KONSEP DASAR MOTIVASI KINERJA GURU


KONSEP DASAR MOTIVASI KINERJA GURU

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Latar Belakang

Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang dan akan dilaksanakan. Beragam inovatif  ikut serta memeriahkan reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan adalah restrukturisasi pendidikan, yaitu memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkungannya dan dengan pemerintah, pola pengembangan perencanaan serta pola pengembangan manajerialnya, pemberdayaan guru dan restrukturisasi model-model pembelajaran.

Dalam kurikulum 2004, guru diberikan kebebasan untuk mengubah, memodifikasi bahkan membuat sendiri silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan daerah. Hal demikian tampaknya terlalu ideal dan terlalu teoritik, karena dalam kenyataannya pemerintah telah menyiapkan secara lengkap silabus untuk seluruh mata pelajaran pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

Guru tetap diberi keluasan untuk mengubah atau merekonstruksi hal-hal yang telah ditetapkan atau dibuat pemerintah sesuai dengan kondisi yang ada, meskipun telah disiapkan perangkatnya oleh pemerintah. Untuk melaksanakan tugas yang demikian, guru harus mempunyai kompetensi tertentu. Namun dalam suatu sekolah atau madrasah masih ada juga yang kurang profesional, yang disebabkan karena usia ataupun pendidikannya. Dan juga ada kalanya guru tersebut malas karena berbagai kesibukan ataupun faktor lainnya. Maka dari itu, untuk meninjau kinerja guru diperlukan supervisi pendidikan.

Supervisi mempunyai fungsi yang beragam. Piet A.Sahertian menulis dalam bukunya bahwa fungsi utama supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Sementara itu Mufida mengemukakan dalam bukunya bahwa tujuan umum supervisi adalah memberikan bantua teknis dan bimbingan kepada guru dan staf sekolah yang lain agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses pembelajaran. Maka dengan adanya supervisi pendidikan yang tujuannya untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran sehingga prestasi peserta didik mampu ditingkatkan.

Guru mungkin akan lebih mampu untuk meningkatkan kinerja dan keprofesionalisasiannnya, apabila diberi motivasi oleh kepala sekolah atau kepala madrasah. Orang yang profesional ialah orang yang memiliki profesi. Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu. Sedangkan Rochman Natawidjaya, sebagaimana dikutip Syafrudin Nurdin, mengemukakan beberapa kriteria tentang ciri-ciri suatu profesi,

  1. Ada standar untuk kerja yang baku dan jelas
  2. Ada lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan pelakunya dengan program dan jenjang pendidikan serta memiliki standar akademik yang memadai dan bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang melandasi profesi itu.
  3. Ada organisasi yang mewadahi para pelakunya untuk mempertahankan dan memperjuangkan eksistensi dan kesejahteraannya.
  4. Ada sistem imbalan terhadap jasa pelayanannya.
  5. Ada pengakuan masyarakat terhadap pekerjaan itu sebagai suatu profesi.

Jika guru sudah mampu meningkatkan keprofesionalisasiannya, maka secara tidak langsung kinerjanya juga akan meningkat, sejalan dengan profesinya. Jika kinerja guru sudah meningkat, maka prestasi peserta didik dan kualitas sekolah juga akan meningkat. Keterlaksanaan pembinaan professional guru (supervisi pengajaran) di Indonesia bukanlah tanpa kendala. Sejak awal pemberlakuannya, kendala-kendala yang teridentifikasi adalah: kurang memadainya kemampuan supervisor, sehingga pelaksanaannya tidak lebih dari suatu kegiatan administrasi rutin, kurang lancarnya komunikasi dan transportasi akibat kondisi geografis. Yang dikoreksi dalam pelaksanaan supervisi hanyalah administrasi saja, tidak mengacu pada proses pembelajaran. Maka dari itu guru juga hanya memperbaiki administrasi, sedangkan tujuan dari pelaksanaan supervisi sebenarnya yaitu perbaikan pembelajaran tidak dapat tercapai. Di samping itu juga kemampuan supervisor sangat mempengaruhi, supervisor yang selalu banyak bicara dan menunjukkan berbagai kesalahan guru, akan menimbulkan pemahaman bahwa supervisi adalah hantu yang ditakuti oleh para guru, karena selalu mencari-cari kesalahan guru.

Mestinya seorang supervisor harus dapat memberi motivasi kepada para guru, agar guru mampu lebih meningkatkan kinerjanya, baik dalam merencanakan pembelajaran maupun melaksanakan pembelajaran. Namun kenyataanya yang terjadi, sebagaimana diungkapkan di atas, adalah kebanyakan kepala sekolah cenderung mencari-cari kesalahan guru dalam melakukan tugasnya sehingga para guru minder untuk melaksanakan tugasnya lebih giat lagi. Pemberian motivasi dianggap hal yang tidak penting dan biasa diacuhkan oleh kepala sekolah yang biasa melaksanakan supervisi pendidikan.

B.     Pengertian Motivasi Kinerja Guru

Motivasi kinerja guru terdiri dari tiga kata yang mempunyai pengertian sendiri-sendiri. Tiga kata tersebut adalah motivasi, kinerja dan guru. Dalam pembahasan ini tiga kata yang berbeda tersebut saling berhubungan membentuk satu arti. Motivasi amat penting untuk meningkatkan kinerja guru. Tanpa adanya motivasi, maka guru kadang-kadang juga akan mengalami jenuh dan bosan dalam bekerja.

Motivasi berasal dari kata motif. Motif menurut M. Ngalim Purwanto ialah “segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu”. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Apa saja yang diperbuat manusia yang penting maupun yang kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung risiko, selalu ada motivasinya.

Motivasi menurut Moh. Uzer Usman adalah “suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan tertentu”. Dalam hal kinerja guru motivasi diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri guru untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan yang telah disepakati untuk diselesaikan. Tugas kepala sekolah adalah membangkitkan motivasi guru sehingga ia mau menyelesaikan serangkaian pekerjaan yang telah dibebankan kepadanya.

Banyak para ahli yang memberikan batasan tentang pengertian motivasi, antara lain sebagai berikut:

  1. Menurut Mc. Donald yang dikutip oleh Oemar Hamalik mengemukakan bahwa “Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”.
  2. Menurut Thomas M. Risk yang dikutip oleh Zakiah Daradjat mengemukakan motivasi dalam kegiatan pembelajaran bahwa “Motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri murid yang menunjang kegiatan ke arah tujuan-tujuan belajar”.
  3. Menurut Chaplin yang dikutip oleh Rifa Hidayah mengemukakan bahwa “Motivasi adalah variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju suatu sasaran”.
  4. Tabrani Rusyan berpendapat, bahwa “Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan”.

Dari definisi-definisi di atas dapat dikatakan bahwa motivasi berkaitan erat dengan segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Motivasi merupakan dorongan yang datang dari dalam dirinya untuk mendapatkan kepuasan yang diinginkan, serta mengembangkan kemampuan dan keahlian guna menunjang profesinya yang dapat meningkatkan karir dan kinerjanya.

Kinerja berasal kata kerja yang artinya apa yang dilakukan, kegiatan. Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi lembaga. Sedangkan guru adalah “orang yang pekerjaannya sebagai pengajar.” Dalam paradigma jawa, pendidik diidentikkan dengan guru (gu dan ru) yang berarti ”digugu dan ditiru”. Namun dalam paradigma baru, pendidik tidak hanya bertugas sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator atau fasilitator dalam proses belajar mengajar yaitu relasi dan aktualisasi sifat-sifat ilahi manusia dengan cara aktualisasi potensi-potensi manusia untuk mengimbangi kelemahan-kelemahan yang dimiliki. Secara sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan menurut Zakiyah Darajat guru merupakan pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawabnya pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua. Sedangkan menurut Akhyak guru adalah orang dewasa yang menjadi tenaga kependidikan untuk membimbing dan mendidik peserta didik menuju kedewasaan, agar memiliki kemandirian dan kemampuan dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.

Menurut penulis guru adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan berupaya mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik baik potensi kognitif, afektif maupun psikomotorik dan bertanggung jawab dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai tingkat kedewasaan sehingga mampu mencapai tujuan pendidikan. Jadi yang dimaksud kinerja guru adalah hasil pekerjaan yang dilakukan oleh guru sehari-hari sebagai profesinya, yang meliputi kinerja pra pembelajaran dan ketika pembelajaran.

Jadi yang dimaksud motivasi kinerja guru adalah adalah keseluruhan daya penggerak yang ada dalam diri individu (guru) yang menimbulkan kegiatan, yaitu bekerja dalam rangka mencapai tujuan pekerjaannya. Motivasi ini harus dimiliki oleh semua guru agar semua guru semangat dalam menjalankan pekerjaannya dan tidak malas. Karena apabila guru malas untuk menjalankan pekerjaannya, maka keberhasilan pendidikan juga pasti tidak dapat diharapkan lagi. Karena guru memikul tanggung jawab yang besar, yakni keberhasilan pendidikan terletak di bahunya.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: