PRINSIP, PERANAN DAN SASARAN SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM


PRINSIP, PERANAN DAN SASARAN

SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Ada beberapa kasus yang menarik untuk diperhatikan. Ada sekolah atau madrasah yang asalnya mengalami kemunduran menjadi maju dengan pesat, sebaliknya ada sekolah atau madrasah yang asalnya maju menjadi hampir gulung tikar. Ada yang asalnya maju dan tetap bertahan, sebaliknya ada yang asalnya termasuk kategori dalam pepatah “Hidup enggan mati tak mau”  yang dalam bahasa Arab disebut lâ yahya walâ yamûtu dan tetap seperti itu hingga perkembangannya sekarang ini. Empat kasus ini tampaknya disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya faktor manajemen, faktor kurang profesionalnya pendidik, dan faktor-faktor yang lain.

Belakangan ini, ada beberapa madrasah yang mengalami kemajuan pesat sekali dan berhasil mengalahkan sekolah-sekolah umum di sekitar lokasi madarasah tersebut bahkan mampu mengalahkan sekolah-sekolah umum yang lebih dahulu dikenal sebagai sekolah yang maju. Misalnya Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Malang, Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia Serpong Tangerang, dan Madrasah Aliyah Negeri Cendikia Gorontalo. Di samping itu, masih banyak contoh madrasah yang mulai bangkit sehingga sekolah umum di sekitarnya tidak kebagian siswa secara signifikan, meskipun reputasi madrasah tersebut baru pada tingkat desa, kecamatan atau kabupaten.

Kisah sukses madrasah-madarasah tersebut mendorong Departemen Agama untuk mengembangkan ’madrasah-madrasah model’ dan menyebabkan para pejabat Departemen Agama dan para ahli pendidikan Islam mulai percaya bahwa kualitas pendidikan madrasah dapat ditingkatkan serta pendidikan berkualitas yang ditawarkan oleh madrasah akan dapat ‘dibeli’ oleh kalangan orang tua Muslim.

Kisah sukses madrasah-madrasah tersebut tampaknya tidak terlepas dari kualitas atau mutu kinerja guru, walaupun itu bukan faktor yang utama. Secara institusional, kemajuan suatu lembaga pendidikan lebih ditentukan oleh pimpinan lembaga tersebut daripada oleh pihak lain, tetapi dalam proses pembelajaran, guru berperan paling menentukan melebihi metode apalagi materi. Urgensi guru dalam proses pembelajaran ini terlukis dalam ungkapan Arab, yang pernah disampaikan A. Malik Fadjar, al-Tharîqah Ahammu min al-Mâddah walakinna al-Muddaris Ahammu min al-Tharîqah (Metode lebih penting daripada materi, namun guru jauh lebih penting daripada metode).

Peranan yang sangat penting dari guru itu bisa menjadi potensi besar dalam memajukan atau meningkatkan mutu pendidikan Islam maupun sebaliknya, bisa menghancurkannya. Ketika guru itu benar-benar profesional dan diame-manage dengan baik, mereka makin bersemangat dalam menjalankan tugasnya mendidik bahkan rela melakukan inovasi-inovasi pembelajaran untuk mewujudkan keberhasilan peserta didik.

Untuk meningkatkan kualitas kinerja guru dalam institusi atau lembaga pendidikan Islam diperlukan supervisi pendidikan Islam. Kata Islam yang menjadi identitas manajemen pendidikan ini dimaksudkan mencakup makna keduanya, yakni Islam wahyu dan Islam budaya. Oleh karena itu, dalam membahas supervisi pendidikan Islam senantiasa melibatkan wahyu dan budaya kaum Muslimin ditambah kaidah-kaidah supervisi pendidikan secara umum.

Supervisi pendidikan Islam pastilah mempunyai prinsip, peranan dan sasaran yang berbeda dengan supervisi yang lainnya. Maka dari itu, untuk menjelaskan lebih lanjut tentang prinsip, peranan dan sasaran supervisi pendidikan Islam, penulis akan menyusun sebuah artikel yang berjudul “Prinsip, Peranan Dan Sasaran Supervisi Pendidikan Islam” yang penulis kumpulkan dari berbagai referensi yang ada serta yang penulis ambil dari pencermatan terhadap wahyu, logika dan kultur yang terjadi dalam berbagai lembaga pendidikan Islam.

B.     Pengertian Supervisi Pendidikan Islam dan Implikasinya

Kata supervisi pendidikan Islam jika diurai menjadi supervisi + pendidikan + Islam atau supervisi pendidikan + Islam atau supervisi + pendidikan Islam. Menurut penulis, yang paling benar adalah yang ketiga, walaupun tidak menutup kemungkinan juga bisa yang kedua, karena adanya proses induksi yang keterangannya akan penulis jelaskan di bawah nanti.

Sebelum penulis menerangkan mengenai pengertian atau definisi dari supervisi pendidikan Islam, terlebih dahulu akan membahas definisi supervisi dan supervisi pendidikan yang ditinjau dari beberapa telaah. Penguraian istilah supervisi dan supervisi pendidikan ini berfungsi sebagai pondasi dalam merumuskan secara definitif istilah supervisi pendidikan Islam. Tanpa adanya pondasi yang kokoh, maka tidak mungkin sebuah definisi dapat dirumuskan dengan baik, terlebih lagi supervisi pendidikan Islam. Supervisi pendidikan Islam memang merupakan hal yang baru, dan belum ada yang mencoba mendefinisikannya dengan baik, maka dalam kesempatan ini penulis akan mencoba mendefinisikan supervisi pendidikan Islam beserta implikasinya.

Istilah “supervisi” baru muncul kurang lebih dua dasawarsa terakhir ini. Dahulu istilah yang banyak digunakan di sekolah adalah “pengawasan”, “penilikan” atau pemeriksaan. Kegiatan supervisi melengkapi kegiatan administrasi sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian semua kegiatan dalam pencapaian tujuan. Dahulu kegiatan pengawasan ini dinamakan inspeksi, karena tujuannya adalah mengawasi dan mencari kekurangan atau kesalahan orang-orang yang melaksanakan pekerjaannya. Supervisi ini mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua program dan peningkatan kualitas suatu lembaga, terlebih lagi dalam lembaga pendidikan. Efektifitas kegiatan pendidikan di sekolah, perlu mendapatkan bimbingan dan pengembangan secara berkelanjutan.

Konsep inspeksi tidak bisa disamakan dengan konsep supervisi, dalam arti konsep inspeksi tidak dapat menjadi alternatif atas konsep supervisi. Mereka datang dari kawasan manajemen yang berbeda. Dalam proses manajemen, supervisi berada dalam kawasan “directing” dan inspeksi berada dalam kawasan “controlling“. Oleh karena itu, supervisi cenderung kepada usaha pelayanan dan pemberian bantuan dalam rangka memajukan dan meningkatkan proses dan hasil belajar mengajar. Sedangkan inspeksi cenderung kepada usaha atau kegiatan menyelidiki dan memeriksa penyimpangan-penyimpangan serta kekeliruan-kekeliruan yang sengaja atau tidak sengaja dibuat oleh para guru dan kepala sekolah dalam rangka melaksanakan program pengajaran di sekolah.

Istilah supervisi dapat dijelaskan baik menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), dan juga secara istilah (terminologi). Berikut ini adalah penjelasannya secara rinci.

Etimologi

Istilah supervisi berasal dari bahasa Inggris “supervision” artinya pengawasan, pemeriksaan. Sedangkan orang yang melakukan supervisi dinamakan supervisor. Sedangkan dalam pendidikan dinamakan supervisor pendidikan.

Morfologi

Istilah supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk kata-katanya, sebagaimana diuraikan oleh Lukluk Nur Mufidah, “supervisi terdiri dari patah kata “super”+”visi”: super= atas, lebih; visi= tilik, awasi”. Hal ini sesuai dengan fungsi seorang supervisor yaitu melihat dari atas dan mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada yang lainnya. Kelebihan yang dimiliki oleh supervisor semata-mata bukan karena kedudukan, namun juga karena pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya. Tanpa hal itu, maka seseorang tidak dapat menjadi seorang supervisor.

Terminologi

Terdapat berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli antara lain: Dictionary of Education Good Carter memberi definisi, sebagaimana yang dikutip Sahertian sebagai berikut:

Supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran.

Willes, sebagaimana yang dikutip Burhanuddin, memberikan definisi supervisi pendidikan adalah “segenap bantuan yang diberikan oleh seseorang dalam mengembangkan situasi belajar mengajar di sekolah ke arah lebih baik”. Ametembun mengemukakan bahwa “supervisi pendidikan adalah pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan.” Menurut Neagley, sebagaimana yang dikutip Cicih Sutarsih dan Nurdin, “supervisi diartikan sebagai bantuan dan bimbingan kepada guru-guru dalam bidang instruksional, belajar dan kurikulum, dalam usahanya mencapai tujuan sekolah.”

Purwanto menjelaskan, bahwa supervisi pendidikan ialah “suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif”. Sedangkan Adam dan Dickley merumuskan, sebagaimana yang dikutip Hendyat Soetopo dan Wasti Soemanto, “supervisi adalah program yang berencana untuk memperbaiki pelajaran.” Program ini dapat berhasil apabila supervisor mempunyai ketrampilan dan cara kerja yang efisien dalam kerja sama dengan guru dan tugas pendidikan lainnya.

Menurut Kerney, sebagaimana yang dikutip Binti Maunah, “supervisi pendidikan adalah prosedur memberikan pengarahan dan memberikan evaluasi kritis terhadap proses instruksional.” Sementara itu, Ibrahim Bafadal mengatakan bahwa:

“kegiatan supervisi pendidikan sama sekali tidak identik dengan penilaian terhadap guru. Dalam kegiatan supervisi memang terdapat pengukuran unjuk kerja guru. Namun tujuannya bukan untuk menilai guru semata, melainkan untuk mengetahui keterbatasan-keterbatasan kemampuannya dalam rangka peningkatan kemampuannya.”

Hal itu memberikan indikasi bahwa kegiatan supervisi terhadap suatu sekolah, memang untuk menilai kualitas sekolah, namun tujuannya tidak hanya itu, melainkan juga untuk mengetahui keterbatasan kemampuan guru dalam peningkatan kompetensinya, untuk selanjutnya dapat ditindak lanjuti.

Menurut Binti Maunah, supervisi dapat diartikan sebagai:

“Layanan professional. Layanan professional tersebut dengan berbentuk pemberian bantuan kepada personil sekolah dalam meningkatkan kemampuannya sehingga lebih mampu mempertahankan dan melakukan perubahan penyelenggaraan sekolah dalam rangka meningkatkan pencapaian tujuan sekolah.”

Sedangkan Jawatan Pendidikan Umum Departemen P D dan K, sebagaimana dikutip Mufidah, memberikan arti

Kepengawasan pendidikan sebagai usaha memajukan sekolah yang bersifat kontinu dengan jalan membina, memimpin dan menilai pekerjaan kepala sekolah, guru dalam usaha mempertinggi mutu pendidikan yang diberikan kepada murid dengan perantaraan perbaikan situasi belajar mengajar kearah terjelmanya tujuan pendidikan.

Pengertian yang diberikan oleh Jawatan tersebut tampaknya tidak memasukkan kepala sekolah sebagai supervisor, tapi supervisor dalam pengertian itu adalah penilik pendidikan yang diserahi tugas khusus.

Pada dasarnya konsep supervisi dalam pendidikan itu berbeda dengan yang lainnya, sebagaimana diungkapkan Hendyat Soertopo, “konsep supervisi pengajaran dalam dunia pendidikan berbeda dengan konsep supervisi dalam dunia non-pendidikan (perekonomian, usaha, industri, dan lain-lain)”. Hal itu tampak dari hubungan antara supervisor dengan guru, bukan interaksi antara atasan dengan bawahan, namun karena kepemimpinan supervisor berkembang secara professional.

Dari berbagai definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa supervisi pendidikan adalah usaha pembinaan menuju arah perbaikan situasi pendidikan. Pembinaan yang dimaksud adalah dengan cara memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan serta profesionalisme pendidik atau guru.

Setelah mengetahui secara jelas arti dari supervisi pendidikan, maka penulis akan berusaha mendefinisikan supervisi pendidikan Islam. Supervisi pendidikan Islam adalah usaha pembinaan tenaga kependidikan di lembaga pendidikan Islam secara Islami menuju arah perbaikan situasi pendidikan Islam dengan cara memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan Islam serta profesionalisme tenaga kependidikan, khususnya pendidik Islam.

Definisi yang penulis kemukakan di depan, selanjutnya memiliki implikasi-implikasi tertentu yang saling terkait dan membentuk satu kesatuan teori supervisi pendidikan Islam yang dapat dijabarkan secara rinci sebagai berikut:

Pertama, usaha pembinaan secara Islami. Aspek ini menghendaki adanya muatan-muatan nilai Islam dalam usaha membina pendidik Islam seperti penekanan pada penghargaan, kemaslahahatan, musyawarah, kualitas, penekanan pluralitas individu dan pemberdayaan sumber daya. Selanjutnya upaya pembinaan itu diupayakan bersandar pada pesan-pesan al-Qur’an dan hadits agar selalu dapat menjaga sifat keislaman (Islami) itu. Kata secara Islami menunjukan sikap inklusif, yang berarti kaidah-kaidah supervisi yang dirumuskan dalam supervisi pendidikan Islam bisa dipakai dalam supervisi pendidikan versi lainnya selama ada kesesuaian sifat dan misinya, dan sebaliknya kaidah-kaidah supervisi pendidikan pada umumnya bisa juga dipakai untuk melakukan supervisi pendidikan Islam selama sesuai dengan nilai-nilai Islam, realitas dan kultur yang dihadapi oleh pendidik dalam pendidikan Islam

Kedua, terhadap tenaga kependidikan Islam di lembaga pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan objek dari supervisi ini secara khusus diarahkan kepada para pendidik yang ada dalam lembaga pendidikan Islam. Maka supervisi ini bisa menjabarkan supervisi yang ada di pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam, dan sebagainya. Jadi secara tidak langsung definisi ini bersifat eksklusif, yaitu tidak memasukkan lembaga pendidikan non Islam.

Ketiga, arah perbaikan situasi pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa yang diperbaiki tersebut adalah pendidikan Islam bukan hanya pendidikan agama Islam. Maka pendidik yang memegang atau mengampu mata pelajaran umum asalkan berada dalam lembaga pendidikan Islam dan melakukan pendidikan sesuai dengan nilai-nilai keislaman, maka juga termasuk objek supervisi pendidikan Islam.

Keempat, dengan cara memberikan bantuan. Hal tersebut berarti perbaikan mutu atau kualitas pendidikan Islam dilakukan dengan cara memberikan bantuan kepada pendidik Islam yang mengalami masalah baik melalui mengikutkannya dalam kelompok maupun secara personal yang mampu memahami karakter kepribadian pendidik tersebut.

Kelima, untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan Islam serta profesionalisme pendidik Islam. Hal tersebut berarti orientasi supervisi pendidikan Islam sebenarnya adalah peningkatan mutu dan kualitas pendidikan Islam melalui peningkatan profesionalisme pendidik Islam. Tujuan ini merupakan arah dari semua kegiatan supervisi pendidikan Islam yang ada di lembaga pendidikan Islam.

Dari sini muncul pertanyaan, apa bedanya supervisi pendidikan Islam dengan supervisi lainnya, misalnya dengan supervisi pendidikan atau bahkan supervisi argrobisnis? Memang secara general sama, artinya ada banyak atau bahkan mayoritas prinsipnya sama dan dapat dipakai oleh ketiga jenis supervisi itu bahkan oleh seluruh supervisi. Namun perbedaan variabel di sini yang menyebabkan perbedaan kultur dan akibatnya membawa beberapa perbedaan.

Istilah Islam itu sendiri bisa berupa Islam wahyu dan Islam budaya, bisa berupa normativitas dan historisitas, bisa berupa tekstual dan kontekstual. Islam budaya meliputi al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, baik hadits Nabawi maupun hadits Qudsi. Sedangkan Islam budaya meliputi ungkapan sahabat Nabi, pemahaman ulama, pemahaman cendekiawan Muslim dan budaya umat Islam. Kata Islam yang menjadi identitas supervisi pendidikan ini dimaksudkan mencakup makna keduanya, yakni Islam wahyu dan Islam budaya

Oleh karena itu, dalam membahas supervisi pendidikan Islam senantiasa melibatkan wahyu dan budaya kaum Muslimin ditambah kaidah-kaidah supervisi pendidikan secara umum. Maka pembahasan ini akan mempertimbangkan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. Teks-teks wahyu baik al-Qur’an maupun al-hadits yang terkait dengan supervisi pendidikan. Hal tersebut dapat diketahui apabila mengadakan penafsiran al-Qur’an dan al-hadits dengan menggunakan versi supervisi pendidikan. Jadi hal itu dapat dikatakan tafsir rasa supervisi atau tafsir supervisi pendidikan.
  2. Perkataan-perkataan (aqwâl) pada sahabat Nabi maupun ulama dan cendekiawan Muslim yang terkait dengan supervisi pendidikan.
  3. Realitas supervisi yang terjadi lembaga pendidikan Islam atau dapat dikatakan kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) lembaga pendidikan Islam.
  4. Kaidah-kaidah supervisi pendidikan secara umum.

Cara mengkonstruk supervisi pendidikan Islam bisa dilakukan dengan cara: pertama, cara deduksi, yakni dimulai dari teks wahyu atau sabda rasul (hadits) kemudian ditafsirkan secara kontekstual, dari sini muncul teori supervisi pendidikan Islam pada tingkat filsafat, teori itu dieksperimenkan, maka selanjutnya muncul teori supervisi pendidikan Islam tingkat ilmu. Apabila hal tersebut dioperasionalkan, maka dapat diperoleh kaidah praktis supervisi pendidikan Islam. Kedua, cara induksi konsultasi, dengan cara seseorang mengambil teori supervisi pendidikan yang sudah ada, kemudian dikonsultasikan dengan wahyu dan kultur, yang tidak sekedar bersifat justifikasi, jika tidak berlawanan, maka teori tersebut didaftarkan di dalam khazanah ilmu supervisi pendidikan Islam, yang termasuk bagian manajemen pendidikan Islam.

C.     Prinsip Supervisi Pendidikan Islam

Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan Islam adalah bagaimana mengubah pola pikir guru yang pasif dan menjadi aktif. Dan juga mengubah pola supervisor yang otokratif dan korektif menjadi konstruktif dan kreatif. Untuk itu, supervisi harus dilaksanakan berdasarkan fakta dan data yang obyektif. Maka dari itu, dalam supervisi terdapat prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Sahertian, sebagai berikut:

Prinsip ilmiah (scientific)

Prinsip ilmiah mengandung ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kegiatan supervisi yang dilaksanakan berdasarkan data obyektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.
  2. Untuk memperoleh data, perlu diterapkan alat perekam data, seperti angket, observasi, percakapan pribadi dan seterusnya.
  3. Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.

Prinsip demokratis

Servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atasan dan bawahan, tapi berdasarkan rasa kesejawatan.

Prinsip kerja sama

Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi sharing of idea, sharing of experience, memberi support, mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

Prinsip konstruktif dan kreatif

Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitas kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan melalui cara menakutkan.

Pada intinya, seorang supervisor harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip supervisi tersebut, agar supervisi dapat berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan kualitas pendidikan, terutama proses belajar mengajar dapat lebih ditingkatkan.

Prinsip-prinsip supervisi dari Wiles dan Lovel, yang dikutip Maunah,

  1. Supervisi, sebagai bagian integral dari program pendidikan, merupakan bentuk kooperatif dan tipe pelayanan yang berbentuk tim.
  2. Semua guru membutuhkan dan diarahkan pada pentingnya peran pengawas.
  3. Supervisi harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan individu pelaksanaan sekolah.
  4. Supervisi harus mampu memberikan keuntungan bagi personil yang telah ditentukan (definitif).
  5. Supervisi harus mampu memberikan kejelasan sasaran dan tujuan pembelajaran dan harus menunjukkan pencapaian sasaran dan tujuan tersebut.
  6. Supervisi harus dapat membantu meningkatkan sikap dan hubungan seluruh anggota (personil) sekolah, dan harus dapat membantu mengembangkan kesan positif (nilai) masyarakat.
  7. Supervisi harus dapat membimbing organisasi dan administrasi yang baik terhadap kegiatan ko kurikuler siswa.
  8. Tanggung jawab terhadap peningkatan program supervisi sekolah tergantung pada guru di kelas masing-masing (aplikasinya).
  9. Harus tersedia cukup dana untuk kegiatan supervisi dalam anggaran tahunan.
  10. Perencanaan tujuan jangka pendek dan jangka panjang supervisi merupakan hal yang penting. Segala hal yang mempengaruhi termasuk personil yang telah ditunjuk/ditentukan, perhimpunan yang profesional, komunitas sekolah, dan siswa harus berpartisipasi dalam berbagai bentuk dan tingkatanya dalam rangka perencanaan program supervisi.
  11. Program supervisi pada seluruh level di bawah program yang ada di komunitas lembaga pendidikan tinggi harus memanfaatkan bantuan konsultan dari kantor-kantor pemerintah, Departemen Pendidikan Negeri, Sekolah Tinggi dan Universitas serta dari Departemen lokal, daerah, dan Nasional.
  12. Supervisi harus dapat membantu menginterpretasikan (menjelaskan) serta menerapkan temuan hasil penelitian bidang pendidikan yang terkini.
  13. Keefektifan program supervisi harus dievaluasi oleh: baik peserta (yang disupervisi) maupun konsultan luar.

Sedangkan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya supervisi atau cepat lambatnya hasil supervisi adalah

  1. Lingkungan masyarakat tempat sekolah itu berada.
  2. Besar kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah
  3. Tingkatan dan jenis sekolah
  4. Keadaan guru dan pegawai-pegawai yang tersedia
  5. Kecakapan dan keahlian kepala sekolah itu sendiri.

Setelah penulis merenung, terdapat beberapa prinsip supervisi pendidikan Islam yang harus diikuti, yaitu:

  1. Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan koopertif. (supervisor harus menghargai kepribadian guru, memberi kesempatan untuk melahirkan pikiran, perasaan dan pendapatnya, keputusan diambil dengan jalan musyawarah, tujuan yang dicapai adalah tujuan bersama)
  2. Supervisi harus kreatif dan konstruktif. (supervisor harus menyadari bahwa setiap guru pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, hendaklah memberi dorongan kepada guru-guru untuk mengembangkan kelebihan-kelebihan tersebut dan membicarakan kekurangan-kekurangan yang bersangkutan untuk memperbaikinya.)
  3. Supervisi harus scientific dan efektif. (harus mendengarkan masalah yang dihadapi guru dengan penuh perhatian, mengumpulkan data, kemudian mengolahnya dan akhirnya menarik kesimpulan serta mengambil keputusan. Supervisi membantu guru-guru dalam mempersiapkan pelajaran yang diberikan, dalam menggunakan alat pelajaran, serta menyusun tes bagi siswa secara efektif, mengkoordinir teori dan praktik sambil menolong guru-guru mengerti teori supertvisor, menolong guru-guru, setia memperbaiki metode dan cara penggunaanya, sehingga teori itu dapat menjadi efektif).
  4. Supervisi harus dapat memberi perasaan aman kepada guru-guru (hendaknya memupuk rasa aman pada guru-guru sehingga mereka tidak tertekan serta bebasa untuk mengeluarkan pernyataan).
  5. Supervisi harus berdasarkan kenyataan.( supervisi dilaksanakan atas dasar keadaan yang sebenarnya yang dapat dilihat, disaksikan dan diketahui).
  6. Supervisi harus memberi kesempatan mengadakan self evalution.(mendatangkan manfaat yang mantab, untuk mengembangkan dirinya sendiri dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahanya demi kepentingan anak didiknya)

Dalam konteks pendidikan Islam, supervisi juga harus mempunyai prinsip yang sesuai dengan kaidah-kaidah Islam, yaitu kaidah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits. Berikut ini salah satu prinsip supervisi pendidikan Islam:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang raja adalah pemimpin bagi rakyatnya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi anggota keluarganya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap mereka. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban terhadapa apa yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin bagi harta majikannya, dan dia juga akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Dan ingat setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban terhadap kepemimpinannya.

Hadits yang penulis utarakan tersebut adalah hadits yang menyatakan bahwa setiap manusia itu adalah pemimpin, entah bagi keluarganya, masyarakatnya, lembaganya atau bahkan dirinya sendiri. Maka dari itu seorang manusia itu harus adil pada dirinya sendiri dan juga jujur pada dirinya tersebut. Tanpa keadilan dan kejujuran itu maka manusia akan jatuh kedalam jurang kehinaan (asfala al-safilin). Dalam sebuah lembaga pendidikan Islam seorang pemimpin yaitu kepala madrasah atau sederajat harus bersifat adil dan jujur kepada siapapun juga dan dalam hal apapun juga. Di samping itu, pemimpin juga harus bertanggung jawab, dan salah satu tanggung jawab tersebut diimplementasikan dengan melaksanakan supervisi dengan baik.

Dari uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa prinsip supervisi pendidikan Islam adalah prinsip umum supervisi pendidikan ditambah jujur, amanah, menjunjung tinggi keadilan dan tanggung jawab. Tanpa adanya kaidah tambahan tersebut maka ciri khas supervisi pendidikan Islam tidak akan tampak lagi dan imbasnya akan sama dengan supervisi pendidikan.

D.     Peranan Supervisi Pendidikan Islam

Supervisi pendidikan Islam mempunyai peranan penting sebagai berikut:

  1. Membimbing guru agar dapat memahami lebih jelas masalah atau persoalan-persoalan dan kebutuhan murid, serta membantu guru dalam mengatasi suatu persoalan.
  2. Membantu guru dalam mengatasi kesukaran belajar.
  3. Memberi bimbingan yang bijaksana terhadap guru baru dengan orientasi.
  4. Membantu guru memperoleh kecakapan mengajar yang lebih baik dengan menggunakan berbagai metode mengajar yang sesuai dengan sifat materinya.
  5. Membantu guru memperkaya pengalaman belajar, sehingga pengajaran dapat menggembirakan anak didik.
  6. Membantu guru mengerti makna dari alat-alat pelayanan.
  7. Membina moral kelompok, menumbuhkan moral yang tinggi dalam pelaksanaan tugas sekolah pada seluruh staf.
  8. Memberi pelayanan kepada guru agar dapat menggunakan seluruh kemampuanya dalam melaksanakan tugas.
  9. Memberikan pimpinan yang efektif dan demokratis.

Peranan supervisor yang hakiki ialah memberi support (supporting), membantu (assisting) dan mengikut sertakan (sharing). Peranan supervisor juga menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas, dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggungjawab. Suasana yang demikian hanya dapat terjadi bila kepemimpinan dari supervisor itu bercorak demokratis bukan otokratis atau laissez faire. Kebanyakan guru seolah-olah mengalami kelumpuhan tanpa inisiatif dan daya kreatif karena supervisor dalam meletakkan interaksi dan interelasi, yang bersifat mematikan kemungkinan-kemungkinan perkembangan.

Kepala sekolah sebagai supervisor mempunyai peran dan tanggung jawab memantau, membina, dan memperbaiki proses belajar mengajar di kelas atau di sekolah. Supervisi sebagai upaya pemberian bantuan kepada guru untuk mewujudkan situasi belajar yang lebih baik. Tanggung jawab ini dikenal dan dikategorikan sebagai tanggung jawab supervisi. Sebagai unsur pimpinan dalam sistem organisasi persekolahan, kepala sekolah berhadapan langsung dengan unsur pelaksana proses belajar mengajar, yaitu guru. Hal ini terkandung makna bahwa kepala sekolah sebagai supervisor mempunyai tugas  membantu guru baik secara individual atau kelompok untuk memperbaiki pengajaran dan kurikulum, serta aspek pengembangan lainnya.

Kepala sekolah sebagai supervisor amat berperan dalam menentukan pelaksanan supervisi di sekolah. Supervisi adalah suatu proses pembimbingan dari pihak atasan kepada guru-guru dan para personel sekolah lainnya yang langsung menangani belajar siswa, untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar para siswa dapat belajar secara efektif sehingga prestasi belajar semakin meningkat. Melalui supervisi, diharapkan seorang guru dapat : (1) bekerja keras dan demokratis, (2) ramah dan suka mendengarkan orang lain, (3) sabar, (4) luas pandangan dan menaruh perhatian kepada orang lain, (5) penampilan pribadi yang menyenangkan dan sopan santun, (6) jujur, (7) suka humor, (8) kemampuan kerja yang baik dan konsisten, (9) menaruh perhatian pada problem siswa, (10) fleksibel dalam cara mengajar, (11) bisa menggunakan pujian dan mau memperbaiki, (12) pandai dalam mengajar pada bidang studi.

Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengen­dalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupa­kan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.

Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikannya khususnya guru, disebut supervisi klinis, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang efektif. Salah satu supervisi akademik yang populer adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut: Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kepen­didikan.

Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk mening­katkan suatu keadaan dan memecahkan suatu masalah. Kepala sekolah sebagai supervisor harus diwujudkan dalam kemampuan menyusun, dan melaksanakan program supervisi pendidikan, serta memanfaatkan hasilnya. Kemam­puan menyusun program supervisi pendidikan harus diwujud­kan dalam penyusunan program supervisi kelas, pengemba­ngan program supervisi untuk kegiatan ekstra kurikuler, pengembangan program supervisi perpustakaan, laborato­rium, dan ujian.

Kemampuan melaksanakan program super­visi pendidikan harus diwujudkan dalam pelaksanaan program supervisi klinis, program supervisi nonklinis, dan program supervisi kegiatan ekstra kurikuler. Sedangkan kemampuan memanfaatkan hasil supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam pemanfaatan hasil supervisi untuk me­ningkatkan kinerja tenaga kependidikan, dan pemanfaatan hasil supervisi untuk mengembangkan sekolah.

Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah sebagai supervisor harus memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsul­tatif, kolegial dan bukan hirarkhis, (2) dilaksanakan secara demokratis, (3) berpusat pada tenaga kependidikan (guru), (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru), (5) merupakan bantuan profesional.

Sehubungan dengan supervisi, bahwa kegiatan utama  di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efesiensi dan efektifitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu peran dan tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor (melakukan pengawasan) yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan dalam hal ini adalah guru. Mulyasa mengatakan bahwa pengawasan merupakan upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan, merekam, memberikan penjelasan, petunujuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat, serta memperbaiki kesalahan.

Kepala sekolah sebagai supervisor dalam menjalankan tugasnya, dapat  dilakukan secara efektif, antara lain; pertama, diskusi kelompok. Diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama guru-guru dan bisa juga melibatkan tenaga administrasi untuk memecahkan berbagai masalah di sekolah, dalam mencapai suatu keputusan. Kedua, kunjungan kelas. Kunjungan kelas dapat dilakukan oleh kepala sekolah sebagai salah satu teknik untuk mengamati kegiatan pembelajaran secara langsung. Kunjungan kelas merupakan teknik yang sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi secara langsung tentang berbagai hal yang berkaitan dengan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokoknya mengajar, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran, media yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran, keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, serta mengetahui secara langsung kemampuan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Ketiga, pembicaraan individual. Pembicaraan individual merupakan teknik bimbingan dan konseling yang dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk memberikan konseling kepada guru, baik berkaitan dengan kegiatan pembelajaran maupun masalah yang menyangkut profesionalisme  guru. Keempat, simulasi pembelajaran. Simulasi pembelajaran merupakan teknik supervisi berbentuk demonstrasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah, sehingga guru dapat menganalisa penampilan yang diamatinya sebagai instropeksi diri, walaupun sebenarnya tidak ada cara mengajar yang paling baik.

Peter F Oliva dalam bukunya: supervisory for today’s school; peranan supervisor sebagai:

1.Koordinator ia dapat mengkoordinasi program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru. (ex. Mapel yang dibina berbagai guru).

2.Konsultan ia dapat memberi bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok. (ex. Kesulitan dalam mengatasi anak yang sulit belajar).

3.Pemimpin kelompok, ia dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok, pengembangan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru-guru secara bersama. Sebagai pemimpin ia dapat mengembangkan ketrampilan dan kiat-kiat dalam bekerja untuk kelompok (working with the group) dan bekerja melalui kelompok (working trough the group).

4.Evaluator ia dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan. Ia juga belajar menatap dirinya sendiri. Ia dibantu dalam merefleksi dirinya, yaitu konsep dirinya (self concept), ide/cita-cita dirinya (self idea), realitas dirinya (self reality).

Supervisi dapat berfungsi sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu: perbaikan pembelajaran (guru-murid) dan peningkatan mutu pendidikan.

Selain itu, supervisi pendidikan Islam memiliki peranan sebagai berikut:

1.Dalam peranan kepemimpinan:

  1. Meningkatkan semangat kerja kepala sekolah/madrasah, guru dan seluruh staf sekolah/madrasah, pesantren yang berada di bawah tanggung jawab dan kewenanganya.
  2. Mendorong aktifitas dan kreatifitas serta dedikasi seluruh personil sekolah.
  3. Mendorong terciptanya suasana kondusif di dalam dan di luar lingkungan sekolah.
  4. Menampung, melayani dan mengakomodir segala macam keluhan aparat kependidikan di sekolah tersebut dan berusaha membantu pemecahanya.
  5. Membantu mengembangkan kerja sama dan kemitraan kerja dengan semua unsure terkait.
  6. Membantu mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.
  7. Membimbing dan mengarahkan seluruh personil sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran pada sekolah tersebut.
  8. Menampilkan sikap keteladanan sebagai seorang supervisor dengan berpedoman , “Shidiq,Tabligh,Amanah dan Fathonah”. Juga berpedoman pada filsafat pendidikan, yaitu: “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madio Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.
  9. Menampilkan sikap seorang pemimpin yang demokratis.
  10. Harus memiliki komitmen yang tinggi bahwa kepala sekolah, guru dan seluruh staf sekolah bukan bawahan, akan tetapi merupakan mitra kerja tersebut.

2.Dalam melaksanakan peranan pengawasan, seorang supervisor hendaknya memperhatikan  hal-hal berikut:

  1. Mengamati dengan sungguh-sungguh pelaksanaan tugas kepala sekolah, guru dan seluruh staf sekolah sehingga diketahui dengan jelas apakah tugas yang dilaksanakan itu sesuai dengan rencana atau tidak.
  2. Memantau perkembangan pendidikan dan pengajaran di sekolah yang menjadi tanggung jawab kewenanganya, termasuk kemajuan belajar siswa pada sekolah yang bersangkutan.
  3. Mengawasi pelaksanaan administrasi sekolah secara keseluruhan yang didalamnya terdapat kegiatan administrasi personil, administrasi materiil, administrasi kurikulum, dsb. nya.
  4. Mengendalikan penggunaan dan pendistribusian serta pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan yang ada pada sekolah tersebut.
  5. Mengawasi dengan seksama berbagai kegiatan yang dilaksanakan di sekolah, terutama dalam rangka melaksanakan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
  6. Disamping mengawasi, para supervisor juga melaksanakan fungsi penilaian dan pembinaan terhadap berbagai aspek yang menjadi tugas pokoknya.

3.Dalam melaksanakan peranan pelaksana, seorang supervisor hendaknya memperhatikan kegiatan-kegiatan berikut:

  1. Melaksanakan tugas-tugas supervise/pengawasan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  2. Melaporkan hasil supervise/pengawasan kepada pejabat yang berwenang untuk dianalisis dan ditindaklanjuti, dan sebagainya.
  3. Melaporkan hasil supervise/pengawasan kepada pejabat yang berwenang untuk dianalisis  dan ditindaklanjuti, dan sebagainya.

E.     Sasaran Supervisi Pendidikan Islam

Sasaran supervisi pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

  1. Supervisi terhadap kegiatan yang bersifat teknis educatif : yaitu, meliputi kurikulum, proses belajar mengajar dan evaluasi/penilaian.
  2. Supervisi terhadap kegiatan yang bersifat teknis administraytif: yaitu, meliputi administrasi personal, administrasi material, administrasi keuangan, administrasi laboratorium, perpustakaan sekolah/madrasah/pesantren dan lain-lain.

Supervisi ditujukan kepada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar. Yang dimaksudkan dengan situasi belajar mengajar ialah situasi di mana terjadi proses interaksi antara guru dan murid ustadz dengan santri dalam usaha mencapai  tujuan belajar yang telah ditentukan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: