NASIKH DAN MANSUKH AL-QUR’AN


NASIKH DAN MANSUKH AL-QUR’AN

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

A.    Latar Belakang

Fenomena naskh yang keberadaannya diakui oleh ulama’, merupakan bukti besar bahwa ada dialetika hubungan antara wahyu dan realitas. Bahwa banyak sekali realitas kehidupan yang sangat tidak sama dengan realitas kehidupan pada saat wahyu diturunkan. Hukum-hukum yang tidak sesuai dengan realitas kehidupan pada zaman sekarang ini di naskh dengan hukum-hukum yang lain dalam Al-Qur’an yang sesuai dengan fenomena kehidupan.

Sama halnya ketika dalam sebuah Negara/lembaga yang mengeluarkan beberapa aturan yang kemudian setelah aturan tersebut diberlakukan muncul sebuah masalah yang tidak sesuai dengan keadaan atau kondisi awal. Maka dikeluarkan aturan yang baru yang menggantikan aturan-aturan yang lama. Dengan demikian aturan yang terbaru menggantikan atau me naskh aturan yang lama.

Perbedaan pendapat para ulama’ dalam menetapkan ada atau tidaknya ayat mansukh dalam Al-Qur’an karena adanya ayat-ayat yang namapak kontradiksi bila dilihat. Ada sebagian ulama’ pandapat mereka bahwa ayat-ayat tersebut tidak bisa diterima begitu saja karena kalau dibiarkan akan berakibat fatal terutama bagi para mukallaf. Sehingga akhirnya mereka menerima teori nasikh dalam Al-Qur’an. Sebaliknya ada yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut dapat dikompromikan sehingga mereka tidak menerima teori naskh dalam Al-Qur’an.

Maka agar pembahasan tentang naskh (penghapusan) dari ayat-ayat Al-Qur’an ini menjadi lebih jelas maka penulis menyusun tulisan ini yang berjudul  “Nasikh dan Mansukh Al-Qur’an”.

B.     Definisi Naskh Mansukh Al-Qur’an

Secara Etimologi, Nasikh mempunyai beberapa pengertian, yaitu antara lain penghilangan (Izalah), Penggantian (tabdil), Pengubahan (tahwil), dan pemindahan (naql). Sesuatu yang menghilangkan, menggantikan, mengubah, dan memindahkan disebut nasikh, sedangkan sesuatu yang dihilangkan, digantikan, diubah, dan dipindahkan disebut mansukh.

Pengertian naskh secara bahasa ialah izalah (menghilangkan) misalnya: matahari menghilangkan bayang-bayang; dan angin menghapuskan jejak perjalanan.  Kata naskh juga dipergunakan untuk makna memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain. Misalnya artinya saya memindahkan (menyalin) apa yang ada dalam buku.

Adapun secara terminology para ulama’ dalam mendefinisikan nasikh, kendatipun dengan readaksi yang sedikit berbeda, bahwa kata ini telah melewati berbagai perkembangan sehingga sampai menjadi arti khusus yang sekarang ini, tetapi masih dalam pengertian sama. Jadi secara terminology naskh artinya menghapuskan hukum syara’ dengan dalil hukum syara’ yang lain.

Dengan demikian disebut naskh (menghapus) karena menghapus dan menggantikan hukum yang awal turun sedangkan hukum yang pertama disebut sebagai al mansukh (yang terhapus). Sementara itu penghapusan hukum tersebut dinamakan al naskh. Jadi, ketentuan yang datang kemudian menghapus ketentuan atu hukum yang datang sebelumnya. Hal ini dikarenakan yang terakhir dipandang lebih luas dan lebih sesuai. Akan tetapi ketentuan tersebut juga harus melalui prosedur persyaratan dari naskh dan mansukh.

C.    Syarat-Syarat Naskh

Berdasarkan penjelasan mengenai pengertian naskh dan mansukh diatas maka sebuah ayat bisa dikatakan menaskh ayat-ayat mansukh harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

  1. Hukum yang dimansukh adalah hukum syara’
  2. Dalam penghapusan hukum tersebut adalah khitab syar’i yang datang lebih kemudian dari khatib yang hukumnya mansukh
  3. Khitab yang mansukh hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu tertentu. Sebab jika tidak demikian maka hukum akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut. Dan yang demikian tidak dinamakan naskh.

Selain persyaratan diatas ada beberapa hal yang berkaitan mengenai apa saja yang terdapat dalam naskh :

  1. Naskh terdapat perintah dan larangan
  2. Naskh tidak terdapat dalam akhlaq dan adab yang didorong islam adanya.

Contoh ayat yang artinya:

Artinya :”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman : 18)

3.  Tidak terjadi pada akidah, seperti :

  • Dzat Nya
  • Sifat Nya
  • Kitab-kitab Nya
  • Hari akhir

Tidak pula mengenai khabar sharih (yang jelas dan yang nyata). Umpamanya mengenai janji Allah bahwa orang baik masuk surga dan orang yang mati kafir atau musyrik masuk neraka.

4.  Tidak terjadi mengenai ibadat dasar dan mu’amalat, karena semua agama tidak lepas dari dasar ini.

Berdasarkan firman Allah  yang artinya:

Artinya : “Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa ……” (QS. Assyura: 13)

D. Pedoman Mengetahui Naskh Dan Manfaatnya

Pengetahuan tentang naskh dan mansukh mempunyai fungsi dan manfaat besar bagi para ahli ilmu, terutama fuqoha, mufasir dan ahli usul karena didalam naskh dan mansukh terdapat penghapusan hukum syara’ dengan dalil hukum syara’ yang lain,  sehingga pengetahuan tentang hukum tidak menjadi kacau dan kabur. Oleh sebab itu, terdapat banyak asar (perkataan sahabat dan atau tabi’in) yang mendorong agar mengetahui masalah ini.

Jika ulama Al-Qur’an  tidak memasukkan “penangguhan” ini ke dalam masalah nasikh dan mansukh maka memastikan fungsi naskh sebagai bentuk pemberian kemudahan, kelonggaran, dan memberikan tahapan dalam tasyri’ menjadikan seluruh yang di-mansukh masuk ke dalam masalah “penangguhan” sehingga pengertian mengganti dalam ayat-ayat yang telah kami bicarakan sebelumnya adalah penggantian hukum-hukum, bukan mengubah teks, dengan cara membatalkan yang lama dengan yang baru baik secara tekstual maupun hukumnya. Memahami pengertian naskh sebagai penghapusan teks secara total bertentangan dengan semangat mempermudah, dan memberikan tahapan dalam tasyri’.

Untuk mengetahui naskh dan mansukh terdapat beberapa cara sebagai berikut:

  1. Keterangan tegas dari Nabi atau sahabat, seperti hadits nabi yang artinya sebagai berikut : Aku (dulu) pernah melarangmu berziarah kubur, maka (kini) berziarah kuburlah.
  2. Kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan itu mansukh
  3. Mengetahui mana yang terlebih dahulu dan mana yang kemudian dalam perspektif sejarah.

E. Pendapat Tentang Naskh Dan Dalil Ketetapannya

Dalam masalah naskh, para ulama’ terbagi atas empat bagian :

  1. Orang Yahudi. Mereka tidak menggakui adanya naskh, karena menurutnya naskh mengandung konsep al badha’, yakni nampak jelas setelah kabur (tidak jelas). Yang dimaksud mereka adalah naskh itu adakalanya tanpa hikmah, dan ini mustahil bagi Allah. Dan adakalanya karena suatu hikmah yang sebelumnya tidak nampak. Ini berarti terdapat suatu kejelasan yang sebelumnya didahului oleh ketidakjelasan. Dan ini mustahil pula bagi Allah.
  2. Orang Syi’ah Rafidah. Mereka sangat berlebihan dalam menetapkan naskh dan meluaskannya. Mereka memandang konsep al bada’ sebagai suatu hal yang mungkin terjadi bagi Allah. Dengan demikian, maka posisi mereka sangat kontradiksi dengan orang yahudi. Untuk mendukung pendapatnya maka mereka mengajukan argumentasi dengan ucapan-ucapan yang mereka nisbahkan kepada Ali bian Abi Tholib ra secara dusta dan palsu. Juga dengan firman Allah :

Artinya : “Allah menghapuskan apa yang dia kehendaki dan menetapkan (apa yang dia kehendaki), …….” (QS. Ar Ra’d : 39) dengan pengertian bahwa Allah siap untuk menghapuskan dan menetapkan.

  1. Abu Muslim al-Asfahani. Menurutnya, secara logika naskh dapat saja terjadi, tetapi tidak mungkin terjadi menurut syara’. Dikatakan pula bahwa ia menolak sepenuhnya terjadi naskh dalam Qur’an berdasarkan firman-Nya :

Artinya : “ Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS Fussilat : 42), dengan pengertian bahwa Hukum-hukum Qur’an tidak akan dibatalkan untuk selamanya. Dan mengenai ayat-ayat tentang naskh, semuanya ditakhsiskan.

  1. Jumhur ulama. Mereka berpendapat, naskh adalah suatu hal yg dapat diterima akal dan telah pula terjadi dalam hukum-hukum syara’, berdasarkan dalil-dalil:
  1. Perbuatan-perbuatan Allah tidak bergantung pada alas an dan tujuan. Ia boleh saja memerintahkan sesuatu pada suatu waktu yang lain. Karena hanya dialah yang maha Mengetahui kepentingan-kepentingan hambanya.
  2. Nas-nas dan Sunnah menunjukkan kebolehan naskh dan terjadinya.

Misalnya yang terdapat dalam firman Allah yang terdapat dalam surat An Nahl ayat 101 yang berbunyi :

Artinya : “Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya,…..”(QS. A Nahl : 101)

Dan firman Allah yang lain pada surat Al Baqoroh Ayat ke 106 yang berbunyi :

Artinya : “ Ayat mana saja yang kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya…….(QS. Al Baqoroh : 106)

F.  Macam-Macam Naskh Dalam Al-Qur’an

Berdasarkan kejelasan dan cakupannya, nasikh dalam alquran dibagi menjadi empat macam, yaitu :

1. Nasikh Sharih, yaitu ayat yang secara jelas menghapus hukum yang terdapat pada ayat yang terdahulu. Umpamanya ayat tentang perang (qital) pada surat al anfal ayat 65 yang mengharuskan satu orang muslim melawan sepuluh kafir :

Artinya :

Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al Anfal : 65)

Menurut jumhur Ulama’ ayat ini di naskh oleh ayat 66 Surat Al Anfal :

Artinya :

“Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al Anfal : 66)

Ayat diatas mengandung maksud bahwa pengharusan bagi satu orang mukmin melawan dua orang kafir, dimana sebelumnya pada ayat yang dimansukh dijelaskan bahwa pengharusan satu orang muslim melawan sepuluh kafir.

2. Nasikh Dhimmy, yaitu jika terdapat dua nasikh yang saling bertentangan dan tidak dapat dikompromikan. Keduanya turun untuk masalah yang sama, dan diketahui waktu turunnya, maka ayat yang datang kemudian menghapus ayat yang terdahulu.

Contoh :

Artinya

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf[112], (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqoroh : 180)

Ayat ini menurut pendukung teori nasikh dihapus oleh hadis la washiyyah li warits (tidak ada wasiat bagi ahli waris).

3. Nasikh Kully, orang yang mensyariatkan itu membatalkan hukum syar’I sebelumnya. Membatalkan secara keseluruhannya dengan merangkaikan kepada setiap pribadi mukallaf.

Sebagai contoh ketentuan ‘iddah empat bulan sepuluh hari yang terdapat dalam surat Al Baqoroh ayat 234 yang berbunyi sebagai berikut :

Artinya : “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[147] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Albaqoroh : 234)

Ayat diatas menaskh ayat quran yang menyatakan bahwa masa ‘iddah perempuan yang ditinggal mati suaminya adalah satu tahun.

4. Naskh Juz’i, yaitu mensyariatkan hukum secara umum, meliputi seluruh pribadi mukallaf, kemudian hukum ini dibatalkan dengan menisbahkan kepada sebagian ifrad. Atau mensyariatkan hukum itu secara mutlak, kemudian dibatalkan dengan menisbahkan kepada beberapa hal. Maka nasikh itu tidak membatalkan perbuatan itu dengan hukum pertama yang dijadikan dasar. Tapi membatalkannya itu dengan menisbahkannya kepada ifrad atau kepada beberapa hal.

Contoh yang demikian itu ialah firman tuhan yang berbunyi :

Artinya :”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.”(QS. An Nuur : 4)

Ayat tersebut menjelaskan hukum dera 80 kali bagi orang yang menuduh wanita berzina tanpa adanya saksi yang kemudian dinaskh oleh ketentuan li’an yaitu bersumpah empat kali dengan nama Allah bagi si penuduh pada ayat berikut ini :

Artinya :”Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.” (QS. An Nuur : 6)

Naskh dalam Al-Qur’an ada tiga macam berdasarkan segi bacaan dan hukumnya yaitu :

  1. Naskh Tilawah dan Hukum

Maksudnya adalah bahwa terdapat ayat Al-Qur’an yang sebelumnya telah permanent dari sisi lafadz dan juga makna tetapi kemudian di naskh, baik itu lafadz maupun makna. Para ulama’ mencontohkan bagian kedua ini dengan ayat tentang penyusuan yang berasal dari riwayat Aisyah,  sebuah riwayat Al-Bukhari dan Muslim, yaitu hadis yang isinya, mula-mula ditetapkan dua orang yang berlainan ibu sudah dianggap bersaudara apabila salah seorang diantara keduanya menyusu kepada ibu salah seorang diantara mereka sebanyak sepuluh isapan. Ketetapan sepuluh isapan ini kemudian dinaskh menjadi lima isapan. Ayat tentang sepuluh atau lima isapan dalam menyusu kepada seorang ibu, sekarang ini tidak termaktub didalam Mushaf karena baik bacaannya maupun hukumnya telah di-nasikh.

Yang jelas ialah bahwa tilawahnya itu telah dinaskh (dihapuskan) tetapi penghapusan ini tidak sampai kepada semua orang kecuali sesudah rosulullah wafat. Oleh karena itu ketika beliau wafat, sebagian orang masih tetap membacanya.

  1. Naskh Hukum sedang Tilawahnya Tetap

Maksudnya adalah proses naskh yang terjadi pada isi kandungan yang terdapat dalam ayat alquran dengan tetap memelihara dan mengakui keberadaan lafadz bacaannya.

Contoh, ajakan para penyembah berhala dari kalangan musyrikin pada umat islam untuk saling bergantian dalam beribadah, telah dihapus oleh ayat qital. Akan tetapi, bunyi teksnya masih dapat kita temukan dalam surat Al Kafirun sebagai berikut :

Artinya : “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al Kafirun : 6)

3.     Naskh Tilawah sedang hukumnya tetap

Maksunya bahwa terdapat ayat Al-Qur’an yang turun kepada Rosulullah SAW yang kemudian bacaan dan lafadnya dinaskh tetapi hukum yang terdapat dan lafadnya di naskh tetapi hukum yang terdapat di dalam lafadz tersebut masih tetap berlaku. Contoh pada penghapusan ayat  rajam, dimana ayat ini dinyatakan mansukh bacaannya sementara hukumnya masih tetap berlaku.

Adapun pada sisi otoritas yang lebih berhak menghapus sebuah naskh, para ulama’ membagi naskh menjadi ada empat bagian:

  1. Naskh Quran dengan Quran (Ulama’ sepakat dengan kebolehannya)
  2. Naskh Quran dengan Sunnah

Bagi kalangan hanafiyah, naskh semacam ini diperbolehkan apabila sunnah yang menghapus kedudukannya mutawatir dan masyhur. Akan tetapi mayoritas ulama usul fiqih menentangnya, karena apapun jenis sunnah yang akan menghapus ketentuan hukum dalam Al-Qur’an tidaklah diperkenankan.

  1. Naskh Sunnah dengan Quran

Menurut mayoritas ahli usul fiqh, naskh yang seperti ini benar-benar terjadi. Contoh : penghapusan kiblat shalat ke Bait Al Maqdis menjadi ka’bah.

  1. Naskh sunnah dengan sunnah

Bagi Al Qattan pada dasarnya ketentuan naskh dalam ijma’ dan qiyas itu tidak ada dan tidak diperkenankan.

G.  Hikmah Adanya Naskh

Adanya nasikh-mansukh  tidak  dapat  dipisahkan  dari  sifat turunnya   al-Qur’an  itu  sendiri  dan  tujuan  yang  ingin dicapainya. Turunnya  Kitab  Suci  al-Qur’an  tidak  terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. sesungguhnya  al-Khalik  Yang  Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama  23  tahun  dalam  proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu  mulanya bersifat  kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat  universal.

Adapun hikmah dibalik adanya naskh Al-Qur’an secara terperinci adalah[1] :

  1. Memelihara kepentingan hamba dan kemaslahatan hamba
  2. Perkembangan tasyri’ menuju tingkat sempurna sesuai dengan perkembangan dakwah dan perkembangan kondisi umat manusia.
  3. cobaan dan ujian bagi orang mukallaf untuk mengikutinya atau tidak
  4. menghendaki kebaikan dan kemudahan bagi umat. Sebab jika naskh itu beralih ke hal yang lebih berat maka didalamnya terdapat tambahan pahala, dan jika beralih ke hal yang lebih ringan maka ia mengandung kemudahan dan keringanan.

Hikmah dan faedah dalam dunia pendidikan diantaranya adalah bahwa :

Jika kita tengok fenomena kehidupan ini, maka pasti terdapat naskh yang tidak kita sadari, sebagai contoh penghapusan undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material spiritual. Seperti halnya dalam bidang keilmuan proses kejadian manusia dari  unsur-unsur sperma  dan  telur  kemudian  menjadi  janin,  lalu  berubah menjadi  anak,  kemudian  tumbuh  menjadi  remaja,   dewasa, kemudian  orang  tua dan  seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam  ini  selalu berjalan  proses tersebut secara rutin.

Dan telah kita ketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sehingga secara penalaran dan pendapat yang bijaksana proses pembenahan bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan, sehingga mampu mencaapai kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi. Syari’at Allah adalah perwujudan  dari  rahmat-Nya.  Dia-lah yang    Maha  Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari’at-Nya, Dia mendidik manusia hidup  tertib  dan adil  untuk  mencapai  kehidupan  yang  aman,  sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat.

H.  Contoh-Contoh Naskh

Beberapa ayat yang telah dianggap telah dinaskh dan polemiknya

1. Firman Allah

115.  Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

[83]  Disitulah wajah Allah maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, Karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

144.  Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[96], Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

[96]  maksudnya ialah nabi Muhammad s.a.w. sering melihat ke langit mendoa dan menunggu-nunggu Turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah.

2. Firman Allah

180.  Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf[112], (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.

[112]  Ma’ruf ialah adil dan baik. wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. ayat Ini dinasakhkan dengan ayat mewaris.

3. Firman Allah

217.  Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. dan berbuat fitnah[135] lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

[134]  jika kita ikuti pendapat Ar Razy, Maka terjemah ayat di atas sebagai berikut: Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, dan (adalah berarti) menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah dan (menghalangi manusia dari) Masjidilharam. tetapi mengusir penduduknya dari Masjidilharam (Mekah) lebih besar lagi (dosanya) di sisi Allah.” pendapat Ar Razy Ini mungkin berdasarkan pertimbangan, bahwa mengusir nabi dan sahabat-sahabatnya dari Masjidilharam sama dengan menumpas agama Islam.

[135]  fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin.

36.  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

[640]  maksudnya antara lain ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan ihram.

[641]  maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan.

4. Firman Allah

240.  Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

234.  Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka[147] menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

[147]  Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

5. Firman Allah

184.  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.

[114]  maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT


[1] Ibid.,  Hal 339

2 responses

  1. i wish i could find such informative sites more often. i regularly spend much time on just looking for some worthy sites when i can find something to think about… lista de emails lista de emails lista de emails lista de emails lista de emails

    1. Thank you very much. I write some information to be read.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: