MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG DINASTI MUWAHHIDUN


MENGENAL LEBIH DEKAT TENTANG DINASTI MUWAHHIDUN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Latar Belakang

Pada masa Daulah Bani Umayyah (al-Walid Ibn Abdul Malik), Islam sudah mulai tersebar luas ke seluruh pelosok Jazirah Arabia dan Afrika serta benua Eropa. Salah satu daerah yang pada waktu itu diduduki Islam adalah Spanyol. Islam masuk ke Spanyol melalui proses perjalanan yang cukup panjang, mulai dari kedatangan Abdurrahman al-Dakil sampai jatuhnya kerajaan Islam pada tahun 1492 M yang merupakan fase-fase perjalanan sejarah Islam di Eropa. Di Spanyol ini, Islam memainkan peranan yang sangat besar, mulai pertama kali menginjakkan kaki sampai jatuhnya kerajaan terakhir disana.

Fase sejarah yang dilalui umat Islam di Spanyol dibagi dalam enam periode: periode pertama (711-755 M), periode kedua (755-912 M), periode ketiga (912-1013 M), periode keempat (1013-1086 M), periode kelima (1086-1248 M), periode keenam (1248-1492 M). Pada periode kelima muncullah Dinasti Muwahhidun.

Kemunculan Dinasti Muwahhidun telah membawa semangat politik baru di wilayah Maghrib dan Tunisia yang ditandai dengan tundukknya pada khalifah Abbasiyah di Bagdad. Dinasti ini telah sanggup menunda kekalahan politik Islam untuk beberapa waktu terakhir keberadaannya di penghujung abad ke 15 M ketika benteng Islam di Seville jatuh ke tangan orang-orang Kristen.

Dinasti Muwahhidun sendiri berasal dari sebuah gerakan pemurnian agama (puritan) yang kemudian berhasil berkuasa, para pemuka spiritual dan panglima perang memegang pemerintahan dan memperluas wilayahnya dengan tujuan ingin memurnikan Islam dan memperluas ajarannya sampai ke Afrika. Namun, informasi  mengenai dinasti Muwahhidun ini sulit ditemukan, karena sedikitnya literatur-literatur yang membahasnya.

B.      Sejarah Berdirinya Dinasti Muwahhidun

Dinasti Muwahhidun bermula dari sebuah gerakan agama-politik yang didirikan oleh seorang Berber. Ia adalah Ibnu Thumart dari suku Masmuda, beliau seorang penganut Asy’ariyah yang hanya mengakui supremasi al-Qur’an dan Hadits dan tidak mengakui otoritas madzhab fiqih. Dinasti Muwahhidun merupakan Dinasti Islam yang pernah berjasa di Afrika Utara selama lebih dari satu setengah abad.

Al-Muwahhidun secara bahasa berarti orang-orang yang mengesakan Allah, secara intelektual mewakili protes terhadap Madzhab Maliki yang kaku, konservatif dan legalistik, sebagai Madzhab yang dominan di Afrika Utara dan terhadap kerusakan dalam kehidupan sosial di masa kekuasaan murabitun. Nama Muwahhidun bagi dinasti ini berarti golongan yang berpaham tauhid, didasarkan prinsip dakwah Ibnu Thumart yang memerangi paham Tajsim yang menganggap Tuhan mempunyai bentuk yang berkembang di Afrika Utara pada masa itu di bawah kekuasaan Murabitun, atas dasar bahwa ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan yang disebutkan dalam al-Qur’an seperti “tangan Tuhan” tidak dapat ditakwilkan dan harus dipahami apa adanya. Menurut Ibnu Thumart paham tajasum identik dengan syirik dan orang yang berpaham tajasum adalah musyrik.

Ibnu Thumart beranggapan bahwa untuk menegakkan kebenaran dan memberantas kemungkaran harus dilakukan dengan kekerasan, oleh karena itu Ibnu Thumart dalam menjalankan dakwahnya tidak segan-segan menggunakan kekerasan. Sikap Ibnu Thumart seperti itu sangat tidak disenangi oleh semua kalangan masyarakat terutama para ulama’ dan penguasa, akan tetapi ia dilindungi oleh sultan Ali bin Yusuf bin Tasfyn yang hanya mengusirnya dari Marakeh (ibu kota kerajaan Muwahhidun). Sementara dakwahnya mendapat sambutan baik dan dukungan dari suku Barbar seperti suku Harrabah, Hantamah, Jadniwah dan Jansifah.

Pada mulanya dakwah yang dilakukan Ibnu Thumart adalah murni, artinya tidak didasari oleh kepentingan-kepentingan politik tertentu. Semata-mata hanya ingin menegakkan tauhid murni, akan tetapi setelah merasa dakwahnya mendapat sambutan yang cukup berarti dan pengikutnya mulai banyak dan sementara itu dinasti Murabitun mulai melemah, maka Ibnu Thumart berambisi untuk menjatuhkan kekuasaan Murabitun. Maka  pada tahun 514 H, ia menobatkan dirinya sebagai al-Mahdi (imam yang Ma’shum) atas dukungan Abu Hafs yang sebagai kepala suku Barbar dan pengikutnya. Dan dia menamakan pengikutnya sebagai al-Muwahhidun. Wilayah kekuasaannya yaitu Tinmallal dan sekitarnya sebagai ad-Daulah al-Muwahhidiyah. Maka berangkat dari sinilah mereka memasukkan gerakan dakwahnya ke dalam gerakan politik.

C.      Masa Kejayaan Dinasti Muwahhidun

Sebagai langkah awal yang dilakukan Ibnu Thumart untuk melaksanakan dakwah agama dan politik adalah mengajak kabilah-kabilah Barbar untuk bergabung bersamanya. Kabilah yang menolak diperangi sehingga dalam waktu singkat mereka banyak yang bergabung dan tunduk kepadanya. Pada tahun 524 H dengan jumlah pasukan 40 ribu orang di bawah komando Abu Muhammad al-Muwahidun menyerang ibu kota dinasti al-Murabitun di Marakeh. Perang ini disebut Buhairah, Muwahhidun mengalami kekalahan yang sangat besar dan Ibnu Thumart meninggal pada tahun ini juga.

Setelah Ibnu Thumart meninggal, kepemimpinan Muwahhidun digantikan oleh Abdul al Mukmin bin Ali. Di bawah kepemimpinannya berhasil meraih kemenangan sehingga banyak daerah yang jatuh ke tangan kekuasaannya seperti Nadla, dir’ah, taigar, Fazar, Giasah, Fez dan Marakeh. Keberhasilan menaklukkan Marakeh dan ambisi dalam memperluas wilayah kekuasaannya, ia memindahkan pusat kekuasaannya dari Tinmallal ke Marakeh. Pada masa ini kemenangan demi kemenangan diraih, juga di daerah-daerah yang dulunya dikuasai Murabitun  dan kemudian menyeberang ke Andalusia (Spanyol) sehingga daerah-daerah Murabitun yang dikuasai Kristen dapat direbut kembali.

Dinasti Muwahhidun datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abdul Mukmin antara tahun 1114-1115 M. pada masa ini Muwahhidun memperoleh prestasi cemerlang yang belum pernah dicapai kerajaan manapun di Afrika Utara. Daerah kekuasaannya membentang dari Tripoli hingga ke Samudera Atlantik sebelah Barat, kota-kota Muslim penting yang jatuh ke tangan kekuasaannya adalah Cordoba, Almeria dan Granada.

Setelah Abdul Mukmin meninggal, kepemimpinanya diganti oleh putranya yaituAbu Yaqub Yusuf bin Abdul Mukmin pada tahun 558 H. ia dikenal sebagai seorang yang sangat dekat dengan kaum ulama’ dan cendekiawan dan terkenal dengan seorang pemimpin yang cakap, gemar ilmu dan senang berjihad. Dalam memperluas wilayahya, ia menyerang wilayah Andalusia yang kedua kalinya dan berhasil merebut daerah Lisabon yang dikuasai Kristen, dalam peperangan ini Abu Ya’qub Yusuf terluka parah sehingga meninggal dunia. Ulama-ulama besar pada masa ini diantaranya Ibnu Rusyd, Ibnu Thufail, Ibnu Mulkun, Abu Ishaq Ibrahim bin Abdul Malik dan Abu Bakar bin Zuhr, sehingga Marrakeh menjadi pusat peradaban terbesar saat itu.

Muwahhidun lebih masyhur karena kekuatan armada laut yang mereka dirikan, sehingga kekuasaannya ke laut dan ke darat. Wilayah kekuasaan dinasti muwahidun sebelah utara berupa: sahara Afrika yang luas, sebelah barat sampai laut hitam, sebelah timur padang pasir sampai perbatasan Mesir dan sebelah selatan laut Roemi. Abu Ya’qub Yusuf digantikan anaknya yaitu Abu Yusuf ya’qub al Mansur. Pada awal kekuaaannya terjadi dua pemberontakan di Spanyol yaitu dari cucu Ibnu Ghaniyah dan orang Kristen yang berusaha merebut kembali wilayah-wilayah Islam di Spanyol. Kedua pemberontakan berhasil dipatahkan bahkan raja Alfonso tunduk terhadap dinasti Muwahhidun.

Pada tahun 591 H/ 1194 M, Alfonso kembali memberontak dengan keyakinan ingin membebaskan wilayah-wilayah Spanyol dari kekuasaan Islam sehingga terjadi peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh Islam dan berhasil menawan 20 ribu tentara Kristen. Kemenangan Muwahidun ini merupakan kemenangan terakhir kaum muslim terhadap orang-orang Kristen di Spanyol dan pertempuran selanjutnya dengan orang Kristen tidak pernah menang.

Setelah Abu Yusuf Ya’qub al Mansur meninggal, ia diganti oleh anaknya yang bernama Muhammad an Nashir yang pada saat itu belum mencapai usia 17 tahun, sehingga berakibat kendali Negara lebih banyak dipegang oleh menteri-menterinya yang saling berebut mengambil simpati khalifah yang masih muda dan hal ini dimanfaatkan oleh lawan-lawan Muwahhidun meskipun pernah dikalahkan penguasa sebelumnya, diantaranya adalah di daerah Tunisia oleh Ibnu Ghaniyah dan berhasil dipatahkan.

Orang-orang Kristen di Spanyol juga melakukan pemberontakan yang mengakibatkan satu persatu wilayah Muwahhidun dapat ditaklukkan, yang pada awalnya kaum Muwahhidun dapat menekan kaum Kristen namun terjadi perpecahan di kalangan pemimpin Muwahhidun akhirnya suasana tersebut dimanfaatkan orang-orang Kristen dan akhirnya Muwahhidun dihancurkan.

Kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan pemimpinnya meninggalkan Spanyol  dan kembali ke Afrika utara. Pada tahun 1235 M keadaan Spanyol kembali runyam di bawah penguasa-penguasa kecil, dengan kondisi yang demikian umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan Kristen yang semakin besar. Sehingga tahun 1238 M Cordoba jatuh ke tangan Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M, seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.

D.      Masa Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Muwahhidun

Setelah Muhammad al-Nashir meninggal dalam perang al-Uqap, maka kerajaan Muwahhidun menjadi semakin lemah, Muhammad al-Nashir sendiri dalam memerintah tidak dapat berbuat banyak. Hal ini disebabkan usianya yang masih sangat muda ketika naik tahta dan keputusan-keputusan penting berada ditangan menterinya. Ia kemudian diganti oleh putranya Abu Yusuf Ya’qub al-Muntasir yang masih terlalu muda juga yaitu berusia 16 tahun dan menteri-menterinyalah yang berkuasa, mereka bertindak untuk kepentingan masing-masing sehingga kerajaan tidak tenang dan banyak kerusuhan, ia berkuasa sampai 1269 M.

Abu Yusuf Ya’qub al-Muntasir meninggak akibat dibunuh, sehingga berkobar api fitnah di Maghrib dan Spanyol. Kemudian ia digantikan oleh Abu Muhammad Wahid al-Mahlu, ia adalah saudaranya Ya’qub al-Mansur. Amir yang terakhir ini sudah lanjut usia dan tidak mampu memikul tugas sebagai penguasa sehingga mengundurkan diri dan digantikan putranya yang bernama Abdullah Muhammad al-Adil sampai tahun 1227 M. kemudian digantikan Abu Ula al-Makmun, pada saat ini terjadi pemberontakan di Maghrib dan Spanyol karena Amir ini tidak lagi berpegang teguh pada ajaran agama yang dianut golongan Muwahhidun. Ia menyerukan kembali madzhab Ahlussunnah, pada masa kekuasaannya terjadi perpecahan di barisan kelompok Muwahidun sendiri.

Kemunduran dinasti Muwahhidun tampak terasa setelah al-Nashr wafat. Adapun faktor kemunduran Muwahhidun ini disebabkan oleh:

  1. Perebutan tahta dikalangan keluarga daulah
  2. Melemahnya kontrol terhadap penguasa daerah
  3. Mengendurnya tradisi disiplin
  4. Memudarnya keyakinan akan keagungan misi al-Mahdi Ibnu Thumart, bahkan namanya tidak disebut dalam dokumen Negara. Begitu pula pada mata uang masa terakhir.

Setelah al-Makmun meninggal, ia diganti oleh putranya bernama Abdul Abu Muhammad Abdul Wahid al-Rasyid. Amir yang baru ini berusaha mengembalikan ajaran kelompok Muwahhidun sebagaimana semula. Pada masa ini muncul Kabilah bani Marrin yang menantang al-Rasyid. Setelah meninggal kendali kekuasaan diganti oleh saudaranya bernama Abu Hasan Ali al-Sa’id, ia mengadakan perjanjian damai dengan bani Marrin akan tetapi ia dibunuh oleh bani Rayyan yaitu penguasa kota Tilmisan. Munculnya Yaghamrasan Ibnu Zayyan di Tlemcen pada tahun 633/1236 menyebabkan berdirinya dinasti Abdu al-Wadiyyah yang independent dan tahun berikutnya Abu Zakariya Yahya seorang gubernur Ifriqiyah memerdekakannya di Tunis dan mendirikan dinasti Hafshiyyah. Sebagai penerusnya adalah Abu Hafs al-Umar al-Murtadho. Pada masanya muncul Abu Ula Idris al-Wasiq yang bergelar Abu Dabus dan bersekutu dengan bani Marrin, akan tetapi kemudian Abu Dabus dibunuh oleh sekutunya pada tahun 667 H/ 1269 M. akhirnya ibu kota Muwahhidun di Marrakesh jatuh ke tangan Marriniyah. Peristiwa inilah yang merupakan akhir dari keberadaan dinasti Muwahhidun di Maghrib yang selanjutnya bani Marrin berkuasa menggantikannya di wilayah tersebut.

Referensi

Depag RI, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Jakarta: tp, 2003

Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2001

Bosworth, C.E. , Dinasti-Dinasti Islam, (terj) Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1993

Hamka, Sejarah Umat Islam, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 2005

Hitti, Philip. K, History of Arabs, (terj) R. Cecep Lukman Yasin, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006

Sumanto, Masripah, Sejarah Islam Klasik, Jakarta: Kencana, 2002

Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika Press, 2003

Yatim,Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: