PERUBAHAN KURIKULUM


JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh menjelaskan, kurikulum yang baru nanti akan terkait dengan tiga kompetensi terpenting yakni attitude, skill dan knowledge (ASK) dengan penekanan yang berbeda di setiap jenjang pendidikan. Prinsip pembelajaran yang akan dipegang nanti juga harus mengedepankan observasi, pengayaan, pengolahan dan presentasi.

“Misalnya, tidak mungkin siswa hanya menghapal isi Pancasila. Selain itu, tidak mungkin juga mata pelajaran sains dihapus karena prinsip observasi hingga presentasi itu menjadi syarat mutlak kurikulum baru,” kata Nuh usai Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Jakarta, Senin (1/10/2012).

Plt Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Suyanto menjelaskan,  penyederhanaan mata pelajaran diperlukan karena siswa sekolah dasar terbebani dengan mata pelajaran bermateri dangkal. Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menyesalkan materi ajar di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sudah kelewat batas karena mengajarkan Baca Tulis dan Hitung (Calistung). Beban di PAUD ini terjadi karena pendaftaran siswa baru SD sudah menuntut calon siswanya mampu Calistung.

“Kami sudah sebarkan surat edaran akan larangan Calistung itu namun masih ada saja sekolah yang membandel,” ungkap Suyanto.

Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah menyatakan, seharusnya pemerintah membuat dulu kurikulum nasional sebelum memberikan kebebasan guru untuk menyusun kurikulum sendiri. Kurikulum nasional ini sendiri sudah tercantum dalam pasal 38 UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003. Dari kurikulum nasional itulah setiap satuan pendidikan dapat melakukan pengembangan sesuai relevansinya.

“Guru memang belum kompeten dan daya kreativitasnya pun kurang untuk membuat kurikulum,” jelasnya.

Ferdi menambahkan, meskipun dalam KTSP itu pemerintah seolah-olah memberikan kebebasan menyusun kurikulum sendiri sesuai konteks lokal, kemampuan siswa dan sarana prasarana, pada kenyataannya, guru tidak membuat kurikulum akan tetapi sebatas membuat silabus (rencana belajar). Selain itu KTSP yang ada saat ini dinilai terlalu banyak memuat materi ajar sehingga jatuhnya hanya membebani siswa.

Dia menggambarkan, di jenjang SD terdiri dari kelas satu-enam. Di setiap tingkatan ada sembilan mata pelajaran. Dengan demikian guru pun harus membuat 54 jenis KTSP. Adapun jika dibagi setiap semester maka yang harus disusun adalah 108 KTSP yang merupakan penjumlahan dari 54 KTSP dikali dua semester. Dengan gambaran itulah KTSP ini perlu direvisi dari segi konsep, filosofis, yuridis, sosiologis, kebijakan dan ideologis. Terlebih dari itu, dia mempertanyakan apakah KTSP sudah menjawab tujuan dari pendidikan nasional itu sendiri.(Neneng Zubaidah/Koran SI/rfa)

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Lody Paat menilai pemberlakuan kurikulum pendidikan nasional yang tidak sesuai harapan bisa menjadi salah satu bentuk kekerasan simbolik. Pasalnya, kurikulum seperti pengetahuan kelompok tertentu yang dipaksakan untuk ditanam di kelompok lain.
“Ada kekerasan simbolik dalam kurikulum saat kelompok tertentu memaksakan pengetahuannya pada kelompok lain, misalnya anak-anak di Papua yang dipaksa mempelajari Pangeran Diponegoro tetapi tak disuguhi pengetahuan mengenai pahlawan di daerahnya,” kata Lody saat dihubungi Kompas.com, Kamis (4/10/2012).
Aktivis Koalisi Pendidikan ini menjelaskan, baginya ada tiga bentuk kekerasan, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan terakhir kekerasan simbolik. Kekerasan fisik dan psikis di dunia pendidikan sudah terjadi di awal mulainya peserta didik memasuki jenjang pendidikan yang baru, baik itu pada masa orientasi siswa di sekolah ataupun ospek di jenjang pendidikan tinggi.
“Inilah yang harus dipahami betul para pembuat kebijakan di dunia pendidikan. Kurikulum memang perlu, tetapi tak bisa dipatok seluruhnya dari pusat,” tandasnya.
Sebelumnya, Lody juga mengkritisi rencana pemerintah yang tengah mengevaluasi dan akan merombak kurikulum pendidikan nasional. Ia meminta pemerintah melakukan semuanya atas dasar riset jelas, dan tetap memberikan hak yang cukup pada semua sekolah untuk menyusun kurikulum pendidikannya secara otonom.
Dia menilai, otonomi sekolah dalam menyusun kurikulum akan memberikan dampak lebih nyata karena disesuaikan dengan karakteristik daerah dan peserta didiknya. Sementara kurikulum pendidikan nasional yang diterbitkan pemerintah pusat hanya bersifat sebagai acuan umum saja. Pemerintah sendiri hampir menyelesaikan evaluasi dan sedang mematangkan kurikulum pendidikan yang baru. Rencananya, kurikulum itu akan diuji publik sebelum Februari tahun depan dan berlaku mulai tahun ajaran 2013-2014.

Jakarta (ANTARA News) – Kurikulum baru pendidikan nasional yang tengah dipersiapkan pemerintah bersama tim penyusun nantinya akan memangkas jumlah mata pelajaran menjadi lebih sedikit sehingga meringankan peserta didik, kata Wamendikbud bidang Pendidikan Musliar Kasim.

“Jumlah mata pelajaran yang banyak membebani siswa dan membuat siswa menjadi bosan. Kurikulum mendatang yang sedang disusun oleh tim terdiri atas para pakar dan tokoh pendidikan seperti Franz Magnis Suseno, Prof Juwono Sudarsono dan lainnya akan ditekankan pada model pembelajaran tematik dan lebih mengarah pada pendidikan karakter,” kata Musliar dalam jumpa pers bersama Wamendikbud bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti terkait Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa di Jakarta, Kamis petang.

“Pendidikan karakter akan lebih banyak dipelajari siswa di tingkat sekolah dasar dimulai sejak dini, semakin tinggi jenjangnya pelajaran terkait pendidikan karakter berkurang dan diganti dengan pelajaran keilmuan,” kata Musliar dan menambahkan perubahan kurikulum tersebut merupakan program besar Kemdikbud dimulai sejak tahun 2010.

Sementara itu, Wamendikbud bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti mengatakan kurikulum yang sedang dalam penyusunan tersebut diharapkan akan memberikan perubahan pada model pembelajaran yang memberikan ruang gerak bagi siswa untuk berekspresi seluas-luasnya.

“Pembangunan karakter sebagai sentral dari pendidikan nasional akan disinergikan dengan kebudayaan untuk menyebarkan virus pembangunan karakter dan targetnya bukan hanya peserta didik tetapi juga guru dan masyarakat luas yang diwakili oleh komunitas-komunitas seperti seniman dan budayawan dan sebagainya,” katanya.

Penyusunan kurikulum pendidikan nasional yang baru diharapkan rampung pada Februari 2013. Sebelum disahkan dan diaplikasikan, pemerintah akan melakukan uji publik terhadap rancangan kurikulum itu untuk memperoleh kritik dan masukan dari masyarakat.

Kemdikbud saat ini telah membentuk dua tim, yakni tim pertama bertugas menyusun kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Adapun tim kedua bertugas menyusun kurikulum pendidikan tinggi.

Tim penyusun juga mengevaluasi kurikulum yang berlaku saat ini, seperti soal banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari siswa, jam sekolah, hingga mencari penyebab mengapa sering terjadi tawuran siswa, rendahnya kemampuan siswa berbahasa asing, serta berbagai persoalan lain.

Gerakan Pembangunan Karakter

Lebih lanjut Wamendikbud Wiendu Nuryanti menjelaskan rencana pemerintah untuk melaksanakan kegiatan Gerakan Nasional Pembangunan Karakater Bangsa melalui program penanaman nilai budaya di lingkungan sekolah yang dilaksanakan di 10 provinsi, antara lain DKI Jakarta, Aceh, Banten, Jawa Barat, NTB dan Maluku.

“Selain menyasar sekolah, gerakan pembangunan karakter juga akan dilaksanakan kepada masyarakat luas melalui Gerakan Bersih Desa Budaya yang difokuskan pada desa-desa yang dengan tradisinya masih menjalankan dan menopang karifan lokal, seperti budaya gotong royong,” katanya.

Program Gerakan Bersih desa pada tahap awal sebagai proyek percontohan dilaksanakan di enam daerah, yakni Laweyan, Lasem , Setu Babakan, Sasirangan, Pandesikek dan Cuci Nagari Maluku, katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: