MENGGAGAS MANAJEMEN PENDIDIKAN BERBASIS NILAI-NILAI PESANTREN


Selain sebagai wahana strategis merubah masa depan, pendidikan juga mempunyai hubungan dialektikal dengan transformasi sosial dan arah pembangunan bangsa. Mulyasa (2003) menegaskan bahwa pendidikan merupakan icon yang sangat signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa, dan wahana yang tepat untuk menyampaikan pesan-pesan konstitusi, serta sarana dalam membangun watak atau karakter bangsa (Nation Character Building).

Tentu saja, posisi strategis ini harus dipertahankan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan peradaban dunia, lebih-lebih dalam era industrialiasasi modern yang ditandai dengan pesatnya kamajuan dunia teknologi dan informasi yang semakin canggih. Di tambah lagi isu-isu globalisasi, humanisasi, dan demokratisasi yang terus bergulir mempengaruhi dunia pendidikan. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan juga menggeser signifikansi peran pendidikan tersebut, sehingga menuntut pendidikan untuk terus berbenah diri guna mempertahankan posisi strategisnya.

Telah banyak upaya perubahan dan inovasi sistem pendidikan yang telah diusahakan pemerintah untuk mendongkrak mutu pendidikan demi mengimbangi berbagai kebutuhan kehidupan masyarakat modern maupun tuntutan perkembangan dunia global. Mulai dari bongkar pasang kurikulum, dari CBSA, KBK hingga KTSP, perubahan paradigma manajemen pendidikan mulai dari konsep MBS, manajemen life skill, hingga Manajemen Pendidikan Berbasis Masyarakat. Bahkan telah melahirkan berbagai macam Undang-Undang dan peraturan pendidikan, mulai dari UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, PP RI No. 19 Tahun 2005 tentang SNP, hingga Peraturan Mendiknas No. 22 dan 23 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), sebagai dasar lahirnya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Tetapi sayang, pelbagai upaya tersebut malah bukan memperbaiki kualitas dan sistem pendidikan yang ada. Justru sebaliknya, sistem pendidikan nasional sering mengalami disorientasi dan kehilangan visi, bahkan kadang menimbulkan kontroversi yang tidak kunjung selesai. Akibatnya, dunia pendidikan nasional terus mengalami masalah yang pada gilirannya menyebabkan usaha pemerintah itu tidak maksimal dan pudar seiring dengan makin banyaknya masalah yang menimpa negeri ini.

Fenomena inilah yang menurut Tilaar (2004) menjadi indikasi faktual bahwa sistem pendidikan nasional perlu mencari upaya pembenahan dan penilaian ulang terhadap tujuan pendidikan, kurikulum, proses pendidikan, serta restrukturisasi manajemen. Bahkan perlu mencari pijakan atau basis pengelolaan pendidikan yang lebih relevan dalam konteks kehidupan yang lebih demokratis dan humanistik

Nilai-nilai Pesantren Sebagai Landasan Alternatif

Konon, menjelang kemerdekaan, Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro pernah mengusulkan agar “pendidikan pesantren menjadi sistem pendidikan nasional”. Menurut beliau, selain karena pesantren sudah begitu melekat kuat dalam hati manusia Indonesia, sistem pendidikan pondok pesantren merupakan kreasi atau budaya asli (indigenous  culture) bangsa Indonesia yang tidak terdapat di belahan dunia lainnya, bahkan di negara-negara Islam sekalipun, sehingga karenanya perlu dipertahankan dan dikembangkan. Walaupun akhirnya obsesi beliau ini tidak menjadi kenyataan, antara lain karena warisan pemikiran kolonialisme, tetapi apa yang beliau sampaikan ini merupakan suatu pengakuan tulus yang tentunya bersumber dari ketajaman daya analisis terhadap kelebihan sistem pendidikan pesantren dibandingkan sistem-sistem pendidikan lainnya.

Upaya untuk menjadikan sistem pendidikan pesantren sebagai solusi alternatif dalam menjawab kelemahan manajemen pendidikan nasional, memang cukup lama menjadi perdebatan. Termasuk juga perlunya pondok pesantren dimasukkan dalam UU SISDIKNAS. Tetapi sayang, perdebatan-perdebatan itu hanya bersifat semu dan just lips service belaka. Sebab, yang terjadi, pesantren tetap saja tidak mendapatkan keadilan dan posisi yang sewajarnya.

Sistem pendidikan pesantren, diakui atau tidak, memang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan sistem pendidikan lainnya yang ada di Indonesia. Sebab di dalamnya terdapat prinsip-prinsip dan nilai-nilai filosofis-edukatif yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan lain. Prinsip-prinsip perjuangan, pengabdian, pengorbanan, ijtihad, dan mujahadah yang dijiwai oleh nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, percaya diri dan kemandirian, persaudaraan, dan kebersamaan, serta kebebasan berfikir positif dan produktif menjadi landasan utama manajemen pendidikan dan pengembangan berbagai jenis pendidikan yang dikelola di dalamnya.

Di samping itu, di dalam manajemen pendidikan pesantren terdapat prinsip-prinsip filosofis-edukatif lain yang telah lama mengakar seperti competence oriented, life skill, social skill dan bahkan memiliki metode pembelajaran yang pupil centered atau student centered. Anehnya, prinsip dan nilai-nilai filosofis-edukatif ini sangat relevan dengan paradigma baru pendidikan nasional yang marak diperbincangkan dalam konsep KBK, MBS, dan KTSP.

Oleh karenanya, sangat layak dan menarik jika manajemen pendidikan dengan berbasis nilai-nilai pesantren kita jadikan solusi solusi alternatif perbaikan manajemen pendidikan di saat sistem pendidikan nasional masih mencari jati diri dan solusi di tengah-tengah keterpurukannya.

Secara konseptual, sampai detik ini memang belum ada teori komprehensif mengenai bagaimana mengelola sistem pendidikan dengan berlandaskan pada nilai-nilai pesantren sebagaimana telah disebutkan di atas, Tetapi gagasan-gagasan yang berupa ‘serpihan’ ide-ide tentang kemungkinan nilai-nilai pesantren dijadikan dasar pijakan pengelolaan satuan sistem pendidikan telah banyak dikemukakan oleh beberapa pakar sebagai lontaran wacana yang tentunya perlu diperdebatkan dan diteliti relevansinya.

Wacana menjadikan nilai-nilai pesantren sebagai teologi dan basis manajemen pendidikan alternatif tentu saja berangkat dari adanya ‘kebuntuan’ sistem pendidikan nasional untuk mencetak SDM yang berkualitas, akibat dari terjadinya krisis multi dimensional yang melanda bangsa Indonesia. Lebih-lebih krisis moral dan identitas yang terus mewarnai perilaku elit bangsa pada khususnya dan keseluruhan lapisan masyarakat pada umumnya.

Di sisi lain, derasnya dinamika zaman akibat permainan politik global dan arus informasi dan industrialisasi dengan segala implikasinya, tentu semakin mengancam identitas kemanusiaan yang pada gilirannya akan terus melahirkan manusia yang ‘bejat’ dan kehilangan kendali. Maka, dunia pendidikan menjadi harapan bersama untuk membendung semua itu agar melahirkan manusia yang betul-betul ber-nurani manusia, bukan manusia yang ber-nurani tikus yang rakus, dan lain semacamnya.

Pesantren, dengan karateristik nilai-nilai dan tradisi yang di milikinya mempunyai potensi besar untuk dijadikan “pelarian” dalam rangka menyikapi globalisasi dan persoalan-persoalan lain yang menghadang pesantren, secara khusus, dan dunia pendidikan secara umum. Setidaknya, menurut Abd A’la (2006) nilai-nilai pesantren berupa kemandirian, keikhlasan, dan kesederhanaan merupakan nilai-nilai yang dapat melepaskan masyarakat dari dampak negatif globalisasi dalam bentuk kebergantungan dan pola hidup konsumerisme yang lambat tapi pasti akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia, terutama anak didik di sekolah.

Nilai-nilai pesantren seperti keikhlasan, kesederhanaan, keteladanan, dan kemandirian adalah kekayaan moral yang dapat dijadikan dasar dalam pengelolaan pendidikan untuk menghentikan proses penghancuran manusia yang pada intinya berawal dari kemandulan sistem dan pengelolaan pendidikan dewasa ini yang tidak memiliki landasan moral-institusional yang jelas. Tentu saja nilai-nilai pesantren tersebut perlu dikontekstualisasikan dan dicarikan rumusan dalam suatu pola manajemen pendidikan yang sistematis dan komprehensif dalam konteks perkembangan pendidikan dewasa ini.

Persoalannya kemudian, pola manajemen pendidikan seperti apakah yang bisa dijadikan pendekatan untuk mengkontekstualisasikan nilai-nilai pesantren tersebut?. Di sinilah terdapat tahapan-tahapan sistematis untuk memilih pola manajemen pendidikan berbasis pesantren tersebut. Pertama, pola penggantian total (revolutionary design), yaitu mengganti secara totalitas sistem pendidikan sekolah yang selama ini menjadi satu-satunya sistem formal pendidikan nasional dengan sistem pendidikan pesantren, seperti yang pernah diusulkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Tetapi perlu perencanaan yang matang, kodifikasi, penyempurnaan, dan penyesuaian.

Kedua, pola integrasi (integrative design), dengan upaya sistem pendidikan pesantren diintegrasikan secara total ke dalam sistem pendidikan sekolah, atau sebaliknya. Artinya dari kedua sistem tersebut disatukan dan dipadukan secara harmonis dan komprehensif sehingga menjadi satu sistem pendidikan yang benar-benar baru dan unik, tetapi tentu dengan nilai-nilai pesantren sebagai basis ideologi pendidikannya.

Ketiga, pola konvergensi (convergentive design), yaitu dengan cara sistem pendidikan pesantren dikonvergensikan dengan sistem pendidikan sekolah, atau sebaliknya. Kedua sistem ini diarahkan ke satu titik pertemuan dan kemudian dilaksanakan bersama-sama, tanpa menghilangkan unsur dan cirinya masing-masing. Nampaknya pola konvergensi inilah yang banyak dilakukan pesantren pada dekade terakhir ini, antara lain dengan menyelenggarakan pendidikan MI/SD Pesantren, Mts/SMP, MA/SMU/SMK, dan PT, di mana kurikulum dan sistem pendidikannya mengacu pada sistem sekolah/madrasah yang ditetapkan oleh pemerintah, kemudian dikonvergensikan dengan nilai-nilai dan tradisi pesantren. Bahkan akhir-akhir ini banyak pula sekolah -bahkan Universitas- yang melaksanakan pola konvergensi ini dengan cara membuka “sekolah dengan sistem asrama” atau boarding school.

Dengan demikian, mengupayakan manajemen pendidikan berbasis pada nilai-nilai pesantren pada prinsipnya merupakan sebuah usaha yang tidak mudah, apalagi harus mencari formulasi yang dapat memuaskan segala pihak yang berkepentingan dengan dunia pendidikan. Tetapi setidaknya, gagasan ini perlu kita fikirkan bersama demi peningkatan mutu pendidikan nasional. Bukankah kita sudah bosan dengan sistem dan manajemen pendidikan nasional yang telah lama terpuruk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: