FIQIH MUAMALAH 2


FIQIH MUAMALAH 2

JUAL BELI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.      Pengertian Jual Beli

Jual beli menurut bahasa berarti:

مقابلة شيئ بشيئ

“Pertukaran sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Akan tetapi ada yang berkata:

تمليك المال بالمال

“ memiliki harta dengan melalui harta (yang lain).

Kata lain yang sama artinya dengan al-ba’i adalah asy syira’, al mubadalah, at tijarah. Ketiga kata tersebut jika diteliti secara mendetail sebenarnya mempunyai arti yang berbeda, tetapi jika dilihat sekilas mempunyai arti yang sama. Yaitu sama-sama merupakan kata yang berlaku digunakan dalam menyebut istilah jual beli.

Dalil diperbolehkannya jual beli.

Al Qur’an

واحل الله البيع وحرم الربا

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

واشهدوا اذا تبيعتم

“ Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli”.

الا ان تكون تجارة عن تراض منكم

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka sama suka.”

Al hadist.

عن رفاعة بن رافع ان النبي ص م سئل اي الكسب اطيب؟ قال ىعمل الرجل بيده وكل بيع مبرور(رواه البزار وصححه الحاكم)

“Dari Rafa’ah bin Rafi’: sesungguhnya nabi SAW ditanya: matapencaharian apa yang paling baik? Beliau menjawab: seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.”

Menurut istilah jual beli adalah:

Pengertian menurut Zakariya Anshori:

مقابلة مال بمال على وجه مخصوص

“Pertukaran harta dengan harta yang lain dengan cara yang khusus”.

Menurut Sayyid Sabiq.

مبادلة مال بمال على وجه الترضي او نقل ملك بعوض على الوجه الماءذون فيه

“Pertukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling ridha atau pemindahan kepemilikan dengan penggantinya dengan jalan yang diperbolehkan”.

Menurut Taqiyuddin al Husni.

مقابلة مال قابلين للتصرف بايجاب وقبول على الوجه الماءذون فيه

“Saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola(tasharuf) dengan ijab dan qabul dan dengan cara yang sesuai dengan syara’.”

Menurut sebagian ulama Syafi’iyah atau dapat dikatakan Syaikh Sulaiman Al Bujarimi.

عقد معاوضة محضة يقتضي ملك العين او منفعة على الدوام لاعلى وجه القربة

“Akad pertukaran yang murni yang menyebabkan kepemilikan sesuatu atau suatu manfaat benda tetap(tidak berpindah) yang tidak didasarkan untuk beribadah(mendekatkan diri kepada Allah).

Pengertian lain menurut ulama yang tepat adalah

تمليك عين مالية بمعاوضة باذن شرعي او تمليك منفعة مباحة على التاءبيد بثمن مالي.

“Pemberian kepemilikan benda dengan cara pertukaran yang sesuai dengan syari’at atau pemberian kepemilikan manfaat yang diperbolehkan yang berlaku lama(tetap) yang dinilai (dibayar) dengan bayaran benda.”

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa jual beli adalah suatu perjanjian tukar-menukar benda(barang) yang mempunyai nilai lebih atas dasar kerelaan antara kedua belah pihak(penjual dan pembeli) sesuai dengan ketentuan yang dibenarkan oleh syara’.

Jual beli menurut ulama Malikiyah ada dua macam, yaitu jual beli yang bersifat umum dan jual beli yang bersifat khusus.

Jual beli dalam arti umum adalah suatu perikatan tukar menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan kenikmatan, perikatan adalah akad yang mengikat kedua belah pihak, tukar menukar adalah salah satu pihak menyerahkan ganti penukaran atas sesuatu yang ditukarkan pihak lain. Dan sesuatu yang bukan manfaat ialah bahwa benda yang ditukarkan adalah dzat(berbentuk), ia berfungsi sebagai obyek penjualan, jadi bukan manfaatnya atau bukan hasilnya.

Jual beli dalam arti khusus adalah ikatan tukar-menukar sesuatu yang bukan kemanfaatan dan bukan pula kelezatan yang mempunyai daya tarik, penukarannya bukan emas dan bukan pula perak, bendanya dapat direalisir dan ada seketika (tidak ditangguhkan), tidak merupakan hutang, baik barang itu ada dihadapan pembeli ataupun tidak, barang yang sudah diketahui sifat-sifatnya atau sudah diketahui terlebih dahulu.

B.     Rukun Jual Beli

Dikalangan fuqaha’ terdapat perbedaan antara rukun jual beli, ulama Hanafiyah menyatakan bahwa jual beli mempunyai dua rukun yaitu ijab dan qabul(penyerahan dan penerimaan).

Menurut jumhurul ulama rukun jual beli itu ada tiga sepeti yang ada dalam kitab majmu’ yang pada hakekatnya ada enam, yaitu:

  • Aqid yang berupa penjual dan pembeli.
  • Ma’qud ‘alaih yang berupa harga dan barang yang dihargai.
  • Sighat walaupun kinayah yang berupa ijab dan qabul.

Akad adalah kesepakatan antara pihak penjual dan pembeli. Akad merupakan inti dari proses berlangsungnya jual beli, karena tanpa adanya akad ini, jual beli tidak dapat dikatakan yang sah. Namun akad ini harus didasarkan kerelaan/keridhaan antara kedua belah pihak yang indikasinya dapat dilihat dengan adanya ijab dan qabul. Rasulullah bersabda:

عن ابي هريرة رضي الله عنه عن النبي ص م قال لايفترقن اثنان الا عن ترض

“ Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda: janganlah dua orang yang mengadakan jual beli berpisah sebelum mereka saling meridhai.”

C.    Syarat-Syarat Yang Harus Dipenuhi Dalam Rukun Jual Beli

Ulama –ulama berbeda pendapat dalam menentukan persyaratan dalam rukun jual beli, baik akad, akid, maupun ma’qud ‘alaih.

* Syarat Sighat(akad)

Disyaratkan dalam ijab dan qabul yang keduanya merupakan sighat akad:

–                           Yang satu (pembeli) dapat bertemu dengan yang lain(penjual) dalam suatu majlis tanpa pemisah yang membahayakan.

–  Ijab dan qabul harus sepakat dalam sesuatu yang wajib diridhoi baik dari segi barang yang dijual dan harta.

–  Dengan menggunakan lafadz madhi(dalam bahasa arab), kalau dalam bahasa selain Arab menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.

Ijab qabul dengan tulisan dianggap sah jika kedua belah pihak yang berakad berada ditempat yang saling berjauhan satu sama lain atau pihak yang berakad tidak dapat berbicara. Maka apabila penjual dan pembeli berada dalam satu majlis akad dan tidak ada halangan untuk melakukan akad dengan ucapan, maka akad tersebut tidak sah jika tidak dipenuhi syarat transaksi jual beli tanpa kata-kata. Dan diqiyaskan dengan hal itu yaitu jual beli dengan SMS atau dengan berbicara lewat telepon.

Syarat lain menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah adalah kesinambungan antara keduanya (tidak ada pemisah antara ijab dan qabul, baik yang berupa ucapan lain maupun diam) dan disyaratkan juga tidak adanya ta’liq yang dibatasi waktu.

Akan tetapi ulama Hanafyah memperbolehkan adanya pemisah antara ijab dan qabul yang waktunya sedikit yang gambarannya menurut kebiasaan, dan hal itu dibutuhkan.

* Syarat Aqid

Syarat yang harus dipenuhi aqid, baik penjual maupun pembeli ialah kemutlakan tasarrufnya(menurut jumhur ulama). Yang dimaksud disini ialah baligh tamyiz, berakal sehat, bukan merupakan budak, bukan merupakan orang yang dicegah dari tasarrufnya karena bodoh, dan tidak dalam keadaan terpaksa.

Tetapi menurut ulama Hanafi, baligh tidak menjadi syarat, ulama Hanafiyah hanya menyaratkan tamyiz bukan baligh, maka akadnya anak yang mumayyiz sah atas izin wali. Pengecualian dari tidak dalam keadaan terpaksa, yaitu ulama Hanafiyah mensahkan jual belinya orang yang dipaksa, karena diqiyaskan pada ucapan.

* Syarat Ma’qud ‘alaih

Disyaratkan bagi ma’qud ‘alaih yaitu selamat atau bebas dari unsur tipuan dan riba. (menurut kesepakatan semua madzhab).

Hal itu akan dibahas secara rinci dibawah ini.

  • Barang yang diperjualbelikan suci, berkaitan dengan in Rosul bersabda:

عن جابر انه سمع رسول الله ص م يقول: ان الله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والاصنام. فقيل: يا رسول الله, اريت شحوم الميتة فانه يطلى بها السفن ويدهن بها الجلود ويستصبح بها الناس فقال:لا هو حرم.

“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai babi, dan berhala. Dan dikatakan: hai Rasul! Bagaimana dengan minyak bangkai yang untuk melicinkan kapal, dan untuk melicinkan kulit, dan yang manusia menggunakannya untuk penerangan? Rasul menjawab:tidak, itu haram.”

  • Keadaan ma’qud ‘alaih bermanfaat, maka tidak boleh menjual binatang merayap, tikus, ular kecuali apabila bermanfaat.
  • Ma’qud ‘alaih dimiliki aqid.
  • Ma’qud ‘alaih dapat dikuasai untuk diserahkan.
  • Barang dapat diserahterimakan pada waktu akad.

Tehnik penyerahterimaan:

  • Menyempurnakan takaran baik dengan takaran, timbangan dan sebagainya untuk menentukan ukuran.
  • Memindah dari tempatnya jika dapat dipindah, jika tidak dapat dipindah cukup menyerahkan sertifikat.
  • Kembali kepada urf dalam sesuatu yang tidak disebutkan diatas.

Syarat mengenai barang yang diperjual belikan yang lain ialah barang tersebut ma’lum dan harganya juga ma’lum yang tidak mendatangkan perebutan atas barang itu.

D.    Macam-macam Jual Beli

Jual beli dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: jual beli yang sah, jual beli yang rusak(tidak sah) dan jual beli yang sah tapi haram.

Jual beli yang sah yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya, misalnya seperti jual beli dengan khiyar, penjualan tukar menukar hewan yang sejenis, dll. Jual beli yang rusak(tidak sah) yaitu jual beli yang yang tidak sempurna/cacat salah satu syarat atau rukunnya, seperti: menjual barang najis, menjual dengan menipu, menjual sesuatu yang tidak bermanfaat, dll. Jual beli yang sah tapi haram yaitu jual beli yang diharamkan karena adanya sebab-sebab tertentu, misalnya: bertujuan untuk mencelakakan orang lain.

Ditinjau dari obyek jual beli, jual beli dapat dibagi menjadi tiga yaitu: jual beli yang kelihatan, jual beli yang tidak disebutkan sifat-sifatnya dalam janji, dan jual beli benda yang tidak ada.

E.     Hikmah Jual Beli

Dalam jual beli terdapat beberapa hikmah antara lain:

  • Terjadi hubungan saling menguntungkan antar manusia.
  • Dapat tukar menukar kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan.
  • Dapat digunakan sebagai sarana ibadah kepada Allah jika cara dan niatnya benar.
  • Dapat menjadikan kerukunan antar manusia terpelihara. Karena dengan jual beli orang akan selalu merasa membutuhkan orang lain, maka dari itu ia tidak mudah mendzalimi dan merendahkan orang lain.

F.    Khiyar Dalam Jual Beli

Khiyar berasal dari bahasa Arab yang berarti pilihan yang dimaksud disini ialah mencari yang lebih bagus antara meneruskan dan merusak akad.

Khiyar dalam jual beli ada 16 macam, tetapi yang masyhur ada 3 macam, karena ada yang mengatakan bahwa 3 macam itu sudah meliputi yang lainnya. Akan tetapi kami akan menjelaskan 16 macam tersebut secara rinci.

Khiyar majlis: khiyar ketika penjual dan pembeli masih dalam satu tempat akad. Sebagaimana sabda Nabi yang artinya: “Dua orang yang berjual beli tetap dalam khiyar sebelum mereka berpisah atau salah satunya berkata kepada yang lain”pilihlah.””

Khiyar syarat: ketika salah satu penjual dan pembeli membeli sesuatu yang disyaratkan khiyar dalam waktu yang diketahui walaupun panjang.(Ini merupakan madzhab Hanbali, sedangkan Abu Hanifah dan Syafi’I memilih masa khiyar 3 hari), apabila mereka menginginkan maka jual beli diteruskan, jika tidak maka dianggurkan.

Khiyar ‘aib : khiyar yang terjadi ketika melihat cacat baik sesudah jual beli maupun sebelumnya. Batasan cacatnya adalah sesuatu yang dapat mengurangi benda maupun harga benda tersebut.

Khiyar orang yang baru dating dari hutan, ketika mereka menemukan harga yang lebih mahal daripada semula seperti dalam hadist Bukhori Muslim yang artinya:”Janganlah kamu mengajak orang yang dari hutan(mengembara) untuk jual beli”.

Khiyar merusak akad jual beli untuk selamanya, seperti rusaknya salah satu barang yang dijual sebelum serah terima atau pada mulanya, seperti ketika pembeli bingung mana yang halal mana yang haram.

Khiyar ketika tidak ada sifat yang disyaratkan dalam akad.

Khiyar karena ma’qud ‘alaih dighasab orang lain dan akid tidak tahu orang tersebut walaupun mampu untuk mengambilnya.

Khiyar karena tidak mampu mengmbil barang dari orang yang mengghasab.

Khiyar karena tidak tahu barang yang dibeli yang adalah barang yang disewakan atau yang ditanami.

Khiyar karena tidak mampu menepati syarat yang sah.

Khiyar karena seseorang menunda-nunda sesuatu yang telah disepakati dalam akad yang sah.

Khiyar bagi penjual karena jelasnya pertambahan untung yang seharusnya diperoleh.

Khiyar bagi pembeli karena bercampurnya buah yang dijual dengan buah yang baru sebelum pemisahan.

Khiyar karena tidak mengetahui harga, baik penjual maupun pembeli.

Khiyar karena berubahnya barang ketika dilihat sebelum akad walauoun tidak terdapat cacat.

Khiyar karena cacatnya buah yang disebabkan ketledoran penjual dalam menyiraminya.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: