ILMU DAN TRADISI KEILMUAN MASYARAKAT MUSLIM


ILMU DAN TRADISI KEILMUAN MASYARAKAT MUSLIM

(Kajian Etika Keilmuan dalam Pendidikan Islam)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Ilmu merupakan sarana untuk mengembangkan peradaban manusia, tanpa ilmu manusia akan tampak seperti hewan yang berjalan di muka bumi dengan dua kaki. Dengan ilmu manusia akan terangkat derajatnya, yang pada mulanya rendah menjadi agak tinggi, dan yang sudah agak tinggi menjadi tinggi. Maka dari itu hendaknya para manusia mencari dan berusaha mengamalkan segala ilmu yang diperolehnya.

Islam adalah agama yang sangat mementingkan perkembangan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan menurut islam adalah alat yang membawa orang menuju keselamatan, dan juga alat untuk meninggalkan kegelapan. Banyak sekali hadist Nabi yang mengatakan tentang pentingnya ilmu, bahkan sampai-sampai al Qur’an sendiri mengatakan bahwa ilmu itu sangat penting dan berguna bagi manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Al Qur’an juga memerintahkan manusia untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan, karena dengan berkembangnya ilmu pengetahuan seseorang maka akan semakin kokohlah imannya.

Dalam al Qur’an juga diterangkan bahwa tidak ada yang namanya dikotomi ilmu sebagaimana keterangan dalam surah al alaq ayat 1-5. Akan tetapi kenyataannya banyak orang muslim yang mendikotomikan ilmu tersebut, akibatnya ilmu orang islam sulit berkembang.

Dalam islam atau masyarakat muslim terdapat epistemologi yang khusus tentang ilmu dan juga tradisi keilmuan tersendiri. Tetapi ilmu dalam islam atau negara-negara islam sulit sekali berkembang karena terdapat berbagai permasalahan dan problematika yang melanda. Baik problematika tersebut datangnya dari dalam atau dari luar umat islam itu sendiri. Semua permasalahan dan problematika tersebut belum ada pemecahannya sampai sekarang, padahal hal itu harus segera dipecahkan untuk dapat memajukan ilmu dan keilmuan dalam islam. Jika kita menengok sejarah sebentar, maka disitu kita akan menemukan bahwa islam pernah mengalami kejayaan tentang ilmu dan keilmuan. Tetapi sekarang isi kita sulit sekali memajukan keilmuan dalam islam atau masyarakat muslim

Maka dari itu kami akan mencoba menguraikan mengenai ilmu dalam masyarakat muslim dan tradisi keilmuan dalam masyarakat muslim atau dalam islam yang kami ambil dari berbagai referensi baik yang berupa cetak atau elektronik dan pengetahuan kami.

B      Ilmu Dalam Masyarakat Islam

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai ilmu dalam masyarakat muslim, maka terlebih dahulu kita membahas mengenai pengertian ilmu, ilmu pengetahuan, dan pengetahuan. Menurut pengertian bahasa, ilmu dapat diterjemahkan sebagai. pengetahuan. Sehingga nama pengetahuan menceminkan adanya redudensi peristilahan (words redudancy), yang tujuannya untuk lebih menegaskan suatu makna, seperti jatuh ke bawah, naik ke atas dan lain sebagainya. Ada dua term pengetahuan, yaitu “pengetahuan ilmiah” dan “Pengetahuan Biasa“. Pengetahuan Biasa (knowledge) diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan pikiran, pengalaman, pancaindera dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. Sedangkan “Pengetahuan Ilmiah” (science) juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek, cara yang digunakan dan kegunaan dari pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memperhatikan obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Baik Science atau knowledge pada dasamya keduanya merupakan hasil observasi pada fenomena alam atau fenomena sosial. Dengan demikian, ilmu pengetahuan memiliki cakupan yang amat luas, yaitu ilmu pengetahuan alam, sosial budaya dan seterusnya.

Berdasarkan keterangan diatas, ada beberapa istilah untuk menyebutkan ilmu pengetahuan, seperti istilah: ilmu, pengetahuan, al ‘ilm, dan sains. Barangkali untuk menyederhanakan masalah, keempat istilah itu dianggap memiliki makna dan maksud yang sama, sehingga istilah-istilah tersebut bebas digunakan dalam wacana keilmiahan tanpa dikaitkan dengan konotasi-konotasi pemahaman yang spesifik dan tertentu.

Maka dari itu di Indonesia biasanya terdapat kerancuan dalam penggunaan istilah-istilah tersebut sehingga menimbulkan salah persepsi. Sehingga di bawah ini penulis akan menguraikan mengenai perbedaan antara keempat istilah tersebut.

Penjelasan di atas, merupakan penjelasan umum ilmu dan keterkaitannya dengan istilah Sains (Science) dan Knowledge, namun apabila dilihat dari sisi bawah makna yang terkandung dalam kata ilmu perlu lebih ditegaskan. Untuk menghindari kesalahpahaman, perlu dilakukan pambahasan tentang peristilahan Sains dan ilmu. Seringkali istilah Sains (Science) dan Ilmu (‘Ilm) disepadankan, sehingga memberikan pensifatan yang sepadan pula yaitu antara Scientific dengan ilmiah. Penyepadanan antara ilmu dengan Sains, dimana Sains hanya berkaitan dengan obyek-obyek inderawi adalah menyempitkan makna ilmu yang sebenamya. Konsekuensi dari penyepadanan tersebut adalah mengeluarkan obyek-obyek yang tidak bisa diketahui, namun bisa dikenali (Ma’rifah), seperti hal-hal yang terkait dengan “ke-Tuhanan” dikeluarkan dari wilayah ilmu. Implikasi lebih jauhnya, tersirat dalam penggunaan kata “Ilmiah” (Scientific).

Segala pernyataan yang tidak “ilmiah” (tidak Scientific) dianggap lebih rendah nilainya. Yang pada gilirannya berarti segala ilmu yang bersumber dari agama yang tidak bisa “dibuktikan” secara inderawi (masalah moral sebagai misal) menjadi tidak bernilai. Penyempitan makna ini, baik secara sadar atau tidak, telah memberikan isyarat tentang terjadinya proses penghapusan makna-makna ruhaniah (sekuralisasi) yang sesungguhnya memang dimulai dari pemberian makna suatu bahasa. Dalam pembahasan di sini, tidak.dilakukan perbedaan antara Sains dan Ilmu dan tidak pula dilakukan penyempitan makna atau lingkup otoritas dari Sains. Artinya Sains yang dimaksudkan di sini bisa memiliki otoritas cakupan sama dengan yang dimiliki oleh limu.

Sains merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu dengan memperhatikan objek (Ontologi), cara (epistemologi) dan kegunaaninya (aksiologi). Berangkat dari tiga kerangka tersebut, dengan memanfaatkan kemampuan akal untuk memahami fenomena alam semesta (keseluruhan ciptaan atau mahluk Allah) sebagai objek pemahaman yang pada akhirnya hasil pemahaman tersebuti dipergunakan untuk memberikan nilai manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan.

Jika keempat hal tersebut dibedakan, maka dengan analisis sederhana berikut kita dapat membedakannya. Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun rapi dengan metode ilmiah. Ilmu berasal dari kata ‘alima, pengambilan istilah ilmu dalam bahasa Indonesia terpengaruh oleh bahasa Arab. Sementara itu, pengetahuan hanya sekedar mengetahui tanpa melalui metode tertentu. Sedangkan sains adalah sejenis pengetahuan manusia yang diperoleh melalui riset terhadap obyek-obyek yang empiris. Pengertian sains disini sama dengan ilmu, dan pengetahuan sama dengan knowledge. Dalam konteks islam ketiganya tersebut tidak dapat mendatangkan kebenaran yang absolut, maka yang paling tepat ialah al ‘ilm. Tetapi karena istilah ilmu telah dibakukan dan sama artinya dengan al ‘ilm, maka penulis memakai istilah ilmu.

Sementara itu secara istilah, ilmu terdapat beberapa pendapat, antara lain:

v  Menurut Abdurrohman al akhdhori, ilmu adalah membuahkan pikiran akan arti dari sesuatu, contoh pisang, pikiran kita pasti dapat membayangkan arti dari kata pisang dalam pikiran.

v  Menurut Ashley Montagu, ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatanm studi dan pengalaman untuk menemukan hakekat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari.

v  Menurut Zakiah Darajat, ilmu adalah seperangkat rumusan pengembangan pengetahuan yang dilaksanakan secara obyektif, sistematis baik dengan pendekatan deduktif, maupun induktif yang dimanfaatkan untuk memperoleh keselamatan, kebahagiaan dan pengamanan manusia yang berasal dari Tuhan dan disimpulkan oleh manusia melalui hasil penemuan pemikiran oleh para ahli.

Intinya ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh manusia melalui metode epistemologi dan ciri-ciri tertentu.

Ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu:

v  Obyek ilmu pengetahuan adalah empiris.

v  Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu mempunyai sistematika.

v  Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman studi dan pemikiran.

v  Sumber segala ilmu adalah Tuhan, karena Dia yang menciptakannya.

v  Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang menyulitkan.

Kehadiran Nabi Adam di bumi berarti berbekal seperangkat ilmu pengetahuan. Dengan ilmu tersebut adam dan anak cucunya terangkat derajatnya. Oleh karena itu ilmu pengetahuan dibuat sebagai standart kualitas tertinggi dalam pandangan islam.

Islam sangat mendukung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan hal itu ditunjukkan dalam al Qur’an surah al ‘alaq ayat 1-5 yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia disuruh membaca ayat-ayat Allah, baik berupa ayat kauniyah maupun ayat qur’aniyah. Karena membaca merupakan salah satu cara mengembangkan ilmu pengetahuan.

Dan dalam ayat lain al Qur’an menyebutkan mengenai orang yang mengembangkan kemampuan analisis dan daya fikir, yaitu surah ali Imron ayat 190-191. yang artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Tiga aspek utama dalam ayat diatas, yakni ulil albab (aspek manusia terutama mereka yang berpikir analisis), aspek dzikrullah (aspek Ketuhanan), yakni keyakinan akan kebesaran Ilahi dengan Maha PenciptaanNya, dan Tafakur sebagai aspek keilmuan. Menurut pandangan islam, kegiatan berfikir (tafakur) manusia itu adalah suatu kerja universal dan integral. Lingkup berfikirnya tidak hanya langit dan bumi, tetapi termasuk mengenai peristiwa yang berproses didalamnya. Kajian yang paling radikal (mengakar) dari pengungkapan  misteri alam semesta ini secara ontologis, ialah membuka tabir rahasia penciptaanNya, dan bahwa formulasi pengetahuan manusia tentang alam semesta disajikan lewat rumusan yang sistematis dan rasional.

Al-Quran selalu mengaitkan perintah-perintahnya yang berhubungan dengan alam raya dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan-Nya. Bahkan, ilmu –dalam pengertiannya yang umum sekalipun– oleh wahyu pertama Al-Quran (iqra’), telah dikaitkan dengan bismi rabbika. Maka ini berarti bahwa “ilmu tidak dijadikan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan-kepentingan lainnya”. Ilmu pada saat –dikaitkan dengan bismi rabbika– kata Prof. Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syaikh Jami’ Al-Azhar, menjadi “demi karena (Tuhan) Pemeliharamu, sehingga harus dapat memberikan manfaat kepada pemiliknya, warga masyarakat dan bangsanya. Juga kepada manusia secara umum. Ia harus membawa kebahagiaan dan cahaya ke seluruh penjuru dan sepanjang masa.”

Ayat-ayat Al-Quran seperti antara lain dikutip di atas, disamping menggambarkan bahwa alam raya dan seluruh isinya adalah intelligible (dapat dijangkau oleh akal dan daya manusia), juga menggarisbawahi bahwa segala sesuatu yang ada di alam raya ini telah dimudahkan untuk dimanfaatkan manusia (QS 43:13). Dan dengan demikian, ayat-ayat sebelumnya dan ayat ini memberikan tekanan yang sama pada sasaran ganda: tafakkur yang menghasilkan sains, dan tashkhir yang menghasilkan teknologi guna kemudahan dan kemanfaatan manusia. Dan dengan demikian pula, kita dapat menyatakan tanpa ragu bahwa “Al-Quran” membenarkan –bahkan mewajibkan– usaha-usaha pengembangan ilmu dan teknologi, selama ia membawa manfaat untuk manusia serta memberikan kemudahan bagi mereka.

Tuhan, sebagaimana diungkapkan Al-Quran, “menginginkan kemudahan untuk kamu dan tidak menginginkan kesukaran” (QS 2:85). Dan Tuhan “tidak ingin menjadikan sedikit kesulitan pun untuk kamu” (QS 5:6). Ini berarti bahwa segala produk perkembangan ilmu diakui dan dibenarkan oleh Al-Quran selama dampak negatif darinya dapat dihindari.

Saat ini, secara umum dapat dibuktikan bahwa ilmu tidak mampu menciptakan kebahagiaan manusia. Ia hanya dapat menciptakan pribadi-pribadi manusia yang bersifat satu dimensi, sehingga walaupun manusia itu mampu berbuat segala sesuatu, namun sering bertindak tidak bijaksana, bagaikan seorang pemabuk yang memegang sebilah pedang, atau seorang pencuri yang memperoleh secercah cahaya di tengah gelapnya malam.

Bersyukur kita bahwa akhir-akhir ini telah terdengar suara-suara yang menggambarkan kesadaran tentang keharusan mengaitkan sains dengan nilai-nilai moral keagamaan.

Beberapa tahun lalu di Italia diadakan suatu permusyawaratan ilmiah tentang “cultural relations for the future” (hubungan kebudayaan di kemudian hari) dan ditemukan dalam laporannya tentang “reconstituting the human community” yang kesimpulannya, antara lain, sebagai berikut: “Untuk menetralkan pengaruh teknologi yang menghilangkan kepribadian, kita harus menggali nilai-nilai keagamaan dan spiritual.”

Apa yang diungkapkan ini sebelumnya telah diungkapkan oleh filosof Muhammad Iqbal, yang ketika itu menyadari dampak negatif perkembangan ilmu dan teknologi. Beliau menulis: “Kemanusiaan saat ini membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam raya, emansipasi spiritual atas individu, dan satu himpunan asas yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritual.”Apa yang diungkapkan itu adalah sebagian dari ajaran Al-Quran menyangkut kehidupan manusia di alam raya ini, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Segi lain yang tidak kurang pentingnya untuk dibahas dalam masalah Al-Quran dan ilmu pengetahuan adalah kandungan ayat-ayatnya di tengah-tengah perkembangan ilmu. Seperti yang dikemukakan di atas bahwa salah satu pembuktian tentang kebenaran Al-Quran adalah ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkan. Memang terbukti, bahwa sekian banyak ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu, seperti:

  • Teori tentang expanding universe (kosmos yang mengembang) (QS 51:47).
  • Matahari adalah planet yang bercahaya sedangkan bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS 10:5).
  • Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan (QS 27:88).
  • Zat hijau daun (klorofil) yang berperanan dalam mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses fotosintesis sehingga menghasilkan energi (QS 36:80). Bahkan, istilah Al-Quran, al-syajar al-akhdhar (pohon yang hijau) justru lebih tepat dari istilah klorofil (hijau daun), karena zat-zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja tapi di semua bagian pohon, dahan dan ranting yang warnanya hijau.
  • Bahwa manusia diciptakan dari sebagian kecil sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding rahim (QS 86:6 dan 7; 96:2).

Demikian seterusnya, sehingga amat tepatlah kesimpulan yang dikemukakan oleh Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur’an, Bible dan Sains Modern, bahwa tidak satu ayat pun dalam Al-Quran yang bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Dengan petunjuk dari berbagai  ayat  tersebut dan keterangan di atas, menjadi jelaslah bahwa islam sangat mendukung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan dalam hadist terdapat perintah untuk mencari ilmu dan mengatakan bahwa mencari ilmu tersebut wajib bagi umat islam laki-laki maupun perempuan.Tetapi islam masih memelihara keyakinan bahwa ilmu pengetahuan merupakan anugerah Allah kepada manusia dan ilmu merupakan hasil interpretasi ayat-ayat Allah.

Dalam islam sebenarnya tidak menghendaki adanya dikotomi ilmu, karena sistem dikotomi ilmu  akan menyebabkan pendidikan islam menjadi sekuler, rasional, empiris dan intuitif yang semuanya ini akan membuat tata kehidupan umat menjadi rusak.

Ilmu pengetahuan menurut Al Ghozali, dibagi menjadi tiga, yaitu:

v  Ilmu yang tercela, banyak sedikit ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia didunia maupun di akhirat, misalnya ilmu sihir, nujum, dan perdukunan.

v  Ilmu yang terpuji, ilmu yang banyak atau sedikit akan menambah ketaqwaan manusia kepada Allah, misalnya Furu’ as Syar’iyah.

v  Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, ilmu ini tidak boleh didalami karena ilmu ini akan membawa kegoncangan iman, contohnya: Ilmu filsafat.

Jadi pada intinya islam sangat menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan masyrakat muslim tersebut diwajibkan untuk mencari ilmu dan juga banyak al Qur’an dan Hadist yang menerangkan bahwa perbuatan mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut termasuk perbuatan yang mulia dan akan ditingkatkan derajatnya.

C.     Tradisi Keilmuan Dalam Masyarakat Muslim

Ilmu atau keilmuan akan dapat mengangkat derajat manusia baik dihadapan Allah maupun dihadapan sesama manusia. Islam sangat besar dalam menaruh perhatiannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan berkembanganya ilmu pengetahuan di masyarakat muslim. Dengan sentuhan yang diberikan oleh al-Qur’an yang secara langsung mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan, di masyarakat islam muncul tradisi keilmuan yang berbeda dengan masyarakat agama lain yang dapat membentuk peradaban yang mempunyai ciri khas tersendiri.

Bangkitnya peradaban Islam harus dimulai dengan pembangunan tradisi ilmu dalam masyarakat Islam. Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana beliau membangun satu generasi yang luar biasa kecintaannya terhadap ilmu. Menurut Prof Hamidullah, Piagam Madinah adalah Konstitusi Negara tertulis pertama di dunia. Di Madinah, Rasul SAW juga menggalakkan tradisi baca tulis. Bahkan beliau membebaskan tawanan Badar yang mengajar kaum Muslim membaca dan menulis. Rasulullah SAW juga memerintahkan penulis wahyu, Zaid bin Tsabit, untuk belajar bahasa Ibrani. Maka, tidak heran, kader-kader Rasulullah SAW adalah orang-orang yang sangat tinggi semangat keilmuannya. Sedangkan pada masa sahabat tradisi keilmuan tumbuh dan berkembang dengan pesat, karena pada waktu itu para sahabat berusaha untuk saling tolong menolong serta menyebarkan ilmu kepada masyarakat umum.

Sebagaimana gerenasi sahabat, para ulama Islam juga berhasil memunculkan satu tradisi ilmu yang khas dalam Islam. Yakni, tradisi yang menyatukan antara ilmu dan amal. Para Imam Mazhab, misalnya, dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai kualitas ilmu dan amal yang tinggi. Imam Abu Hanifah lebih memilih dicambuk setiap hari ketimbang menerima jabatan hakim negara. Imam Syafii sanggup mengkhatamkan Alqur’an 60 kali dalam shalat di bulan Ramadhan. Imam Ahmad bin Hanbal sangat gigih mempertahankan pendapatnya tentang keqadiman Alquran, meskipun harus dipenjara oleh penguasa yang Muktazilah.

Tradisi yang menyatukan ilmu dan amal serta akhlak ini selama berabad-abad terus dipertahankan oleh kaum Muslim. Di pesantren-pesantren di Indonesia, santri yang melakukan tindak pencurian akan dikenakan sanksi yang berat. Untuk memurnikan niat dalam mencari ilmu, masih ada pesantren yang tidak mau memberikan ijazah formal kepada santrinya. Budaya ilmu Islam inilah yang harusnya dikembangkan oleh kaum Muslim, jika ingin membangun peradaban Islam yang gemilang.

Reintegrasi ilmu pengetahuan sesungguhnya berawal ketika lahirnya Islam. Ayat Al-Qur’an yang pertama diturunkan ialah Iqra’ bi ism Rabbik al-ladzi khalaq. Khalaq al-insan min ‘alaq. Iqra’ wa Rabbuk al-Akram. Al-Ladzi ’alama bi al-qalam. ’Allam al-insan ma lam ya’lam. (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya). Ayat pertama tadi memberikan bukti bahwa dalam Islam, perintah membaca sebagai simbol dari urgensi ilmu pengetahuan harus diintegrasikan dengan wawasan ketuhanan.

Rasulullah Saw menjabarkan perintah ini dengan memperkenalkan konsep integralisme keilmuan sejati, dengan pemaduan secara harmonis antara unsur rasionalitas, unsur moralitas dan seni ke dalam tiga landasan ilmu, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Puncak peradaban manusia paling menakjubkan memang terjadi di masa Rasulullah Saw. Ia berhasil membangun landasan keilmuan yang integratif antara ilmu-ilmu rasional-analitis dan ilmu-ilmu moral-spiritual. Sayangnya perkembangan selanjutnya kembali mengalami keterpecahan, terutama setelah bangkitnya kembali dunia Barat yang biasa dikenal dengan abad filsafat Yunani ke II yang melakukan pemisahan antara ilmu-ilmu rasional-analitik dengan ilmu-ilmu keagamaan.

Pada periode berikutnya tradisi pemikiran dan keilmuan dalam Islam berkembang cukup pesat dengan dimulainya aktivitas penerjemahan karya-karya Yunani kuno ke dalam bahasa Arab.  Dalam hal ini Dar al-Hikmah yang dibangun Harun al-Rasyid menjadi pusat kegiatannya, yang sekaligus sebagai pintu masuk bagi pemikiran filsafat Yunani kuno ke dalam tradisi Islam. Tampilnya para filosof dan saintis muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Khawarizmi dan Ibn Sina tidak bisa dilepaskan dari keuntungan yang mereka peroleh dari aktivitas penerjemahan dan membludaknya literatur-literatur Yunani. Terlebih lagi Dar al-Hikmah juga melengkapi diri dengan fasilitas laboratorium dan peralatan-peralatan penelitian yang sangat canggih di zamannya untuk menguji dan mengembangkan teori-teori saintifik Yunani.

Aktivitas keilmuan ini kian marak dengan dibangunnya pusat pengajian terkenal di Baghdad, Basrah, Kufah dan Andalus. Begitu juga perkembangan perpustakaan yang menjadi pusat penyelidikan para ilmuan Islam. Pada mulanya masjid dijadikan pusat penyebaran ilmu sebelum berdirinya kuttab, madrasah (sekolah) dan Jami’ah (universitas). Dalam tradisi skolastik Islam, madrasah menjadi lembaga pendidikan yang sangat penting. Dari sudut sejarah pendidikan, madrasah merupakan perkembangan lebih lanjut dari masjid yang menjadi pusat pendidikan tinggi untuk mempersiapkan ahli-ahli hukum Islam, yang eksklusif bagi setiap madzab.  Dari sudut politik, madrasah adalah media yang sangat efektif untuk memenangkan pengaruh ulama. Sedangkan dari sudut pembentukan ortodoksi Islam, madrasah mewakili gerakan kaum tradisionalis untuk mengkristalkan pandangan dan ajarannya yang bebas dari pengaruh pemikiran kaum rasionalis, seperti Asy’ariyah dan Mu’tazilah, begitu juga bebas dari pemikiran Syi’ah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tradisi keilmuan Islam ini berkembang pesat kala itu salah satunya adalah keinginan pihak khalifah mendirikan institusi pendidikan, toko-toko buku dan perpustakaan berkembang pesat, guru-guru yang mengajar dengan penuh keikhlasan serta kegiatan pembukuan dan penjilidan yang demikian pesat. Artinya bahwa tradisi keilmuan tidak hanya dimiliki oleh kalangan elit tapi hampir seluruh lapisan masyarakat berlomba membekali diri dengan keilmuan yang memadai. Sungguh satu hal yang mengagumkan apabila kita membaca sejarah umat Islam dahulu yang begitu berminat membaca, mengajar serta megembangkan ilmu. Masing-masing berlomba-lomba memberikan kontribusinya dalam memajukan institusi pendidikan dengan mewakafkan sebagian harta mereka untuk kebutuhan kemajuan pendidikan.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kita temukan tiga jenis perpustakaan yaitu perpustakaan umum, perpustakaan khas (khusus) dan perpustakaan khas-umum. Perpustakaan umum yaitu perpustakaan yang dibuka untuk orang awam seperti perpustakaan di masjid-masjid. Perpustakaan ini dapat dipergunakan oleh siapapun juga dari beragam kalangan. Diantaranya adalah perpustakaan Basrah dan Perpustakaan al-Azhar. Di Baghdad saja terdapat 38 buah perpustakaan umum dan di Cordova terdapat 70 buah perpustakaan.

Perpustakaan khas (khusus) ialah perpustakaan pribadi yang dimiliki oleh para pembesar dan ulama, seperti perpustakaan Fatah bin Haqân (w. 247 H) dan perpustakaan Ibn Khasyab (567 M). Perpustakaan umum-khas yaitu perpustakaan yang khusus untuk para ulama, sarjana dan pelajar. Perpustakaan ini tidak dibuka kepada umum tetapi diperuntukan bagi para akademisi dan ilmuwan saja. Diantaranya Perpustakaan Baitul Hikmah yang didirikan oleh Harun al-Rasyid di Baghdad, Perpustakaan Dar al-Hikmah yang didirikan oleh Hakam Amrillah pada tahun 395 H di Kaherah dan Perpustakaan Cordova.

Nuh ibnu Mansur adalah salah seorang yang bangga dengan dirinya karena menjadi salah seorang yang memiliki perpustakaan terbaik. Ia meminta ibnu Abbad untuk menjadi ketua penanggung jawabnya, kemudian ia menolak pegawai kerajaan karena harus membutuhkan 400 ekor onta untuk mengangkut buku-bukunya tersebut ke ibukota, katalog perpustakaan pribadinya terdiri dari sepuluh volume.  Perpustakaan Adun Dawlah (wafat 982) memiliki dua cabang, disamping satu perpustakaan miliknya di Basrah, ia membangun sebuah perpustakaan yang luas di pekarangan istananya di Shiraz, dipimpin oleh seorang pustakawan, seorang pengawas dan seorang direktur (Hazin, Matsrif dan Wakil). Perpustakaan tersebut berisi banyak buku-buku literature ilmiah. Cyril Elgood menggambarkan buku-buku Adun Dawlah tersimpan memanjang (dalam garis bujur) ruang (hall) yang melengkung dengan banyak kamar di semua sudutnya. Pada dinding ruang tersebut ditempatkan rak buku setinggi enam kaki dan lebar tiga yard, terbuat dari kayu berukir, dengan pintu-pintu yang tertutup dari atas. Setiap cabang ilmu pengetahuan memiliki kotak-kotak buku dan katalog yang terpisah.

Perpustakaan Baitul Hikmah (rumah pengetahuan) yang didirikan pada tahun 998, oleh Khalifah fathimiyah, al-Aziz (975-996). Berisi tidak kurang dari 100.000 volume, kurang lebih sebanyak 600.000 jilid buku, termasuk 2.400 buah al-Qur’an berhiaskan emas dan perak disimpan di ruang terpisah. Di Spanyol dan Sisilia ada lebih dari tujuh puluh perpustakaan muslim Spanyol, dua terbesar diantaranya adalah perpustakaan Khalifah al-Hakim (wafat 976) di Cordova, berisi sekitar 600.000 volume yang secara hati-hati diseleksi oleh para penyalur buku masa itu yang ahli dari semua pasar buku Islam. Perpustakaannya dipimpin oleh sebuah staf yang cukup besar, terdiri dari para pustakawan, penyalin dan penjilid di dalam scriptorium. Perpustakaan Abdul Mutrif, seorang hakim Cordova, kebanyakan berisi buku-buku langka, masterpiece-masterpiece kaligrafi, mempekerjakan enam orang penyalin yang bekerja penuh waktu. Perpustakaan ini terjual dalam lelang sebesar 40.000 dinar setelah ia wafat tahun 1011. Perpustakaan Sabor di Baghdad yang didirikan oleh Sabor bin Ardashir seorang menteri Ibn Buwaih pada tahun 383 H. Perpustakaan ini juga berisi seribu al-Qur’an tulisan tangan dan 10,400 buah buku dalam pelbagai bidang. Di Baghdad terdapat seratus buah toko buku dan ulama yang tinggal di situ tidak kurang dari delapan ribu orang.

Begitulah maraknya kegiatan tradisi keilmuan Islam pada masa itu. Semua orang berlomba memperkaya diri dengan ilmu. Sedangkan pada saat yang sama dunia Eropa masih berada dalam masa kegelapan. Bangsa Eropa dalam keadaan kekurangan buku dan perpustakaan. Dalam abad ke-9 Masehi, Perpustakan Katedral di Bandar Kensington hanya menyimpan 356 buah buku saja dan Perpustakaan di Hamburg mempunyai 96 buah buku saja. Ini menunjukkan umat Islam saat itu sangat unggul dalam kecintaan dan penghargaannya terhadap buku dan ilmu. Bahkan bangsa Eropa kala itu menjadikan peradaban Islam sebagai acuan gaya hidupnya sebagaimana sekarang bangsa Timur menjadikan Barat sebagai ukuran kemajuan. Umat Islam kala itu berusaha menyalin semua salinan-salinan manuskrip terutama al-Qur’an, hadis, sastra dan sains. Ibn Ishaq Nadim telah menulis buku yang berjudul al-Fihrist (Katalog) yang membicarakan buku-buku serta pengarangnya hingga abad-10 masehi. Buku ini merupakan karya bibliografi dan katalog yang paling lengkap tentang manuskrip-manuskrip yang ditulis atau diterjemahkan oleh sarjana muslim. Walaupun begitu, banyak buku-buku tersebut telah hilang akibat peperangan dan pemusnahan perpustakaan. Kegigihan Imam al-Ghazali dalam menuntut ilmu patut pula dijadikan contoh. Walaupun dia telah menjadi ulama besar dan mendapat gelar hujjat al-Islam tetapi ia masih berguru dalam bidang hadist pada detik-detik terakhir kehidupannya.

Kegiatan keilmuan ini membuktikan bahwa tradisi keilmuan Islam berkembang pesat pada zaman tersebut bersama dengan kegemilangan peradaban Islam. Peradaban yang maju tidak dapat dibangun dan dipertahankan tanpa tradisi keilmuan yang kuat. Dengan kata lain, peradaban Islam berkembang seiring dengan kuatnya perkembangan tradisi keilmuan. Oleh sebab itu, membangun peradaban Islam mesti mengikutsertakan pembangunan tradisi keilmuan dengan mewujudkan dan memperbanyak institusi pendidikan yang berkualitas dan jaringannya menembus batas negara. Demikian juga, umat Islam perlu melahirkan ulama, sarjana dan pemikir yang berkualitas yang mampu menghadirkan kegiatan kajian, penelitian dan penterjemahan yang semarak. Tanpa unsur-unsur tersebut institusi pendidikan dan keilmuan akan nampak sepi dan tidak berkembang.

Namun walaupun pada zaman dahulu peradaban islam pernah mengalami masa keemasan dan memberi sumbangan ilmu pengetahuan yang besar terhadap seluruh umat manusia, sekarang ini islam masih tertinggal jauh dari negara-negara Barat.

Beberapa penyebab lemahnya tradisi keilmuan dalam masyarkat muslim menurut Azyumardi Azra adalah:

Lemahnya masyarakat ilmiah

Terkait dengan sumber daya, dapat kita lihat bahwa proporsi dari mahasiswa di negara muslim yang mengambil jurusan sains hanya sedikit, mereka lebih tertarik pada bidang-bidang humaniora. Di samping itu dalam masyarakat muslim tidak adanya budaya meneliti dan berpikir.

Kurang integralnya kebijaksanaan sains nasional

Hampir seluruh wilayah negara-negara muslim belum atau tidak mempunyai kebijaksanaan dan perencanaan nasional yang jelas dan terpadu dalam rangka pengembangan sains. Mereka lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi.

Tidak memadainya anggaran penelitian ilmiah

Hampir seluruh negara-negara muslim, anggaran untuk penelitian yang sifatnya ilmiah sangat kecil dan tidak menduduki tempat yang signifikan dalam program perencanaan anggaran nasional, pertumbuhan anggarannya hanya berkisar antara 0,1-0,3 % dari GNP.

Kurangnya kesadaran di sektor ekonomi tentang pentingnya penelitian ilmiah

Negara-negara muslim dalam kebijaksanaan pembangunan sangat berorientasi pada pembangunan ekonomi dengan titik tekan pertumbuhan ekonomi tersebut. Karenanya, tidak mengherankan jika yang memegang kendali pembangunan adalah seorang ekonom yang tidak tertarik dengan penelitian ilmiah.

Kurang memadainya fasilitas perpustakaan, dokumentasi dan pusat  informasi.

Fasilitas, informasi dan juga dokumentasi bahkan semuanya yang berkaitan dengan pengembangan IPTEK dalam negara-negara muslim sangat terbatas dan kurang sekali. Dan ini merupakan salah satu kelemahan pokok yang menghalangi pengembangan keilmuan di masyarakat tersebut.

Isolasi ilmuwan

Situasi lainnya yang mencemaskan ialah terisolasinya ilmuan dari masyarakat muslim dari perkembangan ilmu secara global, yang hal tersebut akan menjadikan faktor penghambat pengembangan keilmuan di negara atau masyarakat muslim tersebut.

Birokrasi, restriksi dan kurangnya intensif

Sains jelas akan lebih dapat berkembang dan bermanfaat jika ditangani dalam atmosfir yang bebas atau dengan restrikasi-restrikasi minimal. Jaring-jaring birokrasi yang terlalu ketat akan membunuh kreatifitas dan lembaga riset di negara-negara muslim yang sering tidak dapat bergerak karena banyaknya birokrasi dan restrikasi yang mencekam.

Selain pokok-pokok diatas kekurangan dari masyarakat muslim: “semua orang muslim kurang berkarya yang sesuai dengan sunnatullah dalam menangani dunia. Mayoritas masyarakat muslim tinggal di kawasan sub tropis, yang mana sumber daya alam masih tersedia dan mendukung dalam melangsungkan kehidupan. Kurangnya persatuan dan kesatuan antara umat islam, kurangnya kebutuhan cendekiawan muslim akan informasi”.

Demikian beberapa masalah pokok yang dihadapi negara-negara muslim dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Jika negara-negara muslim serius untuk menangani ketertinggalannya membangun kembali peradaban islam dengan tradisi keilmuannya yang khas, maka niscaya masalah-masalah diatas akan segera ditemukan solusinya. Jika tidak maka nama besar peradaban islam hanya tinggal sejarah dan rekonstruksinya hanya tinggal slogan saja.

Sekian

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: