BEBERAPA PETUNJUK UNTUK GURU


BEBERAPA PETUNJUK UNTUK GURU

(Panduan Bagi Seorang Supervisor)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Istilah “supervisi” baru muncul kurang lebih dua dasawarsa terakhir ini. Dahulu istilah yang banyak digunakan di sekolah adalah “pengawasan”, “penilikan” atau pemeriksaan. Kegiatan supervisi melengkapi kegiatan administrasi sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian semua kegiatan dalam pencapaian tujuan. Dahulu kegiatan pengawasan ini dinamakan inspeksi, karena tujuannya adalah mengawasi dan mencari kekurangan atau kesalahan orang-orang yang melaksanakan pekerjaannya. Supervisi ini mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua program dan peningkatan kualitas suatu lembaga, terlebih lagi dalam lembaga pendidikan. Efektifitas kegiatan pendidikan di sekolah, perlu mendapatkan bimbingan dan pengembangan secara berkelanjutan.

Willes, sebagaimana yang dikutip Burhanuddin, memberikan definisi supervisi pendidikan adalah “segenap bantuan yang diberikan oleh seseorang dalam mengembangkan situasi belajar mengajar di sekolah ke arah lebih baik”. Sedangkan Adam dan Dickley merumuskan, sebagaimana yang dikutip Hendyat Soetopo, “supervisi adalah program yang berencana untuk memperbaiki pelajaran.”

Sementara itu, menurut Kerney, sebagaimana yang dikutip Binti Maunah, ” Supervisi pendidikan adalah prosedur memberikan pengarahan dan memberikan evaluasi kritis terhadap proses instruksional.” Program ini dapat berhasil apabila supervisor mempunyai ketrampilan dan cara kerja yang efisien dalam kerja sama dengan guru dan tugas pendidikan lainnya. Maka dari itu, supervisor harus mempunyai kompetensi tertentu untuk mengatasi dan meningkatkan kinerja guru serta profesionalitasnya.

Peningkatan mutu pembelajaran dan profesionalisme guru dalam kinerjanya sangat berkaitan erat dengan keefektifan layanan supervisi. Maka dari itu, diharapkan supervisor mampu mendorong guru untuk meningkatkan kualitasnya dengan peningkatan kompetensi baik personal maupun profesional. Keefektifan supervisi di sekolah tertentu tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kepala sekolah, karena selain sebagai pemimpin di sekolah tersebut, kepala sekolah juga merupakan supervisor bagi guru-guru di sekolah tersebut.

Berbagai teknik supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah, nampaknya dapat membawa dampak negatif bagi guru-guru. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Olivia, sebagaimana yang dikutip Mufidah, “observasi kelas dan wawancara supervisi pada hakekatnya dapat menyebabkan berbagai bentuk kecemasan atau ketakutan terhadap guru. Bahkan dapat membawa dampak pengalaman traumatik terhadap beberapa guru”. Maka dari itu, kepala sekolah harus mampu mengadakan supervisi dengan mengembangkan teknik yang tidak menimbulkan kecemasan-kecemasan tersebut. Sehingga, di sinilah hubungan interpersonal antara kepala sekolah dengan guru memberi jalan keluar. Dengan adanya wawancara interpersonal, maka guru akan mampu melakukan perbaikan pengajaran, baik yang dapat diamati, maupun perencanaan untuk masa mendatang. Kepala sekolah sebagai supervisor harus mampu memahami masalah yang dihadapi oleh guru, sehingga dapat mengemukakan solusi yang tepat untuk membantu guru tersebut.

Bantuan supervisor kepada guru merupakan hal yang penting dan sangat dibutuhkan oleh guru, karena guru tidak akan mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan dalam membantu, juga memberikan petunjuk kepada guru, supervisor tidak boleh pandang bulu. Selain itu, supervisor juga harus mempunyai wawasan yang luas tentang cara penyelesaian beberapa masalah yang dihadapi oleh guru, sehingga guru dapat menjalankan kerjanya secara profesional. Walaupun petunjuk yang diberikan supervisor tersebut hanya sedikit memberikan motivasi kepada guru untuk meningkatkan kualitas kerjanya.

Maka dari itu, penulis akan menguraikan lebih lengkap mengenai petunjuk yang diperlukan supervisor untuk membantu guru menuju keprofesionalisasiannya dalam tulisan yang berjudul “Beberapa Petunjuk Untuk Membantu Guru”.

B.     Membantu Guru-Guru Yang Belum Berpengalaman

Kebanyakan guru belum berpengalaman. Hal ini merupakan tantangan bagi supervisor. Ciri-ciri guru yang belum berpengalaman, adalah pemalu, canggung dalam pergaulan dengan teman sejawat, dan tidak merasa aman dalam melaksanakan tugas. Mereka berharap mendapatkan pelayanan dan pendekatan dari orang yang lebih berpengalaman.

Bantuan yang dapat diberikan kepada guru tersebut antara lain: 1) membantu memecahkan problema yang dihadapi; dalam mengajar dan merencanakan tugas-tugas mengajar, 2) membantu mereka untuk mengenal murid-murid dan dapat mengidentifikasikan diri dengan murid. Identifikasi ini sering keliru. Seri guru baru menyangka mengidentifikasi diri dengan murid, berarti bergaul seperti teman murid dan berlaku sebagai murid. Identifikasi seperti itu mengakibatkan pribadi guru lebur dan hilanglah wibawanya, 3) mengantarkan guru baru ke dalam suasana pergaulan antar guru.

Teknik yang paling tepat untuk membantu guru adalah program orientasi percakapan pribadi atau mengikut sertakan dalam panitia kerja atau kelompok diskusi. Bimbingan dan pengarahan yang tepat akan sangat membantu pertumbuhan guru baru. Namun perlu diperhatikan bagi seorang supervisor, bahwa perhatian atau perlakuan terhadap seorang guru juga harus mempertimbangkan guru-guru yang lain, agar tidak menimbulkan rasa iri. Maka dari itu, kepala sekolah sebagai seorang supervisor juga harus bisa berbuat adil kepada bawahannya dan dalam membina guru yang baru dan belum berpengalaman tidak boleh mengabaikan guru-guru yang sudah ada. Tanpa sikap dan sifat adil, maka ketimpangan dan kecemburuan akan selalu terjadi.

C.     Membantu Guru-Guru Yang Sedia Membantu Guru Yang Tidak Hadir

Salah satu masalah yang sering dihadapi kepala sekolah ialah masalah guru yang tidak hadir pada jam pelajaran yang ditentukan. Pada saat sekarang ini biasanya sebab-sebab ketidakhadirqan itu bermacam-macam, misalnya karena sakit, halangan-halangan di rumah tangga, tugas-tugas tambahan di luar sekolah, cuti hamil dan sebagainya. Dalam hal ini harus ada kesediaan dan kerelaan dari rekan guru lain untuk mengisi kekosongan itu. Sistem yang sering dipakai adalah sistem piket. Tetapi yang terpenting dalam hal ini ialah penciptaan sekolah yang menyenangkan di mana semua guru merasa saling membantu, tidak ada masalah mengenai waktu-waktu yang kosong.

Di samping itu, kepala sekolah juga harus memberikan motivasi kepada guru yang sering tidak hadir dan juga guru pengganti agar selalu saling membantu dan saling mengisi. Menurut Mulyasa “motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan kerja”. Maka tanpa motivasi dari kepala sekolah, dorongan untuk giat bekerja tidak ada dan kinerja guru akan semakin tidak efektif, sehingga mutu pendidikan sulit untuk ditingkatkan.

D.     Membantu Guru-Guru Yang Bekerja Kurang Efektif

Sebagaimana manusia, tentu setiap guru mempunyai kelemahan-kelemahan tersendiri. Guru yang mempunyai kelemahan, biasanya menutup dirinya bila ia bersifat introvert. Tetapi ada juga menutupi kelemahan dirinya dengan mengadakan manipulasi tingkah laku, misalnya menarik perhatian orang lain dan bertindak yang menyimpang. Itu terletak pada latihan kebiasaan dan disiplin yang kurang. Ada juga karena ia sendiri kurang pandai waktu belajar di pendidikan guru, kurang cakap mengajar, acuh tak acuh dalam membuat persiapan dan perencanaan tugas-tugas. Mungkin juga oleh karena sukar untuk menyesuaikan diri di rumah atau di masyarakat. Ada pula sebab-sebab bersumber pada emosi, misalnya ketakutan akan kegagalan, merasa tidak aman, tertekan dalam pekerjaan atau terlalu banyak diberi tugas tambahan, terlalu mementingkan diri sendiri.

Semua reaksi jiwa di atas sebenarnya bersumber dari kebutuhan yang tak terpenuhi. Oleh karena itu, harapan untuk memenuhi kebutuhan itu adalah suatu permulaan yang berhasil dari perjalanan seorang supervisor. Teknik yang dipakai adalah percakapan pribadi, karena hal tersebut akan membantu guru mengenal dirinya sendiri. Ketrampilan supervisor untuk menganalisa kasus-kasus kelemahan guru berdasarkan data obyektif. Berdasarkan data obyektif itu, guru dapat melihat dirinya dalam konteks relasi dengan orang lain. Hendaknya jangan memakai praktik-praktik yang bersifat tradisional, seperti rekomendasi agar guru itu dipindahkan, rekomendasi agar guru tersebut mencari pekerjaan lain, dan lain sebagainya.

Metode yang terbaik untuk membantu guru-guru demikian adalah meletakkan hubungan kemanusiaan yang baik, di mana ada saling percaya, saling mengakui, saling menghargai dan saling dapat bekerja sama. Dalam percakapan pribadi, supervisor dapat menimbulkan kepercayaan pada diri sendiri. Orang harus dilatih melihat self concept, konsep tentang dirinya sendiri, ide tentang dirinya. Tugas supervisor adalah memberi kebebasan agar guru dapat menemukan dirinya sendiri. Di samping percakapan pribadi, diskusi bersama, maka intervisitation juga merupakan salah satu teknik yang dapat dilaksanakan. Bagi mereka yang sukar melihat kekurangan dirinya, biasanya dapat belajar dari orang lain.

Untuk menumbuhkan konsep diri, kepala sekolah disarankan bersikap empati, menerima, hangat, dan terbuka, sehingga para tenaga kependidikan dapat mengekplorasikan pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalahnya. Jika kepala sekolah bersikap keras dan tertutup, maka guru atau tenaga kependidikan yang lain, akan malah lari menjauhinya.

E.     Membantu Guru-Guru Yang Superior

Guru superior maksudnya guru yang sangat berhasil dalam pelajarannya karena menggunakan cara-cara mengajar yang sesuai dengan kepribadiannya atau dapat diartikan guru yang menggunakan cara-cara yang bermacam secara baik dan berhasil. Biasanya guru yang berhasil baik ini, dipilih sebagai contoh untuk ditiru. Dengan demikian mereka merasa superior.

Guru yang seperti ini hendaknya memperoleh penghargaan, namun jangan diberikan secara langsung, agar tidak menandakan bahwa guru tersebut mendapat pujian. Cara yang lain untuk memberi hadiah adalah dengan memberi tambahan gaji extra, dan lain sebagainya. Dan untuk menghilangkan rasa iri atas dirinya, maka guru-guru yang lain juga diikutkan dalam penilaian supaya lebih obyektif.

Selain itu, kunjungan terhadap guru-guru yang superior akan memberi arti tersendiri. Karena kunjungan yang dilakukan oleh supervisor akan memberi motivasi tersendiri agar guru yang superior tersebut lebih meningkatkan keprofesionalisasiannya. Di samping itu, bagi supervisor juga dapat belajar dari guru yang superior tersebut.

Guru superior adalah guru yang profesional, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan non direktif. Perilaku supervisor adalah mendengarkan, memberanikan, menjelaskan, menyajikan dan memecahkan masalah. Sedangkan teknik yang diterapkan adalah dialog dan mendengarkan aktif. Jadi kepala sekolah hanya mendengarkan dan bahkan belajar dari guru tersebut.

F.      Membantu Guru-Guru Yang Mempunyai Kelemahan Pribadi

Salah satu kelemahan mengajar adalah kelemahan pada pribadi guru. Manifestasi kelemahan tersebut tampak pada:

  1. Gangguan pada suara pada saat berkata-kata misalnya menelan kata-kata, waktu berbicara kurang jelas, suara terlalu lemah, terlalu cepat berbicara dan lain sebagainya.
  2. Gangguan dalam gaya lahiriah dan inti pribadi, misalnya berpakaian terlalu mencolok dan bersolek yang berlebihan atau bahkan terlalu cerewet.
  3. Gangguan watak dan pribadi, misalnya lekas tersinggung, terlalu peka, tidak percaya dan salah pengertian, dan lain sebagainya.

Supervisor dapat menerapkan cara-cara misalnya visitation oleh supervisor agar guru dapat melihat kelemahan dirinya, berdiskusi secara terus terang, atau mungkin dengan menggunakan gangguan tape recorde, agar guru biasa menghadapi gangguan. Tugas supervisor dalam hal ini ialah selalu belajar mengenal pribadi dari seluruh guru agar mampu memberi diagnosa yang tepat dan juga pembinaan kepada guru-guru.

G.     Membantu Guru-Guru Yang Kurang Rajin

Guru sering menunjukkan kemalasan, karena tidak ada penghargaan dari kepala sekolah terhadap pekerjaan yang dilakukannya, tidak diikut sertakan dalam segala kegiatan di sekolah, tidak ada kepercayaan dari pimpinan sekolah, tidak mendapat perlakuan yang layak dalam hal promosi. Di samping itu, biasanya juga dipengaruhi oleh permasalahan rumah tangga dan ekonomi yang dihadapinya.

Ciri-ciri guru yang kurang rajin ini antara lain: tidak tertarik terhadap hal-hal yang baru dalam bidang pengembangan pendidikan, tidak pernah membuat catatan persiapan untuk menyajikan pelajaran, tidak pernah mengoreksi pekerjaan murid, menghindari kerja sama dengan orang lain dan cepat-cepat pulang setelah pelajaran.

Maka supervisor haru memberikan bantuan yang berupa hal-hal yang bersifat membangun, misalnya: memberi tanggung jawab kepada guru-guru, memberi kesempatan kepada guru-guru untuk menghayati motivasi dan stimulasi dengan menggunakan teknik-teknik dinamika kelompok, dan mengikut sertakan guru-guru tersebut dalam panitia kerja.

H.     Membantu Guru-Guru Yang Kurang Bergairah

Guru yang kurang bergairah mempunyai ciri-ciri antara lain: jarang tersenyum, kurang humor, kurang ramah-tamah, sukar bergaul dengan orang lain, dan seterusnya. Maka dari itu, supervisor harus selalu membawa mereka dalam suasana kegiatan yang terus menerus, memberi penjelasan dan informasi terhadap mereka tentang segala kebijaksanaan dan surat-surat edaran dari sekolah, dan bila terjadi diskusi dan didalamnya debat tidak diambil kesimpulan, maka diskusi dapat terjadi berlarut-larut dan akan menambah ketegangan dan pertentangan saja.

Motivasi juga harus diberikan oleh kepala sekolah kepada guru yang berada dalam keadaan demikian ini. Di samping itu, guru tersebut hendaknya diberi tugas atau beban untuk melakukan suatu pekerjaan yang agak menantang dan apabila berhasil diberi reward.

I.       Membantu Guru-Guru Yang Kurang Demokratis

Ciri guru yang kurang demokratis adalah: menolak tanggung jawab bersama, kurang senang pada orang yang bebas mengeluarkan pendapat, mengajar hanya bersifat memberitahukan dan routine, dan terhadap pimpinan hanya meminta untuk menyetujui pendapatnya saja.

Terhadap guru yang seperti ini, kepala sekolah sebagai supervisor sebelum memberi bantuan kepada mereka, terlebih dahulu penulis sarankan untuk melakukan analisa terhadap kepemimpinan yang dilakukan selama ini. Maka berdasarkan hasil analisa tersebut, kepala sekolah memberi motivasi kepada guru tersebut antara lain dengan cara sebagai berikut: 1) mengikut sertakan anggota staf dalam menyusun program kerja sekolah, 2) menghargai pendapat anggota staf baik dalam rapat maupun di luar rapat, 3) mengajak anggota staf memecahkan problema yang dihadapi oleh sekolah. 4) mengajak guru-guru untuk bersama-sama mengevaluasi program pendidikan yang ada di sekolah tersebut.

J.      Membantu Guru-Guru Yang Selalu Menentang

Dalam suatu sekolah, terdapat guru yang selalu tidak setuju dan selalu menentang ide yang dikeluarkan atau dikemukakan oleh kepala sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pertentangan ini disebabkan berbagai macam hal. Kadang ada benarnya jika guru tidak setuju dengan pendapat kepala sekolah, hanya cara penyampaian pendapatnya dengan cara-cara yang tidak wajar.

Oleh karena itu, kepala sekolah harus segera menyadari hal itu dan segera berusaha untuk mengatasinya. Hal yang pertama dilakukan adalah instrospeksi diri. Setelah itu, kepala sekolah berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan beberapa hal ini: 1) menciptakan hubungan kerjasama dengan guru-guru tersebut dalam segala kegiatan sekolah, 2) menciptakan suasana kerja sehingga orang merasa bahwa ia ikut menyumbangkan usaha ke arah perbaikan, 3) mengakui bahwa di luar diri, ada orang lain yang ingin bekerja dan mau membantu.

K.     Membantu Guru-Guru Yang Terlalu Lama Bekerja Routine

Kebanyakan guru-guru yang sudah lama bekerja merasa puas dengan pengalaman yang diperolehnya dan ini dianggap suatu hal yang terbaik yang pernah ia lakukan dan berlangsung selama bertahun-tahun. Walaupun di mata publik yang dilakukan oleh guru tersebut merupakan hal yang sudah tidak masanya lagi. Namun mereka sudah menganggap apa dikerjakannya tersebut merupakan hal yang cukup. Tidak ada usaha ke arah perbaikan, bahkan guru sinis terhadap perkembangan dan perubahan yang terjadi. Kurang terbuka dan sensitif terhadap pembaharuan.

Maka kepala sekolah, sebagai supervisor harus merubah cara menatar guru. Mereka dibuat dan diberi pengertian agar menyadari bahwa mereka mengalami perubahan dan profesinya tersebut selalu berkembang. Maka mereka juga harus mengembangkan diri mereka sesuai dengan tuntutan profesi. Guru yang seperti ini, memang sulit untuk dirubah, namun jika dilakukan dengan perlahan dan ulet maka juga akan berhasil.

L.     Membantu Guru-Guru Yang Menghadapi Keruwetan Dalam Masalah Disiplin

Guru ada kalanya yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan disiplin kelas, sehingga ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk memikirkan cara menerapkan disiplin yang tepat bagi muridnya. Biasanya guru yang demikian, memulai pelajarannya dengan ceramah dan menghendaki agar muridnya disiplin. Sehingga sering berlaku keras dan memarahi murid-muridnya. Dan muridpun biasanya malah menentang guru tersebut dengan keras.

Permasalahan ini hanya dapat diselesaikan bila dicari dan ditemukan penyebab hal tersebut, misalnya guru kurang memiliki ketrampilan berkomunikasi, atau mungkin terdapat masalah pribadi dalam diri guru tersebut. Sehingga guru akan kehilangan rasa saling percaya. Maka guru yang demikian dapat dibantu dengan cara mengembalikan kewibawaan dan rasa saling percayanya. Caranya ialah memberi tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan sesuatu dengan bimbingan dan pembinaan yang bijaksana.

Di samping hal itu, yang harus ada dalam diri seorang guru adalah kompetensi. Maka supervisor harus mengarahkan guru agar guru memperoleh kompetensi sebagai guru, baik melalui penataran maupun peningkatan reaksi mentalitas guru.

Kompetensi pendidik dalam pendidikan Islam jika diuraikan dengan rinci maka sebagaimana diuraikan Hamruni, sebagai berikut:

Kompetensi Personal-Religius

Kemampuan dasar (kompetensi) yang pertama bagi pendidik adalah menyangkut kepribadian religius, artinya pada dirinya melekat nilai-nilai utama yang akan ditransisternalisasikan kepada peserta didiknya, misalnya nilai kejujuran, keadilan, musyawarah, kebersihan, keindahan, kedisiplinan, ketertiban dan sebagainya. Nilai tersebut perlu dimiliki pendidik sehingga akan terjadi transisternalisasi (pemindahan penghayatan nilai-nilai) antara pendidik dan anak didik baik langsung maupun tidak langsung atau setidak-tidaknya terjadi transaksi (alih tindakan) antara keduanya.

Kompetensi Sosial-Religius

Kemampuan dasar kedua bagi pendidik adalah menyangkut kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial selaras dengan ajaran Islam. Sikap gotong royong, tolong menolong, egalitarian (persamaan derajat antara sesama manusia), sikap toleransi, dan sebagainya juga perlu dimiliki oleh pendidik untuk selanjutnya diciptakan dalam suasana pendidikan Islam dalam rangka transisternalisasi sosial atau transaksi sosial antara pendidik dan anak didik.

Kompetensi Profesional-Religius

Kemampuan dasar ketiga ini menyangkut kemampuan untuk menjalankan tugasnya secara profesional, dalam arti mampu membuat keputusan berlandaskan keahlian atas berbagai kasus serta mampu mempertanggungjawabkannya berdasarkan teori dan wawasan keahliannya dalam perspektif pendidikan Islam.

Kompetensi Pedagogik-Religius

Kemampuan dalam memahami anak didik, merancang pelaksanaan dan mengevaluasi pembelajaran, serta menguasai strategi dan teknik-teknik pembelajaran. Semua dilakukan berdasarkan suatu komitmen terhadap prinsip-prinsip keadilan, kejujuran dan amanah sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan memiliki kompetensi-kompetensi tersebut, maka pendidik khususnya pendidik dalam pendidikan Islam dapat menjalankan tugas keprofesionalisasiannya dengan baik. Maka tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah mengarahkan guru yang belum mempunyai kompetensi ke arah pencapaian kompetensi, yang salah satunya adalah dengan jalur sertifikasi.

 

Sekian

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: