Monthly Archives: January, 2013

BIOGRAFI HASYIM ASY’ARI


BIOGRAFI HASYIM ASY’ARI

(Sekilas Membaca Pemikiran Hasyim Asy’ari)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, hari selasa 24 Dzulhijah 1287 H, bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya merupakan ulama dari Demak, keturunan ke-8 dari Jaka Tingkir yang bernama K. Asy’ari. Ibunya bernama Halimah, putri K.Usman pemilik pesantren tarekat di Gedang yang kenamaan di Jawa Timur.

Ketika kecil, kakeknya sangat memperhatikannya. Kemudian pada tahun 1876 M, ia meninggalkan kakeknya dan memulai pelajarannya yang baru di pesantren orang tuanya sendiri di Keras. Menginjak usia 15 tahun, Hasyim berkelana ke berbagai pesantren, baik di jawa timur maupun madura. Ia diambil menantu oleh K.Ya’qub, pengasuh pesantren siwalan Surabaya. Kemudian ia dikirim mertuanya untuk belajar di tanah suci.

Selama di tanah suci, Hasyim belajar di bawah bimbingan ulama terkenal, seperti Syekh Amin al-Athor, Syekh Sultan Ibnu Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syekh Mahfudz al-Tirmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain. Ia juga bersentuhan dengan paham Wahabi dan pembaruan Abduh yang sedang gencar-gencarnya. Ia tertarik dengan ide pembaruan tersebut, namun ia tidak setuju dengan pemikiran Wahabi yang keterlaluan. Inti dari ajaran Abduh adalah ingin mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni dan lepas dari pengaruh praktek-praktek luar. Ia juga bergagasan agar umat Islam melepaskan diri dari keterikatan pola pikir para pendiri Madzhab dan meninggalkan praktek tarekat.

Hasyim setuju dengan gagasan Abduh untuk membangkitkan semangat umat Islam tetapi ia tidak setuju dengan hal pelepasan diri dari madzhab. Karena tidak mungkin memahami maksud sebenarnya dari al-Qur’an dan hadits tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang ada dalam sistem madzhab. Penafsiran al-Qur’an dan hadits tanpa mempelajari pemikiran para ulama madzhab, hanya akan menghasilkan pemutarbalikan ajaran Islam sebenarnya.

Setelah pulang ke tanah air, ia terlihat aktif mengajar di pesantren kakaknya, kemudian ia mendirikan pesantren di Tebuireng. Ia membawa perubahan baru dalam pengelolaan pesantren tersebut, yang dulunya hanya memakai sistem sorogan dan bandongan, sejak tahun 1916 M mulai diperkenalkan sistem madrasah dan tiga tahun kemudian mulai dimasukkan mata pelajaran umum, dimana langkah ini merupakan rumusan KH.Maksum menantu KH. Hasyim Asy’ari.

Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang produktif. Ia menulis sekitar 10 kitab, yang semuanya itu dikumpulkan dengan nama Irsyad al-Sari. Karya-karyanya antara lain: Adab al-Alim wa al-Muta’alim, Ziayadah al-Ta’liqat, al-Tanbihat al-Wajibah liman Yasna’ al-Maulid bi al-Munkarat, al-Nur al-Mubin Fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, Hassiyah ‘ala Fathi, dan lain-lain. Kitab yang terkenal adalah Adab al-Alim wa al-Muta’allim, secara global, kitab ini membahas empat persoalan pokok, yaitu keutamaan pendidikan, pendidikan akhlak bagi santri, akhlak bagi ustadz dan akhlak kepada kitab.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Bimbingan dan Konseling


Bimbingan dan Konseling

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Bila ditinjau dari segi sejarah perkembangan ilmu Bimbingan dan Konseling di Indonesia, maka sebenarnya istilah bimbingan dan konseling pada awalnya dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan yang merupakan terjemahan dari istilah guidance and counseling. Penggunaan istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari kata guidance and counseling ini dicetuskan oleh  Tatang Mahmud, MA, seorang pejabat Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia pada tahun 1953 (Hallen, 2005: 1).

Oleh karena usaha Tatang Mahmud untuk mencarikan terjemahan istilah guidance and counseling ini dengan istilah bimbingan dan penyuluhan itu tidak ada yang membantahnya, maka sejak saat itu populerlah istilah bimbingan dan penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah guidance and counseling.

Akan tetapi dalam perkembangan Bahasa Indonesia selanjutnya, pada tahun 1970 sebagai awal dari masa pembangunan Orde Baru, istilah penyuluhan yang merupakan terjemahan dari kata counseling yang mempunyai konotasi psychological-counseling, banyak dipakai dalam bidang-bidang lain seperti penyuluhan pertanian, penyuluhan gizi, penyuluhan KB dan lain sebagainya, yang cenderung diartikan sebagai pemberian penerangan atau informasi. Menyadari perkembangan pemakaian istilah yang demikian, maka sebagian para ahli bimbingan dan penyuluhan Indonesia meragukan ketepatan penggunaan istilah penyuluhan sebagai terjemahan dari istilah counseling. Oleh karena itu, sebagian dari mereka berpendapat, sebaiknya istilah penyuluhan itu dikembalikan ke istilah aslinya yakni counseling, sehingga pada saat ini dipopulerkan istilah bimbingan dan konseling untuk ilmu ini.

1.   Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling merupakan dua istilah yang sering dirangkaikan bagaikan kata majemuk. Hal itu mengisyaratkan bahwa kegiatan bimbingan kadang-kadang dilanjutkan dengan kegiatan konseling. Bimbingan dan konseling itu merupakan suatu kegiatan yang integral. Beberapa ahli menyatakan bahwa konseling merupakan inti dari kegiatan bimbingan. Ada pula yang menyatakan bahwa konseling merupakan salah satu jenis layanan bimbingan. Dengan demikian dalam istilah bimbingan sudah termasuk di dalamnya kegiatan konseling. Bimbingan itu lebih luas, dan konseling merupakan alat yang paling penting dari usaha pelayanan bimbingan.

Untuk memperjelas pengertian kedua istilah tersebut, berikut ini dikemukakan pengertian bimbingan dan konseling.

a.      Pengertian Bimbingan

Istilah bimbingan merupakan terjemahan dari kata guidance (Bahasa Inggris). Secara etimologis bimbingan berasal dari kata “guide” yang artinya mengarahkan (direct), menunjukkan (pilot), mengatur (manage), menyetir (steer) (Muawanah, 2005: 3). Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan. Namun, meskipun demikian tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan.

Banyak ahli yang memberikan makna tentang bimbingan. Para ahli Barat memberikan definisi mengenai konseling sebagaimana yang dikutip Rifa Hidayah, sebagai berikut:

Menurut Frank Parson, bimbingan adalah sebagai bantuan yang diberikan kepada induvidu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri, dan memangku suatu jabatan serta mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya itu. Stroop and Walguist mengatakan bahwa bimbingan adalah suatu proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu sampai batas kemampuannya ke arah yang paling menguntungkan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakatnya.

Menurut Dunsmoor & Miller, bimbingan membantu individu untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai  suatu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaian yang baik terhadap sekolah  dan terhadap kehidupan.

Jones menyatakan bahwa  bimbingan adalah bantuan yang diberikan pada seseorang pada orang lain agar dia dapat membuat pilihannya sendiri, mempunyai penyesuaian dan memecahkan permasalahan dengan bijaksana. Crow and Crow menyatakan bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik pria maupun wanita secara pribadi bermutu tinggi dan terlatih dengan baik kepada individu pada tiap usia untuk menolongnya mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya, mengembangkan arah pandangannya, membuat pilihan dan memikul bebannya sendiri. (Hidayah, 2006: 145)

Berdasarkan Pasal 27 Peraturan Pemerintah Nomor 29/90 yang dikutip oleh Dewa Ketut Sukardi menyatakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan  yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan.”

Sedangkan menurut Dewa Ketut Sukardi sendiri berpendapat bahwa:

Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada seseorang agar mampu memperkembangkan potensi (bakat, minat dan kemampuan) yang dimiliki, mengenali dirinya sendiri, mengatasi persoalan-persoalan sehingga mereka dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara bertanggung jawab tanpa bergantung kepada orang lain. (Sukardi, 2000)

Bimo Walgito dalam bukunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah mendefinisikan bimbingan sebagai berikut:

Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya, agar individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya. (Walgito, 2004: 5-6)

Menurut Hadin Nuryadin mengatakan bahwa: “Bimbingan adalah proses membantu individu yang belum matang untuk tumbuh memahami dirinya serta mencapai produktivitas akademik yang optimal.” (Nuryadin, 2005: 3)

Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh banyak ahli itu, dapat dikemukakan bahwa bimbingan merupakan: (a) suatu proses yang berkesinambungan, (b) suatu proses membantu individu, (c) bantuan yang diberikan itu dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat mengarahkan dan mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan kemampuan/potensinya, dan (d) kegiatan yang bertujuan utama memberikan bantuan agar individu dapat memahami keadaan dirinya dan mampu menyesuaikan dengan lingkungannya.

Dari perincian-perincian tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu secara berkesinambungan agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu individu agar memahami dirinya, menerima dirinya, mengarahkan dirinya, dan merealisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan kemampunnya, sehingga individu yang bersangkutan mampu menghadapi dan mengatasi berbagai kesulitan dalam hidupnya secara mandiri serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat dan pada akhirnya kebahagiaan hidup akan dia peroleh, baik kebahagiaan pribadi maupun kebahagiaan sosial.

Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbingan menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut.

b.      Pengertian Konseling

Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris  “to counsel” yang secara etimologis berarti “to give advice” atau memberi saran dan nasihat. (Hallen, 2006: 9) Konseling sebagai terjemahan dari “Counseling” merupakan bagian dari bimbingan, baik sebagai layanan maupun sebagai teknik.

Istilah konseling juga sering diartikan sebagai penyuluhan. Istilah penyuluhan dalam kegiatan bimbingan menurut para ahli kurang tepat. Menurut mereka yang lebih tepat adalah konseling, karena kegiatan konseling ini sifatnya lebih khusus, tidak sama dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan lain seperti penyuluhan dalam bidang pertanian dan penyuluhan dalam keluarga berencana. Pelayanan konseling menuntut keahlian khusus, sehingga tidak semua orang yang dapat memberikan bimbingan mampu memberikan jenis layanan konseling ini.

Banyak ahli yang memberikan makna tentang konseling. Para ahli Barat memberikan definisi mengenai konseling sebagaimana yang dikutip Rifa Hidayah, sebagai berikut:

Konseling menurut Edwin adalah suatu proses di mana orang yang bermasalah (klien) dibantu secara pribadi untuk merasa dan berperilaku yang lebih memuaskan melalui interaksi dengan seseorang yang tidak terlibat (konselor) yang menyediakan informasi dan reaksi-reaksi yang merangsang klien untuk mengembangkan perilaku-perilaku yang memungkinkannya berhubungan secara lebih efektif dengan dirinya dan lingkungannya.

Carl Rogers mengatakan konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepadanya untuk mengubah sikap dan tingkah lakunya. Menurut Jones, konseling adalah kegiatan di mana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, di mana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu.

Mortensen and Schmuller memberikan pengertian bahwa konseling adalah sebagai proses hubungan dengan orang lain. Salah satu dari keduanya yang seorang dibantu oleh yang lain untuk meningkatkan pengertian dan kemampuannya dalam menghadapi masalah. (Hidayah, 2006: 146)

 Menurut Rochman Natawidjaja yang dikutip oleh Dewa Ketut Sukardi:

Konseling merupakan satu jenis layanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua individu, di mana yang seorang (yaitu konselor) berusaha membantu yang lain (yaitu klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang.

Dewa Ketut Sukardi menyatakan pendapatnya sendiri, bahwa:

Konseling merupakan suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau tatap muka antara konselor dan klien yang berisi usaha yang laras, unik, human (manusiawi), yang dilakukan dalam suasana keahlian dan yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku, agar klien memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam memperbaiki tingkah lakunya pada saat ini dan mungkin pada masa yang akan datang. (Sukardi, 2000: 22)

Dari definisi-definisi tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu:

1)      Adanya bantuan dari seorang ahli (konselor),

2)      Pada umumnya dilaksanakan secara individual dengan proses tatap muka (face to face),

3)      Proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,

4)      Bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah,

5)      Tujuan dari proses konseling ini agar individu memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah,

6)      Selanjutnya individu mampu mengatasi dan memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri,

7)      Itu semua guna memperbaiki tingkah lakunya dan sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan individu yang bersangkutan saat sekarang dan juga masa yang akan datang.

Dengan demikian maka klien akan tetap dalam keadaan aktif karena klien pada akhirnya dapat memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri. Selain itu juga dapat diketahui bahwa konseling atau penyuluhan adalah suatu bimbingan yang diberikan kepada individu (siswa) dengan tatap muka (face to face) melalui wawancara. Tatap muka sekaligus wawancara merupakan dua ciri dari konseling.

c.   Pengertian Bimbingan dan Konseling

Dari definisi bimbingan dan konseling yang sudah dijelaskan di atas secara terpisah dapat dikemukakan pengertian bimbingan dan konseling secara bersama-sama yaitu suatu kegiatan pemberian layanan bimbingan atau bantuan kepada individu maupun kelompok agar dapat mengenali dan memahami dirinya dan seluruh potensi yang ada pada dirinya sehingga mampu mengembangkannya seoptimal mungkin guna menghadapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ditempatinya.

Dari definisi-definisi itu pula dapat diketahui bahwa hubungan antara bimbingan dan konseling adalah konseling merupakan salah satu teknik dalam memberikan bimbingan. Jadi bisa dikatakan bahwa konseling merupakan bagian dari bimbingan. Bimbingan mempunyai pengertian lebih luas dari pada konseling. Karena itu konseling merupakan bimbingan, akan tetapi tidak semua bimbingan itu merupakan konseling. Konseling itu bersifat kuratif atau korektif karena pada konseling sudah ada masalah tertentu yang dimiliki oleh individu atau kelompok (klien). Sedangkan bimbingan itu lebih bersifat preventif atau pencegahan. Oleh karena itu pada pelayanan bimbingan ditujukan tidak hanya pada individu yang bermasalah tetapi juga yang tidak bermasalah.

Sekalipun menunjukkan adanya kesamaan dan juga perbedaan antara bimbingan dan konseling bukan berarti terdapat pemisahan dari dua istilah tersebut. Dan penulis pun juga tidak bermaksud untuk memisahkan kedua istilah tersebut. Kedua istilah tersebut saling melengkapi dan mengisi satu sama lain. Oleh karena itu, kemudian istilah itu selalu dipakai secara bersama-sama. Setiap ada istilah bimbingan pasti diikuti oleh istilah konseling, maka dari itu disebut bimbingan dan konseling.

Dari pengertian bimbingan dan konseling di atas dapat diambil beberapa hal pokok, yaitu:

1)      Bimbingan dan konseling merupakan pelayanan bantuan.

2)      Pelayanan bimbingan dan konseling dilakukan melalui kegiatan secara perorangan dan kelompok.

3)      Arah kegiatan bimbingan dan konseling ialah membantu peserta didik untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan berkembang secara optimal.

4)      Ada empat bidang bimbingan yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karir.

5)      Pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui jenis-jenis layanan tertentu, ditunjang sejumlah kegiatan pendukung.

6)      Pelayanan bimbingan dan konseling harus didasarkan pada norma-norma yang berlaku.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

KESEIMBANGAN JIWA MANUSIA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI LINGKUNGAN


KESEIMBANGAN JIWA MANUSIA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI LINGKUNGAN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

Keseimbangan jiwa manusia merupakan hal yang utama yang harus diperhatikan sebelum melakukan apapun. Kondisi keseimbangan jiwa manusia bisa digambarkan seluruh organ tubuh yang berfungsi secara optimal untuk menunjang tubuh tersebut. Apabila salah satu organ tersebut mengalami sakit, maka keseimmengabangan fisik akan mengalami penurunan. Sakit bisa didefinisikan sebagai gambaran kondisi keseimbangan tubuh yang terganggu.

Hal yang tersebut di atas bisa saja terjadi di alam. Keseimbangan alam bisa saja terjadi apabila ada dari bagian unsur lingkungan yang mengalami gangguan. Pada manusia ketidakseimbangan yang terjadi dari unsur-unsur dari organ tubuh yang terdiri dari organ-organ tubuh manusia, yaitu ginjal, hati, limpa, otot, kelenjar, syaraf, usus, jantung, hati dan lain-lain. Sakit yang terjadi pada bagian tubuh tersebut akan menjalar ke seluruh tubuh yang lainnya.

Konsep-konsep dalam Islam sangat jelas mengatur tentang keseimbangan jiwa ini diantaranya adalah tauhid. Tauhid di dalam agama Islam dianggap sebagai penopang tindakan manusia yang terpenting. Tauhid mendasari semua pandangan tentang kebaikan, keteraturan, keterbukaan, dan kepasrahan. Konsep tauhid yang pada awalnya berarti mengesakan Allah, dalam perkembangannya konsep ini digunakan untuk konsep-konsep sosial, budaya, dan akhirnya lingkungan hidup.

Pandangan Chittik dan Ziauddin Sardar tersebut menyajikan argument-argumen penting tentang hubungan erat antara tauhid dengan perlindungan lingkungan. Tauhid menjadi titik pusat yang otentik bagi doktrin teologis tentang lingkungan. Lingkungan diletakkan secara organik dengan tuhan karena lingkungan (alam semesta) merupakan manifestasi dari tuhan. Siapa saja yang merusak lingkungan dan mengabaikannya dalam ancaman kerusakan, maka ia bisa disebut anti-tauhid.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT