Merayakan Natal Di Tengah Umat Islam Dalam perspektif Pluralis dan Multikulturalis


Merayakan Natal Di Tengah Umat Islam

Dalam perspektif Pluralis dan Multikulturalis

 

Oleh: Muhammad Fathurrohman

(Guru SMPN 2 Pagerwojo Tulungagung)

 

 

Pada tanggal 25 Desember 2012, umat kristiani akan merayakan hari Natal. Tentu saja, perayaan hari raya Natal bagi mereka memiliki nilai ritual transendental yang agung tersendiri. Sebab bagi umat kristiani, hari Natal merupakan sebuah refleksi religius yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang cukup besar. Disamping karena di dalamnya mengandung ajaran untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus dari sang Bunda Tuhan, Santo Perawan Ibu Maria, juga karena di dalamnya memuat nilai-nilai penebusan dosa, kesucian, kasih sayang, dan kedamaian yang mesti ditegakkan di muka bumi.

Sebagai sebuah agama yang eksistensinya juga diakui oleh negara Indonesia, keinginan untuk berhari raya yang penuh dengan ketenangan, kedamaian, dan bebas ancaman teror dari berbagai pihak, serta penuh suasana kebahagiaan sangat diinginkan. Seperti halnya ketika umat Islam merayakan hari Idul Fitri dan Idul Adha, umat kristiani juga merasa ikut damai dan bahagia, bahkan tidak sungkan-sungkan untuk mengucapkan “selamat hari raya” kepada umat Islam. Akankah kita umat Islam juga bisa bersikap demikian? Tergantung dari sisi mana umat Islam memandang dan bersikap toleran terhadap semua agama. Karena perspektif yang digunakan untuk memandang orang yang beda agama tersebut juga bermacam-macam. Ada yang bersikap ekslusif dan ada yang bersikap inklusif.

Keinginan untuk ‘berbagi kebahagiaan dan kedamaian’ antar umat beragama di bumi pertiwi ini yang dirasa sangat kurang -untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali- sehingga seringkali melahirkan sikap intoleransi yang berujung pada permusuhan, kebencian, dan tindak kekerasan atas nama SARA, terutama agama. Agama yang pada awal lahirnya membawa ‘pesan suci’ perdamaian, akhirnya terdistorsi oleh manusia-nya sendiri karena kuatnya truth claim dan sikap ekstrem dalam beragama.

Nah, akankah ekstremisme beragama di hari Natal tahun ini masih ada? Tidakkah kita umat Islam juga merasa bahagia di saat saudara-saudara kita umat kristiani berbahagia karena berhari Natal? Dalam hal ini, nampaknya kita perlu mengkaji ulang firman Tuhan (QS. Al-Hujurat (49): 13) yang menyatakan bahwa; “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…”. Tuhan menyebut kata An-Naas (yang berarti: manusia) dan tidak menyebut kata alladzina Amanuu (yang berarti: Orang-orang beriman) seperti yang biasa terdapat dalam ayat-ayat lain yang menyangkut kepentingan khusus umat Islam. Inilah esensi konsep pluralisme, multikulturalisme dan multireligius yang selama ini begitu kuat mengemuka.

Betapa sangat apresiatifnya Tuhan ketika menyebut kata An-Naas dalam ayat tersebut, karena ternyata Tuhan faham betul akan adanya pluralitas umat manusia di muka bumi, dengan adanya bermacam-macamnya suku, ras, bangsa, dan agama. Dan tentu saja Tuhan menyadari bahwa ayat tersebut diturunkan bukan hanya ekslusif untuk umat Islam, tetapi inklusif untuk semua umat manusia tanpa memandang latar belakang agamanya. Sehingga di dalam ayat tersebut ditegaskan pula agar semua umat manusia untuk ta’arafu  (saling kenal mengenal).

Di samping itu, ajaran hadits Rasulullah saw juga mengajarkan tentang pluralisme dan multikulturalisme yaitu adanya toleransi terhadap agama lain, seperti yang tertuang dalam piagam Madinah. Di mana terjadi kerukunan antara umat Islam, baik anshor maupun muhajirin, orang yahudi dan orang kristiani. Hal tersebut juga merupakan dasar pluralisme yang ditunjukkan oleh hadits Nabi Muhammad ketika Nabi Muhammad masih hidup.

Kata ta’arafu. dalam banyak kitab tafsir al-Quran dijelaskan, bahwa ‘saling kenal mengenal’ di sini tidak hanya sebatas kenal nama orang, tetapi juga kenal jenis kelamin, budaya, karakter, suku, ras, agama, dan lain sebagainya. Inilah prisip fundamental al-Quran yang mengakui adanya perbedaan yang mesti harus saling dihargai dan dihormati. Kalau Tuhan saja sangat akomodatif dan sangat menghargai terhadap perbedaan, mengapa kita ciptaan-Nya tidak bisa menghargai perbedaan tersebut dan terus memaksakan persamaan bahkan cenderung bersikap agresif terhadap perbedaan? Aneh bukan?

Selanjutnya, kalau kita lihat dari aspek gramatikal bahasa arab (dalam konteks ilmu Sharraf) kata ta’arafu, mengikuti pola (wazan) “tafa’ala”, yang mengandung arti “resiprokalitas” (berbalasan atau imbal balik). Berarti ‘saling kenal mengenal’ di sini tidak datang dari satu pihak saja tetapi dari kedua belah pihak yang harus berupaya untuk ‘saling kenal mengenal’, ‘saling ingin mengetahui’, dan ‘saling harga-menghargai’, dan semacamnya.

Jika selama ini kita sering dihargai dan dihormati oleh umat kristiani ketika merayakan hari raya Idul Fitri dengan mengucapkan “selamat Idul Fitri”, mengapa kita umat Islam tidak bisa menghargai mereka, dengan hanya sekedar mengucapkan “selamat hari Natal”?. Walaupun MUI mengeluarkan fatwa haram merayakan hari raya Natal bagi umat Islam. Yang haram itu adalah merayakannya, bukan mengucapkan.

Coba bayangkan! Betapa sangat mulianya ajaran mereka jika bisa menghargai dan menghormati umat beragama lain, dan betapa tidak terhormatnya agama kita jika umatnya tidak bisa menghargai dan menghormati umat beragama lain. Lalu dimana letak al-Islamu ya’lu wa la yu’la alaihi (Islam itu mulia dan tidak bisa dilebihi kemuliaannya oleh yang lain), dan mana esensi ayat Tuhan yang katanya Islam itu rahmatan lil ‘alamain?. Kalau umat Islam bersikap angkuh dan tidak mau sekedar mengucapkan “selamat hari Natal” kepada umat Kristiani, maka tidakkah disadari bahwa hal tersebut adalah sikap ekslusif yang seolah menganggap bahwa agamanya sendiri yang benar. Begitu sempitnya Islam itu jika tidak mau sekedar mengucapkan “selamat hari Natal” kepada umat Kristiani. Padahal Tuhan mengajarkan untuk saling menghormati dan menghargai antara sesama agama dan manusia.

Padahal Abdullah Yusuf Ali dalam bukunya The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary (1989: 150), menyatakan bahwa posisi umat Islam sangat jelas. Umat Islam tidak mengaku memiliki agama yang khusus untuk dirinya. Islam adalah bukan sejenis sekte atau etnik. Pernyataan ini lekat sekali dengan sabda Tuhan yang menolak homogenitas dan menghargai pluralitas yang tanpa pandang bulu di atas.

 

Substansi Natal versus Hari Raya Islam

Jika dilihat dari substansi dan esensi, perayaan Idul Fitri ataupun Idul Adha, perayaan Natal pun memiliki substansi yang sama, menyebarkan kasih dan damai antar sesama, yang dikemas dalam dua aspek ritual dan sosial. Dari aspek ritual tentu saja keduanya memiliki prinsip dan nilai yang berbeda, meskipun akhirnya sama-sama menuju penyucian diri pada Tuhan. Tetapi dari aspek sosial keduanya memiliki kesamaan yang mesti diakui bersama, menyebarkan kedamaian (islam, salam) (kristiani, damai dalam kasih) dalam kehidupan, sebagai substansi doktrin semua agama.

Oleh karenanya, merayakan substansi Natal (menabur kasih dan damai), baik dilakukan oleh umat kristiani maupun oleh umat Islam tidak ada bedanya. Hal ini penting dipahami agar kekerasan, permusuhan, dan aksi-aksi teror tidak lagi menghantui kehidupan manusia, sebagaimana yang sering terjadi akhir-akhir ini. Maka ancaman para ulama kita yang mengatakan man tasabbaha bi qaumin fahuwa minhum, barang siapa yang meniru suatu kelompok maka ia termasuk dalam kelompok tersebut, perlu kita kaji kembali dalam konteks sosial saat ini. Sebab, belum tentu umat Islam yang mengucapkan Natal bagi umat kristiani, berbahagia dan berdamai dengan mereka secara otomatis dia kufur (keluar dari Islam), begitu juga sebaliknya. Namun, hal itu justru akan menunjukkan bahwa  Islam itu damai, Islam itu membawa rahmat dan Islam itu selamat.

Konkritnya, aspek ritual Natal dan hari raya Islam memiliki substansi transenden yang berbeda sesuai dengan firman Tuhan dalam surat Al-Kafirun (109): 6, lakum dinukum wa li yadin, bagimulah agamamu, dan untukkulah agamaku. Tetapi dalam aspek sosial marilah kita kembangkan rasa saling menghargai, menghormati, ta’aruf, sehingga pada akhirnya memunculkan kedamaian pada semua pihak. Kita hilangkan perbedaan untuk bersama-sama membangun Bangsa menuju keadaan yang lebih baik dalam menyambut era modernitas . Wallahu a’lam bish shawab!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: