PENDIDIKAN YANG HUMANIS


PENDIDIKAN YANG HUMANIS
By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A. Latar Belakang
Pendidikan memainkan peranan yang penting dalam pembangunan dan kemajuan sebuah masyarakat. Maju atau mundur sebuah masyarakat adalah bergantung kepada maju atau mundurnya pendidikan masyarakat tersebut. Oleh itu, pendidikan amat penting dan harus diberi keutamaan dalam mencapai pembangunan masyarakat.
Dengan pendidikan, sebuah masyarakat dapat mencapai akhlak yang tinggi. Pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua aspek yaitu aspek kemasyarakatan dan individu. Tugas ini hanya menekankan kepada aspek individu.
Istilah pendidikan berbeda dengan pengajaran karena pendidikan dapat membantu pertumbuhan sahsiah secara menyeluruh di dalam diri seseorang tetapi pengajaran hanya dapat melatih seseorang individu melakukan sesetengah tugas dengan cakap. Di sini, jelas menunjukkan bahwa peranan pendidikanlah yang membantu ke arah pembangunan bukan pengajaran semata-mata.
Juga tidak boleh dilupakan bahwa pendidikan yang diberlakukan haruslah pendidikan yang humanis yang memanusiakan manusia. Pendidikan tidak boleh bersifat banking education yang hanya menganggap peserta didik sebagai gelas kosong yang dapat diisi, yang tidak mempunyai potensi apapun.
Berdasarkan kenyataan yang terjadi sekarang ini, masih banyak pendidikan yang bersifat banking yang menganggap bahwa peserta didik tidak mempunyai potensi apapun. Pendidikan yang demikian merupakan pendidikan yang tidak memanusiakan manusia.
Sementara itu pendidikan islam merupakan usaha pemindahan nilai-nilai yang bersumber wahyu dan ijtihad agar nilai-nilai tersebut dapat berkembang dalam masyarakat dan terjadi kesinambungan ajaran-ajaran islam di masyarakat. Pendidikan terjadi setiap generasi dan berurutan dari generasi satu ke generasi berikutnya. Proses pendidikan islam berbeda dari satu generasi. Pendidikan islam diharapkan dapat mengubah sistem pendidikan yang terjadi sekarang ini, karena sebenarnya dalam konsep pendidikan islam terdapat konsep fitrah yang mengakui potensi setiap manusia.
Namun walaupun begitu masih banyak juga pendidikan islam yang tidak memanusiakan manusia atau tidak bersifat humanis, yang hal ini akan membuat sulit tercapainya tujuan pendidikan.
Maka dari itu kami akan berusaha mengungkap tentang pendidikan yang humanis terlebih lagi tentang pendidikan islam yang kami ambil dari berbagai referensi buku, artikel, sumber hidup dan pengetahuan yang kami miliki.
B. Berbagai Model Pendidikan
Jika kita melihat teori filsafat tentang pendidikan terdapat berbagai teori yang menerangkan tentang pendidikan. Teori-teori pendidikan tersebut tidak semuanya cocok untuk diterapkan di zaman sekarang ini. Zaman dimana semua telah mengalami modernisasi. Teori pendidikan yang diterapkan pada zaman sekarang haruslah teori pendidikan yang humanis, agar pendidikan yang dilaksanakan juga bersifat humanis.
Dehumanisasi adalah bentuk ungkapan nyata dari proses alienasi dan dominasi, sedangkan pendidikan yang humanis adalah sebuah proyek utopia (dalam arti yang positif) untuk kaum tertindas dan terjajah. Banyak kaum idealis yang berangan-angan dan berilusi pendidikan yang humanis yang tidak disertai transformasi dunia yang tidak adil dan menindas. Tidak ada humanistik dalam penindasan, juga tidak ada proses humanisasi dalam liberalisme yang kaku. Namun liberalisme tidak bisa menguasai kesadaran manusia jika ia terisolasi dari luar. Pembebasan hanya terjadi dalam sejarahnya masing-masing, ketika ia melibatkan sebuah kesadaran kritis atas hubungan implisit antara kesadaran itu sendiri dengan dunia.
Hal ini merupakan hal yang mendasar sebagai implikasi dari pendidikan yang humanis yang akan mengantarkan kiat kepaad ketidakmungkinan lain yang ditegaskan dalam banyak studi, yakni netralitas pendidikan.
Selain mengisyaratkan munculnya dehumanisasi, usaha ke arah pendidikan yang humanis tersebut juga mengimplikasikan praktek-praktek pendidikan yang berkebalikan. Sebagai dua hal yang bertentangan proses humanisasi dan dehumanisasi juga menetapkan tugas-tugas pendidikan yang sangat antagonistik.
Pada dasarnya, salah satu perbedaan utama antara pendidikan sebagai sebuah kewajiban humanis dan liberal, disatu sisi dengan dominasi dan dehumanisasi, disisi yang lain adalah bahwa dehumanisasi merupakan proses pemindahan ilmu pengetahuan, sedangkan humanisasi merupakan proses pemberdayaan masyarakat melalui ilmu pengetahuan.
Pada intinya pendidikan yang dilihat dalam bentuk dominasi, adalah memandang manusia sebagai wadah kosong tanpa isi yang harus diisi, sedangkan pendidikan sebagai sebuah pembebasan dan humanisasi memandang kesadarn itu sebagai suatu hasrat terhadap dunia.
Dalam pendidikan humanis, ketika kita sudah menindak lanjuti rasa keingintahuan kita sebagai peneliti dan penyelidik, dan ketika kita sudah berhasil mengakses ilmu pengetahuan, kita otomatis mengetahui dengan pasti kapasitas kita untuk dapat mengenali dan menciptakan ilmu pengetahuan baru. Hal itu dikarenakan terdapat beberapa istilah untuk menyebutkan ilmu pengetahuan, seperti istilah: ilmu, pengetahuan, al ‘ilm, dan sains. Barangkali untuk menyederhanakan masalah, keempat istilah itu dianggap memiliki makna dan maksud yang sama, sehingga istilah-istilah tersebut bebas digunakan dalam wacana keilmiahan tanpa dikaitkan dengan konotasi-konotasi pemahaman yang spesifik dan tertentu.
Pendidikan dan aksi-aksi budaya yang membebaskan bukanlah proses transformasi yang mengasingkan ilmu pengetahuan, namun merupakan proses yang otentik untuk mencari ilmu pengetahuan guna memenuhi hasrat dan keinginan peserta didik dan guru dengan kesadaran untuk menciptakan ilmu pengetahuan baru. Guru yang humanis harus tepat dalam memahami hubungan antara kesadaran manusia dan dunia, dan antara manusia dan dunia. Persepsi kritis ini menghapus dualisme simplitik yang melahirkan dikotomi (yang sebenarnya tidak ada ) antara kesadaran manusia dan dunia.
Sementara itu dehumanisasi kebanyakan sekarang ini dimiliki oleh orang yang terbius dan tergila-gila dengan kekuasaan. Sehingga mereka dengan cara apapun akan menghalangi manusia untuk aktif dalam menemukan keilmuan dan agen transformasi.
Proses pembebasan ini melibatkan arkeologi kesadaran sehingga manusia secara alamiah dapat membangun kesadaran baru yang sanggup merasakan kesadaran dirinya. Ini berbeda dengan proses dominasi atau mistifikasi yang tidak mengembangkan kesadaran baru namun justrui irrasionalitas. Sebenarnya dalam mistifikasi tidak dilarang untuk berpikir, namun disediakan ilusi atau pengaburan realitas sehingga masyarakat yang didominasi sulit untuk mengembangkan pikirannya. Mereka mengaburkan realitas dengan struktur sosial yang mereka utarakan.
Pada intinya pendidikan yang humanis adalah pendidikan yang memanusiakan manusia dimana manusia diberi kebebasan untuk berpikir sesuai dengan kemampuannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Untuk lebih jelasnya mengenai hal itu marilah kita analisis aliran-aliran pendidikan yang mengembangkan teori pendidikan.
1. Aliran Empirisme
Empirisme berasal dari bahasa latin. Asal katanya empiricus yang berarti pengalaman. Aliran ini dinamakan aliran “tabula rasa”. Artinya meja berlapis lilin yang belum ada tulisan di atasnya. Atau bisa dikatakan bahwa seseorang yang lahir itu ibarat kertas kosong yang belum ditulisi apa-apa. Pendidikan sepenuhnya diserahkan pada lingkungan. Perkembangan seseorang tergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam kehidupannya. Oleh karena itu, aliran ini dinamakan aliran optimis dalam pendidikan.
Tokoh perintis pandangan ini adalah John Lock (1704-1832) seorang filsuf Inggris yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”. Menurut pandangan empirisme pendidikan memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman yang tentunya sesuai dengan tujuan pendidikan.
Aliran empirisme ini dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Padahal dalam kenyataannya banyak anak yang berhasil karena berbakat meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung.
2. Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari bahasa latin nativius yang berarti terlahir. Seseorang berkembang berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang.
Pelopornya, Schoupenhauer (1788-1880), filosof berkebangsaan Jerman. Ia berpendapat mendidik ialah membiarkan seorang tumbuh berdasarkan pembawaannya. Jadi bisa dikatakan bahwa hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Atau dengan kata lain, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri.
Pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas adalah bahwa dalam diri individu terdapat suatu “inti” pribadi yang mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemampuan bebas.
3. Aliran Naturalisme
Naturalisme berasal dari bahasa latin nature yang berarti alam, tabiat dan pembawaan. Ciri utama aliran ini yakni dalam mendidik seseorang kembalilah kepada alam agar pembawaan seseorang yang baik tidak dirusak oleh pendidik. Dengan kata lain pembawaan yang baik supaya berkembang secara spontan.
Aliran ini dapat dinamakan megativisme, yaitu aliran yang meragukan pendidikan untuk perkembangan seseorang, karena ia dilahirkan dengan pembawaan yang baik. Pendidikan hendaknya dimulai dengan mempelajari perkembangan anak agar pembawaannya yang baik tidak dirugikan.
4. Aliran Konvergensi
Konvergensi berasal dari bahasa Inggris Convergency yang berarti pertemuan pada satu titik. Aliran ini mempertemukan atau mengawinkan dua aliran yang berlawanan diatas; antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung pada pembawaan dan lingkungannya. Pembawaan seseorang baru berkembang karena mendapat pengaruh dari lingkungan. Hendaknya para pendidik dapat menciptakan suatu lingkungan yang tepat, cukup kaya atau beraneka ragam agar pembawaan dapat berkembang semaksimal mungkin.
Jadi pada intinya teori konvergensi:
1) Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan
2) Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
3) Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Dari berbagai aliran diatas yang cocok sebagai model pendidikan humanis adalah aliran konvergensi, karena memberikan kebebasan manusia untuk berpikir mengembangkan ilmu pengetahuan.
C. Masyarakat dan Pendidikan
Sudah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa pendidikan yang humanis itu memberikan kebebasan yang luas untuk berpikir kritis dan semakin banyak dilontarkan kritik maka kelompok yang dominan akan semakin memperketat penjagaan terhadap keamanan dirinya.
Dengan demikian sekolah memainkan peranan yang sangat vital sebagai alat kontrol sosial yang efisien untuk menjaga status quo ini. Dalam pendidikan ini guru harus menghilangkan pandangan bahwa siswa yang pintar itu yang selalu diam dan penurut juga rajin, dan siswa yang bodoh itu yang selalu berpikir kritis dan analisis, suka membantah pendapat gurunya.
Disamping itu pendidikan yang humanis juga akan menghilangkan pandangan masyarakat, misalnya ketika anaknya pulang sekolah, orang tua berkata berapa nilai yang kamu peroleh tadi? Dengan pendidikan yang humanis masyarakat akan berpandangan bahwa anak yang selalu berpikir kritis dan analisis itulah anak yang cerdas.
Sementara itu jika dehumanisasi yang diterapkan maka manusia akan berpikir untuk selalu menjadi yang terdepan tanpa memikirkan yang terjadi pada orang lain, manusia akan melakukan apa saja untuk mencapai cita-citanya.
Maka dari itu hendaklah pendidikan yang kita kembangkan ini bersifat humanis, agar masyarakat merasa aman dan tentram.
D. Pendidikan Islam Yang Humanis
Pendidikan islam merupakan pendidikan yang humanis bukan dehumanisasi, akan tetapi pendidikan humanis masih lebih teratur lagi karena diikat oleh wahyu, tidak hanya ditimbang dengan akal. Dengan memakai cermin praktek pendidikan yang membebaskan sebagaimana dilakukan oleh Paulo Freire di Brazil pada paruh 1960-an, saya akan menganalisis mengapa pendidikan islam dikatakan humanis. Menurut Freire, kala itu pendidikan di Brazil (dan mungkin masih terjadi sampai kini di banyak negeri, termasuk Indonesia) telah menjadi alat penindasan dari kekuasaan untuk membiarkan rakyat dalam keterbelakangannya dan ketidaksadarannya bahwa ia telah menderita dan tertindas. “Pendidikan gaya Bank”, dimana murid menjadi celengan dan guru adalah orang yang menabung, atau memasukkan uang ke celengan tersebut, adalah gaya pendidikan yang telah melahirkan kontradiksi dalam hubungan guru dengan murid. Lebih lanjut dikatakan, “konsep pendidikan gaya bank juga memeliharanya (kontradiksi tersebut, pen) dan mempertajamnya, sehingga mengakibatkan terjadinya kebekuan berpikir dan tidak munculnya kesadaran kritis pada murid”. Murid hanya mendengarkan, mencatat, menghapal dan mengulangi ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh guru, tanpa menyadari dan memahami arti dan makna yang sesungguhnya. Inilah yang disebut Freire sebagai kebudayaan bisu (the culture of silence).
Kesadaran kritis menjadi titik tolak pemikiran pembebasan Freire. Tanpa kesadaran kritis rakyat bahwa mereka sedang ditindas oleh kekuasaan, tak mungkin pembebasan itu dapat dilakukan. Karena itu, konsep pendidikan Freire ditujukan untuk membuka kesadaran kritis rakyat itu melalui pemberantasan buta huruf dan pendampingan langsung dikalangan rakyat tertindas. Upaya membuka kesadaran kritis rakyat itu, dimata kekuasaan rupanya lebih dipandang sebagai suatu “gerakan politik” ketimbang suatu gerakan yang mencerdaskan rakyat. Karena itu, pada tahun 1964 Freire diusir oleh pemerintah untuk meninggalkan Brazil. Pendidikan pembebasan, menurut Freire adalah pendidikan yang membawa masyarakat dari kondisi “masyarakat kerucut” (submerged society) kepada masyarakat terbuka (open society). Berdasarkan cermin Freire sebagaimana diuraikan diatas, Saya menggali kembali hakekat Islam sebagai agama yang diturunkan Allah untuk manusia. Menurutnya, pendidikan pembebasan yang digelindingkan oleh Freire telah diterapkan oleh Nabi Muhammad dalam strategi gerakan dakwah Islam menuju transformasi sosial. Gerakan dakwah pada masa Nabi dipraktekkan sebagai gerakan pembebasan dari eksploitasi, penindasan, dominasi dan ketidakadilan dalam segala aspeknya. Lebih lanjut, penulis dengan mengutip Engineer (1993:80) menuliskan bahwa Nabi, dalam kerangka dakwah Islam untuk pembebasan umat, tidak langsung menawarkan Islam sebagai sebuah ideologi yang normatif, melainkan sebagai pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia, dengan penyusunan kembali tatatan yang telah ada menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, adil dan egaliter.Lebih lanjut, penulis memberikan penegasan yang lebih substansial lagi. Menurutnya, Islam adalah agama pembebasan karena “Islam memberikan penghargaan terhadap manusia secara sejajar, mengutamakan kemanusiaan, menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan keadilan, mengajarkan berkata yang hak dan benar, dan mengasihi yang lemah dan tertindas”. Dengan mengutip ayat-ayat Al Qur’an, diantaranya “…Kami bermaksud memberikan karunia kepada orang-orang tertindas di bumi. Kami akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris bumi…” (QS. 28:5), penulis menegaskan bahwa asal usul diturunkannya Islam (dan juga rasul-rasul) adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu ketertindasan dan ketidaksadaran.
Penegasan yang berikut adalah perihal ibadah. Disebutkan bahwa antara ibadah ritual yang vertikal (hablun mina Allah) seperti sholat, puasa dan haji, dan ibadah sosial (hablun mina an-naas) haruslah dijalankan secara seimbang. Kekhawatiran (atau lebih tepat; keprihatinan) bahwa ketimpangan pelaksanaan kedua bentuk ibadah itu dijalankan di Indonesia diguratkan secara jelas oleh penulis, “Gejala ini nampak pada umat Islam di Indonesia, yang rata-rata&emdash;bangga dan merasa telah menjadi muslim sejati apabila telah melakukan &endash;dengan aktif&emdash;ibadah-ibadah ritual. Bukankah di Indonesia, umat lebih bangga melaksanakan haji lima kali daripada haji satu kali ditambah dengan mendermakan hartanya yang lain untuk kepentingan umat yang lain? Sementara sebagian orang melaksanakan haji hinggal lima kali, sebagian (besar) yang lain terpaksa menjual keimanannya karena kemiskinan”. Menurut penulis, perimbangan keduanya merupakan idealitas bagi seorang muslim yang sejati.
Setelah mendapatkan basis bahwa pesan substansial Islam adalah pesan pembebasan, selanjutnya penulis memasuki suatu tataran konseptual perihal pembebasan itu sendiri. Menurutnya pembebasan haruslah dijalankan secara dialogis dan demokratis. Pembebasan dilakukan dengan menjadikan rakyat sebagai subyek pembebasan, dan bukan obyek. Seperti dituliskan oleh James Y.C. Yen yang juga ditulis dalam buku ini dan telah menjadi motto gerakan-gerakan pembebasan, “…Datanglah kepada rakat. Hidup bersama rakyat. Berencana bersama rakyat. Bekerja bersama rakyat. Mulailah dengan apa yang dimiliki rakyat. Ajarlah dengan contoh, belajarlah dengan bekerja. Bukan pameran, melainkan suatu sistem, bukan pendekatan cerai-berai, melainkan mengubah. Bukan pertolongan, melainkan pembebasan…”. Dengan mengutip Yen, penulis memberikan pesan yang juga penting bagi gerakan pembebasan di Indonesia, bahwa pembebasan bukanlah pada upaya-upaya karikatif (atas dasar belas kasihan) dan fragmentaris (terpisah-pisah). Pembebasan harus dilakukan sebagai upaya yang transformatif dan struktural, sebagaimana dituliskan, “…yang jelas, bahwa perubahan sosial sulit tercapai hanya dengan menekankan salah satu dari dua dimensi: manusia dan struktur. Kedua-duanya harus diubah, sebab keduanya memiliki sifat ketergantungan antara satu dengan yang lain”.
Penulis juga menganalisis bagaimana pembebasan itu harus dilakukan. Dalam gerakannya, Freire menekankan pendekatan politik untuk pembebasan. Pendekatan politik ini, ternyata telah mampu untuk membekali rakyat dengan analisis struktur yang mapan, dimana tali temali penindasan itu tergantung padanya. Dengan demikian, hal itu sangat memungkinkan untuk melakukan pemetaan secara tepat terhadap kekuatan rakyat untuk mencapai perubahan. Namun, kenyataan juga membuktikan bahwa kekuasaan yang menindas cenderung reaksioner, yang selanjutnya secara dini “memenggal” jalan pembebasan yang dirintis lewat pendekatan politik.
Karena itu, penulis pun menganalisis pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan pendekatan kulturalnya bagi pembebasan yang lebih berupa ajakan untuk menghilangkan sekat-sekat horisontal, daripada pendekatan politis yang mengutamakan analisis kelas dan tesis anti-kekuasaan. Menurut Gus Dur, pendekatan politik akan tidak efektif dilakukan di Indonesia karena akan mendapat “pukulan balasan” dari kekuasaan yang represif. Pendekatan kultural akan memunculkan kekuatan moral, yang jika dimiliki oleh jumlah cukup manusia dalam masyarakat, akan mengubah corak hidup masyarakat itu sendiri secara total.
Menurut para ahli, “…pendekatan kultural yang memberi tekanan khusus pada kekuatan moral telah terjebak dalam romantisme gerakan. Ia tidak pernah menyelesaikan secara konkrit bentuk-bentuk penindasan manusia. Sebaliknya, tanpa disadari, ia telah memberi peluang kaum penindas untuk menyempurnakan kerja penindasan”.
Karena itu, penulis menawarkan semacam sintesis pada kedua pendekatan itu. Menurutnya, pendekatan politik membawakan program yang berwatak sistematik, sedangkan pendekatan kultural lebih mementingkan program yang senantiasa berkembang dan tidak boleh “dibakukan” hanya dalam sebuah sistem saja. Sintesis tersebut dinamakannya sebagai “pendekatan komplementer” yang sesungguhnya bertolak dari epos kenabian dalam agama-agama samawi. Gerakan pembebasan Nabi memberi petunjuk pentingnya faktor manusia dan struktur kekuasaan sebagai dua hal yang harus saling dipertimbangkan.
Penjelasan diatas menggambarkan bahwa pendidikan islam merupakan pendidikan yang humanis. Disamping itu Islam sangat mendukung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan hal itu ditunjukkan dalam al Qur’an surah al ‘alaq ayat 1-5 yang artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia disuruh membaca ayat-ayat Allah, baik berupa ayat kauniyah maupun ayat qur’aniyah. Karena membaca merupakan salah satu cara mengembangkan ilmu pengetahuan.
Dan dalam ayat lain al Qur’an menyebutkan mengenai orang yang mengembangkan kemampuan analisis dan daya fikir, yaitu surah ali Imron ayat 190-191. yang artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Tiga aspek utama dalam ayat diatas, yakni ulil albab (aspek manusia terutama mereka yang berpikir analisis), aspek dzikrullah (aspek Ketuhanan), yakni keyakinan akan kebesaran Ilahi dengan Maha PenciptaanNya, dan Tafakur sebagai aspek keilmuan. Menurut pandangan islam, kegiatan berfikir (tafakur) manusia itu adalah suatu kerja universal dan integral. Lingkup berfikirnya tidak hanya langit dan bumi, tetapi termasuk mengenai peristiwa yang berproses didalamnya. Kajian yang paling radikal (mengakar) dari pengungkapan misteri alam semesta ini secara ontologis, ialah membuka tabir rahasia penciptaanNya, dan bahwa formulasi pengetahuan manusia tentang alam semesta disajikan lewat rumusan yang sistematis dan rasional.
Hal itu menunjukkan bahwa pendidikan islam bersifat humanis yang memanusiakan manusia dan yang bersifat mengembangkan ilmu pengetahuan.
E. Kesimpulan
1. Dehumanisasi adalah bentuk ungkapan nyata dari proses alienasi dan dominasi, sedangkan pendidikan yang humanis adalah sebuah proyek utopia (dalam arti yang positif) untuk kaum tertindas dan terjajah. Dan dari berbagai aliran pendidikan yang ada yang termasuk kriteria humanis adalah aliran konvergensi
2. Masyarakat merupakan tolok ukur keberhasilan pendidikan. Pendidikan yang humanis akan membawa ketentraman bagi masyarakat, dan bangsanya.
3. Sementara itu pendidikan islam yang humanis adalah pendidikan islam yang mengajarkan nilai-nilai keislaman, tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan dan juga menghargai pendapat orang lain dan menganggap bahwa setiap manusia tersebut memiliki fitrah untuk dikembangkan. Pada prinsipnya pendidikan islam bersifat humanis hanya mungkin orang yang melakukan pendidikan tidak bersifat humanis.
F. Saran
Hendaklah dalam menghadapi masa depan ini kita sebagai umat islam mawas diri dan respon dengan perubahan yang ada. Karena banyak sekali tentangan yang akan kita hadapi dalam masa yang mendatang, baik berupa tantangan rohani maupun jasmani. Kita harus selalu mendorong pendidikan, karena dengan pendidikanlah pembangunan atau tujuan suatu bangsa akan tercapai dengan baik dan benar, apalagi jika pendidikan yang berbasis atau berteraskan islam. Tanpa mengoptimalkan pendidikan maka kita akan menjadi tertinggal dengan bangsa atau negeri lain. Disamping itu dalam menghadapi perkembangan IPTEK, kita juga harus kritis dengan ilmu atau teknologi yang masuk karena banyak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam. Maka dari itu kita harus memfilter dahulu teknologi atau teori yang masuk kedalam agama kita .
Sebagai generasi penerus bangsa dan agama maka kita juga harus menjunjung tinggi nilai nilai islami dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan islam, karena dengan sikap tersebut kita akan disebut sebagai orang yang berjiwa besar dan menghargai jasa pendahulu kita.
Hendaklah kita mengembangkan pendidikan islam yang sesuai dengan hekekat pendidikan islam yakni memanusiakan manusia, tapi hal itu janganlah berlebih-lebihan karena akan menghilangkan sopan santun terhadap sesama manusia.
Sekian
Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: