MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG ORIENTALISME


MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG ORIENTALISME

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Orientalis dan orientalisme diambil dari kata oriental. Oriental berasal dari bahasa Inggris yang bermaksud ketimuran. Apabila disebut oriental civilization, maka mengandung pengertian tamaddun timur. Kata orient (Latin: orin) berarti terbit, ada juga yang mengartikan mempelajari dan mencari sesuatu, kemudian digunakan dalam bahasa Prancis menjadi orienter yang bermakna menunjukan atau mengarahkan dan dalam bahasa jerman menjadi Sich Orientiern yang bermaksud mengumpulkan maklumat dan pengetahuan, dalam bahasa Inggris kata ini diartikan direction of rising sun (arah terbitnya matahari dari belahan timur). Secara geografis, maka kata ini mengarah pada negeri-negeri belahan timur, sebagai arah terbitnya matahari dan secara etnologis berarti bangsa-bangsa timur. Secara luas kata orient juga berarti negeri-negeri itu terentang dari kawasan timur dekat, yang meliputi Turki dan sekitarnya hingga timur jauh yang meliputi Jepang, Korea dan Indonesia, dan dari selatan hingga republik-republik muslim bekas Uni Soviet serta kawasan Timur Tengah hingga Afrika Utara. Lawan dari kata orient adalah occident yang berarti direction of setting sun (arah terbenamnya matahari atau bumi belahan barat).

Orientalisme berasal dari kata orient dan isme. Kata isme berasal dari Bahasa Belanda (Latin: isma, Inggris: ism) yang berarti a doctrine, theory or system (pendirian, keyakinan dan sistem). Oleh karena itu, secara etimologis orientalisme dapat diartikan sebagai ilmu tentang ketimuran atau studi tentang dunia timur. Orientalis berasal dari bahasa Inggris orientalist yang mengandung pengertian orang yang mempelajari seni, bahasa dan lain-lain yang berkenaan dengan negara-negara Timur. Jadi dapat disimpulkan dalam tataran etimologis, bahwa orientalisme adalah paham tentang ketimuran, sedangkan orientalis adalah orang yang melakukan studi ketimuran atau yang membawa paham tersebut.

Secara terminologis, orientalis adalah sifat umum nama pelaku atau ahli-ahli ketimuran, artinya dalam beberapa hal siapapun orangnya apakah ia muslim atau non-muslim, apabila ia telah luas pengetahuannya tentang ketimuran, maka ia sering dikategorikan secara langsung sebagai orientalis. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Oxford, sebagaimana yang dikutip Amien Rais, bahwa orientalis adalah semua orang yang telah luas pengetahuannya tentang bahasa-bahasa Timur beserta kesusastraannya.

Definisi ini dibantah oleh pakar yang hanya membatasi pengertian orientalis pada orang Barat, seperti yang diungkapkan Hanafi, bahwa orientalis ialah segolongan sarjana-sarjana Barat yang mendalami bahasa-bahasa dunia Timur dan kesusastraannya, dan mereka menaruh perhatian besar terhadap agama-agama dunia Timur; sejarahnya, adat istiadatnya dan ilmu-ilmunya. Penulis lebih memilih pada pendapat yang mengatakan bahwa orientalis hanya dibatasi pada orang-orang Barat, karena mereka mendalami agama-agama Timur tersebut untuk suatu tujuan dan kepentingan. Berbeda dengan sarjana Islam yang mendalami agamanya sendiri. Dalam penentuan batasan orientalis ini, penulis selain menekankan geografis tapi juga menekankan pada tujuan. Maka siapa saja yang mengkaji Islam untuk menghancurkan Islam, itulah yang disebut orientalis. Di samping itu, orang yang mengkaji Islam secara obyektif yang berasal dari Barat, maka juga disebut orientalis.

Sedangkan orientalisme, secara terminologis dan sederhana, adalah suatu bidang kajian keilmuan atau dalam pengertian sebagai suatu cara, metodologi yang memiliki kecenderungan muatan integral antara orientalisme dengan kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk menguasai, memanipulasi bahkan mendominasi dunia Timur. Sedangkan seorang penulis Turki, Abdul Haq Ediver, sebagaimana dikutip Darmalaksana, menyodorkan pengertian orientalisme secara umum, yaitu suatu pengertian sempurna yang terkumpul dari sumber pengetahuan asli mengenai bahasa, agama, budaya, geografi, sejarah, kesusastraan dan seni-seni bangsa Timur.

Denis Sinor, sebagaimana yang dikutip Ibrahim, menyodorkan definisi sebagai berikut: orientalis adalah satu cabang kesarjanaan yang menggunakan cara-cara Barat untuk menjelaskan permasalahan-permasalahan di Timur termasuk wilayah-wilayah yang berada di Timur dari benua Eropa. Sedangkan menurut Edward Said, orientalisme memiliki beberapa fase definisi yang berbeda beda sesuai dengan perkembangan gerakan orientalisme itu sendiri:

  1. Pada fase pertama orientalisme, Edward Said mendefinisikannya sebagai, “Suatu cara untuk memehami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa.” Definisi ini masih sangat global dan luas, dimana orang-orang Barat masih dalam tahap pencarian dan pemahaman tentang dunia Timur.
  2. Pada fase kedua Edward Said mendefinisikan orientalisme sebagai “Suatu gaya berfikir yang berdasar pada perbedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara ‘Timur’ (the Orient) dan ‘Barat’ (the Occident)”. Perbedaan ontologis dan epistemolois yang di maksud dalam definisi Edward meliputi seluruh bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, budaya, etika, gaya hudup dan lainnya, dengan memakai metode akademis dan gaya ilmiah. Pada tahap ini orientalisme dengan gaya ilmiahnya mencari titik-titik kelemahan dunia Timur untuk dijadikan acuan perbedaan antara dunia Timur dan Barat, kemudian mengambil yang bermanfaat dari dunia Timur untuk perkembangan dunia Barat. Pada giliranya kajian yang berlabel akademik dan ilmiah itu bermuara pada tuduhan dan penghinaan bahwa dunia Timur adalah primitif dan tidak berperadaban dan harus mengikuti Barat yang berperadaban.
  3. Pada fase ketiga menurut Edward Said, orientalisme adalah “suatu yang didefinisikan lebih historis dan material dari kedua arti yang telah di terangkan sebelumnya”. Di mulai pada akhir abad ke-18 M. dimana orientalisme dapat dibahas dan dianalisa sebagai lembaga hukum untuk berurusan dengan dunia Timur, dengan membuat pernyataan-pernyataan tentangnya, mengajarinya, menjadikannya sebagai tempat pemukiman, dan memerinthanya. Pendeknya, orientalisme sebagai gaya Barat untuk mendominasi, menata kembali dan menguasai Timur.
  4. Fase keempat yaitu sekitar abad ke-19 sampai abad ke-20, telah dibuat asumsi bahwa dunia Timur dengan segala isinya, jika bukan secara paten inferior terhadap Barat, maka ia memerlukan kajian koreksif oleh Barat. Dunia Timur dipandang sekan-akan berada dalam wadah berupa ruang kelas, pengadilan pidana, penjara dan manual bergambar. Jadi orientalisme adalah “pengetahuan mengenai dunia Timur yang menempatkan segala sesuatu yang besifat Timur dalam mata pelajaran sekolah, mahkamah, penjara, atau buku-buku pegangan untuk tujuan penelitian, pengkajian, pengadilan, pendisiplinan, atau pemerintahan atasnya”

Kalau dalam definisi yang dilakukan oleh Edward W. Said Oriental masih dalam makna dunia Timur secara global, baik itu Timur jauh (the Far Orient) yang meliputi wilayah China, India, Jepang, Korea dan wilayah Asia Tengggara maupun wilayah Timur dekat (the near Orient) yang meliputi wilayah Irak, Iran, Syiria, Lebanon, Arab Saudi, atau yang mencakup seluruh wilayah Arab, belum di pertegas dengan dunia Timur (Islam).

Maka Musthafa al-Damiry, sebagaimana yang dikutip Hikmah, memperjelas bahwa kajian orientalisme yang dimaksud adalah oriental Islam (dunia Timur Islam). Dalam bukunya al-Tabsyir Wa al-Istisyroq beliau menulis, “Pemahaman dan definisi orientalisme itu adalah, kegiatan yang berlabelkan akademis yang dilakukan oleh orang-orang Barat kafir tentang Islam dan Umatnya dari seluruh aspek, baik yang berhubungan dengan akidah, syariah, budaya, peradaban, sejarah, undang-undang, dengan tujuan ingin mengaburkan (tasywih) makna-makna Islam yang benar, membuat keraguan serta menyesatkan Umat Islam.

Sedangkan Muhammad Salih al-Bundaq mendefinisikan orientalisme sebagai berikut: satu gerakan yang mempunyai wacana ilmiah dan bertujuan keagamaan berdasarkan jumlah mereka yang sering meimbulkan polemik (secara umumnya terdiri orang-orang Barat dan lain-lain lagi). Gerakan ini mempunyai kecenderungan mempelajari hal ihwal ketimuran, seperti kesusastraan, kebudayaan, keilmuan, keagamaan, sejarah, bahasa, antropologi dan seterusnya. Sekelompok dari mereka memberikan perhatian yang besar terhadap agama Islam, seperti pengkajian terhadap al-Qur’an, Nabi SAW, sunnah, kelompok-kelompoknya, bahasa, sejarah dan apa yang berkaitan dengan agama Islam sendiri. Mereka mempelajari bahasa Arab untuk tujuan itu dan memperkembangkan hasil penelitian itu untuk tujuan politik.

Dari definisi-definisi di atas dapat kita pahami bahwa orientalisme dari maknanya yang sangat global kepada makna yang khusus, lalu mengerucut menuju pemahaman Barat terhadap dunia Islam. Sehingga tidak heran pada perkembangan gerakan orientalisme selanjutnya terfokus pada acuan mendiskreditkan, menghina, menuduh Islam sebagai fundamentalis, teroris dan sebagainya, dengan memakai kedok akademis dan ilmiah. Jadi yang dimaksud orientalisme adalah kegiatan yang berlabelkan akademis yang dilakukan oleh orang-orang Barat terhadap Islam dengan tujuan untuk mendiskreditkan Islam. Para orientalis berusaha mengkaji dan mempelajari agama Islam dalam berbagai segi, baik secara ontologis, epistemologis dan aksiologis. Setelah itu, mereka mengeluarkan tuduhan terhadap Islam yang sifatnya menghancurkan atau mendiskreditkan Islam.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: