EFEKTIFITAS RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL


EFEKTIFITAS RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I

(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

A. Latar belakang

Keberhasilan sebuah Negara tidak selalu identik dengan seberapa lama sebuah Negara itu telah berdiri atau umur sebuah Negara itu, contoh India dan Mesir yang telah ada 2000 tahun yang lalu ada tetapi mereka masih tetap miskin, di sisi lain Singapura, New Zeland, Canada yang lahir 150 tahun yang lalu tetapi mereka adalah sebuah Negara yang sangat maju.  Keberhasilan sebuah Negara tidak juga di tentukan oleh seberapa subur tanah di Negara itu, seperti Jepang yang 80% wilayahnya terdiri dari pegunungan, tetapi siapa siapa yang membantah bahwa Jepang tidak  mempunyai segalanya, dia impor bahan mentah dan menekspor produk jadinynya, bahkan Jepang menjadi kekuatan ekonomi dunia, begitu juga Swiss yang tidak mempunyai tentara, tatapi menjadi Negara penghasil produk-produk militer yang berstandar International, seperti Swiss Army, Victory Nox, Swiss juga bukan penghasil Coklat tetapi mengapa Coklat Swiss sangat terkenal? Contoh lain para imigran yang dianggap malas di Negara asal mereka tetapi menjadi sumber daya yang sangat potensial di negera tujuan.

Sebuah study menjelaskan perbedaan antara Negara maju dan miskin bukan karena perbedaan warna kulit, bentuk rambut, ras, ataupun yang lain, tetapi berupa prilaku masarakatnya yang dibentuk bertahun tahun melalui budaya dan pendidikan.

Ironisnya Agama kita menganjurka (mewajibkan) kita untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya tetapi tingkat pendidikan masarakatnya sangat rendah, justru Negara-negara yang mayoritas penduduknya non-muslin memperhatikan pendidikan lebih baik dari kita, terbukti dari laporan tahunan UNDP, 50 besar Negara yang masarakatnya berpendidikan baik di dominasi oleh Negara-negara yang mayoritas non muslim.

Tidaklah salah di Negara kita Indonesia yang mayoritas penduduknya Bergama islam mulai membangun pondasi kehidupan yang kuat memalului pendidikan, dengan lahirnya berbagai model madrasah, dari madrasah model, madrasah plus, sampai Rintisan Madrasah Bertaraf Internasional (RMBI). Itu semua dalam rangka membangun budaya yang bisa menjunjung tinggi martabat bangsa.

Dalam rangka meningkat kualitas sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi maka pemerintah dan masarakat membangun sebuah model pendidikan yang bertaraf internasional atau yang disebut Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau Madrasah Bertaraf Internasional (RMBI).

Pengembangan RSBI di Indonesia didasari oleh UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 50 Ayat 3.menyatakan bahwa Pemerintah dan/atau pemerintah  daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Yang artinya Dalam ketentuan ini, pemerintah didorong untuk mengembangkan satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

Sejak ditetapkan pada tahun 2006 sampai sekarang berarti sudah hampir lima tahun keberadaan Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional dikembangkan. Keberadaan S/MBI diharapkan mampu mendongkarak kualitas pendidikan di Indonesia yang masih di atas 100 bahkan sempat turun dari ranking 108 menjadi 111 di tahun 2009.Tetapi kenyataannya banyak masarakat yang menyatakan kekurang percayaannya terhadap efektifitas RSBI. Sebuah study yang dilakukan oleh British Council tentang RSBI, menyatakan kalau memaksakan diri menggunakan Bahasa Inggris sengai pengantar di dalam proses belajr mengajar maka hasilnya akan mengecewakan (Kompas.com, 2011. Begitu juga penggugnaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mata pelajaran matematika dan sain di negeara Malaysia ahirnya juga di cabut, karena hasil dari mata pelajaran tersebut sangat rendah.Oleh kakrena itu penulis mencoba untuk menganilisis permasalahan yang terjadi pada pelaksanaan RSBI di Indonesia, dengan membahas, pengertian Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), selanjutnya akan mendiskusikan tujuan didirikannya RSBI,

B.  Pengertian Sekolah Bertaraf Internasional

Sekolah Bertaraf Internasional adalah satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu negara anggota Organizatian for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya.

SNP adalah standar minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikanmeliputistandar:kompetensi lulusan, isi, proses, penilaian,  pendidik  dan  tenaga  kependidikan,  sarana  dan prasarana, pengelolaan, dan  pembiayaan. Sedangkan pengayaan denganstandar negara majudapatberupa penyesuaian, penguatan, pengayaan,pengembangan, perluasan, dan pendalaman pada  peningkatan  mutu  pendidikan  yang mengacu pada standar mutu pendidikan bertaraf internasional atau pada negara maju.

C. Tujuan Umum

Pengembangan program rintisan bertaraf internasional bertujuan meningkatkankinerjasekolahdalam mewujudkan situasi belajar dan proses pembelajaranuntukmewujudkan tujuan pendidikan nasional secaraoptimal dalam mengembangkan  manusia  yang   beriman   dan   bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab; dan memiliki daya saing pada taraf internasional.permasalahan pelaksanaan RSBI dan alternative solusinya, ahirnya simpulan.

D. Tujuan khusus

Meningkatkan mutu pelayanan pendidikan dalam menyiapkan lulusan  SMA  yang memiliki  kompetensi  seperti  yang tercantum di  dalam  Standar  Kompetensi  Lulusan  yang memenuhi standar kompetensi lulusan berdaya saing pada taraf internasional yang memiliki karakter sebagai berikut.

a. Meningkatnyakeimanandanketaqwaansertaberakhlak mulia

b. Meningkatnya kesehatan jasmani dan rohani

c. Meningkatnyamutu lulusan dengan standar yang lebih tinggi daripada standar kompetensi lulusan nasional

d. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi

e. Siswa termotivasi untuk belajar mandiri, berpikir kritis dan kreatif, dan inovatif

f.  Mampu memecahkan masalah secara efektif

g. Meningkatnyakecintaan pada persatuan dan kesatuan bangsa

h. Menguasaipenggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar

i.  Membangun kejujuran, objektivitas, dan tanggung jawab

j.    Mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan atau bahasa asing lainnya secara efektif

k. Siswa memiliki daya saing melanjutkan pendidikan bertaraf internasional

l.    Mengikuti sertifikasi internasional

m.Meraih medali tingkat internasional

n. Dapat bekerja pada lembaga internasional

  1. E.     Permasalahan RSBI/RMBI

Sejak dimulainya Rintisan Sekolah Bertaraf Internassional (RSBI) tahun 2006 berati sudah hampir enam tahun, mesti masih sangat mudah tetapi keberadaannya sudah menjadi bahan perdebatan hangat bahkan ada yang secara ekstrim meminta untuk ditutup, yang pada ahirnya pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh.  Permasalahan-permasalahan tersebut menurut hemat penulis dapat dibagi menjadi:

  1. a.      Permasalahan Internal
    1. Kemampuan sumber daya manusia (SDM) baik dari segi pengelola, manager maupun guru. Kemampuan manager baik Kepala sekolah maupun Wakil Kepala sekolah belum benar-benar teruji kemampuannya dalam menyelenggarakan sebuah pendidikan yang bertaraf internasional, karena budaya pendidikan bertaraf internasional pastilah berbeda dengan budaya pendidikan nasional, kemajuan teknologi dan ICT belum dimanfaatkan secara maksimal baik oleh guru dalam peksanaan PBM maupun menegemen.

Kedua, kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajarg lajar bertaraf internasioanal pastilah berbeda dengan proses belajar ngajar sekolah /madrasah regular, dalan hal ini kemampuan guru dalam negelola proses belajar mengajar, termasuk pemilihan metode pembelajaran haruslah tepat sesuasi dengang kaekkteristik materi, intake siswa, leraning style siswa serta ketersediaan sarana dan prasarana yang ada. Yang selama ini guru selalu mengabaikan hal tersebut, semua siswa dianggap sama lerning stylenya, kemampuan menyerap materi dan dan memproses materi (Ronald R.Sims andSerbreniaJ.Sims. 1995).

Selanjutnya sekolah RSBI/RMBI mempupnyai karakteristik tersendiri, yaitu, kemampuan guru-gurunya dalam proses belajar mengajar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Guru ditutnut mampu menggunakan bahasa internasional dalam proses belajar mengajar begitu juga siswa harus mempunyai kemampuan bahasa yang lebih baik dari siswa kelas regular. Tetapi kemampuan bahasa in belum terlihat.Bahkan kemampuan guru dalam menguasai bahasa asing kalah dengan siswanya.Hal ini sangat berbahaya bila dipaksakan untuk menggunakan bahasa asing, bisa saja salah konsep karena keterbatasan kemampuan bahasa.

  1. Keharusan menggunakan Kurikulum nasional dan satu kurikulum internasional yang mana kedua kurikulum ini berjalan berjalan sendiri-sendiri. Ada jampelajaran kurikulum nasional danada jam kurikulum internasional, belum adanya usaha pengintegrasian kedua kurikulum. Sehingga KBM memerlukan banyak waktu, tenaga, dan biaya ahirnya PBM tidak efektif, dan ahirnya akan membebani orang tua atau wali murid. Padahal tidak semua siswa yang masuk di RSBI adalah siswa yang berlatar belakasng ekonomi kuat, banyak dianatara mereka yang berasal dari keluarga miskin yang perlu bantuan agar bisa bersekolah dengan beaya ringan.
  2. Pengadopsian kurikulum internasional (materi pembelajaran) tidak diikutii metode atau cara bagaimana menyampaiakan materi tersebut. Sehingga terkesan pincang, materi internasioanal dengan pelaksanaan tradisional. Sekali lagi kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar materi dari kurikulum internasioanal belum mencerminkan kelas yang yang dikelola secara professional, mulai dari pendekatan pembelajaran, media, penyaiapan bahan ajar, masih terlihat seadanya.
  3. Sistem evaluasi, system evaluasi yang untuk materi internasioanal seharusnya menggunakan pendekatan penilaian yang berbeda. Sehingga siswa terbiasa dengan pendekatan penilaian yang bertaraf internasional yang pada ahirnya mereka tidak kesulitan dalam ujian Internatianal General Sertificate for Secondary Education (IGCSE), sebagai contoh,  Chemistry subject, siswa tidak hanya mampu meriaksi unsur-unsur kimianya saja tetapi juga mereka bisa mempraktekkan di laborattorium, jadi bentuk assessment nya tidak hanya ranah cognitive saja tetapi juga psychomotoric.
  4. Biaya pendidikan yang relative tinggi belum menjamin out putnya lebih baik dibanding sekolah reguler, Kompas.com
  5. Jika ditinjau lebih lanjut, sebenarnya apakah ada kurikulum yang berstandar Internasional? Coba dipikirkan! Jepang merupakan negara yang masuk kategori negara yang maju. Namun, jepang juga tidak mengemukakan sekolahnya adalah SBI, tidak mengemukakan bahwa kurikulumnya adalah berstandar Internasional. Akan tetapi, Jepang berusaha untuk menanamkan karakter bangsa yang khas Jepang semaksimal mungkin, sehingga walaupun peserta didik di Jepang mengenal globalisasi dan teknologi, namun tidak kehilangan karakter Bangsa. Di samping itu, Jepang selalu mengunggulkan kurikulumnya sendiri daripada mengadopsi dari kurikulum negara lain.
  6. b.      Permasalahan Eksternal
    1. Perlakuan pemerintah terhadap lulusan RSBI/RMBI tidak ada bedanya dengan sekolah SSN maupun yang lebih rendah. Mereka harus mengikuti prosedur  yang sama apabila mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Siswa yang mempunyai sertifikat IGCSE seolah-olah tidak ada artinya, padahal dia mempunyai sertifikat yang diakui secara internasional, kalau mereka melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri mereka langsung bisa masuk dengan jaminan sertifikat itu, tetapi mengapa pemerintah tidak mau menghargai jerih payah siswa yang sudah mempunyai sertifikat itu, padahal menempuh ujian itu disamping bniaya mahal juga sangat sulit.
    2. Bagi siswa lulusan SD/MI belum tentu ada skolah lanjutan yang dekat dengan tempat tinggal mereka, apa bila mereka pindah tempat tinggal karena orang tua pindah tugas misalnya. Sehingga mereka belum tentu bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah RSBI.
    3. F.     Solusi Alternatif
      1. Perlu persiapan yang lebih matang baik dari segi menegerial maupun SDM pendidik dan tenaga kependidikan dengan melakukan kedigatan-kegiatan workshop, seminar kediklatan-kediklatan maupun pendidikan formal maupun short course ke luar negeri, yang bisa membantu merubah paradigma mereka dalam rangka mensukseskan program yang sangat prestesius ini. Para pendidik maupun tenaga kependidikan harus sadar bahwa tuntutan masarakat dengan adanya sekolah RSBI ini sangat tinggi dan menjadi sorotan dan perhatian masarakat maupun pemerhati pendidikan. Kita harus berani belajar dari kegagalan Malaysia, dalam program pendidikannya, Malaysia mengharuskan mata pelajaran eksak (matematika, biologi, fisika dan kimia) simapaikan dalam bahasa Inggris, student book dan buku referensi lainnya juga dalam bahasa Inggris melalui Program Pembelajaran Sain dan Matematika dalam Bahasa Inggris (PPSMI), pada tahun 2003.tertapi kenyataannya program ini tidak bisa mengatrol ranking pendidikan di Malaysia, program ini membuat Malaysia terperangah ketika mengikuti TIMSS (Trend in Mathematics and Science Study) pada 2003 dan 2007. Tes ini mengukur kemampuan siswa dibidang Matematika dan Sain di timgkat internasional, yang hasilnya pada tahun 2003, posisinya pada level 10, melorot ke level 20 pada tahun 2007. Pelajaran apa yang dapat kita ambil. Janan-jangan siswa tidak competence bukan karena mereka tidak pandai tetapi karena matematika dan sain menjadi momok bila sampaikan dalam bahasa asing. Artinya justru bahasa asing menjadio kendala kompetensi siswa.
      2. Implementasi dua kurikulum, yaitu kurikulum nasional dan internasional, sebaiknya guru mampu memetakan materi dari kedua kurikulum, untuk menemukan materi yang sama diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional sedangkan yang berbeda akan menjadi pengayaan atau tambahan (Kurikulum nasional plus). Yang pada ahirnya sekolah atau madrasah akan bisa menghemat waktu, biaya, dan tenaga, sehingga terjadi efisiensi dan efektifitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sekali lagi ini menuntut guru mempunyai kompetensi yang baik sehiungga mereka bisa memetakan materi-materi yang sama dan sejenis.
      3. Adopsi materi internasional seharusnya juga mengadopsi bagaimana materi itu disampaikan dalam kegiatan pembelajaran bukan materi internasional tetapi dilaksanakan dengan proses belajar mengajar yang tradisional. Kemampuan guru dalam memilah metode yang  tepat sesuai dengan karakteristik matari sangat penting, skill apa yang harus dicapai siswa dengan materi tertentu menuntut metode yang berbeda, keluasan guru terhadap metode pembelajaran akan sangat menentukan hasil belajar siswa.
      4. Pendekatan penilaian yang direncanakan guru harus mengacu pada penilaian yang berbais Higher Order Thinking Skills (HOTS), dimana siswa dalam penilaian dituntut untuk berfikir tingkat tinggi. Siswa diuji analisinya, pandangannya tentang suatu kasus berdasarkan teori tertentu dsb. Sehingga siswa yang baik nilainya dalam mata pelajaran tertentu untuk kurikulum nasional juga akan baik nilainya untuk mata pelajaran tertentu untuk kurikulum internasionalnya. Penilaian yang baik adalah penilaian yang bisa membedakan mana siswa fast learners dan yang slow learners.
      5. RSBI selalu diidentikan dengan pendidikan biaya tinggi. Fasilitas memang sangat menunjang tingkat keberhasilan suatu produk, akan tetapi akan lebih baik jika input nya juga diperhatikan, bukan hanya siswa dari keluarga yang mampu secara ekonmi saja yang bisa masuk ke RSBI tetapi siswa yang kompetensinnya bagus tetapi secara ekonomi kurang beruntun juga bisa menikmati sekolah berfasiltas internasional.
  1. Output RSBI yang memegang sertifikat IGCSE selayaknya mendapat nilai plus dibandingkan dengan siswa yang tidak memegang sertifikat IGCSE ketika mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Perguruan tinggi di luar negeri saja mau nenerima mereka yang memegang IGCSE, tetapi mengapa perguruan tinggi dalam negeri justru tidak perduli. Kita harus tahu bahwa tidak semua orang tua siswa mampu mengirim anaknya ke luar negeri. Dalam hal ini pemerintah harus bijak menyikapinya.
  2. Peniadaan SBI dan RSBI karena kalau dibicarakan lebih lanjut, tidak ada suatu negara yang mengatakan bahwa kurikulumnya berstandar Internasional dan tidak ada standar kurikulum Internasional tersebut.

G. Simpulan

Berdasar uraian dan analisis penulis mengambil kesimppulan bahwa, secara kebijakan pengedaan Rintisan Sekolah/Madrarah Bertaraf Internasional sangat baik, pemerintah memberi perhatian lebih baik terhadap pendidikan di Negara ini, dengan menugucurkan dana besar berbentuk pendirian RS/MBI, di masing-masing daerah, dengan tujuan out put mampu bersaing di dunia internasional. Blue print RS/MBI tidak selalu diikuti pelaksanaan di lapangan dengan baik, tidak semua stake holders memahami bagaimana menyelenggarakan RS/MBI. Oleh karena itu banyak hal yang hal yang harus diperbaiki pada tingkat implementasi, anatara laian:

1. Kemampuan Kepala Sekolah, baik dari segi leadership maupun menejemen, dalam mengelola sekolah yang tentu memmpunyai karaakteristik yang berbeda dengan sekolah Sekolah Setandar Nasional (SSN).

2. Kemampuan guru baik dari segi penguasaan content maupun methodology harus lebih baik dari guru guru regular, karena dia harus menyampaikan materi dalam bahsa asing, tetapi yang lebih penting kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar yang membuat siswa bisa belajar lebih baik,  dengan memnfaatkan Teknologi Informsi Komunikasi juga pemilihan bentuk assessment yang mendorong siswa berfikit ingkat tinggi.

3. Pemerintah lebih menghargai output RS/MBI, agar mereka lebih termotivasi untuk belajar yang lebih baik, dalam bentuk nilai plus bagi siswa yang memegang IGCSE. Disamping beaya yang lebih terjangkau semua keluarga Indonesia.

Referensi

Panduan Penyelenggaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar dan Menengah Atas, 2009

David J, Kiirk, Terry L. Jones, EfFective Schools, Pearson Education Inc, 2004.

http://www.kompasiana.com/posts/type/opinion/

Teaching Other Subjects through English in Two Asian Nations: Teacher’s Response to GlobalisationBritish Council Asia Tenggara, 2009

Ronald R.Sims andSerbreniaJ.Sims.”The importance of Learning Style, Understanding the Implications of Learning, Course Design and Education”GreenwoodPress,88Post Road West, Westport, 1995

SEKIAN

SEMOGA BERMANFAAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: