ISLAM DI SISILIA


ISLAM DI SISILIA

(Sejarah Perkembangan Peradaban Islam di Sisilia)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Sisilia adalah sebuah pulau di laut Tengah, letaknya berada di sebelah selatan semenanjung Italia, dipisahkan oleh selat Messinia. Pulau ini bentunya menyerupai segitiga dengan luas 25.708 km persegi. Sebelah utara terdapat teluk Palermo dan sebelah timur terdapat teluk Catania. Pulau ini di sebelah barat dan selatannya adalah laut Mediterania, sebelah utara berbatasan dengan laut Turrhenian, dan sebelah timurnya berbatasan dengan laut Ionian. Pulau ini bergunung-gunung dan sangat indah, iklim yang baik, tanahnya subur dan penuh dengan kekayaan alam.

Pada awalnya, pulau ini dihuni oleh orang-orang yang menyeberang dari selatan Italia dan mereka disebut sebagai orang Siculi atau Sicani. Dari sinilah berkembang nama Sisilia. Pulau ini pernah dikuasai oleh umat Islam kurang lebih selama kurang lebih 2 abad lebih 3 per 4. Yang menarik dari Islam di Sisilia adalah penaklukan Sisilia tidak berjalan dengan mudah, seperti negara-negara lainnya. Penguasanya mengadakan perlawanan dengan gigih dan pantang menyerah. Namun akhirnya juga dapat dikuasai Islam, walaupun tidak begitu lama.

Peradaban Islam di Sisilia ini merupakan peradaban Islam yang cukup berkembang pesat. Memang pada mulanya, perkembangannya tidak begitu nampak, namun pada masa dinasti Kalbiyah, perkembangannya cukup signifikan dan perkembangan itu terjadi dalam berbagai bidang, baik ilmu pengetahuan maupun sosial ekonomi. Namun pada akhirnya kekuasaan Islam di Sisilia ini kembali direbut oleh orang-orang Normandia, yang pada mulanya masih menghormati orang Islam, namun lama-lama juga menyakiti orang Islam.

B.     Penaklukan Islam Di Sisilia

Sebelum dikuasai Islam, penguasaan pulau ini berpindah-pindah dalam beberapa abad, mulai dari Yunani, Cartage, Romawi, Vandals, dan bizantium kemudian dikuasai oleh muslimin. Usaha untuk menjadi wilayah Islam telah dimulai sejak Khalifah Utsman bin Affan dengan mengirim gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 652 M.

Pada waktu Muawiyah menjadi khalifah, ia juga menyerang pulau itu pada tahun 667 M. Pada zaman Abd Malik dan Al-Walid juga dilakukan serangan. Begitu juga gubernur Afrika Utara, Musa Ibn Nushair, setelah berhasil menguasai Andalusia juga menyerang Sisilia dibawah pimpinan anaknya Abdullah. Serangan demi serangan dilancarkan silih berganti, namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan, hanya berupa rampasan didapatkan.

Pasca dinasti Umayah runtuh, dan digantikan Abbasiyah. Di wilayah Tunisia dan sekitarnya, Abbasiyah menunjuk Ibrahim bin Al-Aglab sebagai amir umara. Pada tahun 827 M, Sisilia mengalami konflik internal. Euphemius, seorang komandan angkatan laut dan bangsawan Sisilia bersitegang dengan Kaisar Bizantium. Ia pergi ke Tunisia untuk mengundang kaum muslimin merebut pulau tersebut dari tangan Bizantium. Upaya penaklukan segera dijalankan. Aglabiyah segera mengutus Asad ibn al-Furath untuk memimpin 10000 pasukan dan 700 ekor kuda untuk menaklukkan pulau ini.

Pasukan Afrika berlabuh di Masara, kemudian bergerak ke Siracuse. Namun suatu wabah yang menyebar di perkemahan mereka memporak-porandakan dan sampai membunuh Asad. Pasukan itu kemudian mendapat kekuatan baru dari Spanyol dan pada tahun 830 M, Asbagh bin Wakil seorang barbar Andalus menundukkan Palermo dan sejak itu Palermo menjadi ibu kota pemerintahan Islam di Sisilia. Pemerintahan yang independent mulai dijalankan dan peradaban Islam mulai dirintis di pulau ini, sementara penaklukan masih terus berjalan. Abu Fihr Muhammad bin Abdullah menjadi penguasa dan penaklukan dilanjutkan oleh Ibrahim bin Abdullah yang berhasil menguasai Pantelaria, Eulian, Tindano dan wilayah Val di Mazzara.

Fadl bin Jafar menguasai Messina, Rogusa dan Lentini. Pada tahun 878 M, benteng Siracuse yang cukup kuat, menyerah setelah sembilan bulan pengepungan. Benteng itu dihancurkan pada masa kekuasaan Aghlabiyah. Pada tahun 902 M, seluruh Sisilia dikuasai oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Bani Aghlab. Maka berdirilah dinasti-dinasti pemerintahan Islam yang dimulai dari Aghlabiyah, Fathimiyah, dan Kalbiyah.

Penaklukan pulau Sisilia tersebut, walaupun pulaunya kecil tergolong penaklukan yang sangat sulit, karena berlangsung sekitar 75 tahun. Hal itu disebabkan karena rakyat dan penguasa Sisilia pantang menyerah dan selalu mengadakan perlawanan juga bertahan dibalik benteng-benteng yang mereka bangun sendiri. Penguasaan pulau ini berlangsung sedikit demi sedikit, sehingga semua pulau ini dapat dikuasai secara penuh.

C.     Penguasa Islam Di Sisilia

Di pulau Sisilia ini terdapat tiga penguasa Islam, yang dimulai dari dinasti Aglabiyah, kemudian dilanjutkan dinasti Fathimiyah dan diakhiri dengan dinasti Kalibiyah. Dinasti Kalbiyah ini mempunyai peradaban yang sangat maju, namun juga merupakan akhir dari peguasaan pemerintah Islam di Sisilia.

1.   Dinasti Aglabiyah

Dinasti Aglabiyah merupakan dinasti Islam yang berkedudukan di Afrika Utara, tepatnya di Tunisia. Dinasti ini merupakan bagian dari dinasti Abbasiyah yang berada di Afrika Utara. Dinasti ini dibangun atas dasar koalisi antara Invander Arab, suku Barbar yang telah menjadi muslim dan tentara budak yang berkulit hitam. Dinasti ini menaklukkan Sisilia membutuhkan waktu 75 tahun. Dinasti ini mempunyai armada laut yang kuat, maka dari itu mampu menaklukkan Sisilia.

Dinasti Bani Aglab yang berupusat di Tunisia mengangkat lima orang gubernur dengan gelar amir, wali atau shahib di Sisilia dengan ibukota Palermo. Para amir al-umara mempunyai kekuasaan penuh dalam hal perang atau damai, pembagian harta rampasan,  mencetak uang, menentukan pajak, mengangkat juru hukum, badan kota praja, pengaturan tentang tanah. Penduduk Sisilia saat itu  berbagai ras dan agama ; Islam dan Kristen, Yahudi, Bangsa Sisilia, Yunani, Lombard, Arab, Barbar, Persia, dan Negro. Bangsa Arab menjadi penguasa, mayoritas penduduk musli adalah keturunan bangsa Barbar, Sisilia dan Arab.

Ketika dikuasai dinasti Muslim itu, populasi penduduk Sisilia bertambah seiring dengan imigran Muslim dari Afrika, Asia, Spanyol, dan Barbar. Di setiap kota di Sisilia dilengkapi dengan sebuah dewan kota. Pada zaman ini, mulai diperkenalkan reformasi agraria. Hal itu dilakukan agar tanah tak cuma dikuasai orang-orang kaya saja. Pada abad ke 10 M Sisilia menjadi provinsi di Italia yang mempunyai penduduk paling padat.

Penguasa dinasti Aglabiyah ini adalah Emir Ibrahim ibn Aglab (800-900 M), Abul Abbas ibn Ibrahim (811-816M), Ziyadatullah I ibn Ibrahim (816-837 M), Abu ‘Iqal ibn Ibrahim (837-840M), Abul Abbas Muhammad (840-856M), Abu Ibrahim Ahmad (864-874M) dan Abul Mudhar Ziyadatullah II (903-909 M) dan selanjutnya dikuasai dinasti Fathimiyah.

2.   Dinasti Fathimiyah

Pada tahun 909 M, terjadi revolusi Syiah di Afrika Utara dan hal itu mengakibatkan berdirinya dinasti Fathimiyah. Karena lebih kuat dari dinasti Aglabiyah, maka kemudian dinasti Fathimiyah merebut kekuasaan dinasti Aglabiyah yang ada di Sisilia. Pada tahun yang sama, Ali bin Ahmad bin Abi al-Fawaris salah satu gubernur Fathimiyah yang berpusat di Mesir menggulingkan Ahmad Husain yang menjadi Amir terakhir dinasti Aglabiyah. Hal yang sama juga terjadi di Sisilia. Dalam masa transisi ini, di Sisilia juga terjadi pergolakan, namun bukan karena masalah politik tetapi masalah yang bersifat agamis, yaitu pertentangan antara Syiah dengan Suni. Tetapi dalam jangka waktu yang tidak lama Fathimiyah bisa mengatasinya.

Amir-amir dinasti Fatimiyah yang di Sisilia, antara lain: Ziyadatullah bin Qurthub, Abu Musa al-Dayf, Salim Rasyid bin Khalil bin Ishaq. Di bawah para amir ini dinasti Fathimiyah membangun peradaban Islam di Sisilia dengan berbagai kemajuannya. Kemudian, dinasti ini mengalami pertikaian dan menjadikan dinasti ini mengalami kemunduran. Lalu dinasti Fathimiyah yang di Mesir mengutus Hasan bin Ali al-Kalbi untuk meletakkan dasar pemerintahan yang kokoh di Sisilia dan hal itu berhasil, maka selanjutnya mendirikan dinasti Kalbiyah.

3.   Dinasti Kalbiyah

Dinasti Kalbiyah ini merupakan utusan dari dinasti Fathimiyah yang ada di Mesir, dan tetap loyal kepada dinasti Fathimiyah. Dinasti Kalbiyah berkuasa selama 80 tahun. Hasan dapat menaklukkan daerah Kristen di sebelah utara Sisilia, Tormina dan kemudian diubah namanya menjai Mu’izziyah sebagai penghormatan terhadap khalifah Fathimiyah Mu’iz. Sejak tahun 948 M, khalifah Ismail al-Mansur mengangkat Hasan al-Kalbi menjadi amir di Sisilia. Secara de Fakto, emirat Sisilia terlepas dari pemerintahan Fathimiyah di Mesir. Lalu digantikan Amir baru yang bernama Abu al-Qasim (964-983 M).

Dinasti ini mencapai puncak kejayaannya pada masa keturunan al-Hasan yaitu Abu al-Futuh Yusuf ibn Abdullah. Benih-benih peradaban Islam dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. Tidak hanya dalam segi fisik pertumbuhannya, namun juga segi pemikiran. Hal itu terbukti dengan munculnya intelektual-intelektual muslim dari negeri kecil tersebut.

Pada masa selanjutnya, Muslim di Sisilia bertempur dengan Bizantium. Setelah itu, kekuasaan Islam meredup seiring dengan perebutan kekuasaan di dalam tubuh umat Islam itu sendiri. Pada tahun 1061 M, Sisilia lepas dari kekuasaan Islam.

D.     Peradaban Islam di Sisilia

Peradaban Islam di Sisilia berkembang cukup pesat pada masa dinasti Kalbiyah. Namun pada dua periode pemerintahan sebelumnya, perkembangan Islam dalam perkembangannya hanya biasa-biasa saja dan tidak begitu mempunyai arti. Perkembangan tersebut terletak dalam berbagai bidang, mulai bidang ekonomi dan sosial, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Untuk lebih lebih jelasnya mengenai perkembangan-perkembangan tersebut dapat disimak uraian di bawah ini.

1.   Bidang Ekonomi dan Sosial

Keberadaan kaum Muslim di Sisilia telah mendorong terjadinya sebuah perubahan revolusioner dalam bidang pertanian serta ekonomi industri di pulau tersebut. Mereka menjadikan Sisilia sebagai pasar Internasional dan memperlakukan antara orang muslim dan kristen dengan perlakuan yang sama. Keberhasilan tersebut telah menjadikan pulau tersebut sebagai pengekspor utama komoditas pertanian. Penduduk yang ada di sana pun juga bertambah seiring dengan meningkatnya kondisi perekonomian negara dan pulau tersebut. Hal itu dikarenakan banyak bangsa Arab yang bermigrasi ke sana untuk mencari penghidupan.

Dalam bidang pertanian, kemajuan yang dicapai adalah sudah menggunakan sistem pengairan, bibit unggul didatangkan dari negara timur dan penanaman meniru bangsa Arab. Irigasi yang digunakan dengan sistem Hidraulic yang didatangkana dari Persia dan sistem Siphon dari Roma. Dalam bidang Industri, sudah mampu mengembangkan industri tambang emas, belerang, tawas, industri perikanan dan penenunan kain sutra. Sedangkan dalam bidang perdagangan masih dikuasai oleh orang Arab.

2.   Bidang Ilmu Pengetahuan

Pada bidang ilmu pengetahuan, perkembangan ilmu keagamaan lebih menonjol dibanding ilmu umum. Walaupun ilmu-ilmu non Islam juga mengelami perkembangan, seperti ilmu fisika, kimia, astronomi dan lain sebagainya. Di bidang fiqih, ahli fiqih sudah membicarakan hukum positif, dan sudah menyesuaikan penafsiran dengan perkembangan zaman. Al-Qur’an dan hadits dijadikan referensi hukum utama dan sumber pokok. Di samping itu, juga muncul tokoh-tokoh terkenal dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti Abdul Haq bin Muhammad ahli ilmu kalam, Ali Hamzah al-Basri, ahli sastra dan laiun sebagainya.

Tidak hanya itu, dalam hal sarana ibadah, terdapat 300 masjid, 300 sekolah guru dan 7000 jamaah jum’at. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peradaban dan kebudayaan Islam yang ada di pulau tersebut berkembang dengan pesat.

3.   Bidang Kemiliteran

Dalam bidang kemiliteran, pasukan Islam mendapatkan keberhasilan yang sangat besar, diantaranya keberhasilan yang ada adalah beberapa kali dinasti Kalbiyah mampu menduduki kota Matera dan Bignano di Italia selatan yang lebih besar kekuasaannya dan kekuatannya, sehingga Paus harus membayar pajak kepada penguasa Islam. Keberhasilan penaklukan tersebut dikarenakan militer yang dimilikinya tangguh, sehingga mampu menaklukkan kekuatan yang lebih besar dari yang ada di Sisilia.

E.     Keruntuhan Kekuasaan Islam di Sisilia.

Keruntuhan kekuasaan Islam di Sisilia ini disebabkan karena adanya perang saudara dan kekacauan politik. Dinasti Kalbiyah pada awal tahn 1040 M mengalami kekacauan politik dan kekuasaan umat Islam terpecah-pecah. Dan pada masa itu kekuasaan berada di tangan panglima perang. Pada tahun 1044 M, amir al-Hasan digulingkan oleh Ibn Hawwas dan ia juga digulingkan Ibn Tumnan dengan cara meminta bantuan Bizantium. Di samping itu, juga faktor yang menyebabkan kekuasaan Islam di Sisilia tidak lama adalah orang Arab tidak disukai oleh penduduk setempat, karena menjadi tuan Tanah. Maka dari itu sebagian rakyat Sisilia memusuhi orang-orang keturunan Arab dan berakhir dengan pemberontakan yang dibantu oleh Bizantium dan Norman.

Pada tahun 1060 M. Ibn Tumnan yang berambisi menguasai seluruh Sisilia, mengalami kekalahan dari Roger I dan Rober Guiscard. Mereka adalah penguasa Italia yang datang untuk menaklukkan dan merebut Sisilia. Penaklukan ini dimulai dengan serangan ke kota Messina pada tahun 1060 M, lalu Palermo tahun 1071 M, Siracuses 1085 M, dan juga Malta 1090 M. Lama kelamaan, sedikit demi sedikit kekuasaan Islam jatuh ke tangan mereka.

Maka selanjutnya yang berkuasa adalah orang kristen, walaupun kebudayaan Islam masih ada di sana. Pada masa itu, terjadi pelarangan besar-besaran umat Islam dalam menjalankan syariatnya dan dilarang berkomunikasi dengan luar pulau.

Referensi

Ahmad, Aziz, History Of Islamic Sicily, Edenburgh: Edenburgh University Press, 1975.

Al-Haddad, Al-Habib Alwi bin Thahir, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, terj.Ali Yahya, Jakarta: Lentera Baristama, 2001.

Hammond, Headline Word Atlas, New Jersey: Hammond Incorporated Maplewood, 1969

Hitti, Philip A., History Of Arab, terj. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006.

Khaldun, Ibn, Muqaddimah Ibn Khaldun, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software Maktabah Syamilah, 2005.

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media, 2007.

Yahaya, Mahayudin, Islam di Spanyol dan Sicily, Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia, 1990.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

One response

  1. Terimakasih . . . Sangat membantu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: