Haji dan Umrah


Haji Dan Umrah

Oleh:

Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

  • Definisi haji secara lughat (bahasa) adalah menyengaja, sedangkan menurut syara’ adalah menyengaja ka’bah dengan tujuan beribadah dengan syarat dan rukun tertentu. Hukum melakukan ritual ibadah haji bagi setiap individu muslim adalah wajib sebanyak satu kali selama hidup, kecuali ada hal yang menuntut harus lebih dari satu kali, seperti karena adanya nadzar.

Dalil diwajibkannya haji

  • قال الله تعالى وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا  [ آل عمران : 97(
    • Artinya : Allah berfirman : “Ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengerjakan perjalanan ke Baitullah.”  (QS. Ali Imron : 97)
    • Dan hadits Nabi yang di riwayatkan oleh Imam muslim :
    • عن أبى هريرة قال : خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال. يأيها الناس ان الله قد فرض عليكم الحج فحجوا.رواه مسلم.
      • Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ia berkata : Nabi bersabda dalam khutbahnya : ” Wahai para manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kamu semua ibadah haji, maka hajilah kalian.”  (HR. Muslim)

Syarat wajib haji

  • Islam;
  • Baligh;
  • Berakal;
  • Istitha’ah (mampu);
  • Merdeka

Istitha’ah haji yaitu kemampuan untuk sampai pada tempat-tempat tujuan ritual ibadah haji dengan kriteria sebagai berikut :

  • Ada biaya untuk menuju tempat tujuan hingga kembali lagi ke tempat asal.
  • Adanya fasilitas transportasi, baik milik pribadi ataupun dengan menyewa.
  • Sehat jasmani.
  • Mampu menempat di kendaraan selama perjalanan pulang dan pergi.
  • Situasi perjalanan aman.
  • Biaya
  • Biaya dalam ibadah haji disyaratkan harus telah melebihi dari hajat hidup dirinya dan keluarga yang ditinggalkan hingga masa kembalinya dia dari Baitullah. Ketentuan ini sesuai dengan redaksi hadits yang diriwayatkan imam Tirmidzi :
  • وروى على رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من وجد من الزاد والراحلة   ما يبلغه فلم يحج فليمت إن شاء يهوديا أو نصرانيا  (رواه الترمذى )
    • Artinya : Sahabat Ali meriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Seseorang yang mempunyai biaya yang mencukupi untuk menunaikan haji, tapi ia enggan menunaikannya, maka hendaknya dia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.” (HR.Tirmidzi}
    • Situasi perjalanan aman

Syarat ini sangat sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh imam Ad Darimi :

إن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من لم يمنعه من الحج حاجة أو مرض أو حابس سلطان جائر ولم يحج فليمت ان شاء يهوديا وان شاء نصرانيا. رواه  الدارمى.

Artinya : Nabi bersabda : “Barang siapa yang tidak dihalangi untuk dapat menunaikan haji oleh suatu keperluan, sakit, atau dilarang penguasa yang sewenang-wenang, dan dia enggan menunaikan haji, maka hendaknya dia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.”   (HR.Darimi}

  • Perempuan harus dengan mahromnya, atau wanita lain yang tsiqoh

Masalah ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan imam Bukhori :

إن النبي صلى الله عليه وسلم قال لاتسافر امرأة فوق ثلاثة أيام الا مع ذى محرم (رواه البخارى )

Artinya : Nabi bersabda : “Janganlah orang wanita bepergian lebih dari tiga hari kecuali dengan mahromnya.” (HR Bukhori)

  • Sehat jasmani  & mampu menempat di kendaraan

Orang yang tidak mampu berangkat haji sendiri karena sakit atau kondisi badan tidak memungkinkan, jika dia mampu menyewa orang lain untuk menggantikannya, maka dia wajib haji dengan cara tersebut. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan imam Bukhori :

روى ابن عباس رضى الله عنه ان امرأة من خثعم أتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت     يا رسول الله إن فريضة الله على عباده فى الحج أدركت أبى شيخا كبيرا لايستطيع أن يستمسك على الراحلة أفأحج عنه قال  نعم قالت ينفعه ذلك قال نعم كما لو كان على أبيك دين فقضيته عنه نفعه  (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa seorang wanita dari golongan Khats’am mendatangi Nabi dan bertanya : “Wahai Rasulullah, kewajiban para hamba terhadap Allah yang berupa haji menjadi tanggungan ayahku yang sudah lanjut usia dan tidak mampu menempat di kendaraan, apakah saya boleh menggantikan hajinya ?” Nabi menjawab : “Ya” Si wanita bertanya : “Apakah hal itu bermanfaat bagi dia (ayahku) ?” Nabi menjawab : “Ya, sebagaimana jika ayahmu punya hutang, kemudian kamu melunasi hutangnya, maka pelunasan kamu sah.” (HR Bukhori)

Hajinya anak kecil yang sudah tamyiz hukumnya sah, karena dia termasuk ahlan lil niyat (niatnya dihukumi sah). Ketentuan ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim yang berbunyi :

ان النبي صلى الله عليه وسلم قفل من مكة فلما بلغ الروحاء لقيه ركب فقال من القوم قالوا المسلمون فقالوا من أنت قال رسول الله فرفعت امرأة صبيا من محفتها وقالت يا رسول الله الهذا الصبي حج فقال نعم وبك أجر. رواه البخارى.

Artinya: Sesungguhnya Nabi SAW kembali dari Makah, ketika sampai di suatu tempat (rauha) bertemu dengan golongan yang naik tunggangan, Nabi bertanya : “Siapa golongan itu?” Mereka menjawab : “Kami dari golongan Muslim”. Mereka bertanya pada Nabi : “Siapa saudara?” Nabi menjawab : “Saya adalah Rasulullah”. Kemudian ada seorang perempuan meletakkan anaknya dari gendongannya dan bertanya pada Nabi : “Apakah anak kecil boleh haji?” Nabi menjawab : “Ia, dan bagimu mendapatkan pahala”. (HR. Bukhori)

*      HUKUM-HUKUM MENUNAIKAN HAJI

Menurut imam Hanafi, Maliki Dan Hambali, kewajiban ibadah haji bagi orang yang sudah istitha’ah (mampu) adalah wajib ‘alal faur (dengan segera). Ketentuan ini berdasar hadits yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah :

إن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من أراد الحج فليستعجل فإنه قد يمرض المريض وتضل الضالة وتعرض الحاجة  (رواه ابن ماجه)

Artinya : Nabi bersabda : ” Barang siapa yang menghendaki ibadah haji maka segera laksanakanlah, karena dikhawatirkan dia sakit, hartanya hilang dan mendadaknya kebutuhan.” (HR.Ibnu Majah)

Menurut imam Syafi’i, seseorang yang sudah istitha’ah (mampu)  melaksanakan ibadah haji, tidak harus menunaikannya dengan segera (faur), melainkan boleh menunggu tahun-tahun berikutnya dengan dua syarat :

1)     Tidak ada kekhawatiran tidak bisa berangkat tahun depan sebab sakit, hilangnya harta atau yang lainnya.

2)     Harus ‘azm (tekad) untuk menunaikan haji tahun-tahun berikutnya.

Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Tirmidzi :

وروى على رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من وجد من الزاد والراحلة   ما يبلغه فلم يحج فليمت إن شاء يهوديا أو نصرانيا  (رواه الترمذى )

Artinya : Sahabat Ali meriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Seseorang yang mempunyai biaya yang mencukupi untuk menunaikan haji, tapi ia enggan menunaikannya, maka hendaknya dia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.” (HR.Tirmidzi}

Secara tekstual, hadits ini tidak menjelaskan harus segera menunaikan haji, yang ada hanya semacam peringatan supaya orang yang telah mampu menunaikan haji tidak meninggalkan kewajibannya.

Telah menjadi kesepakatan ulama madzahib al arba’ah bahwa seseorang yang tidak mempunyai kewajiban haji,apabila dia memaksakan diri menunaikan ibadah haji, seperti orang fakir atau sakit, maka hajinya sah dan menggugurkan kewajiban haji atas dirinya

RUKUN-RUKUN HAJI

Rukun haji adalah suatu ritual haji yang apabila ditinggalkan salah satunya tidak bisa diganti dengan dam (denda) dan hukum hajinya batal

ð  Ihrom;

ð  Wukuf di Arafah;

ð  Thawaf Ifadlah;

ð  Sa’i di antara Shafa dan Marwa:

ð  Mencukur atau memotong rambut;

ð  Tartib (berurutan) di sebagian besar rukun haji

Ihrom adalah niat seseorang untuk masuk dalam ibadah haji atau umroh. Sedangkan membaca talbiyah atau dzikir ketika ihrom hukumnya sunah.

Ihrom tidak harus membaca talbiyah atau dzikir, alasannya karena orang yang ihrom adalah orang yang Iltizam (menyanggupi) untuk menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan sebab ihrom. Hal ini sama dengan puasa yang cukup dengan niat saja dengan tanpa adanya dzikir atau bacaan lainnya.

WUKUF DI ARAFAH

Wukuf di Arafah termasuk rukun haji, dan wukuf dihukumi sah dengan hadir di Arafah pada waktu yang telah ditentukan, baik dalam kondisi tidur, berada di atas kendaraan atau yang lainnya. Tendensi hukum seperti ini karena berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Ahmad dan  Tirmidzi :

إن النبي صلى الله عليه وسلمقال الحج عرفة فمن أدرك عرفة فقد أدرك الحج ومن فاته عرفة فقد فاته الحج  (رواه أحمد والترمذى )

Artinya : Nabi bersabda : “Haji adalah wukuf di Arafah, barang siapa yang wukuf di Arafah, maka dia dihukumi haji (yang sah), dan orang yang tidak wukuf di Arafah, maka hajinya tidak sah.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi)

THAWAF  IFADLAH

Thawaf adalah berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Madzahib al Arba’ah sepakat kalau thawaf ifadlah merupakan rukun haji,

Waktu thawaf  ifadlah dimulai setelah tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah hingga masa yang tidak terbatas. Sedangkan wakru yang utama untuk thawaf ifadlah yaitu hari nahar (tanggal 10 Dzul hijjah)

Syarat sah thawaf versi imam Syafi’i

  1. Suci dari hadats besar dan kecil;
  2. Sucinya badan, pakaian dan tempat dari najis;
  3. Menutup aurat;
  4. Dimulai dari hajar aswad;
  5. Memposisikan ka’bah di sebelah kiri;
  6. Tujuh kali putaran;
  7. Dilakukan di dalam masjid;
  8. 8.      Niat dalam thawaf wada’.
  • SA’I ANTARA SHAFA DAN MARWA

Sa’i adalah lari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwa sebanyak tujuh kali (pulang dan pergi dihitung dua kali). Berdasarkan konsep imam Maliki, Syafi’i dan Hambali, sa’i tergolong rukun haji, namun menurut konsep imam Hanafi, sa’i tergolong wajib haji, bukan rukun haji. Tendensi sa’i antara Shafa dan marwa adalah firman Allah surat Al Baqarah : 158 :

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا    (البقرة : 158)

Artinya: “Sesungguhnya Shofaa dan Marwa  adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barang siapa yang beribadah hajji ke Baitullah atau Ber-Umrah, maka tidak dosa baginya mengerjakan sa’I antara keduanya. (QS. Al  Baqarah :158)  

Dan hadits Nabi yang diriwayatkan imam Abi Daud.

قالت عائشة سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول اسعوا فإن الله كتب عليكم السعي  (رواه أبو داود)

وقالت عائشة رضى الله عنها طاف رسول الله صلى الله عليه وسلم بين الصفا والمروة فطاف المسلمون فكانت سنة ولعمري ما أتم الله حج من لم يطف بينهما  (رواه مسلم)

Artinya: Aisyah berkata : “Saya mendengar Nabi bersabda : “Sa’ilah kalian, seseungguhnya Allah mewajibkan sa’i kepada kalian”.  (HR. Abu Daud)

Dan Aisyah berkata : “Rasulullah sa’i antara Shafa dan Marwa, lalu thawaflah orang-orang Islam, dan hukumnya sa’i adalah sunah. Saya (Aisyah) bersumpah, Allah tidak akan menyempurnakan hajinya seseorang yang tidak sa’i antara Shafa dan marwa”

« Syarat sah sa’i

  1. Tujuh kali;
  2. Di mulai dari bukit Shafa;
  3. Muwalah (terus menerus dan tidak ada pemisah waktu yang lama);
  4. Dilakukan setelah thawaf  rukun   (ifadlah) atau thawaf wajib (qudum)

Dalam konsepnya imam Hambali ada beberapa tambahan syarat sah sa’i :

  1. Niat
  2. Berakal
  3. Berjalan bagi yang mampu

Mencukur atau memotong rambut

Memotong rambut minimal tiga helai, bagi laki-laki diperbolehkan melakukannya dengan cara memotong atau mencukur, sedangkan yang lebih utama mencukurnya namun bagi perempuan yang lebih utama dengan memotongnya. Ketentuan-ketentuan tersebut berdasarkan pada lafadz jama’ (رُءُوسَكُمْ) yang terdapat pada redaksi Al Qur’an surat              Al Fath : 27 :

لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ (الفتح : 27)

Artinya: “Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya. (QS. Al  fath :27)

Dan berdasarkan haditsnya Sahabat Jabir :

روى جابر ان النبى صلى الله عليه وسلم امر أصحابه أن يحلقوا أو يقصروا

Artinya : Sahabat meriwayatkan bahwa Nabi memerintahkan para sahabat supaya mencukur atau memotong rambutnya.

روى إبن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ليس على النساء حلق ولكن النساء التقصير  (رواه أبو داود)

Artinya : Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Bagi perempuan tidak diwajibkan mencukur rambut, tetapi memotong rambut”. (HR. Abu Daud)

Tartib disebagian besar rukun haji

Yaitu dengan cara mendahulukan ihrom atas semua rukun, mendahulukan wukuf atas thawaf  ifadlah, mendahulukan mencukur atau memotong rambut atas sa’i (jika setelah thawaf qudum belum melakukan sa’i), alasannya karena mengikuti tata cara yang dilakukan Nabi. Ketentuan ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan imam Muslim :

قال النبي صلى الله عليه وسلم  خذوا عنى مناسككم  (رواه مسلم)

Artinya : Nabi bersabda : “Laksanakanlah haji sebagaimana aku melakukannya.” (HR. Muslim).

Wajib haji adalah amalan-amalan haji yang apabila ditinggalkan, hajinya tetap sah, hanya saja terjerat sangsi wajib membayar dam (denda).

  1. Ihrom dari miqot.
  2. Mabit di Muzdalifah.
  3. Melempar jamroh.
  4. Mabit di Mina.
  5. Menjauhi hal-hal yang diharamkan sebab ihrom.

Tendensi dan Keterangan :

  • Ihrom dari miqot

Ritual haji atau umroh harus diawali dengan ihrom dari miqot makani, sehingga apabila seseorang yang hendak haji atau umrah telah melewati miqot dalam keadaan belum ihrom, maka ia wajib membayar dam (denda). Ketentuan ini berdasarkan pada hadits yang di riwayatkan imam Malik dan Baihaqi :

عن إبن عباس رضي الله عنه قال النبي صلي الله عليه وسلم من ترك نسكا فعليه دم  (رواه مالك والبيهقي)

Artinnya : Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ia berkata : “Nabi bersabda : “Seseorang yang meninggalkan ihrom dari miqot wajib membayar dam”. (HR: Malik dan Baihaqi)

Miqot bisa dibaca dalam buku LKS atau buku paket atau yang lainnya

  • Mabit di Muzdalifah

Kriteria mabit di Muzdalifah adalah datang di lokasi tersebut setelah lewatnya tengah malam. sehingga kalau keluar sebelum tengah malam dari Muzdalifah maka wajib membayar dam, dan tidak disyaratkan harus lama, yang penting pernah singgah di Muzdalifah meskipun hanya lewat saja, baik dia tahu atau tidak, tidur atau tidak, dengan syarat harus setelah lewat tengah malam,sehingga kalau dia keluar dari Muzdalifah sebelum tengah malam wajib membayar dam,berdasarkan hadits yang di riwayatkan Imam Baihaqi

اان النبي صلي الله عليه وسلم أمر أم سلمة فأفضت في النصف الاخير من اليل من المزدلفة      ( رواه البيهقي)

Artinya : Nabi perintah pada Umi Salamah (supaya keluar dari Muzdalifah setelah tengah malam) kemudian dia melakukannya. (HR : Baihaqi)

Dan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori

روت عائشة أن  سودة استأذنت رسول الله صلي الله عليه وسلم أن تفيض من المزدلفة في النصف الاخير من اليل وكانت امرأة ثبطة  اي ضعيفة وثفيلة, فاذن لها رسول الله صلي الله عليه وسلم وليتني كنت استأذنته  استأذنته سودة (رواه البخاري)

Artinya : Aisyah meriwayatkan bahwa dewi Saudah meminta izin kepada Rasulullah untuk keluar dari Muzdalifah ketika tengah malam yang akhir, Saudah adalah orang yang lemah dan gemuk, kemudian Nabi mengizininya, aku berharap akan izin sebagaimana Saudah. (HR. Bukhori)

  • Mabit di Mina 

Waktu mabit di Mina adalah pada hari tasyrik (tanggal 11,12 dan 13 Dzul hijjah). Kriteria mabit yang dihukumi sah yaitu menempat dilokasi mina pada sebagian besar malam harinya   (معظم الأيام). Tendensi keterangan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam baihaqi :

عن ابن عمر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم يبيت بمنى ليالي الرمي (رواه البيهقي)

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi menginap pada malam harinya melempar jamroh. (HR. Baihaqi)

Dan hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi :

عن ابن عباس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من ترك نسكا فعليه دم  (رواه البيهقي)

Artinya : Nabi bersabda : “Barang siapa yang meningalkan amalan haji/umrah maka wajib membayar dam”. (HR. Baihaqi)

  • Melempar jamroh

Hari nahr (10 Dzul hijjah) adalah hari yang khusus untuk melempar jamroh aqabah, yaitu dimulai setelah lewatnya tengah malam hari tersebut. Ketentuan hukum ini karena berpijak pada hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi :

عن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  رمى جمرة العقبة يوم النحر (رواه البيهقي)

Artinya: Diriwayatkan dari Anas Bin Malik bahwa Rasulullah melempar jamroh aqabah pada hari nahr. (HR. Baihaqi)

عن جابر بن عبد الله قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يرمي على راحلته يوم النحر يقول لتأخذوا مناسككم فإني لا أدري لعلي لا أحج بعد حجتي هذه  (رواه أبو داود)

Artinya : Diriwayatkan dari Sahabat Jabir Bin Abdulloh, Ia berkata : “Aku pernah melihat Rasulullah melempar jamroh dari atas tunggangannya pada hari nahar seraya berkata : “Hendaklah ibadah haji/umrah kalian meniru ibadah-Ku, sesungguhnya Aku tidak tahu mungkinkah Aku tidak bisa haji lagi setelah haji ini”. (HR. Abu Daud)

Hari tasyrik (11, 12, 13 Dzul hijjah) adalah hari pelaksanaan lempar jumroh ula, wusto dan  aqabah. Waktunya yaitu mulai tergelincirnya matahari tanggal 11 Dzul hijjah sampai tenggelamnya matahari hari tasyrik yang akhir (13 dzulhijah). Pernyataan ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan imam Tirmidzi :

عن جابر قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يرمي يوم النحر ضحى وأما بعد ذلك فبعد زوال الشمس (رواه الترمذي).

Artinya : Diriwayatkan dari Sahabat Jabir, Ia berkata : “Nabi melempar jamroh di hari nahr pada waktu dluha, sedangkan untuk hari setelahnya (hari tasyrik ) dilaksanakan setelah tergelincirnya matahari”. (HR.Imam Tirmidzi).

  • Menjauhi hal-hal yang dilarang sebab ihrom

Seseorang yang sedang dalam keadaan ihrom wajib menjauhi hal-hal yang diharamkan, seseorang yang melanggar peraturan ini, maka secara universal terdapat dua sangsi :

  1. Wajib membayar dam dan hajinya tetap sah, yaitu seperti memakai wangi-wangian.
  2. Hajinya batal dan wajib qodlo, yaitu ketika melakukan jima’ sebelum tahalul awal.

Dalam kondisi ihrom seorang muhrim tidak boleh melakukan hal-hal berikut :

  1. Bersetubuh;
  2. Berbuat ma’siat;
  3. Berdebat yang tidak perlu;
  4. Membunuh atau mengusik hewan darat;
  5. Memakai wangi-wangian;
  6. Memakai pakaian yang berjahit dan menyelubungi badan;
  7. Mencukur atau memotong rambut.

Tendensi dan Keterangan :

  • Bersetubuh, berbuat ma’siat dan berdebat yang tidak perlu

Bagi muhrim (orang yang dalam keadaan ihrom) tidak boleh berhubungan badan atau hal-hal yang mendorong terhadap perbuatan jima’, berbuat ma’siat, baik berupa ucapan, tingkah laku atau lainnya, dan berdebat hal yang tidak perlu, berbeda ketika yang diperdebatkan merupakan permasalahan yang ada kaitannya dengan ibadah haji, maka hal itu diperbolehkan. Ketentuan hukum ini berdasarkan firman Allah surat Al Baqarah : 197 :

 الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ  ( البقرة: 197)

Artinya : ” Waktu haji adalah bulan-bulan tertentu. Maka barang siapa melaksanakan ibadah haji, tidak diperkenankan bagimya untuk mengumpuli istri , perbuatan fasik, dan berdebat ketika haji .Apa saja yang kamu lakukan dari kebaikan maka Allah mengetahuinya “.  (QS. Al Baqarah : 197)

  • Membunuh atau mengusik hewan 

Larangan ini tidak khusus membunuh atau mengganggu saja, namum setiap usaha yang mengarah kesana, seperti memberi isyarah (petunjuk) pada orang hendak memburunya. Pernyataan hukum ini bertendensi pada firman Allah surat Al Maidah : 95-96 :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ  (المأئدة : 95)

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian  membunuh hewan  sementara kalian dalam keadaan ihrom. Barang siapa membunuhnya dengan sengaja maka dia mendapat balasannya, yakni hewan yang sepadan dengan yang dibunuh yang telah ditentukan oleh dua orang yang adil dari kalian sebagai hadiah yang dikirimkan ke Ka’bah   ( tanah harom),atau membayar kafaroh dengan  membari makan orang-orang miskin atau dengan berpuasa yang sepadan dengan memberi makan, supaya merasakan balasannya..Allah mengampuni yang dulu .Barang siapa mengulanginya maka Allah akan menyiksanya. Allah Maha Perkasa dan Pemilik siksa”.  (QS. Al Maidah : 95)

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (المأئدة : 96)

Artinya:“Dihalalkan bagi kalian  hewan dan makanan dari laut, sebagai ni’mat bagi kalian dan orang orang yang bepergian dan  diharamkan bagi kalian  hewan darat selama kalian masih dalam keadaan ihrom .Dan bertaqwalah kepada Allah , kepadanyalah kalian akan di hasyr ( dikumpulkan di Mahsyar)”. (QS. Al Baqarah : 96)

  • Memakai wangi wangian

Keharaman memakai wangi-wangian pada badan dan pakaian bagi seorang muhrim bukan hanya dikhususkan ketika dia dalam kondisi hidup, namun juga berlaku bagi jenazahnya seseorang yang mati dalam keadaan ihrom, hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut :

قال النبي صلي الله عليه وسلم لا يلبس من الثياب شيئ مسه زعفران  (رواه البخارى )

Artinya : Nabi bersabda : “Tidak diperkenankan (bagi muhrim) memakai pakaian yang terkena minyak Za’faron”. (HR.Bukhori).

Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi :

قال النبي صلي الله عليه وسلم  الحاج أشعث أغبر  (رواه البيهفى )

Artinya : Nabi bersabda : “Kondisi orang yang haji itu tidak teratur (tidak terawat)  rambutnya dan berdebu”. (HR.Baihaqi)

قال النبي صلي الله عليه وسلم فى الميت المحرم ولا تقربوه طيبا (رواه البخارى )

Artinya : Nabi berkata ketika ada orang yang ihrom meninggal : “Janganlah kalian menyentuhkan minyak wangi kepadanya”. (HR. Bukhori)

Berdasarkan tiga hadits diatas para ulama menyatakan bahwa orang yang dalam kondisi ihrom tidak diperbolehkan memakai minyak wangi, walaupun dalam keadaan tidak bernyawa.

  • Memakai pakaian berjahit dan menyelubungi badan

Hukum keharaman ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Bukhori dan Muslim :

روى ابن عمر رضى الله عنه أن رجلا قال يا رسول الله ما يلبس المحرم من الثياب قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يلبس القميص ولا العمائم ولا السراويلات  (رواه البخارى ومسلم )

Artinya : Ibnu Umar meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya: ” Wahai Rasulullah, jenis pakaian apa saja yang boleh dikenakan oleh orang yang ihrom?”  Nabi menjawab : “Orang yang ihrom tidak boleh memakai gamis (baju kurung), sorban dan celana”. (HR.Bukhori-Muslim)

  • Mencukur atau memotong rambut

 قال الله تعالى وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ   (البقره : 196)

Artinya : Allah berfirman : “Janganlah kalian  mercukur rambut kalian “. (Al Baqarah :196)

Seorang yang sedang ihrom tidak boleh melaksanakan prosesi akad nikah, baik bertindak sebagai orang yang mengakadi maupun yang diakadi, artinya akad nikah yang dilakukan dalam keadaan sedang ihrom tidak sah.

Hajinya seseorang akan batal karena melakukan hal-hal sebagai berikut :

Meninggalkan wukuf di Arafah atau rukun haji yang lain

Madzahib al arba’ah sepakat apabila orang yang haji tidak wukuf di Arafah pada waktu yang telah ditentukan maka hajinya batal. Tendensi kesepakatan ini adalah  hadits yang diriwayatkan imam Tirmidzi dan Abu Daud :

إن النبي صلى الله عليه وسلمقال الحج عرفة فمن أدرك عرفة فقد أدرك الحج ومن فاته عرفة فقد فاته الحج  (رواه أحمد والترمذى )

Artinya : Nabi bersabda : “Haji adalah wukuf di Arafah, barang siapa yang wukuf di Arafah, maka dia dihukumi haji (yang sah), dan orang yang tidak wukuf di Arafah, maka hajinya tidak sah” . (HR.Ahmad dan Tirmidzi)

Bersetubuh

Kriteria bersetubuh yang dapat membatalkan haji yaitu memasukkan hasafah (penis) atau kadar panjangnya penis bagi orang yang terpotong penisnya, kedalam farji (lubang jalan depan atau belakang) dari manusia atau hewan dengan ketentuan menurut masing-masing madzhab ulama. Tendensi batalnya haji sebab bersetubuh adalah firman Allah surat Al Baqarah : 197 :

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ  ( البقرة: 197)

Artinya : ” Barang siapa melaksanakan ibadah haji, tidak diperkenankan bagimya untuk mengumpuli istri , perbuatan fasik, dan berdebat ketika haji .Apa saja yang kamu lakukan dari kebaikan maka Allah mengetahuinya “.  (QS. Al Baqarah : 197)

Jima’ dalam kondisi ihrom dapat membatalkan haji ketika memenuhi beberapa kriteria :

  1. Memasukkan hasafah (penis) atau kadar panjangnya penis bagi orang yang terpotong penisnya, kedalam farji (lubang jalan depan atau belakang) dari manusia atau hewan;
  2. Dilakukan dengan sengaja, tidak dipaksa dan tau hukum keharamannya;
  3. Dilakukan sebelum tahalul awal

Seorang muhrim yang melakukan pelanggaran ihrom selain jima’, maka baginya terkena wajib fidyah yang dapat dibayarkan dengan salah satu dari tiga hal, yaitu :

  1. Menyembelih kambing yang cukup untuk dibuat kurban dan diberikan kepada fakir miskin tanah Haram (Makah dan Madinah)
  2. Sodaqoh 3 sho’ (7,5 Kg) dan diberikan fakir miskin tanah Haram (Makah dan Madinah) setiap satu fakir miskin setenga so’ (1,25 Kg).
  3. Puasa tiga hari, meskipun tidak berturut-turut.

Kriteria menentukan kewajiban bagi  muhrim yang membunuh hewan larangan :

Hewan yang memiliki persamaan dengan Na’am (unta, sapi dan kambing). Hal ini sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan para Sahabat, Tabi’in (generasi setelah Sahabat) atau dengan ijtihad seperti yang dilakukan oleh imam Maliki. Pernyataan ini berdasarkan firman Allah :

يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ  . الاية

Artinya: “ikutilah ketetapan hukum dari orang adil”.

Ketetapan-ketetapan tersebut adalah :

  1. Membunuh burung kasuari, gantinya menyembelih unta.
  2. Membunuh keledai liar ,gantinya menyembelih unta atau sapi.
  3. Membunuh unta liar, gantinya menyembelih sapi.
  4. Membunuh trenggiling, gantinya menyembelih kambing umur 4 bulan.
  5. Membunuh sapi liar, gantinya menyembelih sapi.
  6. Membunuh burung merpati, gantinya menyembelih kambing.

Apabila hewan yang dibunuh tidak ada ketentuan dari Sahabat atau Tabi’in, maka  hewan penggantinya ditentukan oleh dua orang adil untuk menentukannya.

Apabila hewan yang dibunuh tidak ada  ketentuan dari Sahabat, Tabi’in, maka dengan mengkira-kirakan harga hewan tersebut lalu dibelikan makanan dan di sodaqohkan pada fakir miskin negara Makkah- Madinah

Dari uraian di atas, ulama menarik kesimpulan inti yaitu seseorang yang membunuh hewan buruan boleh memilih salah satu dari tiga cara untuk membayar dendanya :

  1. Mengganti (menyembelih) hewan yang sama dan dibagikan kepada fakir miskin (Makah dan Madinah).
  2. Sodaqoh (kafarat) pada fakir miskin (Makah dan Madinah) sesuai dengan harga hewan yang dibunuh.
  3. Puasa, setiap nilai makanan satu mud (6-7 ons) dipuasai satu hari..

Dalam literatur fiqih, ada enam hewan darat yang boleh dibunuh, yaitu :

  1. Anjing buas.
  2. Harimau, dengan segala jenisnya.
  3. Burung elang atau sejenisnya.
  4. Ular, dengan segala jenisnya.
  5. Kalajengking, dengan segala jenisnya.
  6. Burung rajawali.

Macam-macam Haji

Haji bisa dilakukan dengan salah satu dari tiga cara :

 Haji Ifrad

Haji Ifrad yaitu melakukan ihrom untuk ritual haji, kemudian  setelah selesai dari amalan haji dan tahallulnya  dilanjutkan dengan melakukan ihrom untuk ritual umroh.

Contoh niat ihromnya adalah :

نويت الحج وأحرمت به لله تعالى

Artinya : “Saya niat haji dan ihromnya karena Allah Ta’ala”

Setelah selesai dari amalan haji dan tahalulnya, kemudian keluar ke adnal hill (tanah halal terdekat) lalu melaksanakan ihrom untuk umroh dengan niat :

نويت العمرة وأحرمت بها لله تعالى

Artinya : “Saya niat umroh dan lkhromnya karena Allah Ta’ala”

  • Haji Tamattu’

Haji Tamattu’ yaitu melakukan ihrom untuk ritual umroh dahulu, kemudian  setelah selesai dari amalan umroh dan tahallulnya  baru melakukan ihrom untuk ritual haji.

Contoh niat ihromnya adalah :

نويت العمرة وأحرمت بها لله تعالى

Artinya : “Saya niat umroh dan ihromnya karena Allah Ta’ala”

Setelah selesai dari amalan umroh dan tahalulnya, kemudian keluar ke adnal hill (tanah halal terdekat) lalu melaksanakan ihrom untuk haji dengan niat :

 نويت الحج وأحرمت به لله تعالى

Artinya : “Saya niat haji dan ihromnya karena Allah Ta’ala”

  • Haji Qiron

Melakukan ihrom satu kali untuk ritual haji dan umroh secara bersamaan dan tahallulnya juga satu.

نويت الحج والعمرة وأحرمت بهما لله تعالى

Artinya : “Saya niat haji dan umroh, dan ihrom untuk keduanya karena Allah Ta’ala”

Satu kali melakukan amalan dan tahallul mencukupi untuk haji sekaligus umroh.

Dalil yang digunakan sebagai dasar tata cara di atas adalah hadits Nabi yang diriwayatkan imam Bukhori dan imam Muslim :

روى عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع فمنا من أهل بالحج ومنا من أهل بالعمرة ومنا من أهل بالحج والعمرة  . متفق عليه .

Artinya :Diriwayatkan Dewi Aisyah, Ia berkata : “Nabi bersabda : “Kami pergi bersama Rasulullah katika  haji Wada’, sebagian dari kita melakukan ihrom untuk haji, dan sebagian yang lain melakukan ihrom untuk umroh, dan sebagian lagi melakukan ihrom untuk haji dan umroh.” (HR.Bukhori-Muslim)

Dan hadits yang diriwayatkan imam Bukhori dan Muslim :

روى عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجة الوداع فقال النبي صلى الله عليه وسلم من أراد أن يهل بالحج فاليفعل ومن أراد أن يهل بالعمرة فاليفعل وأما أنا فأهل يالحج  (رواه  البخارى والمسلم)

Artinya : Diriwayatkan Dewi Aisyah, Ia berkata : “Nabi bersabda : “Kami pergi bersama Rasulullah katika  haji Wada’, kemudian Nabi bersabda : “Barang siapa yang menghendaki ihrom untuk haji, lakukanlah, dan barang siapa ihromuntuk umroh, lakukanlah, kalau aku akan ihrom untuk haji”. (HR.Bukhori-Muslim)

Penjelasan :

 Berdasarkan kesepakatan Madzahib al Arba’ah, orang yang haji tamattu’ wajib membayar dam (menyembelih kambing yang cukup untuk dibuat kurban) karena ia meniggalkan ihrom dari miqot yang semula wajib baginya dengan lima syarat :

  1. Bukan orang yang tergolong mukim di Makah (orang yang menetap di tempat yang kurang dari dua marhalah (81 Km) dari Makah (Masjid al haram).
  2. Umroh dilakukan di bulan haji.
  3. Umroh dan haji dilaksanakan di tahun yang sama.
  4. Ihrom haji tidak didahului melakukan perjalanan keluar dengan menempuh jarak dua marhalah (81 km) dari Makah.
  5. Setelah tahallul umroh, melakukan ihrom haji.

Kewajiban membayar dam pada haji tamattu’ karena berdasarkan firman Allah surat Al Baqarah : 196 :

قال الله تعالى: فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْي. [سورة البقرة: 196]

Artinya : Allah barfirman; “seseorang yang tamattu’ dibulan haji maka ia wajib menyembelih kambing”. (QS. Al-Baqarah:196).

Apabila orang yang haji tamattu’ tidak mempuyai atau tidak menemukan dam maka ia wajib puasa sepuluh hari, yaitu tiga hari dilakukan di Makah dan tujuh hari ketika sudah di rumah. Ketentuan ini berdasarkan pada firman Allah surat Al Baqarah : 196 :

 قال تعالى: فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ .الاية (البقرة 196)

Artinya: Allah berfirman: “seseorang yang haji tamattu’ dan ia tidak menemukan dam maka ia wajib puasa ketika masih haji selama tiga hari, dan tujuh hari ketika sudah pulang”. (QS. Al-baqarah:196).

Kewajiban dam tidak secara otomatis dibebankan untuk setiap orang yang haji tamattu’, akan tetapi bagi orang yang tidak menempat diwilayah yang kurang dari dua marhalah (81 Km), pernyataan ini karena berdasarkan firman Allah surat Al Baqarah : 196 :

قال تعالى: ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ . الاية (البقرة 196)

Artinya: Allah berfiirman: “kewajiban membayar dam tersebut bagi orang yang tidak mukim di masjidil haram (mukim di tempat yang kurang  81 km dari masjidil haram”). (QS.Al Baqarah 176).

Madzahib al Arba’ah juga sepakat bahwa orang yang haji qiron wajib membayar dam (menyembelih kambing yang cukup untuk kurban) karena dia meninggalkan salah satu miqot yang disebabkan ihrom satu kali untuk dua hal (haji dan umroh). Pernyataan ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan imam Bukhori dan Muslim :

روى عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم أهدى عن نسائه بقرة وكن قارنات . متفق عليه .

Artinya : Dewi Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi mengeluarkan hadiah (dam satu sapi) atas nama istri-istrinya yang haji qiron”. (HR. Bukhori-Muslim).

Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi :

إن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قارن بين الحج والعمرة فليهرق دما  (رواه البيهقي)

Artinya : Nabi bersabda : “Barang siapa  yang menyertakan haji dan umroh, maka ia wajib menyembelih hewan”. (HR. Baihaqi).

Umrah

Pengertian Umroh menurut bahasa adalah: Ziarah. Sedangkan menurut pengertian syara’, umroh diartikan dengan ziarah ke Baitullah dengan menggunakan aturan-aturan dan tata cara tertentu.

Beliau berdua sepakat kalau hukum umrah adalah wajib (fardlu). Pendapat ini didukung oleh Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Jabir, Atho’, Ibnu Musayyaab dan Sa’id Bin Jubair. Berdasarkan firman Allah dalam surat Al Baqarah 196.

قال الله تعالى: وأتموا الحج والعمرة لله. البقرة 196.

Artinya: Allah berfirma: “sempurnakanlah haji dan umrohmu hanya karena Allah”. (QS: Al Baqarah 196).

Dan hadis yang di riwayatkan Imam Baihaqi:

روى جابر ان النبى صلى الله عليه وسلم قال: الحج والعمرة فريضتان لاتبال بأيهما بدات. رواه البيهقى.

Artinya: Nabi bersabda: “Haji dan Umrah itu kedua-duanya fardlu, kamu boleh memilih salah satunya”. (HR. Imam Baihaqi).

Dan hadis yang di riwayatkan Imam Ibnu Hibban dan Imam Ahmad.

قالت عائشة يارسول الله هل على النساء من جهاد قال: نعم عليهن جهاد لا قتال فيه. الحج والعمرة. رواه أحمد وابن حبان.

Artinya:A’isyah berkata pada Nabi: “apakah seorang wanita mempunyai kewajiban untuk melakukan jihad (perang)?, Nabi menjawab: Ya mereka wajib jihad akan tetapi jihad yang tidak terdapat peperangan didalamnya. Yaitu haji dan umrah”.( HR: Imam Ahmad dan Ibnu Hibban).

Syarat wajib umrah menurut (Imam Syafi’I dan Hambali) atau syarat sunah muakkad (menurut Imam Hanafi dan Maliki) sama dengan syarat yang ada di dalam bab haji. Antara lain istitho’ah, mampu berangkat sendiri atau menyewa orang lain (istitho’ah binafsihi au bighoirihi).

Dari keterangan firman Alloh surat al- Baqarah 196 dan hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi, Ahmad, Ibnu Hibban, tersebut diatas, imam Syafi’i, Hambali, sepakat bahwa hukumnya umroh adalah wajib ( fardlu ) sama dengan hukumnya haji.

Rukunnya umrah ada lima, yaitu:

  1. ihrom,
  2. thowaf,
  3. sa’i diantara shofa dan marwah,
  4. mencukur atau memotong rambut
  5. tertib (dilaksanakan secara berurutan) diantara rukun yang ada.

Madzahibul arba’ah sepakat bahwa dalam umrah terdapat persamaan dengan haji di beberapa hal antara lain: tata cara ihrom, beberapa fardlu, beberepa kesunhan, hal-hal yang diharamkan sebab ihrom, beberapa kemakruhan, beberapa hal yang membatalkan dan terhalang untuk menyempurnakan (ihsor).

Sedangkan umroh berbeda dengan haji dalam beberapa hal yaitu: tidak di tentukan dengan waktu, tidak ada batas waktunya, tidak ada wukuf, tidak ada mabit di muzdalifah, tidak ada melempar jamrah dan tidak ada thowaf qudum miqotnya tanah halal bagi siapapun. Imam Hanafi menambahkan dua hal yaitu: tidak wajib dam badanah ( unta) ketika umrahnya batal atau thowaf dalam keadaan junub. Hanya saja wajib menyembelih satu ekor kambing dan tidak ada thowaf wada’. Imam Hambali menambahkan, umroh bisa batal dengan menyetubuhi istrinya apabila dilakukan sebelum sempurnanya umroh dengan melakukan sa’i diantara Shofa dan Marwah. Masalah damnya ( unta atau kambing )sama dengan imam Syafi’i dan Hambali dalam perinciannya

HAJI ATAS NAMA ORANG LAIN

Masalah  boleh atau tidaknya haji di gantikan oleh orang lain, dalam masalah ini ada beberapa pendapat dari kalangan para Ulama diantaranya :

Versi Imam Hanafi

Menurut beliau seseorang yang mempunyai udzur untuk berangkat haji, maka hajinya dapat di gantikan oleh orang lain dengan beberapa syarat yaitu:

  1. Menderita sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, seperti orang buta dan orang lumpuh.
  2. Orang yang menggantikan harus berniat haji atas nama orang yang digantikannya
  3. Kebanyakan biaya ( 60 % – 40% ()dari hartanya orang yang digantikan kalau memang wasiat, kalau tidak wasiat cukup dari hartanya orang yang menghajikan.
  4. orang yang menghajikan (naib) tidak boleh mengambil ujroh (ongkos) kecuali untuk keperluan yang dibutuhkan selama perjalanan ketika melaksanakan ibadah haji tersebut. Kalau si naib memaksa minta ujroh (ongkos) maka hajinya batal atau tidak sah.
  5. naib yang menghajikan harus melaksanakan haji sesuai dengan perintah dari orang yang digantikannya, seperti perintah untuk melaksanakan haji Qiron dan sebagainya.
  6. naib (yang menghajikan) harus sama dengan orang yang digantikan dalam hal islam, baligh dan berakal.
  7. naib minimal harus sudah tamyiz meski belum baligh.

Pendapatnya Imam Hanafi ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Bukhori dan Muslim

اان المرأة الخثعمية قالت يارسول الله ان فريضة الله على عباده فى الحج ادركت أبي شيخا كبيرا لا يستطيع ان يثبت على الراحلة أفأحج عنه قال نعم قالت اوينفعه ذلك قال نعم  كما لو كان على ابيك دين فقضته نفعه .( متفق عليه).

Artinya:“Seorang perempuan yang bernama Khots’amiyah bertanya kepada Nabi: sesungguhnya ibadah haji yang diwajibkan oleh Allah kepada hamban-NYA sangatlah berat bagi orang tua saya yang telah beranjak tua sekali. Apakah saya boleh melaksanakan ibadah haji atas namanya wahai rosulullah?lalu Nabi menjawab : ya, berhajilah kamu untuknya. Wanita itupun kembali bertanya: apakah haji saya tersebut bisa  bermanfaat baginya? Nabi menjawab: ya sebagaimana ketika ayahmu punya hutang bukankah kamu bisa melunasi dan bermanfaat baginya?. (HR: Bukhori-Muslim).

Masalah naib melakukan hal-hal yang membatalkan haji seperti melakukan hubungan suami istri, maka hukumnya diperinci sebagai berikut :

  • Apabila ia melakkukan hal tersebut sebelum wukuf di Arafah, maka ia (naib) wajib mengganti semua biaya yang ia terima dari orang yang di hajikannya.
  • Apabila hal-hal yang membatalkan haji seperti melakukan hubungan suami istri dilakukan sesudah wukuf, maka ia tidak wajib mengganti semua biaya yang telah ia terima, karena hajinya tidak batal dan ia telah melaksanakan rukun yang paling agung (wukuf).

Versi Imam Maliki.

Masalah menggantikan haji atas nama orang lain menurut beliau terdapat beberapa perincian, sebagai berikut:

  • Apabila seseorang menderita sakit dan sakit tersebut bisa diharapkan kesembuhannya atau bahkan sehat, maka hajinya tidak sah apabila digantikan oleh orang lain.
  • Apabila sakit yang dideritanya sudah tidak ada harapan untuk dapat disembuhkan maka hajinya bisa di gantikan oleh orang lain baik haji sunah ataupun haji wajib.

Hal ini berdasarkan pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori_Muslim.

قالت خثعمية ان أبي شيخ كبير لايستطيع ان يستمسك على الراحلة افاحج عنه قال نعم حجى عن ابيك واعتمرى.( متفق عليه).

Artinya:“Seorang wanita bernama Khts’amiyah bertanya kepada Nabi: sesungguhnya ayah saya sudah  sangat tua, ia tidak mampu lagi untuk naik kendaraan. Apakah saya boleh pergi haji atas namanya? Nabi menjawab: Ya, kerjakanlah ibadah haji dan umroh atas nama ayah kamu”. (HR. Bukhori-Muslim).

Versi Imam syafi’i

Bagi orang yang sangat tua, sekiranya tidak mampu lagi naik kendaraan atau menderita sakit yang tidak bisa di harapkan kesembuhannya, maka ia diperbolehkan menyewa orang lain untuk menghajikannya dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Antara rumahnya dengan makkah jaraknya ada dua marhalah (81 km)
  2. Orang yang menghajikan (naib) sudah pernah melaksanakan haji
  3. Yang menggantikan haji dan yang digantikan hajinya harus sama-sama tahu, dan telah sepakat dalam masalah amalan sunah atau wajib dalam ritual haji.
  4. Orang yang menggantikan haji orang lain harus mampu melaksanakan amalan haji sesuai dengan ketentuan dan tatacara dalam haji.
  5. Orang yang menggantikan haji harus berniat melaksanakan haji atas nama orang yang dihajikannya.

Pendapat Imam Syafi’i ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Nasa’i

روى ابن عباس ان امرأة سألته ان يسأل لها رسول الله صلى الله عليه وسلم ان امها ماتت ولم تحج فهل يجزئها عنها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لو كان على امها دين فقضته عنها كان يجزئ عنها. رواه النسائ).

Artinya:“Seorang perempuan yang ditinggal mati oleh ibunya yang belum melaksanakan ibadah haji mendatangi sahabat Ibnu Abbas, agar beliau bertanya kepada rosulullah SAW: apakah ia bisa melaksanakan haji atas nama ibunya yang telah meninggal ? Nabi menjawab: kalau ibunya mempunyai hutang dan ia melunasinya, maka bermanfaat baginya”. (HR: Imam Nasa’I).

Dan hadits yang diriwayatkan bersama Bukhori dan Muslim

قالت الخثعمية قالت يارسول الله ان فريضة الله على عباده فى الحج ادركت أبي شيخا كبيرا لا يستطيع ان يثبت على الراحلة أفأحج عنه قال نعم قالت اوينفعه ذلك قال نعم  كما لو كان على ابيك دين فقضيته نفعه .( متفق عليه).

Artinya:“Seorang perempuan yang bernama Khots’amiyah bertanya kepada Nabi: sesungguhnya ibadah haji yang diwajibkan oleh Allah kepada hamban-NYA sangatlah berat bagi orang tua saya yang telah beranjak tua sekali. Apakah saya boleh melaksanakan ibadah haji atas namanya wahai rosulullah? Lalu Nabi menjawab : ya, berhajilah kamu untuknya. Wanita itupun kembali bertanya: apakah haji saya tersebut bias bermanfaat baginya? Nbi menjawab: ya sebagaimana ketika ayahmu punya hutang bukankah kamu bisa melunasi dan  bisa bermanfaat baginya?”. (HR. Bukhori-Muslim).

روى جابر ان النبي صلى الله عليه وسلم سمع رجلا يلبى عن شبرمة فقال النبي صلى الله عليه وسلم ومن شبرمة قال أخ لى أو قريب فقال النبي صلى الله عليه وسلم احججت عن نسك فقال:لا قال: فحج عن نسك ثم حج عن شبرمة (رواه ابو داود والبيهقى).

Artinya:

“Nabi mendengar seorang lelaki yang sedang membaca talbiyah haji atas nama syubromah, Nabi bertanya: siapakah syubromah itu, lelaki itupun menjawab: saudaraku atau kerabatku. Nabi bertanya lagi: apakah kamu sendiri sudah pernah haji: ia menjawab” belum, Nabi bersabda: berhajilah kamu atas nama diri kamu sendiri setelah itu lakukanlah haji atas nama saudaramu (syubromah)”.( HR. Abu Dawud dan Baihaqi )

Versi Imam Hambali.

Kewajiban haji seseorang boleh digantikan oleh orang lain apabila ada udzur, seperti sangat tua atau sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, atau orang yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya ia belum melakasanakan haji padahal ia sudah berkewajiban menunaikan ibadah haji, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Nasa’i

روى ابو رزين انه اتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يارسول الله ان ابى شيخ كبير لايستطيع الحج ولاالعمرة قال: حج عن أبيك واعتمر. رواه النسائ وهو حديث حسن.

Artinya:

“Abu Rozin datang kepada Nabi, kemudian bertanya: wahai rosulullahayah sesungguhnya saya mempunyai ayah yang sudah sangat tua dan tidak mampu naik kendaraan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, lalu Nabi bersabda:Tunaikanlah ibadah haji dan umrah atas nama ayahmu. HR: Imam Nasa’I”.

اان النبي صلى الله عليه وسلم لما سئل عن الحج عمن عليه الحج قال: أرأيت لوكان على أخيك دين اكنت قاضيه قال نعم قال فاقض فالله احق بالوفاء. رواه النسائ.

Artinya:

“Ketika Nabi ditanya tentang masalah orang yang mati dan ia belum menunaikan ibadah haji, lalu Nabi balik bertanya: tahukah kamu, seandainya saudaramu punya hutang bukankah kamu semua boleh membayarnya?. Sahabatpun menjawab: ya, boleh. Nabi bersabda” maka lunasilah hutang (haji) tersebut, karena haji merupakan hubungan hamba Allah dengan-Nya, maka hutang (haji) kepada Allah lebih berhak untuk dipenuhi. HR: Imam Nasa’I”.

ZIARAH KE MAKAM NABI SAW

Madzahibul Arba’ah  telah sepakat bahwa ziarah kemakam Nabi Muhammad SAW hukumnya sunah. Bahkan sebagian Ulama Hanafi ada yang berpendapat kalau hukum berziarah ke makam Nabi mendekati wajib bagi orang yang mampu. Berdasarkan hadis:

اان النبي صلى الله عليه وسلم قال: من زارنى او زار قبرى كنت له شفيعا أو شهيدارواه أبوداود.

Artinya: Nabi bersabda: “seseorang yang datang kepadaku ketika aku masih hidup atau ziarah ke makamku setelah aku meninggal maka kelak di hari kiamat aku akan memberi pertolongan atau menjadi saksi untuknya”.(HR.Abu Daud).

Dan hadits yang diriwayatkan Imam Daroquthni.

روى عنه صلى الله عليه وسلم انه فال” من زار قبرى وجبت له شفاعتى. رواه الدارقطنى.

Artinya: Nabi bersabda: “barang siapa berzairah kemakamku maka wajib baginya syafaatku (pertolonganku). (HR.Daru Quthni).

قال النبي صلى الله عليه وسلم” من حج وزار قبرى بعد موتى كان كمن زارنى فى حياتى. . رواه الدارقطنى.

Artinya:Nabi bersabda: “barang siapa menunaikan ibadah haji dan berziarah kemakamku setelah aku meninggal, maka sama halnya ia berziarah kepadaku ketika aku masih hidup”. (HR. Daru Quthni).

TATA CARA ZIARAH KE MAKAM NABI MUHAMMAD SAW.

Ketika berziarah ke makam Rosulullah disunahkan memenuhi beberap hal, yaitu:

Memperbanyak membaca sholawat di perjalanan dengan sholawat yang ia bisa.

Mandi sebelum dan sesudah ziarah.

Memakai wewangian.

Memakai pakaian yang paling baik.

Ketika dindingnya kota madinah sudah nampak dianjurkan membaca do’a :

 اللهم هذا حرم نبيك فاجعله وقاية لى من النار وأمانا من العذاب وسوء الحساب.

Artinya: “Wahai Allah, tempat ini adalah tempat mulyanya Nabi Tuan, jadikanlah untukku penjaga dari api neraka dan sebagai penyentausa dari siksa dan hisab yang kurang baik”.

KETIKA MASUK MADINAH MEMBACA DO’A

اللهم رب السموات وما اظللن ورب الأرضين وما افللن ٍورب الرياح وما ذرين اسالك خير هذه البلدة وخير أهلها وخير ما فيها وأعوذ بك من شرها وشر ما فيها وشر أهلها اللهم هذا حرم رسلك فاجعل دخولى فيه وقاية لى من النار وأمانا من العذاب وسوء الحساب.

Artinya:“Aku meminta kebaikan Negara ini, kebaikan orang yang menempati Negara ini dan kebaikan yag ada didalamnya.dan aku memohon perlindungan dari kejelekan Negara ini serta kejelekan yang ada didalamnya. Kejelekan orang yang menempatinya. Ya….Allah tempat ini adalah tempat mulia Utusan-utusan-Mu jadikanlah masuk saya ini sebagai penjaga dari api neraka dan penyentausa dari siksa dan hisab yang kurang baik”.

Ketika akan memasuki masjid mendahulukan kaki kanan dan membaca do’a :

اللهم صل على محمد وأل محمد اللهم اغفرلى ذنوبى وافتح لى أبواب رحمتك اللهم اجعلنى اليوم من أوجه من توجه اليك وأقرب من تقرب اليك وأنجح من أعال وابتغى مرضاتك. ويصلى عند مقبره ركعتبن.

Artinya:“Ya…Allah semoga senantiasa Engkau limpahkan rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarganya, ampunilah dosa-dosaku bukalah pintu rahmat-Mu. Jadikanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang  paling dekat menghadap kepada-Mu, dan pling dekatnya orang-orang yang selalu mendekat kepada-mu. Dan jadikanlah aku sebagai orang yang luhur dan senantiasa mencari ridlo-Mu”.

Setelah itu shalat dua roka’at di dekat mimbarnya Nabi.

Ketika sampai di makam mengucapkan salam.

االسلام عليك يا نبي الله ورحمة الله وبركاته اشهد انك رسول الله فقد بلغت الرسالة واديت الأمانة ونصحت الأمة وجاهدت فى امر الله حتى قبض الله روحك حميدا محمودا فجزاك الله عن صغيرنا وكبيرنا خير الجزاء وصلى عليك أفضل الصلاة وأزكاها واتم التحية واتماها اللهم اجعل نبينا يوم القيامة أقرب النبيين واسقنا من كأسه وارزقنا من شفاعته واجعلنا من رفقائه يوم القيامة. اللهم لاتجعل هذا أخر العهد بقبر نبينا عليه السلام وارزقنا العود اليه يا ذا الجلال والاكرام.

Artinya:“Semoga rahmat keselamatan tetap terlimpah kepadamu wahai Nabi Allah, saya bersaksi sesungguhnya tuan adalah utusan Allah, telah kamu sampaikan risalah dan amanah-Nya dan engkau juga telah memperbaki umat dan telah sungguh-sungguh alam membawa syariat Allah hingga allah mengambil nyawa tuan dengan segenap kemuliaan. Semoga Allah membalas kami yang kecil dan yang besar dengan balasan yang lebih baik,dan semoga Allah memberi rahmat  yang paling agung dan bersih serta penghormatan yang sempurna kepada tuan. Ya… Allah jadikanlah Nabi kami yang paling dekat dengan-Mu diantara para Nabi-nabi-Mu kelak di hari kiamat. Ya…Allah janganlah Engkau jadikan ziarah ini akhir dari segalanya bagi kami, berikanlah kesempatan bagi kami untuk kembali. Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Mulia”.

Setelah membaca doa diatas duduklah disamping makam dan bacalah bacaan yang kamu biasa lakukan.

AKHIRNYA

Semoga kita di beri kekuatan lahir dan batin dalam menjalankan segala aktifitas sehari-hari dan bisa berziarah ke makam Beliau. Amin, Amin Ya Robbal Alamin.

Referensi:

Al as Qalany, Ibn Hajar. Fathul Bari ‘ala Sarhy al Bukhari . Maktabah Samilah.

Al Bukhori, Shahih Bukhori. Maktabah Samilah.

Al Malibary. Fathul Mu’in. Maktabah Samilah.

Al ‘aini, Badaru ad Din. Umdatul Qori. Maktabah Samilah.

Anas, Malik bin. Al Muwatta’. Maktabah Samilah.

An Nawawi, Yahya. Sarh Nawawi ‘alal. Maktabah Samilah.

————–. Adzkar Nawawi. Maktabah Samilah.

At Tirmidzi. Sunan Tirmidzi . Maktabah Samilah.

Az  Zuhaily, Wahbah. Fiqh al Islami wa adillatuhu. Maktabah Samilah.

Baihaqi. Su’bul Iman lil Baihaqi .Maktabah Samilah.

Dawud, Abu. Sunan Abu Dawud. Maktabah Samilah.

Hanbal, Ahmad ibn. Musnad Ahmad. Maktabah Samilah.

Majah, Ibn. Sunan Ibn Majah. Maktabah Samilah

Muslim. Shahih Muslim. Maktabah Samilah.

—.–.Tuhfatul Ahwadhi . Maktabah Samilah.

—.–. Tanwirul Khawalik. Maktabah Samilah.

–.– Faidhul Bari ala Sarh al Bukhori. Maktabah Samilah.

Syatha, Abu Bakar . I’anatut Tholibin . Maktabah Samilah.

Qasim, Ibn.Fathul Qorib Mujib. Maktabah Samilah.

Sabiq. Sayyid. 2002. Fiqh as Sunnah juz3. Kairo: Dar al Fath.

As syarqowi, Abdullah bin Khijazi.–. Hasiyah Sarqowi ‘ala Tahrir juz,2 .Beirut:Dar Al Fikr.

Al Kurdi, Amin. — Tanwirul  Qulub. Semarang:Toha Putra.

Al Jazairi.2003. Fiqih ‘ala Madzhabil Arba’ah juz 1. Beirut:  Dar al Fikr.

Al Bujairimi, Sulaiman.1996. Bujairimi ‘alal Khotib juz 4. Beirut: Dar al Kutub.

Syarbini, Khotib.–. Al Iqna’ Fi Halli alfadhi Abi Suja’ juz II.Semarang: Toha Putra.

As Syarwani. Khasyiyah Syarwani ala Tuhfah. Maktabah Samilah.

Anshori,Zakariya . Fathul Wahab. Maktabah Samilah.

—————–. Tuhfatut Thulab. Maktabah Samilah.

————–. Asnal Matholib. Maktabah Samilah.

Hajar, Ibn. Tuhfatul Muhtaj. Maktabah Samilah.

Jamal, Sulaiman. Khasiyah Jamal Ala Manhaj. Maktabah Samilah.

Depag. Panduan Ibadah Haji. Depag RI.

Al Bujairimi, Sulaiman . Bujairimi ala Manhaj. Maktabah Samilah.

Al Bajuri. Khasiyah Bajuri Ala Fathil Qorib. Maktabah Samilah.

———-.Bugyatul Mustarsyidin. Maktabah Samilah.

——–. Khasiyatani Qulyubi wa Umairah. Maktabah Samilah.

One response

  1. kumplit banget informasinya.. thx ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: