan ilmu yang berasal dari Timur tidak diajarkan, karena tidak dianggap sebagai ilmu agama. Masyarakat Islam lebih berkutak-kutik pada perkembangan fiqh saat itu, yaitu adanya aliran empat madzhab dalam fiqh.

Didirikannya lembaga wakaf pada masa pemerintahan Nizham al Mulk, merupakan awal dari sebutan lembaga pendidikan yang berpusat di masjid sebagai masjid-akademic yang sistemnya berbeda dengan masjid jami’ maupun non jami’. Perbedaannya terletak pada sistem pendidikannya, yaitu madrasah akademic (madrasah Nidzhamiyyah) ini merupakan wakaf, mengangkat tenaga pengajar khusus, staf maupun guru menerima mendapatkan penghasilan, mahasiswa/santri diasramakan dan mendapat beasiswa, semuanya dari pengelolaan wakaf yang disediakan oleh khalifah. Sistem inilah yang menjadi landasan dasar pendidikan formal Islam, yang diterapkan pula di perguruan tinggi Jundi Shapur di Baghdad. Hanya saja, kurikulum yang diberikan didominasi ilmu-ilmu agama dengan al-Qur’an sebagai porosnya. Menurut Stanton, ada satu hal yang menjadi kelebihan dari sistem pendidikan masjid/madrasah-akademik adalah mampu menciptakan satu atmosfir pendidikan khas yang memadukan kehidupan akademik dengan kehidupan sosial dari orang/masyarakat yang tinggal di lingkungannya.

Pada perkembangan selanjutnya setelah masyarakat muslim mulai terbentuk, pendidikan diselenggarakan dalam bentuk formal, sehingga menjadi salah satu pilar dari peradaban Islam. Dalam hal ini pendidikan Islam bentuk formal ditandai oleh munculnya madrasah sebagai lembaga pendidikan dan sekaligus sebagai jalur pendidikan. Di dalam madrasah berlangsung proses komunikasi pedagogis antara pendidik dan peserta didik, yang darinya diharapkan mengarah kepada tercapainya tujuan instruksional.

C. Substansi Peradaban Islam

Menurut Ibn Khaldun diantara tanda wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir komunitasbesar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu komunitas bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan/arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.

Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).

Syeikh Muhammad Abduh juga menekankan bahwa agama atau keyakinan adalah asas segala peradaban. Bangsa-bangsa purbakala seperti Yunani, Mesir, dan India, membangun peradaban mereka dari sebuah agama, keyakinan atau kepercayaan. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (batiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan manifestasi lahiriyah (outward manifestation) yang kemudian disebut sebagai peradaban itu.

Jika agama atau kepercayaan merupakan asas peradaban, dan jika agama serta kepercayaan itu membentuk cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tindakan nyatanya atau manifestasi lahiriyahnya, maka sejalan dengan teori modern bahwa pandangan hidup (worldview) merupakan asas bagi setiap peradaban dunia. Para pengkaji peradaban, filsafat, sains dan agama kini telah banyak yang menggunakan worldview sebagai matrik atau framework. Ninian Smart menggunakannya untuk mengkaji agama, S.M. Naquib al-Attas, al-Mawdudi, Sayyid Qutb, memakainya untuk menjelaskan bangunan konsep dalam Islam, Alparslan Acikgence untuk mengkaji sains, Atif Zayn, memakainya untuk perbandingan ideologi, Thomas F Wall untuk kajian filsafat, Thomas S Kuhn dengan konsep paradigmanya sejatinya sama dengan menggunakan worldview sebagi kajian sains.

Meski mereka berbeda pendapat tentang makna worldview, mereka pada umumnya mengaitkan worldview dengan peradaban atau seluruh aktivitas ilmiyah, sosial dan keagamaan seseorang. Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview sebagai “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.” Penekanannya pada fungsi worldview sebagai motor perubahan sosial dan moral. Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”. Dalam kaitannya dengan aktivitas ilmiyah Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktivitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu. Sebab, paradigma mengandung konsep nilai, standar-standar dan metodologi-metodologi, yang merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains.Singkatnya, worldview berkaitan erat secara konseptual dengan segala aktivitas manusia secara sosial, intelektual dan religius. Dan yang terpenting adalah bahwa worldcview sebagai sistem kepercayaan, pemikiran, tata pikir, dan tata nilai memiliki kekuatan untuk merobah. Maka dari itu, aktivitas manusia dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya yang kemudian menjadi peradaban bersumber dari worldview.

Jika makna worldview adalah konsep nilai, motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah, maka Islam mengandung kesemuanya itu. Islam bahkan memiliki pandangan terhadap realitas fisik dan non fisik secara integral. Ayat-ayat al-Qur’an jelas-jelas memproyeksikan pandangan Islam tentang alam semesta dan kehidupan yang disebut pandangan hidup atau pandangan alam Islam (worldview, al-tahawwur al-Islami, al-mabda al-Islami) itu. Bukan hanya itu, konsep-konsep tersebut diberi medium pelaksanaannya yang berupa institusi yang disebut dien, yang di dalamnya terkandung konsep peradaban (Tamaddun).

Oleh sebab itu dalam Islam worldview memiliki istilahnya sendiri. Bagi al-Mawdudi worldview Islam adalah Islami Nazariyat (Islamic Vision) yang berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia secara menyeluruh”. Menurut Sayyid Qutb worldview Islam adalah al-tahawwur al-Islami, yang berarti “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.” Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islami yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Namun Shaykh Atif juga menggunakan kata-kata mabda untuk ideologi non-Muslim. Ini berarti bahwa tidak selamanya berarti aqidah fikriyyah. S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud.

Jadi sebagaimana peradaban lainnya, substansi peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang meliputi keseluruhan pandangan tentang wujud, terutamanya pandangan tentang Tuhan. Oleh sebab itu teologi dalam Islam merupakan fondasi bagi tata pikir, tata nilai dan seluruh kegiatan kehidupan Muslim. Itulah pandangan hidup Islam. Jika pandangan hidup itu berakumulasi dalam tata pikiran seseorang, ia akan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupannya dan akan menghasilkan etos kerja dan termanifestasikan dalam bentuk karya nyata. Dan jika ia memancar dari pikiran masyarakat atau bangsa maka ia akan menghasilkan falsafah hidup bangsa dan sistem kehidupan bangsa tersebut. Jadi substansi peradaban Islam adalah pandangan hidup Islam. Namun elemen pandangan hidup yang terpenting adalah pemikiran dan kepercayaan.

Menurut Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu 1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup. Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemapuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam hal ini pendidikan merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran, namun yang lebih mendasar lagi dari pemikiran adalah struktur ilmu pengetahuan yang berasal dari pandangan hidup. Untuk menjelaskan bagaimana pemikiran dalam peradaban Islam merupakan faktor terpenting bagi tumbuh berkembangnya peradaban Islam, kita rujuk tradisi intelektual Islam.

Tradisi intelektual dalam Islam dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, secara berturut-turut dari periode Makkah awal, Makkah akhir dan periode Madinah. Kesemuanya itu menandai lahirnya pandangan alam Islam. Di dalam al-Qur’an ini terkandung konsep-konsep yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan para ulama yang datang kemudian. Konsep ‘ilm yang dalam al-Qur’an bersifat umum, misalnya dipahami dan ditafsirkan para ulama sehingga memiliki berbagai definisi. Cikal bakal konsep Ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu yang ditafsirkan kedalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh. Jadi Islam adalah suatu peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan teks wahyu yang didukung oleh tradisi intelektual.

Tradisi intelektual dalam Islam juga memiliki medium tranformasi dalam bentuk institusi pendidikan yang disebut al-Suffah dan komunitas intelektualnya disebut Ashab al-Suffah. Di lembaga pendidikan pertama dalam Islam ini kandungan wahyu dan hadith-hadith Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization). Ashab al-Suffah adalah gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar-mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam.

Perlu dicatat bahwa kegiatan keilmuan tersebut di atas, secara epistemologis wujud karena adanya pandangan alam (worldview), yaitu pandangan alam yang memiliki konsep-konsep yang canggih yang menjadi asas epistemologi untuk aktivitas keilmuan tersebut. Dengan adanya konsep yang canggih para ilmuwan anggota masyarakat yang terlibat akhirnya dapat mengembangkan istilah-istilah teknis dan bahasa khusus untuk itu. Bahkan konsep tersebut berkembang menjadi struktur konsep keilmuan atau scientific conceptual scheme. Dari konsep ‘Ilm ini pula kemudian lahir berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti Ilmu Fiqih, Tafsir, Hadith, Falak, Hisab, Mawarits, Kalam, tasawwuf dan sebagainya.

Kemajuan tradisi intelektual dan ilmu pengetahuan dalam Islam dirasakan oleh masyarakat Eropa pada zaman Bani Umayyah di Andalus Spanyol. Pada masa peradaban agung di Andalus, siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiyah ia harus pergi ke Andalus. Di waktu itu banyak sekali problem dalam literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalus maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, tehnik dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, dimana beberapa universtias penting berada.

Di zaman kekhalifahan Bani Umayyah, misalnya Muslim telah banyak mentransmisikan pemikiran Yunani. Karya Aristotle, dan juga tiga buku terakhir Plotinus Eneads, beberapa karya Plato dan Neo-Platonis, karya-karya penting Hippocrates, Galen, Euclid, Ptolemy dan lain-lain sudah berada di tangan Muslim untuk proses asimilasi. Puncak kegiatan transmisi terjadi pada era kekhalifahan Abbasiyyah. Menurut Demitri Gutas proses transmisi (penterjemahan) di zaman Abbasiyah didorong oleh motif sosial,politik dan intelektual. Ini berarti bahwa seluruh komponen masyarakat dari elit penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini, sehingga dampaknya secara kultural sangat besar.

Jadi Muslim tidak hanya menterjemahkan karya-karya Yunani tersebut. Mereka mengkaji teks-teks itu, memberi komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam. Jadi proses asimilasi terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh. Artinya ummat Islam mengadapsi pemikiran Yunani ketika peradaban Islam telah mencapai kematangannya dengan pandangan hidupnya yang kuat. Di situ sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadapsi sehingga masuk kedalam lingkungan pandangan hidup Islam.Produk dari proses ini adalah lahirnya pemikiran baru yang berbeda dari pemikiran Yunani dan bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani, misalnya konsep jawhar para mutakallimun dengan konsep atom Democritus. Jadi, tidak benar, kesimpulan Alfred Gullimaune yang menyatakan bahwa framework, ruang lingkup dan materi Filsafat Arab dapat ditelusuri dari bidang-bidang dimana Filsafat Yunani mendominasi sistem ummat Islam. Sejatinya pemikiran Yunani tidak dominan, sebab jika demikian maka Muslim tidak mampu melakukan proses transmisi. Oleh karena itu Muslim lebih berani memodifikasi pemikiran Yunani ketimbang masyarakat Kristen Barat Abad Pertengahan. Muslim bahkan mampu mengharmonisasikan dengan Islam sehingga akal dan wahyu dapat berjalan seiring sejalan dan pemikiran Yunani tidak lagi menampakkan wajah aslinya. Berbeda dari Muslim, masyarakat Kristen Barat Abad Pertengahan yang mengaku mengetahui karya-karya Yunani, ternyata tidak mampu mengharmoniskan filsafat, sains dengan agama. Kondisi ini kelihatannya yang mendorong para teolog Kristen menggunakan tangan pemikir Muslim untuk memahami khazanah pemikiran Yunani. Terpecahnya kalangan teologi Kristen kedalam aliran Averoesm dan Avicennian merupakan bukti bahwa Kristen memahami Yunani melalui pandangan hidup Muslim.

Jika benar asumsi orientalis selama ini bahwa pemikiran Muslim didominasi pemikiran Yunani, maka wajah peradaban Islam di Spanyol mestinya adalah wajah Yunani. Tapi realitanya, Spanyol adalah satu-satunya lingkungan kultural Muslim yang dominan, padahal kawasan itu merupakan tempat pertemuan kebudayaan Kristen, Islam dan Yahudi. Yang pasti karakteristik penting peradaban Islam baik ketika di Andalusia maupun di Baghdad adalah semaraknya kegiatan keilmuan. Oleh karena itu dalam menggambarkan peradaban Islam Ibn Khaldun membahas secara panjang lebar ilmu-ilmu yang berkembang dan dikembangkan di kedua pusat kebudayaan Islam itu, seperti misalnya ilmu bahasa dan agama, aritmatika, aljabar, ilmu hitung dagang (bussiness arithmetic), ilmu hukum waris (faraid), geometri, mekanik, penelitian, optik, astronomi, dan logika. Termasuk juga ilmu fisika, kedokteran, pertanian, metafisika, ramalan, ilmu kimia dan sebagainya.

Namun, seperti yang diteorikan oleh Ibn Khaldun di atas, pemikiran yang berkembangan menjadi tradisi intelektual bukanlah satu-satunya faktor tumbuh berkembangnya suatu peradaban. Kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer serta kesanggupan berjuang untuk meningkatkan kehidupan merupakan faktor lain yang mendukung tumbuhnya pemikiran dan peradaban. Selain itu Ibn Khaldun juga mensinyalir adanya hubungan kausalitas antara peradaban dan sains. Artinya semakin besar volume urbanisasi, semakin tumbuh pula peradaban dan sains. Ilmu akan berkembang hanya dalam peradaban yang penduduk perkotaannya meningkat.

D. Konstribusi Pendidikan Islam dalam membangun Peradaban Islam

Pengaruh Hellenisme secara tidak langsung memberikan warna dalam perkembangan pendidikan Islam, hal ini ditandai bahwa ilmuwan muslim sudah tidak lagi membedakan antara pemikiran Aristoteles dan Plato walaupun mereka berseberangan. Mereka menerima karya-karya filsafat Yunani sebagai satu kesatuan bahkan diterjemahkan dalam bahasa Arab secara besar-besaran. Demikian pula umat Islam menerima wordview Neoplatonisme yang menawarkan sebuah teologi teori kesatuan yang menyatakan bahwa alam adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, alam dan kehendak Tuhan pasti sejalan, dimana hal ini dapat dipahami oleh akal manusia dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an.

Islam pada hakekatnya adalah religion of nature, segala bentuk dikotomi antara agama dan sain harus dihindari. Alam penuh dengan tanda-tanda, pesan-pesan ilahi yang menunjukkan kehadiran kesatuan sistem global. Semakin jauh ilmuwan mendalami sains, dia akan memperoleh wisdom berupa philosophic perennis yang dalam filsafat Islam disebut transendence. Iman tidak bertentangan dengan sains, karena iman adalah rasio dan rasio adalah alam. Konflik antara iman dan sains sesungguhnya hanya merupakan struggle antara dua kekuatan yang bertikai yakni kekuatan konservatif yang cenderung tertutup, memformalkan dan mendogmakan sesuatu dengan kekuatan progresif yang cenderung bersifat terbuka, mendeformalkan dan mendedogmaan.

Mulai masa Umayyah sampai Abbasiyah dan puncaknya pada al-Ma’mun hanya sedikit penerjemahan yang dilakukan, namun dengan berbekal pada metode dialektika, logika dan retorika, dan penyajian argumen dalam bahasa Arab, maka ilmu pengetahuan mengalami perkembangan, bukan hanya pada bidang filsafat saja, namun ilmu kedokteran, matematika, sains, dan sastra, juga ikut mengalami perkembangan, yang tidak lain karena adanya pengaruh intelektual Hellenisme. Menurut Stanton, aliran yang muncul dalam Islam seperti jabariyah, qadariah, mu’tazilah adalah murni karena pengaruh Kristen.

Baru pada Asy’ariah itulah berdasar pada al-qur’an dan hadits. Lalu muncullah para filosof muslim, mulai al-Kindi yang membagi dua ilmu pengetahuan menjadi ilmu Tuhan dan ilmu manusia dengan puncaknya pada filsafat, dilanjutkan oleh al-Farabi, yang lebih mengarah pada kogika, etika dan metafisika pengaruh dari Aristoteles, kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Sina yang lebih fokus pada bidang kedokteran, yang memandang penyembuhan manusia tidak hanya dari segi fisik saja melainkan juga penyembuhan jiwa. Pada masa ini penghargaan terhadap akal sangat tinggi, sehingga perbincangan mengenai agama mulai melemah. Maka lahirlah al-Ghazali yang berperan dalam mengakhiri debat antara akal dengan agama melalui konsep sufismenya, sehingga ia lebih dikenal sebagai seorang teolog daripada seorang sains. Baru setelah itu Ibnu Rusy yang kemudian menolak al Ghozali yang meyakini bahwa filsafat adalah cara terbaik untuk menyelesaikan pertentangan antara agama dengan akal, dimana pada saat itu mendapat perlawanan keras dari pihak pemerintah, sehingga ia dibuang dan karya-karyanya dibakar. Justru sejak saat itulah filsafat dan ilmu pengetahuan mendapat apresiasi dan mengalami perkembangan yang pesat di Eropa.

Dari sinilah, maka kemudian Islam banyak memberikan konstribusi terhadap ilmu pengetahuan kepada dunia barat, konstribusi tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Sepanjang abad ke 12 dan sebagian abad 13, karya-karya muslim dalam dalam bidang filsafat, sais telah diterjemahkan kedalam bahasa Latin, khususnya dari Spanyol. Penterjemahan ini telah memperkaya kurikulum pendidikan dunia barat, khususnya di Northwest Eropa.
  2. Muslim telah memberikan sumbangan eksperiental mengenai metode-metode dan teori-teori sains ke dunia barat.
  3. Sistem notasi dan desimal Arab dikenalkan ke dunia barat.
  4. Karya terjemahan dari Ibnu Sina dalam bidang esehatan dipakai sebagai teks di lembaga-lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad 17.
  5. Ilmuwan-ilmuwan muslim dengan karya-karyanya telah merangsang kebangkitan Eropa dan memperkaya kebudayaan Romawi kuno.
  6. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa bangkit, dalam bentuk madrasah sebagai pendahulu berdirinya universitas di Eropa.
  7. Para ilmuwan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-Persia sewaktu Eropa dalam kegelapan.
  8. Sarjana-sarjana Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan dunia tinggi dunia Islam dan mentransfer ilmu pengetahuan ke dunia barat.
  9. Ilmuwan-ilmuwan muslim telah menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit, sanitasi serta makanan ke Eropa.

Kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan Islam ditandai dengan penterjemahan dan penulisan komentar-komentar dari sejumlah manuskrip oleh para sarjana-sarjana muslim, dengan dimulainya penentuan kurikulum pada sebuah lembaga pendidikan yang berisi tentang; nilai-nilai social, kebutuhan dan keinginan peserta didik serta mencari status dan isi suatu disiplin ilmu pengetahuan. Keunggulan dalam perkembangan ilmu Islam adalah sudah dilaksanakannya observasi, eksperimen dan analisis terhadap hasil observasi, diantaranya adalah; Ibnu Jabir Ibn Hayyan ahli ilmu kimia (721-815), al-Khawarizmi ahli matematika (wafat 863), al-Razi ilmu pengobatan observasi klinik (865-925), Ibn al-Haytham ahli optik (965-1039), Abu Rayhan al-Biruni ilmu alam (973-1051), Ibnu Rusyd, al-Khayyam kosmologi Islam; sebuah pengetahuan alam untuk mendukung konsep penyucian jiwa.

Karakter utama sains semakin didefinisikan dan diperjelas, untuk mendukung konsep penyucian jiwa. Dalam kerangka inilah dapat dianalisa bahwa pandangan Islam terhadap sains terikat oleh dua prinsip, yaitu: kesatuan dan hirarki yang berlandaskan agama. Kebenaran dan realitas hanya ada pada kehendak Illahi sebagaimana termanifestasi di alam raya dalam bentuk simbolis saja. Asumsi-asumsi ini sebagai faktor penyebab utama ilmu pengetahuan Islam mengalami kemandekan, dan muslim sulit menerima ilmu pengetahuan dan teknologi barat, sehingga menimbulkan schizophreunia (mengasingkan diri) di kalangan mahasiswa yang harus mempelajari sains dalam dua sistem nilai budaya yang berbeda.

Respon intelektual muslim terhadap perkembangan dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan non keagamaan disalurkan dalam pendidikan yang bersifat informal, lembaga informal ini menciptakan situasi yang produktif bagi para ilmuwan untuk memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan non keagamaan yang kemudian diwariskan kepada generasi yang lebih muda. Dorongan untuk mempelajari ilmu-ilmu non agama ini adalah untuk mempertajam perangkat intelektual guna mempertahankan keimanan Islam yang baru dalam menghadapi agama-agama lain disamping itu juga karena adanya dorongan untuk memperluas kemampuan pengobatan dan pemahaman terhadap benda-benda alam.

Karena adanya penekanan dan perlakuan yang tidak berimbang antara pendidikan agama dan pendidikan non agama, maka menjadikan lembaga informal untuk bangkit dan meningkatkan materi pengkajian dan tempat pelaksanaannya, baik di rumah pribadi, rumah bangsawan, maupun rumah penguasa, sehingga perkembangan ilmu sains lebih mendapat respon melalui pendidikan informal. Sebagai contoh, al-Kindi mendirikan sekolah informal (berawal dari halaqah) berbahasa Arab, yang mengajarkan filsafat, yang kemudian dikembangkan oleh al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Lalu al-Khawarizm membuat laboratorium perbintangan, maraknya koleksi perpustakaan baik pribadi maupun di perguruan tinggi (masa al-Makmun) di Baith al-Hikmah, penerjemahan dan pencetakan manuscript ilmu pengetahuan baik sains maupun agama, dijadikannya rumah sakit dan klinik sebagai pusat kajian ilmu, menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan umum/sains justru yang menyebarluaskan adalah dari pendidikan informal. Sementara kurikulum pendidikan formal terbatas pada ilmu agama, fiqh dan madzhab, hal inilah yang menurut Stanton sebagai awal kemunduran umat Islam yang mengakibatkan terjadinya transmisi pendidikan tinggi ke Eropa. Sebenarnya intelektualisme Islam pada waktu suda sangat tinggi namun etos keilmuan itu justru diwariskan ke peradaban Barat.

Berawal dari respon inilah (lingkaran studi) kemudian mendapat pengakuan dari masyarakat yang akhirnya menjadikanya sebagai pendidikan formal dengan penambahan materi kajian. Dalam perkembangannya muncullah pengklasifikasian antara pendidikan informal dengan pendidikan formal dengan segala permasalahannya.

E. Membangun Peradaban melalui Pendidikan

Proyek membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan hanya dengan melalui satu dua bidang kehidupan. Ia merupakan proses bersinergi, simultan dan konsisten. Untuk itu maka program ini perlu disadari bersama sebagai sesuatu yang wajib (farÌ ‘ayn) dan merupakan tanggung jawab yang perlu dibebankan kepada seluruh anggota masyarakat Muslim. Sabda Nabi jelas “Barangsiapa tidak perduli dengan urusan (masalah) ummat Islam maka ia bukan bagian daripada mereka” (al-Hadith).

Jika menengok sejarah kejayaan Islam di Baghdad maka kita akan temui gerakan pengembangan ilmu pengetahuan yang bersinergi. Gerakan yang dimulai dengan penterjemahan karya-karya asing, khususnya Yunani itu bukan gerakan seporadis atau gerakan pinggiran. Gerakan itu didukung oleh elit masyarakat Baghdad: seperti khalifah dan putera mahkotanya, pegawai negara dan pimpinan militer, pengusaha dan bankers, dan sudah tentu ulama dan saintis. Ia bukan proyek kelompok tertentu. Selain itu, gerakan disubsidi oleh dana yang tak terbatas dari perusahaan negara maupun swasta. Dan yang terpenting, ia dilakukan dengan menggunakan metodologi ilmiyah yang akurat dengan alat filologi yang eksak, sehingga terma-terma asing dapat diterjemahkan dengan tepat.

Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan adalah sentral sifatnya. Dari perkembangan ilmu inilah kemudian dikembangkan bidang-bidang lain baik secara simultan ataupun secara gradual. Ilmu, sudah barang tentu, diperlukan oleh semua kelompok apapun orientasi dan strategi perjuangannya. Pembangunan politik, ekonomi, pendidikan, perbankan Islam dan lain sebagainya tidak bisa tidak harus dimulai dari ilmu. Mungkin diagram dibawah ini dapat menggambarkan konsep tersebut.

Untuk memperbaiki keadaan ini, maka umat Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya baik di depan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain pembangunan masyarakat harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang beradab. Menurut al-Attas pembentukan individu yang beradab tersebut, secara strategis, dapat dimulai dari pendidikan universitas. Namun pendidikan universitas tersebut harus terlebih dahulu diletakkan dan berlandaskan pada interpretasi yang benarsehingga dapat melahirkan sarjana, ulama dan pemimpin Muslim yang mempunyai pandangan hidup Islam.

Perlu dicatat bahwa penekanan pada pendidikan tinggi merupakan salah satu tradisi dalam Islam dan menjadi perhatian utama para pemikir Muslim sejak dulu. Bahkan, target utama dan misi Nabi adalah untuk mendidik individu yang dewasa dan bertanggung jawab. Penekanan terhadap pendidikan dasar dan menengah sering dikaitkan dengan adanya pengaruh Westernisasi dan modernitas. Selain itu universitas juga merupakan tahap akhir dari penyiapan pemimpin-pemimpin masyarakat. Di semua negara universitas adalah tempat dimana individu-individu yang menonjol menjalani pendidikan dan latihan, guna mengatasi kemiskinan sumber daya alam dan manusia. Sebenarnya, pendidikan tingkat dasar dan menengah hanyalah persiapan menuju universitas. Betapapun baiknya reformasi pendidikan dasar dan menengah lanjutan, jika sistem pendidikan tinggi, terutamanya universitas, tidak direformasi sesuai dengan kerangka epistimologi dan pandangan hidup Islam, ia akan mengalami kegagalan. Dengan menekankan pendidikan tinggi maka kekurangan-kekurangan yang ada di pendidikan tingkat rendah dapat diperbaiki.

Agar universitas benar-benar Islami dan merupakan medium pengembangan individu, maka sebuah universitas harus merupakan refleksi dari insan kamil ataupun universal dan mengarah kepada pembentukan insan kamil. Contoh insan kamil dan universal itu yang sangat riel adalah figur Nabi Muhammad saw sendiri. Universitas dalam Islam harus merefleksikan figur Nabi Muhammad dalam hal ilmu pengetahuan dan amal sholeh, dan fungsinya adalah untuk membentuk laki-laki dan wanita yang beradab dengan menirunya semirip mungkin dalam hal kualitas sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing”. Berbeda dari Islam, universitas di Barat mencerminkan keangkuhan manusia. Meskipun mereka juga mempunyai konsep universal, namun karena pengaruh paham humanisme sofistik yang kuat maka manusia diletakkan di atas segala-galanya. Ungkapan Protagoras yang sering mereka kutip adalah bahwa: “manusia adalah ukuran dari segala sesuatu, segala sesuatu yang ada adalah ada, dan segala sesuatu yang tidak ada adalah tidak ada”.

Pengertian ini juga terjadi di dunia akademis di mana seorang ilmuwan yang lebih muda mengikuti atau memakai pendapat atau teori ilmuwan senior yang lebih pakar. Oleh sebab itu ijtihad bukanlah berpendapat dengan sesuka hati atau dengan sebatas pengetahuan pribadi, tapi berpendapat berdasarkan pada pengetahuan ulama terdahulu yang memiliki otoritas dalam bidang masing-masing. Selain itu kurikulum di Universitas Islam perlu direkonstruksi agar dapat lebih mengarah kepada penanaman ilmu pengetahuan Islam yang berstruktur dan konseptual. Materi Aqidah pada jenjang pendidikan rendah dan menengah mestinya dikembangkan menjadi materi wajib pada jenjang pendidikan tinggi. Di perguruan tinggi ilmu tersebutdapat dikembangkan menjadi Ilmu Tafsir, ilmu Hadith, ilmu Fiqih, ilmu Kalamatau filsafat dan lain sebagainya.

Disini konsep-konsep tentang Tuhan, manusia, alam, akhlaq dan tentang agama dikaji secara mendalam. Itu semua hendaknya diajarkan sehingga dapat menjadi fondasi bagi pengkajian disiplin ilmu lain. Disini sumber pengetahuan inderawi, aqli dan intuisi disatukan dalam suatu cara berfikir yang integral dan tidak secara dualistis: obyektif dan subyektif, idealistis dan realistis. Dengan cara itu dikotomi ilmu pengetahuan, agama dan umum, yang telah begitu merasuk ke dalam kurikulum pendidikan Islam akibat dari sekularisasi pemikiran dapat secara perlahan-lahan dihilangkan.

F. Penutup

Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh pendidikan melalui pengkajian dalam ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam. Oleh karena itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam. Orang mungkin memprioritaskan pembangunan ekonomi dari pada ilmu, dan hal itu tidak sepenuhnya salah, sebab ekonomi akan berperan meningkatkan taraf kehidupan. Namun, sejatinya faktor materi dan ekonomi menentukan setting kehidupan manusia, sedangkan yang mengarahkan seseorang untuk memberi respon seseorang terhadap situasi yang sedang dihadapinya adalah faktor pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Intelektual adalah hal yang lebih penting dari ilmu dan pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat. Intelektual berfungsi sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini bukan sekedar teori tapi telah merupakan fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam. Di Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafi’i, Hambali, Imam al-Ghazzali, Ibn Khaldun, dan lain sebagainya mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam yang diselenggarakan melalui pendidikan, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain. Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

 Abdul Latif Tibawi, Arabic and Islamic Themes: Historical, Educational and Literary Studies (London: Luzac & Co., 1974).

Abdullah Idi & Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2006.

Abdurrohman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik (Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam), Gama Media, Yogyakarta, 2002.

Abu Nu’aym, Ahmad ibn ‘Abd Allah al-Asbahani (d.430 A.H.) Hilyat al-Auliya’, 10 jilid, Mesir: al-Sa’adah Press, 1357, 1/339.

Alfred Gullimaune, “Philosophy and Theology” dalam The Legacy of Islam, Oxford University Press, 1948.

Al-Mawdudi, The Process of Islamic Revolution, (Lahore, 1967) hal. 14, 41.

Alparslan Acikgence, Scientific Thought And Its Burdens, An Essay in the History and Philosophy of Science, Fatih University Publications, 2000.

Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, alih bahasa Ibrahim Husein, Jakarta, Bulan Bintang, 1979.

Azyumardi Azra, Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Moderniasasi menuju Millenium Baru, Jakarta, Logos, 1999.

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Cet. IV, Bandung, Mizan, 1988

Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam Sejarah dan Peranannya dalam kemajuan ilmu pengatahuan, Logos Publising House, Jakarta, 1994.

Edwin Hung, The Nature of Science: Problem and Perspectives (Belmont, California, Wardsworth, 1997)

Ibn Khaldun, ‘Abd al-Rahman Ibn MuÍammad, The Muqaddimah: an Introduction to history, Penerjemah Franz Rosenthal, 3 jilid, editor N.J. Dawood. (London, Routledge & Kegan Paul, 1978).

M. Athiyah Al Abrosyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, alih bahasa Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry, Jakarta, Bulan Bintang, 1993.

M.Sayyid Qutb, Muqawwamat al-Tasawwur al-Islami, Dar al-Shurq, tt

Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Westem Education, Colorado, 1964.

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2008.

Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, (New York: Charles Sribner’s sons, n.d).

Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta, Paramadina, 1997.

Oliver Leaman, “Scientif and Philosophical Enquiry: Achievement and Reaction in Muslim History”, dalam Farhad Daftary (ed), Intellectual Traditions in Islam, I.B Tauris, London-New York in association with The Institute of Ismaili Studies, 2000.

S.M.N, al-Attas dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur, ISTAC, 1995.

Sharif, M.M., A History of Muslim Philosophy, jilid. II, Low Price Publication, Delhi, 1995.

Shaykh Ohif al-Zayn, al-Islam wa Idulujiyyat al-Insan, Beirut, aÉr al- Kitab al-Lubnanu, 1989.

Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problem, A Modern Introduction, Wadsworth, Thomson Learning, Australia, 2001.

Sekian

Semoga Bermanfaat

MEMAHAMI KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI


MEMAHAMI KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Kepribadian adalah sesuatu yang pasti terdapat dalam diri setiap manusia, baik manusia itu beragama maupun tidak. Secara umum kepribadian terdapat dalam diri setiap individu yang normal. Sedangkan orang yang tidak normal kepribadiannya tidak tertentu dan tidak dapat diamati secara pasti, walaupun pada dasarnya setiap kepribadian itu dapat diamati melalui gejala-gejala yang tampak.

Pada ilmu psikologi kepribadian dibahas dalam kajian ilmu yang termasuk bagian dari psikologi secara tersendiri. Maka hal itu memunculkan ilmu baru yaitu psikologi kepribadian. Kemudian dalam psikologi agama juga dibahas kepribadian orang beragama atau dapat dikatakan kepribadian orang menurut pandangan atau sudut pandang agama.

Dalam pandangan psikologi agama manusia mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, maka dari itu menimbulkan sikap keagamaan yang berbeda-beda pula. Disamping itu juga menimbulkan sesuatu yang berbeda, jika orang tersebut berbeda agama, karena agama yang satu dengan agama yang lain berbeda.

Maka dari itu kami akan mencoba mengungkap tentang kepribadian dan sikap keagamaan seseorang dalam beragama, yang kami ambil dari berbagai literatur yang kami temukan.

B.     Pengertian dan Teori Kepribadian

Sebelum melangkah lebih jauh mengenai hubungan  kepribadian dengan sikap keagamaan, secara berurutan akan dikemukakan dahulu hal-hal yang menyangkut dengan kepribadian.

Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam teater.

Personality mempunyai sinonim yang sangat banyak dalam aplikasinya. Namun ketika semua istilah tersebut dipakai dalam psikologi mempunyai arti atau ma’na yang berbeda-beda.

Istilah yang berdekatan maknanya itu antara lain:

  1. Personality (kepribadian) penggambaran tingkah laku secara diskriptif tanpa memberi nilai (devaluative).
  2. Character (karakter), penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
  3. Diposition (watak), karakter yang telah lama dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.
  4. Temperamen (temperamen); kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologik atau fisiologik, diposisi hereditas.
  5. Traits (sifat); respon yang senada (sama) terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
  6. Type-attribute (ciri); mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
  7. Habit (kebiasaan) respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.

Dalam berbagai kata yang mempunyai pengertian yang hampir sama, para psikolog kemudian membuat definisi tersendiri menurut pengetahuan mereka masing-masing, antara lain:

Allport mendefinisikan kepribadian sebagai berikut:

Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Koentjaraningrat (1980) menyebut kepribadian atau personality sebagai “susunan unsur-undur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia.

Hartmann: Susunan yang terintegrasikan dari ciri-ciri umum seseorang individu sebagaimana dinyatakan dalam corak khas yang tegas diperlihatkannya kepada orang lain.

Wetherington

Dari seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas Wetherington menyimpulkan bahwa kepribadian mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Manusia karena keturunannya mula sekali hanya merupakan individu dan kemudian barulah merupakan suatu pribadi karena pengaruh belajar dan lingkungan sosialnya.
  • Kepribadian adalah istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu.
  • Kata kepribadian menyatakan pengertian tertentu saja yang ada pada pikiran orang lain dan isi pikiran itu ditentukan oleh nilai perangsang sosial seseorang.
  • Kepribadian tidak menyatakan sesuatu yang bersifat statis, seperti bentuk badan atau ras, tetapi menyertakan keseluruhan dan kesatuan dari tingkah laku seseorang.
  • Kepribadian tidak bekembang sacara pasif saja, setiap orang mempergunakan kapasitasnya secara aktif untuk menyesuaikan diri kepada lingkungan sosial.

Jadi pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan pernyataan atau istilah yang digunakan menyebut tingkah laku seseorang yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya dari sudut filsafat dikemukakan pendapat:

William Stern

Menurut William Stern kepribadian adalah suatu kesatuan yang banyak (Unita Multi Complex) yang diarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu dan mengandung sifat-sifat khusus individu, yang bebas menentukan dirinya sendiri.

Prof Kohnstamm

Ia menentang William Stern yang meniadakan kesadaran pada pribadi terutama kepada Tuhan. Menurut Kohnstamm; Tuhan merupakan pribadi yang menguasai alam semesta. Dengan kata lain kepribadian sama artinya dengan teistis (keyakinan). Orang yang berkepribadian menurutnya ialah orang yang berkeyakinan ketuhanan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa dalam pandangan filsafat kepribadian diidentikkan dengan kepercayaan terhadap Tuhan dan keagamaannya.

C.     Tipe-Tipe Kepribadian

Jika berbicara mengenai tipe-tipe kepribadian, hal itu sangat luas dan setiap cabang psikologi mempunyai pandangan yang berbeda yang hal tersebut mencakup keseluruhan dari teori tersebut. Akan sangat panjang kalau dibicarakan di sini.

Secara garis besarnya pembagian tipe kepribadian manusia ditinjau dari berbagai aspek antara lain:

1.  Aspek Biologis

Aspek biologis yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang ini didasarkan atas konstitusi tubuh dan bentuk tubuh yang dimiliki seseorang, tokoh-tokoh yang mengemukakan teorinya berdasarkan aspek biologis ini antara lain:

Hippocrates dan Galenus

mereka berpendapat, bahwa yang mempengaruhi tipe kepribadian seseorang adalah jenis cairan tubuh yang paling dominan, yaitu:

  1. Tipe Choleris

Tipe ini disebabkan cairan empedu kuning yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak emosi, mudah marah dan mudah tersinggung.

  1. Tipe melancholis

Tipe ini disebabkan cairan empedu hitam yang dominan dalam tubuhnya. Sifatnya agak tertutup, rendah diri, mudah sedih sering putus asa.

  1. Tipe Plegmatis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan lendir yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak statis, lamban, apatis, pasif, pemalas.

  1. Tipe Sanguinis

Tipe ini dipengaruhi oleh cairan darah merah yang dominan. Sifat yang dimilikinya agak aktif, cekatan, periang, mudah bergaul.

Disamping Hippocrates, masih banyak lagi tokoh-tokoh psikologi yang membagi tipe kepribadian berdasarkan aspek biologis. Mereka membaginya berdasarkan bagian yang berbeda-beda atau ciri khas yang berbeda, jadi juga ditemukan hasil yang berbeda pula. Pembagian pada aspek ini juga dilakukan oleh Kretcmer, dan Sheldon.

2. Aspek Sosiologis

Pembagian ini didasarkan kepada pandangan hidup dan kualitas sosial seseorang. Yang menegemukakan teorinya berdasarkan aspek sosiologis ini ialah;

Edward Spranger

Ia berpendapat bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pandangan hidup mana yang dipilihnya. Berdasarkan hal itu ia membagi tipe kepribadian menjadi;

1)      Tipe teoritis, orang yang perhatiannya selalu diarahkan kepada masalah teori dan nilai-nilai; ingin tahu, meneliti dan mengemukakan pendapat.

2)      Tipe ekonomis, yaitu orang yang perhatiannya tertuju kepada manfaat sesuatu berdasarkan faedah yang mendatangkan untung rugi.

3)      Tipe esthetis, yaitu orang yang perhatiannya tertuju kepada masalah-masalah keindahan.

4)      Tipe sosial yaitu orang yang perhatiannya tertuju ke arah kepentingan masyarakat dan pergaulan.

5)      Tipe politis, yaitu orang yang perhatiannya tertuju kepada kepentingan kekuasaan, kepentingan dan organisasi.

6)      Tipe religius, yaitu  tipe orang yang taat kepada ajaran agama, senang masalah-masalah ketuhanan dan keyakinan.

Muray

Muray membagi tipe kepribadian menjadi;

1)      Tipe teoritis yaitu orang yang menyenangi ilmu pengetahuan berpikir logis dan rasional.

2)      Tipe humanis, yaitu tipe orang yang memiliki sifat kemanusiaan yang mendalam.

3)      Tipe sensasionis yaitu tipe orang yang suka sensasi dan berkenalan.

4)      Tipe praktis yaitu tipe orang yang giat bekerja dan mengadakan praktek.

3. Aspek Psikologis.

Dalam pembagian tipe kepribadian berdasarkan psikologis Prof. Hevman mengemukakan bahwa dalam diri manusia terdapat tiga unsur: emosionalitas, aktivitas dan fungsi sekunder (proses penggiring).

  1. Emosionalitas merupakan unsur yang mempunyai sifat yang didominasi oleh emosi yang positif, sifat umumnya adalah kurang respek terhadap orang lain, perkataan berapi-api, tegas, bercita-cita dinamis, pemurung, suka berlebih-lebihan.
  2. Aktivitas, yaitu sifat yang dikuasai oleh aktivitas gerakan, sifat umum yang tampak adalah lincah, praktis, berpandangan luas, ulet, periang dan selalu melindungi kepentingan orang lemah.
  3. Fungsi sekunder (proses penggiring), yaitu sifat yang didominasi oleh kerentanan perasaan, sifat umum yang tampak; watak tertutup, tekun, hemat, tenang dan dapat dipercaya.

Selanjutnya Carl Gustav yang membagi manusia menjadi dua pokok.

  1. Tipe extrovert, yaitu orang yang terbuka dan banyak berhubungan dengan kehidupan nyata.
  2. Tipe introvert, yaitu orang yang tertutup dan cenderung kepada berpikir dan merenung.

Masing-masing dari tipe extrovert dan introvert memiliki tipe pikiran, perasaan, penginderaan dan intuisi. Sehingga tupe kepribadian manusia tersebut terbagi atas:

  1. Tipe pemikiran terbuka.
  2. Tipe perasaan terbuka.
  3. Tipe penginderaan terbuka.
  4. Tipe intuisi terbuka.
  5. Tipe pemikiran tertutup.
  6. Tipe perasaan tertutup.
  7. Tipe penginderaan tertutup.
  8. Tipe intuisi tertutup.

Sebenarnya masih banyak lagi selain tipe-tipe di atas pembagian tipe kepribadian menurut para ahli. Hal tersebut dikarenakan berbeda ahli yang mengemukakan berbeda pula pandangannya dan dasar penggolongannya. Yang perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan pembagian. Namun yang telah disebutkan diatas kiranya cukup untuk sebagai bekal dalam rangka mendalami dan membahas kepribadian dalam pandangan psikologi agama.

D.     Hubungan Kepribadian Dan Sikap Keagamaan

1. Struktur Kepribadian

Sigmund Feud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan gerak geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri.

  1. Id . Sebagai suatu sistem id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah.
  2. Ego. Merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang nyata.
  3. Super ego. Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral.

2. Sukamto. M.M.

Menurut pendapat Sukamto kepribadian terdiri dari empat sistem yaitu:

  • Qalb. Qalb adalah hati, yang menurut bahasa berarti sesuatu yang berbolak-balik. Sedangkan menurut istilah ialah segumpal daging yang ada dalam tubuh yang digunakan untuk merasakan yang sifatnya bisa berubah-ubah. Hal tersebut sesuai sabda Nabi; yang artinya: ketahuilah bahwa didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging(sekepal daging), jika itu baik maka  baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh, itulah qalb.
  • Fuad, adalah perasaan terdalam dari hati yang sering kita sebut hati nurani (cahaya mata hati), dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati, dan merasakan akibatnya. Kalau hati kufur, fuad pun kufur dan menderita. Dalam al qur’an fuad disebutkan sebagai berikut;
    • Fuad bisa bergoncang gelisah.  10.  Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak kami teguhkan hati- nya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).
    • Dengan diwahyukannya Al Qur’an kepada nabi, fuad nabi menjadi teguh. 32.  Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).
    • Fuad tidak bisa berdusta. 11.  Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
    • Orang zalim fuadnya kosong. 43.  Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
    • Orang musryk fuad dan pandangannya dibolak-balikkan. 110.  Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.
    • Ego. Aspek ini timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subyektif dan yang obeyektif. Didalam fungsinya ego berpegang pada prinsip kenyataan.
    • Tingkah laku. Nafsiologi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi-asumsi subyektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorangpun bisa bersikap obyektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tingkah laku ditentukan oleh pengalaman yang disadari oleh pribadi. Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku, dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal saleh di segala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal.

E.     Dinamika Kepribadian

Selain tipe dan struktur, kepribadian juga memiliki semacam dinamika yang unsurnya secara aktif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:

  • Energi rohaniah yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas rohaniah.
  • Naluri yang berfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer.
  • Ego
  • Super ego.

Dalam kaitannya dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketentraman dalam batinnya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar dan indah. Namun terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya yang bertentangan dengan realita yang ada.

Kemampuan ego untuk menahan diri tergantung dari pembentukan ego ideal. Dalam kaitan inilah bimbingan dan pendidikan agama sangat berfungsi bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikan moral dan akhlak digalakkan dalam upaya membekali ego ideal dengan nilai-nilai luhur. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan yang peletak dasarnya adalah orang tua. Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi; bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan yahudi, nasroni atau majusi. Bahkan pengaruh tersebut sampai pada dasar-dasar akidah seseorang. Jadi keberagamaan seseorang ditentukan oleh peran orang tuanya.

Seperti yang dikemukakan oleh Erich Fromm, bahwa pembentukan kepribadian tergantung dari dua faktor lingkungan, yakni; asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan dengan lingkungan manusiawi. Kedua faktor ini sengat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan watak seseorang, karena keduanya termasuk unsur kepribadian yang dipengaruhi faktor luar. Contohnya dalam keluarga penanaman nilai harus dilakukan secara sinkron, jangan sampai keluarga menjadikan lingkungan pendidikan yang keras karena akan berpengaruh kepada karakter dan sikap anak dalam memahami agama. Pembentukan kepribadian dimulai dengan penanaman sistem nilai pada diri anak. Dengan demikian pembentukan sikap dan kepribadian keagamaan dimulai dengan penanaman nilai-nilai keagamaan pada anak. Sistem nilai sebagai relaitas yang abstrak yang dirasakan  dalam diri sebagai pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman hidup. Hal itu menunjukkan bahwa sistem nilai merupakan unsur kepribadian yang tercermin dalam sikap dan perilaku, dan diyakini sebagai sesuatu yang benar dan perlu dipertahankan. Sistem nilai merupakan identitas seseorang.

Adapun pembentukan sistem nilai ini tergantung dari perlakuan yang diberikan oleh orang tua dan ketersediaan lingkungan agama yang mendukung. Sistem nilai memberi pengaruh dalam pembentukan kepribadian yang memuat empat unsur utamanya. Kepribadian secara utuh terlihat dari ciri khas, sikap, perilaku lahir dan batin, pola pikir dan jati diri. Dengan demikian kepribadian yang berdasarkan nilai-nilai agama terlihat dari kemampuan seseorang untuk menunjukkan ciri khas dirinya sebagai penganut agama, sikap dan perilakunya secara lahir dan batin yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya, pola pikirnya memiliki kecenderungan terhadap keyakinan agamanya, serta kemampuannya untuk mempertahankan jati diri sebagai seseorang yang beragama. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang yang hidup dalam lingkungan agamis maka akan berkepribadian agama yang baik dan sesuai dengan agama yang dianutnya. Disamping itu dapat juga dilihat pula pentingnya pendidikan agama untuk mengisi nilai-nilai keagamaan seorang anak agar tumbuh menjadi seorang yang mempunyai kepribadian keagamaan yang sesuai.

Sekian

Semoga Bermanfaat