SEKOLAH UNGGUL DAN SEKOLAH BERMUTU


SEKOLAH UNGGUL DAN SEKOLAH BERMUTU

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

Kualitas manusia Indonesia rendah telah menjadi berita rutin.Setiap keluar laporan Human Development Index, posisi kualitas SDM kita selalu berada di bawah.Salah satu penyebab dan sekaligus kunci utama rendahnya kualitas manusia Indonesia adalah kualitas pendidikan yang rendah. Kualitas sosial-ekonomi dan kualitas gizi-kesehatan yang tinggi tidak akan dapat bertahan tanpa adanya manusia yang memiliki pendidikan berkualitas.

Negeri ini sedang berjuang keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun hasilnya belum memuaskan.Kini upaya meningkatkan kualitas pendidikan ditempuh dengan membuka sekolah-sekolah unggulan, Sekolah unggulan dipandang sebagai salah satu alternatif yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus kualitas SDM.Sekolah unggulan diharapkan melahirkan manusia-manusia unggul yang amat berguna untuk membangun negeri yang kacau balau ini.Tak dapat dipungkiri setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi manusia unggul.Hal ini dapat dilihat dari animo masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah unggulan.Setiap tahun ajaran baru sekolah-sekolah unggulan dibanjiri calon siswa, karena adanya keyakinan bisa melahirkan manusia-masnusia unggul.

Wacana pengembangan sekolah unggul menjadi menarik lantaran istilah “unggul” selama ini seolah-olah menjadi wacana dominan dalam lingkung organisasi bisnis seperti korporasi dan sejenisnya. Padahal istilah unggul (excellence) ini telah menjadi milik publik sejak istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh proponen utamanya, Thomas J Peters dan Robert H. Waterman pada tahun 1983 melalui karyanyaIn search of excellence.

Apabila karakter unggul ini menjadi budaya sekolah, maka pada gilirannya mampu mengkontruksi mentalitas komunitas sekolah untuk bekerja keras, disiplin, professional, akuntabel, dan mandiri. Konstruksi mentalitas unggul seperti ini selaras dengan napas otonomi dan kebijakan desentrasi pendidikan yangmemberi peluang kepada para pengelola (manajemen) sekolah untuk  melakukan gerakan inovatif dalam rangka memberdayakan diri dan komunitasnya secara kreatif dan dinamis sesuai dengan kondisi dan nilai-nilai local, nasional, dan perkembangan global.

Terobosan dan inovasi ini diperlukan untuk menanggapikebutuhan peserta didik sekolah yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa sekaligusmengeliminasi strategi pendidikan massal sebagaimana yang terjadi selama ini yang memberikan perlakuan dan pelayanan yang sama kepada semua peserta didik tanpa memperhatikan perbedaan kecakapan, minat, dan bakatnya.

Terkait dengan hal ini perlu dikembangkan strategi alternative yang bertujuan menghasilkan peserta didik yang unggul, yaitu berupa pemberian perhatian dan perlakuan khusu kepada peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya dengan membuka kelas-kelas unggulan. Kelas unggulan ini menghimpun sejumlah siswa dari berbagai kelas yang memiliki potensi dan bibit unggul.

A. Hakikat Sekolah Unggul

Istilah “sekolah” dalam khazanah ke Indonesiaan merujuk pada lembaga pendidikan formal yang berada pada jenjang bawah perguruan tinggi.Sekolah mengandung arti tempat atau wahana anak mengenyamproses pembelajaran. Artinya di sekolah seoranganak menjalani proses belajar  secara terarah, terpimpin dan terkendali.

Sekolah berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan (knowledge transfer), transfer nilai (value transfer), juga berfungsi mempertahankan dan mengembangkan tradisi dan budaya-budaya luhur dalam suatu masyarakat melalui proses pembentukan kepribadian (in the making personality processes) sehingga menjadi manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri di dalam kebudayaan dan masyarakat sekitarnya.

Sekolah tidak boleh hanya diartikan sebagai sebuah ruangan atau gedung tempat anak berkumpul dan mempelajari sejumlah materi pengetahuan. Sekolah harus diartikan lembaga pendidikan yangterkait akan norma dan budaya yang mendukungnya sebagai suatu sistem sosial.Apabila sekolah dipandang sebagai sebuah wadah untuk memproses pembudayaan nilai, maka menurut Imam Suprayogo, hal-hal yang perlu diperhatikan secara serius adalah pembentukan iklim pendidikan baik klim yang bersifat tangible maupun yang intangible.

Iklim yang bersifat tangible seperti perangkat keras sekolah berupa gedung, kelengkapan taman, halaman, dan juga penampilan para guru maupun siapa saja yang terlibat dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan. Sedangkan iklim yang bersifat intangible menyangkut tentang birokrasi sekolah yang dikembangkan, hubungan antar guru, guru dan murid, antar murid dan seterusnya. Iklim tersebut merupakan bagian dari hal-hal penting yang perlu diperhatikan oleh sebuah sekolah, terutama dalam membentuk iklim sekolah unggul.

Sebutan sekolah unggulan itu sendiri kurang tepat. Kata “unggul” menyiratkan adanya superioritas dibanding dengan yang lain. Kata ini menunjukkan adanya “kesombongan” intelektual yang sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah. Di negara-negara maju, untuk menunjukkan sekolah yang baik tidak menggunakan kata unggul (excellent) melainkan effective, develop, accelerate, dan essential.

Terkait dengan pemahaman sekolah unggul (effective) berbagai pendapat teori dariahlipedidikan menegaskan beberapa indikatornya sebagai berikut :

David A. Squires, et.al. (1983) ciri-ciri sekolah efektif yaitu:

1.   adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan di   sekolah

2.   memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas;

3.   mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi;

4.   siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan;

5.   siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik;

6.   adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi;

7.   siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor keberuntungan dalam meraih     prestasi;

8.   para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum;

9.   kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya.

Jaap Scheerens (1992)  sekolah yang efektif mempunyai lima ciri penting yaitu;

(1)      kepemimpinan yang kuat;

(2)      penekanan pada pencapaian kemampuan dasar;

(3)      adanya lingkungan yang nyaman;

(4)      harapan yang tinggi pada prestasi siswa;

(5)      dan penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa.

Mackenzie (1983)mengidentifikasikan tiga dimensi pendidikan efektif yaitu kepemimpinan, keefektifan dan efisiensi serta unsur pokok dan penunjang masing-masing dimensi tersebut
Edmons (1979) lima karakteristik sekolah efektif yaitu :

1.    kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran,

2.    pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran,

3.    iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran,

4.    harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu, dan

5.    penilaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa.

(Townsend, 1994).  mengidentifikasikan sekolah yang efektif adalah :

1.    penggunaan standar tes,

2.    pendekatan reputasi, dan

3.    penggunaan evaluasi sekolah serta pengembangan berbagai aktifitas.

 

Pengetahuan lain mengenai sekolah efektif adalah sebagai berikut :

(1)     mampu mendemontrasikan kebolehannya mengenai seperangkat kriteria ;

(2)     menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya;

(3)     adanya kepemimpinan yang kuat ;

(4)     adanya hubungan yang baik antara sekolah dengan orangtua siswa; dan

(5)     pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar

 

Secara ontologis, sekolah unggul dalam perspektif Departemen Pendidikan Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran (output) pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut maka masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus di arahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.

Sekolah unggul merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari sebuah keinginan untuk memiliki sekolah yang mampu berprestasi di tingkat nasional dan dunia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh ditunjang oleh akhlakul karimah.

Sekolah unggul dikembangkan untuk mencapai keistimewaan dalam keluaran pendidikannya. Untuk mencapai keistimewaan tersebut, maka masukan, proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut

B. Karakteristik Sekolah Unggul

Sesuai dengan pengertian dasarnya, sekolah unggul (effectife school) berarti sekolah yang memiliki kelebihan, kebaikan, keutamaan jika dibandingkan dengan yang lain, maka dalam konteks ini sekolahunggul mengandung makna sekolah model yang dapat dirujuk sebagai contoh bagi kebanyakan sekolahlain karena kelebihan, kebaikan dankeutamaan serta kualtas yang dimilikinya baik secara akademik maupun non akademik.

Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkan sejumlah kriteria yang harus dimiliki sekolah unggul.Meliputi :

1. Masukan (input) yaitu siswa diseleksi secara ketat dengan menggunakan kriteria tertentu dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Kriteria yang dimaksud adalah : (1) prestasi belajar superior dengan indicator angka rapor, Nilai Ebtanas Murni (NEM), dan hasil tes prestasi akademik, (2) skor psikotes yang meliputi intelgensi dan kreativitas, (3) tes fisik, jika diperlukan.

2. Sarana dan prasarana yang menunajang unutk memenuhi kebutuhan belajar siswa serta menyalurkan minat dan bakatnya, baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstra kurikuler.

3. Lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi keunggulan menjadi keunggulan yang nyata baik lingkung fisik maupun social-psikologis.

4. Guru dan tenaga kependidikan yang menangani harus unggul baik dari segi penguasaan materi pelajaran, metode mengajar, maupun komitmen dalam melaksanakan tugas.Untuk itu perlu diadakan insentif tambahan guru berupa uang maupun fasilitas lainnya seperti perumahan.

5. Kurikulum dipercaya dengan pengembangan dan improvisasi secara maksimal sesuai dengan tuntutan belajar peserta didik yang memiliki kecepatan belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa seusianya.

6. Kurun waktu belajar lebih lama dibandingkan sekolah lain. Karena itu perlu ada asrama untuk memaksimalkan pembinaan dan menampung para siswa dari berbagai lokasi. Di kompleksasrama perlu adanya sarana yang bisa menyalurkan minat danbakat siswa seperti perpustakaan, alat-alat olah raga,kesenian dan lain yang diperlukan.

7. Proses belajar mengajar harus berkulitas dan hasilnya dapat diertanggungjawabkan (accountable) baik kepada siswa, lembaga maupun masyarakat.

8. Sekolah unggul tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta didikdi sekolah tersebut, tetapi harus memiliki resonansi social kepada lingkungan sekitarnya.

9. Nilai lebih sekolah unggul terletak pada perlakuan tamban di luar kurikulum nasional melalui pengembangan kurikulum, program pengayaan dan perluasan, pengajaran remedial, pelayanan bimbingn dan konseling yang berkualitas, pembinaan kreatifitas dan disiplin.

Mencermati sekolah unggul yang diajukan di atas, secara eksplisit masih mengarah pada aspek-aspek bersifat tangible, atau berada pada ranah kognitif sehingga sulit diharapkan mampu menciptakan manusia yang sesungguhnyaatau insan kamil (manusia utuh).

Manusia utuh yang diharapkan lahir dari sekolah unggul adalah manusia yang menampilkan citra sebagai sosok makhluk tuhan yang di dalam dirinya terdapat potensi rasional (nalar), potensi (emosi) dan potensi spiritual. Tiga dimensi keunggulan (cerdas intelek, cerdas emosional dan serdas spiritual)dalamperspektif Islam mencitrakan sosok manusia utuh.

Lembaga pendidikan yang terlalu banyak menekankan pentingnya nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja, mengabaikan kecerdasan emosi yanga mengajarkan: integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri atau sinergi menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya.

Aspek emosional sebagai salah satu unsur yang menandai ke- diri-an manusia tidakbisadiabaikan, karena ia akan membentuk karakter kepribadian manusia, terutama ketika iamenghadapi berbagai kerumitan dan keruwetan kenyataan hidup.

Secara esensi kecerdasan emosional (EQ) adalah hatiyang mengaktifkan nilai-nilai kita yang terdalam, mengubahnya dari suatu yangkita piker menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati mampu mengetahui hal-hal mana yang tidakboleh, atau tidak dapat diketahui oleh pikiran kita.

Kedua aspek tersebut, dalam perspektif pendidikan ideal belumlah cukup untukmenggambarkan kebutuhan sosok manusia. Sebab dalam diri manusia terdapat satu asek penting lainnya yaitu potensi spiritual. Pemanduan ketiga potensi ini menggambarkan keutuhan manusia yang sesungguhnya.Sebab bukanlah manusia jikahanya memiliki rasio, tetapi tumpul rasa. Juga bukanlah manusia jika iamenggambarkan sosok dirinya sebagai makhluk yang terus menerus berzikir tanpa memiliki kepekaan terhadap aspek-aspek lain (sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya).

Karena itu, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang kita gunakan untuk membuat kebaikan, kebenaran,keindahan, dan kasih saying dalam hidup kita, kecerdasan untuk menghadapi persoalanmakna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Dengan lain pernyataan, pendidikan adalah kemampuan merasakan hubungan  yang tersembunyi (the hidden connection) antarberbagai fenomena dalam hidupmanusia.Dengan mengorientasikan tiga unsur tersebut berarti sekolah unggul telah mengakomodasi sisi kemanusiaan peserta didik secara komprehensif, tidak hanya berkutat pada persoalan NEM, atau pengetahuan kognitif saja,  tetapi halini api juga menekankan semua segi kehidupan manusia seperti spiritualitas,moralitas, sosialitas, rsadan rasionalitas.

Sebab, menentukan kriteria keunggulan sekolah dari sisi kognitif saja tidak hanya mereduksi keluasan makna dan fungsi pendidikan, tetapi juga sekolah akan menjadi semacam ajang pemaksaan budaya dominan, yaitu prestise danpopularitas sesaat para shareholders (pemegang kepentingan) sehingga out put (siswa)-nya tidak lagi dipandang sebagai “people who can transform knowledge and society”, tetapi sebagi makhluk semi mati yang bisa direkayasa untuk kepentingan-kepentingan pragmatis pula.

Sekolah yang idealnya merupakan sebuah proses humanisasi dan liberalisasi (amr bil ma’ruf wa hany ‘an almungkar) menjadi keilangan relevansi dan jati dirinya bagi pemecahan permasalahan dalam pembangunan manusia seutuhnya. Lembaga pendidikan unggul idealnya berkepentingan untuk menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi multidimensi seperti dikemukakaan di atas, tidak untuk menjadikan manusiasebagai makhluk tuna dimensi. Dengan demikian output lembaga pendidikan unggul mampu hidup serasi bukan hanya dengan habitat ekologinya (lingkungan keluarga, manusia dengan anggota masyarakat, manusia dengan alam, tetapi juga manusia dengan Tuhan.

C. Pengembangan Sekolah Unggul

Mengembangkan sekolah unggul merupakan satu aktivitas yang kompleks karena berkaitan dengan pengembangan sebuah organisasi sebagaiwadah terhimpunnya komunitas yang memiliki latarbelakang yang beragam. Membangun budaya unggul dalam sebuah organisasi, termasuk budaya unggul dalam lingkungan sekolah memerlukan proses dan waktu yang panjang, ia tidak bisa dibangun melalui instruksi kebijakan atau reorganisasi seketika.

Mengembangkan keunggulan dalam sebuah sekolah melalui pendekatan budaya organisasi berarti mengorganisasi beragam manusia dan melebur mereka dalam satu pikiran yang terarah ke pembuatan produk danlayanan terbaik, pemuasan pelanggan sepenuhnya dan pemeliharaan warga organisasi itu sendiri. 15. Berikut dikemukakan beberpa poin penting yangdapat  dirujuk untuk mengembanhgkan organisasi sekolah dalam mencapai keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan keunggulan komparatif (comportive advantage). Poin-poin berikut ini merupakan racikan teoritik dan temuan empiric  meliputi: visi untuk unggul, kepemimpinan yang memberi contoh, retrukturisasi lingkungan organisasi sesuai  irama perubahan zaman, kolaborasi dan kolegialitas, membangun rasa saling percaya, dan memperluas jaringan social capital.

1. Visi Unggul

Peter Senge dalam The Fith Dicipline mengklaim bahwa organisasi unggul di masa depan adalah organisasi yang mampu membangun komitmen dan kapasitas belajar warganya pada seteiap eselon yang digerakan oleh visi organisasi yang kuat. Organisasi yang menata visi dan misi sempurna, makaorganisasi bersangkutan dengan mudah menyusun budaya kerja, nilaidasar, dan strategi organisasinya.

2. Kepemimpinan yangInspiratif

NoelTichy mengemukakan “leadership is being able to mobilize ideas and values that engize other people”. Pemimpin adalah orangyangmampu memberikan siraman energy kepadaorang lain melalui power yang dimilikinya sehingga orang lain terpengaruh, bersedia dan bersemangat untuk bekerja sama mencapai suatu tujuan.

3. Kolaborasi dan Kolegialitas

Collaboration and collegiality dipandang sebagai satu komponen penting dan bagian dari kulturyang tidak dapat dipisahkan dari sebuah organisasi yang unggul sekaligus menggambarkan iklim dan kulteur organisasi secara keseluruhan. Salah satu kultur yg mendukung sekolah unggulan kerjasama internal maupun eksternal yang bersifat lintas sektoral dengan berbagai intansi. Dengan menekankan given and taken, sharing value and sharing knowledge, menggali nilai-nilai positif, kelebihan dan keunggulan  yang dipandang memiliki excellency, dan keistimewaan organisasi lain.

4. Membangun TeamWork :Rasa Saling Percaya

Dalam sebuah organisasi terdapat team work yang tidak mungkin dapat bekerja sama kecuali atas dasar nilai saling mempercayai (amanah)atau mampu menjadikan diri sebagai anggota yang pantas dipercayai. Stephen R Covey mengemukakan empat peta pembentukan kultur organisasi berbasis rasasaling percaya, yaitu:

Pertama, menunjukkan personal trustworthiness. Dimana setiap individu di puncak piramida organisasi wajibmembuktikan diri sebagai individu yang layak dipercayai;

Kedua,membangun interpersonal truts di antara sesame anggota tim yang berinteraksi dengan pemimpin puncak organisasi.

Ketiga, melakukan managerial empowerment, yaitu membangkitkan potensisetiap individu yang tergabung dalam organisasi dengan memberikan tugas-tugas yangsesuai dengan kemampuannya.Pada saat yang bersamaan, para atasan melakukan coaching kepada para bawahan unutk meningkatkan kompetensi dan karakter mereka.Pada tahap ini kepiawaian setiap atasan dalam hal human skill dan superior skill tidak dapat di tawar.

Keempat, memperkuat organization alignment agar segala inisiatif dan cikal bakal budaya saling percaya pada tingkat-tingkat sebelumnya terlindungi dengan baik.Hal ini dimungkinkan untuk membangun lingkungan dan sistem kerja yang mempromosikan interaksi saling percaya (koordinasi antar fungsi berlangsung dengan cepat, berbagi informasi mengenai keberhasilan, memberikan penghargaan, juga memberikan wewenng mengambil keputusan dengan kapasitas masing-masing).

5. Membangun Jaringan Sosial (sosialKapital)

Kecerdasan Sosial (social capital) menjadi salahsatu unsur penting dalam pengembangan sekolah unggul yang berhubungan dengan bagaimana kemampuan sekolah unutk mempertahankan diri dan segala citra yang melekat didalamnya (sekolah unggul). Bukan hanya kemampuan menghasilkan output yang berkinerja dan berprestasi unggul, tetapi juga ditentukan oleh koneksinya dengan stakeholders, para pengguna jasa.  Dengan kata lain social capital adalah berupa hubungan (relations) antara sekolah dengan stakeholders dimana kepercayaan (trust) dianggap sebagai intinya.

D. Sekolah Bermutu

Kalau berbicara mengenai mutu pendidikan, maka kita tidak lepas dari definisi mutu itu sendiri. Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin. Dalam konteks pendidikan, menurut Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana dikutip Mulyasa, pengertian mutu mencakup input, proses dan output pendidikan. Input pendidikan adalah sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Proses pendidikan  merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sedangkan output pendidikan merupakan kinerja sekolah, yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses dan perilaku sekolah.

Maka dari itu, mutu dalam pendidikan dapat saja disebutkan mengutamakan pelajar atau program perbaikan sekolah yang mungkin dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif. Mutu dalam pendidikan memang dititiktekankan pada pelajar dan proses yang ada di dalamnya. Tanpa adanya proses yang baik, maka sekolah yang bermutu juga mustahil untuk dicapai.

Setelah penulis mengadakan pengamatan, ternyata ada tiga faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yaitu: kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-input analisis yang tidak consisten; penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik; peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim.

Mutu, menurut Usman, memiliki 13 karakteristik, sebagai berikut:

  1. Kinerja (performa); berkaitan dengan aspek fungsional sekolah.
  2. Waktu ajar (time liness): selesai dengan waktu yang wajar.
  3. Handal (reliability); usia pelayanan prima bertahan lama.
  4. Daya tahan (durability): tahan banting
  5. Indah (asetetics)
  6. Hubungan manusiawi (personal interface): menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan profesionalisme.
  7. Mudah penggunaannya (easy of use) sarana dan prasarana dipakai.
  8. Bentuk khusus (feature) keunggulan tertentu.
  9. Standar tertentu (conformance to specification) memenuhi standar tertentu.
  10. Konsistensi (consistency) keajegan, konstan, atau stabil
  11. Seragam (uniformity): tanpa variasi, tidak tercampur.
  12. Mampu melayani (serviceability): mampu memberikan pelayanan prima.
  13. Ketepatan (acruracy) ketepatan dalam pelayanan.

Sedangkan Deming, sebagaimana yang dikutip Arcaro, mengembangkan 14 perkara yang menggambarkan mutu dalam pendidikan, antara lain:

1.    Menciptakan konsistensi tujuan. Mencipyakan konsistensi tujuan untuk memperbaiki layanan dan siswa, dimaksudkan untuk menjadikan sekolah sebagai sekolah yang kompetitif  dan berkelas dunia.
2.    Mengadopsi filosofi mutu total. Pendidikan berada dalam lingkungan yang benar-benar kompetitif dan hal tersebut dipandang sebagai salah satu alasan mengapa Amerika kalah dalam keunggulan kompetitifnya. Sistem sekolah mesti menyambut baik tantangan untuk berkompetisi dalam sebuah perekonomian global. Setiap anggota sistem sekolah mesti belajar ketrampilan baru untuk mendukung revolusi mutu. 
3.    Mengurangi kebutuhan pengujian. Mengurangi kebutuhan pengujian dan inspeksi yang berbasis produksi massal dilakukan dengan membangun mutu dalam layanan pendidikan. Memberikan lingkungan belajar yang menghasilkan kinerja siswa yang bermutu.
4.    Menilai bisnis sekolah dengan cara baru. Nilailah bisnis sekolah dengan meminimalkan biaya total pendidikan.
5.    Memperbaiki mutu dan produktivitas serta mengurangi biaya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melembagakan proses. Prakteknya adalah dengan memperbaiki, mengidentifikasi mata rantai kostumer/pemasok, mengidentifikasi bidang-bidang perbaikan, mengimplemtasi perubahan, menilai dan mengukur hasilnya, mendokumentasikan serta standarisasi proses.
6.    Belajar sepanjang hayat. Hal tersebut disebabkan mutu diawali dan diakhiri dengan latihan. Maka dari itu, perlu digalakkan belajar sepanjang hayat sebagai indikator mutu.
7.    Kepemimpinan pendidikan. Harus mempunyai kepemimpinan pendidikan yang bisa mengejawantahkan mutu ke dalam visi dan misi lembaga.
8.    Mengeliminasi rasa takut. Bekerja harus dilakukan dengan kesadaran, bukan dilakukan dengan pijakan rasa takut.
9.    Mengeliminasi hambatan keberhasilan. Salah satu karakter mutu adalah sangat minimnya hambatan dalam pelaksanaan kegiatan. Jadi sekolah harus mengembangkan strategi khusus untuk menghadapi hambatan tersebut.
10.  Menciptakan budaya mutu. Prinsip yang baik dalam menerapkan mutu adalah menciptakan budaya mutu, agar setiap orang mempunyai tanggung jawab di bidangnya.
11.  Perbaikan proses. Hal tersebut dikarenakan tidak proses yang sempurna, maka setiap proses hendaknya dievaluasi dan dicari solusi untuk menutupi kekurangan tersebut.
12.  Membantu siswa berhasil. Dorongan dan bantuan yang ditujukan kepada siswa harus selalu didengungkan tanpa pandang bulu, terlebih lagi siswa yang berprestasi.
13.   Komitmen. Manajemen mesti memiliki komitmen terhadap budaya mutu.
14.  Tanggung jawab.

Dewasa ini semua lembaga pendidikan berorientasi pada mutu. Lembaga pendidikan dikatakan ‘bermutu’ jika input, proses dan hasilnya dapat memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa pendidikan. Bila performance-nya dapat melebihi persyaratan yang dituntut oleh stakeholder (user) maka dikatakan unggul. Lantaran tuntutan persayaratan yang dikehendaki para pengguna jasa terus berubah dan berkembang kualitasnya, maka pengertian mutu juga bersifat dinamis, terus berkembang dan terus berada dalam persaingan yang terus menerus.

Fattah menyatakan bahwa pendidikan yang bermutu harus terlibat dari berbagai komponen, yaitu: input, kurikulum, sumberdaya manusia, sarana, biaya, dan metode yang bervariasi, serta penciptaan suasana belajar yang kondusif. Manajemen sekolah yang menjadi otoritas kepala sekolah, dan manajemen kelas yang menjadi otoritas guru berfungsi mensinkronkan berbagai input atau mensinergikan semua komponen dalam proses belajar mengajar. Berkenaan dengan manajemen peningkatan mutu, maka diperlukan kepala sekolah/madrasah yang mau memberikan wewenang kepada para guru dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar, diberikan kesempatan dalam melakukan pembuatan keputusan, dan diberikan tanggung jawab yang lebih besar dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai guru. Dengan adanya pelimpahan wewenang, inisiatif dan rasa tanggung jawab, guru dan staf sekolah lainnya dapat lebih terdorong untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan lebih baik yang pada gilirannya dapat menghasilkan pendidikan yang bermutu.

Pimpinan lembaga pendidikan Islam harus mulai membaca kecenderungan masyarakat ke depan, kemudian merancang strategi baru terkait dengan penjaminan mutu pendidikan. Masyarakat di masa mendatang sangat mungkin sebelum memasukkan anak-anaknya ke sebuah lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan Islam, mereka minta ketegasan dulu tentang jaminan mutu yang dijanjikan. Misalnya, kualitas pendidikan seperti apa yang diperoleh anak saya setelah saya masukkan ke lembaga pendidikan ini?. Apa jaminannya kalau anak saya kelak menjadi lebih berkualitas melalui proses pembelajaran yang ada di sekolah atau madrasah ini?. Apabila mereka dapat diyakinkan melalui jawaban dan bukti upaya riil dari pimpinan maka banyak masyarakat yang mau memasukkan anaknya ke lembaga tersebut. Namun jika masyarakat tidak yakin maka masyarakat tidak jadi memasukkan anaknya ke lembaga tersebut dan memindahkan ke lembaga pendidikan lain yang menjanjikan masa depan kualitas.

Kecenderungan demikian harus “dibaca” dan direspon karena masyarakat ke depan terutama dari kalangan terpelajar dan memiliki kecukupan materi, mereka tidak lagi mempermasalahkan biaya pendidikan, tetapi cenderung mempermasalahkan mutu. Sudarwan Danim menyatakakan bahwa ketika sekolah-sekolah membuka tawaran dan mampu menggaransi mutu, baik sekolah negeri maupun swasta, pilihan masyarakat akan makin banyak. Kesadaran mereka membayar biaya pendidikan tidak lagi ditentukan oleh berapa besar yang harus disetor ke kas sekolah, malainkan seberapa baik mutu produk dan jasa yang dibeli untuk dibandingkan dengan sekolah lain.

Mantja menyatakan, bahwa manajemen peningkatan mutu pendidikan mempersyaratkan integrasi dari berbagai faktor yang dapat diintegrasikan, yaitu: pelanggan (klien), kepemimpinan (leadership), tim (team),  proses (process), dan struktur (organization).           

  1. Pelanggan atau klien adalah seseorang atau kelompok yang menerima produk atau jasa layanan. Pelanggan yang ada di dunia pendidikan berkaitan erat dengan pengguna pendidikan itu sendiri termasuk didalamnya adalah stakeholders pendidikan. Hal-hal yang perlu dipahami oleh pelanggan atau pengguna pendidikan adalah nilai-nilai organisasi, visi dan misi yang perlu dikomunikasikan, yang dikerjakan dengan memperhatikan etika dalam pengambilan keputusan dan perencanaan anggaran.
  2. Kepemimpinan (leadership) merupakan hal yang esensial dalam manajemen peningkatan mutu pendidikan, sehingga diperlukan visionary leadership kepala sekolah. Dalam konteks manajemen peningkatan mutu, pemimpin harus mampu dalam menetapkan dan mengendalikan visi sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah dalam konteks manajemen peningkatan mutu sekolah harus mempunyai visi, kreativitas, sensitivitas, pemberdayaan, dan memahami tentang manajemen perubahan.
  3. Tim (team) merupakan sarana yang harus dibangun oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja, karena dalam manajemen peningkatan mutu lebih menekankan pada kejelasan tujuan dan hubungan interpersonal yang efektif sebagai dasar terjadinya kerja kelompok yang efektif.
  4. Proses (process) kerja merupakan kunci yang harus disepakati dalam manjemen peningkatan mutu suatu sekolah/madrasah.
  5. Struktur organisasi (organization structure) merupakan langkah kerja dalam pengorganisasian dan menentukan garis kewenangan dalam konteks manajemen peningkatan mutu sekolah.

Sallis, sebagaimana yang dikutip oleh Aan, menyatakan bahwa manajemen peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu pendekatan yang sistematis, praktis, dan strategis bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan memuaskan pelanggaan. Pendidikan yang bermutu dan memuaskan pelanggan dapat terwujud apabila dilaksanakan dengan proses yang bermutu. Lebih lanjut Aan yang mengutip dari Bill Crech menyatakan terdapat lima pilar untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu yaitu; produk, proses, organisasi, pemimpin, dan komitmen.

Produk adalah titik pusat untuk mencapai tujuan organisasi. Produk tidak akan bisa bermutu apabila tidak disertai dengan proses yang bermutu. Proses yang bermutu tidak mungkin terwujud apabila tidak disertai dengan pengorganisasian yang tepat (the right man on the right pleace). Organisasi yang tepat tidak akan berarti apabila tidak didukung dengan pemimpin dan kepemimpinan yang visioner. Komitmen yang kuat dari pemimpin dan seluruh anggota organisasi merupakan pilar pendukung dalam meningkatkan mutu dari semua pilar yang ada. Pilar-pilar tersebut saling terkait, apabila terdapat salah satu pilar yang lemah akan berpengaruh terhadap pilar yang lain, sehingga peningkatan mutu pendidikan akan sulit tercapai.

Sedangkan Arcaro menyatakan, bahwa untuk membangun sistem penyelenggaraan pendidikan yang bermutu memerlukan prasyarat sebagai berikut:

  1. Customer focus, agar sekolah mengembangkan fokus mutu, setiap orang dalam sistem sekolah mesti mengakui bahwa setiap output lembaga pendidikan adalah customer.
  2. Keterlibatan total, setiap orang mesti terlibat dalam transformasi mutu. Manajemen mesti memiliki komitmen untuk memfokuskan ada mutu.
  3. Measurement, secara tradisional ukuran mutu atas keluaran sekolah adalah prestasi siswa. Ukuran dasarnya adalah hasil ujian. Bila hasil ujian bertambah baik, maka mutu pendidikan pun membaik.
  4. Memandang pendidikan sebagai sistem. Pendidikan mesti dipandang sebagai sebuah sistem. Ini merupakan konsep yang amat sulit dipahami para professional pendidikan.
  5. Perbaikan berkelanjutan. Konsep dasarnya, mutu adalah segala sesuatu yang dapat diperbaiki. Mutu didasarkan pada konsep bahwa setiap proses dapat diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna.

Konsep di atas menerangkan mengenai beda dari sekolah bermutu dan sekolah unggulan. Intinya sekolah dikatakan bermutu jika terjadi keterlibatan total seluruh elemen sekolah untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Sedangkan sekolah dikatakan unggul jika sekolah tersebut berprestasi baik dalam bidang tertentu. Jadi hal tersebut dapat dengan mudah digeneralisir bahwa sekolah bermutu itu menyeluruh sedangkan sekolah unggul tersebut hanya sebagian saja menunjukkan keunggulan. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada ahli yang mengatakan bahwa kedua hal tersebut sama.

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

2 responses

  1. Assalamu’alaikum Pak, saya seorang guru sekaligus mahasiswa S2 sedang menyelesaikan tesis sehubungan dengan konsep sekolah unggul. bisakah bapak bantu saya untuk mendapatkan buku2 tentang teori sekolah unggul yang ada diblog bapak ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: