KONSEP DASAR I’JAZ AL-QUR’AN


KONSEP DASAR I’JAZ AL-QUR’AN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.     Latar Belakang

Kita sebagai masyarakat muslim tampak akrab dengan bahasa wahyu dan al-Qur’an, terlebih lagi para akademisi yang ada dalam naungan sebuah lembaga pendidikan Islam, tampaknya kedua nama tersebut melekat erat di benak mereka. Namun pengetahuan mengenai apa sesungguhnya atau hakekat dari kedua kata tersebut belum begitu mendalam dan kedua kata tersebut hanya dipahami dengan makna dasarnya saja. Padahal dua kata tersebut apabila dipahami secara mendalam, maka kita akan dapat mengenal kitab suci kita dengan baik.

Al-Qur’an merupakan salah satu wahyu yang berupa kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an yang berupa kalam Allah ini merupakan kitab atau wahyu yang istimewa dibandingkan dengan wahyu-wahyu yang lainnya. Bahkan salah satu keistimewaannya adalah tidak ada satu bacaan-pun sejak peradaban baca tulis dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya, maupun oleh orang yang tidak mengerti artinya. Di samping itu, al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam dan sebagai petunjuk ke jalan yang benar untuk totalitas umat manusia yang tujuan utamanya mengantarkan manusia kepada suatu kehidupan yang membahagiakannya untuk kehidupan sekarang dan juga esok di akhirat.

Al-Qur’an merupakan salah satu nama dari nama wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi-Nya. Al-Qur’an, menurut Quraish Shihab, secara harfiah berarti “bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan”. Sedangkan sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Syafi’i, bahwa lafadh al-Qur’an murtajal yang khusus dan merupakan nama dari kalam allah yang bermu’jizat. Ada yang berpendapat bahwa al-Qur’an berasal dari lafadh qaraa atau qarana yang berarti kumpulan, menghimpun atau himpunan. Hal itu karena kumpulnya huruf yang satu dengan  yang lain dalam bacaannya. Ada lagi yang mengatakan al-Qur’an musytaq dari lafadh qarain (mirip), karena ayat al-Qur’an serupa antara satu dengan yang lainnya.

Secara terminologi terdapat 3 golongan besar dalam membuat definisi tentang al-Qur’an, yaitu golongan orang yang meringkas, golongan orang yang membuat definisi sedang-sedang saja (mutawassith), dan orang yang membuat definisi dengan panjang (muthnib). Sedangkan penulis berpendapat bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang bermu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sesuai dengan redaksinya melalui malaikat Jibril, secara berangsur-angsur, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir dan bernilai ibadah bagi yang membacanya, yang dimulai dari surah al-fatihah dan diakhiri oleh surah al-nas. Dalam definisi tersebut, biasanya digunakan kata bermu’jizat untuk menyifati al-Qur’an. Itulah sifat yang dimiliki oleh al-Qur’an yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Kata i’jaz atau bermu’jizat ini menimbulkan implikasi tersendiri, yaitu bisa menantang orang yang meragukannya, dan mengalahkannya. Maka dari itu, penulis akan melakukan  pembahasan tentang i’jaz al-Qur’an  agar menjadi lebih jelas sehingga masyarakat muslim menjadi lebih mengetahui dan mengenal dengan lebih rinci tentang kitab sucinya.

B.     Ma’na I’jaz al-Qur’an

Dari segi bahasa, kata i’jaz berasal dari kata ’ajaza, yu’jizu, i’jazan yang berarti melemahkan atau memperlemah, juga dapat berarti menetapkan kelemahan. Secara normative, i’jaz dapat berarti ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu namun bukan ketidakberdayaan. Oleh karena itu, apabila kemukjizatan itu telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mukjizat yaitu orang lain tidak mampu untuk mengalahkannya. Maksudnya i’jaz itu adalah sesuatu yang luar biasa di luar adat istiadat manusia pada umumnya, yang hanya dimiliki oleh orang yang diutus oleh Allah.

Secara terminologi, kata i’jaz adalah menampakkan kelemahan manusia baik secara kelompok maupun perseorangan untuk menandingi hal yang serupa yang datangnya dari Allah yang diberikan kepada rasul-Nya. Jadi yang dimaksud dengan i’jaz atau mu’jizat adalah perkara yang luar biasa yang disertai dengan tantangan yang tidak mungkin dapat ditandingi oleh siapapun dan kapanpun yang diberikan kepada para utusan Allah yang bertugas untuk menyampaikan risalah kepada manusia.

Sementara itu, dalam konteks al-Qur’an, maka i’jaz al-Qur’an adalah sesuatu yang luar biasa yang ada dalam al-Qur’an yang berfungsi untuk melemahkan orang yang meragukan dan tidak percaya terhadap al-Qur’an yang sifatnya sepanjang zaman.

Sejak zaman Nabi Muhammad banyak sekali orang yang meragukan eksistensi al-Qur’an sebagai firman Allah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa al-Qur’an adalah syair, al-Qur’an adalah sihir dan lain sebagainya. Maka dari itu, al-Qur’an mengeluarkan tantangan kepada orang-orang tersebut. Tantangan yang pertama kali dilontarkan adalah:

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لَا يُؤْمِنُونَ (33 فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (34)

Artinya: Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.

Kenyataannya tantangan tersebut tidak bisa mereka penuhi. Namun mereka beralasan bahwa mereka tidak mengetahui sejarah umat terdahulu, maka wajar kalau mereka tidak bisa membuat yang sepadan dengan al-Qur’an. Selanjutnya, karena tantangan tersebut tidak mampu dipenuhi, maka Allah meringankan tantangan tersebut dengan firman-Nya:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13)

Artinya: Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

 

Namun kenyataannya tantangan yang kedua ini juga gagal dilayani dengan alasan yang sama, yaitu tidak mengetahui sejarah umat terdahulu yang digunakan sebagai isi dari sepuluh surah tersebut. Maka Allah meringankan tantangannya dengan firman-Nya.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (38)

Artinya: Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Ketiga tantangan tersebut terlontarkan ketika Nabi masih berada di Makkah, masih ditambah tantangan yang keempat yang dikemukakan ketika Nabi sudah berhijrah ke Madinah, yang terabadikan dalam firman Allah sebagai berikut:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)

Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Ayat ini sebenarnya redaksinya mirip dengan ayat yang ada dalam surah Yunus. Namun ayat dalam surah al-Baqarah ini di dalamnya terdapat min yang menurut para pakar menunjukkan arti “kurang lebih”. Akan tetapi tantangan tersebut belum juga terjawab, bahkan sampai sekarang tantangan tersebut masih berlaku dan juga belum ada jawaban atau balasan, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia.

Pada zaman Nabi Muhammad pernah ada yang mengaku mendapat wahyu dan membuat syair yang menandingi al-Qur’an, namun juga tidak berhasil. Ia adalah Musailamah al-Kadzdzab. Syair yang ia buat adalah sebagai berikut:

الفيل,ما الفيل, وماادرك ماالفيل, له خرطوم طويل, وذنب اثيل, وماذاك من خلق ربنا بقليل.

Artinya: Gajah, Apa itu gajah?, Tahukah engkau apa gajah, Ia mempunyai belalai yang panjang, dan ekor yang mantab. Itu bukanlah bagian dari ciptaan Tuhan kita yang kecil.

Kalimat di atas jika dilihat sekilas, nampaknya dari segi bahasanya teratur. Namun itu hanya berlaku bagi orang yang tidak berilmu, karena setiap orang yang berilmu pasti tahu bahwa kata wa ma adraka itu dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang agung dan besar pengaruhnya, bukan dipakai untuk menunjukkan gajah. Apalagi dari segi arti dan makna yang tersurat di dalamnya. Apabila dilihat dari segi makna, maka kalimat di atas hanyalah nyanyian atau lagu anak kecil yang berjudul gajah. Maka dari itu, pada zaman dahulu tantangan untuk membuat yang seperti al-Qur’an belum ada jawaban dan tantangan tersebut tetap eksis dan berlanjut hingga masa sekarang ini.

Pada zaman sekarang atau era modern, tuduhan yang serupa muncul kembali dan itu terlontar dari kaum orientalist. Orientalist melontarkan tuduhan bahwa al-Qur’an bukan wahyu Tuhan dan merupakan karangan Muhammad. Di samping itu, ia juga mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan percampuran unsur-unsur perjanjian lama, perjanjian baru, dan sumber-sumber lainnya termasuk pengaruh agama Yahudi. Itu semua merupakan tuduhan klasik yang sejak zaman Nabi Muhammad sudah pernah terlontarkan. Sebenarnya orang yang mengetahui sejarah Islam dengan rentetannya, ia akan tersenyum lebar menanggapi tuduhan tersebut.

Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran para Nabi. Keluarbiasaan yang tampak atau terjadi melalui mereka itu diibaratkan sebagai ucapan Tuhan. Mukjizat, walaupun dari segi bahasa berarti melemahkan sebagaimana dikemukakan tadim dari segi agama, ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang ditantang. Jika demikian, paling tidak mengandung dua konsekuensi.

Pertama, bagi yang telah percaya kepada Nabi, maka dia tidak lagi membutuhkan mukjizat. Dia tidak lagi ditantang untuk melakukan hal yang sama. Mukjizat yang dilihatnya hanya berfungsi untuk memperkuat keimanan serta menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah swt. Kedua, para nabi sejak nabi Adam hingga Isa, diutus untuk suatu kurun tertentu serta masyarakat tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan sebagai mukjizat pasti tidak dapat dilakukan oleh umatnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah hal ini tidak juga dapat dilakukan oleh umat yang lain setelah itu? Namun hal itu ternyata sama sekali bukan tujuan untuk menantang. Namun untuk menunjukkan bahwa mereka itu benar-benar datang sebagai utusan dari Allah. Maka dari itu, mukjizat yang mereka tunjukkan pada hakikatnya juga merupakan kuasa Allah. Jadi jika Allah berkehendak, maka tidak ada yang bisa berbuat sedemikian rupa.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: