KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH ISLAM


KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Dalam kehidupan modern saat ini, makin terasa betapa penting peranan organisasi terhadap kepentingan manusia. Sebuah sekolah adalah organisasi yang kompleks dan unik, sehingga memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Sistem persekolahan atau lembaga pendidikan dituntut untuk mengemuka dengan kinerja kelembagaan yang efektif dan produktif. Keberhasilan pendidikan formal secara kuantitatif belum diimbangi dengan keberhasilan pendidikan secara kualitatif. Ketidakberhasilan pembangunan atau pengembangan pendidikan formal dipengaruhi oleh faktor pendidik dan kepala sekolah sebagai penanggung jawab.

Selain itu juga rendahnya motivasi pelaksana pendidikan formal dapat dilihat dari tingkat kelulusan dan nilai akhir yang dicapai pada Ujian Akhir Nasional (UAN) masih sangat memprihatinkan. Ketidakcerdasan kepala sekolah dalam menghimpun dana dan memanfaatkan potensi sekolah dan masyarakat menambah permasalahan yang rumit dalam pengembangan sekolah.

Pertimbangan keadaan yang demikian itu, masyarakat nampaknya mendambakan akan hadirnya lembaga pendidikan yang benar-benar memiliki tanggung jawab, berwibawa dan berperan aktif memperhatikan dan membina generasi sekaligus memberikan konstribusi positif untuk semua lapisan masyarakat. Lembaga pendidikan yang dimaksud adalah lembaga pendidikan yang dipimpin dan dikelola oleh kepala sekolah yang handal dan profesional yang bisa mampu membawa para guru dan stafnya untu bekerja secara efektif dan efisien, terlebih-lebih lembaga pendidikan Islam.

Pemimpin (kepala sekolah) dalam situasi bagaimanapun tetap menduduki posisi kunci dalam setiap organisasi. Di tangan pemimpin setiap organisasi dapat berubah ke arah kemajuan dan atau kemunduran. Di satu pihak kemajuan dan atau kemunduran organisasi sekolah banyak tergantung pada situasi kematangan para guru, dipihak lain semuanya ditentukan berkat pimpinan kepala sekolah.

Kepala sekolah sebagai penanggung jawab pendidikan dan pembelajaran di sekolah hendaknya dapat meyakinkan kepada masyarakat bahwa segala sesuatunya telah berjalan dengan baik, termasuk perencanaan dan implementasi kurikulum, penyediaan dan pemanfaatan sumber daya guru, rekruitmen sumber daya murid, kerjasama sekolah dan orang tua juga masyarakat. Untuk memenuhi tuntutan ini, kepala sekolah harus memiliki bekal yang memadai, termasuk pengetahuan yang profesional, kepemimpinan instruksional, keterampilan administratif, dan keterampilan sosial.

Kepemimpinan kepala sekolah Islam yang efektif merupakan modal dasar dalam peningkatan kualitas kepemimpinan di dalam mencapai keberhasilan suatu sekolah. Kepala sekolah Islam diharapkan memiliki tujuan, kemauan, visi dan misi serta memahami peran dan tanggung jawabnya. Kepala sekolah Islam juga harus memiliki karakteristik dan gaya kepemimpinan yang khas yang bisa mempengaruhi dan membawa para bawahannya (guru dan staf-stafnya) ke arah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Maka dari itu, dalam suatu lembaga pendidikan Islam sangat perlu adanya kepemimpinan kepala sekolah Islam yang efektif. Karena bagaimanapun juga keberhasilan sekolah sangat bergantung pada kepemimpinan kepala sekolahnya dalam memimpin dan mengatur serta membina hubungan yang baik dengan para anggotanya (guru dan staf-staf sekolah).

Dari uraian-uraian di atas, penulis akan mencoba menguraikan tentang kepemimpinan kepala sekolah Islam secara lebih luas yang penulis ambil dari beberapa literatur yang penulis temukan dan dari fenomena yang tampak sekarang ini. Semoga dengan tersusunnya makalah ini, penulis mengharapkan ke depannya akan melahirkan para pemimpin (kepala sekolah) yang handal dan profesional, khususnya kepala sekolah Islam yang mampu memajukan pendidikan Islam dengan melahirkan generasi-generasi Islam yang efektif dan produktif.

B.     Konsep Dasar Kepemimpinan Kepala Sekolah Islam

Kepemimpinan adalah seni mengoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Oteng Sutisna (1983), mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mengambil inisiatif dalam situasi sosial untuk menciptakan bentuk dan prosedur baru, merancang dan mengatur perbuatan dan dengan berbuat begitu membangkitkan kerja sama ke arah tercapainya tujuan. Sementara Soepardi (1988) mendefinisikan kepemimpinan sebagai “kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, mem-bimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan menghukum (kalau perlu), serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya, adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi.

Unsur-unsur yang terlibat dalam situasi kepemimpinan:

  1. Orang yang dapat mempengaruhi orang lain disatu pihak
  2. Orang yang dapat pengaruh dilain pihak
  3. Adanya maksud-maksud atau tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai
  4. Adanya serangkaian tindakan tertentu untuk mempengaruhi dan untuk mencapai maksud atau tujuan tertentu itu.

Leadership (kepemimpinan), bukanlah gejala yang terisolir, tetapi merupakan produk interaksi antar orang-orang dalam kelompok. Ia adalah gejala sosial. Seorang pemimpin harus dapat memahami sikap, kebutuhan dan sifat-sifat pengikutnya, tradisi serta nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok. Karena itu seorang pemimpin harus benar-benar memahami tentang situasi karena setiap situasi menuntut kualitas leadership yang berbeda.
Kepemimpinan juga mewarnai dan diwarnai oleh media, lingkungan dan iklim dimana dia berfungsi. Kepemimpinan tidak bekerja dalam ruangan yang hampa, tetapi dalam situasi yang diciptakan oleh berbagai unsur. Kepemimpinan senantiasa aktif, bersifat dinamis atau tidak tetap.

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.

Kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan yang dimiliki oleh kepala sekolah untuk memberikan pengaruh kepada orang lain melalui interaksi individu dan kelompok sebagai wujud kerja sama dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi dalam diri seorang kepala sekolah itulah kemampuan itu ada, bukan berasal dari luar. Oleh karena itu, kepala sekolah harus memiliki kemampuan seperti itu, jika tidak maka ia tidak layak jadi seorang kepala sekolah. Terlebih lagi seorang kepala sekolah Islam.

Kepemimpinan kepala sekolah Islam, selain uraian yang telah disebutkan di atas, ia harus memiliki indikator keislaman. Artinya, pemimpin dan orang-orang yang dipimpin terikat kesetiaan kepada Allah SWT (hablun minallah) dan juga ada hubungan yang erat sesama mereka (hablun minannas).

C.     Kualitas dan Perilaku Kepala Sekolah Islam

Kualitas dan perilaku kepala sekolah Islam hendaknya mencakup hal-hal berikut:

  1. Visi yang kuat tentang masa depan sekolah, dan dorongan terhadap semua staf untuk berkarya menuju perwujudan visi tersebut.
  2. Harapan yang tinggi terhadap prestasi murid dan kinerja staf.
  3. Pengamatan terhadap guru di kelas dan pemberian balikan positif dan konstruktif dalam rangka pemecahan masalah dan peningkatan pembelajaran.
  4. Dorongan untuk memanfaatkan waktu pembelajaran secara efisien dan
    merancang prosedur nntuk mengurangi kakacauan.
  5. Pemanfaatan sumber-sumber material dan personil secara kreatif.
  6. Pemantauan terhadap prestasi murid secara individual dan kolektif dan
    memanfaatkan informasi untuk membimbing perencanaan instruksional.

Selain itu seorang kepala sekolah harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard tersebut disebutkan ada empat perilaku seorang pemimpin, yaitu: Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tetapi sungguh-sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan Firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuatnya. Pemimpin sejati fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tetapi untuk melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.

Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek, baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya.
Setiap hari senantiasi menselaraskan dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa) dan scripture (membaca Firman Tuhan).

Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang menurut kami sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolok ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership).

Kenyataannya, kepala sekolah (Islam) kita nampak kurang efektif, ditilik dari perannya yang mencolok sebagai pengelola bangunan sekolah dan anggaran, penjaga dokumen, terlalu disiplin, dan berbicara dengan setiap orang. Seyogyanya, tugas-tugas ini dapat disiasati sebagai agenda manajerial yang dapat didelegasikan kepada staf terkait. Mereka seakan melupakan bahwa fungsi utama sekolah sebagai alat memberi bantuan pem­belajaran; hal itu terlihat ketika mereka menyerahkan pembelajaran sepenuhnya kepada guru.

D.     Peran dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah Islam

Pemimpin (kepala sekolah) adalah jabatan dan jabatan adalah kepercayaan kewajiban pemimpin adalah mempertahankan kepercayaan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan dan kepercayaan itu perlu dipertanggung jawabkan kepada diri sendiri, masyarakat, dan bangsa serta kepada Allah SWT. Tanggung jawab adalah keberanian menanggung resiko yang terjadi akibat perbuatan dan tindakan yang dikerjakan, bawahan sebenarnya hanya membantu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah maju mundurnya pendidikan merupakan tanggung jawab pimpinan sekolah sama halnya seperti dalam keluarga, kepala keluarga bertanggung jawab atas anggota keluarganya dalam melaksanakan kehidupan berumah tangga.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan dituntut untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan dengan sebaik mungkin, termasuk di dalamnya sebagai pemimpin pengajaran. Harapan yang segera muncul dari kalangan guru, siswa, staf administrasi, pemerintah dan masyarakat adalah agar kepala sekolah dapat melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan seefektif mungkin untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan yang diemban dalam mengoperasionalkan sekolah.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai tugas dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian, pengawasan, dan evaluasi. Pelaksanaan fungsi-fungsi pokok manajemen tersebut memerlukan adanya komunikasi dan kerjasama yang efektif antara kepala sekolah dan seluruh stafnya. Dengan demikian kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting dan menjadi kunci atas keberhasilan terhadap sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai stateperson leadership, educational leadership, administrative leadership, supervisory leadership, and team leadership. Adapun Blumberg menekankan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah berkaitan erat dengan kompetensi manajerial dan kepemimpinan pendidikan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa peran dan tanggung jawab kepala sekolah pada hakekatnya erat kaitannya dengan administrasi atau manajemen pendidikan, kepemimpinan pendidikan dan supervisi pendidikan.

1.      Kepala Sekolah sebagai Pemimpin (leader) Pendidikan

Pada dasarnya istilah kepemimpinan itu dipahami sebagai suatu konsep yang di dalamnya mengandung makna ada proses kekuatan yang datang dari seseorang (pemimpin) untuk mempengaruhi orang lain. Adapun menurut Koontz, O’Donnel dan Weihrich di dalam bukunya yang berjudul “Management” dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan merupakan pengaruh seni atau proses mempengaruhi orang lain sehingga mereka dengan penuh kemauan berusaha ke arah tercapainya tujuan.

Pemimpin tidak berdiri di samping, melainkan mereka memberikan dorongan, berdiri di depan yang memberikan kemudahan untuk kemajuan serta memberikan inspirasi dalam mencapai tujuan.

Kepemimpinan adalah suatu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan. Oleh sebab itu, kemampuan memimpin secara efektif merupakan kunci untuk menjadi manajer. Esensi kepemimpinan adalah kepengikutan orang lain atau bawahan untuk mengikuti keinginan pemimpin. Itulah yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin. Dengan kata lain pemimpin tidak akan terbentuk apabila tidak ada bawahan.

Dengan uraian Koontz tersebut kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus mampu:

  1. Mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri pada guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing.
  2. Memberikan bimbingan dan mengarahkan para guru, staf dan para siswa serta memberikan dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.

Menurut Hick delapan rangkaian peranan kepemimpinan, yaitu: adil, memberikan sugesti, mendukung tercapainya tujuan, sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi, sumber inspirasi, dan yang terakhir bersedia menghargai. Kepala sekolah sebagai pemimpin seharusnya dalam praktek sehari-hari selalu berusaha memperhatikan dan mempraktekkan delapan fungsi kepemimpinan di dalam kehidupan sekolah.

2.      Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Pendidikan

Supervisi adalah suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Supervisi sebagai salah satu fungsi pokok dalam administrasi pendidikan, bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para pengawas, tetapi juga tugas kepala sekolah terhadap guru-guru dan pegawai-pegawai sekolahannya.

Sehubungan dengan itu, maka kepala sekolah sebagai supervisor hendaknya pandai meneliti, sehingga tujuan pendidikan di sekolah itu tercapai dengan maksimal.

Khususnya dalam bidang pembinaan kurikulum, tugas kepala sekolah sebagai supervisor sangat penting karena justru bidang ini adalah faktor yang “strategis” untuk menentukan keberhasilan sekolah itu. Pelaksanaan supervisi di sekolah selalu berkaitan dengan tipe manajemen pendidikan di sekolah. Dalam hubungan ini penjelasan Dr. Oteng Sutisna perlu kita perhatikan ialah bahwa dalam manajemen pen­didikan di sekolah yang demokratislah sekolah baru akan mampu menciptakan lingkungan hidup yang demokratis, di mana para guru sebagai pribadi-pribadi ikut serta dalam mengatur sekolah dan program pengajaran yang demokratis.

Manajemen pendidikan Islam yang demokratis mendatangkan pertukaran pikiran dan pandangan dari para guru sehingga mendorong mereka untuk berinisiatif. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai supervisor dan sekaligus sebagai pemimpin sekolah/sekolah Islam perlu memilih penggunaan manajemen pendidikan di sekolah yang demokratis ini karena dengan demikian kepala sekolah akan banyak dibantu dengan datangnya banyak saran-saran yang berharga dari anak buahnya (para guru) dan kepala sekolah yang bijaksana pasti mampu memilih pikiran yang terbaik yang berasal dari guru.

3.      Kepala Sekolah sebagai Manajer Pendidikan

Penyelenggaraan manajemen sekolah merupakan tugas pemimpin sekolah, inti dari manajemen sekolah adalah kepemimpinan. Dengan demikian tugas pemimpin adalah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti: perencanaan, pengorganisasian, penetapan staf-staf pembantu pelaksana kegiatan, memberikan pengarahan bimbingan dan pembinaan, mengadakan pengawasan untuk mengatasi penyimpangan, dan melaksanakan penilaian untuk mengukur keberhasilan. Semua fungsi manajemen diaplikasikan dalam program penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Manajemen sekolah tidak lain berarti pendayagunaan dan penggunaan sumber daya yang ada dan yang dapat diadakan secara efisien dan efektif untuk mencapai visi dan misi sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab atas jalannya lembaga sekolah dan kegiatannya. Kepala sekolah berada di garda terdepan dan dapat diukur keberhasilannya. Keberhasilan sekolah tergantung pada teknik mengelola manusia-manusia yang ada di sekolah untuk suatu keberhasilan yang tak terukur nilainya yaitu pemanusiaan manusia dalam diri peserta didik dan penghargaan bagi rekan-rekan pendidik sebagai insan yang kreatif dan peduli akan nasib generasi penerus bangsa.

Seorang manajer sekolah bertanggung jawab dan yakin bahwa kegiatan-kegiatan yang terjadi di sekolah adalah menggarap rencana dengan benar lalu mengerjakannya dengan benar pula. Oleh karena itu visi dan misi sekolah harus dipahami terlebih dahulu sebelum menjadi titik tolak prediksi dan sebelum disosialisasikan. Hanya dengan itu kepala sekolah dapat membuat prediksi dan merancang langkah antisipasi yang tepat sasaran. Selain itu diperlukan suatu unjuk profesional yang kelihatan sepele tetapi begitu urgen seperti kemahiran menggunakan filsafat pendidikan, psikologi, ilmu kepemimpinan serta antroplogi dan sosiologi.

Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolahnya. Oleh karena itu, untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, kepala sekolah hendaknya memahami, menguasai dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan fungsinya sebagai administrasi pendidikan.

Peran kepala sekolah sebagai manajer pada suatu lembaga pendidikan sangat diperlukan, sebab lembaga sebagai alat mencapai tujuan, di mana di dalamnya berkembang berbagai macam pengetahuan, serta lembaga pendidikan yang menjadi tempat untuk membina mengembangkan karir-karir sumber daya manusia. Beberapa macam fungsi seorang manajer yang perlu dilaksanakan dalam suatu organisasi, yaitu bahwa para manajer:

  1. Bekerja dengan dan melalui orang lain;
  2. Bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan;
  3. Kepala sekolah sebagai juru penengah.

E.     Kepala Sekolah Islam yang Efektif

Kepemimpinan yang kuat oleh Kepala Sekolah sangat penting bagi sekolah (lembaga pendidikan). Kepala Sekolah menyusun langkah dan memberdayakan guru untuk melaksanakan agenda kerja. Selain itu juga harus menyusun tujuan sekolah, memberi “inservice training” dalam keterampilan pembelajaran, membantu merencanakan dan mengimplementasikan program baru serta memantau hasil agar mencapai tujuan pertumbuhan selanjutnya.

Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas, karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Hal ini karena mereka tidak memiliki metode kepemimpinan yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.
Tidak banyak pemimpin yang memiliki kemampuan metode kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal.

Oleh karena itu seringkali kami dalam berbagai kesempatan mendorong institusi formal agar memperhatikan keterampilan seperti ini yang kami sebut dengan softskill atau personal skill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be Taught. Jelas dalam artikel tersebut dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan.

Ada tiga hal penting dalam metode kepemimpinan, yaitu:
Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas. Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut.
Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju.

Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang-orang atau organisasi yang dipimpinnya menuju suatu tujuan (goal) yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi.

Ada dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tetapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang sangat responsive. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan dan impian dari mereka yang dipimpinnya. Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi organisasinya.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dan sebagainya), melakukan kegiatan sehari-hari (monitoring dan pengendalian), dan mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.

Dengan menguasai ketiga hal penting tersebut maka tidak mustahil kepemimpinan kepala sekolah (Islam) bisa efektif. Sementara itu Greenfield dan Manase menjelaskan mengenai idenya tentang peran kepemimpinan instruksional kepala sekolah sangat terkait dengan karakteristik dan perilaku kepala sekolah yang efektif, yaitu:

  1. Kepala sekolah yang efektif memiliki image atau visi tentang apa yang ingin dilaksanakan.
  2. Visi tersebut membimbing kepala sekolah dalam mengelola dan memimpin sekolah.
  3. Kepala sekolah yang efektif memperhatikan aktivitas-aktivitas pembelajaran dan kinerja guru di kelas.

Semua yang dipaparkan di atas perlu sekali untuk diperhatikan oleh kepala sekolah agar dalam kepemimpinannnya dalam sekolah (Islam) bisa berjalan efektif yang pada akhirnya akan membawa kemajuan dan perkembangan sekolah tersebut. Dan yang paling penting keberhasilan dalam mencetak output yang handal sebagai generasi penerus bangsa yang berkepribadian Islami.

F.      Gaya Kepemimpinan dan Karakteristik Kepala Sekolah Islam yang Efektif

Sebagai seorang pemimpin harus mempunyai gaya kepemimpinan serta karakteristik khusus untuk mewujudkan kepemimpinan yang efektif. Untuk lebih jelasnya mengenai gaya kepemimpinan dan karakteristik kepala sekolah Islam yang efektif akan kami paparkan satu persatu.

1.      Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya/anggota kelompok. Dalam hal ini usaha menselaraskan persepsi di antara orang yang akan mempengaruhi perilaku dengan yang akan dipengaruhi menjadi amat penting kedudukannya.

Untuk memahami gaya kepemimpinan, sedikitnya dapat dikaji dari beberapa pendekatan, yaitu pendekatan sifat dan perilaku.

Pada dasarnya pendekatan sifat memandang bahwa kemampuan kepemimpinan itu bertolak dari sifat-sifat/karakter yang dimiliki seseorang. Keberhasilan kepemimpinan itu sebagian besar ditentukan oleh sifat kepribadian tertentu, misalnya: kecerdasan, kreatifitas, kelancaran berbahasa, dan lain-lain.

Setelah pendekatan sifat kepribadian tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan, perhatian para pakar berbalik dan mengarahkan studi mereka kepada perilaku pemimpin. Studi ini memfokuskan perilaku pemimpin dalam kegiatannya untuk mempengaruhi orang lain (pengikut). Ada beberapa teori gaya kepemimpinan yang dikembangkan berdasarkan perilaku. Salah satu teori kepemimpinan yang cukup banyak dikembangkan adalah teori gaya kepemimpinan dua dimensi, yaitu pada sisi tugas dan pada sisi hubungan dengan manusia.

Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas adalah ketika pemimpin yang lebih menaruh pada perhatian struktur tugas dan pemimpin merasa puas jika tugas bisa dilaksanakan. Adapun gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan manusia adalah kepemimpinan yang mengutamakan pada hubungan kemanusiaan atau menaruh perhatian pada kepercayaan, kesejawatan, dan hubungan antara pemimpin dan anggota.

2.      Karakteristik

Karakteristik kepala sekolah Islam sangat kompleks. Namun secara umum setidaknya terdapat empat indikator pokok yang dapat dijadikan acuan, yaitu: (a) sifat dan keterampilan kepemimpinan, (b) kemampuan pemecahan masalah, (c) keterampilan sosial, dan (d) pengetahuan dan kompetensi profesional. Secara singkat masing-masing indikator tersebut akan dijelaskan di bawah ini sebagai berikut:

a.      Sifat-sifat Kepemimpinan Islami

Kepala sekolah Islam yang efektif hendaknya:

1)      Memiliki keinginan untuk memimpin dan kemauan untuk bertindak dengan keteguhan hati.

2)      Berorientasi kepada tujuan dan memiliki rasa kejelasan yang tajam tentang tujuan instruksional dan organisasional.

3)      Yang paling penting, mereka proaktif dari pada reaktif mereka menguasai pekerjaan dan bukan pekerjaan menguasai mereka. Dan lain-lain.

b.      Kemampuan Memecahkan Masalah

Kepala sekolah Islam yang efektif hendaknya memiliki toleransi tinggi dalam memecahkan masalah. Wujud toleransinya ditunjukkan oleh kerjasama dengan pihak-pihak terkait lain dalam menyelesaikan masalah, tidak harus ditangani sendiri akan tetapi mau menerima masukan pihak lain dalam memecahkan masalah. Dengan melibatkan sejumlah guru, maka mereka merasa diberdayakan untuk melaksanakan tanggung jawab yang gilirannya dapat meningkatkan rasa memiliki masalah bagi mereka.

c.       Keterampilan Sosial

Secara normatif, Islam menganjurkan kepada umatnya untuk menciptakan hubungan sosial secara sungguh-sungguh. Kepala sekolah di lingkungan sekolah membutuhkan keterampilan dan kemampuan sosial, sebagai aktualisasi nilai hubungan manusiawi Islam. Kepala sekolah seharusnya bersikap ramah dengan staf sekolah, juga harus bekerja sama dengan instansi pusat dan memelihara hubungan baik dengan pihak lain dalam masyarakat. Untuk itu, kepala sekolah Islam hendaknya memiliki kompetensi inter-personal yang tinggi, yakni mereka kuat dalam keterampilan sosial dan kepemimpinan yang membuahkan dukungan dan kerjasama.

d.      Pengetahuan dan Kompetensi Profesional

Kepala sekolah Islam hendaknya mengetahui dan dapat menerapkan prinsip-prinsip belajar dan mengajar. Pelaksanaan pembelajaran yang efektif dapat dicontohkan atau dilukiskan oleh kepala sekolah. Mereka mempertimbangkan implikasi-implikasi belajar dan mengajar pada saat pengambilan keputusan tentang jadual, anggaran, perlengkapan dan bahan, tugas-tugas pembelajaran, dan pemanfaatan rapat guru. Budaya ingin tahu atau haus informasi hendaknya ditumbuhkan terus dalam diri kepala sekolah.

G.      Pendekatan Dalam Studi Kepemimpinan Sekolah Islam

Ada empat pendekatan dalam kepemimpinan, keempat pendekatan itu diklasifikasikan sebagai berikut:

1.      Power-influence approach adalah:

Pendekatan ini menjelaskan efektifitas kepemimpinan dalam kaitannya dengan jumlah dan jenis kekuasaan yang dimiliki pemimpin dan cara penggunaan kekuasaan tersebut. Salah satunya untuk mempengaruhi bawahannya, selain itu juga kawan sejawat, atasan dan orang yang berada di luar organisasi. Pendekatan kekuasaan pengaruh melihat pengaruh sebagai sebuah proses timbal balik antara pemimpin dan pengikut. Metodologi yang paling disukai adalah penggunaan kuesioner survey untuk menghubungkan kekuasaan pemimpin terhadap berbagai ukuran mengenai efektifitas kepemimpinan.

2.      Behavior approach adalah:

Pendekatan berdasarkan perilaku, penelitian ini dibagi ke dalam dua subkategori umum. Satu subkategori adalah penelitian mengenai sifat dari pekerjaan manajerial. Penelitian tersebut menguji bagaimana para manajer memanfaatkan waktu mereka, dan mencoba untuk menjelaskan isi dari kegiatan-kegiatan manajerial. Subkategori lainya mengenai penelitian terhadap pekerjaan manajerial membandingkan perilaku dari para pemimpin yang efektif dan tidak efektif. Di dalam kedua bidang penelitian mengenai perilaku manajerial seperti yang baru diterangkan, para peneliti telah mencoba untuk mencari cara untuk mengklasifikasikan perilaku yang akan membantu pengertian kita tentang kepemimpinan.

3.      Trait approach (Sifat atau cirri) adalah:

Pendekatan ini menekankan pada sifat individu yang dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari, dimana ciri tersebut berhubungan dengan individu yang lain. Dasar dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa beberapa orang merupakan pemimpin alamiah yang dianugerahi dengan beberapa ciri yang tidak dipunyai orang lain. Dalam pendekatan ini menyatakan bahwa keberhasilan manajerial disebabkan oleh dimilikinya kemampuan-kemampuan yang luar biasa seperti misalnya energi yang tiada habis-habisnya, intuisi yang dalam, dan pandangan masa depan yang luar biasa. Jadi menurut pendekatan ini pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang memiliki sifat-sifat yang baik dalam kepemimpinan yang akan berhasil menjadi pemimpin.

4.      Pendekatan situasional adalah:

Pendekatan ini menekankan pada pentingnya faktor-faktor kontekstual seperti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit pemimpin, sifat lingkungan eksternal, dan karakteristik para pengikut. Penelitian ini menyelidiki ba­gaimana para manajer mengatasi permintaan dan hambatan-hambatan dari para bawahan, para kawan sejawat, atasan, dan orang luar Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengenai efektivitas manajerial, karena efektivitas tergantung pada sejauh mana seorang manajer memecahkan konflik-konflik tentang peran, mengatasi permintaan-permintaan, melihat adanya peluang, dan menanggulangi hambatan-hambatan.

Jadi kepemimpinan dilihat dari sisi sejauh mana efektifitas manajerial dengan membandingkan berbagai situasi. Karena itu pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang ada pada saat itu. Karena itu lebih bersifat fleksibel.

Sekian

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: