PENDIDIKAN NILAI RELIGIUS


PENDIDIKAN NILAI RELIGIUS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo & Akademisi UIN Maliki Malang)

Pendidikan nilai religius merupakan awal dari pembentukan budaya religius. Tanpa adanya pendidikan nilai religius, maka budaya religius dalam lembaga pendidikan tidak akan terwujud. Sebelum memahami mengenai pendidikan nilai religius, maka penulis akan mengemukakan definisi dari pendidikan nilai. Pendidikan nilai, menurut Mardimadja yang dikutip Mubarok, adalah bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Berpijak dari definisi di atas, maka pendidikan nilai religius adalah bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai religius serta mengamalkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya.

Pendidikan nilai religius mempunyai posisi yang penting dalam upaya mewujudkan budaya religius. Karena hanya dengan pendidikan nilai religius, anak didik akan menyadari pentingnya nilai religius dalam kehidupan. Namun terdapat berbagai kendala dalam pendidikan nilai religius. Kendala-kendala tersebut antara lain:

Budaya globalisasi yang melanda kehidupan masyarakat

Budaya globalisasi yang melanda kehidupan masyarakat juga merambah kehidupan para pelajar, sehingga para pelajar ikut terpengaruh oleh budaya globalisasi yang merusak moral. Kemerosotan akhlak pada manusia menjadi salah satu problem dalam perkembangan pendidikan nasional, dimana terkadang para tokoh pendidik sering menyalahkan pada adanya globalisasi kebudayaan, sebagaimana dijelaskan oleh Tafsir dalam bahwa globalisasi kebudayaan sering dianggap sebagai penyebab kemerosotan akhlak tersebut”.

Adanya kemerosotan akhlak yang terjadi pada masyarakat ini dapat dilihat dengan adanya kenakalan remaja. Kenakalan remaja menyebabkan rusaknya lingkungan masyarakat. Kenakalan remaja dapat berupa perbuatan kejahatan, ataupun penyiksaan terhadap diri sendiri, seperti perampokan, narkoba, minuman keras yang semua itu adalah imbas dari modernisasi industri dan pergaulan.Akibat pergeseran sosial, dewasa ini kebiasaan pacaran masyarakat kita menjadi kian terbuka. Terlebih saat mereka merasa belum ada ikatan resmi, maka akibatnya bisa melampaui batas kepatutan. Kadang kala seorang remaja menganggap perlu pacaran untuk tidak hanya mengenal pribadi pasangannya, melainkan sebagai pengalaman, uji coba, maupun bersenang-senang. Itu terlihat dari banyaknya remaja kita yang gonta ganti pacar, ataupun masa pacaran relatif pendek. Beberapa kasus yang diberitakan oleh media massa juga menunjukkan bahwa akibat pergaulan bebas atau bebas bercinta (free love) tersebut tidak jarang menimbulkan hamil pra nikah, aborsi, bahkan akibat rasa malu dihati, bayi yang terlahir dari hubungan mereka berdua lantas dibuang begitu saja hingga tewas.

Budaya globalisasi tersebut menyebabkan terhambatnya penanaman nilai-nilai religius ke dalam diri peserta didik, karena seorang peserta didik yang sudah terpengaruh oleh suatu budaya akan berlaku sesuai dengan budaya yang diadopsinya tersebut. Bahkan peserta didik lebih memilih mengadopsi budaya tersebut daripada melaksanakan budaya sendiri yang merupakan warisan leluhur.

Budaya globalisasi merupakan salah satu kendala yang menghambat pelaksanaan pendidikan nilai religius. Anak didik akan sulit menyadari nilai-nilai religius yang ditanamkan. Bahkan anak didik akan menentang apabila diingatkan untuk melaksanakan salah satu kegiatan atau sikap religius.

Penerapan model, pendekatan dan metode yang tidak tepat

Model, pendekatan dan metode pendidikan merupakan sesuatu yang wajib serta harus ada dalam menanamkan nilai religius ke dalam diri peserta didik sebagai upaya pendidikan religius. Jadi dalam menanamkan nilai religius ke dalam diri peserta didik, pendidik harus menggunakan model, pendekatan dan metode yang tepat. Agar penanaman nilai religius tersebut berhasil maka pendidik juga harus memperlakukan seorang anak sesuai dengan tahapan pendidikannya. Di samping itu, hendaknya pendidikan nilai religius dilakukan pada saat yang tepat, maksudnya sesuai dengan tahapan pendidikan seorang anak. Model, pendekatan dan metode pendidikan nilai religius akan penulis jelaskan setelah uraian ini.

Kurangnya keteladanan dari para pendidik

Keteladanan dari pendidik juga merupakan faktor yang penting dalam penanaman nilai-nilai religius. Tanpa keteladanan dari pendidik, maka peserta didik akan bermoral yang bejat dan tidak mempunyai budi pekerti yang luhur. Maka dari itu terdapat istilah, guru kencing berdiri murid kencing berlari, maka jika guru kencing berlari murid akan kencing-kencingan bahkan mengencingi gurunya.

Kurangnya kompetensi pendidik

Kompetensi guru/pendidik adalah segala kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik/guru misalnya persyaratan, sifat, kepribadian, sehingga dia dapat melaksanakan tugasnya dengan benar. Untuk menjadi pendidik profesional tidaklah mudah, karena ia harus memiliki kompetensi-kompetensi keguruan. Kompetensi dasar (based competency) ditentukan oleh tingkat kepekaannya dari bobot potensi dan kecenderungan yang dimilikinya. Kemampuan dasar tersebut tidak lain adalah kompetensi guru.

Apabila kompetensi guru memadai, maka guru akan mampu menanamkan nilai dan melaksanakan pendidikan nilai kepada peserta didik dengan baik, dan dilakukan dengan hati. Guru harus mempunyai kompetensi untuk melakukan interaksi sosial dengan peserta didik. Tanpa melakukan interaksi sosial dan mendekati peserta didik, maka pendidikan nilai tidak akan berhasil.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: