ASPEK SOSIO KULTURAL DALAM DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


ASPEK SOSIO KULTURAL DALAM DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Tiap kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita, tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Sudah sewajarnya pendidikan harus memperhatikan dan merespon suara-suara dalam masyarakat. Pendidikan harus memberi jawaban atas tekanan-tekanan yang datang dari desakan dan kekuatan-kekuatan sosio-politik-ekonomi yang dominan pada saat tertentu.

Keputusan yang akan diambil mengenai kurikulum akhirnya bergantung pada bagaimana pengembang kurikulum memandang dunia tempai ia hidup, bagaimana ia bereaksi terhadap berbagai kebutuhan yang dikemukakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat, dan juga oleh falsafah hidup dan falsafah pendidikannya.

Menurut Hamalik, kebudayaan merupakan suatu hal yang kompleks, karena itu dalam prakteknya kita tidak dapat melihat berbagai dimensi kebudayaan yang terpisah. Akan tetapi untuk kepentingan analisis, para ahli berpendapat bahwa kebudayaan memiliki unsur atau dimensi tertentu. Herkonverts dalam Hamalik, contohnya mengajukan empat unsur pokok dari kebudayaan yaitu:

  1. Technological equipment (alat-alat teknologi)
  2. Economic system (sistem ekonomi)
  3. Family (keluarga)
  4. Political control (kekuasaan politik)

Selain unsur-unsur diatas, Boyd sebagaimana dikutip Hamalik, mengklasifikasikan kebudayaan ke dalam berbagai dimensi berikut:

  1. Domestic, dealing with the family structure and its function
  2.  Educational, dealing with the transmissions of culture and the search for knowlwgde
  3. Political, dealing with eternal control and protection from outside forces
  4. Economic, dealing with production, distribution and consumption of material goods and services.
  5.  Religiuos, those beliefs of men beyond scientific verification
  6.  Recreational, dealing with leisure time and esthetic expression
  7.  Ameliorative, dealing with sosial service – for the aged, the ill, the phisically handicaped, the mentally ill, and the criminal.

Faktor sosial budaya sangat penting dalam penyusunan kurikulum yang relevan, karena kurikulum merupakan alat untuk merealisasikan sistem pendidikan, sebagai salah satu dimensi dari kebudayaan. Implikasi dasarnya adalah sebagai berikut:

  1. Kurikulum harus disusun berdasarkan kondisi sosial-budaya masyarakat. Kurikulum disusun bukan saja harus berdasarkan nilai, adat istiadat, cita-cita dari masyarakat, tetapi juga harus berlandaskan semua dimensi kebuadayaan seperti kehidupan keluarga, ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya.
  2. Karena kondisi sosial budaya senantiasa berubah dan berkembang sejalan dengan perubahan masyarakat, maka kurikulum harus disusun dengan memperhatikan unsur fleksibilitas dan bersifat dinamis, sehingga kurikulum tersebut senantiasa relevan dengan masyarakat. Konsekuensi logisnya, pada waktunya perlu diadakan perubahan dan revisi kurikulum, sesuai dengan perkembangan dan perubahan sosial budaya yang ada pada saat itu.
  3. Program kurikulum harus disusun dan mengandung materi sosial budaya dalam masyarakat. Ini bukan hanya dimaksudkan untuk membudayakan anak didik, tetapi sejalan dengan usaha mengawetkan kebudayaan itu sendiri. Kemajuan dalam bidang teknologi akan memberikan bahan yang memadai dalam penyampaian teknologi baru itu kepada siswa, yang sekaligus mempersiapkan mempersiapkan para siswa tersebut agar mampu hidup dalam teknologi itu. Dengan demikian, sekolah benar-benar dapat mengemban peran dan fungsinya sebagai lembaga modernisasi.

Kurikulum di sekolah-sekolah kita harus disusun berdasarkan kebudayaan nasional yang mencakup perkembangan kebudayaan daerah. Integritas kebudayaan nasional akan tercermin dalam isi dan organisasi kurikulum, karena sistem pendidikan kita bermaksud membudayakan anak didik kita berdasarkan kebudayaan masyarakat dan bangsa kita sendiri.

Selain itu, sehubungan dengan pelaksanaan tugas-tugasnya, maka para pengembang kurikulum harus melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang-undang, keputusan pemerintah, peraturan-peraturan daerah dan lain sebagainya.
  2. Menganalisis budaya masyarakat tempat sekolah berada.
  3. Menganalisis kekuatan serta potensi-potensi daerah.
  4. Menganalisis syarat dan tuntutan tenaga kerja.
  5. Menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat.

Ornstein & Hunkins berpendapat bahwa faktor-faktor sosial budaya yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum adalah ras, kelas sosial, dan gender. Ras berkenaan dengan kelompok etnik yang merupakan sekelompok orang yang memiliki kesamaan bahasa, agama, keyakinan, atau moral yang berbeda dengan kelompok lainnya. Isu penanganan perbedaan ras ini akan terus berpengaruh terhadap bidang kurikulum dengan perkembangan konsep asimilasi berbagai kelompok etnis dan konsep pluralitas dalam pendidikan di sekolah.

Isu kelas sosial juga perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. Hal ini disebabkan setiap kelompok kelas sosial menganut nilai-nilai yang berbeda antara kelompok sosial yang satu dengan yang lainnya, yang berpengaruh terhadap perilaku. Cara berinteraksi dengan orang lain, pandangan tentang masa depan, persepsi tentang keberhasilan, dan ide-ide yang berkenaan dengan pendidikan akan berbeda antara satu kelompok sosial dengan kelompok lainnya.

Gender tidak berkaitan dengan faktor biologis tetapi lebih menekankan pada faktor sosial budaya. Berkenaan dengan pengembangan kurikulum, pendidik bertanggung jawab untuk mempersiapkan anak laki-laki dan anak perempuan untuk dapat menjalankan tugasnya dalam masyarakat secara keseluruhan. Kurikulum hendaknya tidak memihak pada satu jenis kelamin tertentu dan memungkinkan individu untuk mengembangkan, meningkatkan, dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Bacaan Lebih Lanjut

BSNP, Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006.

Hamalik, Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana, 2005.

Nasution, Asas-asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2006.

Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Sukamadinata, Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: