ANTROPOLOGI DALAM PERSPEKTIF ISLAM


ANTROPOLOGI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A. Pendahuluan

Mempelajari ilmu antropologi merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang lain. Antropologi adalah ilmu yang memandang manusia dilihat dari aspek budaya atau asal-usulnya. Dengan mempelajari antropologi, bisa mengetahui tentang kebudayaan manusia dalam berbagai kurun dan waktu, juga bisa memprediksi kebudayaan yang akan terjadi.

Secara etimologis, Antropologi tersusun dari terma Latin anthropos yang artinya manusia, dan terma Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Antropologi berarti: “berbicara tentang manusia”. Seperti Sosiologi yang terusun dari terma Latin socius yang berarti “kawan” dan terma Yunani logos, sosiologi berarti “berbicara tentang masyarakat”. Sedangkan menurut Koentjaraningrat mengartikan antropologi sebagai; ilmu tentang manusia, yang pada awalnya diartikan ilmu tentang ciri-ciri manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, antropologi diartikan sebagai: Ilmu tentang manusia khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau.

Dalam kajian selanjutnya tentang antropologi, terutama antropologi sosial, agak sulit untuk dibedakan dengan sosiologi, antropologi dan sosiologi merupakan dua spesialisasi yang seringkali digabungkan dalam satu bagian. Dalam buku Pengantar Antropologi, dikatakan bahwa antropologi mempunyai lima lapangan penyelidikan, yaitu:

1.  Masalah sejarah terjadinya dan perkembangan manusia (evolusi) dipandang dari segi biologis.

2.  Masalah sejarah terjadinya berbagai ragam manusia dipandang dari ciri-ciri tubuhnya.

3.  Masalah sejarah asal, perkembangan dan penyebaran berbagai macam bahasa di seluruh dunia.

4.  Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya beragam kebudayaan di seluruh dunia.

5.  Masalah mengenai asas-asas kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat-masyarakat suku bangsa di dunia.

Dari kelima masalah tersebut kemudian dikelompokkan menjadi dua yaitu antropologi fisik dan antropologi budaya sebagaimana tergambar dalam tabel berikut:

Antropologi fisik Paleoantropologi (sejarah terjadinya manusia dan perkembanganya sebagai mahluk biologis)
Antropologi fisik (sejarah terjadinya ragam manusia dipandang dari ciri-ciri tubuh)
Antropologi Budaya Etnolinguistik (sejarah asal, perkembangan dan penyebaran bahasa)
Prasejarah (perkembangan, penyebaran dan terjadinya ragam kebudayaan)
Etnologi (asas-asas kebudayaan dari suku-suku bangsa)

Dengan demikian dapat diartikan bahwa Antropologi Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia yang meliputi asal-usul manusia dan perkembangannya secara biologis, secara fisik, bahasa, kebudayaan, dan asas-asas kebudayaan suku-suku bangsa sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam perkembanganya, antropologi pernah mengalami masa krisis, krisis ini terjadi karena para pakar antropologi seperti antropologi aliran Inggris, Amerika, Jerman dan Perancis menyadari bahwa, antropologi seperti yang dikenal saat ini timbul dan berkembang di dunia Barat untuk memenuhi beberapa tujuan yang amat jauh dari misi ilmu pengetahuan. Ilmu ini, terutama ditujukan untuk mempelajari kelompok manusia di luar dunia Barat sebagai objek jajahan. Di sini, kajian yang dilakukan oleh pakar-pakar antropologi Barat terhadap tradisi dan perilaku manusia di luar dunia Barat ditujukan untuk memberikan entry point bagi pemerintahan jajahan dalam menyikapi perilaku warga negara jajahan mereka, sehingga mereka dapat menguasai secara lebih utuh atas negara jajahan tersebut dan memberikan terapi yang tepat untuk mengatasi gejolak yang terjadi di tengah mereka.

Tujuan lain yang mendorong ilmuan antropologi Barat untuk mengkaji dan meneliti bangsa-bangsa primitif; seperti tentang tradisi mereka, kerangka tubuh, bentuk tempurung kepala dan hal-hal lain yang berkaitan dengan bangsa-bangsa primitif, adalah untuk mencari missing link (mata rantai yang hilang) serta “bukti ilmiah” yang lebih valid untuk mendukung teori evolusi Darwin. Ketika negara-negara jajahan satu-persatu merebut kemerdekaan mereka, dan malah darinya kemudian timbul pakar-pakar antropologi domestik yang lebih handal untuk membaca kondisi bangsa mereka sendiri, dan mampu mengkritik dengan akurat atas kajian antropologis pakar Barat, maka antropologi-pun kehilangan objek kajiannya.

B. Pendekatan Antropologi

Dalam memahami agama, pendekatan antropologi dapat dilakukan dengan melihat wujud dari praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Antropologi dalam kaitan ini lebih mengutamakan pengamatan langsung yang cenderung bersifat partisipatif dan mengambil kesimpulan-kesimpulan yang bersifat induktif untuk mengimbangi kesimpulan yang bersifat deduktif.

Pendekatan antropologis induktif dengan grounded dilakukan dengan turun ke lapangan atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan dalam bidang sosiologi dan bahkan ekonomi yang yang mempergunakan model-model matematis.

Dengan menggunakan pendekatan antropologi banyak yang dapat diketahui, diantaranya adalah bahwa agama memiliki korelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Oleh karena itu apabila ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya. Disamping itu pendekatan antropologis ini juga dapat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara agama dengan Negara serta dapat pula dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara agama dengan psikoterapi.

Demikian juga masalah hubungan patologi sosial dengan agama sebagaimana yang dihasilkan oleh Sigmun Freud, meskipun hasil penelitiannya berakhir kurang dengan simpati terhadap realitas keberagamaan, namun C.G. Jung malah menemukan hasil temuan psikoanalisanya yang berbalik arah dari apa yang ditemukan oleh Freud, menurutnya ada korelasi yang sangat positif antara agama dengan kesehatan mental.

Berdasarkan dari paparan tersebut diatas, jelas bahwa pendekatan antropologi dapat digunakan untuk mengetahui beberapa hubungan antara agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia dan demikian akan terlihat bahwa agama dapat dikorelasikan dengan berbagai fenomena kehidupan manusia. Antropologi berupaya melihat hubungan antara agama dengan berbagai pranata social yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat pembahasan dan informasi yang dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi.

Dengan menggunakan pendekatan dan perspektif antropologis tersebut dapat diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan ternyata tidak berdiri sendiri dan tidak pernah terlepas dari adanya jaringan institusi atau kelembagaan social kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya.

C. Kajian Antropologi Islam

Dalam kalangan pakar antropologi sendiri, masing-masing pakar mempunyai pemahaman yang berbeda terhadap substansi kajian antropologi. Kecenderungan pertama sebagian antropolog hanya memberikan perhatian pada kajian tentang fosil manusia purba dan ukuran tengkorak mereka. Kecenderungan kedua memberikan perhatian pada kajian tentang manusia pra-sejarah dan peninggalan mereka. Sedangkan kecenderungan ketiga memberikan perhatian pokok pada perilaku aneh dalam tradisi bangsa-bangsa, terutama dalam perilaku seksual.

Fenomena agama adalah fenomena universal manusia, walaupun peristiwa perubahan sosial telah mengubah orientasi dan makna agama, hal itu tidak berhasil meniadakan eksistensi agama dalam masyarakat. Sehingga kajian tentang agama selalu akan terus berkembang dan menjadi kajian yang penting. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajian tentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya. Seringkali kajian tentang politik, ekonomi dan perubahan sosial dalam suatu masyarakat melupakan keberadaan agama sebagai salah satu faktor determinan. Tidak mengherankan jika hasil kajiannya tidak dapat menggambarkan realitas sosial yang lebih lengkap.

Pernyataan bahwa agama adalah suatu fenomena abadi, akan memberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas dalam praktik ritual agama. Suatu pendekatan yang berusaha menjelaskan keragaman kebudayaan pada tingkatan tindakan keseharian harus selalu memperhitungkan persoalan bagaimana tindakan itu dikerangka oleh kebudayaan. Dalam Islam, misalnya saja perayaan Idul Fitri di Indonesia yang dirayakan dengan tradisi sungkeman-bersilaturahmi kepada yang lebih tua, selametan, perayaan megengan yang dilakukan sebelum datangnya bulan ramadhan, telonan, tingkeban, nyambung tuwuh adalah sebuah bukti dari keterpautan antara nilai agama dan kebudayaan. Pertautan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selalu original. Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya.

Tradisi slametan suatu upacara makan yang terdiri atas sesajian, makanan simbolik, sambutan resmi, dan do’a. Peserta slametan (orang jawa) memandangnya sebagai ringkasan tradisi lokal, namun secara totalitas slametan adalah peristiwa komunal, namun tiak mendefinikan komunitas secara tegas; selamatan berlangsung melalui ungkapan verbal yang panjang dimana semua orang setuju dengannya, walaupun hadirin secara peorangan belum sepakat akan maknanya. Tetapi manakala upacara ini menyatukan semua orang dalam perspektif yang bersama mengenai manusia, Tuhan, dan dunia, maka upacara yang dilakukan tersebut tidak mewakili pendangan siapapun secara khusus. Apabila dilakukan pengamatan tentang berbagai unsur dalam selamatan ini, maka selamatan merupakan pola kompromi kebudayaan, sikap dan gaya retorik yang diwujudkannya dalam berbagai variasi yang dibawa kedalam nuansa kehidupan keagamaan yang berbeda-beda.

Signifikansi selametan tergantung pada apa dan bagaimana peserta selametan menggunakan konse-konsep kunci yang sebagian berasal dari Islam. Sebagian menarik sebagai ajaran ortodok, ada pula yang menempatkan konsep-konsep Islam dalam ajaran Jawa atau memahaminya sebagai simbolisme universal manusia. Namun selametan juga mencerminkan suatu fungsi kritis dari simbolisme dalam tatanan yang secara ideologis beranekaragam kepentingan yang dapat mendorong kesadaran kolektif untuk menjadikan suatu kesatuan, sehingga dapat dikatakan bahwa selamatan sebagai “ambiguitas yang teratur”.

Jika kembali pada persoalan kajian antropologi bagi kajian Islam, maka dapat dilihat relevansinya dengan melihat dari dua hal. Pertama, penjelasan antropologi sangat berguna untuk membantu mempelajari agama secara empirik, artinya kajian agama harus diarahkan pada pemahaman aspek-aspek social context yang melingkupi agama. Kajian agama secara empiris dapat diarahkan ke dalam dua aspek yaitu manusia dan budaya. Pada dasarnya agama diciptakan untuk membantu manusia untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan kemanusiaannya, dan sekaligus mengarahkan kepada kehidupan yang lebih baik. Hal ini jelas menunjukkan bahwa persoalan agama yang harus diamati secara empiris adalah tentang manusia. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna.

Kemudian sebagai akibat dari pentingnya kajian manusia, maka mengkaji budaya dan masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia juga menjadi sangat penting. Kebudayaan, sebagai system of meaning yang memberikan arti bagi kehidupan dan perilaku manusia, adalah aspek esensial manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami manusia. Mengutip Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jaring-jaring kepentingan yang mereka buat sendiri, maka budaya adalah jaring-jaring itu. Geertz kemudian mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi, berperilaku dan memandang kehidupan. Oleh karena itu analisis tentang kebudayaan dan manusia dalam tradisi antropologi tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmu-ilmu alam, melainkan kajian interpretatif untuk mencari makna (meaning).

Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya, dengan mempelajari wacana, pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama, dirasakan juga oleh mereka yang beragama. Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia, tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah “takdir sosial” yang tak perlu lagi dipahami.

Namun sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayah-wilayah lain. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia, jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat, menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang dapat diikuti oleh manusia. Lahirnya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya.

Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis; intellectualist, structuralist, functionalist dan symbolist. Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. Termasuk dalam tradisi adalah dengan mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Walaupun definisi agama ini sangat minimalis, definisi ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis.

Jamaluddin ‘Athiyyah, dalam artikelnya di jurnal The Contemporery Muslim menawarkan bahwa obyek kajian dari antropologi Islam adalah sebagai berikut ini:

1. Penciptaan manusia, meliputi awal penciptaan manusia dan bagaimana manusia kemudian berkembang termasuk teori evolusi Darwin sebagai komparasinya. Juga pertanyaan tentang apakah sebelum Adam AS. ada Adam-Adam lain. Seperti kecenderungan Iqbal, misalnya, yang mengatakan dalam bukunya The Reconstraction of Religious Thought in Islam, bahwa Adam yang disebut dalam al Qur’an lebih banyak bersifat konsep tinimbang histories.

2. Susunan manusia, meliputi susunan yang membentuk manusia; tubuh, jiwa, ruh, akal, hati, mata hati dan nurani. Sehingga dapat didapatkan konsep manusia yang utuh sesuai dengan konsep Islam. Sehingga dengannya manusia akan berbeda dengan malaikat, jin, hewan, tumbuhan dan benda mati. Sambil menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk tersebut.

3. Macam-macam manusia, yaitu perbedaan manusia antara lelaki dan perempuan, suku-suku, bangsa-bangsa, perbedaan bahasa, dan hikmah dibalik perbedaan ini.

4. Tujuan diciptakannya manusia dan apa misi yang dibawanya di atas bumi, pengkajian tentang ibadah, khilafah, pembumidayaan dunia dan sebagainya.

5. Hubungan manusia dengan semesta, yakni manusia sebagai pusat semesta dan pembahasan tentang lingkungan hidup.

6. Hubungan manusia dengan Tuhan-nya, yakni mengkaji tentang beragama manusia, peran nabi-nabi, kitab-kitab suci dan ibadah.

7. Manusia masa depan, yang mengkaji tentang rekayasa manusia masa depan yaitu tentang pembibitan buatan, bioteknologi, manusia robot dan hal-hal lainnya.

8. Manusia setelah mati, yang membahas bagaiman manusia setelah mati, serta apa yang harus ia persiapkan di dunia ini bagi kehidupannya di akherat nanti.

Di Indonesia usaha para antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telah banyak dilakukan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis pada awal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi-santri, abangan dan priyayi di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik. Dalam diskursus interaksi antara agama-khususnya Islam-dan budaya di Jawa, pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz.

Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religio-kulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agama dan politik. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam kelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. Walaupun Geertz mengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok, ketika dihadapkan pada realitas politik, yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dan santri. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasis pertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalam birokrasi, ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Kaum abangan lebih dekat dengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan, priyayi dengan partai nasionalis, dan kaum santri memilih partai-partai yang memberikan perhatian besar terhadap masalah keagamaan.

D.      Aliran dan Tokoh Antropologi Islam

Setidaknya ada dua aliran dalam antropologi yang kemudian banyak mempengaruhi antropologi modern. Aliran pertama adalah aliran Inggris. Dengan memberi perhatin pada kajian tentang hakikat-hakikat, eksprimen, serta deskripsi yang amat teliti tentang objek kajian. Aliran ini dianut oleh banyak ilmuan Jerman dan Amerika. Dan aliran kedua adalah aliran Perancis, yang menggunakan metode holistic analytic intellectualism. Namun demikian, menurut Akbar S. Ahmad, pakar-pakar antropologi sosial tetap saja hanya mencurahkan perhatian mereka pada sisi sosial kehidupan manusia. Atau hubungan antara sesama manusia dalam sebuah lingkungan masyarakat tempat mereka hidup. Sementara dimensi-dimensi lain yang demikian banyak tentang kehidupan sosial dan peradaban, mereka tinggalkan.

Seperti disinggung sebelumnya, timbulnya antropologi modern tidak terlepas dari kepentingan kolonialisme. Ketika Napoleon menjajah Mesir, ia membawa serta sebanyak 150 ahli ilmu pengetahuan, sebagian dari mereka adalah ahli sosiologi dan antropologi. Dari tangan mereka kemudian diawali kajian-kajian antropologis terhadap negara-negara jajahan di Asia, Afrika dan negara-negara sekitar lautan teduh. Bukanlah sebuah kebetulan jika pakar-pakar antropologi Inggris yang paling terkemuka pasca perang dunia I dan II adalah mantan pegawai di negara-negara jajahan Inggris. Seperti Evan Pritchard, Leach dan Nadel. Bahkan yang terakhir, menggunakan kekuasaannya sebagai pejabat administrasi kolonial dalam penelitian antropologisnya dengan memerintahkan polisi kolonial untuk mengumpulkan penduduk sebagai objek questioner yang ia buat.

Jika antropologi modern lahir di tangan ilmuan Barat, terutama kalangan missionaris dan pegawai administrasi kolonial, itu tidak berarti bahwa antropologi adalah karya mutlak ilmuan Barat. Sejarah ilmu pengetahuan justru mengukir dengan tinta emas bahwa ilmuan Islamlah yang telah membangun dan menyusun konstruksi ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tercatat nama-nama Ibn Khaldun, al Biruni, Ibn Bathuthah, al Mas’udi, al Idrisi, Ibnu Zubair serta Raghib al Ashfahani yang menulis kitab Tafshil ‘n Nasyatain wa Tahshil ‘s Sa’adatain. Pada era modern ini, terdapat beberapa ilmuan Islam yang telah melakukan kajian antropologis, seperti Dr. Bintu Syathi, ‘Abbas Mahmud al ‘Aqqad, Dr. Aminah Nushair, Abdul Mun’im Allam, Muhammad Khadar, Dr. Zaki Isma’il, Dr. Akbar S. Ahmad, Kurshid Ahmad, Muhammad Iqbal, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Abul Wafa at-taftazani, Al ‘Ajami dan ilmuan lainnya.

Karya Ibn Khaldun, dengan teori-teori dan materi ilmiahnya, telah mendahului dan mengungguli karya-karya ilmuan Barat seperti Karl Mark, Max Weber, Vilfredo Pareto, Ernest Gellner dan ilmuan Barat lainnya. Teori kepemimpinan (typologi of leadership) yang ditulis Weber, serta teori Pareto tentang sirkulasi kepemimpinan (circulation of elites) dalam masyarakat Islam, semua itu tak lebih dari modifikasi atas teori-teori dan pemikiran yang telah digagas oleh Ibn Khaldun. Meskipun amat disayangkan, usaha Ibn Khaldun tersebut tidak dilanjutkan oleh ilmuan pasca Ibn Khaldun.

Menurut Akbar S. Ahmad, dari sekian ilmuan Islam yang telah mencurahkan pemikiran mereka dalam bidang antropologi tersebut, al Biruni berhak menyandang gelar Bapak antropologi. Tentang alasan pemilihan al Biruni sebagai Bapak antropologi dijelaskan dengan terperinci oleh Akbar S. Ahmad dalam tulisannya: Al-Biruni: The First Anthropologist. Al Biruni, menurut Akbar lagi, adalah ilmuan antropologi sejati dengan ukuran karakteristik yang paling tinggi sekalipun. Dan buku yang ditulis al Biruni tentang India yang berjudul Kitab Al Hind, terus menjadi salah satu referensi yang paling penting tentang Asia Selatan. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya, adalah ilmu-ilmu yang lahir di tangan ilmuan muslim sekitar seribu tahun sebelum ilmuan Barat mempelajari ilmu-ilmu itu. Maka ketika umat Islam kembali mempelajari ilmu-ilmu tersebut, yang dilakukannya adalah semacam “menemukan kembali” apa yang sebelumnya dimiliki

E. Membangun kembali Antropologi Islam

Usaha terberat ilmuan muslim untuk membangun antropologi Islam adalah bagaimana mengelaborasi warisan antropologis yang telah ditinggalkan oleh ilmuan muslim terdahulu, kemudian merekonstruksi warisan keilmuan itu dalam format keilmuan modern. Oleh karena itu, seperti disarankan oleh Akbar S. Ahmad, bahwa ilmuwan muslim tidak harus membuang seluruh kajian ilmuan Barat. Setidaknya, kreatifitas yang telah mereka hasilkan bisa dijadikan bahan komparatif untuk langkah-langkah yang akan dilakukan oleh antropologi Islam. Yang dapat dilakukan kemudian adalah melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana yang digagas oleh Al Faruqi. Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut dilakukan dengan tujuan-tujuan, seperti didefinisikan oleh Al Faruqi yaitu dengan melakukan penguasaan-penguasaan, antara lain : a. Penguasaan disiplin ilmu modern, b. Penguasaan warisan Islam, c. Penentuan relevensi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern, d. Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan dan pengetahuan modern, e. Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiah dari Allah.

Oleh Al Faruqi, konsep tersebut dijabarkan dalam 12 langkah sistematis untuk mengislamisasikan ilmu pengetahuan. Kedua belas langkah tersebut yaitu:

1.    Penguasaan didiplin ilmu modern. Pada fase ini, disiplin ilmu modern harus dibagi menjadi kategori, prinsip, metodologi, masalah dan tema.

2.    Survei displin ilmu. Setelah kategori-kategori dari disiplin-disiplin itu dibagi-bagi, suatu survei pengetahuan harus ditulis mengenai masing-masing disiplin itu.

3.    Penguasaan warisan Islam. Warisan Islam harus dikuasai dengan cara yang sama. Tetapi di sini yang diperlukan adalah bunga rampai mengenai warisan Muslim yang menyinggung masing-masing disiplin tersebut.

4. Penguasaan warisan Islam. Setelah bunga rampai selesai dipersiapkan, warisan Islam harus dianalisis dari perspektif masalah-masalah masa kini.

5.    Penentuan relevansi khusus antara Islam dengan disiplin ilmu.

6.    Penilaian kritis terhadap disiplin modern. Begitu relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ditentukan, dia harus dinilai dan dianalisis dari sudut pandang Islam.

7.    Penilaian kritis terhdap warisan Islam. Begitu juga, sumbangan warisan Islam dalam setiap bidang aktivitas manusia harus dianalisis dan relevansi masa kininya harus ditemukan.

8.    Survei terhadap masalah-masalah utama yang dihadapi ummah. Suatu kajian sistematis tentang masalah-masalah politik, sosial, ekonomi, intelektual, budaya, moral dan spiritual Muslim.

9.    Survei masalah-masalah kemanusiaan. Suatu kajian yang serupa, tetapi lebih terpusat pada seluruh umat manusia, juga harus dibuat.

10. Analisis dan sintesis kreatif. Pada tahap ini, pada sarjana Muslim sudah harus siap untuk memadukan warisan Islam dengan disiplin-disiplin ilmu modern dan mendobrak kemandegan pembangunan selama berabad-abad.

11. Menyusun kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam. Begitu keseimbangan antara warisan antara warisan Islam dan disiplin ilmu modern berhasil dicapai, buku daras Universitas harus ditulis untuk menyusun disiplin-disiplin ilmu modern dalam cetakan Islam.

12. Menyebarkan pengetahuan Islam. Karya intelektual yang dihasilkan dari langkah-langkah sebelumnya harus digunakan untuk membangunkan, menerangi dan memperkaya umat manusia.

Meskipun gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan seperti yang ditawarkan al Faruqi tersebut dikritik oleh beberapa orang ilmuan muslim sendiri, namun gaung gagasannya tersebut telah menggema ke seluruh dunia Islam. Di Malaysia telah didirikan ISTAC, di Indonesia didirikan ISTECS, dan untuk skala internasional telah berdiri International Institute of Islamic Thought (IIIT), atau di dunia Arab dikenal dengan Ma’had ‘Alami lil Fikri aI islami untuk mengembangkan lebih lanjut gagasan Al Faruqi untuk mengislamkan ilmu pengetahuan tersebut. Alternatif lainnya adalah merekonstruksi antropologi Islam dengan secara kreatif menciptakan teori, metodologi dan teknis sendiri. Tanpa menafikan secara total pencapaian ilmu pengetahuan Barat. Untuk mewujudkan hal itu, kita dapat menggunakan tiga ciri pembeda pengetahuan, yakni tentang: apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut diketahui, disusun dan dimanfaatkan.

Usaha yang lebih meluas adalah membentuk sebuah konsep keilmuan Islam, yang mencakup tidak saja antropologi namun juga ilmu-ilmu sosial lainnya. Jamaluddin ‘Athiyyah menawarkan apa yang ia namakan dengan ilmu umm mother knowledge, yang darinya filsafat ilmu Islam digagas. Ilmu ini terdiri dari tauhid sebagai pokok dari sekalian ilmu. Darinya akan berkembang ilmu-ilmu lain sebagai margin-margin yang menyerap cahaya ilmu umm tersebut.

Secara cerdas, dengan substanssi yang sama, Ziauddin Sardar menawarkan untuk membentuk world View/weltanschauung Islam. Dalam konsep ini, epistemologi Islam disusun dari sintesa aqidah, syari’ah dan akhlak. Epistemologi ini akan menjadi aksis bagi sistem pandangan dunia Islam yang mencakup Sains dan tekhnologi, struktur politik dan sosial, usaha ekonomi, serta teori lingkungan.

Kemudian, setelah sistem pandangan dunia Islam tersebut dapat dirumuskan, langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah:

Mengembalikan wahyu sebagai sumber antropologi. Dari al Qur’an dan Hadist ditelusuri konsep-konsep maupun petunjuk tentang antropologi Islam. Nash-nash tersebut, sebagian memberikan kata putus pada beberapa masalah antropologis, dan sebagian lain hanya memberikan tuntunan dalam kajian antropologi. Di sini, dibutuhkan suatu usaha untuk mengklasifikasikan sumber-sumber tersebut dan kemudian menyimpulkan inti sari dari petunjuk- petunjuk tersebut, sehingga dihasilkan petunjuk konsep antropologis Islami yang utuh.

Menjadikan tauhid sebagai dasar teoritis-metodologis dalam melakukan riset-riset ilmiah. Dalam langkah ini, konsep-konsep antropologi Barat yang materialis dibersihkan dari unsur-unsur materialisme dan atheisme, kemudian ditiupkan didalamnya konsep tauhid sebagai ganti dari kecenderungan materialis dan atheis tersebut.

Membebaskan anggitan keilmuan antropologi dari metodologi empiris yang terbatas. Sebaliknya, dalam anggitan antropologi Islam yang kita gagas menggunakan multi metodologi; induksi, deduksi, exprimental, historis, palsafi, dan tekstual.

Menciptakan kedisiplinan ilmiah dan membebaskan riset ilmiah dari pengaruh ideologis. Konsep antropologi Barat yang amat dipengaruhi oleh paktor ideologis, pada gilirannya menghasilkan kajian antropologis yang terbias oleh faktor ideologis yang dianut oleh periset. Sehingga M. Grauvitz dalam bukunya Methodes de Sciences Sociales mengatakan: Objektifitas secara utuh dalam antropologi mustahil diwujudkan, dan usaha untuk menciptakan suatu kesimpulan bersama terhadap suatu fenonema adalah suatu usaha yang sia-sia. Maka, dalam kajian antropologi Islam harus dibedakan secara tegas antara faktor ideologis diri dan kejujuran ilmiah terhadap riset yang ia jalankan.

Mengembalikan unsur moral/akhlak dalam riset ilmiah. Dalam konsep-konsep antropologi Barat, manusia “ditelanjangi” dari nilai-nilai yang ia pegang serta kecenderungannya, maka dalam konsep antropologi Islam unsur akhlak ini dimasukan sebagai bagian dari konsep tersebut.

Membedakan antara yang sakral yang profan dalam kajian antropologis. Dalam konsep antropologi Barat kenisbian nilai telah menjadi taken for granted, dan tanpa membedakan antara yang sakral dengan yang profan. Sedangkan dalam konsep antropologi Islam unsur ini amat diperhatikan. Karena Islam mengatur kehidupan manusia dari semua segi; materi, ruhani, intelektualitas dan akhlak yang berpedoman pada ajaran-ajaran yang konstan (tsabit), sehingga bentuk perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam tatanan masyarakat yang telah menyimpang dari nilai-nilai yang konstan ini tidak akan diterima sebagai suatu kondisi final suatu masyarakat 30.

Setelah langkah-langkah di atas dilaksanakan, maka kita sudah mendapatkan sebuah konsep antropologi Islam yang utuh. Namun dengan terciptanya sebuah konsep tidak serta merta menghasilkan apa yang diinginkan jika tidak dilakukan langkah aplikatif yang real. Oleh karena itu, untuk mewujudkan secara real konsep-konsep antropologi Islam, Akbar S. Ahmad menyarankan untuk menulis sejarah sosial yang ringkas tentang sirah Rasulullah Saw. yang bisa dipahami oleh pembaca muslim maupun non-muslim. Sehingga dari sejarah masyarakat Islam ideal tersebut dapat ditarik suatu konsep tentang masyarakat Islam yang dicita-citakan.

F. Kesimpulan

Berdasarkan dari pemaparan dan pengkajian tersebut, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa; antropologi Islam adalah suatu ilmu yang mempelajari dan mengkaji tentang manusia yang meliputi asal-usul manusia dan perkembangannya secara biologis, secara fisik, bahasa, kebudayaan, dan asas-asas kebudayaan suku-suku bangsa sesuai dengan ajaran Islam.

Pengkajian terhadap antropologi Islam tidak dapat dilepaskan dengan kebudayaan, karena agama adalah fenomena universal yang menyangkut seluruh peristiwa perubahan sosial manusia, sehingga kajian tentang agama selalu akan terus berkembang dan menjadi kajian yang penting seiring dengan perkembangan perubahan manusia. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajian tentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya, dan demikian pula sebaliknya.

Agama adalah suatu fenomena abadi manusia yang secara langsung memberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Agama Islam adalah agama yang diperuntukkan untuk mengatur manusia menuju kehidupan yang lebih baik, sehingga pemahaman terhadap agama harus dilakukan melalui pengamatan secara empiris tentang manusia itu sendiri. Tanpa memahami manusia maka pemahaman tentang agama tidak akan menjadi sempurna.

REFERENSI

Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2001.

Akbar S. Ahmad, Al Biruni: The First Anthropologist, Spring, London, Royal Antrohology, 1997.

Akbar S. Ahmad, Toward Islamic Anthropolgy, edisi bahasa Arab, III T, 1989.

Amin Abdullah, Studi Agama, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996.

Andrew Beatty, Variasi Agama di Jawa Suatu Pendekatan Antropologi, Jakarta, Murai Kencana Rajagrafindo Persada, 2001.

Ismail R. al-Faruqi, Islamisation of Knowledge: General Principles and Workplan, Washington 1982.

Jamaluddin ‘Athiyyah, Nahwa Manzhur Islami li ‘Ilmi ‘l Insan, The Contemporary Muslim, 1992.

Jujun S. Suriasumantri, Mencari Alternatif Pengetahuan Baru, dalam Desekularisasi Pemikiran; Landasan Islamisasi, AM. Saefuddin et. All. Bandung, 1990.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. ll, cet. l, Jakarta, Balai Pustaka, 1991.

Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi I dan II, cet. III, penerbit: Universitas Indonesia, Jakarta, 2005.

Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi, Bandung, 1991.

M. Dawam Rahardjo, Pendekatan Ilmiah terhadap Fenomena Keagamaan, dalam M. Taufiq Abdulloh dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian agama, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1990.

Mayer, L.Th. dan van Moll, De Dedekah en Slametans in the desa, Semarang.

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, cet.X, 1987.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

One response

  1. Sebagai penggemar antropologi, jelas sudah bagiku bahwa yang namanya budaya itu hanyalah perkara sosiologis yang ditimbulkan dari buah hasil pemikiran pendahulu-pendahulu suatu bangsa/etnik, namun sifat budaya itu tidak mengekang dan tidak sakral, karena sesungguhnya budaya itu dinamis, evolusioner, asimilatif dan relatif… Para pendahulu tentu saja terkondisikan atas nilai-nilai atau keyakinan yang dianut pada masanya dalam pijak berbudaya , namun itu semua tidaklah stagnan dan akan terus mengalami revolusi sembari perjalanan dari masa ke masa yg penuh sinergitas dan bertemu lembaran-lembaran baru. Harus kita akui karena pada dasarnya manusia dalam integritas individual tidaklah sama apalagi dipaksa sama, karena secara alamiah independensi manusia dalam menjalani way of life akan berchemistry dg sendirinya dimanapun dan oleh siapapun semata karena passion, belief, and interest yang dimilikinya.
    Maka dari itu hanya pada jalan akhlaq & taqwa lah manusia harus berjalan, dan atas fundamentalitas agamalah manusia harus bersandar. Kembali ke agama, tertulis dalam Qur’an bahwa sesungguhnya umat islam adalah umat yang satu, maka dari itu hancurkan gap-gap rasialitas untuk menuju ukhuwah, setiap orang punya hak independnsi dalam artian memegang utuh fundamentalitas agama tanpa gangguan intervensi kesukuan atau rasialisme. Yah, memang betul kata salah seorang mubaligh tidak akan ada habisnya kalau membahas budaya, krn sesungguhnya itu kembali pada masing perspektif dan tentu dengan nilai mutlak agama yg tidak bisa ditawar-tawar.

    In my opinion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: