GURU DAN TANTANGAN MASA DEPAN


GURU DAN TANTANGAN MASA DEPAN
By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A. Latar Belakang
Dalam perspektif pendidikan islam, tujuan pendidikan islam yaitu untuk mengabdi kepada Allah. Pengabdian pada Allah sebagai realisasi dari keimanan yang diwujudkan dalam amal, tidak lain adalah untuk mencapai derajat orang yang bertaqwa disisiNya. Beriman dan beramal saleh merupakan dua aspek kepribadian yang dicita-citakan oleh pendidikan islam.
Untuk mengaktualisasikan tujuan tersebut, manusia sebagai khalifah yang punya tanggung jawab mengantarkan manusia ke arah tujuan tersebut dengan menjadikan sifat-sifat Allah menjadi bagian dari karakteristik kepribadiannya. Justru itu keberadaan pendidik dalam dunia pendidikan sangat krusial, sebab kewajibannya tidak hanya menginternalisasikan pengetahuan (knowledge) tetapi juga dituntut mentransformasikan nilai-nilai (value/qimah) pada anak didik. Bentuk nilai yang ditransformasikan dan disosialisasikan paling tidak meliputi nilai etis, nilai pragmatis, nilai efek sensorik dan nilai religius. Orang yang melakukan transformasi nilai itu adalah guru. Maka dari itu seorang guru harus mengetahui tentang syarat-syarat guru dan lain sebagainya.
Sementara itu gagasan modernisasi pendidikan islam mempunyai akar-akarnya dalam gagasan tentang modernisasi pemikiran dan institusi islam secara keseluruhan. Dengan kata lain”modernisasi” pendidikan islam tidak bisa dipisahkan dengan kebangkitan gagasan dan program modernisasi islam. Kerangka dasar yang ada dibalik modernisasi islam secara keseluruhan adalah bahwa modernisasi pemikiran dan kelembagaan islam merupakan prasyarat kebangkitan kaum muslim dimasa modern.
Sebelum kita membicarakan lebih jauh mengenai modernisasi sebelumnya kita bicarakan dahulu istilah modernisasi. Merupakan kata modern yang mendapat akhiran isasi yang berarti pemodernan. Secara etimologis modern berasal dari bahasa latin modo yang berarti masa kini atau mutakhir. Mutakhir disini punya kedekatan makna dengan cara zaman sekarang ini atau sesuai dengan masa yang paling baru. Istilah lain yang diperkenalkan oleh Bahtiar Rifa’i bahwa modern berasal dari bahasa latin Modernus, modo berarti akhir-akhir ini atau tadi, sedangkan ernus merupakan akhiran katerangan waktu. Dalam istilah konsep Darwin (1809-1882) istilah modern punya arti yang sama dengan Up to date , progresif dan maju.
Istilah modern ini dianggap sebagai lawan dari istilah ancient atau tradisional. Dengan demikian, kedua istilah itu merupakan tipe idela dari dua tatanan masyarakat yang berbeda. Pada umumnya, dalam pengertian modern, tercakup ciri-ciri masyarakat tertentu yang ditemui sekarang ini. Istilah modern kemudia berkembang menjadi istilah teknis akademis. Modernisasi yaitu proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Seperti pandangan A. Scalapino yang memahaminya sebagai suatu proses dimana suatu masyarakat atau kawasan (region) tertentu menselaraskan diri dengan tuntutan dan kesempatan waktu, dengan tujuan-tujuan untuk memajukan ekonomi, harmoni sosial dan stabilitas politik. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam modernisasi suatu masyarakat adalah pergantian tehnik produksi dari carea tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri. Dalam hal ini terdapat indikator bagaimana modern diartikan sebagai kekinian. Artinya terdapat dinamika perkembangan yang memberikan ruang artikulatif bagi manusia untuk secara lebih lanjut terlibat dalam proses pergeseran nilai dan perspektif yang melahirkan berbagai ragam tehnik yang secara sfesifik dikhususkan untuk bidang tertentu saja.
Banyak diantara tokoh yang mengemukakan konsep tentang modernisasi termasuk para pemikir Indonesia. Light dan Keller mengartikan modernisasi sebagai perubahan nilai-nilai, lembaga-lembaga dan pandangan yang memindahkan masyarakat ke arah industrialisasi dan urbanisasi. Sedangkan dalam pandangan Mukti Ali, modernisasi adalah proses dimana rakyat dalam kulturnya sendiri menyesuaikan dirinya terhadap kebutuhan-kebutuhan waktu dimana mereka hidup. Kemudian Koentjaraningrat mengartikan modernisasi sebagai usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang.
Sebagaimana disimpulkan Shipman, fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat modern terdiri dari 3 bagian: sosialisasi , penyekolahan, dan pendidikan. Modernisasi yang terjadi menimbulkan masalah baru dan tantangan baru bagi guru. Maka dari itu guru harus peka terhadap perkembangan dan tantangan masa depan.Untuk mengemban tugasnya yang semakin berat maka guru harus selalu mengembangkan keilmuannya.
Maka dari itu saya disini akan menulis dan membahas mengenai guru dan tantangan masa depan yang kami ambil dari berbagai referensi yang ada dan pengetahuan kami
B. Guru
Secara leksikal guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya atau mata pencahariannya mengajar. Dalam pengertian yang sederhana guru adalah orang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan dalam UU RI no 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional menegaskan bahwa: pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan, pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Menurut Zakiah Darajat guru adalah pendidik profesional, karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawabnya pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua.
Dari berbagai pandangan diatas, penulis menyimpulkan bahwa guru adalah orang dewasa yang menjadi tenaga kependidikan untuk membimbing dan mendidik peserta didik menuju kedewasaan, agar memiliki kemandirian dan kemampuan dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.
Pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembianaan akhlak dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu pendidik mempunyai kedudukan tinggi dalam islam. Dalam beberapa hadist disebutkan: “ Jadilah engkau sebagai guru atau pelajar atau pendengar atau pencipta dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima, sehingga engkau menjadi rusak.”. Dalam hadist Nabi yang lain: “tinta seorang ilmuwan (yang menjadi guru) lebih berharga kerimbang darah para syuhada’ “. Bahkan islam menempatkan pendidik setingkat dengan Rosul.
Al-Sawki bersyair:
قم للمتعلم وفه التبجيل كاد المعلم ان يكون رسولا
“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang raosul”.
Kedudukan orang alim dalam islam dihargai tinggi bila orang itu mengamalkan ilmunya. Mengamalkan ilmu dengan cara mengajarkan ilmu itu kepada orang lain adalah suatu pengatualisasian yang penting dihargai oleh islam. Asma Hasan Fahmi ( 1979: 166) mengutip kitab ihya’ al-Ghazali yang mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan besar dan penting.
Al-Ghazali menukil beberapa hadits Nabi tentang keutamaan seorang pendidik. Ia berkesimpulan bahwa pendidik disebut sebagai orang-orang besar (great individuals) yang aktivitasnya lebih baik daripada ibadah setahun (perhatikan at Taubah: 122). Selanjutnya al-Ghazali menukil dari perkataan para ulama yang mengatakan bahwa pendidik merupakan pelita (siraj) segala zaman, orang yang hidup sesama dengannya akan memperoleh pancaran cahaya (nur) keilmiahannya. Andaikata dunia tidak ada pendidik, niscaya manusia seperti binatang, sebab pendidikan adalah upaya mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangannya (baik binatang buas maupun binatang jinak) kepada sifat insaniyah dan ilahiyah.
C. Syarat-Syarat Guru
Al-Kanani (w 733 H) mengemukakan persyaratan seorang pendidik atas tiga macam, yaitu:
1. Yang berkenaan dengan dirinya sendiri.
2. Yang berkenaan dengan pelajaran, dan
3. Yang berkenaan dengan muridnya.
Pertama, syarat guru yang berhubungan dengan dirinya yaitu:
1. Hendaknya guru senantiasa insyaf akan pengawasan Allah terhadapnya dalam segala perkataan dan perbuatan bahwa ia memegang amanat ilmiah yang duberikan Allah kepadanya.
2. Hendaknya guru memelihara kemuliaan ilmu.
3. Hendaknya guru bersifat zuhud.
4. Hendaknya guru tidak berorientasi duniawi dengan menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mencapai kedudukan, harta, prestasi atau kebanggaan atas orang lain.
5. Hendaknya guru menjauhi mata pencaharian yang hina dalam pandangan syara’ dan menjauhi situasi yang biasa mendatangkan fitnah dan tidak melakukan sesuatu yang dapat menjatuhkan harga dirinya di mata orang banyak.
6. Hendaknya guru memelihara syiar-syiar islam.
7. Guru hendaknya rajin melakukan hal-hal yang disunatkan oleh agama baik lisan maupun perbuatan.
8. Guru hendaknya memelihara akhlak yang mulia dalam pergaulannya dengan orang banyak dan menghindarkan diri dari akhlak yang buruk.
9. Guru hendaknya selalu belajar dan tidak merasa malu untuk menerima ilmu dari orang yang lebih rendah padanya, baik secara kedudukan maupun usianya.
10. Guru hendaknya selalu mengisi waktu-waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat.
11. Guru hendaknya rajin meneliti, menyusun dan mengarang serta memperhatikan ketrampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk itu.
Kedua, syarat-syarat yang berhubungan dengan pelajaran (syarat-syarat paedagogis-didaktis ) yaitu:
1. Sebelum keluar dari rumah untuk mengajar, hendaknya guru bersuci dari hadast dan kotoran serta mengenakan pakaian yang baik dengan maksud mengagungkan ilmu dan syariat.
2. Ketika keluar dari rumah, hendaknya guru selalu berdoa agar tidak sesat menyesatkan, dan terus berdzikir kepada Allah SWT.
3. Hendaknya guru mengambil tempat pada posisi yang membuatnya dapat terlihat oleh semua murid.
4. Sebelum mulai mengajar, guru hendaknya membaca sebagian dari ayat al Qur’an agar memperoleh berkah dalam mengajar, kemudian membaca basmalah.
5. Hendaknya guru mengajarkan bidang studi sesuai dengan hirarki nilai kemuliaan dan kepentingannya yaitu tafsir al Qur’an, hadist, ushul al din, ushul fiqih dan seterusnya.
6. Hendaknya guru selalu mengatur volume suaranya agar tidak terlalu keras hingga membisingkan ruangan, tidak pula terlalu rendah hingga tidak terdengar oleh murid atau siswa.
7. Hendaknya guru menjaga ketertiban majlis dengan mengarahkan pembahasan pada obyek tertentu.
8. Guru hendaknya menegur murid yang tidak menjaga sopan santun dalam kelas, seperti menghina teman, tertawa keras, tidur, berbicara dengan teman atau tidak menerima kebenaran.
9. Guru hendaknya bersikap bijak dalam melakukan pembahasan, menyampaikan pelajaran dan menjawab pertanyaan.
10. Terhadap murid baru, guru hendaknya bersikap wajar dan mencipatakan suasana yang membuatnya telah merasa menjadi bagian dari kesatuan teman-temannya.
11. Guru hendaknya menutup setiap akhir kegiatan belajar mengajar dengan kata-kata wallahu a’lam (Allah yang maha tahu) yang menunjukkan keikhlasan kepada Allah SWT.
12. Guru hendaknya tidak mengasuh bidang studi yang tidak dikuasainya.

Ketiga, syarat-syarat guru ditengah-tengah para muridnya, antara lain:
1. Guru hendaknya mengajar dengan niat mengharapkan ridha Allah, menyebarkan ilmu dan menghidupkan syara’, menegakkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan serta memelihara kemaslahatan umat.
2. Guru hendaknya tidak menolak untuk mengajar murid yang tidak mempunyai niat tulus dalam belajar.
3. Guru hendaknya mencintai muridnya seperti ia mencintai dirinya sendiri.
4. Guru hendaknya menyampaikan pelajaran dengan bahasa yang mudah dan berusaha agar muridnya dapat memahami pelajaran.
5. Guru hendaknya memotivasi murid untuk menuntut ilmu seluas mungkin.
6. Guru hendaknya melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya.
7. Guru hendaknya bersikap adil terhadap semua muridnya.
8. Guru hendaknya berusaha membantu memenuhi kemaslahatan murid, baik dengan kedudukan atau hartanya.
9. Guru hendaknya terus memantau perkembangan murid, baik intelektual maupun akhlaknya.
Suatu hal yang sangat menarik dari teori tentang syarat-syarat pendidik yang dikembangkan oleh al Kanani itu yaitu adanya unsur yang menekankan pentingnya sifat kasih sayang, lemah lembut terhadap anak didik.
Dan Munir Mursi (1977:97), tatkala ia membicarakan syarat-syarat guru kuttab (semacam sekolah dasar di Indonesia), menyatakan syarat terpenting bagi guru dalam islam adalah syarat keagamaan. Dengan demikian, syarat guru dalam islam adalah sebagai berikut:
1. Umur harus sudah dewasa.
2. Kesehatan harus sehat jasmani dan rohani.
3. Keahlian, harus menguasai barang yang diajarkannya dan menguasai ilmu mendidik (termasuk ilmu mengajar).
4. Harus berkepribadian muslim.
D. Problem Dan Tantangan Yang Dihadapi Guru
Tema tentang situasi kemanusiaan di zaman modern menjadi penting dibicarakan, mengingat dewasa ini manusia menghadapi bermacam-macam persoalan yang benar-benar membutuhkan pemecahan segera. Kadang-kadang kita merasa bahwa situasi yang penuh problematik di dunia modern justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia itu sendiri. Di balik kemajuan IPTEK, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik , serta membangun peradaban maju untuk dirinya sendiri. Sejak manusia memasuki zaman modern, yaitu manusia sudah mampu mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka memang telah membebaskan diri dari belenggu mistis yang irrasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang sangat mengikat kebebasan manusia. Tapi ternyata di dunia modern manusia tidak dapat melepaskan dari jenis belenggu yang lain, yaitu penyembahan kepada dirinya sendiri.
Tuhan diabaikan dari pertimbangan, karena itu kekekalan sifat-sifat Tuhan dianggap sebagai teori metafisika yang dirumuskan oleh manusia pada suatu ketika dalam sejarah manusia. Ahli sosiologi modern mengistilahkan perubahan dalam masyarakat ini sebagai sekulerisasi yang menurut keyakinannya merupakan sumbangan terbesar sains moden terhadap sejarah manusia. Sekulerisasi menurut mereka adalah pembebasan manusia pertama dari sikap religius dan kemudian dari kontrol metafisika atas nalar dan bahasanya.
Dengan demikian sekulerisasi telah menimbulkan kekecewaan alam, desakralisasi politik dan dekonsentrasi nilai-nilai. Hanya karena alam dipisahkan dari kehendak Tuhan, maka manusia dibebaskan dari larangan hukum agama. Manusia di barat mempunyai kekuasaan untuk membuat dan memperbaiki undang-undang sesuai dengan perubahan kondisi masyarakat.
Dengan memisahkan nilai-nilai dari sumber religiusnya (Tuhan dan sifat-sifatNya), proses sekulerisasi telah menghancurkan konsep keagungan dan kemuliaan manusia, cita-citanya untuk menjadi Khalifatullah serta norma obyektif dan universal dengan apa manusia dapat dinilai. Dalam konteks demikian maka kedudukan manusia mengalami degradasi. Manusia yang tadinya dianggap sebagai pusat alams semesta, kini telah berubah menjadi sekedar unsur suatu sistem ekonomi atau sistem politik.
Modernitas selain membawa implikasi positif juga membawa dampak negatif bagi dunia islam. Problem yang ditimbulkan oleh modernitas dilingkungan kaum muslim semakin terasa berat karena sejumlah faktor berikut, yaitu adanya tekanan demografis yang menimpa masyarakat islam sejak tahun 50-an yang bandingannya dalam dunia; despotisme lembaga politik dan ekses idiologi luar seperti liberalisme, sekulerisme, komunisme, dan lainnya yang tidak sesuai dengan kebutuhan kaum muslimin.
Ada tiga hal yang mendasari munculnya modernitas:
1. Ilmu pengetahuan yang berujung pada rasionalisme.
2. Negara bangsa yang bermuara pada nasionalisme.
3. Peminggiran peran agama yang berujung pada sekulerisme.
Katiga hal tesebut menjadi problem sekaligus tantangan bagi kaum muslimin dengan datangnya modernitas ke dunia islam sejak abad ke 19.
Adanya keterputusan antara modernitas budaya dan intelektual dikalangan umat islam telah menyebabkan timbulnya problem intelektual, maka problem pertama yang menjadi tantangan kaum muslim terkait erat dengan problem rasionalitas. Problem intelektual lainnya adalah masalah penerimaan ilmu pengetahuan barat. Dalam hal ini jika sejarah klasik islam dianalisis, maka akan dijumpai fakta bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani telah diserap secara gencar mulai abad 8/9 oleh islam. Namun sejak abad ke 9, nampak usaha-usaha menentang penyebaran pengetahuan rasional yang bertolak belakang dari ilmu-ilmu keagamaan tradisional.
Rasionalisme, nasionalisme dan sekularisme secara bersamaan menjadi problem sekaligus tantangan bagi dunia islam terletak pada penempatan absolutifitas ajaran Tuhan. Ketiganya menempatkan nilai absolutifitas tersebut tidak pada posisi yang fundamental memperngaruhi berbagai bidang kehidupan manusia. Terlebih dalam bidang-bidang yang membutuhkan institusi yang secara fungsional meletakkan sistem tertentu dalam aplikasinya semacam poilitik dan ekonomi. Keduanya sama sekali tidak berkaitan dengan legitimasi nilai-nilai ilahi melainkan berjalan sendiri secara sekuler. Hal ini disebabkan landasan sistem yang berlaku merupakan produk rasionalisme dengan moralitas baru yang didasarkan pada artikulasi kekuatan rasio manusia secara mutlak.
Jelas tidak mungkin mengkompromikan islam dengan sekularisme, dimana sekulerisme berarti pendekatan ilmiah modern terhadap pengetahuan dan pola hidup, maka tidak ada penyesuaian yang dapat diterima. Apa yang dikatakan Qur’an dalam konteks serupa juga benar. Orang-orang muslim tidak dapat menjadi modern dalam pengertian diatas kopromi tidak mungkin dilakukan antara kafir dengan iman, ketidakpercayaan dengan kepercayaan, sekulerisme dan islam. Orang-orang muslim tidak dapat mempercayai asumsi dasar bahwa kebudayaan dan peradaban islam sama dengan peradaban barat modern.
Kalaupun sarjana muslim melakukan penelitian dan mampu merumuskan konsep-konsep islam sejati untuk dapat mengahdapi tantangan konsep-konsep sekuleris, maka pendidikan formal saja tidak dapat memecahkan masalah tersebut kecuali langkah-langkah juga diambil guna menciptakan perlawanan terhadap sikap ilmiah modern serta lingkungan yang telah dimodernisasikan dan dimekanisasikan. Karena itu, problem orang-orang muslim jauh lebih kompeks daripada masalah hanya menggantikan konsep sekularis dengan konsep islam yang bertolak dari Qur’an dan sunnah. Modernisasi secara besar-besaran kini sedang berlangsung di semua negara muslim.
Sains modern mendukung konfrontasi antara manusia dan alam, sedangkan Islam senantiasa menganjurkan dengan tegas adanya keselarasan antara manusia dengan alam. Baru belakangan ini saja para ahli sains menyadari bahwa eksploitasi alam harus dihentikan, bahwa pemecahan secara teknis terhadap problem ekologi hanya memperbesar masalah dan menciptakan bahaya baru. Namun, mereka belum juga dapat merubah kebiasaan teknologi mereka.
Hal tersebut merupakan problem pada era modernitas yang perlu dihadapi oleh guru dan guru harus peka dengan berkembangnya masalah-masalah yang muncul pada zaman modern. Maka dari itu guru harus selalu mengembangkan keprofesionalisasiannya yang terkait dengan bidang keilmuan yang dipegangnya agar mampu membina anak didik menuju kedewasaannya sekaligus juga memberikan antisipasi dan menjaga pengaruh anak didik dari dampak negatif modernisasi atau zaman modern.
Sekian
Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: