PEMIKIRAN AL-MATURIDI DALAM ILMU KALAM


PEMIKIRAN AL-MATURIDI DALAM ILMU KALAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

  1. Latar Belakang

Membahas perkembangan ilmu kalam atau pemikiran-pemikiran dalam islam tentu tidak bisa lepas dari aspek kesejarahan (baik yang bersifat umum  maupun yang bersifat khusus). Kejian terhadap sejarah pemikiran dalam islam juga tidak bisa lepas dari aspek kebudayaan dalam peradaban. Dalam hal ini kebudayaan dan peradaban dari Arab, mengapa demikian? Hal ini dikarenakan islam lahir ditengah-tengah kehidupan masyarakat Arab. Apalagi sejarawan sampai kini masih terbiasa bila menyebut kebudayaan Arab, yang dimaksud adalah kebudayaan yang dimulai dengan islam (lahirnya islam).

Setelah Rosulullah wafat maka mulai muncullah beberapa pemikiran yang kadang kontroversi antar satu dengan lainnya. Bahkan setelah khulafaur Rosyidin banyak sekali bermuncucan mutakallimin yang menguak tiap-tiap persoalan yang muncul diantara kaum muslimin. Dalam pemahaman terhadap al quran dan juga dalam hadits-hadits rosul dilakukan penyelidikan akal berdasarkan logika berfikir.

Membahas pemikiran Maturidiyah juga tidak bisa terlepas dari sejarah dan keterkaitannya dengan aliran-aliran yang ada pada waktu itu, terutama aliran yang subur sebelumnya, yang dalam hal ini adalah aliran mu’tazilah.

Teologi yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat memberi interpretasi yang liberal. Seperti aliran mu’tazilah. Dan adapun teologi yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah memberikan interpretasi harfi atau dekat dengan arti harfi dari teks Al Quran dan Al Hadits. Sika ini akan menimbulkan teologi tradisional seperti aliran Asy’ariyah.

Bagaimanakah aliran teologi lain seperti Maturidiyah, termasuk yang ranah mana.

  1. Riwayat singkat Abu Mansur Al Maturidy

Nama lengkap beliau Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al samarqandi Al Maturidi Al Hanafi.Beliau lahir di Maturid sebuah kota kecil di Samarkand.Nama Almaturidi nisbatkan dari dari tempat kelahirannya Maturid. Maturid adalah sebuah kota kecil di wilayah Asia Tengah, daerah yang sekarang disebut Usbekistan. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abadke-3 Hijriyah. Gurunya dalam bidang Fiqih dan teologi adalah Nasyr bin Yahya Al Balakhi. Al Maturidi hidup pada masa khalifah Al Mutawakil yang memerintah tahun 232 – 274/847 – 861 M. Al Maturidi Wafat tahun 333 H, 9 tahun setelah Wafatnya Imam Asy’ari.

Karir pendidikan Al Maturidi lebih dikosentrasikan untuk menekuni bidang teologi daripada Fiqih. Ini dilakukan untuk memperkuat pemahaman terhadap teologi yang banyak berkembang di masyarakat pasa saat itu. Teologi-teologi yang berkembang pada saat itu lebih banyak yang tidak sesuai dengan kaidah yang benar sesuai dengan akal dan syara’.

Al Maturidy mendasarkan fikiran-fikirannya dalam soal-soal kepercayaan kepada fikiran-fikiran imam abu hanifah yang tercantum dalam kitabnya “al fiqh al akbar” dan “al fiqh al absat”. Pengikut Maturidi juga adalah orang-orang hanafiah. Sebagai pengikut Abu hanifah yang banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya, Al Maturidi banyak pula memakai akal dalam system teologinya.

Pemikiran-pemikiran Al Maturidi banyak dituangkan dalam bentuk tulisan, diantaranya ialah  Kitab Tauhid, Ta’wil Al Quran, Makhaz Asy-Syara’I, Al Jadl, Al Ushul fi Ushul ad Din, Maqalat fi Al Ahkam Radd Awa’il Al Abdillah li Al Ka’bi, Radd Al Ushul Al Khamisah li Abu Muhammad Al Bahili, Radd Al Imamah li Al Ba’ad Ar Rawafid, dan Kitab Radd ‘ala Al qaramatah. Selain itu ada pula karangan-karangan yang diduga ditulis oleh Al Maturidi, yaitu Risalah fi Al ‘Aqaid dan Syarh Fiqh Al Akbar.

 

  1. Sejarah lahirnya aliran maturidiyyah

Al-Maturidiyah merupakan salah satu aliran sunni yang dinisbatkan kepada penggagasnya bernama Muhammad bin Muhammad bin Mahmud, yang dikenal dikalangan masyarakat dengan nama Abu Mansur Al Maturidy. Belum ada catatan yang dapat menunjukkan dengan pasti kapan tokoh ini lahir, tapi para ulama banyak yang berpendapat bahwa beliau lahir pada pertengana abad ke tiga di daerah samarkand dan wafat pada tahun 333 H.. Abu mansur merupakan salah seorang ulama yang mempelajari Usulul Fiqh hanafi. Pada masa itu terjadi pergolakan pemikiran khususnya seputar fiqh wa usuluhu khususnya antara Hanafiyah dan Syafi’iyah. Di saat badai perdebatan terjadi di antara para fuqaha dan muhadditsin, serta ulama-ulama mu’tazilah baik dalam bidang ilmu kalam ataupun fiqh dan usulnya pada kondisi itulah Abu Mansur Al Maturidy hidup. Beliau dikenal sebagai ulama yang beraliran madzhab Hanafi. Sebagaina disebutkan oleh kalangan ulama hanafiah, bahwa Abu Mansur memiliki arus pemikiran teologi yang sama persis dengan Abu Hanifah.

Abu Mansur Al-Maturidy yang terkenal dengan julukan Imâm Al Huda. Pernyataan ini membuktikan begitu besar pengaruh beliau dalam masyarakat yang heterogen dengn segudang pendapat dan aliran dalam beragama. Untuk memperkokoh kedudukannya dibidang teologi beliau banyak menulis,diatanranya adalah Kitab Ta’wil Al- Qur’an, Kitab Ma’khud As Syarâ’I, Kitab Al Jidal, Kitab Al Ushul fi Usul Ad Din, Kitab Al Maqâlât fi Al Kalâm, Kitab At Tauhîd dan masih banyak lagi kitab yang lainnya.

Latar belakang lahirnya aliran ini, hampir sama dengan aliran Al-Asy’ariyah, yaitu sebagai reaksi penolakan terhadap ajaran dari aliran Mu’tazilah, walaupun sebenarnya pandangan keagamaan yang dianutnya hampir sama dengan pandangan Mu’tazilah yaitu lebih menonjolkan akal dalam sistem teologinya.

Pemahaman teologi yang muncul pada saat itu membuat Al Maturidi lebih mendalami teologi. Apalagi pada ajaran-ajaran dari aliran Mu’tazilah yang menurutnya mulai nampak keburukan-keburkannya dan tidak sesuai dengan jalan pemikirannya, kendatipun demikian Al Maturidi juga masih mengikuti ajaran mu’tazilah meskipun tidak utuh.

Sejarah menunjukkan peranan dan pengaruh mu’tazilah mulai menurun setelah khalifah Mutawakil membatalkan aliran mu’tazilah sebagai mazhab negara. Posisi mu’tazilah dimusuhi pengasa dan mayoritas umat. Sehingga lahirlah teolog yang diterima oleh masyarakat banyak yang berpegang pada Al Quran dan hadits dan kaum mayoritas. Inilah yang dimaksud dengan ahlusunnah wal jama’ah.

  1. Pokok-pokok pemikiran Imam Al Maturidi

Abu Mansur Al Maturidy hidup sejaman dengan Abu Hasan Al- Asy Arie, keduanya sama-sama berupaya menegaggak panji Ah Lussunnah Wal jamaah ditengah kabutn pertikaian ideologi antar sekte dan aliran Islam. Meskipun pada saat itu derah abu Mansur tidak sepanas Basrah dalam pergolakan pemikiran antar sekte, akan tetapi di Samarkand juga ada berberapa ulama yang berkiblat pada Muktazilah di Irak, merekalah yang menuai hantaman pemikiran dari al Maturidi.

Perbedaan antara pemikiran Al- Asy Arie dengan Al Maturidy akan tetapi perbedaan itu sangat sedikit sekali, bahkan dapat dikatakan bahwa antara Al Asyarie dan Al Maturidy nyaris meiliki kesamaan kalau tidak bisa di sebut sama. Bahkan Muhammad Abduh mengatakan bahwa perbedaan antara Al Maturidiyah dan Al Asyariyah tidak lebih dari sepuluh permasalahan dan perbedaan di dalamnya pun hanyalah perbedaan kata-kata (al  Khilâf Al Lafdziyu). Akan tetapi ketika kita mengkaji lebih dalam aliran asy- Ariyah dan Maturidiyah maka perbedaan-berdeakan tersebut semakin terlihat wujudnya. Tak dapat dipungkiri bahwa keduanya berupaya menentukan akidah berdasarkan ayat-ayat tuhan yang terangkum dalam al- Qur’an secara rasional dan logis. Keduanya memberikan porsi besar pada akal dalam menginterpretasikan al- Qur’an dibandingkan yang lainnya. Menurut Al-Asyariyah untuk mengetahui Allah wajib dengan syar’i sedangkan Maturidiyah sependapat dengan Abu Hanifah bahwa akal berperan penting dalam konteks tersebut. Hal itu merupakan salah satu contoh perbedaan keduanya.

Metodologi yang diterapkan Maturidiyah meletakkan akal dengan porsi besar, sedangkan asyariyah lebih berpegang pada naql, sehingga para pengkaji mengklaim bahwa Asyariyah berada pada titik antara Muktazilah dan Ahlul Fiqh wal Hadist, adapun Maturidiah barada pada posisi antara Muktazilah dan Al Asyariyah. Maka dengan demikian ada sekte Muktazilah, Ahlul Hadist, kemudian Muktazilah Maturidiyah dan Al Muhadtsun Al Asyairah.

Sekte Maturidiyah berpegang pada akal berdasarkan petunjuk dari syariat, berbeda dengan Ahlul Fiqh dan Hadist yang berpegang teguh pada naql tidak yang lain, khawatir terjadi kesalahan pada pandangan akal sehingga dapat menyesatkan. Pendapat Ahlul Hadist ini hantam dengan hujjah dalam kitab tauhid bahwa ini merupkan gaungguan syaithan. Urgensi analisa tidak bisa diganggu gugat, bagaimana mungkin mengingkari akal yang berfungsi untuk menganalisa, sedangkan Allah menyeru hambanya untuk selalu berfikir, bertafakkur dalam melihat dan menganalisa seluruh apa yng terjadi di alam ini, maka ini adalah bukti konkret bahwa berfikir dan bertafakkur adalah sumber ilmu. Merkipun demikian maturidiah mengambil hukum berdasarkan akal yang tidak bertentangan dengan syariat, jikalau terjadi pertentangan antar keduanya maka yang diambil adalah hukum syariat. Jelas meskipun akal dijadikan landasan berpikir dalam menentukan hukum akan tetapi semua itu harus bermuara dari nash.

Al Maturidiyah berpendapat bahwa segala sesuatu pasti memiliki value, maka akal tentu dapat membedaan mana nilai yang baik (good value) atau buruk (bad value) dari sesuatu itu. Menurut mereka materi itu ada tiga. Pertama, yang mengandung nilai baik (good value), kedua, mengandung nilai buruk (bad value) dan yang ketiga, mengandung nilai baik maupun buruk, adapun syariat menjadi penentu utama dalam menentukan bad value atau good value itu. Pendapat ini seirama dengan Muktazilah, hanya saja muktazilah condong lebih tegas, mereka menyatakan bahwa good value yang diketahui oleh akan menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan begitupun dengan bad value yang diakui akal harus ditinggalkan. Jadi yang paling menentukan di sini menurut Muktazilah adalah akal. Sedangkan Maturiyah sedikit “malu” berpendapat sejelas Muktazilah, murut mereka jika akal mengetahui bahwa sesuatu itu adalah benar salah maka yang menentukan hal itu harus dilakukan atau tidak adalah syariat bukan akal, karena akal tidakbisa menentukan syariat agama, yang menentuka syariat agama hanyalah Allah yang Maha Tahu. Pendapat maturidiah ini tentu bersebrangan dengan keyakinan Asy Ariayah, menurut mereka kebenaran itu dengan syariat berupa perintah dan keburukan itu dengan syariat berupa larangan. Kebaikan adalah suatu kebaikan karena Allah memerintah untuk melakukannya dan keburukan tetaplah menjadi keburukan karena allah melarang untuk melakukannya. Dengan demikian maka pendapat Maturidiah menengahi pendapat Muktazilah dan Al Asyariyah.

Adapun pemikiran-pemikiran maturidi adalah berikut ini:

  1. Kemampuan akal manusia

Maturidi berpendapat bahwa manusia dengan akalnya mampu mengetahui adanya Tuhan danmengetahui kewajibannya untuk mengetahui dan berterima kasih kepada Tuhan. Selanjutnya Maturidi berpendapat bahwa akal manusia dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan.

Karena ia pemberinikmat terbesar, dalam hidup sehari-hari akal dapat mengetahui keharusan berterima kasih kepada pemberi nikmat. Akal selain mampu mengetahui adanya Tuhan, kewajiban mengetahui-Nya,dan berterima kasih kepada-Nya, juga mampu mengetahui baik dan buruk. Menurut Muhammad Abduh Maturida berpendapat perintah dan larangan tuhan erat hubungannya dengan nature{sifat dasar} suatu perbuatan, dengan kata lain upah dan hukuman digantungkan pada sifat yang terdapat pada perbuatan itu sendiri. Kata Maturidi akal mengetahui sifat baik yang terdapat pada perbuatan baikdan sifat buruk pada perbuatan yang buruk. Pengetahuan inilah yang menyebabkan akal berpendapat bahwa mesti ada perintah dan larangan.

2. Perbuatan Manusia

Maturidi berpendapat bahwa manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Selanjutnya Maturidi membagi perbuatan itu menjadi dua yaitu perbuatan tuhan yang mengambil bentuk penciptaan daya dalam dalam diri manusia dan perbuatan manusia yanag mengambil bentuk pemahaman daya itu berdasarkan pilihan dan kebebasan manusia daya diciptakan tuhan bersama-sama dengan perbuatan manusia dan atas dasar itulah dikatakan bahwa perbuatan manusia itu diperoleh oleh manusia dengan peranan efektif dari pihak manusia yakni dengan menggunakan daya yang diciptakan itu. Manusia bisa juga tidak menggunakan daya yang diciptakan tuhan itu sehinga tidak memperoleh perbuatan. Sebetulnya Maturidi juga punya kasab seperti halnya Asy’ari namun pemahamannya jauh berbeda. Menurut Ibn Hazem dan Ibnu Taimiyah kasabnya Asy’ari Jabariyah penuh dan esensi kasabnya Al Maturidi qadariyah.

  1. Kewajiban Tuhan

Menurut maturidi, Allah terhindar dari perbuatan sia-sia. Semua perbuatannya mengandung hikmah (kebijaksanaan) karena dialah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui dan semua perintah, larangan serta ciptaanNya mengandung hikmah dan tujuan (yang perlu digaris bawahi) tujuan perbuatan-perbuatan itu tidak atas dasar paksaan atau kewajiban karena Dia Yang Maha Memilih, yang menghendaki dan berbuat apa saja yang dikehendaki Nya. Maka tidak mungkin dikatakan bahwa Allah itu wajib berbuat baik atau yang terbaik (shalah wa ashlah), karena kewajiban Allah berarti memindahkan kehendak dan mengharuskan adanya hak bagi selain Allah untuk memaksa Nya. Dan kewajiban berarti meminta tanggung jawab atas apa yang diperbuat. Maha Suci Allah, Allah terlepas dari sifat demikian.

4. Ayat-ayat Tasyhih

Maturidi berpendapat bahwa ayat-ayat AlQuran mutasyabihat dalam mengartikannya harus ditakwilkan sehingga yang dimaksud dengan tangan, wajah, mata, kaki Tuhan adalah kekuasaan Nya.

  1. Sifat-sifat Tuhan

Maturidi menetapkan adanya sifat-sifat bagi Allah dan sifat-sifat itu tidak berbeda dengan dzat Nya (sifat-sifat itu tetap ada pada dzat dan tidak terlepas dari padanya). Sifat-sifat itu tidak berdiri sendiri dan tidak pula terlepas dari Dzat. Sifat-sifat itu tidak berdiri sendiri dan tidak pula terlepas dari dzat karena yang demikian itu akan timbul adanya sifat yang berbilang yang menyebabkan berbilangnya yang qodim (eksternal).

6. Kalam Tuhan (Al Quran)

Maturidi menetapkan bahwa kalamullah itu berdiri dengan dzat Allah dan ia merupakan sifat dari sifat-sifat yang bersatu dengan Dzat Allah yang Azali bersama azalinya dzat Allah yang tidak tersusun dari huruf-huruf dan kalimah, karena huruf dan kalimah itu temporal (hadits), sedang sesuatu yang temporal itu tidak bisa berdiri dengan azali yang wajib adanya. Hal yang baru adalah aradh (iuran) dan aradh tidak berdiri dengan dzat Allah. Maturidi menyifati Al quran dengan baru (Hadits) tetapi tidak menyifatinya sebagai makhluq.

  1. Ru’yatullah

Maturidi menetapkan bahwa tuhan bisa dilihat mata kepala manusia nanti di akhirat, karena ia mempunyai wujud Ru’yatullah dihari akhirat termasuk perihal kiamat, hanya Allah yang mengetahui perihal kiamat. Kita ‘kata maturidi’ tidak mengetahuinya kecuali ibarat yang terdapat dalam nash. Tidak perlu kita menanyakan bagaimana caranya nanti melihat Tuhan itu.

  1. Pelaku dosa besar

Maturidi berpendapat bahwa mukmin yang melakukan dosa besar itu tidak menjadi kafir karena dosa besarnya. Ia tetap mukmin yang berdosa. Mukmin yang berdosa besar ia tidak akan kekal di neraka. Sekiranya Tuhan menyiksa mukmin yang berdosa besar dengan siksaan kekal didalam neraka, berarti Tuhan menyiksa dengan siksaan yang melebihi ukuran dosanya. Hal demikian tidak mungkin, mengekalkan siksaan yang berdosa besar berarti menyamakan siksaan dengan orang kafir, dan menyamakan demikian berarti menyalahi kebijaksanaan dan keadilan Nya.

  1. Perkembangan Aliran Maturidiyyah

Dalam aliran Maturidiyah sebenarnya dikenal dua corak aliran, yakni aliran Samarkand dan Bukhara. Letak perbedaannya pada tingkat pengakuan akal sebagai instrumen penafsiran kebenaran. Aliran Samarkand dikenal lebih dekat dengan Mu’tazilah dalam beberapa pemikirannya, seperti penerimaannya atas takwil terhadap ayat-ayat yang memuat sifat-sifat antroposentris dari Tuhan. Sementara aliran Bukhara dalam hal ini lebih dekat dengan metodologi berfikirnya Asy’ariyah.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

One response

  1. salam kenal mas. bagus tulisannya, mohon izin di copy yaa, tuk bahan mengajar. kunjungi juga bog saya yaa mas. http//syafieh.blogspot.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: