Fiqih Bi’ah


FIQIH BI’AH

(Sebuah Gagasan dan Tinjauan Lingkungan dalam Pandangan Islam)

Oleh: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo(SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang

 

A.    Pengantar

Di penghujung tahun 2004 rakyat Indonesia dan bahkan seluruh manusia di penjuru dunia terhenyak mendengar kabar terjadinya bencana tsunami di kawasan Asia tenggara dan khusunya di kota serambi mekah. Sebagaimana yang dikutip oleh Zainal arifin Thoha dari surat kabar harian ”Kedaulatan Rakyat” pada tanggal 07 februari 2005 menuliskan bahwasannya korban jiwa telah sampai 113.785 orang. Manusia yang beragama bertanya-tanya benarkah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang tega mengambil puluhan ribu nyawa begitu saja? Cobaan, ujian, pengingat, atau adzab Tuhankah ini? Tak begitu lama dengan kejadian yang mengiris hati tersebut bencana-bencana lain bertaburan bak jamur di musim penghujan. Banjir, gempa, tanah longsor, juga angin ribut yang memporak-porandakan rumah penduduk seakan menjadi hidangan yang disajikan televisi kepada kita setiap hari.

Semua ini menunjukkan kepada kita bahwasannya keseimbangan ekosistem telah terganggu. Manusia sebagai khalifah di bumi yang seharusnya menjaga ekosistem sebagai unit fungsional komunitas dengan lingkungan abiotik justru menjamah alam dengan semau hatinya. Kerusakan yang bisa kita rasakan akibatnya dikemudian hari atau bahkan saat ini tentu tidak akan begitu saja bisa dipulihkan. Bayangkan saja berapa lama kita harus menunggu pohon-pohon yang mampu menahan air dalam akar-akarnya yang tunjang sehingga akan memberi minum kita dimusim kemarau, yang telah ditebang secara liar tanpa memperhatikan aspek masa depan dan daya dukungnya. Bayangkan pula bagaimana alam ini akan kita bersihkan dari racun-racun kimia yang telah kita sebar di permukaan bumi dan telah ikut dimasak di dedaunan yang telah menjadi makanan sehari-hari kita. Bagaimana pula kita akan mampu mengikis gas-gas yang merusak lapisan ozon (O3) yang terus saja membumbung tinggi merusak atmosfer kita. Dan banyak kasus lain yang tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaiki dan mengembalikannya kembali. Lalu bagaimana konsep Islam sebagai agama ”Rahmatal lil ’Alamin” yang secara global melalui Al-Quran yang kemudian diperjelas oleh utusan-Nya mengatur kehidupan manusia memandang masalah lingkungan hidup ini?.

Fiqih yang pada perkembangannya difahami sebagai tatanan hukum-hukum syariat islam yang memperjelas dan memrinci dalil naqli berupa al-Qur’an dan as-Sunnah memang belum membahas masalah lingkungan dalam bab khusus. Dan disinilah melalui al-fiqh al-Bi’ah yang dicoba kembangkan oleh bebarapa ulama dan cendekiawan muslim kontemporer yang perduli dengan lingkungan mencoba menggagas masalah ini.

Dengan mempertimbangkan latar belakang permasalahan di atas, Kami mencoba mengetengahkan masalah fikih bi’ah ini dalam bentuk makalah sebagai salah satu jawaban atas berbagai masalah lingkungan hidup dipandang dari perspektif islam yang dalam hal ini ilmu fiqh.

B.     Latar belakang Munculnya Fiqih Bi’ah

Baru-baru ini banjir bandang melanda Pulau Kalimantan dan menenggelamkan ratusan rumah penduduk. Sebelumnya, banjir yang lebih dahsyat telah memporak-porandakan sebagian wilayah Blitar Jawa Timur. Juga wilayah Aceh, pasca diguncang gempa dan Tsunami, terendam banjir. Sedangkan di Jakarta, banjir hampir terjadi setiap tahun. Bahkan beberapa waktu yang lalu, kabupaten Trenggalek yang selama ini damai dari bencana, dihantam bencana banjir bandang yang kemudian diiringi dengan bencana tanah longsor di beberapa wilayah disana. Malapetaka ini disebabkan oleh rusaknya lingkungan dan hancurnya ekosistem alam, krisis ekologi, karena dijahili tangan-tangan rakus manusia.

Anehnya, umat beragama cuek saja dengan persoalan lingkungan. Padahal, dampak dari eksploitasi itu sangat parah. Bisa mengamblaskan harta milyaran rupiah dan menelan ribuan korban jiwa. Termasuk juga umat Islam, keberpihakannya terhadap pemeliharaan lingkungan masih kabur.

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia dihadapan Allah SWT. Sebagaimana kisah-kisah yang telah disampaikan didalam al-Qur’an bahwasannya Adam yang kita yakini sebagai salah satu nabi mendapat penghormatan dari Allah SWT. dengan memerintah para malaikat dan segenap penduduk syurga untuk bersujud kepada beliau, para malaikatpun sujud kecuali Iblis yang dengan kesombongannya menolak karena merasa lebih mulia dan akhirnya dikutuk oleh Allah SWT.

Dalam QS. al-Anbiya’(21) ayat 35-39 Allah mengisahkan kasus Nabi Adam. Adam telah diberi peringatan oleh Allah untuk tidak mencabut dan memakan buah khuldi. Namun, ia melanggar larangan itu. Akhirnya, Adam terusir dari surga. Ia diturunkan ke dunia. Di sini, surga adalah ibarat kehidupan yang makmur, sedangkan dunia ibarat kehidupan yang sengsara. Karena Adam telah merusak ekologi surga, ia terlempar ke padang yang tandus, kering, panas dan gersang. Doktrin ini mengingatkan manusia agar sadar terhadap persoalan lingkungan dan berikhtiar melihara ekosistem alam.

Akan tetapi, doktrin tersebut tidak diindahkan. Perusakan lingkungan tidak pernah berhenti. Eksplorasi alam tidak terukur dan makin merajalela. Dampaknya, ekosistem alam menjadi rusak. Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Alam akan menjadi ancaman kehidupan yang serius dan alampun senantiasa siap mengamuk sewaktu-waktu.

Hatim ghozali menulis dalam sebuah artikel yang menyatakan bahwasannya Fiqh Islam pun tumpul. Fiqh belum mampu menjadi jembatan yang mengantarkan norma Islam kepada perilaku umat yang sadar lingkungan. Sampai saat ini, belum ada fiqh yang secara komprehensif dan tematik berbicara tentang persoalan lingkungan. Fiqh-fiqh klasik yang ditulis oleh para imam mazhab hanya berbicara persoalan ibadah, mu’amalah, jinayah, munakahat dan lain sebagainya. Sementara, persoalan lingkungan (ekologi) tidak mendapat tempat yang proporsional dalam khazanah Islam klasik. Menurut hemat kami sebenarnya para ulama klasik bukannya tidak perduli dengan lingkungan. Hanya saja memang pembahasan tentang lingkungan sangat terbatas dalam hal-hal yang terkait langsung dengan ibadah vertikal (theosentris) dan masuk kedalam masalah –masalah yang terkait dengan fiqih jinayah seperti dilarangnya manusia untuk kencing didalam lubang dan air yang tergenang, serta pelarangan menebang pepohonan di tanah haram. Hal ini bisa kita maklumi karena kemungkinan keadaan alam dan lingkungan pada masa tersebut masih stabil dan seimbang serta konteks sosial masyarakat pada masa itu belum menunjukkan eksploitasi terhadap alam seperti yang terjadi pada masa ini sehingga kajian fiqih terhadap lingkungan kurang mendapat perhatian khusus.

Perusakan atau eksploitasi lingkungan yang berlebihan pada saat ini sudah sampai dalam keadaan darurat dan mengkhawatirkan dimana perilaku manusia tersebut sudah mengancam eksistensi kehidupan manusia bahkan eksistensi semua makhluk hidup yang ada disekitar kita. Karena itulah, merumuskan sebuah fiqh lingkungan (fiqh al-bi’ah) menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yaitu, sebuah fiqh yang menjelaskan sebuah aturan tentang perilaku ekologis masyarakat muslim berdasarkan teks syar’i dengan tujuan mencapai kemaslahatan dan melestarikan lingkungan.

C.    Pengertian Fiqih Bi’ah

1.         Pengertian Fiqih bi’ah

Secara etimologi Fiqih bi’ah merupakan gabungan dari dua kata yang berasal dari bahasa arab, yakni al-Fiqhu dan al-Bi’ah. Secara etimologi al-fiqhu sering diartikan dengan al-fahmu (faham,mengerti). Sedangkan secara terminologi sering diarikan sebagai ilmu tentang hukum-hukum syari’at islam yang digali dari dalil-dalil naqli dengan metode ijtihad. Dalam daftar istilah bukunya yang bertajuk fiqih lingkungan hidup M. Alie Yafi menuturkan bahwasannya Fiqih adalah salah satu bidang ilmu syari’at yang secara khusus membahas hukum-hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupuan hubungan manusia dengan  penciptanya.

Kata al-bi’ah dalam bahasa indonesia diartikan dengan lingkungan yakni segala sesuatu disekitar kita baik berupa dunia biotik (bernyawa) maupun abiotik (tidak bernyawa. Ahli lingkungan membagi lingkungan hidup dalam tiga golongan, yakni :

  1. Lingkungan fisik, yaitu segala sesuatu disekitar kita berupa benda mati
  2. Lingkungan biologis, yaitu segala sesuatu disekitar kita yang tergolong organisme hidup
  3. Lingkungan sosial, adalah manusia (masyarakat yang ada disekitarnya

Pada awalnya fiqih dipahami sebagai suatu pemahaman yang mendalam tentang suatu  ilmu sehingga pada awalnya ilmu tasawuf, ilmu hisab, ilmu geografi, matematika, dan sebagainya difahami dengan fiqih. Namun pada perkembangannya sebagaimana saat ini istilah fiqih cenderung dimaknai dengan hukum islam atau disebut dengan istilah syariah sebagaimana yang ditulis Faizah Nurmaningtyas dkk. Dalam makalahnya yang berjudul ”Kajian Fiqih Bi’ah (Lingkungan)” (2007), bahwasannya penyetaraan makna fiqih dengan hukum islam memberikan konsekwensi logis kepada dua istilah tersebut berpeluang digunakan secara bervariasi dalam pengertian yang tidak berbeda. Masih dalam makalah tersebut yang disimpulkan dari ”Mashodirul ahkamil islamiyyah” (zakaria al-bari:1975) dan dari ”ilmu ushul fiqh” (Abdul wahab kholaf:1956) bahwasannya para pakar hukum islam memberikan definisi yang relatif populer, hukum islam adalah ilmu yang membahas seperangkat hukum syar’i dalam bidang perbuatan lahir yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang terperinci melalui penalaran. Dari pendapat yang lain dirumuskan bahwasannya hukum islam adalah seperangkat peraturan tentang perbuatan anusia yang ditetapkan oleh orang yang berkompeten berdasarkan wahyu Tuhan yang mengikat masyarakat muslim guna mewujudka keadilan.

Kemudian kedua kata ini digabungkan menjadi satu al-Fiqh al-Bi’ah atau juga sering disebut dengan fiqih lingkungan. Fiqih bi’ah atau fiqih lingkungan merupakan idlofah ghordhiyah atau frasa purposif sehingga fiqih bi’ah diartikan sebagai fiqih yang objek kajiannya adalah lingkungan. fiqih bi’ah juga dapat dikategorikan kedalam idlofah tabdiliyyah atau frasa partitif yang mempunyai makna bahwa fiqh bi’ah merupakan fiqh yang mengkaji tentang lingkungan sebagaimana fiqih muamalah, mawaris, jinayah, siyasah yang juga mengkaji bidangnya masing-masing.

Dari pemaparan di atas kami kemudian merumuskan pengertian fiqh al-bi’ah atau fiqih lingkungan sebagai ilmu yang membahas tentang seperangkat hukum-hukum  syar’i tentang perilaku hubungan manusia dengan lingkungannya baik berupa lingkungan biotik maupun abiotik yang diambil dengan menggali dalil naqli dan akli untuk kemaslahatan makhluk hidup dimuka bumi melalui metode ijtihad. Dari pengertian ini , ada tiga hal yang perlu kami perjelas lebih lanjut.

Pertama, yang kami maksud dengan seperangkat hukum-hukum syar’i adalah hukum-hukum wajib, sunnah, makruh, mubah, dan haram (al-ahkam al-khomsah). Bukan al-ahkam al-sab’ah dengan tambahan hukum shohih dan fasid, serta bukan al-ahkam al-tis’ah dengan tambahan shohih, batal, ruhsoh, ’azimah. Lima hukum dasar ini merupakan hukumyang memiliki kekuatan spiritual yang bersifat mengikat dan memiliki daya paksa terhadap umat islam dan pemerintah kalau perlu. Artinya kelima hukum ini tidak mengikat kepada mereka yang non islam. Yang mana ikatan hukum ini tidak hanya didasarkan kepada kepentingan manusia semata namun juga kepentingan eksistensi lingkungan dan  konservasi sumber daya alam, yakni cara pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana dengan memperhatikan kelestarian dan kemampuan daya dukung lingkungan secara seimbang.

Kedua, dalil naqli yang kami maksud disiini adalah dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang mempunyai keterkaitan dengan lingkungan maupun dalil yang bisa ditarik hubungkan dengan masalah atau tema yang terkait dengan lingkungan, serta melalui pendekatan penafsiran dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun dalil akli yakni dalil yang didapat melalui akal fikiran karena pada dasarnya selain dalil mantuq (dalil yang tertulis) juga terdapat dalil mafhum yang tidak tertulis, yakni berupa alam semesta beserta isinya sebagaimana yang tertuang dalam al-qur’an yang mengajak manusia untuk terus berfikir tentang segala ciptaan Allah karena pada semua itu terdapat ayat-ayat Allah.

Ketiga, metode ijtihad yang kami maksud disini adalah mencurahkan tenaga untuk mendapatkan hukum syar’i dengan jalan menggali dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengecualikan hukum-hukum yang secara tegas disampaikan oleh al-Quran sebagaimana hukum wajib sholat dan haramnya perbuatan zina. Namun demikian syarat-syarat ijtihad sebagaimana yang dipegang oleh ulama-ulam klasik menurut hemat kami tidak perlu terlalu diterapkan. Karena syarat tersebut ditujukan kepada mereka yang menggali dalil sebagai suatu madzhab. Sehingga mujtahid disini adalah mereka memahami al-quran dan al-hadits, serta memiliki kemampuan metodologis tentang pengambilan hukum-hukum syar’i dan pengetahuan yang memadai tentang persoalan lingkungan. Artinya perumus fiqih lingkungan adalah mujtahid lingkungan bukan yang lain. Bukan mereka yang pakar wawasan ushuliyahnya namun lemah wawasan lingkungannya dan bukan mereka yang lemah wawasan ushuliyahnya namun luas wawasan lingkungannya.

  1. 2.         Landasan Theologis

Islam merupakan agama yang sangat peduli dengan lingkungan, al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat islam yang tidak kita ragukan lagi ke-orisinil-annya telah banyak menyinggung tentang keharusan umat manusia untuk menjaga dan menggunakan sumberdaya alam dengan sebaik-baiknya dan sewajarnya.

Menurut M. Ali Yafie ada beberapa prinsip dasar dalam hal kewajiban pemeliharaan lingkungan hidup, yakni :

Perlindungan jiwa raga (Hifdh al-nafs) adalah kewajiban utama

Dalam pandangan fiqih kehidupan merupakan sesuatu yang mulia. Setiap makhluk hidup memiliki naluri untuk mempertahankan hidup dan Allah memberikan kemampuan tertentu pada setiap makhluk hidup untuk mempertahankan dirinya. Seperti cicak yang bisa memotong ekornya, cumi-cumi dengan tinta hitamnya, harimau dengan taring dan kekuatannya,dan lain sebagainya. Tumbuhanpun demikian, tumbuahn putri malu mampu menelungkupkan dahan dan daun-daunnya sehingga setiap hewan yang mendekatinya akan terjatuh karena kaget atau takut karena gerakannya itu, mawar memiliki duri untuk melindunginya dari makhluk lain yang tertarik kepadanya,dan contoh-contoh  lainnya.

Manusia yang telah diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna diantara ciptaan-Nya juga memiliki naluri dan kemampuan untuk mempertahankan hidupnya. Dan lebih dari itu manusia memiliki kesadaran karena memilki akal dan perasaan untuk saling menjaga dalam rangka mempertahankan eksistensinya di muka bumi ini. Kesadaran tersebut kemudian membawa manusia untuk berkembang sehingga memiliki daya pilih atau ikhtiar dan daya upaya atau kasb.

Islam memperkenalkan suatu prinsip dasar umum yakni al-kulliyyatu khams yang menjiwai seluruh ranah fiqih. Lima prinsip dasar tersebut adalah khifdh nafs (perlindungan jiwa, raga, dan kehormatan),  khifdh al-’aql (perlindungan akal), khifdh al-mal (perlindunngan harta benda), khifdh al-nasb (perlindungan keturunan), dan khifdh al-din (perlindungan agama). Kehidupan merupakan modal dasar bagi manusia untuk memenuhi fungsinya dan menentukan nilai atau martabatnya. Oleh karena itu islam memberikan peringatan kepada manusia untuk menggunakan modal dasar itu untuk digunakan secermat dan semaksimal mungkin karena kehidupan dunia ini tidaklah kekal abadi.

  1. Kehidupan dunia bukan tujuan. Melainkan titian menuju kehidupan akhirat yang kekal

Islam memperkenalkan adanya dua kehidupan yakni kehidupan yang nyata di muka bumi ini dan kehidupan akhirat yang kekal dan menjadi tujuan hidup. Kehidupan dunia dibatasi oleh ruang dan waktu dan hanya merupakan kehidupan yang sementara. Namun karena sifatnya yang nyata setiap orang mengenal dan mampu merasakan dengan inderanya. Pada dasarnya kehidupan alam nyata atau kehidupan dunia ini merupakan kehidupan yang menyenangkan karena bumi dam alam sekitarnya sudah dipersiapkan oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Namun demikian al-Qur’an juga menyampaikan pesan bahwasannya kehidupan dunia yang menyenangkan ini merupaan permainan, senda gurau, kemegahan, perlombaan mmperkaya diri dan memperbanyak keturunan.

Kehidupan yang kedua adalah kehidupan akhirat (ukhrowi) yang bersifat kekal dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kehidupan ukhrowi menawarkan kebahagiaan maupun kesengsaraan yang sempurna karena kekekalannya. Namun demikian bukan berarti bahwa dua kehidupan ini saling betentangan satu sama lain karena kehidupan ukhrowi merupakan tempat manusia memetik hasil dari kalakuan hidupya di dunia sehingga kehidupan dunia mempunyai arti yang sangat penting utnuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak.

Produksi dan konsumsi harus sesuai dengan standart kebutuhan layak manusia (al-Hadd al-Kifayah). Jika melampaui batas standar kebutuhan layak manusia, maka dilarang

Pada dasarnya memnuhi kebutuhan pokok seperti makanan,pakaian dan tempat tinggal merupakan suatu kewajiban demi khifdh an-nafs. Namun demikian manusia melebihkan diri dalam pemenuhan itulah yang dilarang atau dalam bahasa lain meng eksploitasi secara berlebihan.

Eksploitasi yang berlebihan merupakan bentuk lain dari kecintaan dunia dan  keserakahan yang hanya akan membawa kepada kerusakan terhadap keseimbangan ekosistem. Pada dasarnya alam memiliki batas tertentu untuk dimanfaatkan oleh manusia. Sumberdaya alam yang diberikan Allah kepada kita ini memiliki daya dukung tertentu sehingga jika kita memakainya terlalu berlebihan maka sumber daya alam tersebut akan cepat habis dan rusak. Yang pada akhirnya anak cucu kita tidak akan lagi merasakan apa yng bisa kita nikmati saaat ini karena sumberdaya alam tersebut telah rusak atau habis dan tidak bisa di perbaharui

Keselarasan dan keseimbangan alam (ekosistem) mutlak ditegakkan. Mengganggu dan merusak ekosistem sama dengan menghancurkan kehidupan seluruhnya

Islam memandang bahwasannya alam semesta ini berjalan sesuai dengan sistem yang teratur dan seimbang. Artinya bahwa semua sistem yang mungkin nampak seperti unit-unit tersendiri pada dasarnya saling terkait dan mendukung satu sama lain. Kerusakan suatu unit tertentu akan membawa dampak pada unit yang lain. Hal ini bisa kita contohkan dengan adanya rantai makanan sebagaimana pelajaran yang telah kita terima di bangku sekolah. Yang mana ketika salah satu unsur dalam rantai makanan terpotong maka keberadaan unsur-unsur yang lainpun akan terganggu.

  1. Semua makhluk adalah muhtaram (mulia). Siapapun dilarang mengeksploitasi semua jenis makhluk yang menyebabkan  kehidupannya terganggu

Arti muhtarom di sini adalah bahwasannya semua makhluk hidup harus dijaga eksistensinya. Atau dengan kata lain semua makhluk mempunyai hak hidup didunia ini dan kita harus menjaganya.

Demi menjaga kemuliaan makhluk hidup dalam kitab i’anah al-Tholibin ditulis bahwasannya jika ada seekor binatang yang berada dalam keadaan terancam pembunuhan seseorang yag berbuat sewenang-wenang (tidak dibenarkan hukum) atau keadaan hewan tersebut nyaris tenggelam, maka menjadi keharusan bagi siapapun yang melihat unutk bertindak membebaskannya ataupun menolongnya walaupaun atau bila perlu harus menunda pelaksanaan ibadah sholat meski sudah masuk waktunya, atau membatalkan sholatnya jika ia sedang sholat. Dalam sebuah hadist juga disebutkan bahwasannya ketika seorang sahabat menolong seekor anjing yang sedang kehausan, nabi menyampaikan bahwa sahabat tersebut akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Dari sini jelas bahwasannya saling menjaga antar sesama makhluk Allah merupakan suatu kewajiban kita bersama.

Manusia adalah pelaku pengelolaan alam semesta yang menetukan kelestarian kehidupan. Segala tindakannya akan diminta pertanggungjawaban, baik dunia maupun akhirat

Manusia merupakan khalifah di muka bumi ini, sebagaimana penjelasan diatas bahwasannya kehidupan dunia ini pada dasarnya merupakan ladang dan akan di panen di akhirat kelak. Nabi Muhammad SAW. Telah bersabda yang mana pada dasarnya diri kita ini adalah seorang pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinanya itu. Untuk itu kita perlu menjaga kelestarian alam ini dari kehancuran dan kepunahan untuk diwariskan pada generasi berikutnya.

Menurut Hatim Ghozali yang juga dimuat dalam Bulletin An-Nadhar P3M (30 Maret 2005) dalam merumuskan landasan theologis dalam fiqih lingkungan ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan,antara lain :

Pertama, rekonstruksi makna khalifah. Dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa menjadi khalifah di muka bumi ini tidak untuk melakukan perusakan dan pertumpahan darah. Tetapi untuk membangun kehidupan yang damai, sejahtera, dan penuh keadilan. Dengan demikian, manusia yang melakukan kerusakan di muka bumi ini secara otomatis mencoreng atribut manusia sebagai khalifah (QS. al-Baqarah/2: 30). Karena, walaupun alam diciptakan untuk kepentingan manusia (QS. Luqman/31: 20), tetapi tidak diperkenankan menggunakannya secara semena-mena. Sehingga, pengrusakan terhadap alam merupakan bentuk dari pengingkaran terhadap ayat-ayat (keagungan) Allah, dan akan dijauhkan dari rahmat-Nya (QS. al-A’raf/7: 56).

Karena itulah, pemahaman bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi ini bebas melakukan apa saja terhadap lingkungan sekitarnya sungguh tidak memiliki sandaran teologisnya. Justru, segala bentuk eksploitasi dan perusakan terhadap alam merupakan pelanggaran berat. Sebab, alam dicipatakan dengan cara yang benar (bi al-haqq, QS. al-Zumar/39: 5), tidak main-main (la’b, QS. al-Anbiya’/21: 16), dan tidak secara palsu (QS. Shad/38: 27).

Kedua, ekologi sebagai doktrin ajaran. Artinya, menempatkan wacana lingkungan bukan pada cabang (furu’), tetapi termasuk doktrin utama (ushul) ajaran Islam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Yusuf Qardhawi dalam Ri’ayah al-Bi’ah fiy Syari’ah al-Islam (2001), bahwa memelihara lingkungan sama halnya dengan menjaga lima tujuan dasar Islam (maqashid al-syari’ah). Sebab, kelima tujuan dasar tersebut bisa terejawantah jika lingkungan dan alam semesta mendukungnya. Karena itu, memelihara lingkungan sama hukumnya dengan maqashid al-syari’ah. Dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkan, ma la yatimmu al-wajib illa bihi fawuha wajibun (Sesuatu yang membawa kepada kewajiban, maka sesuatu itu hukumnya wajib).

Ketiga, tidak sempurna iman seseorang jika tidak peduli lingkungan. Keberimanan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ritual di tempat ibadah. Tapi, juga menjaga dan memelihara lingkungan merupakan hal yang sangat fundamental dalam kesempurnaan iman seseorang. Nabi bersabda bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Hadits tersebut menunjukkan bahwa kebersihan sebagai salah satu elemen dari pemeriharaan lingkungan (ri’ayah al-bi’ah) merupakan bagian dari iman. Apalagi, dalam tinjauan qiyas aulawi, menjaga lingkungan secara keseluruhan, sungguh benar-benar yang sangat terpuji di hadapan Allah.

Keempat, perusak lingkungan adalah kafir ekologis (kufr al-bi’ah). Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah adanya jagad raya (alam semesta) ini. Karena itulah, merusak lingkungan sama halnya dengan ingkar (kafir) terhadap kebesaran Allah (QS. Shad/38: 27). Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa memahami alam secara sia-sia merupakan pandangan orang-orang kafir. Apalagi, ia sampai melakukan perusakan dan pemerkosaan terhadap alam. Dan, kata kafir tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, tetapi juga ingkar terhadap seluruh nikmat yang diberikan-Nya kepada manusia, termasuk adanya alam semesta ini (QS. Ibrahim/14: 7).

Selain landasan theologis yang berdasarkan al-Qur’an, ada beberapa as-sunnah yang bisa dipakai sebagai landasan theologis fiqih bi’ah, antara lain :

  1. “Barang siapa yang membuka dan mengelola tanah yang belum ada pemiliknya, maka dia berhak atas tanah itu.” H.R. Bukhari
  2. “Pernah seorang perempuan diadzab karena seekor kucing menyebabkan  perempuan tersebut dimasukkan kedalam neraka. Allah mengatakan kepada perempuan itu, kamu tidak tidak memberi makan kucing ini, tidak memberi minum ketika kamu mengurungnya,kamupun tidak membiarkannya mencari makan sendiri.”H.R. Bukhari.
  3. “Barang siapa yang mendholimi sejengkal tanah,maka Allah akan memborgol tangannya dengan tanah tjuh puluh kali lebih besar dari tanah yang diambilnya itu.” H.R. Bukhari.
  4. “Seorang sahabat nabi mengatakan, saya pernah ikut berperang bersama dengan nabi. Ketika itu saya mendengar beliau bersabda, bahwa manusia berhak (tidak boleh memonopoli) atas tiga hal, yaitu padang rumput, air, dan api.” H.R. Ahmad dan Abu dawud.
  5. Nabi bersabda, jika kalian bepergian dan melalui daerah atau tempat yang subur, maka berilah amakan unta-unta kalian secukupnya (sepuasnya), dan jika alian melalui daerah yang kering, maka percepatlah perjalanan kalian (agar unta dapat beristirahat), dan jika kalian kemalaman dalam perjalanan, maka hindarilah jalan raya, karena itu adalah tempat lalu lintas hewan-hewan di waktu malam (penghormatan terhadap hak hewan-hewan)”.H.R. Muslim
  6. “Rasulullah pernah melewati seekor unta yang lapar kepayahan, maka beliau bersabda, bertakwalah kalian kepada Allah dalam menyikapi hewan-hewan ternak ini. Makanlah dia dengan cara yang baik dan tunggangilah dia dengan cara yang baik pula” H.R. Abu dawud.
  7. “Rasulullah bersabdda seorang yang sedang berjalan, lalu merasa sangat kehausan, kemudian dia mendapati satu sumur, kemudian ia turun ke dalam sumur untuk meminum airnya. Ketika dia mau keluar dari sumur itu ,dia melihat seekor anjing mengeluarkan lidahnya ketanah yang megisyaratkan rasa hausnya yang sangat. Laki-laki itu berkata, “anjing ini telah menderita kahausan seperti yang baru saya alami.” Maka ia kembali masuk kedalm sumur itu dan mengis sepatunya dengan air, kemudian memberi minum kepada anjing yang kehasan itu. Ia merasa bersyukur karena telah daat menolong anjing itu. Rasulullah menegaskan Allahpun bersyukur kepada orang yang menoalong anjing itu dengan memberi pengampunan. Para sahabat yang mendengar penuturan nabi tersebut bertanya , “apakah kita mendapat pahala jika menolong hewan-hewan itu?”.” Nabi bersabda, menolong makhluk yang jantungnya masih berdetak pasti diberi pahala.” H.R. Malik.
  8. “Barang siapa mempunyai sebidang tanah,maka hendaklah ditanaminya dengan tanaman-tanaman atau pepohonan.kalau bukan dirinya sendiri yang melakukan, bolehlah diberikan kepada saudaranya untuk mengolahnya dan jangan mengijonkan dengan bagi hasil pertiga atau seperempat atau menukarnya dengan ahan makanan”. H.R. Bukhari
  9. Rasulullah pernah melewati seekor kambing yang sudah mati. Rosulullah bersabda kepada orang-orang yang ada disekitarnya, “kenapa kalian tidak memmanfaatkan kulitnya?” . mereka menjawab Rosulullah bahwa binatang itu sudah mati, rosulullah kembali bersabda, “yang diharamkan hanyalah memakannya.” H.R. Bukhari
  10. Rasulullah bersabda, “tidak seorang pun yang muslim menanam sebatang pohon, lalu kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau oleh binatang kecuali dia akan memperoleh pahala sedekah.”H.R. Bukhari.

Secara garis besar bahwasannya Islam banyak menyinggung masalah lingkungan didalam al-Qur’an maupun al-hadits sehungga kita tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengetengahkan wacana fiqih bi’ah ini sebagai bagian khusus dalam fiqih yang membahas tentang permasalahan yang terkait dengan lingkungan hidup.

D.    Fakta kerusakan lingkungan

Bencana yang silih berganti dirasakan rakyat beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwasannya alam sudah tidak bersahabat lagi dengan kita, atau lebih tepatnya menurut kami manusialah yang tidak bersahabat dengan alam.

Nampak jelas dihadapan kita bahwasannya manusia mengembangkan kebudayaannya dengan mengadakan pembangunan dalam berbagai bidang, namun dalam pengembangannya manusia tidak lagi memperhatikan aspek keselarasan dan keseimbangan alam, manusia mengeksploitasi alam dengan semau hatinya tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, yakni kemampuan lingkungan untuk mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pembangunan dengan dalih perluasan wilayah karena pesatnya pertumbuhan manusia yang tidak dibarengi dengan kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi salah satu faktor semakin rusaknya lingkungan kita. Selain itu faham liberalisme dan kapitalisme barat juga mengambil andil yang sangat besar dalam permasalahan kerusakan lingkungan dimuka bumi ini. Faham yang mengagungkan kebebasan tersebut yang dimulai dengan munculnya revolusi industri yang kemudian mengajak manusia untuk menjarah sumberdaya alam untuk memanfaatkannya semaksimal mungkin telah nyata membuat kerusakan lingkungan yang cukup besar.

Menurut P. Joko subagyo kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini dapat digolongkan menjadi dua macam, yakni:

  1. Kerusakan yang terjadi dengan sendirinya, yang disebabkan oleh alam sendiri maupun oleh manusia.
  2. Kerusakan yang terjadi karena pencemaran, baik pencemaran air, udara, maupun tanah.

Jika kita menelaah lebih lanjut maka kerusakan tersebut pada dasarnya merupakan akibat dari ulah manusia. Hal ini senada dengan apa yang telah disampaikan oleh al-Qur’an dalam surat ar-Rum(30) ayat 41,

ظهرالفسادفىالبرّوالبحربماكسبتأيدىالناسليذيقهمبعضالذىعملوالعلهميرجعون َ)٤١(

” telah tampak kerusakan didarat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”

Diwaktu yang mendatang menurut Ronalg Higgins sebagaimana yang dikutip oleh Zainal Arifin Thoha kita akan menghadapi tujuh ancaman, yakni :

  1. Ledakan penduduk yang terus menerus akan mengancam bumi.
  2. Kelaparan dan kekurangan gizi yang mengancam penduduk negara-negara berkembang.
  3. Semakin langkanya sumberdaya alam, berhadapan dengan kebutuhan yang semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk, seperti minyak bumi, kayu, mineral alam, dan sebagainya.
  4. Menurunnya kualitas lingkungan hidup, sehingga semakin sulit menopang kebutuhan hidup manusia.
  5. Ancaman nuklir yang kian berkambang dibanyak negara dan tak terkendalikan.
  6. Pertumbuhan ilmu dan teknologi yang pesat diluar kendali manusia, bahkan sebaliknya manusia cenderung dikendalikan ilmu dan teknolgi.
  7. Runtuhnya moral manusia manusia dengan kadar kesadaran (consciousnees) yang rendah.

Ancaman-ancaman di atas sudah nampak jelas didepan mata kita. Sehingga membutuhkan perhatian khusus dan langkah secara bersama.Beberapa masalah-masalah lingkungan hidup yang terjadi di dunia serta di indonesia pada khususnya dapat kami kategorikan sebagai berikut:

  1. Pencemaran tanah

Pestisida dan pupuk kimiawi merupakan masalah yang sangat besar ketika terbawa arus hujan dan mengalir kedalam sungai sehingga dapat menyuburkan ganggang. Sam efektifnya ketika menyuburkan tanah lahan pertanian. Hal tersebut telah menyebabkan rusakya laut Galilee (danau Kinneret) yang dialiri sungai jordan. Danau yang menyediakan 1/3 sumber air bagi warga israel tersebut telah tercemar dengan ditemukannya kandungan nitrat yang mengalir dari wilayah pertanian di sepanjang Jordan ke dalam danau sehingga daya jernih danau tersebut rusak.

Di Indonesia sendiri, sampai akhir tahun 70-an petani kita masih menggunakancara tradisional untuk menggarap sawahnya. Baru setelah orde baru mengembangkan kebijaksanaan medernisasi untuk pertanian berupa revolusi hijau terjadilah pola perubahan penggarapan sawah. Melalui revolusi hijau diharapkan produksi padi akan meningkat dengan penanaman bibit unggul serta aplikasi pupuk buatan, insektisida, dan pestisida. Juga didukung oleh para pembimbing serta adanya Kredit Usaha Tani. Pada tahun 1985-1990 kita berhasil mencapai swasembada pangan yan artinya nol persen impor beras.

Dibalik itu semua ternyata dibalik itu semua kita kehilangan bibit lokal yang pada awalnya ada sekitar 8000 jenis, kini hanya tersisa 25 jenis bibit padi lokal. Kerusakan ekosistem yang lain adalah berkurangnya populasi cacing tanah sebagai aktor penggembur tanah dan ular sawah sebagai predator tikus dan hewan lain karena penggunaan pembunuh hama sintetik.

Hal ini kemudian memunculkan masalah baru dengan munculnya berbagai hama yang menyerang petani kita silih berganti. M. Ali yafie mencatat dijawa barat misalnya pada tahun 1991-1996 terjadi peningkatan serangan hama wereng coklat dengan insentitas meningkat dari 11,6 ke 12,8 persen. Hama tikus juga meningkat serangannya dari13,4 menjadi15,4 persen. Kasus yang sama juga terjadi di jawa barat. Serangan hama wereng coklat dari 7,7 (1991) persen meningkat dua kali lipat menjadi 17,5 persen (1996). Di Jawa barat lebih parah lagi karena serangan hama wereng menngkat tiga kali lipat dari 7,7 persen (1991) menjadi 24,3 persen (1996).

  1. Pencemaran air

Air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan. Ketika populasi manusia masih sedikit dan teknologi yang dipakai manusia belum menghasilkan limbah pencemar, perlakuan manusia belum menjadi permasalahan lingkungan. Akan tetapi, kini limbah rumah tangga dan pabrik menjadi masalah yang sangat luar biasa bagi lingkungan hidup.

Pencemaran air dapat diartikan sebagai pengrusakan  kualitas air yang menyebabkan kerusakan pada sistem ekologinya. Pencemaran air ini akan mengurangi peranan alaminya.

Sebagai mana yang di kutip M. Ali Yafie dari Henry lansford (1986), pada permulaan abad ke-13 pada masa pemerintahan raja Philip agustus, air sungai seine sangatlah jernih, sehingga orang-orang dapat melihat ikan  yang berenang kesana kemari dari atas  jembatan.selam abad ke-17 memancing ikan merupakan hiburan yang anggota parlemn disela-sela sidang parlemen. Namun setelah munculnya revolusi industri pada abad ke-19, keadaan berubah. Anatara tahun1849-1853 sungai themes di London telah menjadi tempat sampah.akibatnya 20.000 penduduknya meningal karena wabah kolera. Pada masa yang sama pula epidemitypus melanda banyakkota di Amerika serikat. Bukti-bukti tidaklangsung menyampaikan bahwasannya penyakit tersebu ditularkan melalui air minum yang tercemar. Sungai Rhine di Belanda disebut dengan ”selokan Eropa”. Pada waktu aliran sungai tersebut sampai di pantai Belanda. Airnya mengandung 20 % sampah dan limbah industri. Sungai iset di uni soviet juga sarat dengan limbah industri yang mudah menguap dan terbakar jika ada puntung rokok yang dilemparkan ke dalamnya. Hal tersebut juga sama dengan yang terjadi di Sungai Ohio yang terbakar daan membakar habis dua penyangga rel kereta api sebalum api sempat dipadamkan.

Masih menurut M. Ali Yafie Selain kerusakan karena pencemaran, pemakaian air yang berlebihan juga merupakan salah satu faktor penyebab langkanya air bersih. Maude barlow dan Tony clark (2005) menyatakan bahwa industri merupakan pengguna air terbesar di dunia, 20-25 persen dan permintaan terus meningkat secara drastis.

Di Indonesia, pencemaran teluk Jakarta oleh limbah organik dan logam berat telah melampaui amabang batas sejak tahun 1972 dan cenderung terus meningkat. Epningkatan jenis sampah di pulau-pulau Indonesia juga  terus semakin meningkat. Di Pulau Bkor misalnya, selama sepuluh tahun terakhir  meningkat dari 521 pada tahun 1985 menjadi 1.112 jenis pada tahun 1995. kulaitas air sungai di Indonesia pada umumnya juga telah dicemari oleh limbah domestik yang masuk ke badan sungai disamping limbah-limbah lainnya dari perindustrian.

Pemantauan kualitas air yang  dilakukan terhadap 30 propinsi di Indonesia pada tahun 2004 menunjukkan bahwa sungai progo (jateng dan jogja), sungai citarum (jabar) tidak lagi memenhi kriteria mutu air kelas satu menurut PP 82 tahun 2001.

Penelitian yang dilakukan pad kurun waktu 1980-an telah menunjukkan adanya kadmium dan timbel yang mencapai 2.50 sampai 4.00 ppm. Juga telah mencapai baku mutu ( Baku mutu air : batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang lainnya yang ada atau harus ada dan atu unsur pecemar yang di tenggang adanya dalam air pada sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya( PP no. 20 tahun 1990 bab I pasal I ayat 4)) air laut dari yang dipersyaratkan sekitar 0.03 ppm. Pada tahun 2004 pemantauan terhadap 48 sumur di Jakarta menunujukkan bahwa hampir semuanya mengandun bakteri coliform dan fecalcoli. Dimana persentase smur yang melebihi mutu untuk para meter colofoorm di seluruh Jakarta cukup tinggi yakni mencapai 63% pada bulan Juni dan 67% pada bulan Oktober.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki laut yang cukup luas. Potensi ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kegiatan. Laut kita memiliki Sumber Daya Alam yang sangat mengagumakan mulai dari jenis ikan minyak bumi, gas alam, mineral tambang dan lain sebagaainya. Pantai-pantai di Indonesia-pun sangat indah dan menarik banyak wisatawan manca untuk menikmatinya.

PBB melalui organisasi bahan makanan dan pertanian pernah menyampaikan bahwaannya kita tidak dapat menangkap ikan lebih dari 100 juta ton ikan tanpa menimbulkan ancaman terhadap persediaan ikan. Pada tahun 1989 hal ini terjadi dimana  tangkapan ikan yang melebihi jumlah itu. Dan pada tahun berikutnya tangkapan merosot 4 juta ton. Dan dibeberapa tempat penanagkapan ikan mengalami penurunan yang drastis. Hal ini dikarenanakan penangkapan yang melebih batas, pencemaran laut dan rusaknya lokasi-lokasi tempat ikan berkembang biak.

Tumpahan minyak di lautan Indonesia juga merupakan ancaman pencemaran yang berbahaya. Khususnya tempat-tempat lalu lalang kapal-kapal pengangkut minyak, seperti Selat malaka yang diperkirakan 1% total minyak  yang diangkut keseluruh dunia melewati, selat Lombok dan  selat Makassar yang setiap harinya dilewati oleh 5-6 kapal tanker raksasa setiap harinya. Pencemaran minyak dilautan juga disebabkan pengeboran minyak yang diikuti ceceran minyak bumi yang biasanya disebabakan oleh bocornya eralatan yan kurang sempurna.kilang minyak juga merupakan faktor pencemara lainnya dengan adanya pembuangan limbah air yang telah bercampur dengan minyak, yang pada umumnya dialirkan ke alut juga.

  1. Pencemaran udara

Udara merupakan kebutuhan mutlak mkahluk hidup. Udara merupakan kumpulan gas yang 78,084% terdiri dari unsur nitrogen dan 20,946-nya terdidiri dari unsur oksigen, sedangkan 1 % nya terdiri dari unsur-unsur gas yang lain. Pencemaran udara merupakanpencemaran yang kronis sebab merupakan pencemaran yang pada umumnya kasat mata, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, sehingga cenderung diabaikan.

Pencemaran udara misaknya pencemaran oleh logam berat cadmium (Cd) dan air raksa (Hg) di kota-kota industri di Jepang pada tahun 1940-an dan 1950-an. Kabut asap fotokimia telah menempatkan Mexico city pada daftear kota-kota yang paling tercemar di dunia. Demikian ula sydney yang udaranya dicemari oleh asap mobil dengan persentase lebih tinggi dibandin dengan kota manapun di Amerika serikat. Pada tahun 1970, di tokyo tercatat lebih dari 8000 orang  menderita iritasi  mata, hidung, dan tenggorokan karena asap putih yang menyelimuti kota itu selama lima hari.

Pencemaran udara tak hanya membahayakan jiwa saja, namun juga benda-benda mati seperti baja yang berkarat sampai empat kali lebih cepat ditempat-tempat yang mengandung belerang.

Di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendraan motor, seperti timbal/ timah hitam (Pb). Suspended particular matter (SPM), Oksida nitrogen (Nox), Hidro carbon (HC), Karbon monoksida (CO), dan oksida foto kimia (Ox).

Sementara itu, laju pertambahan kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 15% per tahun. Hal ini tentu saja diimbangi dengan pertambahan laju pencemaran oleh emisi kendaraan bermotor tersebut. Berdasaran studi Banak Dunia pada tahun1994, pencemaran udara merupakan pembunuh kedua bagi anak balita di Jakarta. 14% penyebab kematian bagi seluruh balita di Indonesia dan juga Jakarta adalah dengan kualitas terburuk ketiga.

Damapak timbal bagi manusia terutama anak-anak diantaranya adalah mempengaruhi fungsi kognitif, kemampuan belajar, memndekkan tinggi badan, penurunan fungsi pendengaran, mempengaruhi perilaku dan inteligensia, merusak fungsi organ tubuh seperti ginjal, sysstem syaraf, dan reproduksi, meningkankan tekanan darah, dan mempengruhi perkembangan otak.

  1. Krisis keragaman hayati

Salah satu krisis terbesar yang dihadapi dunia saat ini adalah krisis keragaman hayati yang mencakup keragaman habita, keragaman spesies, dan keragaman genetika. Tingkat keragaman hayati dapat turun karena hewan-hewan dibunuh secra semana-mena (over hunting), pohon-pohon ditebangi secara liar, tumbuhan-tumbuhan kecil tertimbun atau tercabut akarnya, serta rusaknya habitat karena pencemaran. Rusaknya habita alami juga disebakan oleh konversi (pengubahan) habita alami menjadi habita buatan karena arus pembangunan serta industri. Sebagaimana yang dikutip oleh M. Ali Yafie  dari Vandhana Shiva, bahwasannya krisis keragaman hayati secara besar-besaran disebabkan oleh dua hal. Pertama,proyek pembangunan dikawsan hutan dan kedua adanya pendekatan monokultur yakni penanaman satu jenis tanaman bibit unggul dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Indonesia yang dianggap sebagai pusat keragaman hayatipun tak lepas dari krisis keragaman hayati (Biologocal Diversity) ini. Indonesia dihuni oleh 25.000 spesies tanaman berbunga atau 10% dari jumlah tanaman berbunga di dunia.jumlah spesies mencapai 515 atau 12% dari jumlah spesies mamalia didunia, 600 spesies reptilia, 1.519 spesies burung dan 270 spesies amfibia, dan keragaman jenis yang lainya. Selain itu karegamaan tanaman dan hayati laut yang luar biasa, terutama terumbu karang merupakan yang paling kaya didunia. Selain keragaman spesies Indonesia juga mempunyai keragamn genetika yang sangat tinggi, seperti 19 jenis durian yang tumbuh liar di kalimanatan, 6 macam sagu di maluku, dan 9 macam matoa di Papua.

Namun demikian, sekarang kita sudah jarang menemukan tanaman buah seperti duwet, gandaria, kepel, kecapi, dan lain sebagainya.sementara dipasaran kita di tawarkan dengan buah-buahan impor. Di sektor pertanian, saat ini kita hanya mengenal beberapa  varietas unggul yang kita kenal dengan istilah padi IR atau PB.paling tidak 1.500 varietas padi tardisional telah punah oleh revolusi hijau selama lima belas tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa keragaman hayati Indonesia semakin berkurang.

  1. Kerusakan hutan

Hutan merupakan paru-paru dunia. Hutan terluas di dunia adalah hutan Amazon di Amerika yang dihuni oleh sekitar 4.000 spesies pohon, 60.000 spesies tumbuhan berbunga, 1.000 spesies burung, 300 lebih spesies mamalia dan jutaan serangga. Namun kini hutan tersebut telah rusak oleh penebangan pohon secara sembarangan.

Tidak hanya Amazon, hampir diseluruh hutan di dunia telah dieksploitasi dan sebagian telah sirna. Saat ini perkirakan hanya tinggal 10% dari hutan belantara yang pernah ada di muka bumi ini.

Kerusakan hutan merupakan tema sangat penting dari kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Indonesia memiliki 10% persen hutan tropis di dunia yang masih tersisa. Sampai saat  ini diperkirakan Indonesia telah kehilangan lebih dari 72 persen dari luas hutan yang dimilikinya.

Laju kerusakan hutan di Indonesia pada periode 1985-1997 tercatat 1,6  juta ha pertahunnya. Sdangkan pada periode 19997-2000 menjadi 3,8 juta ha  pertahunnya.Berdasarkan  Informasi yang berkembang krusakan hutan di Indonesia disebakan oleh HPH dan kebakaran atau disengaja dibakar.

Hutan di Indonesia merupakan paru-paru dunia yang mampu menyerap karbon dioksiada dan menyediakan oksigen bagi kehidpan di dunia. Fungsi hutan sebagai penyimpan debit air juga akan terganggu akibat pengrusakan hutan secara terus menerus. Hal ini akan membawa dampak adanya kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan. Yang akhirnya akan berdampak pada perubahan iklim yang terjadi saat ini,munculnya banyak bencana, tanah yang tandus, punahnya spesies dan tentunya kemerosotan ekonomi rakyat.

  1. Pemanasan global (Global Warming) dan efek rumah kaca

Global warming merupakan isu menarik akhir-akhir ini. Bahkan bebrapa waktu yang lalu para pemimpin duni bertemu untuk membahs masalah ini.

Pemanasan global merupakan akibat dari kerusakan lingkungan pula. Pertambahan penduduk dan penggunaan sumberdaya alam untuk kepentingan industri dan gaya hidup modern, dan konsentrasi zat karbon dioksida yang tidak terserap oleh tumbuhan, gas methan, klorofourokarbon, ozon troposfer, dan nitrit oksida telah menyebebkan apa yang disebut efek rumah kaca. Implikasinya perubahan iklim yang tidak menentu, meningkatnya suhu bumi dan ancaman mencairnya es dikutub yang berakibat naiknya permukaan laut menjadi akibatnya, dan tentu saja hal ini akan menjadi ancaman besar eksistensi makhluk hidup di bumi ini.

E.     Lingkungan dalam Perspektif Islam

Lingkungan hidup merupakan karunia Allah SWT.dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kondisi lingkungan hidup bisa memberi pengaruh terhadap kondisi umat manusia. Karena itu, tanggung jawab menjaga dan melestarikan lingungan hidup menyatu dengan tanggung jawab manusia sebagai makhluk Allah yang bertugas memakmurkan bumi. Keberadaan lingkungan hidup yang telah diciptakan Allah SWT. Sebagai karunia bagi umat manusia dan mengandung maksud yang baik.

Menurut ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah hubungan manusia dengan lingkungannya merupakan hubungan yang di bingkai dengan akidah, yakni konsep kemakhlukan yang sama-sama patuh dan tunduk pada pencipta alam semesta. Dalam konsep kemakhlukan ini, manusia memperoleh dua macam pilihan untuk memperlakukan alam ini. Pertama, al-intifa’ (pendayagunaan) baik dlam arti mengkonsumsi maupun memproduksi. Kedua, al-i’tibar (mengambil pelajaran) terhadap fenomena yang terjadi serta hubungan antara manusia dengan alam. Adapun hubungan antara manusia dan alam mempunyai akibat konstruktif  (islah)dan juga akibat yang destruktif (al-ifsad).

Lingkungan merupakan masalah yang memiliki dimensi muamalah, namun juga menjadi masalah memiliki dimensi theologis karena sifat dan keterkaitannya dengan tugas-tugas manusia sebagai kholifah di bumi. Ajaran islam menganut prinsip lingkungan hidup bersih. Dan prinsip ini telah dikenal oleh umat islam, yang kemudian diterjemahkan kedalam kajian fiqih.

Ilmu fiqih merupakan salah satu ilmu-ilmu keislaman (al-’Ulumul as-Syar’iyah) sang sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai umat islam. Pada dasarnya ilmu fiqih merupakan penjabaran yang nyata dan terperinci dari nilai-nilai ajaran islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan as-sunah yang digali terus menerus oleh para ulama dan mereka yang ahli dalam bidang ini. Mereka yang mengenal baik perkembangan, kebutuhan, serta kemaslahatan umat dan lingkungannya dalam bingkai ruang dan waktu yang meliputinya.

Berawal dari tujuan syari’at atau agama (maqoshid asy-syar’ah) yang dibawa oleh Rasulullah, M. Ali Yafie mengamati secara sepintas bahwasannya pada batang tubuh ilmu fiqih terdapat empat garis besar penataan, yaitu :

  1. Rub’u al-Ibadat, yaitu bagian yang menata hubungan antara manusia selaku makhluk dengan Allah sebagai kholiqnya, yakni hubungan transedensi.
  2. Rub’u al-Mu’amalat, yaitu bagian yang menata hubungan manusia dalam lalu lintas pergaulannya dengan sesama untuk memenuhi kebutuhan atau hajat hidupnya sehari-hari
  3. Rub’u al-Munakahat, yaitu bagian yang menata hubungan manusia dalam lingkungan keluarganya
  4. Rub’u al-Jinayat, yaitu bagian yang menata pengamanan dalam suatu tertibpergaulan yang menjamin keselamatan dan ketenteramannya dalam kehidupan.

Masih menurut M. Ali yafie, empat garis dasar ini merupakan penjabaran nyata dari kasih sayang Allah serta menanadai risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Yang dalam keutuhannya menata bidang-bidang pokok dari kehidupan manusia dalam rangka mewujudkan suatu lingkungan kehidupan yang bersih, sehat, sejahtera, aman, damai, dan bahagia dunia dan akhirat.

Islam berbicara mengenai hidup dan kehidupan secara umum dan mendasar yang meliputi alam semesta dan hari akhir atau hari depan yang berkepanjangan bagi alam raya. Sedangkan fiqih berbicara mengenai realita kehidupan manusia secara terperinci dan bagaimana menata kehidupan tersebut selaku bagian integral dari kehidupan itu. Dari sudut pandang inilah fiqih ikut bebicara tentang masalah dunia dan kemaslahatan bersama. Kenapa demikian, hal itu dikarenakan fiqih yang dalam ranahnya dijiwai oleh al-kulliyyatu al-khoms yakni, hifdh al-nafs, hifdh al-’aql, hifdh al-mal, hifdh al-nasb, hifdh al-din sangat dipengaruhi oleh kelima dasar ini. Sehingga penegakan atas hak-hak manusia ini mendapatkan tempat untuk menjadi pertimbangan utama. Namun demikian jika ada hak tentu ada kewajiban dalam bentuk amanat dari Allah SWT. Yang dalam fiqih disebut dengan taklif. Orang yang telah mendapatkan taklif yang kemudian disebut sebagai mukallaf, yakni orang yang memiliki kesehatan jasmani dan rohani serta telah mencapai tingkat kematangan biologis dan psykologis tertentu (bulugh).

Salah satu amanat tersebut kepada seorang mukallaf sebagai seorang kholifah adalah menjaga lingkungan ini dengan sebaik-baiknya. Lingkungan dimana disitu terdapat air, tanah dan udara. Sebagaimana yang disampaikan oleh al-Qur’an bahwasannya air adalah sumber dari segala kehidupan di jagad raya ini. Oleh sebab itulah semua kebudayaan sejak zaman purba selalu didirikan disekitar smber air. Baik disekitar mata air, aliran sungai, maupun di pinggir-pinggir danau dan laut. Sebagai seorang muslim tentu kita tahu bahwasannya keabsahan sejumlah ibadah kepada Allah SWT. Sangat tergantung dengan air. Air merupakan salah satu alat thoharoh (bersuci) dari hadats dan najis. Karena itulah dlam kajian kitab klasik pembahasan masalah air diketengahkan  sebagai  sesuatu yang dibahas diawal, karena secar umum pembahsan dalam kajian kitab klasik selalu mendahulukan masalah ibadah theosentris yang kebanyakan mensyaratkan adanya kesucian diri baik dari hadats maupun dari najis dengan menggunakan air sebagai alat utamanya.

Lebih lanjut kitab-kitab fiqh membagi kualitas air dalam empat kategori: Pertama,air suci dan mensucikan atau dalam bahasa M. Ali Yafie air bersih dan membersihkan (Thohir muthohhir). Yakni air muthlaq (murni) yang sangat dibutuhkan oleh segenap makhluk hidup.

Kedua,  air suci dan mensucikan tapi makruh memakainya yang dalam bahasa M. Ali Yafie  disebut dengan air bersih dan membersihkan namun tercela memakainya atau dalam kitab-kitab klasik disebut sebagai ma’ al-musyammas. Yakni air yang sengaja dipanaskan di bawah terik matahari dalm bejana tembaga dan semacamnya.

Ketiga,air suci namun tidak mensucikan (ma’ al- mustakmal), yakni air yang telah dipakai bersuci. Termasuk dalam kategori air ini adalah air yag sudah tidak murni lagi (tidak muthlaq) karena telah bercampur dengan bahan-bahan lain sehingga telah berubah rasa, bau atau warnanya. Keempat,air najis (mutanajjis), yakni air yang telah tercemar oleh najis yakni zat-zat atau benda yang dianggap kotor oleh ajaran islam.

Dalam kajian fiqih sumber dari air murni yang sangat baik untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari ada tujuh macam, antara lain :

  1. Ma’ al-mathor atau disebut juga Ma’ al-sama’, yakni air hujan atau air yang berasal dari langit.
  2. Ma’ al-bahr, yakni air air laut yang begitu melimpah dan dikenal aisn karena endapan garamnya.
  3. Ma’ al-nahr, yakni air sungai yang mengalirkan air yang tawar.
  4. Ma’ al-bi’r, yakni air yang kita kenal sehari-hari sebagai air sumur.
  5. Ma’ al-ain, yakni air yang bersumber dari mata air.
  6. Ma’ al-tsalji, atau yang kita sebut sebagai air salju yag membeku.
  7. Ma’ al-Barid, yakni embun yang bisa kita temukan pada malam hari di atas dedaunan dan rerumputan.

Ajaran Islam melalui fiqihnya juga mengenalkan istilah Ma’ al-katsir dan Ma’ al-qolil dalam rangka sejauh mana air tersebut dapat terpengaruh kualitasnya.

Pada dasarnya air dari tujuh sumber di atas merupakan air yang baik dan sehat untuk dipakai, akan tetapi kerusakan lingkungan yang menjadikan sumber-sumber air tersebut tercemar akan sangat berbahaya dan mengancam eksistensi kehidupan yang sangat membutuhkan air secara mutlak. Sehingga pengadaan dan pemeliharaan ma’ al-mutlaq manjadi sesuatu yang wajib baik oleh semua pihak termasuk pemerintah dengan berpegang pada kaidah fiqh ” ma la yatimmu al-wajibu illi bihi fahuwa wajibun”. Dalam segi pemeliharaanya fiqih juga sangat cermat dengan adanya pelarangan kencing dalam air yang tergenang termasuk disini dalam wadah air, dibawah pohon yang berbuah, jalan raya, tempat berteduh dan lain sebagainya. Pada dasarnya Allah SWT. Telah menciptakan air dalam keadaan suci untuk dipersiapkan kepada manusia termasuk makhluk hidup lainnya demi eksistensinya di muka bumi ini dan manusia serta makhluk Allah dimuka bumi inilah yang mencemarinya.

Selain berbicara tentang air, Islam dengan fiqihnya juga berbicara tentang tanah yakni bumi tempat manusia berpijak dan tempat berlangsungnya kehidupan. Tidak hanya itu dari tanahlah sumber energi makhluk hidup berasal. Yakni bahan makanan sebagai sumber karbohidrat serta berbagai vitamin dan protein meskipun melalui hewa dan tumbuhan yang juga berpijak dibumi ini.Tidak hanya itu tanah juga merupakan alternatif kedua setelah air sebagai salah satu alat bersuci (thaharoh) dalam rangka hubungan manusia dengan Allah SWT.

Dalam al-Quran, bumi disebut sebagai mata’ yakni tempat yang memberikan kenyamanan bagi manusia selama tidak dijamah oleh tangan-tangan rakus manusia. Hal ini dikarenakan bumi dengan seluruh daratan dan lautannya yang di sana mengalir sungai-sungai dan tertancapnya gunung-gunung menyediakan segala kebutuhan hidup manusia termasuk tumbuhan dan hewan. Dari sini, jelas kita kita tidak patut merusak bumi ini dengan keserakahan kita karena bumi ini telah dicptakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Berbicara mengenai udara, maka kita berbicara al-Rih  yakni yang sering kita terjemahkan sebagai angin, yakni udara yang bergerak. Udara merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain tanah untuk berpijak dan sumber energi serta air yang menjadi bagian terbanyak dalam susunan tubuh manusia. Begitu manusia lahir maka hal pertama yang dibutuhkannya adalah udara. Menurut hemat kami justru inilah yang menjadi kebutuhan utama bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia bisa hidup bebrapa hari tanpa makanan dan air namun tanpa udara berapa lama manusia bisa hidup. Kita tahu bahwa buah-buahan yang menghasilkan vitamin bagi manusia dan hewan berasal dari buah-buahan. Dan kita juga tahu bahwa buah-buahan berawal dari bunga-bunga yang mengalami perkawinan oleh serbuk dan benang sarinya. Dalam alqur’an yang juga dibenarkan oleh ilmu pengetahuan masa kini bahwa penyerbukan oleh bungan salah satunya dibantu oleh angin. Kapal kapal layar nelayan dilautan juga memanfaatkan potensi angin ini dengan adanya angin darat dan angin laut dan hal ini juga merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah. Angin juga merupakan salah satu faktor turunnya hujan dan hal ini banyak disinggung dalam al-Qur’an.

Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi besar islam di nusantara dalam muktamar NU ke-29 di cipasung Tasikmalaya 1994 menyatakan bahwa tindakan pengrusakan lingkungan hidup merupakan tindakan mafasid (kerusakan) yang dalam prinsip islam harus dihindari dan dicegah. Dari sedikit penjelasan diatas, M. Ali Yafie menyatakan bahwasannya pelestarian lingkungan dalam rangka menjaga eksistensi kehidupan sampai datangnya hari kehancuran alam semesta kelak merupakan fardhu kifayah. Artinya bahwasannya semua pihak turut bertanggung jawab atas pelestarian lingkungan, baik secara individu maupun kelompok. Selagi alam masih tercemar maka kita semua akan terus berdosa. Masih menurut M.Alie Yafie bahwasannya dosa yang paling besar dianggung oleh pelaku perusakan lingkungan hidup, kemudian pemerintah yang mempunyai kekuasaaan dan kewenangan hukum dan yang terakhir adalah masyarakat yang berkewajiban mencegah, mengingatkan, mememlihara dan memberikan keteladanan yang baik dalam pelestarian lingkungan.

Demikianlah Islam berbicara tetntang lingkungan dan tentunya hal ini masih bisa kita gali lagi lebih mendalam, karena pada dasarnya islam merupakan agama yang haq dan merupakan agama yang sangat perduli dengan lingkungan.

F.     Problem Solving Atas Masalah Lingkungan Hidup

Kerusakan lingkungan hidup yang telah nyata ada didepan mata kita tentu tidak akan kita biarkan saja begitu saja. Komunitas masyarakat yang telah sadar akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat telah banyak menggelar kegiatan dalam rangka sosialisasi sertamengkampanyekan pentingnya lingkungan hidup yang sehat dan dapat dimanfaatkan untuk generasi berikutnya.

Banyak hal yang sebenarnya bia kita lakukan dalam rangka mengembalikan fungsi alam ini mulai menanam pohon di hutan yang telah gundul, memperluas kawasan hijau di kota, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi bahakan meninggalkan pemakaian alat-alat yang dapat merusak lingkungan seperti AC, kulkas, dan sebagainya. yang menghasilkan gas freon, pemakaian pupuk kandang dalam dunia pertanian.

Pada dasarnya pemeliharaan lingkungan hidup merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai penghuni dunia. Dalam rangka mengembalikan keadaan alam ini sebagaimana mestinya membutuhkan kerjasama dan kesadaran bersama anatara masyarakat pemerintah dan pihak-pihak terkait, bukan hanya oarang Indonesia akan tetapi juga seluruh komponen penghuni dunia yakni seluruh negara yang ada.

Sebagaimana yang tertuang dalam pasal 4  UU no.4 tahun 1982, bahwa pengelolaan lingkungan bertujuan:

  1. Tercapainya keselarasan hubungan anatara manusia dengan lingkungan hidup sebagai tujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya.
  2. Tekandalinya pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana
  3. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai pembina lingkungan hidup.
  4. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan utntuk kepentingan generasi sekaranag danmendatang
  5. Terlindunginya negara terhadap dampak keiatan diluar wilayah negara yang menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Dalam undang-undang tersebut nampak jelas bahwasannya pemerintah sangat perduli dengan rakyat dan lingkungannya. Pemerintah mengharapkan adannya keselarasaan hidup. Sebagaimana yang disampaikan oleh M. Alie Yafie bahwasannya secara global, kerusakan lingkungan dimulai sejak munculnya indusrialisasi yang berpegang pada prinsip eksploitasi alam dengan segala kekayaan alam yang dikandungnya dengan dipacu oleh konsep pertumbuhan dan pembangunan yang diujung tombakioleh perdagagan bebas.

Selama konsep ini masih diterapkan maka kampanye peduli lingkungan dengan model apapun yang sifatnya teknis tidak akan mempunyai banyak arti dan tidak akan mampu  mencapai sasaran. Untuk itu alternatif yang ditawarkan beliau (M. Ali Yafie) adalah dengan mengkampanyekan moral etik lingkungan hidup yang tidak berorientasi pada konsep pertumbuhan, tettapi pembangunan yang didasari oleh teori kemaslahatan yang dilengkapi dengan teori haddu al-kifayah, yakni pengembangan pandangan kehidupan yang berkecukupan, bukan kehdupan yang bermewah-mewahan.

Muktamar NU ke-29 juga memandang perlu penegakan sejumlah prinsip dan langkah-langkah dalam menangani maslah lingkungan hidup. Sejumlah prinsip dan langkah tersebut adalah :

  1. Memandang masalah lingkungan hidup sebagai masalah theologis, bukan hanya sekedar masalah politis atau ekonomis saja.
  2. Pembangunan ekonomi, khususnya bidang industri, perlu dijamin kelangsungannya. Namun, pembangunan industri harus menghindari pengaruh sampingan yang dapt merugikan umat secara luasbaik dalam jangka panjang maupun jangka panjang.
  3. Pembangunan iptek dan industri merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi. Namun iptek yang kita kehendangi adalah iptek yang bukan bebas nilai (value free) dan industrialisasi yang bertanggung jawab kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan alam ini kepada kita.
  4. Kegiatan dakwah islamiyah juga harus diarahkan kepada kepedulian terhadap lingkungan hidup.pola hidup boros (dalam arti luas) dan rakus sehingga mengeksploitasi alam secara berlebihan harus ditolak.
  5. Perlu adnya sinkronisasi antara pembangunan dan upaya pelestarian lingkungan hidup.
  6. Menciptakan pendekatan yuridis dengan membentuk peraturan perundang-undangn dan menegakkan peraturan tersebut sevara tegas dan konsisten.

Selain itu, menurut hemat kami perlu juga dikembangkannya fiqh al-Bi’ah, yakni pemahaman tentang  lingkungan dari sudut pandang islam. Bukan hanya dalam pendidikan formal saja namun juga diteruskan dalam oendidikan dikeluarga. Karena pada dasarnya m’auidzoh hasanah tidak akan membuat perubahan berarti tanpa adanya uswatun hasanah tentang bagaiman menyayangi lingkungan dan alam cipataan tuhan ini dari pendidik termasuk orang tua. Justru selama ini uswatun hasanah yang di dukung  oleh pemhaman lingkugan secar benar inilah yang perlu segara kita galakkan. Apa lagi dengan mensosialisasikan tentang hukum-hukum syari’at Islam yang mana diharapkan akandapat mempengaruhi sikap spiritual ekologis umat Islam.

Dengan adanya UU nomor 4 tahun1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup, UU nomor 5 tahun1984 tentang perindustrian, UU nomor 9 tahun 1985 tentang perikanan, UU nomor 22 tahun 1982 tentang tata pengaturan Air, UU nomor 29 tahun 1986 tentang analisis dampak lingkungan, danlain sebagainya yang terkait dengan penecegahan kerusakan lingkungan menunjukkan adanya perhatian pemerintah terhadap masalah lingkungan hidup, hanya saja pemerintah cenderung kurang tegas dalam penegakannya. Untuk itu pemerintah harus lebih tegas lagi dalam permasalahan penegakan hukum dan peraturan ini.

Selain itu, tentunya dalam rangka mengurangi serta mengatasi permasalahan lingkungan ini harus kita mulai dari diri kita sendiri. Kalau kita yang tahu akan keadaan  lingkungan ini sudah tidak perduli dengan keseimbangan lingkungan, bagaimana dengan meraka yang kurang atau bahkan tidak tahu dan mengerti akan pentingnya keberadaan lingkungan hidup ini.

G.    Kesimpulan

1.            Latar belakang Munculnya Fiqih Bi’ah adalah kebutuhan yang mutlak diperlukan. Juga sebagai bentuk kepedulian islam sebagai agama yang dipelik mayoritas penduduk  Indonesia terhadap lingkunan hidup

2.            Pengertian fiqih Bi’ah adalah ilmu yang membahas tentang seperangkat hukum-hukum  syar’i tentang perilaku hubungan manusia dengan lingkungannya baik berupa lingkungan biotik maupun abiotik yang diambil dengan menggali dalil naqli dan akli untuk kemaslahatan makhluk hidup dimuka bumi melalui metode ijtihad.Fakta kerusakan lingkungan

3.            Lingkungan dalam perspektif islam merupakan ciptaan Allah SWT. Yang diperuntukkan manusia. Untuk dimanfaatkan dan digunakan sebagaimana mestinya, bukan dikuaisai dan dieksploitasi sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup kita. Islam juga menghukum para pengrusak lingkungan dengan konsep dosa yakni menghukumi haram bagi mereka yang merusak serta acuh terhadap kerusakan alam sekitar

4.            Selain problem solving yang telah dikampanyekan dan disosialisasikan selama ini, perlu adanya pendidikan tentang pemahaman lingkungan oleh islam (Fiqh BI’ah) yang dimulai lingkungan keluarga sampai jenjang pendidikan tinggi. Merubah pandangan hidup mewah dan berlebiih-lebihan menjadi pandangan hidup secukupnya juga menjadi tawaran apik untuk  mengatasi permasalahan lingkungan hidup.Pemerintahpun harus membentuk peraturan perundang-undangan dan tegas menegakkan undang-undang yang telah disusunnya.

 

H.    Saran

Kami hanyalah manusia biasa yang mempunyai banyak keterbatasan. Dan dalam penyelesaian tugas ini tentu, banyak kekurangan yang tidak kami sadari. Untuk itu sarn seta kritik dari para pembaca merupakan suatu kebahagiaan bagi kami, demi keempurnaan kami dalam menyelasaikan tugas-tugas lain dimasa yang kan mendatang.


I.       Referensi

—, Ahkamul Fuqaha ”Solusi Hukum Islam, keputusan Muktamar, Munas, Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004)”. Surabaya : Diantama, 2006.

Al Barry, M. Dahlan & Pius A. Partanto, Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Arkola, 1994.

Al-Dimyati, Ahmad bin Muhammad, Waroqot,Semarang: Toha Putra, tt.

Al-Ghozi, Muhammad bin Qoshim, Fathul Qorib al-Mujib, Semarang: Toha Putra, tt.

Al-Hakim, ‘Abdul al-Hamid, Ma’badi Awwaliyah, Jakarta:Sa’adiyah Putera, 1927.

Maktabah Samilah, cet II,  Kuwait, 2006.

Subagyo, P. Joko, Hukum Lingkungan “Masalah dan Penanggulangannya”, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Thoha, Zainal Arifin, Dibalik Bencana-Bencana, Yogyakarta: Kutub, 2005.

Yafie, Ali, Merintis Fiqh Lingkungan Hidup, Jakarta Selatan:Yayasan Amanah, 2006.

2 responses

  1. Nazilatur Rohmah | Reply

    Hemmm,,,,,
    Bagaimana mengaplikasikan Fiqh Bi’ah tersebut jika kesadaran dari semua stake holder juga belum terbentuk???
    Padahal global waarming sudah di depan mata…
    Keseimbangan alam mulai terganggu,,,
    Berita beberapa hari yang lalu terkait banyaknya hewan laut yang mulai langka mati n terdampar di pantai,,,
    Sulitnya mengubah pola fikir!!

    1. Tergantung kesadaran orangnya. Untuk mengaplikasikan itu! Namun sulitnya kayak melihat punggung sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: