PANDANGAN JOSEPH SCHACHT TERHADAP HADITS


PANDANGAN JOSEPH SCHACHT TERHADAP HADITS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Selain Goldziher, sesudahnya muncul orientalis baru yakni Joseph Schacht. Ia dilahirkan di Silisie Jerman, ada yang mengatakan di Ratibor, Jerman, pada tanggal 15 Maret 1902. Schacht belajar filologi klasik, teologi, dan bahasa-bahasa Timur di Universitas Berslauw dan Universitas Leipizig. Pada tahun 1923, ketika usianya baru mencapai 21 tahun, ia meraih gelar doktornya dari Universitas Berslauw. Pada tahun 1925 ia diangkat menjadi dosen di Universitas Fribourg, dan pada tahun 1929 ia dikukuhkan sebagai guru besar. Pada tahun 1932 ia pindah ke universitas Kingsbourg, dan dua tahun berikutnya ia mengajar tata bahasa Arab dan Bahasa Suryani di Universitas Fuad Awal (kini universitas Kairo) Mesir. Ia tinggal di sana sebagai Guru Besar sampai tahun 1939.

Ketika perang dunia II meletus, Schact meninggalkan Kairo menuju Inggris dan bekerja di Radio BBC London. Meski perang telah usai ia tidak pulang ke Jerman, melainkan tetap tinggal dan menikah dengan wanita Inggris. Pada tahun 1947 ia menjadi warga Negara Inggris. Ia kuliah di Oxford, dan mendapat magister (1984) dan Doktor (1952) di universitas tersebut. Pada tahun 1954 ia hijrah ke Leiden dan menjadi Guru Besar di sana, kemudian pada tahun 1959 ia hijrah lagi ke Universitas Columbia New York dan menjadi Guru Besar di sana hingga meninggal dunia pada tahun 1969. Schact adalah pakar hukum Islam, namun karyanya tidak terbatas pada disiplin tersebut melainkan tersebar dalam pelbagai disiplin ilmu, seperti ilmu kalam, sains, filsafat dan lain-lain. Sebagai contoh karya Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950)dan An Introduction to Islamic Law (1960).

Pandangan-pandangan Schacht nampaknya tidak begitu berbeda dengan pendahulunya Goldziher. Ia mengatakan bahwa sunnah dalam Islam tidak lebih dari sekedar revisi atas adat kebiasaan, tradisi dan kebiasaan nenek moyang Arab. Bahkan ia mendefinisikan sunnah sebagai konsepsi Arab kuno yang berlaku kembali sebagai salah satu pusat pemikiran dalam Islam. Dengan mengemukakan beberapa contoh, seperti metode perpajakan yang diterapkan di Romawi Timur atau yang lainnya, Schacht mempertegas kembali tesisnya bahwa sunnah, baik material maupun konsepsional, hanya merupakan pelestarian konsep Arab kuno. Jadi menurutnya, sunnah adalah apapun yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Arab yang harus ditiru dan dijadikan keteladanan. Maka, sunnah tidak patut dijadikan sumber hukum dalam Islam atau Islam tidak mempunyai sumber hukum sendiri dan hanya meniru serta melestarikan budaya nenek moyang.

Perumusan definisi sunnah yang dilakukan oleh Schacht mengakibatkan fiqih Islam tidak dapat menemukan orisinalitasnya serta membuka peluang diterimanya aksioma-aksioma dan konsep-konsep hukum asing dalam Islam, dan konsep hukum asing itu baru berkembang selama periode perkembangannya. Fenomena tersebut terjadi, karena Muhammad yang selama hidupnya menjadi penentu dalam setiap persoalan, pada kelanjutan kekuasaannya secara faktual tidak mencakup segi-segi penetapan hukum. Kekuasaan Nabi untuk orang mu’min hanya dalam masalah-masalah keagamaan saja, sedangkan untuk orang-orang munafik hanya dalam masalah politik saja.

Maka, untuk membuktikan statemennya tersebut, ia mengemukakan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Kalau saja, Nabi memiliki kekuasaan dalam berbagai aspek, tentu khulafa al-rasyidin sebagai pemimpin politik umat Islam akan mengambilnya sebagai sumber hukum yang tertinggi, tetapi hal itu tidak terjadi.
  2. Hadits Nabi terutama yang berkaitan dengan hukum Islam adalah buatan para ulama abad kedua dan ketiga.

Untuk membuktikan hal itu, ia mengemukakan bahwa hadits tersebut tidak pernah digunakan sebagai referensi dalam diskusi para fuqaha. Dan para fuqaha ternyata tidak pernah melakukan hal tersebut, karena mereka lebih cenderung menggunakan akal mereka untuk memutuskan suatu hukum.

Obyek penelitiannya adalah kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik, kitab al-Umm karya al-Syafi’i, dan lain-lain. Dan kitab-kitab tersebut dinyatakan tidak shahih dan hadistnya tidak dapat memenuhi keotentikannya. Lebih jauh lagi, Schacht seenaknya mengatakan bahwa bahkan hadits-hadits yang terdapat dalam al-kutub al-sittah sekalipun tidak dapat dijamin keasliannya: “even the classical corpus contains a great many traditions which cannot possibly be authentic.” Masih menurut dia, sistem periwayatan berantai alias isnād merupakan alat justifikasi dan otorisasi yang baru mulai dipraktekkan pada abad kedua Hijriah: “there is no reason to suppose that the regular practice of using isnāds is older than the beginning of the second century.” Ia menyodorkan teori yang disebut projecting back untuk melakukan kritik sanad. Menurut Schacht, sanad hadits pada awalnya lahir dalam pemakaian yang sederhana, kemudian berkembang dan mencapai bentuknya yang sempurna pada periode kedua dan ketiga hijriyah. Untuk mendeskripsikan teorinya tersebut ia perlu mengemukakan perkembangan hukum Islam.

Schacht menyatakan bahwa pada masa al-Sya’bi (w. 110 H.) hukum Islam belum eksis. Dengan demikian bila ditemukan hadits-hadits berkaitan dengan hukum Islam, maka hadits-hadits itu adalah buatan orang-orang sesudah al-Sya’bi. Menurut Schacht hukum Islam baru dikenal semenjak pengangkatan para qadhi, sedang pengangkatan ini baru terjadi pada masa Bani Umayah. Dalam memberikan keputusan-keputusannya, para qadhi itu -menurut Schacht- memerlukan legitimasi orang-orang yang memiliki otoritas lebih tinggi. Oleh karena itu para qadhi tadi menisbahkan keputusan-keputusannya pada tokoh sebelumnya, seperti halnya orang Irak menisbahkan kepada al-Nakha’i. Mereka tidak hanya menisbahkan kepada orang-orang terdahulu yang jaraknya relatif masih dekat, melainkan menisbahkan juga pada mereka yang lebih dahulu lagi, sehingga pada tahapan akhir pendapat-pendapat tadi dinisbahkan kepada Nabi SAW.

Menurut Schacht inilah rekonstruksi terbentuknya sanad hadits, yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat itu kepada tokoh di belakang. Itulah sebabnya teori Schacht dinamakan. “Projecting Back”. Schacht selanjutnya berpendapat bahwa dengan munculnya aliran-aliran fiqih ini klasik ini maka melahirkan konsekuensi munculnya ahli hadits. Menurutnya ahli hadits ini pun telah memalsu hadits guna mengalahkan aturan-aturan yang dibuat oleh kelompok ahli fiqih.

Sanad menurutnya hanya merupakan semacam pembenaran teoritis terhadap apa yang diyakini sebagai kepercayaan naluriah. Pada dasarnya, baik kaum fiqih klasik maupun kaum ahli hadits membuat sanad yang disandarkan kepada Nabi untuk memalsukan hadits dan menyatakan doktrin mereka masing-masing. Oleh karena itu, otentitas hadits Nabi yang dibukukan pada masa itu tetap saja diragukan, walaupun hadits tersebut dilengkapi dengan sanad yang bersandar kepada Nabi.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: