PERSPEKTIF ULAMA MENGENAI I’JAZ AL-QUR’AN DAN MACAM-MACAMNYA


PERSPEKTIF ULAMA MENGENAI I’JAZ AL-QUR’AN

DAN MACAM-MACAMNYA

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.     Perspektif Ulama Mengenai I’jaz al-Qur’an

Dalam ilmu kalam, terjadi perbedaan pandangan para ulama tentang apakah al-Qur’an itu merupakan makhluk atau bukan. Hal itu juga mendasari perbedaan pendapat mengenai mukjizat al-Qur’an. Pendapat mereka terbagi menjadi beberapa ragam, antara lain:

  1. Abu Ishaq Ibrahim al-Nizam dan pengikutnya dari kaum Syiah berpendapat bahwa kemukjizatan al-Qur’an adalah dengan cara shirfah. Maksudnya ialah bahwa Allah memalingkah orang-orang arab yang menentang al-Qur’an, padahal sebenarnya mereka mampu untuk menghadapinya. Pendapat ini merupakan pendapat yang salah.
  2. Satu golongan ulama berpendapat bahwa al-Qurr’an itu bermukjizat dengan balaghahnya yang mencapai tingkat tinggi dan tidak ada bandingannya dan ini adalah pendapat ahli bahasa.
  3. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Qur’an adalah karena mengandung badi’ yang sangat unik dan berbeda dengan apa yang dikenal dalam perkataan orang arab pada umumnya.
  4. Golongan yang lain berpendapat bahwa al-Qur’an itu kemukjizatannya terletak pada pemberitaannya tentang hal-hal yang ghaib, yang telah lalu dan yang akan datang yang tidak ada seorang pun yang tahu.
  5. Satu golongan berpendapat bahwa mukjizat al-Qur’an itu terjadi karena ia mengandung berbagai macam ilmu hikmah yang dalam.

Demikian berbagai pandangan ulama mengenai kemukjizatan al-Qur’an. Sebenarnya peninjauan hal itu hanya berdasarkan keilmuan yang mereka miliki. Perbedaan itu disebabkan oleh keilmuan yang mereka miliki berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama yang lain.

B.     Macam-Macam dan Aspek Kemukjizatan al-Qur’an

Secara garis besar mukjizat dapat dibagi ke dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial, logis dan dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi yang terdahulu merupakan salah satu jenis dari mukjizat yang pertama, karena mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat dijangkau lewat indra oleh masyarakat tempat mereka menyampaikan risalahnya.

Contohnya seperti tidak terbakarnya Nabi Ibrahim ketika dibakar dalam kobaran api yang sangat besar, berubah wujudnya tongkat nabi Musa ketika berhadapan dengan tukang sihirnya Fir’aun, banjir pada masa Nabi Nuh dan lain-lain. Berbeda dengan mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad, walaupun ada yang bersifat indrawi, namun yang paling dahsyat adalah yang bersifat metafisika yang berupa pemahaman oleh akal. Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak dibatasi oleh waktu dan masa tertentu. Mukjizat al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun. Perbedaan ini disebabkan  oleh dua hal pokok:

  1. Umat para Nabi sebelum nabi Muhammad membutuhkan kebenaran yang sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Akan tetapi, setelah manusia menanjak dewasa, kedewasaan berpikir indrawi tidak begitu dibutuhkan lagi. Maka dari itu, dapat dikatakan mukjizat para Nabi sebelum nabi Muhammad hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad yang diutus untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman sehingga bukti kebenarannya harus ada sampai kapanpun juga.
  2. Manusia mengalami perkembangan dalam pemikirannya. Maka umat Nabi Muhammad membutuhkan bukti kebenaran yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.

Aspek-aspek kemukjizatan al-Qur’an antara lain sebagai berikut:

Aspek Kebahasaan

Bahasa al-Qur’an sungguh mampu membuat orang terpesona serta singkat, padat, dan akurat. Seperti contoh berikut ini:

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا (1) وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا (2) وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا (3) فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا (4) فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا (5)

Artinya: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut, dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Q.S.al-Nazi’at/79: 1-5)

Disamping itu, redaksi al-Qur’an seimbang. Contoh lafadh bismillahhirrahmanirrahim itu terdiri dari 19 huruf. Maka jumlah kata yang ada dalam bismilah tersebut dalam seluruh al-Qur’an bisa dibagi dengan 19. Ada lagi yang menarik, yaitu keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Contohnya kata al-hayah dan al-maut masing-masing sebanyak 145 kata. Contoh lagi, al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada 7, penjelasan ini diulangi juga sebanyak 7 kali.

Pemberitaan Ghaib

Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah mampu memberitakan kejadian yang telah lampau, seperti kisah Fir’aun yang terjadi pada 12 abad sebelum masehi. Perincian kisah kaum-kaum terdahulu ini tidak satupun diungkap oleh kitab apapun. Seklumit kisah tentang Fir’aun seperti dalam ayat berikut ini:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آَمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آَمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ (90) آَلْآَنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (91) فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آَيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آَيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92)

Artinya: Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.(Q.S.Yunus/10: 90-92)

Bukan hanya kabar tentang masa lampau, tetapi al-Qur’an mampu memberikan kabar tentang masa depan. Misalnya berita kemenangan Romawi setelah kekalahannya. Bahkan hal itu dijadikan nama surah tersendiri. Kita simak informasi dalam al-Qur’an sebagai berikut:

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (4) مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآَتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (5)

Artinya: Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Rum/30:1-5)

 

Sejarah menginformasikan bahwa pada tahun 614 M terjadi peperangan antara kedua negara yaitu Romawi dan Persia, dan dimenangkan oleh Persia. Namun ketika tahu 622 M terjadi peperangan lagi antara kedua negara tersebut dan dimenangkan oleh Romawi. Tahun 622 M adalah tahun kedua Hijriyah sedangkan turunnya ayat tersebut ketika Nabi Muhammad masih berada di Mekkah, tepatnya 615 M.

Isyarat-isyarat ilmiah

Al-Qur’an bukan merupakan kitab atau buku ilmiah, namun al-Qur’an mampu memberikan isyarat ilmiah sebelum manusia menyadari kebenarannya. Contohnya mengenai reproduksi manusia yang diterangkan dan disitir dalam surah al-Mu’minun:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Q.S. al-Mu’minun/23:12-14)

Ayat tersebut menerangkan mengenai reproduksi manusia. Dan ayat tersebut dikemukakan 15 abad dimana manusia belum mampu untuk mendeteksi proses reproduksi tersebut.

Al-Qur’an juga memberikan isyarat mengenai kejadian alam semesta, yang pada dekade akhir-akhir ini dibuktikan dengan adanya teori Big-Bang yang menyatakan bahwa alam semesta dulunya adalah satu. Dalam al-Qur’an hal tersebut telah disitir juga 15 abad yang lalu dengan ayat:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (30)

Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S.al-Anbiya’/21: 30)

C.     Bacaan Lebih Lanjut

Al-Alusi, Shihab al-Din, Tafsir Ruh al-Ma’ani, juz 1, Mauqi’u al-Tafasir: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

Al-Shabuny, Muhammad Ali, Tibyan fi Ulum al-Qur’an, Mauqi’u al-Islam: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2010.

Al-Suyuthi, Jalal al-Din, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004.

Al-Zarqani, Muhammad Abdul ‘Adhim, Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an, Kairo: Dar al-Hadits, 2001.

Ibrahim, Farid Wajdi, Orientalisme dan Sikap Umat Islam, Yogyakarta: Lanarka Publisher, 2006.

Mufidah, Lukluk Nur, “Al-Qur’an Sebagai Sumber Konsep Pendidikan Islam”, dalam Ta’allum Jurnal Pendidikan Islam, Vol.29.No.1.

Qatthan, Mana’ Khalil, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Mesir: Dar al-Mantsurat al-‘Asr al-Hadits, tt.

Qatthan, Mana’ Khalil, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, terj., Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2004.

Qatthan, Manna’ Khalil, Tarikh al-Tasyri’ al-Islamy: al-Tasyri’ wa al-Fiqh, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif li al-Nashr Wa al-Tauzig, 1996.

Shihab, Quraish, Lentera Al-Qur’an: Kisah dan Hikmah Kehidupan, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.

Shihab, Quraish, Mu’jizat al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Ghaib, Bandung: Mizan, 2007.

Usman, Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Teras 2009.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: