Monthly Archives: December, 2012

MEMAHAMI MAKNA INTELIGENSI


MEMAHAMI MAKNA INTELIGENSI

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A.    Latar Belakang

Kecerdasan merupakan salah satu anugrah besar dari Allah SWT kepada manusia yang menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasan ini, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks melalui proses berfikir dan belajar sepanjang hayat “long life education”.

Selamapara ahli mengembangkan penelitian tentang neurology kecerdasan mulai tersingkap dengan jelas. Diketahui bahwa dalam tengkorak manusia terdapat segumpal benda yang disebut dengan otak. Dari kesimpulan sains diketahui bahwa terdapat pembagian dalam otak yang sangat mempengaruhi pola berfikir manusia dan pusat kecerdasan, yaitu otak kanan dan otak kiri. Oleh karena itu, banyak orang berpendapat bahwa semakin besar volume materi otak menentukan tingkat kecerdasan seseorang.

Kecerdasan pada awalnya menjadi perhatian utama bagi kalangan ahli psikologi pendidikan. Statemen kecerdasan menurut para ahli, tidak dilatarbelakangi oleh kesuksesan, akan tetapi para ahli meninjau kecerdasan dari segala aspek (sisi dalam/internal), sementara pandangan masyarakat awam agak berbeda karena dasarnya dari kesuksesan/kelebihan dibanding dengan masyarakat pada umumnya (sisi luar).

Inteligensi merupakan salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil tidaknya seorang anak dalam belajar, manakala anak memiliki inteligensi yang normal, tetapi prestasi belajarnya sangat rendah sekali. Hal ini tentu disebabkan oleh hal-hal yang lain, misalnya sering sakit, tidak pernah belajar di rumah, dan sebagainya. Kalau anak memiliki inteligensi dibawah normal, maka sulit baginya untuk bersaing dalam pencapaian prestasi tinggi dengan anak yang mempunyai inteligensi normal atau diatas normal. Kepada anak yang demikian, hendaknya diberi pertolongan khusus atau pendidikan khusus, seperti bimbingan dan sebagainya.

B.     Definisi Inteligensi

Istilah inteligensi telah banyak digunakan, terutama di dalam bidang psikologi dan pendidikan. Namun secara definitif istilah itu tidak mudah dirumuskan. Banyak para ahli yang mendefinisikan inteligensi, namun satu sama lain memberikan definisi yang berbeda sehingga belum bisa diperoleh definisi yang tepat mengenai inteligensi.

Kecerdasan (dalam bahasa ingris disebut intelligence dan bahasa arab disebut aldzaka’) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (alqudrab) dalam memahami sesuatu secra cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapanya itu sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (albads).

Menurut Imam Malik dalam bukunya menyebutkan bahwa inteligensi adalah suatu kesanggupan atau kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan dengan cepat, tepat dan mudah. Jadi seseorang yang inteligensi akan dapat melakukan pekerjaan baik pekerjaan yang bersifat fisik atau mental dalam waktu yang singkat  merasa mudah mengerjakannya dan selesai dengan sempurna.

Kecerdasan menurut Peaget, sebagaimana dikutip Efendi, adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain itu kecerdasan adalah sebuah proses bukan sebuah tempat. Conny Semiawan, sebagaimana dikutip Suharsono, mengikhtisarkan berbagai pengertian dan definisi tentang kecerdasan (intelligence) dari para ahli tesebut ke dalam tiga kriteria, yaitu: judgment (penilaian), comprehention (pengertian), reasoning (penalaran).

Definisi kecerdasan menurut para ahli, sebagaimana dikutip Hidayah, adalah sebagai berikut :

  1. Kemampuan untuk membuat kombinasi
  2. Kemampuan untuk berfikir abstrak
  3. Kemampuan untuk membuat koneksi/asosiasi
  4. Kapasitas global atau sekumpulan perilaku individu untuk bertingkah laku yang terarah/bertujuan, yang didasari cara berfikir rasional dan bersifat efektif dalam menghadapi situasi lingkungan. Inteligensi menyangkut: kemampuan untuk belajar, kapasitas menyesuaikan diri pada situasi baru, kemampuan menyerap pendidikan yang diberikan, dsb.

Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari 3 jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.

Dalam pengertian yang lebih luas Crow and Crow, mengemukakan bahwa inteligensi berarti kapasitas umum dari seseorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikiranya dalam mengatasi tuntutan-tuntutan kebutuhan baru, ke dalam ruhaniyah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problema-problema dan kondisi-kondisi yang baru di dalam kehidupan.

Ada kata lain yang dipakai untuk menunjukkan kecerdasan ini seperti rasyid, kata ini lebih mengarah kepada kecerdasan keagamaan dan ada pula yang dikenal al-rasikh yang muatan maknanya lebih dekat kepada pemahaman keagamaan. Di samping itu ada kata akal, alat fikir yang terletak di otak manusia. Akal adalah daya fikir atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, daya akal budi, kecerdasan berfikir, atau boleh juga berarti terpelajar.

Kata lain yang menunjukkan akal dalam Al-Qur an ada bermacam-macam ungkapan, seperti :

  1. Ya’qiluun artinya mereka yang berakal
  2. Yatafakkaruun artinya mereka yang berfikir
  3. Yatadabbaruun artinya mereka yang mempelajari
  4. Yarauna artinya mereka yang memberi perhatian
  5. Yanzhuruun artinya mereka yang memperhatikan
  6. Yabhatsuun artinya mereka yang membahas
  7. Yazkuruun,artinya mereka yang mengingat
  8. Ya’lamuna,artinya mereka yang mengetahuinya
  9. Yudrikuna artinya mereka yang mengerti
  10. Yaqrauuna artinya mereka yang membaca

Jadi sebenarnya al-Qur’an yang turun 1,5 milenium yang lalu telah mengemukakan terlebih dahulu mengenai inteligensi.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KONSEP KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN


KONSEP KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Kepala sekolah sebagai pemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang menekankan pada komponen-komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.
Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi, bakat, minat dan kebutuhannya. Kepemimpinan pembelajaran ditujukan juga untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswa meningkat: prestasi belajar meningkat, kepuasan belajar semakin tinggi, motivasi belajar semakin tinggi, keingintahuan terwujudkan, kreativitas terpenuhi,inovasi terealisir, jiwa kewirausahaan terbentuk, dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat tumbuh dengan baik. Kepemimpinan pembelajaran jika diterapkan di sekolah akan mampu membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).

Sekolah belajar memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin, memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang, mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya, mendorong warga sekolah untuk mempertanggungjawabkan proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa, mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan prima kepada siswa, mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem, mengajak warga sekolahnya untuk komit terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.

Direktorat Tenaga Kependidikan (2009) mengembangkan kepemimpinan pembelajaran berdimensi 12, yaitu: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh. Sebagai perbandingan dengan model kepemimpinan pembelajaran oleh para ahli yang lain, pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa tidak ada model yang sempurna. Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Model yang terbaik untuk diterapkan adalah model yang cocok dengan kebutuhan sekolah dan kepala sekolahnya sendiri. Sehingga muncullah sebuah pameo tentang hubungan antara sekolah, guru dan kepala sekolahnya. “The color of the class is beyond the teacher, but the color of the school….is beyond the principals”. Dalam rangka pemahaman dan kepraktisan, pada akhirnya kepemimpinan adalah seni daripada ilmu.

Adapun salah satu model kepemimpinan pembelajaran adalah: Model Weber. Ada 5 bagian dari model weber : merumuskan misi sekolah, mengelola kurikulum dan pembelajaran, mendorong terciptanya iklim belajar yang positif, mengobservasi dan memperbaiki pembelajaran, serta melakukan penilaian program pembelajaran

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Merayakan Natal Di Tengah Umat Islam Dalam perspektif Pluralis dan Multikulturalis


Merayakan Natal Di Tengah Umat Islam

Dalam perspektif Pluralis dan Multikulturalis

 

Oleh: Muhammad Fathurrohman

(Guru SMPN 2 Pagerwojo Tulungagung)

 

 

Pada tanggal 25 Desember 2012, umat kristiani akan merayakan hari Natal. Tentu saja, perayaan hari raya Natal bagi mereka memiliki nilai ritual transendental yang agung tersendiri. Sebab bagi umat kristiani, hari Natal merupakan sebuah refleksi religius yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang cukup besar. Disamping karena di dalamnya mengandung ajaran untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus dari sang Bunda Tuhan, Santo Perawan Ibu Maria, juga karena di dalamnya memuat nilai-nilai penebusan dosa, kesucian, kasih sayang, dan kedamaian yang mesti ditegakkan di muka bumi.

Sebagai sebuah agama yang eksistensinya juga diakui oleh negara Indonesia, keinginan untuk berhari raya yang penuh dengan ketenangan, kedamaian, dan bebas ancaman teror dari berbagai pihak, serta penuh suasana kebahagiaan sangat diinginkan. Seperti halnya ketika umat Islam merayakan hari Idul Fitri dan Idul Adha, umat kristiani juga merasa ikut damai dan bahagia, bahkan tidak sungkan-sungkan untuk mengucapkan “selamat hari raya” kepada umat Islam. Akankah kita umat Islam juga bisa bersikap demikian? Tergantung dari sisi mana umat Islam memandang dan bersikap toleran terhadap semua agama. Karena perspektif yang digunakan untuk memandang orang yang beda agama tersebut juga bermacam-macam. Ada yang bersikap ekslusif dan ada yang bersikap inklusif.

Keinginan untuk ‘berbagi kebahagiaan dan kedamaian’ antar umat beragama di bumi pertiwi ini yang dirasa sangat kurang -untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali- sehingga seringkali melahirkan sikap intoleransi yang berujung pada permusuhan, kebencian, dan tindak kekerasan atas nama SARA, terutama agama. Agama yang pada awal lahirnya membawa ‘pesan suci’ perdamaian, akhirnya terdistorsi oleh manusia-nya sendiri karena kuatnya truth claim dan sikap ekstrem dalam beragama.

Nah, akankah ekstremisme beragama di hari Natal tahun ini masih ada? Tidakkah kita umat Islam juga merasa bahagia di saat saudara-saudara kita umat kristiani berbahagia karena berhari Natal? Dalam hal ini, nampaknya kita perlu mengkaji ulang firman Tuhan (QS. Al-Hujurat (49): 13) yang menyatakan bahwa; “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…”. Tuhan menyebut kata An-Naas (yang berarti: manusia) dan tidak menyebut kata alladzina Amanuu (yang berarti: Orang-orang beriman) seperti yang biasa terdapat dalam ayat-ayat lain yang menyangkut kepentingan khusus umat Islam. Inilah esensi konsep pluralisme, multikulturalisme dan multireligius yang selama ini begitu kuat mengemuka.

Betapa sangat apresiatifnya Tuhan ketika menyebut kata An-Naas dalam ayat tersebut, karena ternyata Tuhan faham betul akan adanya pluralitas umat manusia di muka bumi, dengan adanya bermacam-macamnya suku, ras, bangsa, dan agama. Dan tentu saja Tuhan menyadari bahwa ayat tersebut diturunkan bukan hanya ekslusif untuk umat Islam, tetapi inklusif untuk semua umat manusia tanpa memandang latar belakang agamanya. Sehingga di dalam ayat tersebut ditegaskan pula agar semua umat manusia untuk ta’arafu  (saling kenal mengenal).

Di samping itu, ajaran hadits Rasulullah saw juga mengajarkan tentang pluralisme dan multikulturalisme yaitu adanya toleransi terhadap agama lain, seperti yang tertuang dalam piagam Madinah. Di mana terjadi kerukunan antara umat Islam, baik anshor maupun muhajirin, orang yahudi dan orang kristiani. Hal tersebut juga merupakan dasar pluralisme yang ditunjukkan oleh hadits Nabi Muhammad ketika Nabi Muhammad masih hidup.

Kata ta’arafu. dalam banyak kitab tafsir al-Quran dijelaskan, bahwa ‘saling kenal mengenal’ di sini tidak hanya sebatas kenal nama orang, tetapi juga kenal jenis kelamin, budaya, karakter, suku, ras, agama, dan lain sebagainya. Inilah prisip fundamental al-Quran yang mengakui adanya perbedaan yang mesti harus saling dihargai dan dihormati. Kalau Tuhan saja sangat akomodatif dan sangat menghargai terhadap perbedaan, mengapa kita ciptaan-Nya tidak bisa menghargai perbedaan tersebut dan terus memaksakan persamaan bahkan cenderung bersikap agresif terhadap perbedaan? Aneh bukan?

Selanjutnya, kalau kita lihat dari aspek gramatikal bahasa arab (dalam konteks ilmu Sharraf) kata ta’arafu, mengikuti pola (wazan) “tafa’ala”, yang mengandung arti “resiprokalitas” (berbalasan atau imbal balik). Berarti ‘saling kenal mengenal’ di sini tidak datang dari satu pihak saja tetapi dari kedua belah pihak yang harus berupaya untuk ‘saling kenal mengenal’, ‘saling ingin mengetahui’, dan ‘saling harga-menghargai’, dan semacamnya.

Jika selama ini kita sering dihargai dan dihormati oleh umat kristiani ketika merayakan hari raya Idul Fitri dengan mengucapkan “selamat Idul Fitri”, mengapa kita umat Islam tidak bisa menghargai mereka, dengan hanya sekedar mengucapkan “selamat hari Natal”?. Walaupun MUI mengeluarkan fatwa haram merayakan hari raya Natal bagi umat Islam. Yang haram itu adalah merayakannya, bukan mengucapkan.

Coba bayangkan! Betapa sangat mulianya ajaran mereka jika bisa menghargai dan menghormati umat beragama lain, dan betapa tidak terhormatnya agama kita jika umatnya tidak bisa menghargai dan menghormati umat beragama lain. Lalu dimana letak al-Islamu ya’lu wa la yu’la alaihi (Islam itu mulia dan tidak bisa dilebihi kemuliaannya oleh yang lain), dan mana esensi ayat Tuhan yang katanya Islam itu rahmatan lil ‘alamain?. Kalau umat Islam bersikap angkuh dan tidak mau sekedar mengucapkan “selamat hari Natal” kepada umat Kristiani, maka tidakkah disadari bahwa hal tersebut adalah sikap ekslusif yang seolah menganggap bahwa agamanya sendiri yang benar. Begitu sempitnya Islam itu jika tidak mau sekedar mengucapkan “selamat hari Natal” kepada umat Kristiani. Padahal Tuhan mengajarkan untuk saling menghormati dan menghargai antara sesama agama dan manusia.

Padahal Abdullah Yusuf Ali dalam bukunya The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary (1989: 150), menyatakan bahwa posisi umat Islam sangat jelas. Umat Islam tidak mengaku memiliki agama yang khusus untuk dirinya. Islam adalah bukan sejenis sekte atau etnik. Pernyataan ini lekat sekali dengan sabda Tuhan yang menolak homogenitas dan menghargai pluralitas yang tanpa pandang bulu di atas.

 

Substansi Natal versus Hari Raya Islam

Jika dilihat dari substansi dan esensi, perayaan Idul Fitri ataupun Idul Adha, perayaan Natal pun memiliki substansi yang sama, menyebarkan kasih dan damai antar sesama, yang dikemas dalam dua aspek ritual dan sosial. Dari aspek ritual tentu saja keduanya memiliki prinsip dan nilai yang berbeda, meskipun akhirnya sama-sama menuju penyucian diri pada Tuhan. Tetapi dari aspek sosial keduanya memiliki kesamaan yang mesti diakui bersama, menyebarkan kedamaian (islam, salam) (kristiani, damai dalam kasih) dalam kehidupan, sebagai substansi doktrin semua agama.

Oleh karenanya, merayakan substansi Natal (menabur kasih dan damai), baik dilakukan oleh umat kristiani maupun oleh umat Islam tidak ada bedanya. Hal ini penting dipahami agar kekerasan, permusuhan, dan aksi-aksi teror tidak lagi menghantui kehidupan manusia, sebagaimana yang sering terjadi akhir-akhir ini. Maka ancaman para ulama kita yang mengatakan man tasabbaha bi qaumin fahuwa minhum, barang siapa yang meniru suatu kelompok maka ia termasuk dalam kelompok tersebut, perlu kita kaji kembali dalam konteks sosial saat ini. Sebab, belum tentu umat Islam yang mengucapkan Natal bagi umat kristiani, berbahagia dan berdamai dengan mereka secara otomatis dia kufur (keluar dari Islam), begitu juga sebaliknya. Namun, hal itu justru akan menunjukkan bahwa  Islam itu damai, Islam itu membawa rahmat dan Islam itu selamat.

Konkritnya, aspek ritual Natal dan hari raya Islam memiliki substansi transenden yang berbeda sesuai dengan firman Tuhan dalam surat Al-Kafirun (109): 6, lakum dinukum wa li yadin, bagimulah agamamu, dan untukkulah agamaku. Tetapi dalam aspek sosial marilah kita kembangkan rasa saling menghargai, menghormati, ta’aruf, sehingga pada akhirnya memunculkan kedamaian pada semua pihak. Kita hilangkan perbedaan untuk bersama-sama membangun Bangsa menuju keadaan yang lebih baik dalam menyambut era modernitas . Wallahu a’lam bish shawab!