PRINSIP-PRINSIP DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


PRINSIP-PRINSIP DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Yang dimaksud dengan pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan. Hal tersebut meliputi pertanyaan-pertanyaan berikut: Siapa akan dilibatkan dalam pembuatan kurikulum, guru, administrator, orang tua, atau siswa? Apa prosedur yang akan digunakan dalam pembuatan kurikulum, petunjuk administratif, konlisi fakultas (staf pengajar) atau konsultasi universitas? Jika komisi yang digunakan, bagaimana mereka akan diatur?

Sedangkan Bondi dan Wiles mengemukakan babwa pengembangan kurikulum yang terbaik adalah proses yang meliputi banyak hal yakni : (1) kemudahan-kemudahan suatu analisis tujuan, (2) rancangan suatu program, (3) penerapan serangkaian pengalaman yang berhubungan, dan (4) peralatan dalam evaluasi proses ini. Secara singkat, pengembangan kurikulum adalah suatu perbuatan kompleks yang mencakup berbagai jenis keputusan.

Glasgow menguraikan 7 prinsip desain kurikulum, sebagai berikut:

  1. Tantangan dan Kesenangan (Challenge and Enjoyment)

Pembelajar harus menemukan tantangan dan motivasi belajar mereka. Kurikulum harus memberikan aspirasi dan ambisi bagi seluruh siswa. Pada semua tingkat, pembelajar dengan kemampuan dan bakat yang dmilikinya harus mengalami tantangan dengan tingkat yang tepat, sehingga memungkinkan mereka untuk mengasah potensi mereka. Pembelajar harus aktif dalam pembelajaran dan mempunyai mengembangkan dan mendemonstrasikan kreatifitas mereka. Harus ada dukungan yang memungkinkan pembelajar untuk meningkatkan usaha mereka.

  1. Luas (Breadth)

Pembelajar harus memperoleh mendapatkan kesempatan untuk kesempatan dengan rentang bobot yang sesuai dan luas jangkauannya. Kurikulum harus diorganisir sehingga pembelajar dapat belajar dan berkembang melalui variasi konteks, baik di kelas maupun di aspek lain dalam kehidupan.

Kemajuan (Progression)

Pembelajar harus mengalami kemajuan yang berkelanjutan pada pembelajaran mereka dalam satu kerangka pembelajaran. Setiap tingkat harus dibangun berdasarkan pengetahuan dini. Pembelajar harus dapat berkembang pada tingkat dimana kebutuhan dan bakat mereka bisa dipenuhi, dan harus tetap membuka kesempatan sehingga perkembangan anak tidak terhenti pada usia dini.

Kedalaman (Depth)

Harus ada kesempatan bagi pembelajar untuk mengembangkan kemampuan mereka secara maksimal dalam berbagai tipe cara berpikir dan belajar. Dalam perkembangannya, mereka harus mengembangkan dan mengaplikasikan kekuatan intelektual, menarik elemen lain dari pembelajaran dan mengeksplorasi dan menmperoleh pemahaman yang

Personalisasi dan Pilihan (Personalisation and Choice)

Kurikulum harus merespon kebutuhan individual dan mensupport bakat tertentu yang dimiliki pembelajar. Kurikulum juga harus memberikan kesempatan yang besar agar pembelajar dapat berlatih untuk menentukan pilihan yang bertanggungjawab, ketika pembelajar mulai memasuki jenjang sekolah. Saat pembelajar memperoleh tingkat pencapaian yang sesuai dari rentang jenjang pendidikan yang luas, pilihan tersebut harus dibuka sesegera mungkin. Harus ada penjamin yang dapat menjamin bahwa pilihan itu mengarah pada kesuksesan.

Koherensi (Coherence)

Secara keseluruhan, aktivitas pembelajaran pembelajar harus utuh untuk membentuk pengalaman yang berhubungan satu sama lain.

Relevansi (Relevance)

Pembelajar harus memahami tujuan pembelajaran. Mereka harus melihat nilai dari pelajaran yang mereka pelajari dan relevansi pelajaran tersebut dalam hidup mereka saat.

Sementara itu, Saylor mengemukakan delapan prinsip sebagai acuan dalam desain kurikulum. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Desain kurikulum harus memudahkan dan mendorong seleksi serta pengembangan semua jenis pengalaman belajar yang esensial bagi pencapaian prestasi belajar, sesuai dengan hasil yang diharapkan;
  2. Desain memuat berbagai pengalaman belajar yang bermakna dalam rangka merealisasikan tujuan-tujuan pendidikan, khususnya bagi kelompok siswa yang belajar dengan bimbingan guru;
  3. Desain harus memungkinkan dan menyediakan peluang bagi guru untuk menggunakan prinsip-prinsip belajar dalam memilih, membimbing, dan mengembangkan berbagai kegiatan belajar di sekolah;
  4. Desain harus memungkinkan guru untuk menyesuaikan pengalaman dengan kebutuhan, kapasitas, dan tingkat kematangan siswa;
  5. Desain harus mendorong guru untuk mempertimbangkan berbagai pengalaman belajar anak yang diperoleh di luar sekolah dan mengaitkannya dengan kegiatan belajar di sekolah
  6. Desain harus menyediakan pengalaman belajar yang berkesinambungan, agar kegiatan belajar siswa berkembang sejalan dengan pengalaman terdahulu dan terus berlanjut pada pengalaman berikutnya;
  7. Kurikulum harus didesain agar dapat membantu siswa mengembangkan watak, kepribadian, pengalaman, dan nilai-nilai demokrasi yang menjiwai kultur; dan
  8. Desain kurikulum harus realistis, layak, dan dapat diterima.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: