PANDANGAN IGNAZ GOLDZIHER TERHADAP HADITS


PANDANGAN IGNAZ GOLDZIHER TERHADAP HADITS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Sebelum membahas lebih jauh mengenai pandangan Goldziher terhadap hadits, maka penulis uraikan biografinya terlebih dahulu. Nama lengkapnya adalah Ignaz Goldziher. Dia lahir pada tanggal 22 Juni 1850 di kota Hongaria. Dia Berasal dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh yang sangat luas. Pendidikannya dimulai dari Budhaphes, kemudian melanjutkan ke Berlin dan Liepziq pada tahun 1869.  Pada tahun 1870 dia pergi ke Syria dan belajar pada Syeikh Tahir al-Jazairi. Kemudian pindah ke Palestina, lalu melanjutkan studinya ke Mesir, dimana dia sempat belajar pada beberapa ulama al-Azhar. Sepulangnya dari Mesir, tahun 1873, dia diangkat menjadi guru besar di Universitas Budhapes. Di Universitas ini, dia menekankan kajian peradaban Arab dan menjadi seorang kritikus hadits paling penting di abad ke-19. Pada tanggal 13 Desember 1921, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di Budhaphes. Dia juga pernah mengajar filsafat Yahudi di Jewish Seminary Budhaphes tahun 1900.

Di luar negeri, dia menjadi anggota kehormatan dari akademi-akademi, delapan perkumpulan orientalis, tiga perkumpulan sarjana luar negeri. Tahun 1904, ia dianugerahi gelar Doktor dalam bidang kesusastraan oleh Universitas Cambridg, dan gelar LL.L dari Universitas Aberdeen Skotlandia. Karya yang pernah ia tulis antara lain: Die Zahiriten, Ihr Lhrsystem und Geschicte, membahas perkembangan sejarah aliran zahiri, Muhammedanische Studien, tentang sejarah Islam, khususnya tentang hadits, Vor Lesungen den Islam, membahas tentang pengantar untuk memahami teologi dan hukum Islam, juga Die Richtungen Der Islmichen Koran Auslegung, isinya hampir sama dengan pengantar memahami teologi dan hukum Islam, dan berbagai karya lainnya yang sifatnya hanya sebagai penjelas buku-buku di atas.

Sebagai seorang orientalis yang gigih, ia berusaha menciptakan keresahan umat Islam dengan mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang membahayakan bagi umat Islam, seperti menggoyang kebenaran hadits Nabi Muhammad Saw, maka karya-karyanya menjadi sangat berbahaya, terutama berita  kebohongan dan kebodohan yang dapat menciptakan permusuhan terhadap Islam. Setelah mengenal biografi tokohnya secara lebih jelas, maka penulis akan menjelaskan lebih jauh mengenai pemikirannya.

Diskursus tentang otentisitas hadits merupakan salah satu hal yang sangat krusial dan kontroversial dalam studi hadits. Hal ini karena perbedaannya dengan al-Qur’an yang telah mendapatkan “garansi” akan keterpeliharaannya, sebagaimana firman Allah SWT dalam ayatnya yang berbunyi: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Maka secara normatif-theologis, hadits tidak mendapatkan “garansi” akan keterpeliharaannya dari Allah Swt. Ignaz Goldziher, sebagai orientalis yang kritis, tak lupa menyoroti point ini dengan menganggap negatif keberadaan hadits. Walaupun dia dikenal lebih skeptis dari pada Alois Sprenger (kritikus hadits pertama kali) dengan karyanya “Uber Das Traditionsweser Bei Dai Arabern“(1856) dan Sir William Munir dengan karyanya life of  mahomet, namun dalam beberapa hal, Goldziher mampu memberikan penilaian ataupun celaan seputar eksistensi dan validitas hadits tersebut.

Tesis pokok Goldziher dalam kajian hadits adalah tawaran metode kritik matan yang mencakup aspek politik, sains dan sosial kultural dan tuduhan pemalsuan hadits oleh al-Zuhri. Dalam uraian berikut ini, penulis akan mencoba menjelaskan secara rinci hal-hal tersebut. Namun sebelum menjelaskan hal itu, penulis akan mengutip pandangan Goldziher mengenai definisi hadits.

Menurut pandangan para ulama, sebagaimana diterangkan di atas, bahwa persoalan perbedaan antara sunnah dan hadits tidak ditekankan dan tidak menjadi persoalan yang baku. Menurut Goldziher, sebagaimana yang dikemukakan Darmalaksana, perbedaan hadits dan sunnah tetap dipertahankan. Ia menyatakan bahwa hadits bermakna suatu disiplin ilmu teoritis dan sunnah adalah kopendium aturan-aturan praksis. Satu-satunya kesamaan antara keduanya adalah bahwa keduanya berakar secara turun temurun. Dia menyatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang muncul dalam ibadah dan hukum yang diakui sebagai tata cara kaum muslim pertama yang dipandang berwenang dan telah pula dipraktikkan dinamakan sunnah atau adat kebiasaan keagamaan. Adapun bentuk yang memberikan tata cara itu adalah hadits.

Tidak hanya itu, bahkan materi hadits juga dipermasalahkan. Menurutnya hadits berciri berita lisan yang bersumber dari Nabi, sedangkan sunnah merujuk pada permasalahan hukum atau hal keagamaan. Suatu kaidah yang terkandung di dalam hadits lazimnya dipandang sebagai sunnah, tetapi tidak berarti bahwa sunnah harus berkesesuaian dan memberikan pengukuhan kepadanya. Sehingga mungkin justru sebaliknya, yaitu isi hadits justru bertentangan dengan sunnah. Inilah perbedaan fundamental yang disodorkan oleh Goldziher yang kemudian dijadikan kerangka dasar untuk mengkritik otentitas hadits.

Maka dari itu, ia berkesimpulan bahwa sunnah yang begitu berpengaruh dalam dunia Islam hanyalah catatan atau fakta historis dari tradisi bangsa-bangsa Arab. Di samping itu, ia juga memaknai kata sunnah sebagai kata yang biasa diucapkan masyarakat pada masa dahulu bahkan sebelum jahiliyah, sebagaimana dikemukakan di atas.

Hadits, menurut Goldziher, tidak memiliki kemurnian sama sekali, walaupun tetap memiliki kedudukan kuat sebagai sumber ajaran Islam. Menurutnya, tidaklah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menganggap hadits secara keseluruhan sebagai berasal dari Nabi SAW. Argumen-argumen yang dikemukakan olehnya adalah berkaitan dengan kritik matan hadits dari segi sosial politik dan juga kultural.

Menurutnya tidak mungkin hadits atau sunnah tersebut bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Kalaupun ada bukti tentang hal itu, maka akan sangat sulit menentukan kebenaran dan keabsahannya. Argumentasi yang ia kemukakan adalah ketidakmungkinan kondisi masyarakat Islam pada abad pertama Hijriyah mendukung budaya pemeliharaan data yang berupa hadits dan sunnah tersebut. Karena menurutnya, pada saat itu buta huruf masih meraja lela dimana-mana dan kebudayaan yang berpusat pada lingkungan istana serta kebiasaan di kota-kota besar ternyata masih bersifat sekuler dan lepas dari agama.

M.M.Azami mengemukakan alasan yang dipakai Goldziher untuk pijakan kesimpulannya, dengan mendeskripsikan kondisi sejarah sebagai berikut:

  1. Orang-orang Islam berperang dengan baju Islam. Mereka membangun masjid-masjid. Tetapi di Syam mereka tidak mengetahui shalat lima waktu yang wajib itu.
  2. Orang-orang Islam itu ternyata tidak mengetahui cara-cara mengerjakan shalat, oleh karena itu tidaklah aneh bila di kalangan suku Bani Abd al-Asyal hanya terdapat seorang budak yang dapat menjadi imam.
  3. Masyarakat Islam ternyata benar-benar bodoh sekali, sampai mereka tidak paham apa yang dimaksud dengan zakat fitrah.
  4. Bangsa Arab pada saat itu belum matang dengan pemikiran Islam.
  5. Ada orang yang membaca syair di mimbar tetapi ia menyangka dirinya sedang membaca al-Qur’an.
  6. Goldziher menuturkan bahwa bimbingan resmi dan kegiatan penguasa untuk memalsukan hadits sudah ada sejak dini dalam sejarah Islam.

Hal di atas merupakan deskripsi masyarakat Islam pada abad pertama Hijriyah yang dikemukakan oleh Goldziher yang selanjutnya digunakan untuk menarik statemen bahwa hadits atau sunnah itu tidak mungkin bersandar kepada Nabi Muhammad. Jadi menurutnya berdasarkan hal itu, maka hadits dinyatakan tidak otentik.

Dalam hal keabsahan hadits, Goldziher memandang bahwa secara faktual penelitian keabsahan hadits yang dilakukan oleh ulama klasik tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, karena kesalahan metode yang dipakainya. Hal itu dikarenakan para ulama klasik lebih banyak menggunakan kritik sanad dan kurang menggunakan kritik matan. Oleh karena itu Goldziher menawarkan kritik matan saja, namun dari segi sosial kultural.

Ia menyatakan bahwa untuk memahami dan menetapkan keshahihan hadits, tidak hanya disandarkan pada analisis sanad saja, namun harus mengetahui latar belakang kondisi sosial politik di mana hadits tersebut muncul. Sebenarnya kritik matan itu sendiri, telah banyak dilakukan oleh para sahabat maupun para ulama klasik. Menurut mereka kritik matan digunakan untuk meneliti illat dan syadz-nya hadits dengan berbagai kriteria. Namun Goldziher menyarankan agar mencari hubungan antara materi hadits dengan situasi yang terjadi pada saat itu.

Goldziher mencontohkan hadits yang terdapat dalam kitab Bukhari yang menerangkan mengenai keutamaan tiga masjid, yaitu masjid al-haram, masjid nabawi dan masjid al-Aqsha. Ia mengkritik hadits  tersebut dengan kritik matan yang diajukannya, sehingga menarik kesimpulan bahwa hadits tersebut tidak sahih. Perjalanan kritik matannya adalah sebagai berikut:

قَالَ لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Artinya: Tidak dikencangkan tali kendaraan-maksudnya janganlah kalian pergi-kecuali menuju tiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid rasulullah SAW, dan masjid al-Aqsha.

Kata Goldziher, “Abd al-Malik bin Marwan merasa khawatir apabila orang-orang Syam pergi haji ke Mekkah itu melakukan baiat kepada Abdullah bin al-Zubair. Karena itu ia berusaha agar orang-orang dapat melakukan haji di Qubbah al-Shakhra di Qudus (Yerusalem) sebagai ganti dari pergi haji ke Mekkah. Ia juga mengeluarkan keputusan bahwa tawaf di sekitar  al-Shakhra tadi sama nilainya dengan tawaf di sekitar ka’bah. Untuk tujuan politis ini, ia mempercayakan ahli hadits al-Zuhri, untuk membuat hadits yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi dan mengedarkannya dalam masyarakat, sehingga nantinya dapat dipahami bahwa ada tiga masjid yang dapat dipakai untuk beribadah haji, yaitu masjid di Makkah, masjid di Madinah dan masjid di Qudus.

Untuk memperkuat tuduhannya tersebut Goldziher mengutip keterangan sejarah dalam tarikh al-Ya’qubi sebagai berikut:

Abd al-Malik melarang orang-orang Syam untuk melakukan ibadah haji. Hal itu dikarenakan Ibn al-Zubair akan menyuruh mereka melakukan baiat kepadanya apabila mereka datang di Makkah. Karena Abd al-Malik mengetahui hal tersebut, maka ia melarang mereka pergi ke Makkah. Maka gemparlah orang-orang Syam. Mereka memprotes hal itu dan menanyakan kepada Abd al-Malik, “Apakah anda melarang Kami untuk pergi beribadah haji ke Makkah, sedangkan haji itu hukumnya wajib bagi Kami?” Jawab Abd al-Malik, “Ini Ibn Syihab al-Zuhri, ia meriwayatkan Hadits untuk kalian, bahwa Rasulullah bersabda: seperti dalam hadits di atas. Masjid Bait al-Maqdis ini bagi kalian sama seperti Masjid al-Haram, sedangkan al-Shakhra itu, yang dalam suatu riwayat pernah dipakai pijakan kaki Rasulullah pada waktu Isra’, bagi kalian seperti ka’bah. Ia juga mengeluarkan keputusan bahwa tawaf di sekitar al-Shakhra sama nilainya dengan tawaf di sekitar ka’bah.

Dari situ dapat ditarik gambaran, bahwa Dinasti Umayah pada saat itu sedang berada pada puncak kekuasaan. Maka al-Zuhri dimanfaatkan oleh penguasa untuk memalsukan hadits sesuai dengan keinginan dan kebijaksanaan politik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa “sebagian besar hadits adalah hasil perkembangan keagamaan, politik dan sosial umat Islam pada abad pertama dan kedua. Tidak benar jika dikatakan bahwa hadits itu merupakan dokumen umat Islam sejak masa pertumbuhannya. Sebab, itu semua merupakan buah dari usaha umat Islam pada masa kematangannya”.

Hal tersebut nampak nyata, apabila dilihat dari materi yang terdapat dalam hadits, dalam perkembangan sejarah kerapkali berbaur dengan kepentingan politik. Akibatnya sulit untuk membedakan hadits yang asli dan buatan untuk kepentingan politik, serta meyakinkan otentitas hadits kepada seluruh umat manusia. Dengan kritik yang dikembangkan dan disodorkan oleh Goldziher ini, hadits yang pada mulanya shahih akan menjadi maudhu’. Pada sub-bab terakhir akan penulis uraikan sedikit bantahan terhadap pemikiran-pemikiran orientalis tersebut.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

One response

  1. musuh besar islam ini memang sangat menakutkan dengan karangannya ya gan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: