FIQIH MUAMALAH 3


FIQIH MUAMALAH 3

IJAROH

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengertian Sewa Menyewa

Menurut bahasa sewa menyewa berasal dari bahasa Arab yaitu ijaroh yang berasal dari kata) (الاجرة yang artinya ongkos, yang dimaksud ialah ongkos ganti (sewa menyewa).

Menurut istilah terdapat beberpapa versi antara lain:

Menurut Zakariya Anshori:

عقد على منفعة مقصودة معلومة قابلة للبذل والاباحة بعوض معلوم

“ Akad atas menfaat yang disengaja dan diketahui untuk memberi dan memperbolehkan dengan imbalan yang diketahui ketika itu”

Menurut Syarbini Khotib:

تمليك منفعة بعوض بشروط تاءتي

“ kepemilikan atas manfaat dengan imbalan dan syarat-syarat tertentu”

Menurut Sayyid Sabiq:

عقد على المنافع بعوض

“Suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan memberikan imbalan”

Menurut ulama Hanafiyah:

عقد يفيد تمليك منفعة معلومة مقصودة من العين المستاءجرة بعوض.

“Akad untuk memperbolehkan pemilikan suatu manfaat yang diketahui yang disengaja dari suatu zat yang disewa dengan imbalan.”

Menurut ulama Malikiyah:

تسمية التعاقد على منفعة الادمي وبعض المنقولات

“Nama bagi akad-akad untuk kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan bagi sebagian sesuatu yang dapat dipindahkan.”

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud ijaroh/sewa menyewa adalah akad terhadap manfaat dari sesuatu yang disengaja dan diketahui dengan balasan berupa imbalan atau upah yang sesuai dengan pemanfaatan tersebut, atau dapat dikatakan penukaran manfaat atau menjual manfaat.

B.    Dasar Hukum Sewa Menyewa

Al-Qur’an:

وان اردتم ان تسترضعوااولاد كم فلاجناح عليكم اذا سلمتم مااتيتم بالمعروف واتقواالله واعلموا ان الله بما تعملون خبيرا.

“Dan jika kamu ingin anakmu disusukan olehg orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut, bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah melihat apa yang kamu perbuat.”

قالت احد هما ياءبت استئجره ان خير من استئجرت القوي الآمين

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata” ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja(pada kita),karena sesungguhnya orang yang paling yang kamu ambil untuk bekerja(pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Al-Hadits

وروى ابن ماجة ان النبي ص م قال:اعطوا الاجير قبل لن يجف عرقه

“Berikanlah olehmu upah orang sewaan sebelum keringatnya kering.”

وروي احمد وابو داود والنساء عن سعد ابن ابي وقاص رضي الله عنه قال:كنا نكري الارض بما على السواقي من الزرع.فنهى رسول الله ص م عن ذلك وامرنا ان نكريها بذهب او ورق.

“Dahulu kami menyewa tanah dengan jalan membayar dari tanaman yang tumbuh, lalu Rosulullah melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan uang  emas atau perak”.

احتجم واعط الحجام اجره

“Berbekamlah kamu kemudian berikanlah olehmu upahnya tukam bekam itu.”

Landasan ijma’nya ialah semua umat sepakat tidak ada seorang pun ulama yang membantah kesepakatan ini, sekalipun ada beberapa orang diantara mereka yang berbeda pendapat, akan tetapi hal itu dianggap tidak sah.

C.    Rukun Dan Syarat Sewa-Menyewa

Menurut ulama Hanafiyah rukun sewa menyewa ada dua sama dengan rukun jual beli yaitu: ijab dan qabul. Sedangkan menurut Jumhurul ulama rukunnya ada empat yaitu: sighat, upah, manfaat, orang yang berakad( mu’jir dan musta’jir). dan akan diperinci satu-satu dibawah ini.

  • Orang yang berakad(mu’jir dan musta’jir) disyaratkan bagi mereka yaitu baligh, berakal, cakap melakukan tasharuf(mengendalikan harta) dan saling meridhoi(ini merupakan persyaratan ulama syafi’iyah dan hanabilah) akan tetapi ulama hanafiyah hanya mensyaratkan tamyiz saja. Maka dari itu mengecualikan akadnya anak-anak dan orang gila.
  • Sighat: merupakan ijab qabul antara kedua belah pihak dan disyaratkan bagi hal ini yaitu harus memakai lafadz yang jelas, hal ini sama dengan pembahasan yang ada pada jual beli.
  • Ujrah : ujrah merupakan salah satu rukun dalam sewa menyewa, hal itu seperti sesuatu yang telah terlewatkan dalam membahas harga. Dan disyaratkan dalam hal ini yaitu harus diketahui jenisnya , banyaknya dan sifatnya oleh kedua belah pihak. Hal ini tidak sah apabila ongkos tersebut tidak jelas banyaknya dan jenisnya.
  • Barang yang disewakan atau seseuatu yang dikerjakan dalam upah mengupah, disyaratkan dalam hal ini beberapa syarat: pertama: hendaklah barang yang disewakan dapat bermanfaat, kedua: hendaklah dapat diserahkan kepada penyewa berikut kegunaanya, ketiga: manfaatnya merupakan sesuatu yang mubah yang dilarang, keempat: bendanya disyaratkan kekal dzatnya sehingga tidak hilang ketika diambil manfaatnya.

Syarat sahnya sewa-menyewa:

–                           keridhoan dua orang yang berakad dan tidak ada saling memaksa, apabila salah satu dipaksa maka tidak sah.

–                           Mengetahui manfaat benda yang disewakan dengan mengetahui secara sempurna yang dapat mencegah dari perebutan.

–                           Ma’qud ‘alaih ukurannya jelas secara hakekat dan syara’.

–                           Berkuasa untuk menyerahkan sesuatu yang disewakan kepada penyewa bersama dengan manfaatnya, maka tidak sah menyewakan sesuatu yang dighosob orang lain.

–                           Kemanfaatan barang disewakan mubah, bukan haram dan juga bukan wajib. Maka tidak boleh menyewakan sesuatu yang diharamkan seperti menyewakan alat permainan.

D.    Upah Dalam Sewa-Menyewa

Upah dalam perbuatan ibadah(ketaatan) seoerti sholat, puasa, haji, dan membaca al qur’an diperselisihkan oleh para ulama, karena berbeda cara pandang terhadap pekerjaan-pekerjaan ini.

Madzhab Hanafi berpendapat bahwa ijaroh dalam perbuatan taat seperti menyewa orang lain untuk shalat, puasa, haji atau membaca al qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tertentu seperti arwah ibu, bapak dari yang menyewa adalah haram mengambil upah dari perbuatan tersebut.

Sedangkan menurut Syafi’I hal tersebut diperbolehkan seperti mengambil upah dari mengajari membaca al qur’an dan hadist dan lain-lain. Demikian juga Maliki dan Ibn Hazm.

Dan juga menurut Syafi’I yaitu diperbolehkan ijaroh dalam memandikan mayit, menalqin dan menguburnya, tetapi menurut Abu Hanifah tidak boleh mengambil upah dalam memandikan mayit akan tetapi boleh dalam menggali kubur dan menggotong mayit.

E.    Sifat dan Hukum Sewa Menyewa

Menurut ulama Hanafiyah, ijaroh(sewa menyewa) adalah akad yang lazim yang didasarkan pada firman Allah SWT :aufuu bil ‘uqud, yang boleh dibatalkan. Pembatalan tersebut dikaitkan pada aralnya bukan pada pemenuhan akad. Tetapi jumhur ulama berpendapat bahwa ijaroh tidak dapat dibatalkan kecuali dengan adanya sesuatu yang merusak ijaroh tersebut.

Apabila terdapat sesuatu yang dapat membatalkan dan merusak ijaroh maka ijaroh akan menjadi rusak dan batal. Ijaroh tidak rusak sebab matinya salah satu pihak dari dua orang yang berakad.

Hukum ijaroh shahih adalah tetapnya kemaslahatan bagi orang yang menyewa dan tetapnya bagi pekerja. Sedangkan ijaroh yang fasid sama halnya dengan jual beli yang fasid. Misalnya dalam ijaroh tersebut terdapat persyaratan penyerahan barang hasil dari sesuatu yang disewakan, misalnya petani harus menjual hasil panen dari sawah yang disewanya kepada orang yang menyewakan.

Atau ijaroh fasidah disini dapat dianalogikan dengan persyaratan sulbul ‘akad dalam suatu akad ijaroh, dan terdapat akad lain dalam ijaroh tersebut.

Orang yang menyewa diperbolehkan menyewakan lagi barang yang disewa kepada orang lain, dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang dijanjikan ketika akad, seperti sewa seekor kerbau, ketika akad dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak sawah, kemudian kerbau itu disewakan lagi dan timbul musta’jir yang kedua, maka kerbau itupun harus digunakan untuk membajak pula.

Bila ada kerusakan pada benda yang disewa, maka yang bertanggung jawab adalah pemilik barang(mu’jir) dengan syarat kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaian musta’jir.

F.    Pembatalan Sewa-Menyewa

Ijaroh merupakan akad yang lazim, yaitu akad yang tidak membolehkan adanya fasakh pada salah satu pihak, karena ijaroh merupakan akad pertukaran kecuali bila didapati hal-hal yang mewajibkan fasakh.

Ijaroh akan menjadi batal(fasakh) bila ada hal-hal sebagai berikut:

  1. Terjadinya cacat pada barang sewaan yang kejadian itu terjadi pada tangan penyewa.
  2. Rusaknya barang yang disewakan, seperti rumah menjadi runtuh dan sebagainya.
  3. Rusaknya barang yang diupahkan(ma’jur ‘alaih), seperti baju yang diupahkan untuk dijahitkan.
  4. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan, berakhirnya masa yang telah ditentukan dan selesainya pekerjaan.
  5. Menurut Hanafiyah, boleh fasakh ijaroh dari satu pihak, sepeti menyewa toko untuk dagang, kemudian dagangannya ada yang mencuri, maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu.

Jika akad ijaroh telah selesai, maka penyewa berkewajiban mengembalikan barang yang disewa, jika barang itu berupa barang yang dapat dipindahkan. Tetapi jika barang itu berupa barang tetap, maka cukup dengan ikrar penyewa kepada orang yang menyewakan dan wajib mengembalikan barang tersebut dalam keadaan kosong(bebas dari segala sesuatu milik penyewa/tanaman yang ditanam penyewa) kecuali jika ada kesulitan dalam menghilangkannya.

Tetapi menurut ulama Hanafiyah ijaroh berakhir dengan meninggalnya salah satu ‘akid, adapun ahli waris tidak mempunyai hak untuk meneruskannya.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: