KEDOKTERAN ISLAM


KEDOKTERAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 Pendahuluan

Cikal bakal ilmu medis sudah ada sejak dahulu kala. Sejumlah peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, Roma, Persia, India, serta Cina sudah mulai mengembangkan dasar-dasar ilmu kedokteran dengan cara sederhana. Ilmu kedokteran Islam lahir sebagai pembauran ilmu kedokteran Yunani tradisi Hipokrates (460-37 SM, tabib Yunani yang dianggap bapak ilmu kedokteran) telah menggunakan 200 jenis tumbuhan. Selanjutnya, seorang ahli kimia dari Swedia Pracelsus (1541-1593 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaaan obat diperlukan pengetahuan kandungan zat aktifnya. Dokter dari Rumania, Dewey Sokoriyus yang berasal dari Yunani muncul pada abad pertama Masehi dan menghasilkan karya buku “Kitab al Hasyaaisy fil al thib” sebuah kitab yang berisi data 1000 jenis rumput jerami, buah, pohon, tembaga, serta manfaat dan kandungannya dan tempat bahan tersebut berada  Tradisi Galen (Jalinus) dengan teori serta praktik bangsa Persia dan India dalam konteks umum Islam. Oleh karena itu, ilmu ini berifat sintetis, yakni menggabungkan pendekatan observasi aliran Hipokrates yang konkret dengan metode teoritis dan folosofis dari Galen, serta menambahnya dengan teori dan pengalaman para dokter Persia dan India, khususnya dalam farmakologi.

Akar Sejarah Kedokteran Islam

Untuk mencari akar sejarah kedokteran Islam tentu bukanlah masalah yang mudah karena dari beberapa referensi menunjukan bahwa kedokteran dalam Islam secara murni “tidak ada”. Pemikiran dan ilmu kedokteran dalam Islam semua hampir I pengaruhi oleh pemikiran Yunani. Pemikiran Yunani mempengaruhi budaya Muslim Arab baik secara tidak langsung dengan jalan penyebaran maupun secara langsung melalui tempat di mana ia sangat dihormati oleh kaum terpelajar. Pengaruh ini tidak hanya pada ilmu kedokteran namun hampir dalam semua ilmu rasional (kimia, fisika, biologi matematika) adalah hasil dari penerjemahan dari bahasa Yunani. Kajian filsafat terhadap berbagai susunan benda kosmis (jagat raya) merupakan latar belakang filosofis ilmu kedokteran Islam. Meskipun kedokteran Islam berasal dari warisan Yunani, Persia (Iran), dan India, semua warisan itu “diislamkan” sehingga merasuk ke dalam struktur umum peradaban Islam.

Beberapa karya dalam ilmu kedokteran Orang Yunani Kuno mempercayai Asclepius sebagai dewa kesehatan. Pada era ini, menurut penulis Canterbury Tales, Geoffrey Chaucer, di Yunani telah muncul beberapa dokter atau tabib terkemuka. Tokoh Yunani yang banyak berkontribusi mengembangkan ilmu kedokteran adalah Hippocrates atau `Ypocras’ (5-4 SM). Dia adalah tabib Yunani yang menulis dasar-dasar pengobatan.

Selain itu, ada juga nama Rufus of Ephesus (1 M) di Asia Minor. Ia adalah dokter yang berhasil menyusun lebih dari 60 risalat ilmu kedokteran Yunani. Dunia juga mengenal Dioscorides. Dia adalah penulis risalat pokok-pokok kedokteran yang menjadi dasar pembentukan farmasi selama beberapa abad. Dokter asal Yunani lainnya yang paling berpengaruh adalah Galen (2 M).

Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 M membuahkan hasil. Pada masa ini, sarjana dari Syiria dan Persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan litelatur dari Yunani dan Syiria kedalam bahasa Arab. Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah RS (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru. Hal senada juga disebutkan oleh Arkoun bahwa “Sebenarnya aktivitas intelektual yang, setelah penaklukan Alexander , telah berkembang di Timur Tengah, mulai menemukan ekspresi dalam bahasa Arab pada abad ke- 9 dan ke -10. Sebelum Islam datang, pusat-pusat besar kehidupan intelektual di dalam bahasa Yunani dan bahasa Syiria pada umumnya dimotori oleh orang Kristen yang di sini disebutkan beberapa diantaranya yaitu : Edessa, Nisibe, Seleucia-Ctesiphon, Jundishapur, Antioch dan Harran.”

Buah pikiran para tabib di era Yunani Kuno secara gencar dialihbahasakan. Adalah Khalifah Al-Ma’mun dari Diansti Abbasiyah yang mendorong para sarjana untuk berlomba-lomba menerjemahkan literatur penting ke dalam bahasa Arab. Khalifah pun menawarkan bayaran yang sangat tinggi, berupa emas, bagi para sarjana yang bersedia untuk menerjemahkan karya-karya kuno.

Sejumlah sarjana terkemuka ikut ambil bagian dalam proses transfer pengetahuan itu. Tercatat sejumlah tokoh seperti, Jurjis Ibn-Bakhtisliu, Yuhanna Ibn Masawaya, serta Hunain Ibn Ishak ikut menerjemahkan literatur kuno. Selain melibatkan sarjana-sarjana Islam, tak sedikit pula dari para penerjemahan itu yang beragama Kristen. Mereka diperlakukan secara terhormat oleh penguasa Muslim.

Sejauh berurusan dengan sains kedokteran dan farmakologi, dilapangan ini dan terkait, capaian-capaian sains Islam tidak kalah menakjubkan jika dengan capaian-capaian dalam matematika dan astronomi. Sekali lagi, memanfaatkan sumber-sumber Yunani, Iran dan India, umat Islam menyatu padukan tradisi-tradisi Hiprokratik dan Galenik dengan unsur-unsur Iran dan India guna melahirkan satu aliran kedokteran tesendiri yang yang bertahan sebagai madzab yang hidup hingga dewasa ini diberbagai kawasan Asia. Ilmu kedokteran Islam memadukan suatu pendekatan filosofi yang didasrkan pada prinsip-prinsip kosmologikal yang mendominasi raga manusia yang dipandang sebagai mikrokosmis, dengan pendekatan klinis dan observasional. Dokter-dokter muslim menekankan pengobatan preventif, khususnya diet dan melakukan telaah yang ekstensif mengenai perbandingan antara kesehatan  psikologikal dan fisikal.

Selama abad keemasan ilmu pengetahuan Muslim, para cendekiawan Persia unggul dalam asimmilasi dan pengembangan lebih lanjut dari ilmu kedokteran Islam adalah jelas. Ilmu pengetahuan kedokteran diterima dai tangan orang-orang Kristen dan Sabian menjad milik para cendekiawan Muslim, kebanyakan Persia.

Ilmu kedokteran Islam merupakan salah satu bagian peradaban yang paling masyhur dan dikenal. Bukan hanya selama Abad pertengahan, dokter dan kedokteran Islam dikaji dengan sungguh-sungguh di Barat, tetapi juga pada masa Renaisans dan Abad 17. Barulah pada abad ke 19 pengkajian kedokteran Islam dihapus dari kurikulum sekolah dan perguruan di seluruh dunia Barat. Meskipun kedokteran Barat modern sudah berkembang pesat, di Timur ilmu kedokteran Islam masih terus dipelajari dan dipraktekkan.

Aliran kedokteran (At-Tibb) ini sangat berarti bukan karena nilai intrinsiknya, tetapi juga karena selalu berkaitan erat dengan sains lainya, terutama dengan filsafat. Orang bijak atau hakim, yang sepanjang sejarah Islam merupakan tokoh sentral dalam pengembangan dan penyebaran sains biasanya juga seorang dokter. Banyak diantara filsuf dan ilmuwan terkenal Islam, seperti al Kindi, al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd juga seorang dokter.

Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam sekolah Jindi Shapur. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang mendirikan kota Baghdad mengangkat Judis Ibn Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon.

Al-Razi (841-926 M) dikenal di Barat dengan nama Razes. Pemilik nama lengkap Abu-Bakr Mohammaed Ibn-Zakaria Al-Razi itu adalah dokter istana Pangerang Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khorosan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi khalifah. Salah satu buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul ‘Al-Mansuri’ (Liber Al-Mansofis).

Ia menyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul ‘Al-Murshid’. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah ‘Al-Hawi’. Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar air.

Tokoh kedokteran lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Sebagain besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah.

Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, ‘Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif’ – ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada abad pertengahan. Buku itu digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al-Zahrawi menerapkan cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga menggunakan alkohol dan lilin untuk mengentikan pendarahan dari tengkorak selama membedah tengkorak. Al-Zahrawi juga menulis buku tentang tentang operasi gigi.

Dokter Muslim yang juga sangat termasyhur adalah Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M). Salah satu kitab kedokteran fenomela yang berhasil ditulisnya adalah Al-Qanon fi Al- Tibb atau Canon of Medicine. Kitab itu menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang berisi satu juta kata. Hingga abad ke-17, kitab itu masih menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa.

Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rusdy atau Averroes (1126-1198 M). Dokter kelahiran Granada, Spanyol itu sangat dikagumi sarjana di di Eropa. Kontribusinya dalam dunia kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul ‘Al- Kulliyat fi Al-Tibb’ (Colliyet). Buku itu berisi ramngkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul ‘Al-Taisir’ mengupas praktik-praktik kedokteran.

Nama dokter Muslim lainnya yang termasyhur adalah Ibnu El-Nafis (1208 – 1288 M). Ia terlahir di awal era meredupnya perkembangan kedokteran Islam. Ibnu El-Nafis sempat menjadi kepala RS Al-Mansuri di Kairo. Sejumlah buku kedokteran ditulisnya, salahsatunya yang tekenal adalah ‘Mujaz Al-Qanun’. Buku itu berisi kritik dan penmbahan atas kitab yang ditulis Ibnu Sina.

Beberapa nama dokter Muslim terkemuka yang juga mengembangkan ilmu kedokteran antara lain; Ibnu Wafid Al-Lakhm, seorang dokter yang terkemuka di Spanyol; Ibnu Tufails tabib yang hidup sekitar tahun 1100-1185 M; dan Al-Ghafiqi, seorang tabib yang mengoleksi tumbuh-tumbuhan dari Spanyol dan Afrika.

Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami masa stagnasi. Perlahan kemudian surut dan mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad pertengahan.

Penghubung organik yang paling penting antara tradisi kedokteran Islam dan tradisi kedokteran yang mendahuluinya adalah perguruan di Jundishapur yang terletak di dekat kota Persia (sekarang ahwaz). Kota ini oleh raja Persia, Shapur I, pada abad ke 3 dibangun kembali dengan maksud menjadikannya pusat ilmu. Akhirnya, Jundishapur menjadi pusat ilmu, khususnya ilmu kedokteran Hipokrates. Kemudian, raja Shapur II mendirikan universitas reguler yang mempertemukan berbagai aliran kedokteran. Di sinilah para dokter aliran Nestorian mengajarkan dan mempraktekan kedokteran Yunani. Sementara, pemikiran Zoroaster dan praktek kedokteran loka Persia terus memberikan pengaruh yang besar. Di samping itu, pengaruh kedokteran India berangsur-angsur mulai terasa di Jundishapur, khususnya selama abad ke-6 dibawah pemerintahan Ansyrwan. Dengan demikian perguruan Jundishapur menjadi tempat pertemuan kedokteran Yunani, Persia dan India. Perguruan ini berada pada puncaknya ketika kekuasaan Islam sedang mengembangkan sayapnya.

Sebelum wilayah Persia berada di bawah kekuasaan Islam. Perguruan Jundishapur itu menjadi jembatan dalam pengembangan antara kedokteran Islam dan pra-islam. Di samping, Jundishapur, kedokteran Yunani juga dipraktikan di Iskandariah, pusat terbesar sains Helenistik (masa penyebaran paham yang berasal dari kebudayaan Yunani Kuno yang disebut Helenis). Ketika Islam menaklukan Mesir abad ke-1 H/ke-7 M, ada indikasi bahwa kedokteran Helenistik itu masih hidup. Dengan demikian, Ikandariah juga merupakan tempat para ilmuwan muslim berkenalan dengan kedokteran Yunani.

Orang Arab sendiri juga memiliki ilmu kedokteran sederhana. Dengan datangya Islam, mereka tidak mengalami perubahan langsung. Bahkan kebanyakan mereka kurang percaya terhadap ilmu kedokteran Jundishapur dan Iskandariyah. Dokter Arab pertama yang belajar kedokteran di Jundishapur antara lain Haris bin Kaladah, orang sezaman Rosulullah. Namun bagi orang arab yang lebih besar artinya adalah ucapan Rosulullah tentang kedokteran, higiene, diet dan sebagainya. Ucapan itu diterima dan diikuti dengan sepenuh hati dengan kepercayaan yang bulat yang menjadi keyakinan penuh dan ciri generasi muslim awal. Hal ini disebabkab Islam sebagai petunjuk bagi segala aspek kehidupan manusia juga menaruh perhatian pada prinsip umum kesehatan.

Banyak ucapan Rosulullah yang berkenaan dengan kesehatan, penyakit, higiene dan masalah lain yang berhubungan dengan bidang kedokteran. Penyakit seperti kusta, radang selaput dada (pleurisia),  dan radang mata (ophtalmia) disebut-sebut dalam hadits nabi itu dan pengobatannya dianjurkan, misalnya dengan membalutkannya, membakarnya dan menggunakan madu. Kumpulan hadits Nabi tentang medis ini disusun secara sistematis oleh penulis muslim kemudian, lalu di kenal sebagai kedokteran Rasulullah (at-Tibb an Nabawi). Kitab ini merupakan buku pertama yang dipelajari mahasiswa kedokteran sebelum mereka memulai menguasai ilmu kedokteran yang biasa. Buku ini selalu memegang peranan penting dalam membentuk kerangka pemikiran calon dokter dalam studi kedokteran.

Pengaruh pertama kedokteran Jundishapur bagi kalangan Islam terjadi pada tahun 148H/765M, ketika khalifah Abbasiyah kedua, Abu Ja`far al Mansur (pendiri kota Baghdad), meminta para dokter Jundishapur untuk mengobatinya dari penyakit dispepsia manahun (peradangan selaput lendir lambung menahun). Dokter Jirjis Bukhtyishui (kepala rumah sakit Jundishapur) di jemput ke istananya. Keberhasilan dokter itu dalam menyembuhkan khalifah merupakan awal proses yang akhirnya mengalihkan pusat kedokteran Jundishapur ke Baghdad dan meletakan dasar bagi pemunculan dokter muslim yang terkenal. Rumah sakit memegang perenan penting sebagai lembaga ilmu, karena sebagian besar pengajaran ilmu kedokteran dilakukan di rumah sakit, sementara aspek teoritisnya di bahas di masjid dan madrasah. Namun, kebanyakan rumah sakit mempunyai perpustakaan dan sekolah yang khusus di rancang untuk tujuan tersebut. Berdirinya pusat kedokteran dari bahasa Yunani, Suriah, Persia dan India ke dalam bahasa arab serta dilakukan secara besar-besaran dengan penyempurnaanya.

Kegiatan penerjemahan ilmu kedokteran ke dalam bahasa arab merupakan pangkal munculnya tokoh kedokteran Islam. Selanjutnya Islam masuk dengan motivasi yang kuat dalam ilmu pengeahuan, khususnya dunia pengobatan. Al Dinury yang dikenal sebagai “bapak nabati” bangsa Arab menghasilkan karangan tentang tumbuh-tumbuhan (nabati). Sedangkan ilmuwan arab Ibnu Sina (980-1037 M) sorang tabib sekaligus filosof dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Islam”, berhasil melahirkan karya “al Qomus fil al Thib” tentang metode pengumpulan penyimpanan dan khasiat tumbuhan obat. Dan pada abad pertengahan karya-karya dari Ibnu Sina dalam bentuk terjemahan di pakai sebagai teks di lembaga-lembaga pendidikan tinggi sampai pertengahan abad ke 17.

Pada abad ke- 10 dan ke- 11 merupakan masa keemasan ilmu kedokteran pada masa ini. Ahli kedokteran Islam pada mulanya mendirikan tempat penelitian dan praktek dengan alat ilmu Yunani. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka mendapatkan temuan dalam masalah kedokteran yang orsinil  (asli). Kitab karangan mereka jauh lebih maju dari pada kitab terjemahan. Kalau pada abad ke- 8 dan ke- 9 masih menjadi murid, maka pada abad ke- 10 dan ke- 11 orang Islam sudah menjadi guru bagi orang Kristen dan Yahudi. Buku bacaan yang sebelumnya yang berasal dari kitab terjemahan sudah diganti dengan bermacam-macam ensiklopedi ilmu kedokteran yang di tulis oleh sarjana muslim sendiri. Pengarang besar pertama kedokteran Islam, Ali bin Rabban at-Tabari, menulis Firdaus al Hikmah (taman Hikmah) pada tahun 850. Karya ini mempunyai nilai khusus dalam bidang patologi, farakologi, dan diet serta menggambarkan sifat sintetis aliran kedokteran baru yang mulai menjelma waktu itu.

Setelah at-Tabari, lahir ratusan dokter dan ahli kedokteran dalam Islam, seperti ar-Razi (di barat dikenal dengan nama Rhazes). Ali bin al-Abbas (dalam bahasa Latin dikenal dengan Hali Abbas), Ibnu Sina (di barat dikenal dengan nama Avicena), Jabir bin Hayyan,Al Kindi, dan al Farabi. Dengan demikian mulai dari Baghdad, Mesir, Suriah, Persia (Iran), Spanyol, Afrika Utara, sampai India, banyak sekali tabib yang muncul pada masa kemajuan Islam.

Dalam bidang materia medica (pengobatan), Ibnu Sina menemukan banyak bahan nabati baru seperti Zanthoxyllum budrunga, dimana tumbuh-tumbuhan ini banyak membantu dalam mengobati radang selaput otak (meningitis).

Ibnu Sina juga menemukan teori sistem peredaran darah manusia untuk yang pertama kalinya, 600 tahun sebelum William Harvey akhirnya juga mengemukakan teori ini yang sebenarnya hanya menyempurnakan teori dari Ibnu Sina.Beliau jugalah yang pertama kali mempraktekkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas dan kemudian menjahitnya.Tidak berhenti hanya sampai di situ, beliau juga terkenal dengan dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi

Penutup

Setelah melihat perkembangan dan silsilah ilmu kedokteran dalam islam maka, islam sebagai agama merupakan sumber ilmu pengetahuan. Anggapan orang Barat bahwa islam hanya sebagai agama teosentris yang mengurus tentang hubungan manusia dan Tuhannya tidaklah benar, karena al-Qur`an sebagai sumber pengetahuan. Dengan banyak mempelajari ilmu pengetahuan ternyata islam adalah sumber pengetahuan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: