BANTAHAN-BANTAHAN TERHADAP ORIENTALIS


BANTAHAN-BANTAHAN TERHADAP ORIENTALIS

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Berbagai bantahan dari dunia Islam dikemukakan untuk menangkis tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh para orientalis. Bantahan-bantahan tersebut datang dari para cendekiawan-cendekiawan muslim, seperti Fazlur Rahman, MM.Azami dan lain sebagainya. Di samping itu, penulis juga akan mengemukakan bantahan terhadap apa yang dituduhkan oleh orientalis tersebut.

Mengenai citra Muhammad yang didistorsikan, menurut penulis, hal itu adalah barang atau tuduhan lama yang sudah kerap terdengar ketika Muhammad sedang berdakwah. Maka dapat disimpulkan tuduhan tersebut sangat tidak beralasan. Sedangkan mengenai hadits dan sunnah yang diartikan sebagai adat atau kebiasaan nenek moyang, penulis mengutip bantahan yang dikemukakan oleh Fazlur Rahman, menurutnya para orientalis gagal menemukan perbedaan penting antara hadits dan sunnah, akibatnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa sunnah Nabi dalam kenyataannya bukanlah dari Nabi, tapi merupakan tradisi umum yang berlaku di tengah-tengah masyarakat Islam. Jadi mereka tidak dapat membedakan dan mencampuradukkan sunnah yang dipakai dalam arti kebiasaan dan sunnah yang disandarkan kepada Nabi. Hal itu wajar saja dilakukan oleh umat Islam, yang menggunakan bahasa Arab, karena bahasa Arab mempunyai maksud yang muradif.

Sedangkan mengenai tuduhan bahwa hadits dan isnad itu adalah buatan umat Islam pada abad kedua, penulis mengutip sesuatu yang dikemukakan Azami. M. M. Azami telah memaparkan secara rinci tentang bukti adanya tradisi tulis-menulis pada masa awal Islam. Menurutnya, beberapa sahabat yang telah melakukan tradisi penulisan hadits, misalnya Ummu al-Mu’minin Aisyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Amr bin al-’Asy, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Namun kesadaran umum kaum muslimin untuk menulis ini baru mencuat ke permukaan setelah terinpirasi oleh kebijaksanaan Umar bin Abdul Aziz, yang pada periode inilah, pentingnya penulisan hadits Nabi Muhammad SAW baru terasa. Fenomena ini juga diperkuat oleh statemen orientalis lainnya, seperti Fuad Seizgin yang telah memberi ulasan tentang problem autentisitas hadits. Menurutnya, di samping tradisi oral hadits, sebenarnya juga telah terjadi tradisi tulis hadits pada zaman Nabi Muhammad, kendatipun para sahabat sangat kuat hapalannya.

Mengenai kritik matan hadits “keutamaan tiga masjid” yang dianggap palsu oleh Goldziher. Goldziher tampaknya salah dalam membaca sejarah. Ahli sejarah mengemukakan tentang tahun kelahiran al-Zuhri antara tahun 50 H sampai 58 H. Ia juga tidak pernah bertemu Abd Malik bin Marwan sebelum tahun 81 H. Di segi lain, pada tahun 67 H. Palestina berada dibawah kekuasaan Abd Malik bin Marwan. Sedangkan orang-orang Bani Umayyah pada tahun 68 H berada di Makkah. Sumber sejarah juga menunjukkan bahwa pembangunan kubah al-Shakhra itu baru dimulai tahun 69 H.

Alasan Ignaz Goldziher di atas sangatlah tidak representatif, tidak jujur dan terkesan mengada-ada. Kalaupun Nabi Muhammad Saw mendapatkan pengetahuannya dari orang Yahudi dan Kristen, bukan berarti Nabi Muhammad Saw menjiplak gagasan Yahudi. Jika pada kenyataannya ada guru yang mengajari Nabi Muhammad Saw tentang ajaran-ajaran Yahudi, tentunya guru tersebut akan menggugat bahkan menolak mentah-mentah hadits Nabi Muhammad SAW itu. Berikutnya mengenai tuduhan Ignaz Goldziher terhadap perawi hadits sangat tidak beralasan, karena pada kenyataannya tradisi periwayatan hadits terbagi menjadi dua, yaitu periwayatan bi al-lafdzidan periwayatan bi al-ma’na. Jenis periwayatan yang kedua yang telah disorot oleh Ignaz Goldziher dengan argumennya bahwa perawi hadits yang menggunakan tradisi periwayatan bi al-ma’na dicurigai telah meriwayatkan lafadz-lafadz yang dengan sengaja disembunyikan, sehingga redaksinya menjadi tidak akurat. Padahal, adanya tradisi periwayatan bi al-ma’na ini dikarenakan sahabat Nabi Muhammad Saw tidak ingat betul lafadz aslinya. Dan yang terpenting bagi sahabat Nabi adalah mengetahui isinya atau matan yang terkandung di dalamnya. Di samping itu, tradisi ini tidak dikecam oleh Nabi Muhammad Saw, mengingat redaksi hadits bukanlah al-Qur’an yang tidak boleh diubah susunan bahasa dan maknanya, baik itu dengan mengganti lafadz-lafadz yang muradif (sinonim) yang tidak terlalu mempengaruhi isinya, berbeda dengan al-Qur’an sebab ia merupakan mu’jizat dari Allah yang mungkin diubah.

Mengenai tuduhan yang dilancarkan J.Schacht, semua pernyataannya telah dibantah antara lain oleh Profesor Muhammad Abū Zahrah dari Universitas Kairo, Mesir, oleh Profesor Zafar Ishaq Ansari dari Islamic Research Institute Islamabad, Pakistan, dan oleh Profesor Muhammad Mustafa al-Azami dari Universitas King Saud Riyadh, Saudi Arabia. Menurut Profesor Muhammad Musthafā al-A‛zamī, kekeliruan dan kesesatan Schacht dalam karyanya itu disebabkan oleh lima perkara: (1) sikapnya yang tidak konsisten dalam berteori dan menggunakan sumber rujukan, (2) bertolak dari asumsi-asumsi yang keliru dan metodologi yang tidak ilmiah, (3) salah dalam menangkap dan memahami sejumlah fakta, (4) ketidaktahuannya akan kondisi politik dan geografis yang dikaji, dan (5) salah faham mengenai istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama Islam.

Darmalaksana mencatat beberapa hal yang dianggap sebagai kekeliruan orientalis dalam memandang hadits, yaitu:

  1. Goldziher senantiasa menggunakan suatu kejadian yang bersifat khusus dan terbatas untuk menjadi bukti-bukti hal yang umum.
  2. Goldziher dan Schacht seringkali tidak melakukan analisis yang mendalam tentang bahan-bahan kesejarahan yang mereka pakai dalam pembuktian.
  3. Banyaknya penafsiran yang nyata salah dalam mengartikan ucapan-ucapan atau kejadian-kejadian yang diberitakan dalam sumber-sumber kesejarahan.
  4. Adanya sekumpulan obyektivitas paradoks dari keduanya sebagai orientalis non-muslim, yang setidaknya menyimpan misi-misi tersendiri.
  5. Mereka biasanya belum selesai dalam membaca sejarah dan langsung menarik kesimpulan.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: