KARAKTERISTIK MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


KARAKTERISTIK MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

(Sebuah Pencarian Jati Diri Manajemen Pendidikan Islam)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Pengantar

Kata manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi. Dalam suatu lembaga pendidikan yang menjalankan fungsi manajerial tersebut adalah pimpinan/ketua/kepala lembaga pendidikan. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin lembaga pendidikan harus menjadi sumber kegiatan dan penanggungjawab hasil yang dicapai dalam aktivitas pembelajaran, bekerjasama dengan pihak-pihak lain yang terkait dalam proses pembelajaran.

Dalam diskursus pendidikan Islam juga terdapat manajemen, yang dinamakan manajemen pendidikan Islam. Maka selanjutnya muncul pertanyaan, apa perbedaan manajemen pendidikan Islam dengan manajemen lainnya, misalnya dengan manajemen pendidikan? Memang secara general sama, artinya ada banyak atau bahkan mayoritas kaidah-kaidah manajerial dapat dipakai oleh kedua jenis manajemen itu bahkan oleh seluruh manajemen. Tetapi secara spesifik terdapat kekhususan-kekhususan yang membutukan penanganan secara khusus pula.

Gambaran tentang manajemen pendidikan Islam yang membedakan dengan manajemen secara umum adalah terletak pada karakteristik dari manajemen pendidikan Islam itu sendiri. Perlu diketahui bahwa manajemen secara sumum, sasaran ataupun obyek yang dikelola adalah dalam suatu organisasi atau perusahaan. Sedangkan manajemen lembaga pendidikan Islam, sasaran yang dikelola adalah semua SDM dan SDA yang ada dan terlibat dalam suatu proses pendidikan. Dalam manajemen pendidikan Islam ini, manajemen  focus adalah terletak pada guru. Hal ini disebabkan karena guru merupakan ujung tombak dari pelaksanaan pembelajaran. Hal ini senada dengan pendapatnya E. Mulyasa, yang menyatakan bahwa ”Guru merupakan pemeran utama  proses pendidikan yang sangat menentukan  tercapai tidaknya tujuan pendidikan.” Maka guru merupakan jiwa dari sekolah.. Namun demikian tidak menafikan peran yang lain, speerti karyawan, ketua, wali murid dan siswa itu sendiri. Sehingga memang terdapat karakteristik dan ketentuan normatif manajemen pendidikan Islam jika dibandingkan dengan manajemen secara umum.

B.     Karakteristik Manajemen Pendidikan Islam

Manajemen pendidikan Islam mencakup objek bahasan yang cukup komplek, yang dapat dipertimbangkan atau dijadikan bahan dalam merumuskan kaidah-kaidahnya. Masing-masing bahan itu diintegrasikan untuk mewujudkan manajemen pendidikan yang bercirikhas Islam. Istilah Islam yang melekat pada kata manajemen bisa berupa Islam wahyu dan Islam budaya. Islam wahyu meliputi al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, baik hadits Nabawi maupun hadits Qudsi. Sedangkan Islam budaya meliputi ungkapan sahabat Nabi, pemahaman ulama, pemahaman cendekiawan Muslim dan budaya umat Islam. Kata Islam yang menjadi identitas manajemen pendidikan ini dimaksudkan mencakup makna keduanya, yakni Islam wahyu dan Islam budaya.

Oleh karena itu, dalam membahas manajemen pendidikan Islam senantiasa melibatkan wahyu dan budaya kaum Muslimin ditambah kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara umum. Maka pembahasan ini akan mempertimbangkan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. Teks-teks wahyu baik al-Qur’an maupun hadits yang terkait dengan manajemen pendidikan.
  2. Perkataan-perkataan (aqwâl) pada sahabat Nabi maupun ulama dan cendikiawan Muslim yang terkait dengan manajemen pendidikan.
  3. Realitas perkembangan lembaga pendidikan Islam.
  4. Kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) lembaga pendidikan Islam.
  5. Ketentuan kaidah-kaidah manajemen pendidikan.

Kaidah-kaidah umum manajemen pendidikan tersebut misalnya pemberian otonomi yang luas kepada sekolah, partisipasi masyarakat dan orang tua, kepemimpinan yang demokratis dan profesional, dan team work yang kompak dan transparan dan lain sebagainya. Karena masih banyak lagi kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara umum yang belum diungkapkan seperti evaluasi dan lain-lain.

Bahan nomor 1 sampai 4 mencerminkan ciri khas Islam pada bangunan manajemen pendidikan Islam, sedangkan bahan nomor 5 sebagai tambahan yang bersifat umum tetapi karena bersifat general maka bisa dipakai dalam membantu merumuskan bangunan manajemen pendidikan Islam, dan ini pun setelah diseleksi berdasarkan nilai-nilai Islam dan realitas yang dihadapi lembaga pendidikan Islam. Bahan yang nomor 5 tersebut dapat digunakan sebagai pengembangan manajemen pendidikan Islam.

Teks-teks wahyu sebagai sandaran teologis; Perkataan-perkataan para sahabat Nabi, ulama dan cendikiawan Muslim sebagai sandaran rasional, realitas perkembangan lembaga pendidikan Islam serta kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) lembaga pendidikan Islam sebagai sandaran empiris, sedangkan ketentuan kaidah-kaidah manajemen pendidikan sebagai sandaran teoritis. Jadi bangunan manajemen pendidikan Islam ini diletakkan di atas empat sandaran yaitu sandaran teologis, rasional, empiris, dan teoritis. memang sebenarnya Islam itu kaya akan isyarat, namun miskin konsep dan teori, karena umat Islam kurang mengembangkan konsep dan teori. Maka untuk mengembangkan manajemen pendidikan Islam ditempuh langkah-langkah yang agak rumit yang memerlukan sandaran yang cukup kuat.

Sandaran teologis akan berdampak pada keyakinan adanya kebenaran pesan-pesan wahyu karena berasal dari Tuhan, sandaran rasional menimbulkan keyakinan kebenaran berdasarkan pertimbangan akal-pikiran, sandaran empiris menimbulkan keyakinan adanya  kebenaran berdasarkan data-data  riil dan akurat, sedangkan sandaran teoritis menimbulkan keyakinan adanya kebenaran berdasarkan akal pikiran dan data sekaligus dan telah dicobakan berkali-kali dalam pengelolaan pendidikan.

Di sisi lain, menurut Muhaimin, pengembangan manajemen pendidikan Islam dapat bertolak dari dunia empiris, sebagaimana terwujud dalam fenomena praktik dan operasional manajemen pendidikan pada lima jenis lembaga pendidikan Islam. Melalui penggalian terhadap fenomena tersebut dan dianalisis secara kritis, serta didiskusikan dengan teori-teori yang berkembang dalam manajemen pendidikan pada umumnya, maka akan dapat ditarik dan ditemukan konstruk teoritisnya, untuk selanjutnya dikonsultasikan kepada ajaran dan nilai mendasar yang terkandung dalam wahyu, yang dibangun dari telaah tematik terhadap wahyu tersebut. Dari situ akan melahirkan konsep dan teori manajemen yang berperspektif Islam.

Secara materi (mâddah), sebenarnya banyak sekali bahan-bahan keilmuan yang berserakan dalam berbagai bidang keilmuan termasuk bahan-bahan manajemen pendidikan Islam meskipun masih merupakan prinsip-prinsip dasar baik berupa  ayat-ayat al-Qur’an, hadits Nabi, aqwâl para sahabat Nabi, aqwâl ulama maupun cendikiawan Muslim. Di samping itu, perkembangan lembaga pendidikan Islam maupun budaya dari komunitas (pimpinan dan pegawai) yang ada di lembaga pendidikan Islam juga dapat dijadikan bahan. Kemudian didukung kaidah-kaidah manajemen pendidikan. Oleh karena itu, dibutuhkan para peramu atau pengracik bahan-bahan tersebut menjadi formula-formula teoritis yang kemudian bisa diaplikasikan, kemudian jika berhasil dengan baik, langkah berikutnya adalah disosialisasikan dan dipublikasikan pada masyarakat luas agar cepat menyebar pada mereka.

Selanjutnya, perlu dikenali dahulu posisi dan fungsi bahan-bahan keilmuan manajemen pendidikan Islam tersebut untuk memudahkan pemahaman bagaimana mekanisme membangun konsep-konsep teoritis tentang manajemen pendidikan Islam tersebut yaitu:

  1. Teks-teks wahyu baik al-Qur’an maupun hadits shahih sebagai pengendali terhadap bangunan rumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan Islam.
  2. Aqwâl (perkataan-perkataan) para sahabat Nabi, ulama dan cendikiawan Muslim sebagai pijakan logis-argumentatif dalam menjelaskan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan Islam secara rasional.
  3. Perkembangan lembaga pendidikan Islam sebagai pijakan empiris dalam mendasari perumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan Islam.
  4. Kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) dalam lembaga pendidikan Islam sebagai pijakan empiris dalam merumuskan kemungkinan strategi yang khas dalam me-manage lembaga pendidikan Islam.
  5. Ketentuan kaidah-kaidah menejemen pendidikan sebagai pijakan teoritis dalam me-manage lembaga pendidikan Islam, tetapi juga dikritisi untuk disesuaikan dengan kondisi budaya yang terjadi dalam lembaga pendidikan Islam jika terdapat ketentuan-ketentuan atau prinsip-prinsip yang tidak relevan.

Mekanisme demikian ini mempertegas sikap bahwa dalam wilayah keilmuan sekalipun, Islam melalui wahyu hadir untuk memberikan inspirasi-kreatif dalam membangun konsep ilmiah, sedangkan rinciannya secara detail diserahkan pada para ahli pendidikan Islam berdasarkan inspirasi-kreatif dari wahyu itu. Tetapi dalam pembahasan ini, juga bersikap adaptif-selektif terhadap kaidah-kaidah manajemen pendidikan yang terdapat di berbagai literatur dan dipengaruhi oleh pemikiran dan  pengalaman orang-orang Barat. Sikap adaptif ini didasarkan pada pemikiran bahwa secara umum kaidah-kaidah manajemen pendidikan itu bersifat general atau universal yang juga dapat diterapkan dalam me-manage lembaga pendidikan Islam. Hanya saja, mungkin ada kaidah-kaidah tertentu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang didasarkan wahyu tersebut ataupun realitas yang dihadapi lembaga pendidikan Islam lantaran faktor budaya tertentu yang unik dan khas sehingga dibutuhkan sikap selektif dengan mengkritisi kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara umum itu, kemudian diganti atau disempurnakan.

Kalau sebenarnya kita berstudi tour ke dunia tazkiyah atau tasawuf, maka di sana terdapat hal yang mirip dengan fungsi manajemen. Jadi kalau mau menerapkan ilmu tasawuf atau tazkiyah maka secara tidak langsung kita telah menerapkan manajemen. Penjabarannya adalah sebagai berikut: pertama, orang yang masuk ke dunia tazkiyah tersebut dimulai dengan niat. Niat juga merupakan awal dari tindakan manusia atau orang tersebut. Maka niat itu sama halnya dengan planning. Niat di sini bukan hanya lintasan yang ada dalam hati, akan tetapi niat adalah sudah mempunyai gambaran walaupun itu hal yang mustahil dan akan sungguh-sungguh untuk melaksanakannya.

Kedua, adalah mujahadah, dalam tahapan ini seseorang berusaha sungguh-sungguh untuk mewujudkan niat serta istiqamah atau konsisten dalam niat tersebut dan berusaha mewujudkannya sekuat tenaga. Maka hal ini sama dengan organizing dan actuating. Ketiga, adalah muhasabah yaitu melakukan kontrol atau evaluasi diri terhadap sesuatu yang telah dilakukan atau keberhasilan niat. Maka hal ini identik dengan controlling. Maka sebenarnya umat Islam itu telah melakukan kegiatan manajemen dalam diri mereka sendiri, namun mereka tidak menyadarinya.

Menurut pemikiran penulis, manajemen pendidikan Islam dapat dibangun dengan menggunakan pembacaan ayat kauniyah dan qauliyah. Kemudian hasilnya dikonsultasikan dan di-break down ke dalam kegiatan eksperimen yang pada gilirannya melahirkan teori atau ilmu manajemen pendidikan Islam. Operasionalnya cara mengkonstruk manajemen pendidikan Islam bisa dilakukan dengan cara: pertama, cara deduksi, yakni dimulai dari teks wahyu atau sabda rasul (hadits) kemudian ditafsirkan secara kontekstual, dari sini muncul teori manajemen pendidikan Islam pada tingkat filsafat, teori itu dieksperimenkan, maka selanjutnya muncul teori manajemen pendidikan Islam tingkat ilmu. Apabila hal tersebut dioperasionalkan, maka dapat diperoleh kaidah praktis manajemen pendidikan Islam. Kedua, cara induksi konsultasi, dengan cara seseorang mengambil teori manajemen pendidikan yang sudah ada, kemudian dikonsultasikan dengan wahyu dan kultur, yang tidak sekedar bersifat justifikasi, jika tidak berlawanan, maka teori tersebut didaftarkan di dalam khazanah ilmu manajemen pendidikan Islam

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: